Belajar dari pengalaman di kelas sebelumnya, dimana Wonwoo tidak memperdulikannya sama sekali, Mingyu pun memungut kertas tersebut dan menaruhnya di atas buku di hadapan Wonwoo. Mau tidak mau, Wonwoo pun membuka kertas tersebut.
"Peta yang kau gambar, gambar ibu dan anak di belakangnya ada padaku."
"Ah!" pekik Wonwoo dengan keras, membuat semua nya menoleh, termasuk sang seongsaengnim yang tengah menjelaskan di depan.
"Ada apa Wonwoo-ssi?"
Mingyu pun terseyum senang dengan reaksi Wonwoo. Sementara Seokmin, hanya bisa terdiam disampingnya.
.
.
.
.
.
MARS
Meanie
Mingyu x Wonwoo
YAOI
remake dari drama taiwan berjudul 'MARS' dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita
Don't Like, Just Leave!
Happy Reading...
.
.
.
Kantin
"Tolong dua porsi jjangmyeon." ucap Seokmin kepada penjaga kantin.
Selama menunggu pesanannya, Seokmin menoleh ke ruang makan di kantin itu. Terlihat sang sahabat, Mingyu, tengah duduk berhadapan dengan Wonwoo. Sebenarnya Mingyu lah yang dengan tidak tahu malunya menempatkan dirinya duduk di hadapan Wonwoo yang sedang menyantap makan siangnya sendirian, seperti biasanya.
Wonwoo memakan makan siangnya perlahan dengan wajah menunduk, menghindari tatapan namja di depannya. Sementara Mingyu, dia bahkan duduk dengan nyaman sambil menumpukkan dagunya di meja, memperhatikan Wonwoo yang sedang makan siang di depannya. Melihat itu semua, Seokmin hanya bisa mengela napasnya, pasrah.
Sedangkan Mingyu, dia tengah serius memandangi Wonwoo yang sedang menunduk sambil menyantap makan siang dihadapannya. Namja manis yang selalu memasang wajah datar itu terlihat begitu imut dengan kedua pipi yang membulat ketika menyuap makanannya. Mingyu pun terkekeh kecil melihatnya.
"Kau yang menggambarnya ya?" tanya Mingyu membuka percakapan.
Wonwoo hanya mengangguk sedikit sebagai jawabannya.
"Siapa yang kau gambar?" tanya Mingyu lagi.
Wonwoo hanya menggeleng.
"Jika kau masih diam, aku akan membuka mulutmu dengan lidahku!" ancam Mingyu yang merasa kesal dengan jawaban Wonwoo.
Mendengar itu, Wonwoo pun mengehentikan suapannya dan balik bertanya, "Kenapa kau tidak membuangnya saja?"
"Suara mu bagus juga." ucap Mingyu sambil tersenyum puas karena akhirnya dia bisa membuat Wonwoo berbicara kepadanya.
"Kau tanya kenapa? Karena... karena aku tertarik dengan gambar itu." jawab Mingyu.
"Kenapa?" tanya Wonwoo lagi.
"Kenapa? Pertanyaan yang bagus. Karena..." ucap Mingyu menggantung jawabannya.
Wonwoo yang merasa penasaran pun memberanikan dirinya menatap Mingyu dan berkata, "Jadi, jawabannya..."
"Karena... karena gambar itu membuatku terharu. Karena gambar itu membuatku teringat kepada sosok ibu yang sudah kulupakan." jawab Mingyu dengan yang terlihat sendu.
Wonwoo tertegun melihat ekspresi wajah Mingyu. Dia tidak menyangka jika seorang namja yang terkenal brengsek memiliki sisi sentimentil juga. Menyadari jika Wonwoo tengah memandangi wajahnya, Mingyu pun kemudian tersenyum kecil, membuat Wonwoo kembali menunduk.
"Ah, bagaimana kalau kau memberikan nomor ponselmu kepadaku? Mungkin kita bisa janjian makan di luar, atau kalau kau mau, kita bisa melakukan hal lain yang lebih menyenangkan." ujar Mingyu sambil terkekeh dengan tidak tahu malunya.
Wonwoo pun semakin dalam menundukkan kepalanya. Makan siangnya yang masih tersisa setengah tidak lagi disentuhnya.
"Lihat, kau mulai diam lagi. Kurasa kau memang ingin aku membuka mulutmu dengan lidahku, ya?" ucap Mingyu sambil mendekatkan wajahnya.
Wonwoo pun dengan segera berdiri dan berlari meninggalkan Mingyu.
"Hei, chingu-ya... kenapa kau malah pergi?" ucap Mingyu sambil terus terkekeh saat Wonwoo berlalu melewatinya.
Mingyu pun terus terkekeh karena merasa lucu dengan reaksi Wonwoo yang mengira jika Mingyu benar-benar akan membuka mulutnya dengan lidahnya. Sementara itu, dua orang namja menunjukkan reaksi berbeda melihat itu semua. Seokmin yang hanya bisa memperhatikan dalam diam, sementara Seungkwan yang memperhatikan dengan wajah penuh amarah.
###
Sepulang kuliah, seperti biasa, Wonwoo berjalan pulang seorang diri. Di belakangnya, sejauh lima langkah, terlihat Seokmin berjalan perlahan sambil memandangi punggung Wonwoo dengan tatapan sendu. Dia terus berjalan mengikuti langkah Wonwoo, sementara Wonwoo yang merasa ada yang mengikuti, menolehkan kepalanya dan dia mendapati Seokmin berada dibelakangnya, tidak jauh darinya, dan tengah menatap ke arahnya. Merasa ketahuan, Seokmin pun segera mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat melewati Wonwoo. Wonwoo pun meneruskan kembali langkahnya, sampai tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.
"Wonwoo-ya!"
Wonwoo pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya, namun saat mengetahui jika Mingyu lah yang memanggilnya, namja manis itu pun langsung berbalik dan berjalan dengan cepat, menghindari Mingyu. Namun Mingyu malah mengejarnya dan memilih berjalan disamping Wonwoo.
"Kau sudah mau pulang?" tanya Mingyu.
Wonwoo tidak menjawab dan malah semakin mempercepat langkahnya.
"Hei, jawab aku! Wonwoo-ya, kau sudah mau pulang?" ujar Mingyu keras kepala dan ikut berjalan cepat menyamai langkah Wonwoo.
"Belum. Aku mau ke klub kesenian." ujar Wonwoo tanpa memperlambat langkahnya.
"Klub kesenian? Hei, kita satu arah! Kebetulan aku mau pergi ke lapangan basket. Ternyata kau anggota klub kesenian?" tanya Mingyu sambil menyenggol lengan Wonwoo dengan akrab.
Wonwoo seketika menghentikan langkahnya dan memandang Mingyu, "Apa kau bisa..."
"Mingyu-ya! Ayo, pertandingannya sudah akan dimulai!" ajak Seokmin dari kejauhan, memotong ucapan Wonwoo.
"Baiklah, tunggu sebentar!" balas Mingyu.
Mingyu pun mendekat ke arah Wonwoo, "Eh, apa kau punya uang? Tolong pinjamkan aku sedikit."
Tanpa pikir panjang, Wonwoo pun merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, berharap agar namja dihadapannya segera menyingkir.
"Hanya ada ini." ucap Wonwoo sambil memberikan beberapa lembar uang.
"Ini pun sudah cukup. Pasti akan kukembalikan. Aku janji akan menggantinya dua kali lipat. Annyeong." ujar Mingyu sambil melangkah menjauh.
Namun, baru dua langkah, Mingyu sudah berbalik kembali ke arah Wonwoo, "Ada satu hal lagi..."
Mingyu pun perlahan mengangkat tangan kiri Wonwoo dan melepas gelang hitam yang Wonwoo kenakan.
"Pinjam ini juga, sebagai jimat." ucap Mingyu sambil tersenyum manis sebelum berlari kecil meninggalkan Wonwoo yang masih terbengong.
"Mingyu-ya, cepat!" teriak Seokmin yang tidak tahan melihat adegan manis itu.
"Ne,ne... Dasar tidak sabaran!" jawab Mingyu sambil berlari menghampiri Seokmin.
Di ruang kesenian, Wonwoo dan teman-teman anggora klub kesenian tengah melukis dengan tenang, sampai tiba-tiba salah seorang yeoja anggota klub kesenian memekik tertahan saat melihat ke luar jendela.
"Omo! Tampan sekali!"
Pekikan tersebut membuat beberapa yeoja dan namja menghentikan kegiatan dan berkerumun di dekat jendela.
"Lihatlah, namja-namja yang sedang bermain basket itu tampan-tampan sekali!"ucap yeoja yang tadi memekik.
"Omo! Benar! Terutama namja tinggi dengan gelang hitam di tangannya itu, dia sangat tampan! Pasti mereka sedang taruhan basket lagi!" sahut seorang namja manis.
"Tsk, jika Mingyu dan Seokmin sudah bersama, apapun bisa mereka jadikan taruhan!" sahut seseorang.
"Kau benar! Mereka sahabat yang kompak!"
Mendengar itu semua, Wonwoo mengehentikan kegiatan melukisnya sejenak. Wonwoo akhirnya menyadari jika Mingyu tadi meminjam uangnya untuk dipakai taruhan dan gelangnya sebagai jimat keberuntungan. Wonwoo pun hanya menggelangkan kepalanya sekilas sebelum kembali melanjutkan lukisannya.
Hari sudah sore, dan di ruang klub kesenian itu telah sepi, hanya Wonwoo dan seorang temannya yang masih tinggal. Wonwoo masih asyik dengan lukisannya, sementara temannya itu mulai merapikan peralatannya.
"Wonwoo-ya, kau belum selesai?" tanya temannya itu.
"Aku perbaiki sedikit lagi." jawab Wonwoo.
"Jika sudah selesai, jangan lupa tulis namamu. Besok seongsaengnim akan menilainya. Aku pulang duluan. Annyeong..." ucap teman Wonwoo sambil keluar dari ruang klub kesenian itu dan meninggalkan Wonwoo seorang diri.
"Ne, annyeong..." jawab Wonwoo.
Wonwoo pun melanjutkan kegiatan melukisnya seorang diri di ruang klub kesenian tersebut. Sementara itu, seorang namja tengah mengendap-endap memasuki ruang klub kesenian dan mengunci pintunya, lalu berjalan pelan mendekati Wonwoo. Saat menyadari ada orang yang mendekat, Wonwoo pun menghentikan kegiatan melukisanya dan menoleh.
"Oh, Hong Jisoo seongsaengnim, ada keperluan apa?" tanya Wonwoo dengan sopan.
"Tidak, kau teruskan saja lukisanmu. Aku hanya kebetulan lewat, dan sekalian datang melihat-lihat." ujar Jisoo sambil berjalan mendekati Wonwoo.
Wonwoo merasa ada yang tidak beres. Untuk apa seorang seongsaengnim yang mengajar bahasa Inggris mengunjungi ruang klub kesenian. Sementara Jisoo berjalan semakin mendekati Wonwoo, Wonwoo semakin ketakutan namun dia tidak bisa berbuat apapun, hanya terdiam waspada. Jisoo pun sampai di dekat Wonwoo dan dia memilih untuk berdiri dibelakang Wonwoo dengan jarak yang sangat dekat.
"Gambarmu bagus sekali, sama persis dengan patung gips itu." ujar Jisoo sambil menunjuk patung gips di depan Wonwoo.
Wonwoo hanya terdiam karena ia merasakan sinyal bahaya yang sangat kuat, namun ia tidak berdaya. Mendapati Wonwoo yang tidak memberikan penolakan apapun, Jisoo dengan berani mengelus dan meremas-remas pundak Wonwoo, sementara Wonwoo hanya bisa memegang kuasnya dengan erat karena ketakutan.
"Rambutmu wangi sekali." ujar Jisoo sambil mengendusi rambut Wonwoo dengan tangannya yang masih terus meremas-remas pundak Wonwoo.
Wonwoo sangat ketakutan, bahkan dia teringat akan masa lalu penyebab traumanya terhadap sentuhan. Sekelebat bayangan saat dia masih di sekolah menengah dan seorang namja memasuki kamarnya dan memperkosanya. Wonwoo memejamkan mata mengingat jika kenangan pahit itu mungkin akan kembali terulang saat ini. Tidak mendapat penolakan apapun, Jisoo mulai berani meraba dada kurus Wonwoo. Mendapat perlakuan tersebut, Wonwoo hanya menangis dalam diam, dan tangan Jisoo terus meraba dan mulai meremas-remas dada Wonwoo sampai tiba-tiba...
"Ehem!"
Jisoo spontan menghentikan kegiatannya, dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat soosok Mingyu tengah berdiri agak jauh dari mereka.
"Sejak kapan Hong Seongsaengnim berubah menjadi konsultan klub kesenian?"tanya Mingyu.
"Yak! Kenapa kau masuk dengan mengendap-endap?"omel Jisoo.
"Mengendap-endap? Tidak. Aku masuk dengan terang-terangan. Mungkin seongsaengnim tidak menyadarinya jika di belakang masih ada pintu untuk memasukkan barang yang belum dikunci. Sangat dekat dengan lapangan basket." jawab Mingyu dengan santainya.
Sementara Wonwoo memandang Mingyu dengan tatapan memohon pertolongan sambil menahan tangisnya. Mingyu pun menyadari hal itu, namun dia hanya diam, tidak langsung mengambil tindakan apapun.
"Kau bukan anggota klub kesenian, untuk apa kesini?" tanya Jisoo dengan kesal karena kegiatannya terganggu.
"Hah, ternyata yang bukan anggota klub kesenian tidak boleh masuk? Baiklah, kalau begitu aku akan bergabung dengan klub kesenian sekarang." ujar Mingyu sambil melangkah mendekat.
"Lupakan! Selain pelajaran olahraga, kau sama sekali tidak bisa melukis!" cegah Jisoo.
"Belum tentu. Mungkin saja aku punya sisi lain yang belum diketahui oleh orang lain. Misalnya, seorang seongsaengnim yang terkenal sangat alim, taat agama, perhatian, baik, dan tampan bisa melakukan pelecehan terhadap mahasiswanya." ujar Mingyu dengan aura mengintimidasi yang kuat.
"Yak! Jangan sembarangan bicara! Aku akan menuntutmu karena telah menghina seorang seongsaengnim!" ujar Jisoo dengan suara bergetar.
"Seongsaengnim, jangan terburu-buru mengancam orang. Aku kan hanya berandai-andai saja." ucap Mingyu dengan tatapan membunuhnya.
Jisoo merasa terpojok dan tidak dapat berkata apapun. Kemudian Mingyu mengambil sebuah cutter dari meja dan melangkah semakin mendekat.
"Ya, kau mau apa?" tanya Jisoo sambil melangkah mundur, ketakutan.
"Aku mau apa? Aku tidak mau melakukan apa-apa. Aku hanya mau meraut pensil saja. Aku tidak mungkin menggunakan alat ini untuk mencoret wajah anda yang terlihat alim dan jujur." ujar Mingyu tanpa menghentikan langkahnya.
Mingyu terus melangkah maju menuju Jisoo, sementara Jisoo yang ketakutan sudah tidak bisa kemana-mana karena di belakangnya terdapat tembok. Wonwoo melihat hal itu pun membelalakkan matanya. Ini seperti bukan sosok Mingyu yang dia kenal. Mingyu saat ini seperti orang lain dengan aura membunuh yang sangat terasa. Saat Mingyu akan melangkah melewati Wonwoo untuk menghampiri Jisoo, Wonwoo pun dengan segera berdiri dan membuat langkah Mingyu terhenti. Jisoo pun tidak menyia-nyiakan hal itu.
"Kau sudah gila! Aku sudah malas meladeni mahasiswa yang sudah seharusnya sudah didepak dari kampus sepertimu!" omel Jisoo sambil berlari keluar ruangan itu.
"Tch, cepat sekali dia mengaku kalah. Tidak seru!" ujar Mingyu sambil terkekeh kecil.
Mingyu pun membuang cutternya dan menoleh ke arah Wonwoo yang masih gemetar ketakutan.
"Kau bodoh sekali! Membiarkan orang memegangmu, tapi tidak meminta uang darinya." sindir Mingyu dengan kejam.
Wonwoo terisak pelan mendengar ucapan Mingyu. Mingyu pun menatap iba kepada Wonwoo.
"Kalau kau tidak suka diperlakukan seperti itu, jangan lemah. Menjadi lemah tidak ada gunanya. Dan dengan ekspresi wajahmu saat ini, hanya membuat orang ingin melakukan hal yang lebih jauh." ucap Mingyu lagi, membuat Wonwoo spontan menghentikan isakannya.
Mingyu pun hanya menghela napas melihat sikap Wonwoo. Saat Mingyu mengedarkan pandangannya, tidak sengaja dia melihat lukisan yang dibuat Wonwoo, dan ekspresinya berubah menjadi sangat antusias, seperti Mingyu yang biasa mengerecoki Wonwoo.
"Wah, kau yang melukis ini!" ucap Mingyu dengan kagum, sementara Wonwoo masih terdiam.
"Lukisanmu mirip dengan patung gips itu." ucap Mingyu lagi sambil menghampiri patung gips yang menjadi objek lukisan Wonwoo.
"M-A-R-S" eja Mingyu saat melihat nametag di depan patung gips itu.
"Mars. Bukankah artinya planet merah?" tanya Mingyu pada Wonwoo.
"Dewa perang." jawab Wonwoo singkat.
"Dewa perang? Oh, jadi dia namja pengecut yang gila perang dan takut gagal dalam legenda Yunani itu. Bukankah harusnya wajahnya sangat kejam?" tanya Mingyu lagi.
"Dia memang dewa perang. Tapi kudengar definisi orang Roma terhadapnya sangat berbeda." jelas Wonwoo.
"Benarkah?" ujar Mingyu sambil meneliti patung gips itu dengan seksama.
"Mereka bilang , Mars seharusnya memakai baju perang yang bercahaya, berwajah tampan, dan sangat kejam. Seorang pahlawan yang memimpin pasukannya keluar dari malam yang tragis." jelas Wonwoo lebih lanjut.
"Pahlawan yang menerobos malam yang tragis." ulang Mingyu sambil meneliti wajah patung gips itu.
Wonwoo pun hanya terdiam melihat tingkah laku Mingyu. Tidak lama kemudian, Seokmin masuk ke ruangan itu melalui pintu yang sama dengan yang dilalui Mingyu.
"Mingyu-ya!" panggil Seokmin.
Mingyu pun mengalihkan pandangannya dari gips itu dan menoleh ke arah sumber suara. Sementara Wonwoo langsung menundukkan wajahnya.
"Ayo, kita pergi!" ajak Seokmin.
"Oh, baiklah." Jawab Mingyu.
Mingyu pun berbalik dan melihat ke arah Wonwoo, dan Wonwoo pun balas menatap Mingyu.
"Cepatlah pulang!" ujar Mingyu, dan Wonwoo hanya mengangguk sekilas.
"Ah, satu lagi! Aku sudah merubahnya menjadi dua kali lipat." ucap Mingyu sambil melemparkan sesuatu pada Wonwoo.
Wonwoo pun menangkap benda yang dilemparkan Mingyu, dan dia mendapati jika benada yang dilempar Mingyu adalah sejumlah uang yang diikat dengan gelang hitam miliknya yang tadi dipinjam Mingyu. Mingyu hanya tersenyum sekilas dan langsung berbalik pergi sambil menarik Seokmin yang masih menatap Wonwoo. Sementara Wonwoo masih memandangi uang dan gelang ditangannya.
###
Mingyu memasuki minimarket untuk membeli beberapa botol soju sebelum pulang ke rumahnya. Saat sedang melangkah ke kasir, Mingyu melihat cermin yang berada di dinding, dan dia diam terpaku. Namun dia segera berjalan perlahan meneruskan langkahnya dan melewati cermin itu. Saat sudah melewati cermin, Mingyu langsung menghentikan langkahnya dan dengan ragu dia melangkah mudur dan memposisikan dirinya tepat di hadapan cermin itu. Namun Mingyu sama sekali tidak bisa melihat bayangannya di cermin itu, dan Mingyu mulai merasa napasnya sesak dan dia pun menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, Mingyu memberanikan dirinya menatap kembali cermin dihadapannya. Dan saat ia mendapati bayangannya terpantul di cermin itu, Mingyu pun mendesah lega.
#####
sisi lain seorang Hong Jisoo, kkk...
gomawo buat respon positifnya readers-nim... *bow*
balasan review:
marinierlianasafitri: sama dongz, demen ama Tsundere-Wonu kkk... kasi semangat terus ya beb, biar bisa gercep #eciehhh lol
MinJimin: bakalan bentar doang kok bencinya sama boo, dijamin, kkk...
Jn-ssi: nah jawabannya di chapter ini, udah tau kan penyebab Wonu jadi pendiem?
beanie: iyapz, benerrr! jaman Vic Zhou lagi keren2nya... nonton pas SMP? kita seumuran dongs, lol
ChwangKyuh EviLBerry: iyah, soalnya gak bisa mup on dari Chen Ling, ehehehe...
Guest 1: amin, doain ya semoga selalu mendapat pencerahan, lol
Guest 2: oke, ini udah dilanjut...
LS-snowie: ohohooho... glad to know that
clarahyun: gomawo
Kyunie: di chapter ini udah tau kan alesan Wonu takut skinship? iyah, si seok gak pede saingan sama kiming, jadi pake cara licik dia, kkk...
adellares: disini maksutnya tuh memekik kaget loh, bukan memekik karna hal lain #eh lol
buat yang review, makasih banyak review lagi ya, luv u #cipokbasah
and also gomawo for those who follow n favorite this ff
chapter dua ini, otte?
makin seru atau malah boring?
TBC / END?
as usual, you decide it for the next chapter
mind to review?
