BAD BOY'S TRAP

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Crime

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

You've got to fortify my love, you should be mine...

.

.


Sudah setengah jam Donghae duduk termenung di mejanya, ia membolak-balik berkas kasus kematian Choi Siwon, tapi tak satupun yang ia temukan. Donghae mencurigai satu orang, tapi ia tidak memiliki cukup bukti untuk menuduhnya. Sementara ini, Donghae hanya bisa meminta keterangan dari para saksi dan orang yang dicurigainya. Selama belum ada bukti yang kuat, Donghae tidak bisa mengambil langkah yang lebih jauh.

"Kau tidak pulang kemarin, kemana?"

Seperti yang sudah Donghae duga, Yunho akan datang padanya dan bertanya ini-itu. Malah aneh kalau Yunho tidak bertanya, selalu ingin tahu adalah sifatnya. Donghae mendadak tidak enak perasaan, saat mengingat kejadian kemarin. Kalau sampai Yunho tahu, entah akan bagaimana cara tertawanya. Mungkin dia akan tertawa sambil salto atau sambil jungkir balik.

"Eunhyuk menerima surat ancaman setelah datang kemari. Sepertinya, pelaku mengetahui Eunhyuk datang kemari."

Donghae memulai pembicaraan, ia tidak mau Yunho bertanya soal kejadian kemarin. Meskipun mulai mengakui keberadaan Eunhyuk, tapi Donghae belum siap ditertawakan Yunho. Masalahnya, kalau Yunho tahu, itu artinya semua orang juga akan tahu. Mulutnya itu, sudah seperti keran bocor.

"Itu artinya, pelaku selalu ada di sekitar sini untuk mengawasi setiap gerak-gerik orang-orang terdekat Siwon."

"Kita akan mempersempit pencarian. Fokus saja pada Kim Kibum dan Kim Heechul, aku yakin salah satu dari mereka tahu sebab kematian Choi Siwon, atau bahkan mereka sendiri lah pelakunya."

"Hm, sesempit lubangnya si berandalan?"

"Begitulah, kita akan—apa kau bilang? Jung sialan!"

"Ah, jadi semalam tidak pulang ada di rumah Eunhyuk? Homofobik mana yang datang ke rumah seorang gay, yang jelas-jelas menyukai sesama laki-laki? Huh? Munafik!"

"I—itu karena dia menelepon dan bilang menerima surat ancaman. Dia bilang tidak bisa bela diri, jadi aku—aku menemaninya."

"Menemaninya? Kau bisa pulang setelah memastikan dia baik-baik saja, kenapa malah bermalam di sana? Dan lagi, kau dibohongi! Kalau dia tidak bisa bela diri, mana mungkin dia bisa berkelahi dengan preman-preman di jalanan?"

Ah, benar juga. Kalau dia tidak bisa bela diri, kenapa dia sering masuk kantor polisi karena berkelahi? Sialan sekali! Donghae di tipu lagi! Di tipu entah untuk yang ke berapa kalinya. Ini antara Donghae yang memang bodoh, atau memang Eunhyuk yang ahli menipu dan menjebak orang.

"Dari pada beralasan menemaninya karena cemas, sebaiknya kau jujur saja. Datang ke sana karena rindu lubangnya, 'kan?"

Memang sialan, Jung—fucking—Yunho ini. Dia benar-benar tidak akan berhenti, sampai Donghae menceritakan semuanya dengan detail. Kalau tidak begitu, maka Yunho akan menjelma jadi hantu dan terus menghantui Donghae dimanapun kapanpun sampai dia mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

"Aku mengantuk! Jadi, tidak mungkin pulang dalam keadaan mengantuk! Puas?"

"Oh, begitu."

Demi Tuhan! Wajah Yunho sangat menyebalkan, dia meledek Donghae dengan wajah yang di buat seolah dia mengetahui kejadian malam itu. Auh! Donghae ingin sekali mencakarnya!

"Lanjutkan pekerjaanmu! Kenapa terus mengangguku?"

"Mengantuk, ya? Alasannya mengantuk, tapi pada akhirnya malah tidak tidur sama sekali dan sibuk mendesah karena miliknya di jepit lubang sempit. Aku baru tahu, ada homofobik yang terjebak dua kali oleh seorang gay. Ketagihan di jebak sepertinya."

"Sekali lagi kau bicara, akan aku tembak kepalamu!"

"Uh, takut. Menembak? Seperti kau menembak lubang sempit si berandalan itu?"

"Jaga cara bicaramu, Jung!"

Yunho berlari sebelum Donghae melemparkan barang-barang yang ada di meja kerjanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan airmata. Sungguh! Donghae lucu sekali! Dia selalu mencibir hubungan semua orang yang menyimpang, dia selalu mengatakan dengan lantang bahwa dirinya lurus dan suka perempuan. Tapi apa? Akhirnya dia malah menyetubuhi seorang berandalan, dua kali pula. Sudah begitu, dia masih tetap pada pendiriannya bahwa dia homofobik dan tidak suka laki-laki.

"Jaga perasaanmu juga, jangan sampai kau tergila-gila pada berandalan itu!"

"Sialan kau, Jung!"

Donghae mengacak rambutnya frustasi, ia menendang-nendang udara untuk melampiaskan kekesalannya. Sialan! Ia terus saja dipermalukan oleh Yunho. Semua gara-gara Eunhyuk! Tidak, tunggu, semua ini salahnya Kim Timjangnim! Kalau saja dia tidak pernah menyuruhnya menangkap Eunhyuk, maka kejadian seperti semalam dan waktu itu, tidak akan terjadi!

"Oh, iya!"

"Mau apa lagi kemari? Pergi sana!"

"Oh, Ya Tuhan! Galaknya orang ini! Jaejoong punya empat tiket Lotte World dari agensinya, mau datang denganku dan Jaejoong akhir pekan nanti? Kau bisa mengajak Eunhyuk, kita akan double date. Hm?"

"Double date, kepalamu! Aku tidak mau! Lagi pula, kita sedang menangani sebuah kasus!"

"Kita sudah bekerja hampir 24 jam tanpa libur! Mengambil libur sehari di akhir pekan, tidak ada salahnya. Lagi pula, Kim Timjangnim sudah setuju."

"Aku tetap tidak mau!"

Yang di tolak malah tersenyum penuh arti, tidak peduli dengan wajah galak Donghae. Jangan bercanda! Yunho tidak akan takut dengan wajah galak Donghae. Donghae pasti akan datang, mau taruhan dengan Yunho? Donghae itu galak di luar, tapi lembut di dalam. Pada dasarnya, Donghae tidak pernah bisa menolak orang lain. Meskipun di awal bilang tidak, pada akhirnya dia akan tetap datang dengan wajah—sok—acuh.

"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan meninggalkan dua tiket di sini, keputusan ada di tanganmu. Mau berangkat atau tidak, terserah padamu. Tapi yang jelas, kau tahu 'kan bagaimana Jaejoong jika keinginannya di tolak?"

Bulu kuduk Donghae berdiri, ancaman Yunho bahkan lebih mengerikan dari pada ancaman seorang pembunuh. Kalau keinginan Jaejoong di tolak, maka telinga Donghae akan keriting. Dan! Dan kepalanya tidak akan ada ditempatnya lagi. Baru mendengar namanya di sebut saja, Donghae sudah merasa aura di sekitarnya berubah.

Kim Jaejoong itu berbeda dengan kebanyakan laki-laki lain, dia bertingkah seperti ibu-ibu sosialita. Donghae kadang tidak mengerti, kenapa Yunho bisa menyukai Jaejoong yang gaya hidupnya sangat mewah? Ya, walaupun harus Donghae akui, wajah Jaejoong sangat manis. Tapi tetap saja! Gaya hidupnya itu sungguh mencekik. Selain masalah gaya hidup, sifat Jaejoong juga sangat mengerikan. Kalau keinginannya di tolak, maka kakinya akan berada tepat di lehermu, menginjaknya sampai kesulitan bernafas. Intinya, meskipun berwajah manis, tapi sifatnya sangat mengerikan!

"Aku—aku akan memikirkannya nanti."

"Good boy!"

Setelah Yunho kembali ke mejanya, Donghae mengambil tiket yang tergeletak dimejanya. Haruskah? Haruskah menganjak Eunhyuk pergi? Tapi alasannya apa? Donghae menghela nafas panjang sambil memperhatikan tiket yang ada ditangannya. Sebenarnya Donghae bisa saja menolak seperti biasanya, tapi entah kenapa Donghae ingin sekali pergi. Apa lagi, ketika ia teringat dengan cerita Eunhyuk yang katanya tidak pernah punya teman.

Tunggu.

Sepertinya Donghae punya alasan. Mengajaknya pergi, sebagai teman. Karena Eunhyuk bilang dia kesepian dan tidak pernah punya teman, Donghae akan mengajaknya ke taman bermain sebagai teman. Iya, teman. Hanya teman. Lupakan ocehan si Jung soal double date atau apapun itu.

Sampai jumpa akhir pekan, berandalan...

.

.


Tepat pukul tujuh pagi, Donghae sudah mematut dirinya di cermin. Tidak biasanya Donghae bangun pagi-pagi di akhir pekan, biasanya dia akan bangun sekitar jam sebelas. Hari ini berbeda, karena ia akan bermain ke taman bermain dengan Eunhyuk.

Hm, sebenarnya agak—sedikit—menjijikan menyebut hari ini berbeda, tapi entah kenapa Donghae merasa senang. Entahlah, di sisi lain merasa aneh dan di sisi lainnya merasa senang. Bukankah sudah Donghae bilang? Tubuh dan seluruh sarafnya sedang gila, jadi abaikan saja!

"Apa pakai ini terlalu formal?"

Sudah seisi lemari Donghae acak-acak, tapi ia masih bingung akan memakai baju apa. Dasar kutu buku, mau datang taman bermain saja bingung mau pakai baju apa. Donghae kembali mengacak-acak lemarinya, ia mencoba kemeja kotak-kotak biru tipis dan celana jeans berwarna putih. Tampak seperti remaja, tapi Donghae suka dengan pilihan gayanya. Donghae terkikik geli saat menyampirkan sweater berwarna kuning pucat di bahunya, ia terlihat seperti anak sekolah yang mau tamasya.

"Kira-kira, apa yang Yunho pakai? Jaket kulit? T-shirt? Kemeja? Ah, orang itu tidak bisa di prediksi."

Pukul delapan pagi, barulah Donghae turun ke basement. Sekali lagi, ia mematut dirinya di kaca mobil sebelum masuk ke mobil dan menjemput Eunhyuk. Aneh, kenapa ia jadi seperti orang yang mau kencan? Kencan, kencan apanya? Donghae melakukan semua ini karena di paksa oleh Yunho. Kalau tidak di paksa dan di ancam, mungkin Donghae tidak akan bangun sepagi ini dan repot-repot menjemput Eunhyuk.

"Aku tidak tahu kau suka ke taman bermain."

Eunhyuk sudah menunggu di depan gedung apartemennya. Begitu Donghae sampai, ia tanpa ragu masuk ke dalam mobil berwarna putih milik Donghae.

"Aku di paksa Yunho."

"Oh, di paksa. Ngomong-ngomong, kita seperti couple."

Donghae berdeham, pura-pura tidak peduli. Tapi pada saat lampu merah, matanya melirik Eunhyuk sekilas. Penampilannya hari ini—lumayan—manis. Dia menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna merah, celana pendek selutut, dan rambut pirangnya dibiarkan berantakan. Kalau di pikir-pikir lagi, kemeja mereka memang terlihat sama. Seperti pasangan? Oke, seharusnya Donghae memilih pakaian yang lain tadi. Sial!

"Ini pertama kalinya aku ke taman bermain lagi. Hm, terakhir kesana bersama Siwon, saat aku baru lulus sekolah menengah atas. Setelah kami masuk perguruan tinggi, Siwon sibuk sekali jadi tidak sempat mengajakku bermain lagi."

"Kau menyelesaikan sekolahmu dan bahkan kuliah?"

"Hm. Meski pergi dari rumah, aku tetap sekolah dengan uang hasil kerja paruh waktu. Tapi saat masuk perguruan tinggi, aku di bantu oleh ibuku. Biayanya cukup mahal."

"Kau kuliah? Sungguh?"

"Hm. Aku lulus dari Universitas Pai Chai dan dapat gelar sarjana di bidang performing art."

Sulit di percaya, berandalan sepertinya lulus kuliah dan dapat gelar sarjana. Ah, benar juga. Mau bagaimanapun dia tetap seorang Chaebol, mana mungkin orangtuanya membiarkan pendidikannya terbengkalai. Apa kata dunia?

"Pendidikanmu tinggi, kenapa jadi berandalan dan bekerja di bar?"

"Entahlah. Memberontak pada ayahku? Sebenarnya aku tertarik pada dunia musik, aku suka menari dan menciptakan lagu, tapi ayahku tidak pernah peduli. Dia hanya ingin aku menggantikan posisinya di perusahaan."

"Oh."

"Kau sendiri, kenapa jadi polisi?"

"Awalnya aku tidak pernah tertarik jadi polisi, aku ingin menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit."

"Orangtuamu tidak setuju kau jadi dokter?"

"Bukan. Aku menjalani wajib militer di divisi kepolisian, lalu aku tertarik dengan profesi polisi. Jadi, aku berhenti kuliah dan masuk akademi kepolisian."

"Oh, begitu."

Mungkin awalnya karena itu, hanya tertarik saja. Tapi kemudian, alasannya berubah setelah kematian Sohyun. Donghae ingin mengungkap banyak kasus pembunuhan, mencari tahu sebab kematian seseorang yang sesungguhnya. Setidaknya, itu bisa membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tapi kenyataannya, Donghae masih belum mampu mengungkap sebuah kasus, perjalanannya untuk mengungkap kasus pembunuhan Sohyun masih sangat panjang.

"Oh! Itu petugas Jung baru sampai. Dan itu, siapa?"

"Kim Jaejoong, kekasihnya."

"Dia laki-laki?"

"Hm. Kenapa?"

"Pinggangnya kecil sekali, seperti perempuan. Wah, tasnya juga Moldir keluaran terbaru."

Donghae turun dari mobil tanpa mempedulikan ocehan Eunhyuk yang tidak ia mengerti. Tas Moldir atau apalah itu, Donghae tidak mengerti. Tapi menurut cerita Yunho, harga tas Jaejoong itu tidak bisa dibayangkan. Tidak heran, gaya hidup Jaejoong memang seperti itu.

"Katanya tidak akan datang! Dasar homofobik sialan!"

"Kau yang memaksaku datang, sialan!"

"Siapa yang terpaksa datang?"

Suara Jaejoong sangat lembut, tapi menusuk. Jung sialan! Apa harus dia membahasnya di depan Jaejoong? Sahabat macam apa dia itu? Berencana membunuh sahabatnya sendiri.

"Bukan seperti itu, Jaejoong. Pokoknya, bukan seperti itu."

Cari aman. Sebaiknya, tidak banyak bicara atau menjawab pertanyaan Jaejoong kalau masih mau berumur panjang.

"Dia siapa? Kekasihmu? Kau selalu mencibir aku dan Yunho. Tapi lihat, kau punya kekasih laki-laki juga ternyata."

"Kami bukan kekasih."

Baru saja Donghe mau menjawab Jaejoong, tapi Eunhyuk mendahuluinya. Jujur saja, Donghae terkejut dengan jawaban Eunhyuk. Tadinya ia pikir, Eunhyuk akan menjawab seenaknya, karena biasanya dia seperti itu.

"Tapi kami sudah melakukan sex dua kali. Dia akan menjadi milikku, cepat atau lambat."

"Hei!"

Donghae membekap mulut Eunhyuk, sebelum dia membeberkan semuanya. Sialan! Donghae terlalu cepat mengambil keputusan. Jawabannya tetap saja sembarangan. Kini Yunho mentertawakannya dan tatapan Jaejoong langsung beralih padanya. Well, Donghae mendapatkan pelajarannya. Membawa Eunhyuk ke hadapan Yunho dan Jaejoong adalah keputusan yang salah.

"Homofobik? Homofobik apanya?"

"Bukan seperti itu, Jae! Aku—aku—"

"Tidak ada homofobik yang melakukan sex dengan sesama jenis sampai dua kali."

Oke, Donghae kehilangan kata-katanya. Melihat Yunho yang mentertawakannya dan Jaejoong yang menyudutkannya, Donghae tidak bisa berkutik. Donghae kalah telak.

"Wah, Jae. Lihat, mereka juga memakai baju couple."

"Ini hanya kebetulan, Jung!"

"Uh! Manisnya, Lee Donghae."

Brengsek! Donghae tidak suka melihat ekpresi wajah Yunho yang di buat lucu seperti itu. Mengerikan!

"Lebih baik kita main terpisah! Kita bertemu saat makan siang saja."

"Ada yang ingin berduaan rupanya."

Yunho kembali tertawa terbahak-bahak, puas sekali dia mentertawakan Donghae. Hancur sudah kehidupan normalnya, tidak akan ada lagi yang melihatnya sebagai laki-laki straight. Besok pagi, di kantor pasti heboh. Donghae akan menjadi sorotan di kantor besok. Semua gara-gara Jung sialan Yunho!

"Jangan tertawa terus, Yun. Kau bisa keriputan! Ya sudah, kita berpisah saja. Bertemu di restoran saat makan siang."

"Oke."

Jaejoong melerai, perdebatan Donghae dan Yunho berhenti sampai di situ. Sekarang, hanya ada Donghae dan Eunhyuk. Mereka saling mencuri pandang, bingung mau mengatakan apa. Serba salah! Main bersama Yunho dan Jaejoong, tidak nyaman. Tapi, main berdua seperti ini malah lebih tidak nyaman. Donghae bahkan bingung, mau memulainya dari mana.

"Petugas Jung dan Jaejoong, mau kemana?"

"Kemana lagi? Rumah hantu tentu saja."

"Wah, mereka sungguh berani."

"Berani apanya? Mereka hanya ingin saling meraba di dalam sana."

Mata Eunhyuk tiba-tiba berbinar mendengar kata meraba, ia menarik tangan Donghae menuju rumah hantu, menyusul Yunho dan Jaejoong.

"Mau apa?"

"Ke rumah hantu! Kita saling meraba juga."

"Hei!"

"Hanya bercanda."

"Kau suka roller coaster?"

Eunhyuk menggeleng cepat, ia juga mengibas-ngibaskan tangannya. Oh, no! Roller coaster musuh terbesarnya! Eunhyuk tidak begitu suka dengan ketinggian, itu membuatnya sedikit mual.

"Penakut."

"Masalah buatmu?"

"Aku tidak suka kekasih yang cengeng dan penakut."

Tiba-tiba saja Eunhyuk memincingkan matanya, Donghae sedang memancing rupanya. Eunhyuk melipat tangannya di dada, wajahnya di buat semenyebalkan mungkin.

"Aku juga tidak suka kekasih yang munafik."

Kalah. Lagi-lagi Donghae kalah. Seharusnya, sejak awal Donghae tidak mengajak Eunhyuk berdebat. Donghae tahu betul dirinya akan kalah, tapi tetap saja suka memancing perdebatan.

"Ya sudah kalau tidak mau, aku akan naik sendiri. Sebaiknya kita main terpisah juga!"

Sebenarnya, Eunhyuk benar-benar tidak mau naik roller coaster, tapi ia juga tidak mau main sendirian. Percuma ia bangun semalaman karena memikirkan hari ini, kalau pada akhirnya malah bermain terpisah dengan Donghae. Meskipun Donghae bilang acara ini paksaan dari Yunho dan Jaejoong, Eunhyuk tetap senang dan merasa ini kencan pertama mereka. Kencan pertama, seharusnya berlangsung romantis. Benarkan?

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu! Gantinya, kau harus mau menemaniku ke rumah hantu."

"Oke, call!"

Demi Tuhan, tinggi sekali! Donghae yang tadi menantang Eunhyuk untuk ikut, malah ketakutan sendiri. Mungkin seharusnya Donghae tidak menantang Eunhyuk tadi. Ia pikir, tingginya tidak akan semengerikan ini. Setelah naik, barulah terasa pusing saat melihat ke bawah.

"Donghae, boleh memegang tanganmu?"

"Tidak boleh!"

"Pelit!"

Roller coaster perlahan mulai bergerak, Eunhyuk memastikan semuanya aman sebelum ia benar-benar memejamkan matanya. Terserah apa yang akan terjadi nanti, yang penting nyawanya selamat sampai roller coaster ini kembali berhenti. Saat roller coaster naik ke atas dan tiba-tiba turun, Donghae berteriak kencang sekali, ia bahkan menarik tangan Eunhyuk dan merematnya. Sungguh, perutnya terasa di kocok saat roller coaster itu mulai meliuk dan berputar.

"Ah, sialan!"

Donghae masih saja gemetar, tangannya masih bertaut dengan tangan Eunhyuk. Ingatkan Donghae agar tidak sembarangan menantang orang. Oh, dan ingatkan juga agar tidak naik roller coaster lagi. Jantungnya serasa tertinggal di atas, Donghae bahkan tidak bisa berjalan dengan benar setelah turun. Lututnya seperti jelly, tidak bisa berfungsi dengan benar.

"Yang benar saja! Aku yang mengaku takut, tapi justru kau yang ketakutan sampai gemetar."

Cibiran Eunhyuk ia abaikan, Donghae masih mengumpulkan seluruh kesadaran. Saat di atas tadi, Donghae hampir gila karena berteriak sampai tenggorokannya sakit.

"Sampai kapan kau mau memegang tanganku?"

Oh, ya ampun. Lihat cara bicara si homofobik—yang sekarang tidak lagi—itu, Eunhyuk bahkan sampai kehilangan kata-katanya. Dia yang memegang tangan Eunhyuk duluan dan sekarang dia bersikap seolah Eunhyuk lah yang memulai semuanya. Sulit di percaya!

"Hei, kau petugas Lee! Dengar ya, yang memegang tanganku duluan adalah kau! Kenapa belum melepaskannya? Karena kau menggenggam tanganku dengan erat! Bodoh!"

Meskipun Eunhyuk menyukai Donghae, tapi bukan berarti ia akan terima diperlakukan seperti ini. Donghae sialan ini benar-benar munafik, dia bahkan tidak mau mengakui perbuatannya sendiri.

"Itu—aku tidak menyadarinya."

"Sudahlah. Ayo jalan, kita ke rumah hantu."

Belum habis rasa takut Donghae, sekarang ia harus menghadapi ketakutan yang baru. Boleh jujur? Donghae itu sebenarnya sangat penakut. Rumah hantu, film horror, atau apapun yang bersangkutan dengan makhluk halus, Donghae sangat takut. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur menyetujui keinginan Eunhyuk, dan seorang laki-laki harus bisa memegang ucapannya sendiri.

"Gelap sekali."

"Kalau terang bukan rumah hantu namanya, dasar bodoh!"

Tangan mereka masih saling bertaut. Sebenarnya, sejak turun dari roller coaster sampai masuk ke dalam rumah hantu, tautan tangan mereka tidak pernah terlepas. Itu karena Donghae yang tidak melepaskannya, alasannya karena karena kakinya masih gemetar, jadi ia perlu pegangan. Alasan macam apa? Konyol sekali.

"Hei, ujungnya dimana? Kenapa belum terlihat?"

"Kita baru saja masuk! Ujungnya masih jauh."

Dan teriakan Donghae kembali terdengar, ia memeluk Eunhyuk dan berjalan di belakang Eunhyuk seperti pengecut. Kalau Yunho tahu, dia pasti akan mentertawakan Donghae sambil jungkir balik. Sudah gagal jadi homofobik, penakut pula.

"Akhirnya kita keluar!"

Akhirnya, berakhir juga ketakutan Donghae. Cukup untuk hari ini, kalau diteruskan Donghae bisa pipis di celana. Tidak ada lagi roller coaster atau rumah hantu, Donghae mau main yang aman-aman saja, yang baik untuk kesehatan jiwa dan raganya.

"Hei, belikan aku cotton candy. Oh, telinga kucing juga!"

"Kenapa aku harus?"

"Karena kau yang mengajakku kemari dan memegang tanganku duluan. Dan juga, memakai sesuatu yang manis ditelingamu saat ke taman bermain itu tradisi."

Tradisi apanya? Donghae tidak pernah mendengar hal konyol seperti itu! Mau main ya main saja, tidak perlu pakai hiasan kepala atau apapun sebutannya.

"Hm, sepertinya telinga Mickey Mouse lebih manis. Aku mau itu saja."

"Hei, terlalu besar! Menggelikan! Kau saja yang pakai."

"Tidak masalah kalau kau tidak mau, dulu juga Siwon tidak mau memakai sesuatu dikepalanya. Ahjussi, aku ambil dua."

"Untuk siapa?"

"Untukmu. Tidak masalah kalau tidak mau di pakai, simpan saja untuk kenang-kenangan. Hm?"

Donghae menghelas nafas panjang, ia mengeluarkan dompetnya dan membayar cotton candy serta hiasan kepala yang baru saja di beli Eunhyuk. Hari ini, Donghae kenapa penurut sekali? Ia bahkan tidak bisa menolak satupun permintaan Eunhyuk.

"Donghae."

"Hm?"

"Lapar."

Donghae melirik jam tangannya. Pantas saja, sudah waktunya makan siang. Perutnya juga sudah mulai mengeluarkan bunyi-bunyi aneh, setelah berteriak-teriak heboh tadi, ia juga merasa lapar. Energinya terkuras habis karena berteriak seperti orang gila.

"Sepertinya Yunho dan Jaejoong sudah sampai duluan."

"Oh, benar."

"Kalian sampai? Bermain apa saja tadi?"

Donghae melirik Eunhyuk tajam, mengisyaratkan padanya agar diam saja dan tidak memberi jawaban apapun.

"Bermain roller coaster dan ke rumah hantu, tapi petugas Lee sangat ketakutan sampai lututnya lemas."

Tentu saja Eunhyuk tidak akan menuruti perintahnya. Donghae memejamkan matanya, ia menghembuskan nafanya dengan perlahan, mencoba tetap tenang. Biar malu, setidaknya wibawanya harus tetap terjaga. Jangan sampai, ia berteriak dan mengundang seluruh perhatian orang-orang yang sedang makan.

"Kaget. Bukan takut. Kalian sendiri main apa saja tadi?"

"Viking, rumah hantu, tembak-tembakan, dan masih banyak lagi."

"Oh, aku pikir kalian main di toilet."

"Dasar brengsek!"

Yunho memukuli Donghae dengan serbet, apa maksudnya main di toilet? Yunho masih cukup waras untuk tidak melakukannya di sembarang tempat. Dan lagi, Jaejoong juga tidak akan suka di sentuh di tempat umum.

"Wah, kalian menikmati kencan hari ini? Telinga Mickey Mouse itu cocok dengan rambut pirangmu."

Eunhyuk tersenyum puas, "Terima kasih, Jaejoong-ssi"

Mendengar obrolan singkat Jaejoong dan Eunhyuk, Donghae hanya bisa memutar bola matanya bosan. Cocok? Cocok apanya? Mana ada berandalan yang suka berkelahi cocok memakai benda manis seperti itu. Lagi pula, Eunhyuk kenapa bersikap sok manis sekali hari ini? Mau tebar pesona? Dasar genit!

"Oh iya, setelah makan aku dan Jaejoong pulang duluan."

"Kenapa? Kalian yang mengajak kami, tapi malah kalian yang pulang duluan."

"Maaf, Jaejoong ada jadwal pemotretan."

"Hm, jadwalku kali ini tidak bisa dilewatkan. Maaf, ya?"

"Kau selalu saja sibuk."

Hidangan datang, mereka berempat makan dengan tenang, kecuali Eunhyuk. Laki-laki berambut pirang itu, sibuk memeperhatikan Jaejoong dari atas kepala sampai ujung kaki. Baginya, penampilan Jaejoong sangat menakjubkan. Rambut cokelat gelapnya tertata rapi, poni yang menyamping ke kiri membuatnya terlihat tampan tapi tetap manis juga, hari ini dia memakai wifebeater hitam dan di balut kemeja putih tipis sebagai luaran, untuk bawahannya dia memakai celana pendek yang sama dengan Eunhyuk. Wah, dia sangat serasi berdiri di samping Yunho yang terlihat manly dengan jaket baseball dan celana pendek casual. Jika penampilan Yunho dan Jaejoong layaknya pasangan Beckham-Victoria yang modis, maka dandanan Donghae dan Eunhyuk justru terlihat seperti anak sekolah dasar yang akan pergi tamasya. Jauh sekali.

"Namamu Eunhyuk?"

"Ya? Oh, iya."

"Kenapa memperhatikan aku terus? Ada yang salah?"

"Oh, tidak ada. Kau sangat menganggumkan. Kau dan petugas Jung, sangat serasi."

"Aku sudah mendengar itu ribuan kali. Tapi, terima kasih."

Tentu saja Jaejoong sudah sering mendengar yang diucapkan Eunhyuk tadi, itu artinya mata semua orang tidak buta.

"Baiklah, aku sudah selesai. Kalian bersenang-senanglah, aku dan Yunho pamit duluan. Oh, billnya sudah aku bayar."

"Terima kasih, Jaejoong. Lain kali aku yang akan membayarnya."

"Semoga kencanmu menyenangkan, Lee."

"Berisik, Jung!"

Sepeninggal Yunho dan Jaejoong, suasana kembali hening. Eunhyuk sibuk memperhatikan Jaejoong dari balik jendela, dan Donghae sibuk menghabiskan makanannya. Biar saja, dia sedang kelaparan akibat teriak-teriak tadi.

"Apa pekerjaan Jaejoong? Berapa usianya?"

"Model tas dan baju brand ternama, usianya sama dengan kita."

"Oh."

"Kenapa?"

"Dia sangat mengaggumkan."

"Mereka pacaran sejak mereka masih sekolah menengah atas. Yunho harus ekstra keras menjaga penampilannya demi terus berpacaran dengan Jaejoong."

"Kenapa? Jaejoong banyak menuntut?"

"Tidak, Jaejoong bisa menerima Yunho apa adanya. Hanya saja, ada banyak laki-laki mata keranjang yang selalu terlihat lapar saat melihat Jaejoong. Jadi, Yunho selalu sibuk melindunginya dan menjauhkan seluruh laki-laki yang mendekati Jaejoong."

"Ah, begitu."

"Kalau kau sudah selesai, ayo kita pulang. Aku mau ke apartemennya Choi Siwon untuk mendapatkan petunjuk."

"Kau bekerja di akhir pekan juga?"

"Kasus tidak akan selesai kalau aku hanya bersantai-santai dan liburan."

"Kalau begitu aku ikut."

Sudah bisa di duga, Eunhyuk pasti minta ikut. Tapi ya sudahlah, siapa tahu Eunhyuk bisa membantu. Lagi pula, dia sepupunya Choi Siwon.

.

.


ooODEOoo


Choi Siwon, duapuluh sembilan tahun, CEO Hyundai department store, salah satu anak perusahaan dari Hyundai Group. Di perkirakan di bunuh diri, namun terlalu banyak ke janggalan yang terjadi. Tidak ada catatan yang ditinggalkan, tidak ada tanda-tanda depresi, dan laporan kesehatannya sangat baik. Dia melompat dari lantai paling atas gedung, sebab kematian karena trauma luka di kepala akibat benturan hebat dan patah tulang rusuk sebelah kiri.

"Siwon tidak mungkin bunuh diri."

Eunhyuk duduk di tepian tempat tidur Siwon, ada banyak kenangan yang terjadi di sini. Saat ia butuh teman bicara, maka Siwon akan mengajaknya minum-minum dan main game di sini. Eunhyuk masih ingat, Siwon berhutang sesuatu karena kalah main game. Laki-laki tampan berlesung pipi itu, berjanji akan mengajak Eunhyuk ke Hongkong untuk berlibur. Sayang, janji itu sudah tidak bisa lagi di tepati.

"Aku tahu! Itu sebabnya aku terus menyelidiki kasus ini, sebelum kasusnya di tutup."

Apartemen yang ditempati Choi Siwon sangat mewah, ada banyak barang mahal di sana, tempatnya juga tertata sangat rapi. Tidak ada tanda-tanda penggunaan obat terlarang, di kotak obatnya hanya terdapat obat demam, flu, dan obat tidur. Obat tidur?

"Sejak kapan Choi Siwon mengkonsumsi obat tidur?"

"Hm? Setahuku dia tidak pernah minum obat tidur."

"Lalu, ini apa? Dosisnya juga cukup tinggi. Apa dia punya dokter pribadi?"

"Tapi Siwon tidak pernah ada masalah dengan tidurnya. Ada, dokter Choi Minho."

Saat di temukan, Choi Siwon masih menggunakan sandal rumah dan piyama, sementara lokasi bunuh dirinya di gedung pusat perbelanjaan tempat dia bekerja. Itu artinya, Choi Siwon mengendarai mobilnya untuk sampai ke sana, tapi setelah semua CCTV di periksa, tidak ada aktifitas mobil Choi Siwon pada malam itu.

"Kau sudah memeriksa CCTV lift?"

"Sudah. Tapi, tidak ada apapun. Mungkin si pelaku menyeret Choi Siwon ke tangga darurat, karena di sana tidak ada CCTV."

Eunhyuk berdecak, "kalau dia di seret ke tangga darurat, maka seharusnya terekam di CCTV lobby. Kau tidak lihat? Di setiap sudut terdapat CCTV."

Benar juga, seharusnya si pelaku atau Choi Siwon terekam di CCTV saat keluar dari apartemen. Anehnya, tidak ada satupun CCTV yang menangkap keberadaan mereka. Ah, kasus ini benar-benar membuat Donghae sakit kepala!

"Lagi pula, kau tidak lihat bagaimana ukuran badan Siwon? Tidak mudah menyeretnya begitu saja. Siwon menguasai Taekwondo, kalaupun dia di paksa atau di ancam, orang yang mengancamnya sudah babak belur duluan."

Masuk akal. Donghae sempat melihat jasad Choi Siwon, tubuhnya sangat atletis dan tinggi besar, jadi tidak mungkin kalau dia di seret begitu saja.

"Terkecuali, jika pelakunya lebih dari satu orang."

"Itu masalahnya! Orang terakhir yang masuk ke sini hanya satu orang."

"Kim Heechul?"

"Bukan, Kim Kibum. Dia adalah orang terakhir yang Choi Siwon temui sebelum menemui ajalnya. Tidak ada yang mencurigakan, dia datang dengan tangan kosong dan sendirian. Semua aktifitasnya di dalam gedung, kecuali saat dia di dalam apartemen Choi Siwon, terekam dengan jelas di CCTV."

Menurut laporan, Choi Siwon pulang dari kantor sekitar pukul empat sore, dia langsung pulang ke apartemennya dan tidak pernah keluar lagi. Dan pada saat tengah malam, dia sudah di temukan terbujur kaku di halaman kantornya. Anehnya, tidak ada rekaman CCTV yang merekam saat Choi Siwon keluar dari gedung apartemennya.

"Bagaimana kalau ternyata CCTVnya di sabotase?"

"Ada kemungkinan seperti itu, tapi aku belum bisa mengambil kesimpulan apapun."

"Apa kemungkinan Kibum jadi tersangka?"

"Kita selesaikan yang satu itu nanti. Pertama-tama, aku akan kembali menanyai rekaman CCTV. Setelah itu, antar aku menemui dokter pribadi Choi Siwon."

Seperti yang dikatakan Eunhyuk, mungkin saja CCTVnya sudah di sabotase. Donghae juga tidak tahu, yang jelas semua kemungkinan bisa terjadi dalam kasus pembunuhan kali ini. Untuk mendapatkan informasi yang lebih, Donghae harus kembali memeriksa CCTV karena yang memeriksa CCTV waktu itu adalah Yunho, Donghae hanya menerima laporannya saja. Kali ini, ia harus melihat sendiri apa saja yang terekam di CCTV.

"Aku petugas Lee dari kepolisian pusat Gangnam. Aku yang bertanggungjawab atas kasus Choi Siwon, boleh melihat rekaman CCTV pada tanggal 1 Juni?"

Donghae menunjukan lencananya, dan petugas keamanan gedung langsung mempersilahkan Donghae masuk.

"Oh, tentu saja. Tapi, bukankah waktu itu sudah di periksa? Ada apa lagi?"

"Ya, aku juga sudah menerima laporannya. Tapi anehnya, aku tidak menemukan laporan mengenai rekaman di lobby lantai 12."

"Ah, itu karena sebulan yang lalu Tuan Choi sendiri yang meminta kami untuk mematikan CCTV di sana. Dia bilang, memasang CCTV di lobby yang mengarah ke apartemennya terlalu berlebihan. Kebetulan di lantai 12 hanya ada dua unit apartemen, satu milik Tuan Choi dan satu lagi masih kosong, untuk itu Tuan Choi meminta kami mematikan CCTVnya dengan alasan privasi."

"Privasi?"

"Ya, itu karena insiden bocornya rekaman CCTV kami ke publik."

"Siwon dan Heechul Hyung terekam sedang making out di lobby, dan berita itu langsung menyebar ke publik juga ke perusahaan. Pelakunya mungkin salah satu yang ada di perusahaan kami, tapi aku tidak bisa menduga siapa."

Eunhyuk menyahut, menambahkan jawaban si petugas keamanan. Ia tahu, bocornya CCTV pasti di dalangi oleh seseorang dari perusahaan mereka. Hanya saja, Eunhyuk tidak tahu siapa yang mendalanginya.

"Tujuannya?"

"Jelas untuk menjatuhkan Siwon. Sekarang ini, dia pemegang saham terbesar ketiga setelah ayahku dan ibunya. Dia akan mewarisi Hyundai department store nantinya, tentu saja akan ada yang iri dengan hal itu."

"Kalau Choi Siwon mendapatkan Department Store, kau mendapatkan apa dari Hyundai Group?"

"Perusahaan Elektronik Hyundai."

Pertanyaan out of topic. Donghae sendiri tidak mengerti, kenapa ia menanyakan hal tidak penting seperti itu? Lagi pula, apa urusan dengan Donghae? Bagus sekali, sekarang mulutnya ikut-ikutan tidak terkontrol.

"Oh."

Menghindari obrolan yang tidak penting, Donghae memilih menyibukan dirinya dengan rekaman CCTV, ia mulai duduk dan meneliti satu-persatu rekaman pada tanggal 1 Juni. Hari dimana Choi Siwon meregang nyawa.

"Tidak ada apa-apa. Sepertinya, yang di laporkan petugas Jung padamu memang sudah lengkap. Tidak ada orang lain yang datang menemui Siwon, kecuali Kibum. Dia terekam jelas di dalam lift, baik saat dia datang maupun saat pulang. Jadi, tidak mungkin Kibum yang menyeret Siwon."

Donghae mengangguk mengiyakan pernyataan Eunhyuk. Memang benar, tidak ada rekaman yang menunjukan aktifitas orang yang aneh. Semua terlihat wajar. Donghae menarik nafas panjang, ia kemudian mengusap wajahnya gusar. Tidak ada yang bisa ia dapatkan dari menonton rekaman CCTV ini.

"Apa di basement dan di tangga darurat terdapat CCTV?"

"Di tangga darurat tidak ada, tapi di basement ada di beberapa sudut tertentu. Dan semua itu di tembak dari jarak jauh oleh pelaku."

Yang dikatakan petugas keamanan itu benar, semua CCTV di basement hancur karena di tembak dari sudut tertentu yang tidak terjangkau CCTV.

"Pelaku pasti sudah memperkirakan posisi CCTV di basement. Itu sebabnya, dia menghancurkan seluruh CCTV di basement agar dia tidak terekam saat memasukan Choi Siwon ke dalam mobilnya."

"Memperkirakan posisi CCTV di basement. Kalau memang benar begitu, itu artinya dia orang yang sangat familiar dengan lingkungan di sini. Tunggu dulu, kalau CCTV dihancurkan seperti itu, bukankah seharusnya petugas keamanan bergerak cepat? Benarkan, Donghae?"

Ah, benar juga! Yang dikatakan Eunhyuk semuanya benar. CCTV semua di hancurkan, tapi kenapa tidak ada satupun dari petugas CCTV yang bertindak?

"Itu masalahnya. Saat seluruh petugas kami ke basement, pelaku sudah melarikan diri dengan mobilnya. Kami sudah menyerahkan nomor plat mobil yang digunakan si pelaku, tapi menurut petugas Jung plat nomor yang aku laporkan tidak terdaftar."

"Ya, aku sudah mendapatkan laporan soal itu."

"Tunggu dulu, Donghae. Dia menembak CCTV yang ada di basement. Bukankah artinya dia memiliki pistol? Dan setahuku, penggunaan pistol oleh warga sipil biasa di Korea harus selalu menggunakan ijin."

"Itu benar, Yunho sudah menyelidik hal itu. Kami berencana mencari tahu jenis pistol yang digunakan pelaku, agar memudahkan kami saat pencarian dan tentu saja itu akan membantu kami mencari si pelaku. Tapi saat datang ke TKP, tidak ada satupun selongsong peluru ditemukan. Kami tidak bisa menyelediki pistol jenis apa yang dia gunakan, jika tidak menemukan selongsong pelurunya."

Eunhyuk manggut-manggut, rupanya pelaku sudah merencanakan semuanya dengan terencana. Seperti sebuah scenario, rapi dan teratur.

"Pelakunya sangat rapi dan bersih, dia bahkan memunguti selongsong peluru yang sudah dia tembakan tanpa sisa. Apakah ini pembunuhan berencana?"

"Sepertinya begitu."

Jadi, kesimpulan Donghae di sini adalah, si pelaku datang ke gedung apartemen ini dan naik melalui tangga darurat menuju lantai 12. Kenapa? Karena dia sudah tahu tidak ada CCTV di tangga darurat, begitupun di lantai 12. Dia membawa Choi Siwon keluar apartemen lewat tangga darurat, lalu masuk ke dalam mobil tanpa terekam CCTV karena dia tahu tempat mana saja yang tidak terjangkau CCTV. Setelah berhasil membawa Choi Siwon keluar gedung, barulah dia membunuhnya. Atau, sebenarnya Choi Siwon sudah terbunuh di dalam apartemennya? Donghae tidak tahu jawabannya, karena kesimpulannya pun masih bersifat sementara.

Masalahnya di sini, bagaimana cara si pelaku membawa Choi Siwon keluar dari apartemen? Kalau memaksanya, tentu pelaku harus berjumlah dari satu orang. Kalau membiusnya, pelaku akan kerepotan karena tubuh Choi Siwon yang tinggi besar. Dan kalau di bujuk, itu—itu bisa saja terjadi.

"Aku sudah dapat kesimpulannya, sekarang antar aku menemui dokter pribadi Choi Siwon."

.

.


"Dokter Choi?"

"Ya?"

"Aku Lee Donghae, dari keopolisian pusat Gangnam. Dan ini Eunhyuk, sepupunya Choi Siwon."

"Oh, silahkan duduk. Ada yang bisa di bantu?"

Donghae menjabat tangan dokter Choi, sebelum duduk dan memulai pertanyaannya. Kelihatannya, dokter Choi masih sangat muda. Melihat gayanya, mungkin dia seumuran dengan Donghae.

"Kudengar, kau dokter pribadinya Choi Siwon."

"Ya. Lalu?"

"Kau tahu dia di bunuh?"

Dokter Choi menundukan kepalanya, ia kemudian mengangguk pelan. Kematian Choi Siwon, mungkin memberinya beban tersendiri.

"Aku menemukan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi di apartemennya. Apakah kau yang meresepkan untuknya?"

"Ya, sudah sebulan ini Siwon selalu mengeluh sulit tidur. Dia bilang, beban pekerjaan semakin berat dan tekanan yang diberikan pemegang saham lainnya, membuatnya sedikit stress. Awalnya, aku meresepkan dosis yang kecil, tapi kemudian dia datang lagi untuk meminta dosis yang sedikit tinggi."

"Lalu, kau meresepkan Alprazolam untuknya?"

"Apa? Itu tidak pernah! Saat dia datang dan meminta dosis obat tidur yang lebih tinggi, aku tidak memberikannya. Aku hanya menyuruhnya untuk berlibur dan menenangkan pikirannya."

"Tapi, aku hanya menemukan obat tidur jenis Alprazolam di apartemennya. Tidak ada yang lain. Mungkinkah dia pergi ke dokter yang lain?"

"Tidak mungkin."

Kali ini Eunhyuk ikut bicara. Setelah sejak tadi hanya diam dan menyimak, kini saatnya Eunhyuk bicara.

"Siwon tidak mudah percaya pada orang. Dia hanya mempercayai satu dokter untuk menangani masalah kesehatannya, dia tidak mungkin mencari dokter lain."

"Kalau begitu, obat ini ada menukar?"

"Bisa jadi."

Oke, Donghae mengerti. Jadi, si pelaku sengaja memberi Siwon obat tidur dosis tinggi untuk membuatnya lemas tak berdaya. Dengan begitu, pelaku akan dengan mudah membunuh Choi Siwon. Satu-persatu petunjuk mulai membentuk gambaran yang jelas, sekarang Donghae harus menemukan motif dari pembunuhan ini. Setelah itu, barulah mencari pelakunya.

"Kalau begitu, aku permisi. Mungkin nanti aku akan datang lagi, maaf menganggumu."

"Oh, itu tidak masalah. Aku harap pelakunya segera di tangkap."

"Tentu."

Donghae dan Eunhyuk menghela nafas hampir bersamaan, hari sudah gelap dan tubuh mereka mulai menunjukan tanda-tanda kelelahan. Sejak siang tadi, mereka sudah kesana-kemari mencari petunjuk di balik kasus pembunuhan Choi Siwon yang disamarkan jadi kasus bunuh diri. Persis seperti kasusnya Sohyun.

"Kau tidak lapar?"

Pertanyaan Eunhyuk mengingatkan Donghae pada makan malam. Benar, mereka belum makan malam. Pantas saja Donghae merasa perutnya tidak enak dan sering mengeluarkan bunyi-bunyi aneh yang menggelikan.

"Baiklah, kita makan. Setelah makan, aku akan mengantarmu pulang. Maaf, hari ini aku banyak merepotkanmu."

"Aku merasa sedang kencan, jadi tidak masalah."

Mulai lagi...

"Aku mau makan Galbi, kudengar di sekitar sini ada restoran Galbi yang enak. Mau kesana?"

"Aku lapar, jadi tidak masalah mau makan apapun. Kalau bisa, aku ingin memakanmu."

"Dasar cabul!"

"Dan kau menyukai si cabul ini."

Sialan! Eunhyuk memang sialan! Donghae tidak pernah bisa mengalahkannya. Kalau urusan argumen dan bersilat lidah, Eunhyuk memang jagonya. Berandalan pirang itu lihai sekali menggunakan mulutnya, baik itu untuk memaki, mengucapkan kata-kata kotor atau vulgar, dan menghisap miliknya—

What?

Jangan mulai! Otaknya sudah benar-benar tercemar!

"Kau tidak masalah makan di pinggir jalan?"

"Memangnya kenapa?"

"Kau anak konglomerat."

"Lalu, masalahnya dimana? Aku kabur dari rumah sejak usiaku belasan tahun, aku terbiasa makan dimanapun."

"Oh."

Ya, setidaknya Eunhyuk memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh Chaebol lainnya. Dia tidak angkuh, tidak pernah memerintah—kecuali saat di ranjang—hm, dia juga tidak pilih-pilih makanan. Well, Donghae menyukai sifatnya yang itu.

Tidak ada obrolan, baik Donghae maupun Eunhyuk sibuk dengan makanan masing-masing. Setelah kelaparan sejak tadi, akhirnya perut mereka menggiling sesuatu. Diam-diam, Donghae memperhatikan Eunhyuk. Makanannya sudah habis sejak sepuluh menit yang lalu, jadi sambil menunggu Eunhyuk yang tampak kesulitan memisahkan daging dari tulangnya, Donghae memperhatikan Eunhyuk diam-diam.

Sebenarnya, saat Eunhyuk diam atau tersenyum—bukan menyeringai—dia tidak tampak seperti berandalan. Lumayan manis untuk ukuran seorang laki-laki, di samping itu wajahnya masih terlihat seperti remaja. Point plus untuknya. Sayangnya, sifat genitnya itu sangat menyebalkan. Jadi, sudah berapa banyak laki-laki yang dia goda? Ah, sialan! Mengingat hal itu membuat Donghae jadi ingin marah.

"Jam berapa kau kerja?"

"Di mulai dari jam tujuh."

"Sekarang sudah jam sembilan."

"Aku memutuskan untuk libur hari ini."

"Oh."

"Aku sudah selesai, ayo pulang."

Lagi-lagi, Donghae yang membayar tagihannya. Hari ini, Donghae seperti sedang kencan sungguhan. Membelikan Eunhyuk ini dan itu, di tambah lagi ia selalu pihak yang membayar saat mereka makan. Kencan, ya? Donghae bergidik, ia masih sedikit geli membayangkan hal seperti itu.

"Aku baru sadar, kau memakai kalung dengan bandul cincin."

Donghae mengabaikan Eunhyuk, matanya fokus pada jalan di depannya. Begitulah Donghae, saat orang asing bertanya soal kalungnya, ia tidak mau menjawabnya.

"Hm, aku tahu. Cincin dari mantan kekasihmu? Ah, kau pasti dicampakan. Biasanya, laki-laki yang masih menyimpan milik pasangannya adalah tipe yang cengeng."

Tidak ada tanggapan, Donghae masih tetap diam dan membiarkan Eunhyuk bicara sesuka hatinya. Tiba-tiba saja, ia teringat pada hari itu. Hari dimana ia melamar Sohyun.

Musim dingin tiga tahun yang lalu, ia dan Sohyun berjalan-jalan di sekitar taman dekat apartemen Sohyun. Sudah bertahun-tahun mereka pacaran, akhirnya Donghae punya keberanian untuk mengajak Sohyun menikah. Meskipun pada saat itu posisinya belum setinggi sekarang, Donghae sudah membulatkan tekad untuk melamar Sohyun. Mereka berbincang-bincang di ayunan, tangan mereka bertaut satu sama lain. Donghae masih ingat, betapa canggungnya ia saat itu. Tanpa kata-kata romantis, Donghae langsung memberikan Sohyun cincin dan mengajaknya menikah. Untungnya, Sohyun bukan tipe gadis yang banyak menuntut. Jadi, Sohyun langsung menerima lamaran Donghae tanpa syarat apapun.

"Hei, kau melamun! Apartemenku terlewat."

"Oh, maaf."

"Ya ampun, bahaya sekali melamun saat berkendara!"

"Maaf."

Donghae memutar arah, gara-gara melamun ia jadi harus kembali memutar arah.

"Kenapa ikut turun? Kau bisa langsung pulang."

"Aku akan mengantarmu sampai depan pintu apartemenmu."

Mata Eunhyuk memincing, bibirnya melengkung ke atas. Donghae yang merasa aneh diperhatikan seperti itu, hanya bisa berdeham dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"I—itu prosedur keamanan saksi."

"Memangnya aku bilang sesuatu?"

"Kau—"

"Apa? Sudah ketagihan dengan jepitan lubangku, masih tidak mau mengaku!"

"Hei!"

Eunhyuk melangkah mendahului Donghae, ia menggumam soal sesuatu—mungkin makian—yang tidak bisa di dengar Donghae. Sementara Donghae hanya bisa menghela nafas dan segera menyusul Eunhyuk yang sudah masuk ke dalam gedung.

"Lihat? Aku sudah di depan pintu apartemen. Kalau tidak mau terjadi sesuatu lagi, sebaiknya kau cepat pulang."

"Masuklah dulu."

"Keras kepala!"

Baru beberapa langkah masuk, Donghae mendengar Eunhyuk memaki. Pintu apartemen yang belum sepenuhnya tertutup itu, Donghae tarik kembali agar terbuka. Dan betapa terkejutnya Donghae, isi apartemen Eunhyuk seperti baru terjadi kerusuhan. Sangat berantakan.

"Apa yang terjadi?"

"Shit! Pasti ini ulah orang yang mengirimiku surat ancaman kemarin."

"Jangan masuk! Mungkin pelakunya ada di dalam."

"Malam ini kau menginap saja di rumahku. Besok, aku akan datang lagi dengan Yunho untuk memeriksa CCTV dan keadaan di dalam. Hari ini aku tidak membawa pistolku, kalau pelakunya memang ada di dalam, kita bisa ada dalam bahaya."

Eunhyuk memutar bola matanya, memangnya Eunhyuk seorang gadis? Kenapa ekspresi Donghae harus secemas itu? Eunhyuk bahkan tidak tampak ketakutan sama sekali. Dari pada di sebut ketakutan, raut wajah Eunhyuk sekarang menunjukan betapa marahnya ia. Yang benar saja! Ada orang brengsek yang berani-berani masuk ke apartemennya tanpa ijin dan mengacak-acaknya pula. Kalau sampai ketemu, akan Eunhyuk patahkan lehernya!

Tapi, tunggu!

Menginap di rumah Donghae bukanlah hal buruk! Justru ini keuntungan untuk Eunhyuk. Siapa tahu, Donghae akan menusuknya lagi.

"Baiklah, aku akan menginap di rumahmu."

.

.


Akhirnya, Eunhyuk menginjakan kakinya di apartemen Donghae. Tidak kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Tidak jauh berbeda dengan apartemennya, bedanya di sini hanya ada satu kamar. Dan yeah! Itu menguntungkan! Melihat hanya ada satu kamar, Eunhyuk mendadak semakin kegirangan. Kita lihat, setelah malam ini, masihkah Donghae bersikeras mempertahankan pendiriannya?

"Kau tidur di lantai! Aku di tempat tidur."

"Kenapa?"

"Kau tamu."

"Seharusnya tamu di perlakukan dengan baik!"

"Baiklah, kau menang. Kau mendapatkan tempat tidur."

"Aku ingin mendapatkanmu, bukan tempat tidur."

"Jangan mulai, Eunhyuk!"

"Kenapa kita tidak tidur bersama di tempat tidur saja? Kau takut? Bukankah kau bilang, kau straight? Seharusnya kau baik-baik saja. Terkecuali, kalau kau mulai merasakan sesuatu padaku."

Dafuq! Hell! Shit!

Eunhyuk memang paling jago bersilat lidah, Donghae kalah! Kalah lagi! Akhirnya ia naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, tidak peduli dengan tatapan genit Eunhyuk.

"Ganti bajumu sebelum tidur."

Donghae bangun lagi, tanpa sepatah kata pun ia membuka lemarinya, lalu memilih pakaian asal untuk ia pakai. Tidak lupa, ia memberikan selembar t-shirt tipis untuk di pakai Eunhyuk. Tidak ada maksud apapun, Donghae tidak ingin Eunhyuk kepanasan nantinya. Ini musim panas dan AC di kamar Donghae sedang rusak. Saking sibuknya, Donghae belum sempat memanggil tukang untuk membenarkan AC di kamarnya.

Mereka berdua berbaring di tempat tidur, posisi Donghae memunggungi Eunhyuk, sementara Eunhyuk terlentang menghadap langit-langit. Ingin tidur, tapi hatinya terlalu girang. Seperti mimpi, akhirnya ia bisa memasuki kehidupan Donghae.

"Kau sudah tidur?"

"Sudah."

"Bohong! Ngomong-ngomong, foto perempuan yang ada di ruang tengah itu pacarmu, ya?"

"Hm."

"Dimana dia sekarang?"

"Sudah di kremasi."

Eunhyuk menatap punggung Donghae, tak percaya. Tiba-tiba ia merasa sedikit tidak enak, ternyata pacarnya sudah meninggal.

"Maaf."

"Bukan masalah."

"Boleh aku tahu sebab kematiannya?"

"Di bunuh. Dia di bunuh beberapa hari sebelum hari pernikahan kami."

Hati Eunhyuk mencelos, Donghae pasti sangat menyayangi gadis itu. Dia bahkan masih menyimpan cincin pertunangan mereka.

"Oh, maaf."

Donghae membalikan tubuhnya, membuat Eunhyuk sedikit terkejut. Jelas saja, Eunhyuk sedang berbaring menghadap ke arah punggung Donghae, dan tiba-tiba saja Donghae berbalik, membuat mereka jadi saling berhadapan.

"Aku melihat tubuhnya bersimbah darah. Jelas ini pembunuhan, tapi kasus di tutup begitu saja. Jaksa yang berwenang atas kasus itu bilang, Sohyun bunuh diri."

Dapat Eunhyuk saksikan dengan jelas, bagaimana menderitanya Donghae dari sorot matanya yang sendu. Dugaannya benar, Donghae sangat menyukai dan menyayangi gadis itu. Jemari Eunhyuk terulur, ia mengelus lembut pipi Donghae. Menyingkirkan bulir-bulir airmata yang belum sempat mengalir.

"Dia sudah ada di tempat yang lebih baik."

"Tapi pembunuhnya masih berkeliaran!"

"Kau pasti bisa menangkapnya suatu saat nanti."

Pandangan mereka bertemu, Donghae menarik tangan Eunhyuk yang ada di pipinya. Entah sadar atau tidak, Donghae mengeliminasi jarak di antara mereka hingga bibir mereka saling bertemu. Eunhyuk memejamkan matanya, membiarkan Donghae memagut bibirnya dengan lembut. Ciuman pertama mereka yang dilakukan secara lembut, penuh perasaan, dan tidak terburu-buru.

"Selamat malam."

Donghae melepaskan pagutan mereka, ia kembali memunggungi Eunhyuk. Memejamkan matanya, lalu menangis dalam diam.

Biarkan aku mengisi kekosongan itu...

Biarkan aku yang menghapus airmatamu dan menganggantinya dengan kebahagiaan...

.

.

TBC


Maaf kl typonya banyak dan berantakan, saya ngepost buru2 pas mau jam pulang kantor nih...

Kenapa buru2? krn bulan ramdhan nnt saya mau hiatus ^^ jadi, kemungkinan ini chapter terakhir dan di lanjut lagi setelah lebaran...

Maaf dan terimakasih ^^

Chit Chat di BBM aja kaya biasa ya ^^ gak bisa balesin di sini satu2 maaf ^^ krn waktunya asli mepet

See ya next chapter ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee