BAD BOY'S TRAP

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Crime

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

You've got to fortify my love, you should be mine...

.

.


Jadi, ini adalah yang kedua kalinya Donghae di jebak oleh berandalan berambut pirang itu. Donghae menghela nafas panjang, ia sempat lupa bernafas ketika melihat ada seorang laki-laki hampir bertelanjang dihadapannya. Ini aneh, kenapa darah Donghae berdesir saat melihat seseorang dengan jenis kelamin sama dengannya hampir telanjang? Sungguh, ini tidak wajar dan tidak normal. Donghae memejamkan matanya sejenak, sekali lagi ia mengambil nafas, lalu membuka matanya dengan perlahan.

"Jadi, kau bukan saksi dari pembunuhan CEO pusat perbelanjaan itu?"

Yang di tanya hanya mengangkat bahu, ia duduk di sofa dengan kaki yang disilangkan, mempertontonkan pemandangan yang lebih mengundang. Donghae yakin, si pirang itu sengaja duduk dengan sedemikian rupa agar Donghae tergoda. Tergoda? Jangan melucu! Donghae tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Donghae masih cukup waras untuk tidak melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya.

"Aku hanya menelepon dan bilang, aku butuh perlindungan. Dan tiba-tiba, seseorang yang mengangkat teleponku mengoceh soal saksi. Apa yang bisa aku lakukan? Hanya bisa bilang iya dan iya. Sebenarnya aku memang butuh perlindungan."

"Jangan main-main."

"Aku butuh perlindungan dari laki-laki tampan sepertimu. Dan butuh di belai, mungkin? Oke, oke, aku akan berhenti main-main. Aku memang bukan saksi, tapi aku kenal dengan Choi Siwon. Aku tidak tahu sebab kematiannya, tapi dia pernah meneleponku tepat sehari sebelum kematiannya."

"Katakan, apa yang ketahui soal Choi Siwon?"

"Akan aku beritahu setelah kau menusukan penismu dilubangku."

Rahang Donghae mengencang, ia memejamkan matanya sekali lagi. Sungguh, kali ini Donghae sangat marah! Berandalan sialan itu sudah sangat keterlaluan! Sudah berbohong, sekarang dia bicara hal kotor. Donghae melangkah mendekati berandalan itu dan mencengkram lengan kurusnya.

"Dengar ya, kantor polisi bukan tempat untuk main-main. Sekali lagi kau melakukan hal ini, aku tidak akan memaafkanmu!"

"Kalau begitu angkat panggilan teleponku. Oh, jangan panggil aku berandalan atau yang lain. Panggil namaku, seperti saat kau klimaks waktu itu. Eunhyuk—ah, aku akan sampai—oh—ah—please. Seperti itu."

Eunhyuk—atau terserah siapa namanya—mendorong Donghae ke sofa, ia duduk dipangkuan Donghae dan jemari lentiknya mulai menggerayangi wajah tampan Donghae.

"Kau akan di tuntut karena hal ini."

"Oh, kau lupa? Orangtuaku bisa melakukan apapun untuk membuatku tidak di tahan. Aku benci mengatakan hal ini, tapi aku ini putra seorang konglomerat. Kau pikir, kenapa waktu kau menangkapku dulu, ada orang yang datang untuk menandatangani surat jaminan? Meskipun aku sudah duapuluh sembilan tahun."

"kenapa?"

"Itu karena, ayahku tidak mau repot menghadapi berita simpang siur soal putra kesayangannya."

Jadi, yang datang waktu itu bukan orangtuanya? Dan apa katanya? Dia anak konglomerat? Di dunia ini, anak konglomerat adalah yang paling Donghae benci. Apa lagi? Selain sombong dan sok berkuasa, otak mereka juga kosong dan hanya tahu cara menghabiskan uang orangtuanya. Hanya tahu cara memerintah orang, tapi tidak tahu cara melakukannya sendiri. Begitulah para orang kaya bersikap. Memuakan.

"Turun! Sebelum aku melakukan hal yang kasar, sebaiknya kau turun."

Tentu saja Eunhyuk tidak langsung menuruti perintah Donghae, ia malah menggoyangkan pinggulnya dengan sengaja untuk membangunkan sesuatu di bawah sana yang sedang terjepit. Sesuatu yang pernah membuatnya menjerit dan mengemis demi kenikmatan.

"Jadi, kau tidak mau tahu soal Choi Siwon?"

Donghae menghela nafas panjang, ia mulai lelah dengan permainan Eunhyuk, dan sesuatu di bawah sana mulai bereaksi karena Eunhyuk tidak berhenti menggoyangkan pinggulnya. Oh, dan jangan lupakan jemari nakalnya yang mulai menggerayangi dada Donghae. Double fuck!

"Turun!"

"Tidak mau."

Eunhyuk mendesah di telinga Donghae, dengan berani ia menghembuskan nafas di sana dan menggigitnya dengan sensual. Tanpa sengaja, Donghae melenguh dan mulai memejamkan matanya. Gesekan di bawah sana semakin membuatnya terlena. Hell, terlena? Donghae membuka matanya, ia menghentikan Eunhyuk yang mengigiti telinganya.

"Dengar, aku ini laki-laki normal. Jadi, jangan ganggu aku lagi dan carilah laki-laki lain untuk main-main. Keteranganmu soal Choi Siwon bisa kau berikan di kantor. Jangan meneleponku dan jangan mencariku lagi."

Bukannya sakit hati, Eunhyuk malah merasa lebih tertantang untuk mendapatkan si homofobik itu. Selama ini, Eunhyuk selalu mendapatkan semua laki-laki yang ia inginkan. Dan Donghae adalah laki-laki pertama yang menolaknya, bahkan setelah merasakan jepitan lubangnya.

"Aku akan membuatmu tergila-gila padaku, tampan."

"Kalau begitu, bermimpilah terus."

Eunhyuk diam saja ketika Donghae mendorongnya, ia malah duduk dengan tenang dan memperhatikan punggung Donghae. Katakan Eunhyuk gatal, karena pada kenyataannya Donghae lah yang membuatnya gatal.

"Kau munafik sampai akhir. Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kalau kau butuh aku—ah, maksudku lubangku. Kau tahu harus datang kemana, tampan."

Kata-kata Eunhyuk membuat Donghae bergidik, ngeri. Ingin sekali rasanya menyumpal mulut Eunhyuk agar berhenti mengucapkan kalimat kotor.

Gay, sialan!

.

.


"Yo! Jadi, apa yang kau dapat dari saksi itu?"

Godaan.

Donghae memincingkan matanya, ia kemudian memukul kepala Yunho untuk melampiaskan kekesalannya. Kalau saja Yunho mau ikut dengannya tadi, pasti ia tidak akan mengalami hal buruk yang pastinya nanti menjadi mimpi buruk!

"Saksi? Saksi pantatku! Dia Eunhyuk! Si berandalan yang sering kau tangkap!"

"Jadi, dia si berandalan itu? Dan—dan dia berbohong soal perlindungan saksi itu? Dia benar-benar harus di beri pelajaran!"

"Sebenarnya, dia tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang bukan saksi, tapi dia kenal dengan Choi Siwon. Oh, dia juga bilang, Choi Siwon menelponnya sehari sebelum dia meninggal."

Alis Yunho bertaut, ia tidak mengerti dengan ocehan Donghae. Apa otaknya bergeser? Atau bagaimana? Apa masuk akal, seorang berandal seperti Eunhyuk mengenal dekat seorang CEO muda sukses seperti Choi Siwon?

"Jangan menatapku begitu. Dia memang berandalan, tapi sebenarnya dia anak konglomerat. Mungkin itu sebabnya dia mengenal Choi Siwon. Oh, bagaimana hasil mengintaimu?"

"Ah, benar! Pengintaian. Saat aku sedang mengintai rumah supir pribadi Choi Siwon, aku melihat seseorang datang. Setelah diselidiki oleh Yoochun, ternyata dia mantan pacar Choi Siwon. Menurutku, itu aneh. Untuk apa seorang mantan pacar datang ke rumah supir? Dan lagi, supir itu sudah berhenti sebulan sebelum Choi Siwon di bunuh."

Kasus pertamanya ini benar-benar membuat Donghae sakit kepala! Alasan kenapa Donghae sangat membenci kasus yang berkaitan dengan konglomerat. Selain terlalu banyak yang terlibat, terlalu banyak uang yang ikut campur, sehingga kasus menjadi sangat rumit dan sulit di ungkap.

"Kenapa supir itu berhenti?"

"Tidak ada alasan yang jelas, kabarnya dia akan pindah bersama istrinya ke Busan. Hm, ngomong-ngomong, bisa kita bicarakan hal lain dulu?"

"Misalnya?"

"Selangkanganmu."

Sebenarnya Yunho tidak mau membahas soal itu, tapi matanya secara otomatis memperhatian sesuatu di selangkangan Donghae. Dan jujur saja, itu sangat menganggu. Pikiran Yunho jadi tidak fokus karena matanya sibuk memperhatikan selangkangan Donghae, dan penasaran apa yang telah membuat selangkangan Donghae jadi aneh? Karena belum dapat jawaban, pikiran Yunho malah berkeliaran kemana-mana.

"M—maksudmu?"

"Apa berandalan itu melakukan sesuatu padamu? Kenapa punyamu tegang?"

Donghae buru-buru menutupi selangkangannya dengan map yang ada di mejanya. Sialan! Donghae bahkan tidak sadar, si berandalan itu membuatnya setegang itu.

"I—itu—bukan urusanmu!"

"Perlu bantuan?"

"Dasar bresengek!"

Sial! Harga dirinya jatuh dua kali di depan Yunho. Donghae melangkah ke toilet sambil menggerutu dan memaki dalam hati. Bagaimana bisa miliknya tegang begitu saja? Apa-apaan? Hanya di goda seperti itu, dan dia tegang? Tubuhnya pasti sudah gila! Kalau tidak, mana mungkin dia bereaksi di luar kontrol?

Dan Donghae kini duduk melamun di dalam bilik toilet, memandangi miliknya yang tegang. Donghae ingin menyentuhnya, tapi terlebih dulu ia membayangkan dada perempuan atau erangan perempuan di dalam film porno yang pernah ia tonton. Sayangnya, imajinasinya soal perempuan tidak berhasil. Donghae justru membayangkan bagaimana cara Eunhyuk berdiri, dengan celana pendek ketatnya dan tubuh atasnya yang telanjang, Donghae ingin sekali—

"Aku pasti sudah gila! Tidak, bukan aku yang gila. Kau yang gila! Kenapa tegang tanpa seijinku?"

Donghae menunjuk miliknya dengan frustasi, mengomelinya seolah dia bisa mendengar atau mengerti ucapan Donghae. Ia tidak mau memikirkan Eunhyuk sebagai objek pemuas hasratnya, tapi yang terbayang-bayang di kepalanya jutru erangan dan desahan Eunhyuk saat memanggil namanya. Kulitnya putih mulus, bibirnya merekah sexy, desahannya menggoda, dan jepitan lubangnya—ugh! Luar biasa.

"Ah, sialan!"

Mulutnya terus memaki, tapi tangannya sudah bergerak memanja miliknya yang tegang. Pikirannya terus memutar bayangan Eunhyuk yang meliuk dan bergoyang sexy di atas tubuhnya, dan jangan lupakan bagian lenguhan dan erangannya.

"Ah!"

Dan keluar.

Sepanjang sejarah, itu adalah klimaksnya yang tercepat. Hanya dengan membayangkan tubuh mulus Eunhyuk, Donghae bisa keluar secepat itu. Biasanya, Donghae membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menuntaskan hasratnya. Tapi dengan bantuan tubuh mulus Eunhyuk, ia bisa keluar kurang dari limabelas menit.

"Tuntas?"

Donghae tersentak mendengar suara Yunho, ia buru-buru merapikan celananya, lalu membersihkan tangannya yang berlumuran cairan putih dengan tissue toilet. Ah, Jung sialan itu selalu saja ingin tahu urusan orang.

"Wah, lihat siapa yang baru saja menuntaskan hasratnya. Siapa yang kau bayangkan? Berandalan itu? Sudah aku bilang! Jangan munafik, bung! Lihat, kau ketagihan dengan jepitan lubangnya. Ah, si brengsek ini selalu saja meledekku dan menganggap hubunganku dengan Jaejoong aneh. Tapi lihat dia sekarang, beronani sambil memikirkan laki-laki."

Baiklah, harga diri Donghae sebagai laki-laki straight memang sudah habis. Tidak ada lagi yang tersisa, Yunho sudah menginjak-injaknya sampai musnah. Tapi bukan berarti Donghae akan diam saja mendengar ocehan Yunho, dengan senang hati ia menendang tulang kering Yunho. Membuatnya menjerit dan memaki Donghae yang melanggang pergi dari toilet.

"Kau—kau dasar kaki pendek sialan! Hei, kemari kau!"

Kepala Donghae panas sekali! Ingin marah, tapi perkataan Yunho memang benar semua. Sepertinya Donghae mulai belok, bagaimana bisa ia keluar begitu saja hanya karena memikirkan tubuh si berandalan itu? Donghae bahkan berfantasi yang tidak-tidak dengan tubuh yang mulus itu.

"Hai, tampan."

Panggilan itu lagi!

Oke, Donghae semakin yakin ia harus pergi ke rumah sakit jiwa. Karena, shit! Selain berimajinasi dengan tubuhnya, Donghae sekarang bisa mendengar panggilannya. Donghae terus melangkah, ia memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit tidak jelas, berharap suara itu segera hilang.

"Lee Donghae!"

Dan sekarang, Donghae mulai berhalusinasi dia—dia ada di sini? Donghae membelalakan matanya begitu berbalik, dan mendapati Eunhyuk tersenyum padanya.

Mimpi buruk.

"Mau tanya kenapa aku datang? Kau sendiri yang bilang, aku harus memberi keterangan di kantor polisi. Jadi, aku datang kemari."

Kalau bukan demi kasus yang sedang ia tangani sekarang, Donghae mungkin sudah memaki dan mengusir Eunhyuk. Si pirang itu bagaikan mimpi buruk di siang bolong, selalu ada dimanapun!

"Duduklah."

"Dimana? Di pangkuanmu?"

Hell, semua orang yang ada di ruangan itu langsung memandang ke arah Donghae dan Eunhyuk. Tidak bisakah Eunhyuk mengontrol cara bicaranya? Ini bahkan di kantor polisi.

"Di kursi."

Well, sebenarnya tatapan semua orang memang sudah tertuju pada Eunhyuk sejak mereka masuk. Kenapa? Karena pakaian Eunhyuk sangat tidak normal! Donghae tahu ini musim panas, tapi apakah harus dia memakai sweater putih tembus pandang dan rip jeans yang robeknya sampai ke paha? Donghae bahkan bisa melihat dengan jelas, betapa mulusnya kulit paha Eunhyuk. Shit! Memikirkan yang aneh-aneh lagi!

"Lain kali, berpakaian lah yang layak saat kau datang ke kantor polisi."

Eunhyuk tampak tidak peduli dengan tatapan semua orang, ia juga mengabaikan saran Donghae untuk berpakaian layak. Memangnya kenapa? Ini gaya Eunhyuk, dan Eunhyuk suka bergaya seperti ini. Tetap kelihatan laki-laki, namun sexy dan menggoda.

"Jadi, bagaimana bisa kau mengenal Choi Siwon? Apa yang dia katakan saat meneleponmu?"

"Kami saudara sepupu. Hm, ibunya adalah adik ayahku. Saat di telepon, dia hanya menyuruhku untuk datang ke perusahaan dan mulai bekerja. Katanya, aku sudah duapuluh sembilan tahun, sudah saatnya aku berhenti main-main dan mulai bekerja di perusahaan."

"Nada suaranya bagaimana?"

"Siwon selalu bicara dengan sangat berwibawa, tapi waktu itu suaranya terdengar lesu. Aku pikir, itu hanya karena dia kelelahan bekerja."

Donghae mengangguk paham. Wah, untuk sementara ini Eunhyuk sangat kooperatif. Dia bahkan memberikan keterangan dengan jelas dan tidak berbelit-belit. Oke, cukup kagumnya. Masih banyak pertanyaan yang mengantre.

"Apa dia punya musuh? Atau orang yang mendendam padanya, mungkin?"

"Jangan bercanda! Chaebol seperti kami, tentu musuhnya sangat banyak. Bahkan paman dan bibi kami sendiri adalah musuh. Itu sebabnya, aku memilih keluar dari rumah dan tidak ingin terlibat dengan saham atau apapun itu. Aku tidak mau punya urusan dengan mereka. Asal kau tahu, berurusan dengan mereka bahkan jauh lebih berbahaya dari pada berurusan dengan preman di jalanan."

Sudah jelas bukan? Alasan kenapa Donghae sangat membenci kasus yang berkaitan dengan konglomerat. Donghae tidak bisa mencurigai satu atau dua orang saja, ia harus mencurigai semua orang yang ada di perusahaan, yang berkaitan dengan korban, bahkan keluarga korban sendiri.

"Dia punya kekasih?"

"Punya, Kim Heechul."

"Kim Heechul? Sekretaris pribadinya?"

"Ya. Sebenarnya, hubungan mereka belum terlalu lama. Mungkin baru dua bulan, karena setahuku dulu Siwon berpacaran dengan Kim Kibum. Mereka berpisah setelah bertengkar hebat. Saat itu Kibum menamparnya dan memakinya, tapi aku tidak tahu sebab kenapa mereka bertengkar."

"Kau melihat langsung pertengkaran mereka?"

"Tentu saja! Mereka bertengkar setelah bercinta di bar tempatku bekerja."

Donghae bergidik, ia masih saja terkejut dengan kata-kata bercinta. Sejujurnya, Donghae masih sangat risih dengan hubungan antara sesama jenis. Membayangkan mereka bercinta, mengingatkan Donghae ketika ia dan Eunhyuk bercin—sialan! Otak sialan! Kenapa malah menjurus kesana lagi?

"Tapi setelah itu Kibum menghilang. Dia masih ada di Korea, tapi tidak pernah datang ke perusahaan lagi atau menampakan diri di depan Siwon."

"Terima kasih atas keterangannya."

"Aku tidak bisa di bayar dengan terima kasih. Kau pasti tidak mau melakukan sex denganku, jadi datang saja ke bar tempatku bekerja nanti malam. Oke?"

Lagi-lagi pandangan semua orang tertuju pada mereka. Eunhyuk ini benar-benar suka sekali berkata vulgar! Donghae buru-buru menyeretnya keluar, sebelum dia mengatakan hal-hal yang lebih vulgar lagi, dan semua orang akan memberikan embel-embel gay padanya. Jangan sampai! Membayangkan dirinya di panggil gay saja, sudah membuat Donghae merinding.

"Hati-hati, kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku. Hubungi kalau ada hal darurat saja! Aku tidak akan mengangkat teleponmu selamanya, kalau kau hanya bermain-main. Mengerti?"

"Aku bukan anak kecil! Datanglah nanti malam ke bar tempatku bekerja. Itu imbalan yang harus aku dapatkan karena telah memberimu keterangan."

Donghae tidak menjawab ia kembali masuk ke dalam, mengacuhkan Eunhyuk yang kini sudah kembali masuk ke dalam mobilnya.

Aneh...

.

.


Suara dentum musik langsung menyapa telinga Donghae, ia menutup telinganya dengan risih begitu dentum musik semakin menghentak. Jujur saja, seumur hidup Donghae tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Selama hidup duapuluh sembilan tahun, ia hanya menghabiskan waktunya dengan belajar atau bermain game saja. Ah, kenapa hidupnya begitu membosankan?

"Hai, kau datang? Wah, kau laki-laki sejati! Aku suka laki-laki yang menepati janjinya."

Bukan kata-kata itu yang Donghae harapkan! Donghae tidak berharap disukai olehnya, ia justru merasa geli ketika ada laki-laki yang terang-terangan mengaku suka padanya. Sebenarnya Donghae juga tidak tahu, kenapa ia datang kemari? Sekali lagi, tubuhnya bergerak di luar kontrol. Sekali lagi, otak dan tubuhnya berjalan tidak sinkron.

"Kenapa banyak sesama laki-laki yang—hm, berci—uman?"

"Oh, ini bar khusus untuk gay."

Double shit! Donghae datang ke tempat yang salah. Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat keadaan disekitarnya. Dan benar saja, sejauh mata memandang hanya ada pemandangan sesama laki-laki yang saling menyentuh. Rasanya kepala Donghae langsung pening.

"Sepertinya aku datang ke tempat yang salah. Aku permisi."

"Aku tahu reaksimu akan seperti ini. Ikut aku, kita akan mengobrol di tempat yang sepi dan jauh dari pemandangan yang tidak kau sukai ini."

Awalnya Donghae menolak, ia berdiri mematung dan tidak mau mengikuti Eunhyuk. Sampai akhirnya, Eunhyuk menyeretnya, dan sampai lah mereka di salah satu kamar yang biasa di pesan pelanggan. Pelanggan yang tidak bisa menahan hasratnya lagi.

"Kau mau minum?"

"Jus jeruk saja."

"Anak kecil!"

Donghae tidak peduli dengan olokan Eunhyuk, wibawanya jauh lebih penting dari pada gengsinya. Sebenarnya Donghae tidak bisa minum alkohol, toleransinya terhadap alkhol sangat buruk! Kalau sampai ia minum, maka akan keluar semua keanehannya. Kalau sampai itu terjadi, maka habislah harga diri Donghae.

"Minumlah. Jangan takut, aku tidak mencampurkan apapun."

Mata Donghae melirik Eunhyuk sekilas, memperhatikan cara berpakaiannya malam ini. Dia menggunakan kemeja putih ketat dan celana bahan hitam, dipinggangnya melingkar sebuah apron. Boleh jujur? Dia kelihatan sangat—hm, lumayan keren. Seperti tokoh laki-laki yang ada di komik.

"Aku datang karena aku pikir kau mau menyampaikan sesuatu."

"Jangan bohong! Kau penasaran bagaimana aku bekerja, benarkan?"

"Percaya diri sekali!"

"Memang begitu kenyataannya."

Hening. Tidak ada obrolan, baik Donghae maupun Eunhyuk sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka kehabisan topik pembicaraan, tidak tahu apa lagi yang mau di bahas.

"Kau—hm, maaf kalau membuatmu tersinggung."

"Apa? Katakan."

"Sudah berapa kali di sentuh orang?"

Bodoh! Donghae merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bertanya begitu? Memangnya dia siapa? Mulutnya benar-benar kurang ajar!

"Hm, sering. Jangan terkejut begitu! Sering di sentuh, bukan berarti sering melakukan sex. Biasanya hanya sekedar making out, saling menghisap, tidak sampai ke intinya. Kalau sampai ke tahap inti, sangat jarang. Aku tipe pemilih."

"Oh."

Hening lagi, Donghae sibuk mencari pertanyaan. Lagi pula ini aneh, Eunhyuk yang biasa banyak bicara dan blak-blakan, kenapa tiba-tiba jadi pendiam? Membuat Donghae canggung saja.

"Pernah menyukai perempuan?"

"Hm? Tidak pernah. Sejak masuk sekolah aku selalu lebih tertarik pada tonjolan laki-laki. Kau tahu? Lebih membuatku bergairah."

Salah pertanyaan! Bulu kuduk Donghae berdiri setelah mendengar jawaban Eunhyuk. Ya Tuhan, dia jujur sekali.

"Oh, iya. Temukan pembunuh Siwon, dan hukum dia seberat mungkin! Sejak kecil aku tidak punya teman karena mereka tahu aku berbeda. Temanku hanya Siwon, dia menerimaku apa adanya dan memperlakukanku dengan sangat baik. Meskipun kami seumuran, dia selalu seperti kakak untukku. Saat tahu dia di bunuh, aku sangat sedih dan marah. Jadi, temukan pembunuhnya."

"Tentu, sudah tugas kami."

Satu hal yang membuat Donghae sedikit terenyuh, sorot mata Eunhyuk sangat menderita dan redup saat membicarakan Siwon. Dia terlihat sangat rapuh dan kesepian. Raut wajah ini, pertama kalinya Donghae melihat. Biasanya, dia memasang wajah genit sepanjang hari. Donghae malah sempat berpikir, Eunhyuk tidak punya ekspresi lain, selain genit.

"Sudah terlalu malam, aku harus kembali ke kantor. Terima kasih minumannya."

"Terima kasih juga sudah menepati janjimu dan menemaniku mengobrol."

"Hm."

"Lain kali, aku akan mendapatkan penismu dilubangku."

Dang it! Dia mulai lagi. Donghae berlari kecil menuju mobilnya, ia tidak mau berbalik dan melihat wajah genit Eunhyuk.

.

.


ooODEOoo


Malam ini sungguh malam yang tidak bisa Eunhyuk lupakan, ia bertemu dengan pujaan hatinya dan bahkan mereka juga mengobrol. Ini pertama kalinya Eunhyuk bicara dengan seseorang tanpa embel-embel sex, dan jantungnya tidak bisa berhenti berdegup. Sangat menyenangkan bisa bicara dengan Donghae, meskipun dia tetap terlihat risih dan canggung. Tidak apa-apa, untuk yang satu itu Eunhyuk akan mencoba sabar. Perlahan, tapi pasti.

"Eunhyuk-ssi?"

"Ya?"

"Kau dapat kiriman surat."

"Oh, terima kasih ahjussi."

Oh, ini pertama kalinya Eunhyuk mendapat surat. Bahkan setelah pergi dari rumah utama di Songdo, Eunhyuk tidak pernah menerima surat. Mungkinkah dari ibunya? Karena ibunya sudah beberapa hari ini tidak datang ke apartemennya. Tapi untuk apa kirim-kirim surat di jaman secanggih ini? Ibunya bahkan punya smartphone, dia hanya perlu mengirim pesan atau menelepon seperti biasanya kalau memang ada apa-apa.

"Oh, shit!"

Ancaman, itu surat ancaman. Eunhyuk melipat kembali surat itu, ia mengeluarkan ponselnya dari saku belakang dan langsung menghubungi Donghae.

"Ada apa?"

"Aku menerima surat ancaman?"

"Apa?"

"Katanya, kalau sekali lagi aku datang ke kantor polisi, maka aku akan menyusul Siwon."

"Kau dimana sekarang?"

"Rumah."

"Tunggu di sana, jangan kemana-mana!"

Setelah itu sambungan telepon terputus. Eunhyuk mengerutkan keningnya, ada apa dengan Donghae? Kenapa dia terdengar sangat panik? Eunhyuk bakan tidak merasa ketakutan sama sekali, tapi Donghae bertingkah seolah-olah Eunhyuk ketakutan. Dia sangat berlebihan. Eunhyuk hanya menuruti perintahnya, agar memberi kabar bila sesuatu terjadi. Dan tunggu, dia akan datang ke apartemen Eunhyuk? Sekarang? Bahkan ini sudah pukul tiga pagi. Dia pasti sudah gila.

"Eunhyuk! Buka pintunya!"

Oh ya Tuhan! Eunhyuk hampir saja tersedak, ia sedang minum dan tiba-tiba seseorang berteriak dan menggedor pintu apartemennya dengan brutal. Hei, di depan ada bel! Untuk apa teriak-teriak? Cukup tekan bel dengan tenang, dan Eunhyuk akan membukakan pintunya.

"Kau mau merobohkan pintunya?"

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau berlebihan! Aku hanya menerima surat ancaman."

"Baguslah."

"Apanya yang bagus?"

Donghae tidak menjawab, ia merebut kaleng minuman dari tangan Eunhyuk lalu meneguknya sampai habis. Dia bahkan duduk di sofa tanpa permisi.

"Kau berlari?"

"Hm. Aku takut sesuatu terjadi padamu."

"Aku tidak apa-apa."

"Aku pernah kehilangan nyawa saksi saat jabatanku belum setinggi sekarang."

"Itu sebabnya kau panik?"

"Hm."

"Tapi aku baik-baik saja."

Dalam hati Eunhyuk sangat girang, ia merasa tersentuh hanya karena Donghae mencemaskannya. Padahal, Eunhyuk sendiri tahu Donghae melakukan semua itu karena tugasnya memang begitu. Tapi tetap saja, Eunhyuk tidak bisa memungkiri rasa senangnya.

"Tunjukan suratnya."

Eunhyuk menyerahan surat dengan amplop merah itu ke tangan Donghae. Surat ancaman yang aneh, mana ada surat ancaman bermplop merah cantik seperti itu. Mungkinkah pelakunya seorang perempuan? Tapi, Siwon tidak banyak kenalan perempuan. Jadi, tidak mungkin.

"Dimana kau menemukan surat ini?"

"Ahjussi penjaga keamanan di bawah. Aku sudah bertanya soal pengirim surat ini, tapi ahjussi tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dia memakai topi dan masker. Oh, yang jelas dia laki-laki."

"Sepertinya pelaku tahu kau datang ke kantor polisi, sebaiknya kau berhati-hati. Usahakan jangan pulang malam."

Eunhyuk berdecak, "dasar orang aneh! Mana bisa aku tidak pulang malam? Aku bekerja di malam hari."

Ah, benar. Eunhyuk bekerja malam hari dan pulang dini hari. Tapi bagaimanapun, pelaku sedang mengintai Eunhyuk, ada kemungkinan dia juga akan menyerang Eunhyuk suatu saat.

"Kau laki-laki, tentu kau tahu cara membela diri. Benarkan?"

"Aku hanya tahu bertarung di ranjang!"

"Kau tidak bisa bela diri?"

"Jangan tanya!"

"Laki-laki macam apa yang tidak bisa bela diri?"

"Laki-laki macam aku!"

Akhirnya Donghae diam, ia tidak bisa berdebat dengan Eunhyuk. Dia cerwet sekali. Kalau di lawan, kata-katanya semakin vulgar. Dan Donghae, masih sangat risih—bahkan cenderung alergi—saat mendengar Eunhyuk berakata-kata vulgar. Rasanya aneh sekali, mendengar seorang laki-laki berkata-kata vulgar padanya.

"Seharusnya kau bilang saat di telepon tadi, kalau kau baik-baik saja. Jadi, aku tidak perlu repot-repot datang kemari."

"Tadi, siapa yang menutup telepon duluan? Aku bahkan belum menjelaskan apa-apa, dan kau memutus sambungan teleponnya."

Oke, itu memang salah Donghae. Dari dulu penyakitnya tetap sama, mudah panik. Tidak heran, Yunho selalu mengomelinya saat mereka masih menjadi polisi baru dulu.

"Itu—karena—aku takut ada bahaya."

"Apa susahnya jujur? Bilang saja kau cemas padaku."

Eunhyuk berdecih, lalu melenggang pergi meninggalkan Donghae di sofa. Tak lama Eunhyuk kembali lagi, dengan sebuah t-shirt dan celana pendek longgar yang terlihat nyaman.

"Menginap lah malam ini, bahaya menyetir dini hari begini. Ganti bajumu dengan yang lebih nyaman, musim panas begini kenapa kau pakai jaket setebal itu?"

"Aku—"

"Aku tidak akan macam-macam. Meskipun, aku sangat menginginkannya."

Sebenarnya, Donghae ingin menolak ajakan Eunhyuk. Karena jujur saja, ia takut Eunhyuk akan menggodanya lagi. Tapi, ini sudah jam tiga lewat tigapuluh menit, matanya juga sudah sangat berat. Akan bahaya baginya jika memaksakan pulang, dan berkendara dalam keadaan mengantuk. Jadi, Donghae—terpaksa—menerima ajakan Eunhyuk.

"Aku akan tidur di sofa, maaf merepotkanmu."

"Hm."

Setelah bergumam tidak jelas, Eunhyuk kembali meninggalkan Donghae. Sepertinya dia masuk ke kamar mandi dan—mandi mungkin? Terserah, Donghae tidak peduli dan tidak mau tahu.

"Lebih baik tidur."

Donghae mencoba memejamkan matanya, namun telinganya justru menangkap suara gemerisik air. Tiba-tiba saja, imajinasi menjadi liar. Donghae membayangkan tubuh putih mulus Eunhyuk, di guyur air dan menyebabkan seluruh tubuhnya basah...basah...sangat basah...heck! Apa-apaan tadi itu? Lupakan!

"Ah!"

Mata Donghae mengerjap, ia yakin baru saja mendengar desahan Eunhyuk. Desahan? Untuk apa dia mendesah di kamar mandi? Dengan keberanian yang seadanya, Donghae menghampiri kamar mandi, lalu mengetuk pintunya. Donghae berusaha tidak berpikir yang macam-macam, tapi suara desahan Eunhyuk yang semakin kencang malah membuatnya merinding dan membuat imajinasinya semakin liar.

"K—kau tidak apa-apa?"

"Ah—ngh—Donghae, please!"

Mata Donghae mendelik, ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Desahan Eunhyuk yang memanggil namanya, membuat selangkangannya—agak—geli. Entah keberanian dari mana, Donghae mencengkram kenop pintu dan mulai mendorongnya ke dalam.

Wow, tidak terkunci.

"Eunhyuk?"

Begitu masuk, Donghae langsung disuguhi dengan pemandangan tubuh telanjang Eunhyuk yang sedang duduk mengangkang di closet. Tangannya sibuk memanja miliknya yang—mungkin—hampir sama besar dengannya, dan mulutnya terbuka lebar, menyuarakan kenikmatannya. Donghae ingin keluar, tapi kakinya seperti terpaku dan matanya tidak bisa berkedip melihat Eunhyuk sedang menyentuh dirinya sendiri.

What the hell, selangkanganku.

"Bantu aku!"

"Huh?"

Meski memasang tampang bingung, Donghae tetap melangkah mendekati Eunhyuk. Ia bahkan berjongkok dihadapan Eunhyuk dan mengambil alih pekerjaan Eunhyuk. Instingnya bekerja cepat, ia bahkan menyentuh puncak dada Eunhyuk dengan sebelah tangannya. Sementara tangan kanan bekerja di bawah, tangan kirinya bekerja di atas. Tak ayal desahan Eunhyuk semakin menjadi, dan anehnya Donghae semakin terpancing untuk melakukan sesuatu yang lebih.

"Donghae—ngh—"

Eunhyuk menarik t-shirt Donghae, membuatnya bertelanjang dada. Jemarinya langsung bergerilya di dada bidang Donghae, menyentuh bisep yang selama ini menjadi objek fantasi liarnya.

"Kau benar-benar, Eunhyuk!"

Donghae membuka celananya tidak sabaran, ia menarik Eunhyuk dari closet dan sedetik kemudian menariknya kembali, membuatnya duduk di pangkuan Donghae.

"Lakukan."

Wow! Pucuk di cinta ulam pun tiba! Eunhyuk bahkan tidak menggodanya, tapi Donghae dengan senang hati menusuk lubangnya. Siapapun yang mengirim surat ancaman, terima kasih banyak.

"Kau sangat sexy, petugas Lee."

Eunhyuk tidak mau membuang-buang waktu, takutnya Donghae tiba-tiba sadar dan berubah pikiran. Ia segera memasukan milik Donghae, sekali hentak. Hell, itu sakit! Tapi tidak masalah, toh pada akhirnya Eunhyuk akan tetap mendesah keenakan karena milik Donghae bisa menyentuh titik sensitifnya dengan tepat.

"Kau selalu membuatku puas."

Gerakan mereka mulai seirama, maju dan mundur dengan gerakan yang cepat. Eunhyuk tidak suka sesuatu yang lembut, begitupun dengan Donghae. Itu sebabnya, mereka tidak pernah bergerak lembut sejak sex pertama mereka. Liar dan panas adalah gaya mereka.

"Aku akan sampai."

"Keluarkan di dalam."

Donghae menggeram, ia menahan pinggul Eunhyuk dan mengeluarkan semuanya di dalam. Sungguh! Ini adalah sex terhebat selama hidupnya, tidak pernah sekali pun Donghae merasakan yang sehebat ini.

"Hangat."

"Apanya?"

"Milikmu di dalam."

Wajah Donghae bersemu merah, meskipun ini sex kedua mereka, Donghae masih tetap malu saat Eunhyuk mengucapkan kata-kata kotor atau vulgar.

"Lihat, pada akhirnya kau yang datang padaku."

"Sialan!"

"Jadilah milikku."

"Aku belum sepenuhnya jatuh padamu."

"Aku akan membuatmu jatuh, bahkan tersungkur untukku."

Menantang.

Donghae suka dengan kegigihan Eunhyuk, dia tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia sexy, manis, dan menantang. Sialan! Donghae di buat meragukan dirinya sendiri oleh makhluk manis yang sedang duduk dipangkuannya. Jadi, apakah Donghae masih straight sekarang?

"Kalau begitu, lakukan usaha terbaikmu."

"Jangan menantangku!"

"Kau sangat menantang!"

Eunhyuk tertawa, mereka selalu saja berdebat sejak pertama kali bertemu.

"Kau mengacaukan acara mandiku."

"Dan kau mengacaukan pertahananku."

"Mau mandi bersama?"

"Apa itu artinya sex lagi?"

Pada akhirnya, pertahanan si homofobik runtuh juga. Tembok yang selama ini ia bangun dengan kuat, diruntuhkan oleh berandalan yang selalu ia hindari. Kata cinta belum terucap, tapi apa yang mereka lakukan sekarang cukup untuk membuat mereka saling terikat.

Hancur sudah, kalau Yunho tahu kejadian hari ini, dia akan tertawa tujuh hari tujuh malam. Tidak ada lagi alasan untuk Donghae berkoar-koar dirinya homofobik. Karena apa yang dia lakukan hari ini, sangat bertolak belakang dengan pendirianya.

"Masih mau mengaku homofobik?"

"Aku mulai meragukan diri sendiri."

"Hm?"

"Masih kah aku menyukai dada perempuan?"

"Kau hanya akan menyukai bokongku!"

"Aku masih tidak yakin."

"Dasar sialan!"

Eunhyuk menendang tulang kering Donghae. Bukan kah dia sangat kurang ajar? Sudah menyetubuhinya dua kali, dan masih berani bilang tidak yakin. Kalau bukan karena Eunhyuk menyukai milik Donghae, Eunhyuk pasti sudah menendangnya dan membuatnya impoten!

Bagaimana ini?

Aku tidak lagi homofobik...

Aku terjebak lagi...terperangkap olehnya...

.

.

TBC


Sesuai janji, update kl responnya bagus ^^ maaf kl banyak typo gak di edit...

Makasih loh sama yang selalu review dan ngasih tanggapan positif, makasih juga sama yg selalu ngasih kritik dan saran ^^

Oh, iya. cuma mau bilang, guys ini cara nulis saya, yang gak suka boleh kok gak di baca ^^ demi kenyamanan masing-masing ^^ setiap author punya gaya menulisnyamasing-masing, dan inilah gaya saya ^^

Kl boleh jujur, saya emang gak pernah bikin karakter Hyuk terlalu polos krn pada kenyataannya di kehidupan nyatanya dia gak sepolos itu. dan lagi, dia memang selalu manggil Donghae dengan sebutan 'Babo atau Meongchungi' yang mana artinya bodoh atau tolol. saya selalu senyesuaikan karakter mereka di fanfic dgn kehidupan nyata mereka ^^

Jelas ya?

Kalau masih ada pertanyaan silahkan PM, mention, inbox fb, line, atau BBM, saya selalu suka diskusi sm kalian ^^

Okay, next chapter mungkin agak lama ya ^^

Terima kasih buat yg selalu sabar menunggu ^^

Oke, last review please? ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee