Mingyu memasuki minimarket untuk membeli beberapa botol soju sebelum pulang ke rumahnya. Saat sedang melangkah ke kasir, Mingyu melihat cermin yang berada di dinding, dan dia diam terpaku. Namun dia segera berjalan perlahan meneruskan langkahnya dan melewati cermin itu. Saat sudah melewati cermin, Mingyu langsung menghentikan langkahnya dan dengan ragu dia melangkah mudur dan memposisikan dirinya tepat di hadapan cermin itu. Namun Mingyu sama sekali tidak bisa melihat bayangannya di cermin itu, dan Mingyu mulai merasa napasnya sesak dan dia pun menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, Mingyu memberanikan dirinya menatap kembali cermin dihadapannya. Dan saat ia mendapati bayangannya terpantul di cermin itu, Mingyu pun mendesah lega.

...

MARS

Meanie

Mingyu x Wonwoo

YAOI

remake dari drama taiwan berjudul 'MARS' dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita

Don't Like, Just Leave!

Happy Reading...

...

Mingyu segera pulang ke flat sederhananya. Dia masih memikirkan kejadian di minimarket tadi dan dia pun segera teringat dengan kata-kata yang pernah dokter ucapkan kepadanya, membuatnya tiba-tiba terisak hebat.

"Kejadian itu mempengaruhi syaraf otak. Kesannya tidak akan hilang total, karena ada kenangan di dalam hati. Kau akan merasa takut dengan yang kau lihat. Inti dari fungsi otak yaitu mengembangkan rasa takut dan perasaan dengan bagus. Kau bisa saja tiba-tiba mati suri, berhenti bernapas, bahkan kemungkinan fungsi jantung juga ikut berhenti. Karena hubungan syaraf otak yang bertentangan, imajinasinya akan tetap ada. Sebaiknya pikiranmu menghindar dari kenangan."

Mingyu meminum semua soju yang baru saja dibelinya. Dalam keadaan terbaring mabuk, dia dapat dengan jelas melihat kilasan-kilasan masa lalunya yang menyakitkan. Dengan sketsa lukisan Wonwoo di tangannya, dia pun kembali menangis dalam diam.

...

At Campus...

Pagi itu, seperti biasa, Mingyu dengan santai berjalan menuju kelasnya. Tiba-tiba ada dua orang namja berlari kecil menghampirinya. Namun Mingyu tidak menghentikan langkahnya, dia tetap berjalan santai, membuat kedua namja tersebut mau tidak mau mengekornya.

"Hei Kim Mingyu, aku kapten baru klub basket. Kemarin aku melihat permainanmu, dan itu sangat bagus. Apa kau tertarik bergabung dengan tim basket? Jika ada penyerang depan sebaikmu, kita pasti bisa menjadi juara." ujar salah satu namja tersebut.

"Tsk, hanya buang-buang waktu saja!" ucap Mingyu singkat.

Mendengar kata-kata pedas Mingyu, kedua namja tersebut pun menghentikan langkahnya untuk mengikuti Mingyu. Setelah beberapa langkah, Mingyu pun berbalik menghadap kedua namja itu.

"Kalau jadi juara, apakah aku akan dapat uang?" tanya Mingyu.

"Tentu saja tidak." jawab namja yang lain.

"Kalau begitu lupakan saja!" ucap Mingyu, kemudian dia berbalik dan kembali meneruskan langkahnya menuju kelasnya, membuat kedua namja tersebut menggelengkan kepalanya.

"Bukankah sudah kubilang, dia itu aneh!" ucap salah satu namja tadi.

"Dia terlalu sombong!" balas namja yang lain.

...

Pagi itu, Wonwoo menghabiskan waktunya di ruang klub kesenian untuk melukis, karena jam kuliahnya dimulai pada siang hari. Wonwoo dan beberapa orang lainnya sedang serius melukis, dengan seongsaengnim yang terus berkeliling untuk mengawasi.

"Pssttt... Wonwoo-ya..."tiba-tiba terdengar suara seorang namja dari arah pintu belakang.

Wonwoo yang sedang fokus pada lukisannya tidak menghiraukan panggilan itu.

"Psstt.. Jeon Wonwoo!" panggil namja itu agak keras.

Suara itu pun sukses membuat Wonwoo dan semua orang disitu menoleh, termasuk sang seongsaengnim. Melihat tatapan terganggu dari semua orang, namja yang ternyata adalah Mingyu itu pun hanya menunjukkan cengiran terbaiknya, sedangkan Wonwoo hanya menunduk malu, karena merasa dialah yang menjadi penyebab keributan itu.

"Annyeong Kim seongsaengnim..." sapa Mingyu kepada sang seongsaengnim yang nenatap sebal kepadanya.

"Tck! Wonwoo-ssi, kenapa kau bisa kenal dengan anak nakal itu? Dengarkan nasehatku, jauhi dia!" ucap sang seongsaengnim kepada Wonwoo.

Mendengar hal itu Wonwoo pun hanya menunduk, sedangkan Mingyu hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Setelah sang seongsaengnim berlalu, Wonwoo masih diam di tempatnya dan tidak menghiraukan Mingyu.

"Pssst.. Wonwoo-ya! Kesini sebentar! Cepatlah!" ujar Mingyu tidak sabar.

Karena takut Mingyu membuat keributan lebih jauh, Wonwoo pun memutuskan untuk pergi menghampiri Mingyu ke arah pintu belakang, dimana banyak terdapat patung gips dan kanvas yang saling bertumpuk.

"Banyak sekali barangnya."ujar Mingyu mengomentari keadaan di sekitar pintu belakang itu, dan Wonwoo hanya diam.

"Maaf! Kau sedang belajar, aku malah menyuruhmu keluar." ucap Mingyu, namun Wonwoo masih diam, menunggu ucapan Mingyu selanjutnya.

"Oh!" ucap Mingyu, sambil segera pun mengambil sesuatu dari tas ranselnya.

"Ini ku kembalikan. Maaf karena terlipat-lipat, tapi aku sudah berusaha merapikannya." Ucap Mingyu sambil memberikan sketsa lukisan ibu dan anak milik Wonwoo.

"Terima kasih." ucap Wonwoo sambil menerima sketsa tersebut.

"Kau berterima kasih kepadaku? Padahal aku sudah membuatnya terlipat-lipat, kenapa kau malah berterim kasih?" tanya Mingyu heran.

"Maaf, karena aku tidak tahu di bekalangnya ada gambar, jadi aku spontan melipatnya dan memasukkannya ke saku belakang." lanjut Mingyu yang merasa tidak enak pada Wonwoo.

"Tidak apa, lagipula ini hanyalah sketsa. Kalau aku sudah melukisnya di kanvas, maka sketsa ini tidak akan ada gunanya lagi." jelas Wonwoo, yang membuat Mingyu mengerutkan dahinya.

"Maksud dari tidak ada gunanya lagi adalah kau mau membuangnya? Jika kau memang mau membuangnya, lebih baik berikan saja padaku." ucap Mingyu.

Wonwoo melihat ekspresi Mingyu dan dia dapat melihat keseriusan di wajah Mingyu. Nampaknya Mingyu memang benar-benar menyukai sketsa itu, dan Wonwoo pun tersenyum kecil.

"Jika kau memang menyukainya, aku akan memberikannya dalam bentuk lukisan cat yang sudah jadi untukmu." ujar Wonwoo.

Mendengar kata-kata Wonwoo, Mingyu pun membelalakkan matanya.

"Benarkah? Kau tidak bohong?"tanya Mingyu dengan antusias berlebihan.

"Hmm. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." jawab Wonwoo dengan senyum tipis diwajahnya.

Mingyu pun tertawa bahagia mendengar ucapan Wonwoo, sementara Wonwoo hanya tersenyum kecil melihatnya. Namun, tiba-tiba Mingyu pun menghentikan tawanya, seolah tersadar akan sesuatu.

"Eh, sepertinya aku sangat tidak tahu malu. Setelah sembarangan mengambil barang orang, tapi aku malah... Ah, setelah aku pikir-pikir, sepertinya memang begitu ya? Tapi... aku tidak punya uang, dan aku juga tidak punya benda berharga yang bisa kutawarkan." monolog Mingyu sambil menundukkan kepalanya.

Wonwoo hanya terdiam tanpa menanggapi ucapan Mingyu, namun tiba-tiba Mingyu mengangkat kepalanya, mendapatkan ide.

"Ah, bagaimana jika aku melindungimu saja? Aku berjanji! Apapun yang akan terjadi padamu kelak, aku pastiakan selalu membantumu. Bagaimana? Karena hanya itu yang bisa aku tawarkan." ucap Mingyu.

Wonwoo pun hanya terdiam mendengar semua ucapan Mingyu.

"Baiklah, annyeong..." karena merasa tidak akan mendapatkan respon dari Wonwoo, Mingyu pun memilih pergi.

Mingyu pun berbalik dan melangkah pergi, namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbaik.

"Ah, ada satu hal lagi yang bisa kulakukan untukmu. Yaitu... saat kau mau bermesraan, aku dengan senang hati akan meminjamkan tubuhku kepadamu. Gratis." ucap Mingyu dengan senyum jahilnya, dan kemudian segera berbalik pergi meninggalkan Wonwoo yang tengan menunduk dengan wajah memerah.

Namun, setelah Mingyu mulai melangkah menjauh, Wonwoo dengan cepat mengangkat kepalanya dan berkata, "Pinjamkan tubuhmu padaku!"

"MWO?"

Mingyu pun segera menghentikan langkahnya dan berbalik. Saking terkejutnya, Mingyu pun menyenggol patung-patung disana dan membuat semuanya berjatuhan, membuat Wonwoo meringis membayangkan amarah sang seongsaengnim kelak.

"Kau bilang apa barusan?" tanya Mingyu tanpa menghiraukan kekacauan yang telah dibuatnya.

"Aku bilang, pinjamkan tubuhmu kepadaku. Jadilah modelku." jelas Wonwoo.

Mingyu pun hanya bisa menggeruk kepalanya yang tidak gatal. Dia membayangkan hal lain ketika mendengar ucapan Wonwoo yang ingin meminjam tubuhnya, dan menjadi model lukisan sama sekali tidak ada dalam bayangannya.

...

Dan pagi hari itu juga, setelah kegiatan melukis usai dan ruang klub kesenian itu kosong, Wonwoo mengajak Mingyu masuk.

"Sudah sepi, kau boleh masuk." ucap Wonwoo.

Mingyu pun memasuki ruangan itu dengan langkah enggan.

"Berdiam diri untuk dilukis, aku sangat tidak terbiasa." ujar Mingyu.

Wonwoo pun tidak menghiraukan gerutuan Mingyu, dia pun menunjuk sebuah bangku, "Kau diam disitu saja."

Setelahnya, Wonwoo segera mengambil kanvas kosong dan menyiapkan peralatan melukis lainnya tepat berhadapan dengan Mingyu.

"Apakah aku perlu membuka baju?" tanya Mingyu.

"Tidak usah. Buka saja jaketmu." jawab Wonwoo.

"Oh. Lalu, bagaimana cara aku duduk?" tanya Mingyu lagi.

"Terserah."

Mingyu pun lalu duduk bersandar di kursi itu dengan santai. Dia memperhatikan Wonwoo yang masi sibuk berkutat mempersiapkan peralatan melukisnya.

"Saat aku bilang mau meminjamkan tubuhku, sama sekali tidak terbayang olehku jika tubuhku akan digunakan untuk melukis. Tadinya aku berencana kita bisa melakukan hal yang menyenangkan. Hal yang bisa membuatmu puas." ucap Mingyu berusaha menggoda Wonwoo.

Namun Wonwoo tidak bergeming dan tetap melanjutkan kegiatannya memasang kanvas pada kayu penyangga.

"Eh, kudengar kau membenci sentuhan. Kenapa?" tanya Mingyu iseng.

"Bisakah jangan bergerak terus? Juga jangan bicara terus. Aku jadi susah melukisnya." ucap Wonwoo tanpa menanggapi ocehan Mingyu.

"Aku bukan patung gips. Aku ini manusia hidup." protes Mingyu.

Mingyu pun melihat kesekeliling ruangan itu dan dia melihat patung gips bernama MARS yang pernah dilukis Wonwoo.

"Eh, kau pernah mendengar pesan sang dewa perang? Iblis yang menakutkan akan menguasai dunia ini dan kemudian dunia ini akan dikuasai oleh Mars. Menurutmu, jika dunia ini dikuasai oleh dewa perang, akan jadi seperti apa?" tanya Mingyu pada Wonwoo yang sudah mulai sibum membuat sketsa dirinya.

"Sepertinya kau lebih percaya jika dewa perang adalah dewa yang sesat." jawab Wonwoo.

"Tsk, apapun yang aku percaya, pokoknya dunia ini memang kacau, dan cepat atau lambat akan binasa. Aku tidak percaya dengan akhir yang indah kelak. Karena jika memang seperti itu, lebih baik terjadi kiamat yang membara dan luar biasa. Bukankah begitu lebih baik?" komentar Mingyu.

Wonwoo hanya diam dengan pandangan yang berpindah cepat dari Mingyu ke kanvas dengan tangan yang terus bergerak membuat sketsa Mingyu. Merasa tidak ditanggapi, Mingyu pun bersandar malas di kursi itu dan memjamkan matanya.

"Kenapa masih belum tiba juga? Aku penasaran, dunia ini akan berubah menjadi seperti apa di akhir nanti." ocehnya lagi.

"Kalau dunia benar-benar binasa, apa kau tidak sedih?" tanya Wonwoo.

Mingyu hanya diam, namun Wonwoo tidak ambil pusing. Tapi posisi Mingyu saat ini membuatnya susah untuk dilukis.

"Hei, duduk yang benar!" ucap Wonwoo, namun Mingyu tidak bergeming dari posisinya.

"Hei..."

"..."

Tidak ada respon dari Mingyu namun Wonwoo dapat mendengar suara dengkuran halus.

"Tsk, baru sebentar saja sudah ketiduran."

Wonwoo pun meletakkan pensilnya, kemudian menghampiri Mingyu yang tertidur di kursi. Dia meneliti wajah Mingyu dari dekat.

"Tingkah lakunya memang aneh, membuat orang sulit memahaminya. Tapi dia memiliki wajah yang bersih dan polos. Aku bahkan sama sekali tidak bisa merasakan sisi jahatnya. Dan di diunia ini memang banyak terdapat kejahatan yang membuat orang tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tahu harus berusaha seperti apa, dan dia mengungkapkannya satu persatu." batin Wonwoo.

...

Siang itu, di kelas bahasa Inggris, seperti biasa, Jisoo mengajar di depan kelas.

"Jadi, kata kerja berubah sesuai dengan tenses yang digunakan. Baiklah, siapa yang mau maju kedepan untuk membuat kalimat? Raise your hand, please!" ucap Jisoo.

Para mahasiswa saling berbisik dan tidak ada yang mau mengangkat tangannya. Kemudian Jisoo melihat Mingyu yang sedang asik tertidur di kursinya, tampak jelas jika Mingyu sama sekali tidak memperhatikan pelajarannya sama sekali. Jisoo pun melihat peluang untuk mempermalukan Mingyu, sebagai balasannya atas kejadian di ruang klub kesenian kemarin.

"Kim Mingyu!" panggil Jisoo.

Wonwoo yang sejak tadi menunduk, langsung mengangkat kepalanya saat mendengar Jisoo memanggil Mingyu, karena Wonwoo tahu jika Mingyu tengah melanjutkan kegiatan tidurnya di kelas itu. Wonwoo yakin jika Jisoo berniat mempermalukan Mingyu saat ini. Sementara itu, Seokmin segera membangunkan Mingyu yang tertidur disampingnya.

"Kim Mingyu!" panggil Jisoo lagi.

"Heh bangun!" ucap Seokmin di telinga Mingyu dan sukses membuat Mingyu membuka matanya.

"Seongsaengnim menyuruhmu kedepan!" ucap Seokmin sebelum Mingyu sempat protes karena waktu tidurnya terganggu.

"Mwo?" tanya Mingyu bingung kerena nyawanya masih belum terkumpul seluruhnya pasca tidur.

"Maju! Buat kalimat ke depan!" jelas Seokmin singkat.

Seungkwan yang berniat mencari muka dengan Mingyu pun segera mengankat tangannya.

"Seongsaengnim, biar aku saja yang maju." ujar Seungkwan menawarkan diri.

"Jangan buru-buru. Kita berika dulu kesempatan untuk Mingyu-ssi. Kenapa Mingyu-ssi? Setelah dua tahun belajar di kelas yang sama, kau pasti bisa kan?" ujar Jisoo dengan senyum mengejek.

"Cepat maju!" perintahnya lagi.

Mingyu pun menatap Jisoo dengan tajam. Perlahan, dengan langkah yakin, Mingyu pun maju. Sedangkan Wonwoo hanya bisa menyaksikan itu semua dengan khawatir.

Setelah Mingyu di depan, Jisoo kembali mengejek Mingyu.

"Apa kau baru bisa bersemangat sepuluh menit menjelang jam pelajaran usai, huh?" ucapnya dengan senyum menyepelekan.

"Kau yang membuatku terbangun, jadi jangan salahkan aku." ucap Mingyu dengan suara pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Jisoo.

Jisoo hanya berdecih, mengabaikan ucapan Mingyu, dan mulai kembali menulis soal di papan tulis di sisi yang berlawanan dengan Mingyu. Tanpa ragu, Mingyu pun mulai menulis, dan tulisan yang dibuat Mingyu itu membuat riuh kelas. Menyadari keributan yang terjadi, Jisoo pun mengecek tulisan yang dibuat Mingyu. Matanya terbelalak sementara Mingyu sengaja membaca tulisannya dengan keras.

"This teacher, who appears to be nice, is actually a bastard who initiates sexual harrasment to his student."

"Seongsaengnim yang kelihatan baik ini sebenarnya bajingan yang melecehkan siswanya." ucap Mingyu sambil menunjuk wajah Jisoo, dan kelas pun seketika menjadi ricuh.

"Tenang! Semuanya tenang dulu!" ucap Jisoo, dan kelas pun kembali tenang meskipun bisikan-bisikan masih terdengar di sana-sini.

"Seongsaengnim, saat aku berusia tujuh tahun, aku tinggal di Los Angles selama delapan tahun." ucap Mingyu dengan senyum mengejeknya.

Setelah itu, Mingyu pun dengan santai berjalan kembali ke kursinya, sementara Jisoo sibuk menghapus tulisan Mingyu di papan tulis. Saat melewati kursi Wonwoo, Mingyu menjulurkan telapak tangannya, mengajak Wonwoo untuk ber-high five.

"Give me five! Ayo cepat! Balas dendam itu sangat menyenangkan." bisik Mingyu yang hanya dapat didengar oleh Wonwoo.

Wonwoo pun tersenyum kecil dan segera menepuk telapak tangan Mingyu. Mingyu pun ikut tersenyum, dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju kursinya di barisan belakang.

...

Sementara itu, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang namja terlihat sedang tersenyum sambil memperhatikan sesuatu di bawah sebuah pohon yang rindang.

"Xu Minghao! Xu Minghao! Kembali kemari!" teriakan seorang suster membuatnya berbalik pergi.

Namun sebelum benar-benar melangkah menjauh, dia menoleh sekali lagi dan tersenyum.

"Sebenarnya apa yang kau lihat disana?" tanya sang suster.

"Aku melihat sesuatu yang paling indah di dunia." ujarnya sambil tersenyum.

Di balik punggungnya, terlihat seekor ular yang tengah membelit erat seekor katak.

...

Minghao tengah memandang keluar jendela dari aula rumah sakit jiwa tersebut. Tiba-tiba seseorang menghampirinya dan membuatnya menoleh.

"Hao-ya, kenapa kau tidak mengenakan baju pasienmu?" tanya Choi uisanim.

"Karena dengan pakaian ini, aku terlihat normal." jawab Minghao, dan sang uisa pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum maklum.

"Ah, kudengar dari Lee uisanim, minggu depan kau akan pulang, setelah dua tahun kau tinggal disini." ujar sang uisa lagi.

"Kurang dua bulan."ralat Minghao.

"Choi uisa, apa kau ingat namaku?" tanya Minghao.

Sang uisa yang ditanyai itu pun tersenyum sebelum menjawab.

"Disini banyak orang berlalu lalang keluar dan masuk, namun aku mengingat kisah setiap orang." jawab sang uisa.

"Ah, kebetulan. Sudah lama kau ingin menanyakan satu hal, aku pernah menemukan sebuah lukisan yang dulu ditinggalkan orang. Kau tahu siapa yang melukisnya?" tanya Minghao sambil menyerahkan lukisan yang dimaksudnya. Sebuah lukisan wajah berwarna hitam yang dilukis dengan acak.

"Tentu saja ingat!" jawab sang uisa sambil tersenyum.

"Dulu dia adalah pasienku. Dia seumuran dengan mu. Pertama kali masuk rumah sakit ini, dia tidak berani bercermin. Dia memecahkan semua cermin di rumah sakit ini." jelas Choi uisa.

Minghao pun hanya terdiam mendengar jawaban yang didapatnya.

...

Setelah jam kuliah berakhir, Mingyu pun segera memacu motornya untuk pergi bekerja part-time. Setelah Mingyu keluar dari area parkir kampus, Jisoo keluar dari tempaat persembunyiannya sambil menyeringai. Seperti biasanya, Mingyu melajukan motor balapnya dengan sangat cepat. Saat itu jalanan sangat lengang, sehingga Mingyu dengan leluasa bisa memacu kecepatan motornya.

Namun tiba-tiba di persimpangan nampak sebuah truk pengangkut barang yang sangat besar tengah melintas perlahan. Mingyu pun segera menarik remnya, namun nihil, motornya tetap melaju dengan kencang karena seseorang telah memotong rem motor Mingyu. Mingyu pun panik, karena jaraknya dengan truk itu sudah sangat dekat dan dapat dipastikan dia akan menabrak. Namun Mingyu dengan cepat bertindak, saat motornya hampir menabrak truk itu, dia segera memiringkan motornya sehingga motornya dapat melalui bagian bawah mobil truk itu, meskipun helm yang dikenakannya terpental jauh dan hancur.

Setelah kejadian itu, Mingyu segera membawa motornya ke bengkel untuk diperiksa.

"Untung saja reaksimu cepat. Dengan kecepatanmu itu, kalau tidak mati, pasti koma. Rem depan dan belakang motormu dipotong orang. Memangnya kau menyinggung siapa?" tanya sang montir.

"Banyak sekali. Sudah tidak terhitung." jawab Mingyu seadanya.

"Waspadalah! Masih bertanding?" tanya sang montir lagi.

"Hahh... Motornya rusak, uang juga tidak punya. Bagaimana aku bisa ikut?" ujar Mingyu pasrah.

"Kau bertengkar lagi dengan seongsaengnim-mu?"

"Ne. Aku dan dia tidak cocok. Jungsoo seongsaengnim terus melarangku naik motor." ucap Mingyu dengan senyum kecil.

"Dia hanya mengkhawatirkanmu. Lalu, kenapa kau tidak pulang saja?"

"Pulang?" ulang Mingyu, dan senyum di wajahnya pun lenyap.

"Kalau aku pulang, aku bisa gila." ucap Mingyu sambil mendengus kasar.

"Tsk, kau kan memang tidak waras!" gurau sang montir.

"Benar juga!" ucap Mingyu dengan tawa lebar di wajah tampannya.

...

Keesokan paginya...

Jisoo tengah berjalan dengan tenang di koridor kampus menuju ruangannya. Sesekali para mahasiswa menegurnya, dan dibalasnya dengan ramah. Tiba-tiba Mingyu merangkulnya dengan sangat erat dari belakang dan membawanya berjalan dengan cepat menuruni tangga.

"Annyeong seongsaengnim... Kelihatannya orang-orang hanya melihatmu dari satu sisi saja ya... " ucap Mingyu sambil terus memaksa Jisoo mengikuti langkahnya.

"K-kau sedang bicara apa?" tanya Jisoo tergagap.

"Jangan berpura-pura lagi. Aku hampir terbaring di rumah sakit." ucap Mingyu sambil berhenti di puncak tangga yang sepi.

Mingyu bergerak seolah-olah ia akan mendorong Jisoo dari atas tangga itu, membuat Jisoo nyaris menjerit ketakutan, namun Mingyu menahan tubuh Jisoo dari belakang.

"Lihat! Aku suka dengan hal yang menegangkan."bisik Mingyu tepat di telinga Jisoo.

"Tapi... Jisoo seongsaengnim tercinta, kalau sudah melakukannya, kenapa tidak sampai selesai saja? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membiarkannya hidup." ujar Mingyu sambil mencengkeram erat lengan Jisoo.

Setelah menyelesaikan perkataannya, Mingyu pun melepaskan Jisoo yang sudah sangat pucat, lalu dia menuruni tangga tersebut dengan santai. Setelah menuruni beberapa tangga, Mingyu pun berbalik.

"Oiya, kalau aku tidak salah ingat, mobil mu yang berwarna putih itu kan?" tanya Mingyu dengan senyum di wajah tampannya.

"Hati-hatilah kalau menyetir." lanjut Mingyu lagi, kemudian dia pergi meniggalkan Jisoo yang diam memantung di puncak tangga itu.

...

Setelah jam pertama berakhir, para mahasiswa segera membereskan bukunya. Tiba-tiba seorang namja masuk dan berteriak.

"Hei chingudeul, tadi aku mendapat informasi jika Jisoo seongsaengnim tiba-tiba mengundurkan diri hari ini!" serunya.

Kelas pun menjadi riuh karena kabar itu. Seokmin dan Wonwoo hanya bisa menoleh ke arah Mingyu yang sedang tertidur pulas di mejanya.

...

Di kelas berikutnya, Wonwoo saat itu tengah sibuk meruncingkan pensilnya dengan pisau cutter. Dari arah pintu masuk, terlihat Seungkwan yang tengah mengejar langkah Mingyu.

"Mingyu-ya, apa kau mendengarku?" rajuk Seungkwan.

"Ne.. aku mendengarmu." ujar Mingyu dengan acuh.

Tanpa sengaja Mingyu melihat Wonwoo yang tengah duduk seorang diri, dan dia pun segera menghampiri Wonwoo dengan Seungkwan yang terus mengekorinya.

"Mingyu-ya, ayo ajak aku naik motormu untuk pergi berkeliling." pinta Seungkwan.

"Tidak mau! Kalau ada yang membonceng motorku, motorku bisa cemburu dan kemudian menjatuhkanku." ucap Mingyu sambil mengambil tempat untuk duduk di sebelah Wonwoo.

Wonwoo pun menoleh mendapati Mingyu disampingnya, dan tersenyum, Mingyu pun balas tersenyum lebih lebar. Melihat pemandangan manis itu, Seungkwan pun merasa sangat kesal. Dengan sengaja dia menyenggol keras punggung Wonwoo yang tengah meraut pensilnya sehingga jari Wonwoo tergores oleh pisau cutter yang dipegangnya.

"Ah!" pekik Wonwoo pelan.

"Mian."ucap Seungkwan singkat.

"Yak! Apa yang kau lakukan?"omel Mingyu pada Seungkwan.

Mingyu pun kembali menoleh ke arah Wonwoo yang tengah memandangi luka berdarah di jarinya.

"Kau berdarah." ucap Mingyu, namun Wonwoo masih diam memandangi lukanya.

"Tsk, kau bodoh sekali!" ucap Mingyu yang dengan cepat membawa jari Wonwoo yang terluka ke mulutnya untuk dihisap darahnya.

Wonwoo pun membelalakkan matanya mendapatkan perlakuan Mingyu, begitu juga dengan Seungkwan dan Seokmin yang menyaksikan nya. Dengan cepat Wonwoo menarik jarinya dari mulut Mingyu, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sementara itu Seungkwan tengah memandang Wonwoo dengan sengit.

...

"Kalau kau seperti itu, kau bisa membuat keadaanya berada dalam bahaya!" ucap Seokmin pada Mingyu saat mereka tengah menghabiskan jam istirahat bersama.

"Bahaya?"tanya Mingyu heran.

"Aku selalu melakukan kebiasaan itu sejak kecil." jelas Mingyu sambil memperagakan caranya menghisap jari yang berdarah.

"Tsk, kebiasaanmu aneh sekali. Lagipula, wajahmu kan tampan, kenapa kau malah suka dengan namja berwajah datar, aneh, dan pendiam, yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri? Kuberitahu kau, sekarang Wonwoo berada dalam bahaya gara-gara kau." ujar Seokmin.

"Aku tidak percaya kata-katamu. Eh, kau terlihat begitu peduli padanya, apa kau menyukai Wonwoo?" goda Mingyu.

"Kau bicara apa? Memangnya aku terlihat seperti itu?" tanya Seokmin.

"Ne. Sudah lama aku curiga kepadamu. Sebentar bilang dia aneh, sebentar bilang aku harus menjauhinya, dan sekarang..."

"Apa kau menyukai Wonwoo?" tanya Seokmin memotong ucapan Mingyu.

"Apa kau menyukai Wonwoo?" ulang Mingyu sambil maju selangkah seakan tengah menantang Seokmin.

Mereka pun beradu tatap dengan sengit selama beberapa saat.

"Memangnya kenapa kalau aku suka?" jawab Seokmin sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Lagipula masa remaja baru saja dimulai, dan aku orang yang tidak bisa diikat." ujar Seokmin sambil berlalu dari hadapan Mingyu yang tengah terdiam.

...

Sementara itu, di atap kampus Wonwoo tengah disudutkan oleh Seungkwan dan seorang temannya, Lee Chan.

"Akhir-akhir ini kau terlihat sangat sombong, chingu. Jangan kira karena dia baik kepadamu, dan kau langsung bersemangat. Kau kira Mingyu serius dengan namja aneh sepertimu?" ucap Chan sambil berkalan perlahan mengelilingi Wonwoo yang menunduk, sementara Seungkwan hanya memperhatikan.

"Lihat wajahmu itu? Apa bagusnya?" ucap Chan lagi sambil mendorong bahu Wonwoo, namun Wonwoo masih tetap diam.

Melihat Wonwoo yang tidak memberikan reaksi apapun, Seungkwan pun melangkah maju.

"Aku benci dengan wajahmu yang selalu terlihat datar itu. Setiap hari duduk di bagian belakang kelas, seolah tidak peduli sekelilingmu. Aku kesal sekali melihatmu. Kau sengaja berpura-pura menyendiri agar dikasihani kan? Baiklah, hari ini aku akan mebuatmu benar-benar dikasihani agar kau puas. Kuharap kau bisa ingat selamanya."ucap Seungkwan dengan seringai di wajahnya.

Kemudian Seungkwan maju satu langkah dan berbisik di telinga Wonwoo, "Jangan. Dekati. Mingyu!"

Selanjutnya Seungkwan merampas dan membuang tas Wonwoo, sedangkan Chan segera membuka mantel dan kemeja yang dipakai Wonwoo dan membuangnya ke lantai dasar. Wonwoo hanya bisa meronta dan menangis dalam diam.

Setelahnya, Seungkwan dan Chan pun kembali ke kelas dengan senyum lebar di wajah mereka.

Tidak lama kemudian Jungsoo seongsaengnim memasuki kelas.

"Baiklah, pelajaran dimulai."

"Wonwoo tidak datang? Biasanya dia tidak pernah membolos." ucap Jungsoo saat melihat kursi Wonwoo yang kosong.

"Hari ini dia tidak akan masuk, seongsaengnim."ucap Seungkwan.

"Tidak akan masuk? Aneh. Seokmin dan Mingyu juga tidak masuk." ucap Shindong sambil melihat dua kursi kosong lainnya.

Seungkwan pun menoleh dan dia baru menyadari jika Mingyu tidak ada di kelas, dan dia pun merasa tidak tenang akan hal itu.

Sementara itu Seokmin memilih menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di bawah pohon di halaman belakang kampus, sedangkan Mingyu hanya berjalan menyusuri kampus tanpa tujuan, namun ternyata kakinya membawanya melangkah ke arah atap kampus.

Mingyu terdiam menikmati pemandangan dari atas serta angin sejuk yang menyapa wajahnya. Setelah beberapa saat, dia pun menoleh dan dia melihat seseorang yang tengah duduk di sudut sambil menunduk memeluk lututnya. Dari tempatnya berdiri, Mingyu terus memperhatikan orang itu, sampai tiba-tiba dengan perlahan orang itu mengangkat kepalanya.

Mingyu begitu terkejut mendapati Wonwoo dengan keadaan yang sangat mengenaskan saat ini. Wonwoo hanya mengenakan kaos dalam yang sangat tipis di musim gugur seperti ini, yang membuatnya menggigil kedinginan. Beruntung Seungkwan tidak membuka paksa celana yang dikenakannya.

Saat Mingyu telah sampai tepat didepannya, Wonwoo kembali menangis. Mingyu pun berjongkok di hadapan Wonwoo.

"Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" tanya Mingyu pelan.

Tanpa berniat menjawab, Wonwoo hanya terus menangis terisak.

"Apakah ini karenaku? Siapa yang telah melakukannya?" tanya Mingyu lagi.

Wonwoo akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Mingyu dengan air mata yang terus mengalir dan bibir yang mulai membiru kedinginan.

"Bukan urusanmu. Aku yang terlalu lemah. Makanya dipermainkan orang." ucap Wonwoo di sela isakannya.

Mingyu pun segera melepas jaket yang diapakinya dan memasangkannya di tubuh Wonwoo.

"Kau tinggal dimana? Aku akan mengantarmu pulang." ucap Mingyu.

Wonwoo hanya memandang Mingyu dengan tatapan bertanya.

"Ayo jalan! Atau kau masih mau terus belajar dengan keadaan seperti ini?" lanjut Mingyu.

Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat Mingyu memarkirkan motornya. Mingyu pun segera menaiki motornya dan memberikan helm pada Wonwoo. Namun Wonwoo hanya diam, tidak menerima helm yang Mingyu berikan, membuat Mingyu kesal.

"Yak! Apa kau lebih memilih untuk kembali ke kelas?"

"Tapi... bukankah kau bilang jika motormu tidak boleh dipakai membonceng orang?" tanya Wonwoo.

"Oh, itu. Aku sudah berubah pikiran." jawab Mingyu singkat, namun Wonwoo masih belum mau mengambil helm Mingyu.

"Oh iya, aku lupa. Kalau naik motor, kau harus dekat-dekat denganku, dan memelukku dengan erat, sementara kau benci dengan sentuhan. Baiklah, lupakan saja jika kau merasa terpaksa." ucap Mingyu lagi.

Wonwoo melihat wajah Mingyu yang memancarkan ketulusan untuk membantunya, kemudian dia pun segera mengambil helm yang tadi disodorkan Mingyu. Mingyu awalnya terkejut, namun akhirnya tersenyum. Wonwoo pun segera menaiki motor Mingyu.

"Ikat yang kuat."ujar Mingyu saat Wonwoo tengah memakai helmnya.

"Lalu kau?"

"Helm ku hanya ada satu. Lebih baik kau berdoa saja semoga tidak ada polisi yang melihat." Ujar Mingyu sambil tertawa kecil.

"Baiklah. Sudah siap belum? Peluk yang erat!"

Mingyu segera menghidupkan motornya dan menarik gasnya kencang, membuat Wonwoo memeluknya dengan erat. Sementara itu di kelas Seungkwan tengah mengikuti pelajaran dengan malas.

"Eh, Seungkwan-ah, ada suara motor balap!" ucap Chan memberitahu Seungkwan.

Di kampus itu yang menggunakan motor balap hanyalah Mingyu. Maka dari itu Seungkwan segera bangkit dan berlari keluar kelas, tanpa menghiraukan Jungsoo yang berteriak memanggilnya. Dari depan kelasnya terlihat jelas Mingyu yang tengah mengendarai motornya dan dibelakangnya Wonwoo tengah memeluknya dengan erat diboncengannya, membuat Seungkwan berteriak frustasi.

...

huaahh... ini chapter terpanjang! otte?

oiya, mian kalo perpindahan adegannya gak mulus, soalnya ini ngetiknya sambil bolak balik play-pause dramanya, jadi banyak adegan yang bingung diungkapkan dengan kata-kata #halah_alesan lol

makasiii buat yg review, fav, n follow, luv y'all #cipokbasah

TBC / END?

mind to leave some reviews?

again, you decide it readers-nim...