Di sudut lapangan.
"Kalau tangan mu hancur, pasti akan sakit. Hanya demi seorang laki-laki, apakah menurutmu itu pantas? Katakan, jika kau tidak akan mendekatinya lagi! Katakan jika kau akan melupakannya!" perintah Seungkwan pada Wonwoo.
"Tidak mau!" jawab Wonwoo dengan berani.
"Kau sungguh tidak keberatan jika tidak bisa melukis lagi hanya demi Mingyu?!" teriak Seungkwan.
"Jika tangan kananku tidak bisa melukis, aku masih punya tangan kiri. Kalau tidak ada tangan, aku masih bisa melukis dengan kaki. Tidak ada kaki, aku bisa melukis dengan mulut. Aku akan terus melukis." jawab Wonwoo tanpa memandang Seungkwan.
"Seungkwan-ah..."ujar Chan pelan, berharap Seungkwan tidak benar-benar akan melakukannya.
Tanpa memperdulikan Chan, Seungkwan yang terlanjur naik pitam mendengar ucapan Wonwoo pun segera mengankat batu besar itu dengan kedua tangannya tinggi-tinggi, dan Wonwoo hanya bisa memejamkan matanya dengan erat.
BRAKK!
...
MARS
KiHyun
YAOI
remake dari drama taiwan berjudul 'MARS' dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita
Don't Like, Just Leave!
TYPO EVERYWHERE!
Happy Reading...
...
Mingyu pun tiba di sudut lapangan itu dengan napas yang terengah-engah. Dilihatnya Wonwoo tengah terisak seorang diri sambil memegangi tangan kanannya. Mingyu pun perlahan melangkah menghampiri Wonwoo. Dengan wajah berurai air mata, Wonwoo pun menoleh ke arah Mingyu, membuat Mingyu langsung berjongkok untuk melihat lebih jelas keadaan Wonwoo yang tengah duduk sambil memegangi tangan kanannya dengan batu yang cukup besar didekatnya.
"Kau..."
"Aku tidak apa-apa. Benar tidak apa-apa."potong Wonwoo dengan suara bergetar menahan isakan.
Mingyu pun langsng menarik Wonwoo ke dalam pelukannya dan Wonwoo pun langsung terisak hebat di dada Mingyu sambil terus bergumam, "Aku tidak apa-apa."
Mendengar isakan Wonwoo yang semakin keras, Mingyu pun semakin mengeratkan pelukannya. Mereka bertahan cukup lama dalam posisi itu tanpa menyadari kehadiran Seokmin yang tengah menatap mereka dengan nanar.
...
Ruang kesehatan.
"Yak, Kim Mingyu, apa yang kau lakukan kepadanya? Kenapa dia bisa pingsan?" omel dokter jaga di ruang kesehatan.
Karena shock dan terlalu lama menangis, Wonwoo pun pingsan, dan Mingyu segera membawanya ke ruang kesehatan.
"Mana aku tahu." jawab Mingyu sekenanya.
"Jangan-jangan... kau telah melakukan sesuatu kepadanya?"tuduh sang dokter dengan tatapan menyelidik pada Mingyu.
"Yak, uisa-nim, tolong jangan menuduhku sembarangan! Padahal aku sudah berbaik hati membawanya kesini."ucap Mingyu membela diri.
Sang dokter terlihat masih meragukan ucapan Mingyu, namun Seokmin yang juga berada disana membela Mingyu.
"Dia tidak berbohong, uisa-nim." ucap Seokmin.
"Baiklah." ucap sang uisa-nim yang begitu saja percaya dengan ucapan Seokmin dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Mwo? Yak, uisa-nim! Kau keterlaluan sekali! Kau begitu saja percaya dengan ucapannya, tapi tidak percaya dengan ucapanku! Apa kau tidak terlalu pilih kasih..." ucap Mingyu dengan suara yang semakin pelan di akhir ketika menyadari Wonwoo telah sadar.
Mingyu pun tanpa sadar terus memandangi Wonwoo, dan hal itu membuat Seokmin menghela napas dan memilih meninggalkan ruang kesehatan itu. Mingyu yang menyadari kepergian Seokmin pun langsung mengejarnya.
"Seokmin-ah!"panggil Mingyu.
Seokmin pun menghentikan langkahnya tanpa berbalik, sementara Mingyu dengan perasaan tidak enak karena kejadian barusan, melangkah ragu mendekati Seokmin. Setelah berada di dekat Seokmin, Mingyu malah terdiam, tidak yakin dengan apa yang harus dikatakan kepada Seokmin setelah kejadian tadi. Seakan merasakan kebimbangan Mingyu, Seokmin pun hanya bisa menghela napasnya dengan berat.
"Jika Wonwoo terluka karena kau, aku tidak akan melepaskanmu."
Setelah mengatakan hal itu, Seokmin pun segera melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh kepada Mingyu. Mingyu pun hanya bisa terdiam dan memandang sendu punggung Seokmin yang perlahan menjauh.
...
Club malam.
Seungkwan tengah duduk sendirian dengan kepala terkulai di meja bar setelah menenggak gelasnya yang kesekian. Dia terus meminta sang barista mengisi kembali gelasnya yang telah kosong kerana ia hanya ingin mabuk dan mabuk.
"Anda mau minum apa?"tanya sang barista kepada namja yang baru saja duduk di sebelah Seungkwan.
"Berikan aku segelas whisky."
Mendengar suara yang dikenalnya, Seungkwan pun segera mengangkat kepalanya dan dia mendapati Mingyu tengah menatapnya, membuat Seungkwan segera memalingkan wajahnya.
"Tidak kusangka, ternyata kau tidak tegaan juga."ujar Mingyu memulai percakapan.
"Hanya untuk kali ini. Lain kali, jangan harap."jawab Seungkwan dengan angkuh.
"Baguslah, itu terserah kau. Tapi, aku pasti akan membunuhmu."ujar Mingyu dengan wajah serius dan aura mengintimidasi yang kuat sambil menatap mata Seungkwan lurus-lurus, menandakan keseriusan ucapannya.
"Tch, hanya demi dia, kau akan membunuhku. Jangan menggertakku!"ucap Seungkwan tanpa takut.
" . ."ujar Mingyu sambil memajukan wajahnya dan menekankan setiap kata-katanya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Mingyu pun meminum whiskynya sekali teguk dan segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Seungkwan yang tengah mematung. Melihat betapa menyeramkannya wajah Mingyu, Seungkwan pun tidak bisa tidak menganggap serius ucapan Mingyu. Seungkwan pun kembali meneguk minumannya dengan cepat untuk menutupi rasa takutnya.
Setelah mendapatkan ancaman langsung dari Mingyu, Seungkwan pun tidak ingin berlama-lama lagi disitu dan memutuskan untuk pulang. Saat Seungkwan sedang menunggu bus di halte, Seokmin datang menghampirinya sambil membawakannya air mineral dan duduk disampingnya. Seungkwan pun menoleh, dan saat dia menyadari kehadiran Seokmin disisinya, dia pun mulai terisak.
"Dia bilang, dia akan membunuhku. Mana boleh dia memperlakukanku seperti ini..."ujar Seungkwan sambil terisak.
"Itu karena kau sudah sangat keterlaluan. Mingyu biasanya selalu main-main, kenapa reaksimu sampai seperti itu?"tanya Seokmin.
"Kali ini dia tidak main-main! Aku selalu memperhatikan dia, makanya aku tahu! Aku tidak pernah melihat ekspresi dan pandangan matanya yang begitu lembut. Kadang dia memandang Wonwoo dengan tatapan sendu. Walaupun hanya sesaaat, tapi hatiku rasanya sangat sakit. Kalau membicarakan Jeon Wonwoo, aku langsung emosi! Padahal tangannya sudah akan dihancurkan, tapi yang dia khawatirkan hanya Mingyu. Bahkan dia sama sekali tidak perduli kepada dirinya."ujar Seungkwan panjang lebar, meluapkan semua perasaannya sesak di dadanya.
"Sebenarnya mereka berdua saling menyukai, hanya mereka saja yang belum menyadarinya."ucap Seokmin.
"Aku sudah menyukai Mingyu sejak semester pertama. Sangat suka sekali... makanya aku terus menunggunya, karena aku merasa jika suatu hari nanti dia akan menjadi milikku."
"Bahkan aku sudah menyukai Wonwoo sejak sekolah menengah."ucap Seokmin sambil tersenyum, sedangkan mata Seungkwan membola mendengar ucapannya.
"Tidak adil."ucap Seungkwan.
"Hm, sungguh tidak adil." ujar Seokmin sambil menganggukkan kepalanya, "tapi mau bagaimana lagi?" lanjutnya.
"Aku sangat iri pada Jeon Wonwoo."
"Kau jauh lebih kuat dariku. Aku bahkan tidak punya keberanian untuk mengatakan kepada Mingyu jika aku cemburu. Karena aku tidak berani untuk cemburu, jadi aku hanya bisa memilih menjadi temannya. Menjadi bayangannya."ujar Seokmin.
"Apa kita hanya bisa menjadi bayangan mereka?"tanya Seungkwan retoris.
"Atau menjadi musuh mereka?"timpal Seokmin.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"tanya Seungkwan lagi.
Seokmin hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Seungkwan.
...
Malam harinya, Wonwoo tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, namun kegiatan menulisnya tehenti dan sesaat dia memandangi tangan kanannya yang nyaris hancur. Saat akan melanjutkan kembali kegiatan menulisnya, tiba-tiba terdengar suara deruman motor diluar. Wonwoo pun tersenyum dan segera berlari keluar rumahnya. Melihat Mingyu yang terlihat sangat tampan dengan motor balapnya, Wonwoo pun tersenyum tersipu.
"Aku baru saja pulang kerja, dan memutuskan untuk sekalian datang melihat keadaanmu."ujar Mingyu.
Mereka pun berbincang di luar karena Wonwoo tidak mau mengambil resiko jika eomma nya akan mengusir Mingyu jika dia mengajak Mingyu masuk ke rumahnya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal itu lagi. Bagaimanapun tidak akan kubiarkan. Aku tahu jika aku tidak berguna, tapi untuk hal ini, aku pasti akan menyelesaikannya."ujar Mingyu.
"Jangan menyalahkannya. Dia melakukan hal itu karena dia sangat menyukaimu."bela Wonwoo.
"Tapi apa yang dia lakukan padamu, itu sudah sangat keterlaluan. Mana mungkin itu yang dinamakan cinta."sanggah Mingyu.
"Mantan kekasihku pernah mengatakan jika aku seperti benda langka dan mewah. Jika pergi denganku, akan menarik perhatian banyak orang, makanya dia sangat menyukaiku. Sungguh, dia benar-benar mengatakan seperti itu! Karena aku adalah benda berharga. Maka dari itu, kapan kau pernah melihat benda berharga punya perasaan? Aku hanya perlu berdekatan dengan banyak namja maupun yeoja, baru aku bisa merasakan kebahagiaan, hanya sesederhana itu. Namja bodoh sepertiku hanya ingin merasakan kebahagiaan yang sudah ada saja. Aku tidak perduli dengan cinta dan rasa suka."ucap Mingyu panjang lebar sambil menyeringai.
"Tidak, kau bukan orang yang seperti itu!"ucap Wonwoo dengan tegas, membuat seringai di wajah Mingyu menghilang.
"Aku bisa merasakannya. Kau orang yang membutuhkan banyak cinta. Mungkin merasakan cinta merupakan hal berat bagimu, makanya kau memilih memejamkan mata dan menjalani hidupmu sendiri. Kau terus berganti kekasih hanya untuk menutupi dirimu."jelas Wonwoo.
"Oh, jadi aku orang yang seperti itu."ujar Mingyu sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, lebih baik kau menjauh dariku."lanjut Mingyu.
"Aku pernah mengatakan hal itu kepada diriku sendiri. Bukan sekali aku mengajari diriku sendiri untuk menjauhimu. Takut disakiti olehmu, dan kau tidak mungkin menyukaiku. Tetapi semakin aku berpikir begitu, tanpa kusadari aku semakin dekat denganmu, sampai akhirnya aku tidak bisa meninggalkanmu."ucap Wonwoo sambil menatap langsung tepat di mata Mingyu.
Mendengar penuturan jujur Wonwoo, Mingyu pun langsung mendekat, tangan kanannya menarik kepala Wonwoo mendekat dan dia pun mengecup singkat bibir Wonwoo. Wonwoo hanya bisa membelalakkan matanya mendapati perlakuan Mingyu, sementara Mingyu hanya bisa memandang Wonwoo dengan tatapan lembut.
"A-aku harus masuk, s-sudah sangat larut."ujar Wonwoo dengan terbata.
"A-ah, nde."balas Mingyu canggung, setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
Saat Mingyu akan menjauhkan tangannya dari kepala Wonwoo, rambut Wonwoo tersangkut di gelang yang tengah dikenakan Mingyu, gelang hitam dengan hiasan rantai berwarna putih disekelilingnya.
"Sudah lama dia ikut denganku, dan belum pernah terjadi seperti ini sebelumnya."ujar Mingyu, sementara Wonwoo sibuk melepas rambutnya yang tersangkut.
"Ini jimat pelindungku. Saat mengenakannya, aku dapat bertahan selama empat jam dan memenangkan perlombaan."jelas Mingyu setelah Wonwoo dapat melapaskan rambutnya.
"Bagus sekali."puji Wonwoo sambil melirik gelang Mingyu.
"Untukmu."ucap Mingyu sambil melepaskan gelangnya.
"Untukku? Tapi itu kan jimat pelindungmu."
Mingyu pun mengambil tangan kanan Wonwoo dan langsung memakaikan gelangnya.
"Jimat ini pasti bisa melindungimu."ucap Mingyu sambil tersenyum.
Wonwoo pun menggenggam gelang yang kini tengah melingkar ditangannya sambil menatap Mingyu.
"Baiklah, sekarang, cepat masuk! Aku akan pergi setelah melihatmu masuk."ucap Mingyu lagi.
Wonwoo terus memandangi Mingyu selama beberapa saat, lalu dia segara berbalik, dan berlari memasuki rumahnya, meninggalkan Mingyu yang terdiam memandangi punggungnya yang menghilang dibalik pintu.
Dari kamarnya, Wonwoo segera melihat ke jendela dan memastikan jika Mingyu langsung pulang setelah dia masuk. Setelah melihat motor Mingyu menjauh, Wonwoo pun segera menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai memandangi gelang pemberian Mingyu. Setelah cukup lama memandangi gelang itu, Wonwoo pun menarik selimut dan memejamkan matanya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
...
Kampus.
Wonwoo tengah menunggu Mingyu sambil berjalan mondar-mandir di depan kampus. Sesekali dia tersenyum dengan tersipu mengingat kejadian semalam. Mingyu pun datang dan Wonwoo segera menghampiri Mingyu dengan senyum lebar di wajahnya.
"Pagi."sapa Mingyu dengan singkat yang hanya dibalas Wonwoo dengan senyum manisnya.
"Eum.. itu... yang semalam..." Mingyu tampak ragu meneruskan ucapannya.
"Oh, maksudmu gelang ini? Ini, ku kembalikan saja."ucap Wonwoo yang langsung berniat melepaskan gelang Mingyu dari tangannya.
"Bukan!" potong Mingyu cepat, membuat Wonwoo menghentikan kegiatannya.
"Maksudku, ku harap kau tahu, jika di luar negeri ada kalanya kecupan dianggap sebagai sopan santun. Semacam cara manyapa yang jika dilakukan dengan teman, tidak berarti apa-apa. Jadi itu hanya semacam..."
"Kepura-puraan saja."sambung Wonwoo dengan wajah yang kembali datar, ciri khasnya.
"Benar." jawab Mingyu dengan tidak yakin dan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Jadi, hubungan kita hanyalah..."
"Ya, aku mengerti, dan aku tidak keberatan." potong Wonwoo dengan senyum tipis, sebelum kemudian dia berbalik dan berjalan cepat menuju kelasnya sambil menyeka setetes air mata yang jatuh di pipinya.
Mingyu mematung di tempatnya sambil memandangi punggung Wonwoo yang kian menjauh dengan tatapan sendu yang sarat akan penyesalan. Sebenarnya bukan maksud Mingyu untuk memperlakukan Wonwoo seperti itu, hanya saja dia tidak ingin perasaan pribadinya membuatnya kehilangan sahabat baiknya, Seokmin.
Saat Mingyu tengah menyesali ucapannya terhadap Wonwoo barusan, Seokmin pun muncul dihadapannya dan ikut memandangi punggung Wonwoo, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada Mingyu. Seokmin bisa menduga apa yang tegah terjadi, kemudian dia pun mendekat ke arah Mingyu.
"Sebelum masuk kelas, ada sesuatu yang harus ku jelaskan kepadamu."ujar Seokmin sambil melangkah, membuat Mingyu langsung mengekorinya.
Sementara Wonwoo saat ini tengah berjalan perlahan menuju kelasnya sambil terus menunduk. Saat dirasa ada seseorang yang menghalangi jalannya, dia pun mengangkat wajahnya dan dia mendapati Seungkwan yang tengah menghadangnya. Dengan segenap keberanian, Wonwoo pun menguatkan dirinya untuk membalas tatapan tajam Seungkwan.
...
Seokmin terus berjalan menuju atap, dengan Mingyu yang dengan setia mengekorinya. Sesampainya di atap, Seokmin segera berbalik dan meninju wajah Mingyu dengan telak. Mingyu yang tidak siap pun tidak dapat menghindarinya.
"Pukulan ini menandakan jika aku sudah memutuskan untuk melupakan Wonwoo."ucap Seokmin, membuat Mingyu segera memandangnya.
"Pukulan ini aku tidak akan mempermasahkannya, tapi..."
Seokmin segera mengangkat tangannya meminta Mingyu tidak meneruskan ucapannya.
"Aku takut cintaku akan sia-sia meskipun aku telah merasakannya sejak lama sekali." ucap Seokmin, dan Mingyu hanya bisa menundukkan kepalanya karena dia merasa telah menghaianati sahabatnya ini.
"Meskipun sekarang aku masih menyukainya, tapi aku tahu ini tidak mungkin. Selamanya tidak akan mungkin. Karena yang dia sukai adalah kau." lanjut Seokmin.
Mendengar kalimat terakhir Seokmin, Mingyu pun segera mengangkat kepalanya dan tertawa kecil.
"Kau tahu kepribadianku, tapi kenapa masih mendorongku ke dalam api?" tanya Mingyu.
"Walaupun kau adalah musibah bagi Wonwoo, tapi itu adalah pilihannya."jawab Seokmin tegas, membuat Mingyu tidak dapat berkata-kata lagi.
Seokmin pun tersenyum kecil sebelum kembali berucap.
"Aku paling benci ketika aku sudah sangat jelas kalah, dan mendapat belas kasihan dari lawanku. Jika kau masih menganggapku sebagai sahabatmu, jangan melihatku dengan ekspresi wajah seperti itu. Juga jangan berbicara denganku."
Mingyu hanya bisa memalingkan wajahnya mendengar perkataan Seokmin.
"Kalian ini hanya dua orang bodoh! Tsk, dasar!" ujar Seokmin sambil tersenyum kecil dan pergi meninggalkan Mingyu seorang diri.
"Yak, apa maksudmu?" tanya Mingyu pada Seokmin yang bahkan tidak sedikitpun kembali menoleh kepadanya.
...
"Kau pasti merasa sudah menang, kan?"ucap Seungkwan, yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Wonwoo yang memilih untuk membisu.
"Jangan senang dulu, karena ketika kau menjalin hubungan dengannya, cepat atau lambat pasti akan berakhir."ucap Seungkwan kemudian dia langsung berjalan melewati Wonwoo begitu saja.
Mendengar perkataan Seungkwan, Wonwoo pun segera berbalik.
"Seungkwan-ssi!"panggil Wonwoo, membuat Seungkwan menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Kau benar. Dia tidak mungkin menyukaiku."ucap Wonwoo, yang membuat Seungkwan menoleh kepadanya dan menatapnya dengan sinis.
"Dasar bodoh!" umpat Seungkwan dan dia pun kembali meneruskan langkahnya.
...
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa kau tidak punya niat untuk belajar? Dulu kau masuk sebagai peringkat pertama, tapi sekarang prestasimu menurun drastis, bahkan sampai harus menyontek!" omel Jungsoo kepada Mingyu yang tengah mendengar omelannya dengan malas-malasan.
Pagi ini Mingyu tengah berada diruangan Jungsoo. Dia langsung dipanggil karena peringkatnya yang semakin menurun. Namun Mingyu tidak sedikitpun memperhatikannya, dia malah terlihat sibuk memainkan hiasan meja milik Jungsoo dan hal tersebut membuat Jungsoo sangat berang.
"Kim Mingyu! Aku sedang berbicara kepadamu!"bentak Jungsoo dengan keras.
Mingyu pun terlonjak dan segera duduk dengan tegak.
"Kukira tadi seonsaengnim sedang melantur."ucap Mingyu dengan polosnya.
"Kau tahu, ayahmu sudah berkali-kali memohan kepada pihak kampus untuk tidak mengeluarkanmu. Bahkan dia pun sudah memberikan banyak uang untuk kampus ini."jelas Jungsoo tanpa mengindahkan celetukan kurang ajar Mingyu.
"Kenapa dia masih belum mengerti anaknya? Seonsaengnim, jika aku terus kuliah, aku hanya akan terus membuang-buang uangnya. Tolong nasehati dia, bilang padanya lebih baik dia menyumbangkan uang itu. Sungguh."ujar Mingyu.
Jungsoo pun hanya bisa mendesah pasrah. "Sebenarnya, apakah kau punya impian untuk masa depanmu?"
"Tentu saja aku punya!"jawab Mingyu dengan yakin.
"Baiklah, coba ceritakan padaku!"ujar Jungsoo.
"Hidup seharusnya dikelilingi banyak yeoja sexy dan namja manis. Setiap hari hanya melakukan hal menyenangkan yang kita suka. Oh, dan jangan lupa, usahakan setiap kali harus sampai orgasme." jelas Mingyu dengan menggebu-gebu.
Jungsoo pun menggebrak mejanya dan bangkit dari kursinya.
"Kim Mingyu! Sampai kapan kau akan menghancurkan hidupmu?" bentak Jungsoo, dan Mingyu hanya tersenyum kecil menaggapinya.
...
Setelah keluar dari ruangan Jungsoo, Mingyu pun berjalan sambil menunduk, membuatnya tidak sengaja nyaris menabrak Wonwoo yang juga jalan sambil menunduk. Keduanya pun saling menatap selama beberasa saat, sampai Wonwoo memalingkan wajahnya lebih dulu, dan mereka pun merasa canggung satu sama lain.
"Hari ini kau memakai warna merah, aneh sekali."ucap Mingyu dengan tawa yang terlihat dipaksakan, berusaha mencairkan suasana.
Sebenarnya hari itu Wonwoo terlihat sangat manis dengan sweater merah yang terlihat longgar di tubuhnya, dan jangan lupakan dengan rambut hitam pekatnya, mata dengan tatapan tajamnya, dan bibir merah alaminya. Semua itu terlihat sangat menyilaukan bagi Mingyu, tapi apa yang dipikirkannya dengan apa yang diucapkannya jauh berbeda.
"Oh, aku sudah terlalu terbiasa disebut aneh. Bukan hal baru bagiku." jawab Wonwoo dengan tenang.
Mendengar jawaban Wonwoo, Mingyu pun salah tingkah.
"Oh, hari ini kita tidak ada kelas. Kalau tidak salah, kau tadi dicari oleh Jungsoo seonsaengnim." ucap Wonwoo.
"Hm, hari ini aku bangun kesiangan karena semalam aku menonton film porno sampai hampir pagi." jawab Mingyu sambil tertawa kecil.
"Kenapa kau bangga mengatakan hal seperti itu dihadapan orang lain?"tanya Wonwoo dengan wajah serius.
"Mianhe, aku tarik kembali ucapanku."ucap Mingyu cepat.
"Aku tahu kau sengaja melakukannya. Kau suka sekali menggunakan cara ini untuk melindungi dirimu."sahut Wonwoo.
"Benarkah, aku seperti itu?"tanya Mingyu tanpa mau menatap Wonwoo.
"Kau tidak perlu mencemaskan masalahku dengan Seokmin. Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Tapi, bukan berarti juga aku akan terus mengganggumu. Kau tidak perlu bersikap begitu kasar kepadaku. Kita hanya teman. Karena lukisan, kita mulai menjadi teman."ucap Wonwoo dengan wajah datarnya.
"Aku tidak pernah punya sahabat. Selain Seokmin, kau satu-satunya nama di daftar sahabatku."ujar Mingyu, masih tanpa mau memandang Wonwoo.
"Setelah lukisanku selesai, kita tidak perlu bertemu lagi."ucap Wonwoo dengan tegas sambil memandang Mingyu, yang hanya dijawab Mingyu dengan anggukan kepala.
Wonwoo pun segera meneruskan langkahnya melewati Mingyu. Setelah Wonwoo berjalan melewatinya beberapa langkah, Mingyu pun berbalik dan memanggil Wonwoo.
"Wonwoo-ya!" membuat Wonwoo kembali menoleh.
"Aku mendengar seseorang mengatakan 'kalian bodoh!'"ucap Mingyu sambil tersenyum kecil, sebelum kemudian dia berbalik dan berjalan berlawanan arah dengan Wonwoo yang terlihat bingung.
...
Di kantin.
Wonwoo sedang memandangi makan siang di hadapannya tanpa berniat sedikitpun menyentuhnya. Dari arah pintu masuk, Seokmin melihat Wonwoo yang tengah duduk seorang diri, kemudian dia langsung berbalik hendak keluar dari kantin, namun ditahan oleh Mingyu.
"Hei, kau mau kemana? Tidak makan?"tanya Mingyu.
"Tidak usah."jawab Seokmin singkat.
Mingyu pun melihat ke dalam kantin, dan dia menyadari penyebab Seokmin pergi. Mingyu pun segera menahan Seokmin dan menariknya memasuki kantin.
"Ayo! Kita makan bersama saja."ajak Mingyu.
Mingyu pun menarik Seokmin mendatangi meja Wonwoo.
"Hei, kita makan bersama ya!"ujar Mingyu sambil memaksa Seokmin duduk tepat dihadapan Wonwoo, Seokmin pun hanya bisa pasrah, sementara Wonwoo hanya diam.
Menyadari suasana yang sangat canggung tersebut, Seokmin pun berniat pergi.
"Aku pergi duluan, masih ada urusan yang harus aku selesaikan."ujar Seokmin sambil bangkit dari kursinya.
"Kalian saja yang duduk disini, aku sudah kenyang."ujar Wonwoo sambil ikut berdiri.
Mingyu pun segera berdiri menatap tajam keduanya.
"Ba-baiklah, kita duduk bersama saja."putus Seokmin saat melihat tatapan menyeramkan Mingyu, dan Wonwoo pun malakukan hal yang sama.
Setelah keduanya kembali duduk, Mingyu pun mengambil tasnya.
"Kalian berdua duduk saja disini. Tadi aku lihat ada temanku dusebelah sana, aku akan mengobrol dengan mereka."ujar Mingyu dan langsung melangkah pergi.
Seokmin pun hanya bisa menatap kepergian Mingyu. Mingyu ternyata pergi ke meja yang dipenuhi dengan yeoja-yeoja berpakaian sexy.
"Hai cantik, lama tidak bertemu."sapa Mingyu dengan suara yang sengaja dibuat keras, membuat Wonwoo menoleh kearahnya.
"Halo tampan."sapa para yeoja itu.
"Bolehkah aku duduk bersama kalian?"tanya Mingyu dengan kerlingan nakalnya.
"Tapi sudah tidak ada bangku kosong lagi di meja kami." jawab Tiffany, salah satu primadona kampus dan juga mantan kekasih Mingyu.
"Oh, itu masalahnya. Coba kau bangun dulu."ucap Mingyu pada Tiffany.
Meskipun bingung, tapi Tiffany melakukan apa yang Mingyu pinta. Setelah bangkit dari kursinya, Mingyu pun segera menduduki kursi Tiffany dan dia pun menepuk pahanya. Mengerti maksud Mingyu, Tiffany pun dengan senang hati duduk di pangkuan Mingyu.
Seokmin yang sejak awal memperhatika gerak gerik Mingyu pun dengan ragu melihat ke arah Wonwoo yang juga ternyata sedang melihat ke arah Mingyu.
"Kudengar, setelah kita putus, kau berpacaran dengan namja yang dikenal aneh ya?"tanya Tiffany sambil bersandar manja kepada Mingyu.
"Apakah tubuhku sudah tidak bisa memuaskanmu hingga sekarang kau memilih bermain dengan namja?"tanya Tiffany lagi.
"Terlalu sering makan daging, kadang tidak bagus juga untuk tubuh."jawab Mingyu.
"Benarkah? Tapi aku masih tidak mengerti apa yang kau suka dari namja aneh itu? Apa mungkin dia lebih hebat di atas ranjang?"
Wonwoo yang tidak sanggup mendengar pembicaraan mereka, memilih beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan kantin. Seokmin pun ikut pergi setelah sebelumnya melempar tatapan tajam yang kebetulan terlihat oleh Mingyu.
"Kami bahkan belum pernah bercinta."
"Belum pernah bercinta? Mana mungkin? Ketika kita pacaran, selain bercinta tidak ada hal lain yang kita lakukan."ujar Tiffany lagi, membuat Mingyu tersenyum kecil mendengarnya.
"Apa boleh buat. Karena saat bersamamu, kalau tidak bercinta, waktu ku akan terbuang sia-sia meskipun hanya sedetik."ujar Mingyu dengan santainya.
...
Seokmin memutuskan untuk menyusul Wonwoo dan ikut berjalan disampingnya.
"Yeoja itu yang menawarkan dirinya kepada Mingyu terlebih dulu. Bagi Mingyu, yeoja dan namja yang selama ini dikencaninya tidak memiliki arti apapun."ucap Seokmin.
"Kenapa kau malah membantunya untuk menjelaskan?"tanya Wonwoo.
"Aku hanya tidak mau kau terpengaruh oleh kejadian barusan."jawab Seokmin.
"Tentu saja tidak akan. Toh, aku juga bukan pacarnya."sahut Wonwoo, yang membuat Seokmin menghentikan langkahnya.
"Wonwoo-ya..."panggil Seokmin, dan Wonwoo pun menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Jujurlah kepadaku, kau menyukai Mingyu."ucap Seokmin.
Wonwoo pun hanya menunduk dan berbalik melanjutkan langkahnya. Melihat reaksi Wonwoo, Seokmin pun kembali meneruskan langkahnya, namun kali ini dia berjalan agak dibelakang Wonwoo.
"Saudaraku sangat banyak, dan aku adalah anak sulung. Aku adalah orang sial yang harus selalu mengalah. Sejak kecil, hanya satu hal yang membuatku tidak bisa mengalah, yaitu kau." Ucap Seokmin, dan Wonwoo langsung menghentikan langkahnya tanpa menoleh kepada Seokmin.
"Karena aku percaya aku bisa membahagiakanmu. Tapi kusadari aku salah. Karena kebahagiaan sebenarnya sudah ada di dalam hatimu." lanjut Seokmin, dan Wonwoo masih terdiam mendengarkan setiap ucapan Seokmin tanpa mau menoleh.
"Wonwoo-ya, dengan berani, beritahu aku. Apakah kau menyukai Mingyu?"
Wonwoo pun menoleh dan menatap Seokmin sesaat sebelum menjawab, "Kenapa harus aku mengatakannya?"
Wonwoo pun kembali berbalik dan meneruskan langkahnya.
"Yak! Jangan menghindari pertanyaanku. Wonwoo-ya!" penggil Seokmin kepada Wonwoo yang menjauh.
"Sebenarnya apa maumu, huh?" Wonwoo pun menghentikan langkahnya dan berbalik, dengan sebal Wonwoo menatap Seokmin.
"Aku hanya ingin memberitahumu, jika kau memang tidak menyukai Mingyu, maka aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha terus dan terus. Terus berusaha sampai aku tidak punya tenaga. Aku akan berusaha mengejarmu. Berusaha mencari cara sampai kau mau berjanji akan membiarkanku untuk membahagiakanmu."ucap Seokmin dengan lantangnya.
"Baiklah, aku menyukainya."ujar Wonwoo pelan.
"Siapa yang kau sukai?"cecar Mingyu.
"Aku menyukainya. Aku menyukainya. Aku menyukai Kim Mingyu. Tapi apa bisa?"teriak Wonwoo pada Seokmin.
"Aku menyukainya yang selalu berani. Aku menyukainya saat dia terlihat tidak perduli. Aku menyukainya saat dia mengerti maksud ucapanku. Aku menyukainya!"lanjut Wonwoo sambil terisak, dan Seokmin hanya bisa menunduk mendengarkan.
Meskipun dia yang meminta Wonwoo untuk jujur, namun ternyata mendengarnya secara langsung terasa sangat menyakitkan.
"Tapi rasa suka orang sepertiku terhadapnya, bagaikan menyukai matahari."lanjut Wonwoo lagi sambil terisak semakin keras.
Beruntung saat ini mereka sedang berada dipinggir lapangan yang sepi, jadi Seokmin tidak perlu khawatir dengan isakan Wonwoo. Dengan sengaja dia membiarkan Wonwoo menumpahkan semua perasaan yang selama ini hanya dipendamnya.
Setelah Wonwoo meluapkan semuanya, Seokmin pun tersenyum kecil.
"Kau ini sedang bicara apa? Asal kau tahu, mungkin ini adalah cinta pertama Mingyu."ujar Seokmin.
"Kau tahu kenapa aku memilih untuk menyerah? Karena saat kau dibawa pergi oleh Seungkwan, aku melihatnya menolongmu tanpa berpikir panjang. Sejak aku mengenalnya sampai sekarang, dia tidak pernah berbuat begitu terhadap siapapun."
Penjelasan Seokmin membuat Wonwoo menghentikan tangisnya, dan menatap Seokmin yang kini tengah menatapnya juga.
"Karena kau. Aku bisa melihatnya, dia sudah berubah. Wonwoo-ya, kau yang telah merubahnya. Kau hanya harus percaya diri."lanjut Seokmin lagi.
"Gomawo Seokmin-ah, tapi orang sepertiku..."
"Eitss, dengar! Hal pertama untuk menjadi percaya diri, jangan pernah mengatakan 'orang sepertiku'. Memangnya kau orang yang bagaimana, huh? Kau adalah Jeon Wonwoo, yang pintar, lembut, dan berhati baik."ujar Seokmin sambil tersenyum lebar.
"Oh, kau akan sulit saat berpacaran dengan dia. Tapi jika kau mau, sebagi teman, aku akan membantumu. Aku akan memberitahumu semua trik untuk mengadapinya."lanjut Seokmin dengan senyum lebar yang tidak lepas dari wajah tampannya, membuat Wonwoo merasa tidak enak.
"Seokmin-ah..."
"Fighting!"potong Seokmin sebelum Wonwoo melanjutkan ucapannya, dan dia pun segera melangkah pergi meninggalkan Wonwoo.
...
MIANHE...MIANHE...MIANHE...
*DEEP BOW*
TBC?
