"Tapi... bukankah kau bilang jika motormu tidak boleh dipakai membonceng orang?" tanya Wonwoo.
"Oh, itu. Aku sudah berubah pikiran." jawab Mingyu singkat, namun Wonwoo masih belum mau mengambil helm Mingyu.
"Oh iya, aku lupa. Kalau naik motor, kau harus dekat-dekat denganku, dan memelukku dengan erat, sementara kau benci dengan sentuhan. Baiklah, luapakan saja jika kau merasa terpaksa." ucap Mingyu lagi.
Wonwoo melihat wajah Mingyu yang memancarkan ketulusan untuk membantunya, kemudian dia pun segera mengambil helm yang tadi disodorkan Mingyu. Mingyu awalnya terkejut, namun akhirnya tersenyum. Wonwoo pun segera menaiki motor Mingyu.
"Ikat yang kuat."ujar Mingyu saat Wonwoo tengah memakai helmnya.
"Lalu kau?"
"Helm ku hanya ada satu. Lebih baik kau berdoa saja semoga tidak ada polisi yang melihat." Ujar Mingyu sambil tertawa kecil.
"Baiklah. Sudah siap belum? Peluk yang erat!"
Mingyu segera menghidupkan motornya dan menarik gasnya kencang, membuat Wonwoo memeluknya dengan erat. Sementara itu di kelas Seungkwan tengah mengikuti pelajaran dengan malas.
"Eh, Seungkwan-ah, ada suara motor balap!" ucap Chan memberitahu Seungkwan.
Di kampus itu yang menggunakan motor balap hanyalah Mingyu. Maka dari itu Seungkwan segera bangkit dan berlari keluar kelas, tanpa menghiraukan Jungsoo yang berteriak memanggilnya. Dari depan kelasnya terlihat jelas Mingyu yang tengah mengendarai motornya dan dibelakangnya Wonwoo tengah memeluknya dengan erat diboncengannya, membuat Seungkwan berteriak frustasi.
...
MARS
Meanie
Mingyu x Wonwoo
YAOI
remake dari drama taiwan berjudul 'MARS' dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita
Don't Like, Just Leave!
TYPO EVERYWHERE!
Happy Reading...
.
.
.
Motor Mingyu berhenti tepat di depan rumah Wonwoo, lalu Wonwoo segera turun dari motor dan membuka helmnya.
"Terima kasih."ucap Wonwoo sambil mengembalikan helm Mingyu.
"Apa aku membuatmu takut tadi?" tanya Mingyu.
Mingyu khawatir jika dia telah membuat Wonwoo trauma naik motor karena cara mengendarainya yang terbilang cukup ekstrim.
"Karena sudah naik, kuserahkan padamu. Takut juga tidak ada gunanya."jawab Wonwoo yang membuahkan kekehan dari mulut Mingyu.
"Terima kasih, karena sudah bersedia menyerahkan dirimu kepadaku." ucap Mingyu dengan senyum jahilnya.
"Aku tidak suka mendengar gurauanmu ini."ujar Wonwoo dengan wajah serius, membuat Mingyu berhenti terkekeh.
"Terima kasih sudah banyak membantuku. Kali ini kau mengantarku pulang, juga kemarin kau bilang akan melindungiku. Walaupun aku tahu kau tidak serius, tapi aku tetap sangat senang. Bagiku, semua ini sangat penting. Karena sudah lama aku tidak pernah begitu dekat dengan orang lain. Terima kasih." ucap Wonwoo yang segera berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya.
"W-Wonwoo-ya! Wonwoo-ya!" panggil Mingyu sambil mengejar Wonwoo yang hendak memasuki rumahnya dan menarik tangannya.
Namun ternyata eomma Wonwoo yang baru saja pulang bekerja melihat Mingyu yang tengah menarik tangan Wonwoo, dan hal tersebut membuatnya salah paham.
"Yak! Kau sedang apa? Apa yang akan kau lakukan pada putraku?" omel eomma Wonwoo sambil memukuli Mingyu dengan beringas.
Wonwoo pun dengan cepat melerainya.
"Eomma, kau salah paham! Dia tidak menyakitiku! Tadi aku jatuh di kampus, dan dia yang sudah menolongku dan mengantarku pulang." jelas Wonwoo pada sang eomma.
Mendengar penjelasan sang putra, eomma Wonwoo pun akhirnya bisa tenang, namun ketika melihat ke arah motor Mingyu, eomma Wonwoo pun segera mengalihkan pandangannya.
"Ini eommaku." ucap Wonwoo pada Mingyu.
"Mian. Tadi kukira kau akan memaksa Wonwoo, jadi..."
"Tidak apa ahjumma, aku mengerti. Oh, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kim Mingyu, teman kampus Wonwoo. Senang bertemu dengan anda." ujar Mingyu sambil membungkuk sopan.
Eomma Wonwoo hanya mengangguk singkat tanpa mau menatap Mingyu secara langsung.
"Ayo Wonnie, kita masuk!" ajak sang eomma sambil melangkah lebih dulu.
Mendapati Wonwoo yang masih terdiam ditempat, sang eomma pun kembali menegurnya.
"Wonnie, cepat masuk!"
Saat Wonwoo akan berbalik masuk, Mingyu menahannya.
"Sebentar, aku mau bertanya. Menurutmu, Seokmin itu bagaimana?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengernyit bingung dengan pertanyaan Mingyu. Sementara sang eomma masih berdiri di pintu masuk, menunggu Wonwoo dengan tidak sabar.
"Eum, maksudku, apa kau merasa dia tampan? Atau mungkin sebaliknya, apa dia sangat menyebalkan?"
"Kenapa kau merasa begitu?" tanya Wonwoo heran.
"Maksudku... eh, tidak ada. Tidak ada apa-apa. Lupakan saja!" ucap Mingyu denagn senyum kikuknya.
Wonwoo pun tidak berkomentar lagi dan segera berbalik melangkah ke arah sang eomma yang masih menunggunya di pintu masuk.
Wonwoo segera masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya rapat, dia pun segera bersandar di pintu itu dan meremas dadanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum lebarnya. Dia melihat tubuhnya yang masih terbalut jaket Mingyu, dia pun segera berganti pakaian, melepas jaket itu kemudian menggantungnya. Wonwoo memandangi jaket Mingyu yang tergantung dengan senyum kecil di wajahnya.
...
"Kau ingin aku mengikuti pertandingan? Apa tidak salah?" tanya Mingyu pada Seungcheol yang saat ini tengan duduk dihadapannya.
"Motor saja aku tidak punya, bagaimana bisa aku ikut bertanding?" lanjutnya.
"Aku yang akan menyiapkan motornya. Beserta seluruh perawatan dan perbaikannya! Tugasmu hanya balapan saja!"tegas Seungcheol.
Setelah mengantar Wonwoo pulang, Mingyu kembali mengunjungi Seungcheol di rumah sakit. Namun dia kaget dengan permintaan Seungcheol yang tiba-tiba memintanya untuk mengikuti pertandingan balap motor internasional, menggantikan posisinya.
"Mingyu, bukankah kau mau menjadi pembalap GP? Maka dari itu, kau harus mendapatkan prestasi yang bagus dulu di pertandingan internasional, setelah itu baru kau berhak mendaftarkan diri mengikuti lomba GP."jelas Seungcheol pada Mingyu yang hanya terdiam.
"Kurasa, kali ini kita bisa mendapatkan pertandingan Yamaha."ujar Seungcheol percaya diri.
"Benarkah?" tanya Mingyu mulai tertarik.
"Ne. Kudengar mereka sedang mencari pembalap muda dan berbakat untuk mewakili mereka mengikuti pertandingan. Bagaimana?"tanya Seungcheol dengan senyum lebarnya.
"Tapi sudah lama aku tidak latihan."ujar Mingyu.
"Tsk, tidak masalah! Aku akan segera membentuk tim, lalu aku yang akan melatihmu. Bagaimana?" tawar Seungcheol sambil mengangkat tangannya mengajak Mingyu berjabat tangan.
Mingyu pun tersenyum lebar dan menjabat tangan Seungcheol.
"OK!"
"Sudah selesai belum ngobrolnya?" tanya Jeonghan yang baru saja datang, berniat mengantar Seungcheol ke ruang terapi.
"Sudah!" jawab Seungcheol.
"Baiklah, kalu begitu sekarang waktunya latihan." ujar Jeonghan sambil mendekat, berniat membantu Seungcheol berjalan dengan tongkat penyangganya.
"Biar aku sendiri saja." ujar Seungcheol menolak bantuan Jeonghan.
Seungcheol berusaha bangkit dari posisi duduknya dan berdiri dengan tongkat penyangga di kedua ketiaknya. Mingyu merasa miris saat melihat kaki buatan yang saat ini digunakan Seungcheol. Dia hanya memperhatikan bagaimana Seungcheol bersusah payah melangkahkan kaki buatan itu, dengan Jeonghan yang dengan setia disampingnya. Setelah beberapa langkah, Seungcheol kembali menoleh ke arah Mingyu.
"Mingyu-ya, aku akan menghubungimu lagi nanti. Annyeong!"
"Ne, annyeong!" balas Mingyu dengan senyum tipis di wajahnya.
...
"Hari ini pengecualian! Besok-besok kau tidak boleh naik motor seperti itu, dan bergaul dengan preman itu lagi."ucap eomma Wonwoo saat mereka berdua sedang menyantap makan malam.
"Eomma, dia sudah memiliki SIM dan pernah mengikuti lomba. Lagi pula dia tidak seperti yang kau bayangkan."bela Wonwoo.
"Memangnya kenapa kalau pernah mengikuti lomba? Apa bedanya dengan preman yang sudah menabrak ayahmu sampai mati?"cecar eomma Wonwoo.
Wonwoo pun hanya bisa menunduk mendengar perkataan sang eomma.
"Tidak semua orang yang naik motor seperti itu. Mingyu orang baik."ucap Wonwoo sebelum kembali melanjutkan makannya.
Eomma Wonwoo hanya diam tanpa menanggapi ucapan putranya.
...
Mingyu kembali ke flat sederhananya saat hari sudah larut. Saat dia hendak membuka kunci, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Mingyu-ya..."
Mingyu pun menoleh, dan dia cukup heran mendapati Seungkwan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa kau bisa disini? Ada perlu apa mencariku?"tanya Mingyu dengan raut wajah tidak bersahabat.
"Apa maksudmu? Bukankah kau bilang jika tidak boleh ada yang menaiki motormu? Lalu kenapa Jeon Wonwoo boleh?" tanya Seungkwan to the point.
"Karena ada yang mengerjainya." jawab Mingyu sinis.
"Itu masalahnya. Kenapa kau ikut campur?"ucap Seungkwan dengan kesal.
"Terserahku!"
"Kau terlihat begitu mengkhawatirkannya."
"Ini urusanku."
"Lalu bagaimana dengaku? Aku terus menunggumu, Mingyu-ya!"
"Aku sudah bilang, tidak usah menungguku!"
"Lalu, kenapa kau mau tidur denganku!"bentak Seungkwan dengan mata berkaca-kaca.
"Tch, itu sudah lama sekali! Lagi pula itu karena kau yang menggodaku, dan kebetulan aku tergoda olehmu. Hanya itu. Lagipula kita melakukannya atas suka sama suka, kurasa itu adil."jelas Mingyu sambil melangkah memasuki flatnya.
"Tapi aku serius! Aku tidak akan membiarkan seorang Jeon Wonwoo merebutmu!"bentak Seungkwan penuh emosi.
Mendengar perkataan Seungkwan, Mingyu dengan cepat menoleh dengan wajah penuh amarah.
"Ternyata kau! Ternyata benar kau yang melakukannya!"
"Kau yang memaksaku berbuat begini! Kau yang menyebabkan semua ini!"ucap Seungkwan dengan air mata yang mulai mengalir.
Mingyu melangkah mendekati Seungkwan masih dengan wajah penuh emosinya.
"Harusnya kau tahu, aku ini bajingan yang bisa pacaran dengan delapan orang sekaligus. Kau sendiri juga mau menjadi salah satu dari mereka. Tapi kini kuberitahu, Jeon Wonwoo berbeda dengan kedelapan orang itu. Lebih baik menjauh darinya!"bentak Mingyu.
"Kau punya berapa banyak pacar, aku tidak keberatan. Terserah bagaimana kau menilaiku. Aku hanya tidak suka dengan posisi Jeon Wonwoo di hatimu."ucap Seungkwan sambil terisak keras.
"Heh, kau sudah gila ya?"
"Aku tidak tahan dengan namja Jeon itu! Aku tidak tahan melihat sikapmu yang berbeda kepadanya! Aku bersumpah, bagaimanapun caranya aku tidak akan membiarkannya mendekatimu!"racau Seungkwan dan kemudian namja itu segera pergi dari hadapan Mingyu dengan air mata yang terus mengalir.
"Sikapku berbeda? Apa maksudnya?"monolog Mingyu sambil mengangkat bahunya dan dia segera berbalik memasuki flatnya.
...
"Silahkan hot dog nya..." ucap Seokmin kepada seorang pembeli yang membeli hot dog dari stand-nya.
Hari itu Seokmin tengah sibuk bekerja paruh waktu sebagai penjual hot dog.
Setelah Seokmin memberikan uang kembalian kepada pembeli tadi, tiba-tiba seseorang berusaha mengambil hot dog Seokmin yang secara refleks langsung ditepis olehnya.
"Hentikan itu! Aku sudah melihatmu dari tadi!" ucap Seokmin kepada namja yang ternyata adalah Mingyu itu.
Mingyu pun hanya memberikan cengiran terbaiknya.
"Hei, Seokmin-ya, kita tidak perlu bermusuhan hanya karena menyukai orang yang sama kan?" ucap Mingyu berusaha mencairkan suasana.
"Apa menurutmu aku orang yang seperti itu?" jawab Seokmin.
Mingyu pun terseyum sambil mengangguk, kemudian kembali mengambil hot dog Seokmin dan kali ini Seokmin membiarkannya.
"Lalu, kenapa kau marah?" tanya Mingyu.
"Marah? Tsk, lupakan saja! Aku malas berbicara dengan orang bodoh seperti mu!" jawab Seokmin.
"Hei, nanti kau mau makan apa?"tanya Mingyu dengan mulut yang sibuk mengunyah hot dog.
"Nanti aku masih ada urusan. Aku akan menjemput adik-adikku."
"Oh, kalau besok?" tanya Mingyu lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Seokmin curiga.
Mingyu pun hanya tersenyum sambil kembali menggigit hot dognya.
...
Keesokan harinya, Mingyu tengah duduk di kantin dengan senyum lebarnya. Di hadapannya ada Wonwoo dan Seokmin yang tengah duduk berhadapan dengan canggung. Berterima kasihlah kepada sifat pemaksa Mingyu yang kini membuat mereka duduk berhadapan.
Mingyu memperhatikan keduanya yang sama-sama menundukkan kepala tanpa ada yang berniat memulai obrolan lebih dulu. Mingyu pun menghela nafasnya.
"Bukankah kalian teman saat sekolah menengah? Apakah benar-benar tidak ada topik yang bisa dibicarakan?" tanya Mingyu berusaha memulai obrolan.
Seokmin dan Wonwoo masih betah diam sambil menundukkan kepalanya.
"Ya, Seokmin-ah! Bukankah kau bilang kalau kau pernah menolongnya? Lalu kenapa tidak ada topik pembicaraan?" tanya Mingyu kepada Seokmin.
Seokmin masih saja diam meskipun kini dia sudah tidak lagi menundukkan kepalanya. Mingyu yang putus asa hampir berbicara lagi, sebelum tiba-tiba Wonwoo mengeluarkan suaranya.
"Terima kasih. Terima kasih atas jusnya." ucap Wonwoo yang berterima kasih karena jus dihadapannya.
"Jangan sungkan." jawab Seokmin singkat.
Setelah percakapan singkat itu, Wonwoo dan Seokmin kembali diam. Mingyu hanya memutar matanya malas. Dia pun mendengus keras-keras.
"Huhfft! Kalau kalian begini terus, aku bisa ketiduran!" ucap Mingyu.
Mingyu pun memperbaiki posisi duduknya, lalu mengambil alih percakapan itu.
"Baiklah! Wonwoo-ya, apakah kau mau didekati oleh Seokmin?" tanya Mingyu to-the-point kepada Wonwoo.
"Yak! Mingyu-ya..." Seokmin pun panik dan berusaha menegur Mingyu, sementara Wonwoo makin menundukkan kepalanya.
"Seokmin-ah, sebelumnya kau bilang padaku jika kau menyukai Wonwoo, apa itu bohong?" tanya Mingyu kepada Seokmin yang kini tengah salah tingkah.
"Te-tentu saja tidak!" jawab Seokmin.
"Jika itu benar, kenapa kau tidak terus terang saja?" ujar Mingyu lagi.
"Tapi..." ujar Seokmin ragu sambil melirik gugup kepada Wonwoo.
"Tapi apa?" potong Mingyu.
"Baiklah." ucap Wonwoo tiba-tiba, membuat kedua namja lainnya menoleh bingung dengan maksud perkataan Wonwoo.
"Maksudku, aku dan Seokmin mungkin bisa mencoba berpacaran." lanjut Wonwoo.
Mendengar perkataan Wonwoo, senyum di wajah Mingyu langsung lenyap, sedangkan wajah Seokmin terlihat sangat bahagia. Namun, Mingyu dengan cepat mengontrol ekspresi wajahnya dan kembali menunjukkan seyum lebarnya, kemudian dia pun menepuk bahu Seokmin.
"Baiklah, selanjutnya sudah bukan urusanku lagi. Aku pergi. Seokmin-ah, fighting!" ucap Mingyu sambil hendak melangkah pergi.
"Mi-Mingyu..." ucap Seokmin.
"Tunggu!" ujar Wonwoo saat Mingyu hendak melangkah pergi.
Wonwoo pun mengambil kantung kertas besar disampingnya, dan memberikannya kepada Mingyu.
"Terima kasih, jaketmu." ucap Wonwoo.
Senyum di wajah Seokmin pun menghilang, sementara Mingyu tidak bisa berkata apa-apa karena merasa tidak enak kepada Seokmin. Mingyu pun langsung mengambil kantung kertas itu, dan tanpa membalas perkataan Wonwoo, Mingyu langsung melangkah pergi.
"Kau yang bayar ya!" ucapnya pada Seokmin sambil melangkah menjauh.
Setelah Mingyu pergi, suasana di meja itu menjadi sangat canggung sekali. Seokmin yang berusaha memilih kata-kata untuk memulai percakapan, sementara Wonwoo masih betah menundukkan kepalanya.
"Sekarang, bagaimana kita akan memulainya?" tanya Seokmin.
Wonwoo tidak menjawab, bahkan dia tidak mengangkat kepalanya sama sekali.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" usul Seokmin, yang mendapat anggukan sekilas dari Wonwoo.
Mereka pun berjalan bersisian dengan jarak yang cukup jauh, dan dengan suasana yang masih canggung.
"Berjodoh sekali, ya?" ucap Seokmin memulai kembali percakapan, dan Wonwoo kini memandangnya penuh tanya.
"Ya, kurasa kita sangat berjodoh! Sejak sekolah menengah sampai kuliah, kita selalu sekelas." jelas Seokmin sambil tersenyum.
Wonwoo pun hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Kau masih ingat? Saat itu kita sedang lomba dansa dan hanya kau yang tidak berani berdansa. Lalu aku pun memilih untuk menemanimu, dan kita berduaan di kelas sampai sore." ujar Seokmin yang semakin berani memulai percakapan karena merasa Wonwoo sudah mulai mau merespon ucapannya.
Wonwoo pun kembali tersenyum, namun masih tidak berkata apapun. Dan Seokmin tidak menyerah, mendapatkan senyum dari Wonwoo saja, hatinya sudah sangat senang.
"Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Sudah empat tahun lebih sejak saat itu. Sudah empat tahun lebih juga kita menjadi teman sekelas." ujar Seokmin lagi, dan lagi-lagi Wonwoo hanya tersenyum mendengarnya.
"Eh, kau mau minum kopi?" tawar Seokmin saat mereka berjalan melewati sebuah kedai kopi.
"Boleh." jawab Wonwoo singkat.
"Atau, kita pergi nonton saja? Kudengar akhir-akhir ini banyak film yang bagus-bagus." tawar Seokmin lagi.
"Terserah." jawab Wonwoo masih dengan senyum yang bertahan di wajahnya.
"Baiklah, aku akan beli tiket dan kau tunggu disini." ujar Seokmin dengan semangat.
Wonwoo pun hanya mengangguk dan Seokmin mulai berbalik melangkah untuk membeli tiket. Namun setelah beberapa langkah, Seokmin kembali berbalik dan memandang Wonwoo yang tengah berdiam ditempatnya dengan kepala tertunduk dalam.
"Hei, Wonwoo-ya!" panggil Seokmin.
Wonwoo pun segera menoleh ke arah Seokmin.
"Apa kau senang?" tanya Seokmin.
"Eum, tentu." jawab Wonwoo dengan senyum manis yang kembali muncul di wajahnya.
"Baiklah, kau begitu, aku beli tiketnya dulu." ucap Seokmin sambil berlari menjauh.
Setelah Seokmin tidak terlihat, senyum di wajah Wonwoo pun menghilang dan dia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sambil menunggu waktu dimulainya film yang akan mereka tonton, mereka pun memutuskan untuk duduk di sebuah cafe dengan posisi duduk berhadapan yang tentunya masih canggung.
"Sepertinya kita tidak memiliki topik pembicaraan sama sekali." Ujar Seokmin.
"Aku memang sangat pendiam dan selalu seperti ini." ujar Wonwoo dan Seokmin hanya mengangguk.
"Kukira kau tidak suka bergaul dengan namja semacam Mingyu. Tapi tidak disangka, kalian begitu akrab. Jujur saja, aku sangat terkejut." ucap Seokmin berusaha membuat topik pembicaraan.
"Aku memang tidak pintar bicara. Semua yang ingin ku katakan, ku tuangkan dalam lukisanku. Dia mulai berbicara denganku karena lukisanku." jelas Wonwoo bersemangat.
"Lukisanmu? Sejak kapan dia menyukai seni?" tanya Seokmin sambil tertawa, dan Wonwoo puun ikut tertawa.
"Pasti lukisan wanita bugil, ya?" tebak Seokmin asal.
"Bukan. Hanya lukisan seorang ibu yang tengah menggendong anaknya."jelas Wonwoo.
"Pantas saja dia suka."
"Memangnya kenapa?" tanya Wonwoo dengan rasa penasaran yang terlihat jelas.
"Karena Mingyu tidak punya ibu. Aku dengar ibunya meninggal saat dia masih kecil." jelas Seokmin, dan penjelasannya itu membuat wajah Wonwoo berubah murung.
Seokmin pun menyadari perubahan wajah Wonwoo saat bercerita mengenai Mingyu, dan dia hanya menghela nafasnya.
"Wonwoo-ya, sebenarnya kau menyukai Mingyu, kan?" tanya Seokmin to-the-point.
"Tidak. Kenapa kau bilang begitu?" tanya Wonwoo.
"Karena sejak tadi kau tidak banyak bicara, tetapi begitu membicarakan Mingyu, kau terlihat begitu gembira dan bersemangat. Pandangan matamu juga berubah." jelas Seokmin, dan Wonwoo hanya bisa tersenyum canggung.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel, dan Seokmin pun segera mengecek ponselnya.
"Sudah hampir mulai. Ayo kita jalan." ajak Seokmin.
Wonwoo pun bergegas mengambil mantel dan tas nya. Namun Seokmin malah sibuk mencari sesuatu di semua kantong celananya dan bahkan di dalam tasnya.
"Tiketnya hilang!" ujar Seokmin.
"Hilang?"
"Ya, hilang!" ujar Seokmin sambil masih berusaha mencarinya di semua tempat yang memungkinkan.
"Tidak apa-apa. Kita tidak usah nonton saja."ujar Wonwoo.
"Tidak bisa! Aku sudah antri lama sekali untuk mendapatkan tiket itu." kata Seokmin masih sambil terus mencari, dan Wonwoo hanya bisa kembali duduk menunggu Seokmin yang masih sibuk mencari tiketnya.
"Tidak ada! Kau tunggu sebentar disinni, aku akan mencari cara untuk mendapatkan tiketnya lagi."
"Tidak usah! Seokmin-ah, benar tidak apa-apa jika kita tidak jadi nonton. Lagi pula, bukankan filmnya juga sudah mulai dari tadi?"
"Tidak apa-apa. Kau tunggu disini. Aku akan segera kembali." ucap Seokmin sambil mulai berlari.
"Seokmin-ah, sungguh tidak apa-apa!"seru Wonwoo, namun Seokmin sudah berlari menjauh.
...
"Sudah, sampai disini saja!" ujar Wonwoo saat dia dan Seokmin telah sampai di pintu gerbang stasiun.
Karena Seokmin gagal mendapatkan kembali tiket untuk menonton, jadilah saat ini dia mengantarkan Wonwoo ke stasiun untuk pulang.
"Terima kasih sudah menemaniku seharian ini." ujar Wonwoo.
"Tidak, karena nyatanya kau yang telah menemaniku." balas Seokmin dan Wonwoo pun hanya tersenyum menanggapinya.
"Baiklah, annyeong..."
"Ne, annyeong..."
Wonwoo pun berbalik dan mulai melangkah memasuki stasiun, sementara Seokmin masih betah memandangi punggung kekasih barunya itu. Setelah beberapa langkah, tiba-tiba Wonwoo berbalik.
"Seokmin-ah, saat lomba dansa di sekolah menengah waktu itu, kenapa kau memilih untuk mundur?" tanya Wonwoo.
"Karena, dengan begitu, aku jadi bisa berduaan denganmu."jawab Seokmin dengan senyum tulusnya.
Wonwoo pun menunduk malu dan tersenyum.
"Annyeong..." ujar Wonwoo.
"Annyeong..."
...
Sementara itu Mingyu tengah menyantap makan malamnya seorang diri di sebuah restoran. Tiba-tiba dia menghentikan kunyahannya saat teringat olehnya kejadian pagi itu, dimana Wonwoo bersedia berpacaran dengan Seokmin. Namun sedetik kemudian, dia menggeleng dan kembali meneruskan makannya dengan agak terlalu bersemangat.
Di kamarnya, Wonwoo tengah membereskan sketsa-sketsa nya yang beserakan, dan terlihatlah sketsa yang Mingyu kembalikan kemarin, sketsa seorang ibu yang tengah menggendong anaknya, dan dia teringat percakapannya dengan Seokmin siang itu mengenai Mingyu yang telah ditinggal oleh sang ibu sejak kecil. Wonwoo pun memandang sketsa itu dalam-dalam.
...
Pagi itu Seokmin tengah berdiri bersandar di tiang dan menunggu Wonwoo yang tengah berjalan menuju ke arahnya.
"Wonwoo-ya..."panggil Seokmin sambil menghampiri Wonwoo.
"Kau mengambil mata kuliah ini juga?" tanya Wonwoo.
"Uh-hum. Aku..."
"Annyeong..." ucapan Seokmin terpotong oleh seorang namja yang tiba-tiba merangkul Wonwoo.
"Mian Seokmin-ah, aku pinjam Wonwoo dulu sebentar, ne?" ucap namja yang tenyata adalah Chan, teman Seungkwan.
Wonwoo hanya berdiri tegang dengan tatapan memohon pertolongan kepada Seokmin, yang sayangnya tidak dimengerti oleh Seokmin.
"Hmm, tidak apa. Kalian bisa ngobrol dulu. Wonnie, aku ke kelas duluan. Kita lanjutkan nanti." ucap Seokmin yang kemudian melangkah menjauh.
Setelah beberapa langkah, Seokmin berbalik dan mendapati Wonwoo tengah diajak Chan pergi menuju sudut lapangan. Namun tanpa menaruh curiga, Seokmin kembali melanjutkan langkahnya ke kelas.
Sementara itu, di sudut lapangan yang sepi, Chan menggiring Wonwoo ke tempat dimana Seungkwan tengah menantinya.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu?" ucap Seungkwan begitu Wonwoo berada di hadapannya.
"Kesana!" ujar Chan sambil mendorong Wonwoo lebih dekat ke arah Seungkwan.
Setelah Wonwoo berada tepat di hadapannya, Seungkwan langsung menapar Wonwoo dengan sangat kuat sampai membuat Wonwoo menjerit dan jatuh terjembab. Sayangnya sudut lapangan itu, tidak pernah terpakai, jadi teriakan Wonwoo tidak akan ada yang mendengarnya.
"Kau benar-benar orang yang pelupa, ya?" ujar Seungkwan.
"Waktu kecil kau pasti pernah di beri tahu jika anak yang tidak patuh akan dihukum."lanjut Seungkwan, sementara Wonwoo hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sementara itu Seokmin memasuki kelas dan langsung mengambil tempat duduk di sebelah Mingyu.
"Bagaimana?"tanya Mingyu begitu Seokmin telah duduk ditempatnya.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Seokmin bingung.
"Tsk, omong kosong! Aku sedang tanya kau, bagaimana kencan kalian kemarin?" ujar Mingyu sambil menyenggol pundak Seokmin, dan Seokmin hanya tersenyum.
"Eyy, dilihat dari ekspresi wajahmu, pasti menyenangkan."tebak Mingyu sok tahu, namun Seokmin hanya menanggapinya dengan kekehan kecil.
...
Di sudut lapangan.
Wonwoo tengah dipegangi dengan kuat oleh Chan, dan tangan kanannya dijulurkan di atas sebuah batu besar.
"Kau tahu, sekarang sedang trend tattoo."ucap Seungkwan sambil mengacungkan sebatang rokok yang telah dinyalakan ujungnya ke arah wajah Wonwoo, dan Wonwoo hanya bisa mengernyit ketakutan.
"Kalau kau berani mendekatinya, aku kan membuatkan tattoo untukmu secara gratis. Bagaimana?" lanjut Seungkwan sambil mengarahkan rokok itu ke tangan Wonwoo yang tengah terjulur.
"Bu-bukankah waktu itu kau bilang jika Mingyu tidak mungkin serius denganku? Lalu, kenapa kau masih takut kepadaku?" jawab Wonwoo pelan.
"Wah, ternyata kau pintar bicara, ya? Tapi aku tidak mau mendengar omong kosongmu! Katakan! Katakan jika kau tidak akan mendekatinya lagi! Tidak akan memintanya menjadi model lukisanmu lagi!" bentak Seungkwan.
Wonwoo hanya terdiam.
"Cepat katakan! Kalau tidak... aku akan menyulut tanganmu dengan rokok. Supaya kau sakit selama seminggu sampai tidak bisa bicara!" ancam Seungkwan sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke telapak tangan Wonwoo yang terbuka, dan Wonwoo menangis ketakutan.
"Cepat! Aku orang yang tidak sabaran! Dan rokokku ini lebih tidak sabaran lagi." lanjut Seungkwan, namun Wonwoo tetap diam.
"Sebenarnya kau mendengarkanku tidak?!" bentak Seungkwan.
Lalu Wonwoo memberanikan diri menatap Seungkwan sebelum menjawab.
"Hanya satu minggu saja, kan? Asal aku menangis selama seminggu, kau akan mengijinkanku menyukai Mingyu?" tanya Wonwoo dengan berani.
"Tekan tangannya! Tekan tangannya!" perintah Seungkwan kepada Chan yang langsung dilaksanakan olehnya.
Seungkwan pun melempar rokoknya dan segera berdiri mengembil sebuah batu yang cukup besar.
"Seungkwan-ah, apa yang akan kau lakukan?" tanya Chan khawatir, dia tidak ingin Seungkwan melakukan hal yang kelewat batas.
"Aku akan menghantam tangannya dengan batu ini. Lihat saja!" ujar Seungkwan sambil mendekat ke arah Wonwoo dan membuat Wonwoo membelalakkan matanya.
...
Di kelas.
"Hei, mana Wonwoo? Kalian tidak bersama?"tanya Mingyu pada Seokmin.
"Tadi Chan mengajaknya pergi sebentar." jawab Seokmin.
"Chan? Chan yang selalu bersama Seungkwan?" tanya Mingyu.
"Ne. Chan yang itu."
"Kemana?" tanya Mingyu dengan wajah seriusnya.
"Aku tidak tahu, tapi tadi kuliaht mereka berjalan ke arah sudut lapangan yang tidak terpakai." jawab Seokmin.
Mingyu pun membelalakkan matanya dan segera berlari meninggalkan kelas dan disusul dengan Seokmin yang mengikutinya dibelakang. Mingyu berlari menuruni tangga bagai orang kesetanan, bahkan Jungsoo, sang seongsaengnim, yang akan memasuki kelasnya pun ditabraknya.
"Yak, Kim Mingyu! Sebenarnya ada apa dengan hidupmu? Bahkan turun tangga pun menggunakan cara yang tidak beretika!"omel Jungsoo yang tidak didengar sama sekali oleh Mingyu yang sudah berlari sangat jauh.
Mingyu pun terus berlari kencang menuju sudut lapangan – yang sialnya sangat jauh - dengan Seokmin yang ikut berlari dibelakangnya.
...
Di sudut lapangan.
"Kalau tangan mu hancur, pasti akan sakit. Hanya demi seorang laki-laki, apakah menurutmu itu pantas? Katakan, jika kau tidak akan mendekatinya lagi! Katakan jika kau akan melupakannya!" perintah Seungkwan pada Wonwoo.
"Tidak mau!" jawab Wonwoo dengan berani.
"Kau sungguh tidak keberatan jika tidak bisa melukis lagi hanya demi seorang Kim Mingyu?!" teriak Seungkwan.
"Jika tangan kananku tidak bisa melukis, aku masih punya tangan kiri. Kalau tidak ada tangan, aku masih bisa melukis dengan kaki. Tidak ada kaki, aku bisa melukis dengan mulut. Aku akan terus melukis." jawab Wonwoo tanpa memandang Seungkwan.
"Seungkwan-ah..."ujar Chan pelan, berharap Seungkwan tidak benar-benar akan melakukannya.
Tanpa memperdulikan Chan, Seungkwan yang terlanjur naik pitam mendengar ucapan Wonwoo pun segera mengankat batu besar itu dengan kedua tangannya tinggi-tinggi, dan Wonwoo hanya bisa memejamkan matanya dengan erat.
BRAKK!
...
yuhuuu... wonwoo jadian ama seokmin... syalalalalala~
big thanks buat yang masih setia minta ff abal ini dilanjut...
yang selalu review, ditunggu lagi reviewnya
yang cuma baca ajah, sekali-sekali review gak apa-apa kali... kkk...
maafken kalo masih banyak typo dimana-mana...
as usual,
t.b.c / fin?
