BAD BOY'S TRAP
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Crime
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
Tolong baca note yang ada di bawah untuk menghindari kesalahpahaman ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
You've got to fortify my love, you should be mine...
.
.
Eunhyuk duduk terpekur di meja makan, matanya tidak bisa berhenti melirik bingkai foto yang ada di samping televisi. Nasi goreng di hadapannya tidak lagi menarik, begitupun dengan Donghae yang sudah berdandan rapi dengan kemeja hitam tipis dan celana jeans seperti biasanya. Mata Eunhyuk hanya terpaku pada senyum bahagia Donghae di dalam foto itu, Eunhyuk belum pernah melihat Donghae tersenyum begitu. Mungkin senyum itu sudah ikut hilang bersama Sohyun, gadis yang Donghae bilang calon istrinya.
Saat melihat Donghae hampir menangis kemarin, Eunhyuk ingin sekali membuatnya nyaman dengan kalimat manis atau sekedar menghiburnya dengan satu kata. Tapi Eunhyuk tidak tahu harus bilang apa? Bagaimana bisa ia menghibur atau membuat Donghae nyaman? Jatuh cinta saja baru kali ini. Jadi, Eunhyuk tidak tahu bagaimana perasaan Donghae. Eunhyuk tidak bisa memahami rasa sakit yang di alami Donghae, karena ia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.
"Aku dan Yunho akan memeriksa apartemenmu hari ini, sementara itu kau tunggu saja di sini. Aku akan pulang sebelum kau berangkat kerja."
Eunhyuk mengangguk pelan, matanya menolak untuk bertatapan langsung dengan Donghae. Sambil mendengarkan ucapan Donghae, matanya sibuk menatap sarapan yang dibuatkan Donghae. Tidak di makan, ia hanya mengaduk-aduknya sampai bentuknya jadi tidak jelas. Ini kah yang di sebut kecewa? Kecewa karena ternyata Donghae begitu menyayangi gadis itu.
"Petugas Lee, berhentilah bersikap terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja!"
"Ikuti saja perintahku kali ini. Kejadian semalam sudah termasuk ancaman yang serius, kau harus lebih berhati-hati. Ah, dan berhentilah memanggilku petugas! Aku seorang detektif sekarang!"
"Hm."
Mereka kembali melanjutkan sarapan dalam keadaan hening. Donghae tidak banyak bicara karena memang begitulah sifatnya, tapi Eunhyuk? Ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk bicara atau menggoda Donghae. Mengetahui masa lalu Donghae, membuat Eunhyuk tidak enak hati dan tidak percaya diri. Dasar cinta sialan! Sekalinya menghampiri, malah membuat susah! Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, Eunhyuk memilih tidak bertanya dan selamanya tidak tahu.
"Kenapa pendiam sekali? Biasanya kau banyak bicara."
"Kau mau dengar kata-kata kotor pagi-pagi? Dasar cabul!"
"Hei!"
"Apa? Bukankah kau sendiri yang bilang? Mulutku ini hanya bisa mengatakan sesuatu yang kotor dan vulgar. Kalau kau tidak mau mendengar hal-hal seperti itu, bersyukurlah karena hari ini aku sedang malas bicara. Terutama padamu!"
Donghae tertohok. Wah, baru saja Eunhyuk mengomelinya. Donghae benar-benar terkejut! Eunhyuk yang biasanya menggoda dan merayu Donghae, hari ini ketus sekali. Dia bahkan tidak banyak bicara. Dan apa katanya? Malas bicara pada Donghae? Tampaknya Donghae harus banyak mengucap syukur hari ini.
"Kenapa tiba-tiba marah padaku? Kau datang bulan?"
Eunhyuk mendesis, "Kau—wajahmu sangat menyebalkan!"
"Kau bahkan selalu memujiku tampan dan hari ini tiba-tiba mengeluh soal wajahku. Dasar aneh!"
"Tutup mulutmu, aku sedang malas berdebat."
Wah, hari apa ini? Donghae harus mencatatnya sebagai hari bersejarah. Hari dimana Eunhyuk berhenti menggodanya. Haruskah Donghae merayakannya? Donghae terkekeh pelan, ia mendadak merasa gemas bercampur girang melihat Eunhyuk murung hari ini.
"Baiklah, aku sudah selesai. Aku berangkat sekarang. Oh, kau tahu cara mencuci piring? Aku harap kau mau melakukannya untukku, kalau bisa bersihkan sesisi rumahku. Terima kasih."
"Fuck you, Lee Donghae."
"Hm, sama-sama. Aku berangkat. Bye."
Setelah Donghae pergi, Eunhyuk beranjak dari meja makan. Ia mendekat ke ruang tengah, kemudian mengambil bingkai foto yang terletak di samping televisi. Jemarinya mengelus bagian wajah Donghae yang tersenyum.
Bisakah aku melihatmu tersenyum seperti ini setiap hari?
"Kupikir kau tidak bisa tersenyum. Lihat, betapa manisnya senyummu. Tidak bisakah tersenyum untukku juga? Homofobik sialan! Kau hanya bisa membuatku naik darah setiap harinya!"
Eunhyuk menggerutu sambil menunjuk-nunjuk wajah Donghae di bingkai, ingin sekali melampiaskan semuanya pada Donghae.
Kibum Calling...
Ponsel Eunhyuk berdering, ia cukup terkejut melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sudah lama sekali Kibum tidak menghubunginya, terakhir bertemu saat di bar waktu itu ketika dia dan Siwon bertengkar hebat. Setelah kejadian itu dia menghilang entah kemana, dan sekarang kenapa tiba-tiba menghubungi lagi?
Mau apa dia?
.
.
Donghae masih duduk di kursinya, menghadap ke laptop. Mengamati dengan serius setiap kejadian yang telah di rekam CCTV. Kemarin apartemen Eunhyuk di serang penyusup, tidak ada kehilangan dan tidak ada jejak yang tinggalkan. Motif si pelaku mungkin ingin menakut-nakuti Eunhyuk, agar dia tidak ikut campur dalam kasus ini. Tapi kenapa hanya Eunhyuk?
"Donghae, ini laporan dari petugas Cha."
"Bersih?"
"Ya, tidak ada sidik jari. Si bangsat ini menggunakan sarung tangan. Dia menggunakan masker dan topi, meski terekam CCTV tapi wajahnya tidak terlihat. Wah, dia benar-benar sudah memperhitungkan semuanya, bahkan dia masuk dengan tenang. Oh, tanyakan pada Eunhyuk soal siapa siapa saja yang tahu password apartemennya."
"Oke. Oh iya, pengintaianmu? Kim Kibum bagaimana?"
Yunho kembali ke mejanya, kemudian ia kembali dengan map yang berisikan laporan selama pengintaian.
"Kim Kibum sekarang bekerja di Samsung Group sebagai Manager, tapi ku dengar dia akan segera dipindahkan ke New York. Setelah mengintainya selama beberapa hari, dia selalu menggunakan rute yang sama. Rumah, kantor, tempat latihan menembak, lalu kembali lagi ke rumahnya. Kalau memang dia adalah pelaku dari penyerangan ini, rasanya tidak mungkin. Dia terlalu sibuk melakukan ini dan itu. Oh, alibinya juga kuat. Kim Kibum ada di tempat latihan menembaknya saat Choi Siwon tewas."
"Kecuali, dia membayar seseorang untuk melakukannya. Lalu, bagaimana dengan Kim Heechul?"
Yunho membalikan halaman mapnya, "tidak ada aktifitas."
Beberapa hari ini, Yunho mengintai Kim Heechul, tapi tidak ada hasil apapun. Kim Heechul mengurung dirinya di apartemen dan tidak melakukan aktifitas di luar rumah selama beberapa hari.
"Maksudnya?"
"Kim Heechul mengurung dirinya di rumah setelah kematian Choi Siwon. Sehari setelah kematian Choi Siwon, aku sempat datang untuk mengintrogasinya. Sama seperti Kibum, alibinya kuat. Dia ada di kantor bersama Choi Siwon sampai jam empat sore, setelah itu mereka sama-sama pulang ke apartemen masing-masing dan tidak lagi keluar."
Dari semua daftar yang harus Donghae curigai, mereka berdua adalah kandidat paling kuat untuk membunuh Choi Siwon. Tapi masalahnya, Donghae tidak bisa menemukan motif pembunuhan ini dan bukti nyata yang kuat.
"Aku akan kembali lagi ke apartemen Choi Siwon, lalu ke perusahaannya."
"Oke. Kalau begitu aku akan kembali memeriksa semua rekaman CCTV dan laporan dari pengintaian. Hati-hati di jalan."
"Hm."
Sudah hampir dua minggu kasus Choi Siwon bergulir, tapi Donghae belum mendapatkan apapun. Donghae memukul stir mobilnya, frustasi. Kasus ini akan di tutup besok, dan Donghae belum menemukan petunjuk yang jelas. Oke, pertama-tama Donghae akan kembali lagi ke basement apartemen Choi Siwon. Donghae mengamati tiga CCTV yang di tembak oleh si pelaku, semuanya di tembak dari samping dan tentu saja dari sudut yang tidak terjangkau CCTV. Dua CCTV terdapat bekas satu tembakan, tapi CCTV terakhir seperti di tembak dua kali. Dua kali? Donghae naik ke atas mobil yang berada tepat di bawah CCTV ketiga, ia mengamatinya dengan seksama dan—dan satu peluru tertinggal di sana. Bibir Donghae melengkung ke atas, akhirnya ia tahu kepada siapa petunjuk terakhir ini mengarah.
"Kejahatan akan selalu meninggalkan bekas."
Sekarang, mari kita bahas satu-persatu apa saja yang sudah didapatkan Donghae.
Hari pertama penyelidikan, Donghae menemukan bekas luka tidak wajar di pelipis kanan Choi Siwon. Laporan otopsi mengatakan, bahwa luka di pelipis Choi Siwon terjadi sebelum dia melompat dari gedung tempatnya bekerja. Itu artinya, Choi Siwon sempat terlibat keributan dengan seseorang sebelum akhirnya dia tewas. Kemungkinan besar, orang itu juga yang membunuh Choi Siwon.
Hari kedua penyeledikan, Donghae memeriksa ponsel Choi Siwon, orang terakhir yang dihubungi Choi Siwon saat itu adalah Kim Heechul. Apartemen Choi Siwon juga sudah di selidiki dan tidak ada satupun barang yang hilang. Tidak ada tanda-tanda kerusakan pada pintu atau kerusakan pada barang lainya, tapi Donghae menemukan percikan darah di sudut meja. Sepertinya Choi Siwon sempat terlibat pertengkaran dengan si pelaku hingga pelipisnya terantuk sudut meja.
Hari ketiga penyelidikan, Donghae menemukan fakta bahwa seluruh CCTV di basement apartemen Choi Siwon telah dihancurkan dengan cara di tembak dari jarak jauh. Hal ini menegaskan, bahwa si pelaku adalah penembak jitu, atau setidaknya dia pernah ikut latihan tembak. Jelas ada bekas penembakan, tapi tidak ada suara tembakan dan tidak ditemukan satupun selongsong peluru di TKP. Itu artinya, pelaku menggunakan peredam. Dugaan Donghae, pelaku mungkin sudah sangat memahami situasi gedung apartemen Choi Siwon.
Hari keempat penyelidikan, Donghae menerima laporan dari Yunho yang mendatangi Kim Heechul. Menurut keterangan Kim Heechul, Choi Siwon sering menemui mantan pacarnya—Kim Kibum—belakangan ini. Alasannya, untuk menyelesaikan project yang tidak sempat tuntas karena Kim Kibum tiba-tiba keluar dari perusahaan. Seminggu setelah bertemu dengan Kim Kibum, Choi Siwon sering mengeluh sulit tidur dan gelisah saat malam hari. Kim Heechul pikir itu karena kelelahan bekerja, itu sebabnya Kim Heechul menyarankan Choi Siwon agar menemui dokter pribadinya untuk meminta obat tidur. Pada malam kejadian, Kim Heechul ada di apartemennya dan itu dibuktikan oleh asisten rumah tangganya yang juga ada bersamanya di dalam apartemen.
Hari kelima penyelidikan, Donghae menemui Kim Kibum selaku orang yang mendatangi apartemen Choi Siwon sebelum dia meninggal. Kim Kibum juga orang yang sering ditemui Choi Siwon sebelum akhirnya meninggal. Menurut Kim Kibum, Choi Siwon memang mengalami stress berlebih karena pekerjaannya yang terus bertambah. Belum lagi tekanan orangtua dan para pemegang saham lainnya, yang selalu menuntutnya terus bekerja secara sempurna. Pada malam kejadian, Kim Kibum memang menemui Choi Siwon diapartemennya. Dan pada saat Choi Siwon ditemukan meninggal, Kim Kibum sedang berada di tempat latihan menembaknya. Alibinya di buktikan dengan kartu membernya yang menunjukan dia datang pada pukul 22.30 dan selesai pukul 00.00. Sementara Choi Siwon di bunuh pada pukul 23.00.
Hari Keenam penyelidikan, Donghae menerima laporan dari Yunho, soal Kim Kibum yang mendatangi rumah mantan supir pribadi Choi Siwon beberapa hari setelah kematian Choi Siwon. Donghae pikir itu mencurigakan, namun kemudian kecurigaannya tidak menuai hasil apapun. Dari apa yang dilaporkan Yunho, dia kesana untuk mengucapkan perpisahan pada mantan supir Choi Siwon yang katanya akan pindah ke Busan. Pada malam kejadian, supir itu sedang ada acara keluarga di sebuah restoran.
Donghae menutup map yang berisikan laporan penyelidikan selama seminggu. Melihat laporan itu malah membuat Donghae sakit kepala!
Tunggu dulu. Donghae menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah tenang dan pikirannya mulai dingin, Donghae memejamkan matanya. Menyambungkan satu-persatu fakta untuk di susun menjadi gambaran yang jelas.
Latihan menembak...?
Otak Donghae bekerja cepat sekarang, ia meraih ponselnya lalu menghubungi Yunho. Ah, sialan! Kenapa otaknya baru bekerja cepat setelah kasusnya akan di tutup besok? Kalau hari ini Donghae tidak bisa menemukan bukti yang konkrit, maka ksus Choi Siwon akan berakhir seperti kasus Sohyun.
"Yunho, segera minta surat ijin penangkapan!"
"Apa? Mau menangkap siapa?"
"Aku akan jelaskan saat kita bertemu nanti, sekarang kau urus dulu surat ijin penangkapan. Cepat! Sebelum si brengsek itu melarikan diri ke luar negeri."
"Kalau kita salah menyergap orang, kita bisa kena hukuman suspensi! Kau yakin?"
"Kumohon, Yunho! Lakukan saja perintahku dulu!"
Setelah memutus sambungan teleponnya, Donghae banting stir dengan kecepatan tinggi. Sudah telat sebenarnya, tapi berdoa saja semoga dia belum melarikan diri ke luar negeri.
"Hei, sebenarnya ada apa?"
Yunho dan Donghae sampai di waktu yang hampir bersamaan. Tidak sabar menunggu Yunho, Donghae merebut surat penangkapan yang ada di tangan Yunho, lalu mendobrak pintu rumah seseorang. Mata Yunho mendelik, ia benar-benar terkejut dengan aksi Donghae yang terkesan buru-buru. Kalau dugaan Donghae salah dan mereka menyergap orang yang salah, maka hukumannya bukan suspensi saja, tapi juga ganti rugi karena merusak rumah orang!
"Kau ini kenapa?"
"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang, kita masuk dulu. Dia mungkin akan menghancurkan bukti yang akan memberatkannya, lalu kabur ke luar negeri. Sebelum itu terjadi, kita harus menggeledah rumahnya dan menangkapnya!"
Dia ada di sana, si pelaku yang selama ini di kejar-kejar oleh Yunho dan Donghae sedang menikmati makan siangnya. Wajahnya masih tetap datar, bahkan setelah Donghae mengacungkan pistol ke arahnya.
"Ada apa?"
"Kami akan menggeledah rumah ini."
"Kalian punya surat ijin?"
Donghae menunjukan surat ijinnya, kemudian ia memberi perintah pada Yunho. Donghae yakin, Kim Kibum belum membuang bukti-bukti kejahatannya karena dia sibuk membuat alibi.
"Temukan pistol Glock dan peredamnya. Dan juga, obat tidur Alprazolam."
"Dari mana kau tahu ada pistol Glock di sini?"
"Orang awam yang latihan menembak, terbiasa dengan pistol jenis Glock. Bukankah kau bilang dia latihan menembak setiap harinya? Aku kembali lagi ke basement, satu tembakannya ada yang meleset. Dia memang membersihkan semua selongsong pelurunya, tapi dia lupa dengan peluru yang masih menancap di bagian dalam CCTV ketiga. Satu-satunya tersangka yang latihan menembak hanya Kim Kibum, dan dia juga satu-satunya orang yang mendatangi Choi Siwon sehari sebelum ia tewas."
"Ketemu! Pistol Glock jenis 17C dan obat tidur Alprazolam. Tapi, pada malam kejadian dia ada di tempat latihan menembaknya."
"Petugas Cha yang bertugas menyelidiki ke sana mengirim pesan, dia tidak pernah ada di sana."
"Tapi kartu membernya?"
"Dia menyuruh mantan supir Choi Siwon untuk menggantikannya ke sana. Itu sebabnya dia menemui mantan supir Choi Siwon beberapa hari setelah dia membunuh. Untuk apa? Untuk menyuruhnya segera pergi dan tutup mulut. Sekarang, tahan dia, Jung."
Sesuai perintah Donghae, Yunho langsung memborgol kedua tangan Kim Kibum dan membawa kedua barang bukti yang akan memberatkannya dipersidangan nanti.
"Kalian pikir, bisa menahanku karena kedua benda itu?"
"Kau di beri hak untuk diam dan menunjuk pengacara, sekarang ikut kami ke kantor untuk introgasi lebih lanjut."
.
.
Introgasi berlangsung alot, Kim Kibum sama sekali tidak mau bekerja sama. Jelas-jelas semua bukti mengarah kepadanya, tapi dia terus saja diam dan sesekali tersenyum meremehkan. Yunho yang mengintrogasi, hampir saja kesabarannya habis dan menghajar Kim Kibum. Laki-laki bekulit putih itu saja menatap Yunho dengan tatapan mengejek, kalimat yang dia katakan hanya satu.
"Kau tidak bisa menahanku hanya karena sebuah pistol dan obat tidur."
Tidak usah di beri tahu juga Yunho sudah tahu! Itu sebabnya ia duduk di sini bersama Kim Kibum untuk membuatnya mengaku. Tapi, si brengsek itu benar-benar menyebalkan! Membuat stok sabar Yunho menipis.
"Aku tidak bisa! Aku tidak tahan! Aku benar-benar ingin menghajarnya!"
Jika sudah begitu, terpaksa Donghae yang turun tangan. Donghae masuk ke ruang introgasi, senyuman dingin Kim Kibum langsung menyapa. Dia menatap Donghae tajam, ekspresinya tidak menunjukan rasa bersalah sama sekali. Donghae yakin, kalau bukan gila dia pasti seorang psikopat.
"Kenapa kau membunuh Choi Siwon?"
"Laki-laki bajingan macam dia pantas mati. Lagi pula cepat atau lambat, semua orang akan mati. Aku hanya mempercepat prosesnya saja."
Dia sudah gila! Kim Kibum bicara begitu terus terang pada Donghae, berbeda dengan saat ia bersama Yunho tadi. Hal itu jelas saja membuat Yunho naik darah, ia menendang kursi dan memaki semua orang yang ada di balik ruang introgasi. Mata musangnya menatap tajam ke arah Kim Kibum dari balik kaca.
"Jadi kau yang membunuhnya?"
"Ya."
"Kau mencekokinya dengan obat tidur dan lalu menyerangnya selagi dia tidak berdaya?"
"Tidak."
"Selagi aku masih bersikap baik, jawab pertanyaanku dengan benar. Kenapa kau membunuh Choi Siwon?"
Sekali lagi Kim Kibum tersenyum, ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Sikapnya saat ini benar-benar menunjukan bahwa dia punya kelainan mental, mana ada orang habis membunuh bisa tenang begitu? Dia bahkan selalu tersenyum.
"Saat dia masih menjadi kekasihku, dia ketahuan bermain dengan laki-laki lain di belakangku. Dia menjanjikan ini dan itu padaku, tapi akhirnya dia membuangku. Dia hanya bersenang-senang dengan tubuhku, setelah itu pergi mencari laki-laki lain. Kau pikir laki-laki seperti dia pantas hidup? Dia bahkan mengataiku jalang dan tidak tahu diri karena menginginkan uangnya. Uang? Dia pikir semua bisa selesai dengan uang? Kenapa aku harus tertarik pada uangnya ketika aku mencintainya dengan tulus?"
"Apa alasanmu keluar dari perusahaan?"
"Jelas karena sakit hati! Semua orang di kantor selalu membicarakan aku! Aku di perlakukan seperti sampah! Dia bermesraan dengan kekasih barunya dihadapanku, kau pikir aku bisa tenang dan diam saja? Aku memutuskan keluar dari perusahaan, tidak peduli dengan project yang akan berhenti di tengah jalan. Saat aku ingin melupakannya, dia tiba-tiba datang padaku dan memohon padaku untuk menyelesaikan project yang tertunda. Aku menuruti keinginannya, dengan harapan kami masih bisa berteman. Lalu apa? Dia kembali bersikap kurang ajar padaku. Setelah semuanya selesai, dia kembali memperlakukan aku seperti sampah! Dia dan sepupunya selalu mengolok-olok aku."
"Oleh sebab itu kau membunuhnya?"
"Aku hanya membantunya. Dia bilang tidak bisa tidur, 'kan? Sekarang dia bisa tidur selamanya."
"Kim Kibum!"
"Apa?"
Donghae benar-benar tidak tahan melihat wajah Kim Kibum. Melihatnya, membuat Donghae teringat pada kasus Sohyun. Apakah pembunuh Sohyun waktu itu juga bersikap sedingin ini? Apakah dia tidak merasa bersalah setelah membunuh Sohyun? Mengingat semua itu, membuat Donghae ingin marah.
"Sekarang katakan, bagaimana caramu membunuh Choi Siwon?"
"Kau yakin punya waktu untuk mendengar penjelasanku? Saat aku selesai dengan penjelasanku, maka Eunhyuk sudah tidak ada lagi di dunia ini."
Mendengar nama Eunhyuk di sebut, membuat darah Donghae mendidih. Ia mencengkram kerah kemeja Kim Kibum lalu memukul wajahnya dengan bogem mentah. Brengsek! Kim Kibum bahkan mencelakai Eunhyuk juga.
"Apa yang kau lakukan padanya? Dimana dia sekarang?"
"Kau mungkin hanya punya waktu limabelas menit sebelum dia kehabisan darah dan akhirnya mati mengenaskan di apartemen Choi Siwon."
Donghae ingin memukul Kim Kibum sekali lagi, tapi waktunya sedang tidak tepat. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari meninggalkan ruang introgasi. Tidak boleh! Eunhyuk tidak boleh kenapa-napa! Kalau terjadi sesuatu padanya, maka rasa bersalah Donghae akan menjadi dua kali lipat.
Kau tidak boleh mati, sialan!
.
.
Lutut Donghae lemas dan kepalanya pusing, baju dan tangannya juga masih berlumuran darah. Sejak sampai di rumah sakit, Donghae tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Ia terus saja memandangi tangannya yang berlumuran darah Eunhyuk, hatinya gelisah menunggu kabar dari dokter yang sedang menanganinya. Untuk kedua kalinya, dengan mata kepalanya sendiri, Donghae melihat seseorang di ambang mati karena kelalaiannya. Donghae tidak tahu, apa yang akan terjadi jika Donghae terlambat datang? Karena kelalaiannya, mungkin satu nyawa akan melayang sia-sia.
"Dia akan baik-baik saja, dokter bilang tusukan di perutnya tidak terlalu dalam."
Donghae mengangguk pelan, tidak begitu fokus pada apa yang dikatakan Yunho. Matanya sibuk memperhatikan kedua telapak tangannya yang berlumuran darah, kejadian hari ini sama persis dengan kejadian tiga tahun yang lalu. Donghae kembali duduk di ruang tunggu rumah sakit, dengan tangan dan baju yang berlumuran darah. Tidak, kejadian tiga tahun yang lalu tidak boleh terulang! Eunhyuk tidak boleh mati!
"Detektif Lee?"
"Aku, dokter. Bagaimana?"
"Luka tusuknya tidak terlalu dalam, sehingga tidak melukai organ dalamnya. Hanya saja, dia banyak kehilangan darah. Dia sedang istirahat di dalam, kau sudah boleh masuk. Kapan walinya akan datang?"
"Oh, detektif Jung sedang menghubunginya. Mungkin sebentar lagi."
"Baiklah kalau begitu."
"Terima kasih banyak, dokter."
Lutut Donghae masih lemas, tapi ia memaksakan diri untuk tetap masuk dan menghampiri Eunhyuk. Rasa cemas ini, terasa sangat mencekik. Donghae bahkan lupa, bagaimana cara bernafas yang baik. Sepertinya, sejak tadi ia banyak menahan nafas.
"Tidak usah melihatku dengan wajah semenderita itu! Memangnya ini pemakaman? Aku belum mati!"
Nafas Donghae terasa lebih ringan sekarang, ia bahkan bisa duduk nyaman di samping tempat tidur Eunhyuk. Mendengar Eunhyuk dalam keadaan sadar dan langsung memakinya seperti itu, membuat Donghae bisa bernafas lega. Lihat wajah si berandalan itu, sangat pucat dan tidak berdaya, tapi mulutnya tetap saja bisa memaki.
"Hanya di tusuk seperti itu tidak akan membuatku mati!"
"Pasien macam apa yang banyak sekali bicara?"
"Pasien macam aku!"
"Kau ini bodoh atau tidak punya otak? Kau selalu menang berkelahi dengan preman manapun, tapi kenapa bisa tertusuk pisau? Kim Kibum bahkan jauh lebih kurus darimu, dan kau tidak bisa mengalahkannya? Lagi pula, sedang apa kau di apartemen Choi Siwon? Kenapa bisa bertemu dengannya di sana?"
"Kau tidak lihat bagaimana wajahnya? Dia juga babak belur! Luka di wajahnya bahkan lebih banyak dari luka di wajahku, dia bisa menang karena dia bawa pisau! Ah, kau memang petugas Lee sialan! Bagaimana bisa kau mengajak pasien berdebat? Berencana membunuhku perlahan?"
"Harus berapa kali aku bilang? Aku detektif sekarang! Berhenti memanggilku petugas!"
"Maaf, bisa kalian tenang? Ini rumah sakit."
Mereka berdua langsung tutup mulut rapat-rapat, seorang suster datang dan menegur mereka berdua. Lagi pula, kenapa setiap bertemu mereka selalu berdebat? Bahkan hal yang didebatkan juga tidak penting.
"Lain kali, jangan sampai tertusuk lagi."
"Kalau begitu, kau saja yang menusukku. Tusukan pisau Kibum tidak ada apa-apanya, di bandingkan tusukanmu."
"Dasar cabul!"
"Kau penikmat cabul!"
"Kau—"
Oke, Donghae harus mengalah—lagi—ini rumah sakit dan Donghae tidak mau membuat keributan di rumah sakit. Donghae menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Nada suaranya harus tetap terjaga, kalau mau berteriak harus menunggu sampai si berandalan ini keluar dari rumah sakit.
"Jadi, bagaimana bisa kau bertemu Kim Kibum di apartemen Choi Siwon?"
"Dia meneleponku. Katanya, kalau aku datang maka dia akan memberitahuku siapa yang membunuh Choi Siwon."
"Dan kau datang begitu saja?"
"Hm."
"Dasar bodoh!"
"Apa? Kau mau berdebat lagi?"
Tanpa sadar nada suara mereka kembali meninggi, suster yang tadi menegur mereka kembali datang dan memelototi mereka berdua. Donghae membungkuk sopan pada suster itu, ia juga menggumamkan kata maaf sambil terus-terusan membungkuk. Setiap kali berdekatan dengan Eunhyuk, selalu saja ribut. Heran.
"Orangtuamu akan segera datang."
"Kau benar-benar menyebalkan! Masalah sepele seperti ini saja harus menelepon orangtuaku, memangnya aku remaja? Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Terserah. Lain kali, jangan ikut campur urusan polisi!"
"Kau cemas padaku, ya? Kau manis sekali."
"Terserah!"
Donghae beranjak dari kursinya, ia malas bertengkar dengan Eunhyuk. Percuma sekali ia sempat cemas setengah mati, orang yang dicemaskannya bahkan terlihat sangat sehat. Mulutnya masih bisa memaki dan berkata-kata kotor dengan lancar.
"Hei, petugas Lee!"
"Aku detektif, sialan!"
Aku tidak tahu sejak kapan kau ada di sudut hatiku. Meski tak terlihat, tapi aku dapat merasakan kehadiranmu...
Apa ini? Kenapa aku seperti ini?
.
.
ooODEOoo
Seminggu berlalu dengan cepat, kasus Choi Siwon sudah selesai dan Eunhyuk juga sudah keluar dari rumah sakit. Berandalan manis itu sudah kembali ke apartemennya dan kembali ke aktifitas seperti biasanya, berkelahi dan membuat onar. Tapi sayangnya, Donghae tidak akan mengejar-ngejar Eunhyuk atau berandalan lainnya seperti dulu. Sekarang, ia sedang disibukan dengan kasus baru.
Mengingat soal kejar-kejaran, Eunhyuk pasti akan sangat marah dan tidak senang melihat wajah para polisi baru yang kurang tampan. Bocah itu pasti akan mengeluh pada Yoochun, bilang bahwa dia tidak suka di tangkap oleh polisi yang wajahnya tidak enak di pandang. Donghae terkikik geli, entah kenapa ia jadi banyak mengetahui sifat Eunhyuk.
"Aku mencium aroma orang yang sedang jatuh cinta. Baunya sedikit tidak enak, karena yang jatuh cinta adalah homofobik munafik."
"Mati sana, Jung!"
"Biasanya, orang yang cepat mati itu yang munafik. Jadi, silahkan duluan."
"Sialan!"
"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan kasus tiga tahun yang lalu?"
Oh, benar. Donghae sedang sibuk mengusut kasus tiga tahun yang lalu. Sayangnya, tidak ada petunjuk apapun yang khusus. Terlalu sulit mengusut kasus yang sudah di tutup. Tapi, menurut senior yang menangani kasus ini, Sohyun terlibat konflik dengan beberapa temannya di perusahaan sebelum akhirnya dia tewas. Katanya, ada beberapa orang yang iri dengan prestasi Sohyun di kantor dan menjadi kesayangan presiden direktur. Maksud kesayangan di sini, bukan dalam arti negatif. Presiden direktur menyukainya karena dia gadis yang tekun, pintar, dan cekatan, hingga tak heran jabatannya cepat naik.
"Aku sedang mencari teman-teman lama Sohyun di perusahaan itu. Aku curiga, mungkin salah satu dari mereka yang membunuh Sohyun. Ku dengar dari Jungsoo Sunbaenim, ada beberapa orang di perusahaan tempat Sohyun bekerja yang iri padanya."
"Akan sulit melakukan penyelidikan tanpa ijin."
"Itu sebabnya aku tidak bertindak gegabah."
"Petugas Lee! Petugas Jung!"
Suara familiar itu menggema di seluruh ruangan, mengundang tatapan semua orang yang ada di ruangan itu. Lagi-lagi Eunhyuk datang, kali ini dia menggunakan t-shirt putih tipis tanpa lengan dengan rip jeans yang robeknya—lagi-lagi—sampai ke paha. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menambahkan kesan cool dan hot secara bersamaan. Well, katakan saja dengan singkat. Dia sangat sexy.
"Berandalan itu mau sampai kapan memanggil kita petugas? Meski sudah resmi menjadi detektif di kepolisian Korea Selatan, aku tetap merasa jadi petugas kecil ketika mendengarnya memanggilku begitu."
Donghae angkat bahu, ia sudah bosan berdebat dengan Eunhyuk soal petugas dan detektif. Bagi Donghae, selama dia hidup dan masih bisa tertawa selepas itu, tidak masalah Eunhyuk mau memanggilnya apapun juga. Ya, begitu saja sudah cukup.
"Mau apa datang lagi? Wajahmu kenapa lagi?"
"Oh, di hajar oleh pengunjung bar."
"K—kau—melakukan—hm—itu?"
"Itu apa?"
"Hm, BDSM?"
"Memangnya aku sudah gila? Aku justru menolak semua orang yang mau menyentuhku! Makanya aku di hajar."
Mata Donghae membulat, menolak sentuhan orang lain? Bukankah Eunhyuk selalu haus akan sentuhan? Apa kejadian seminggu yang lalu melukai otaknya juga? Kenapa mendadak berubah? Dia kerasukan apa? Begitu banyak pertanyaan di kepala Donghae, rasanya luar biasa sekali mendengar jawaban Eunhyuk hari ini.
"Karena aku sudah punya kekasih, jadi aku memutuskan untuk tidak menerima tawaran tusuk-menusuk, hisap-menghisap atau apapun sebutannya."
"Jaga cara bicaramu, Eunhyuk! Ini kantor polisi!"
Tunggu.
Apa katanya?
Kekasih?
Donghae menatap Eunhyuk kecewa, dia sudah punya kekasih rupanya. Kecewa? Tidak! Tidak mungkin! Donghae pasti sudah gila. Lupakan yang barusan. Seharusnya Donghae senang, kalau dia sudah punya kekasih. Itu artinya, dia akan berhenti menggoda Donghae.
"Wah, selamat. Ternyata ada juga orang gila yang mau padamu."
"Hm, kau mengakui dirimu sendiri gila rupanya."
"Apa?"
"Kau kekasihku. Siapa lagi? Bukankah aku sudah bilang? Kau miliku. Hanya aku. Nanti malam, temui aku di bioskop. Kita nonton film horror. Kalau kau tidak datang, aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kau bayangkan. Camkan itu."
Setelah berkata begitu, Eunhyuk berlalu pergi. Tidak peduli dengan tatapan semua orang yang terheran-heran, bahkan ada beberapa di antara mereka yang memegangi tengkuknya karena terkejut. Semua orang berpikir, bahwa Donghae benar-benar berpacaran dengan Eunhyuk. Yunho bahkan sampai tidak bisa menutup mulutnya.
"Kau berpacaran dengannya?"
Yang di tanya masih mematung dan melotot. Jangan tanya! Donghae pun tidak mengerti dengan situasinya sekarang. Tanpa persetujuan apapun darinya, ada orang yang memaksa jadi kekasihnya. Eunhyuk itu orang macam apa sebenarnya? Masuk sembarangan ke dalam hidupnya, kemudian memaksanya untuk jatuh tersungkur. Dalam kebingungannya, Donghae masih bisa tersenyum tipis. Diam-diam, ia merasa lega. Ternyata, kekasihnya bukan orang lain.
"Kau benar-benar munafik! Aku harus memberitahu Jaejoong soal ini. Wah, dia pasti akan sangat terkejut dan langsung memakimu begitu dia punya waktu luang. Kau selalu mencibirku dan Jaejoong, tapi pada akhirnya kau juga sama seperti kami."
Ocehan Yunho hanya numpang lewat saja di telinga Donghae. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Donghae ingin menyingkirkan rasa menggelitik di hatinya, tapi ia justru tersenyum karenanya.
"Hei, kau mulut keran! Lebih baik kita melakukan pengintaian sekarang."
"Tidak bisa! Aku harus memberitahu Jaejoong soal ini!"
Aku memungkirinya, tapi sesuatu di sudut hatiku terus melakukan hal yang aku larang...
.
.
"Berhentilah main-main, Hyukjae! Datang ke perusahaan dan bekerjalah di sana. Dengar, sejak kematian Siwon, perusahaan jadi tidak stabil. Ambil alih posisi Siwon, agar kau bisa mewarisi apa yang telah ayah perjuangkan."
Sudah hampir dua jam ayahnya mengoceh soal perusahaan, telinga Eunhyuk keriting rasanya. Mau di paksa sampai jungkir balik pun, Eunhyuk tidak akan mau datang ke perusahaan hanya untuk menyelamatkan citra ayahnya. Kenapa harus? Ayahnya saja tidak peduli dengan mimpi atau cita-cita Eunhyuk.
"Ayah akan melakukan apapun untukmu, asal kau datang ke perusahaan."
"Hwaejangnim, aku banyak urusan. Permisi."
"Lee Hyukjae! Sampai kapan kau akan berkeliaran seperti gelandangan? Sampai kapan kau akan jadi berandalan dan membuat ibumu susah? Kau ingin melihat ibumu mati dulu, baru kau mau berhenti?"
Sial! Jika nama ibu sudah di bawa-bawa, Eunhyuk tidak bisa berkutik sama sekali. Terlebih, keadaan ibunya sedang sakit. Eunhyuk tahu, ibunya sakit karena banyak memikirkannya. Apa lagi setelah insiden penusukan waktu itu, ibunya semakin cemas padanya. Tapi egonya masih terlalu tinggi, Eunhyuk tidak mau pulang kalau ayahnya masih saja mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli padanya.
"Jangan bawa-bawa ibu, ini masalah antara kau dan aku."
"Kau masih marah karena kejadian tiga tahun yang lalu? Ayah melakukannya untukmu!"
"Tidak. Kau tidak pernah melakukan apapun untukku, kau melakukan itu untuk dirimu sendiri!"
Kejadian tiga tahun yang lalu, berani sekali ayahnya membahas itu lagi. Setelah apa yang dia lakukan, dia masih berani bicara pada Eunhyuk dan membahasnya seolah-olah kejadian itu hal yang sepele. Tidak tahukah dia? Jika masalah tiga tahun yang lalu terungkap, maka hidup Eunhyuk akan berakhir hari itu juga.
"Lee Hyukjae!"
Panggilan ayahnya ia abaikan, Eunhyuk terlalu lelah untuk berdebat dengan ayahnya. Omong kosong, semua yang dikatakan ayahnya hanya omong kosong. Bagi ayahnya, Eunhyuk hanyalah alat untuk menggerakan perusahaan.
"Hai, kudengar kemarin kau berkelahi dengan pengunjung di bar. Benarkah? Apa kau terluka?"
Kebetulan sekali, Eunhyuk sedang butuh teman bicara dan di sini lah Cho Kyuhyun berada. Menunggunya, di depan gedung perusahaan ayahnya. Laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit pucat itu menyerahkan sekaleng minuman dingin, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Eunhyuk.
"Sedang apa di sini?"
"Aku bekerja di sini, kau lupa? Tadi aku melihatmu masuk ke ruangan Hwaejangnim, jadi aku memutuskan untuk menunggumu di sini."
Ah, benar. Kyuhyun adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ayahnya. Seingat Eunhyuk, ayahnya Kyuhyun adalah sahabat ayahnya semasa sekolah dulu.
"Hei, jawab pertanyaanku. Kau berkelahi dengan pengunjung di bar?
"Hm."
"Kenapa? Apa kau terluka?"
"Aku menolak ajakan sexnya dan tiba-tiba dia marah. Sepertinya tidak ada. Hanya memar-memar sedikit saja di wajah."
"Tidak biasanya kau menolak ajakan sex dengan tinjumu."
"Aku ingin berhenti dari pekerjaan itu, tapi aku suka bekerja di bar. Kemungkinan, aku hanya akan meninggalkan sexnya dan tetap bekerja di sana sebagai bartender biasa."
Kyuhyun mendengus, ia melirik Eunhyuk dengan ekor matanya.
"Kau pasti punya kekasih."
"Begitulah."
Hati Kyuhyun seperti teriris, tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum untuk Eunhyuk. Laki-laki yang ia kenal di bar sekitar dua tahun yang lalu itu, akan selalu menjadi mimpi yang sulit di raih. Sebenarnya, Kyuhyun tidak kekurangan apapun. Tampan, kaya, pintar, dan lembut. Banyak orang yang akan menyerahkan apapun demi mendapatkan Kyuhyun. Tapi sayangnya, Kyuhyun sudah terlanjur memberikan hatinya pada berandalan yang hobinya bicara kasar dan vulgar.
"Kau tahu aku sangat menyukaimu, tapi kau malah mencari laki-laki lain. Bajingan mana yang sudah membuatmu jatuh cinta, hingga kau rela meninggalkan pekerjaanmu? Huh? Katakan padaku."
"Kita hanya mantan partner sex. Kau tidak berhak menyukai aku, begitu pula sebaliknya."
Kalimat itu lagi, dari semua ucapan yang pernah Eunhyuk sampaikan padanya, kalimat itu adalah yang paling Kyuhyun benci.
"Turunkan aku di depan."
"Mall?"
"Hm. Aku ada janji dengan pacarku."
Sebelum Eunhyuk benar-benar turun dari mobilnya, Kyuhyun menarik lengan Eunhyuk untuk menahannya. Meski tahu tidak akan bisa memilki Eunhyuk, setidaknya Kyuhyun harus mengatakan sesuatu yang—mungkin—sedikit kasar.
"Kuharap dia laki-laki bajingan yang hanya memanfaatkanmu. Kutunggu kabar kalian putus secepatnya."
Sialan, Kyuhyun mengatakan hal itu sambil menatap Eunhyuk serius. Jujur saja, Eunhyuk sedikit berdesir. Tapi bukan karena Kyuhyun, Eunhyuk membayangkan Donghae lah yang berkata seperti itu. Betapa menggairahkannya, kalau Donghae berkata seperti itu pada Eunhyuk dengan suara yang berat dan rendah.
"Cari pacar dan berhentilah mengangguku!"
Eunhyuk melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun, ia berjalan tergesa-gesa, takut jika Kyuhyun akan mengikutinya dan mengacaukan malam romantisnya bersama Donghae. Meski penampilannya kalem, Kyuhyun bisa sangat menakutkan jika menginginkan sesuatu. Apa lagi, ketika apa yang diinginkannya di sentuh orang lain.
"Oh, petugas Lee datang! Sudah lama menungguku?"
"Detektif Lee, Eunhyuk. Dan aku di sini bukan untuk menunggumu."
"Lalu apa?"
"Itu—hm, aku sedang mengintai."
"Orang ini tidak pandai berbohong. Kau mau mengintai apa di sini? Huh? Dasar bodoh!"
Donghae berdeham, menutupi rasa gugupnya. Sebenarnya ia tidak mau datang, tapi perasaannya tidak enak. Takut kalau Eunhyuk menunggunya di sini dan tidak akan pulang sampai ia datang. Oke, itu terlalu hiperbola, terlalu drama. Tapi itulah yang terpikirkan Donghae.
"Kenapa? Kau datang karena cemas padaku? Takut kalau aku akan terus menunggumu di sini, dan tidak akan pulang sampai kau datang. Kau berpikir begitu?"
Lagi-lagi Donghae berdeham. Sialan! Eunhyuk mengetahui isi pikirannya. Memangnya dia dukun? Kenapa sok tahu? Kalaupun memang tahu, haruskan dia mengatakannya kencang-kencang? Dasar tidak tahu malu!
"Diam artinya iya. Dasar naif! Memangnya aku anak anjing? Kalau kau tidak datang, aku tinggal pulang atau mencari laki-laki tampan di sekitar sini untuk aku ajak kencan lalu kuajak ke hotel! Huh!"
"Auh! Mulutmu itu! Ngomong-ngomong, kenapa telat? Kau yang mengajakku kemari dan kau juga yang telat datang!"
"Oh, aku ke perusahaan ayahku dulu. Setelah itu bertemu Kyuhyun di jalan, mengobrol sebentar, lalu dia mengantarku kemari. Kenapa?"
"Siapa itu Kyuhyun?"
"Mantan partner sex. Kenapa? Kau cemburu? Ya ampun, manisnya Lee Donghae. Cemburu? Cemburu? Cemburu?"
"Tutup mulutmu, sialan!"
Meski Donghae terus mengatainya sialan, bodoh, dan sebagainya, Eunhyuk tetap merasa gembira. Mulutnya memang memaki, tapi tatapan hangat Donghae padanya bisa di lihat dengan jelas. Donghae selalu menatap Eunhyuk dengan tatapan cemas, lembut, dan berbinar. Donghae itu tipe laki-laki yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu, karena matanya selalu berkata jujur.
"Kau belum mengobati lukamu?"
"Tidak sempat."
"Ikut denganku."
"Ke hotel?"
"Rumah!"
"Ah, kau mau melakukannya di rumah."
Donghae mengepalkan tangannya, ia menggeram kesal sambil menatap tajam wajah Eunhyuk. Ingin rasanya menyumpal mulut Eunhyuk dengan sesuatu!
"Aku akan mengobati lukamu!"
"Setelah selesai mengobati luka, bolehkah aku menginap di rumahmu?"
Langkah Donghae terhenti, ia menutup kembali pintu mobilnya, lalu berbalik menghadap Eunhyuk. Kali ini, ia tidak akan terjebak lagi. Mata Donghae menatap Eunhyuk sungguh-sungguh, dalam hati ia membulatkan tekad untuk menolak keinginan Eunhyuk. Kata-kata penolakan sudah ada di tenggorokan, Donghae hanya perlu membuang nafas dan kata-kata itu akan keluar. Tapi sialnya, kata-kata itu tertelan kembali. Bagaimana tidak? Eunhyuk memainkan bibirnya, menyatukan kedua tangannya di dada lalu merengek dan memohon.
"Boleh, ya?"
"Tidak!"
"Orang yang menghajarku di bar pasti akan mencariku ke rumah, lalu dia—"
"Aku tidak—"
"Boleh? Terima kasih."
"Sialan!"
Alangkah baiknya jika setiap hari seperti ini. Bertengkar, berdebat, dan tertawa bersamamu...
.
.
"Apa yang akan kau lakukan jika pembunuh kekasihmu tertangkap?"
Donghae diam sejenak, matanya masih fokus mengolesi luka-luka di wajah Eunhyuk dengan salep dan antiseptic. Jika di lihat dari dekat, ada banyak sekali bekas luka di wajahnya. Di dahinya ada satu bekas jahitan, di bawah matanya seperti ada luka sobek kecil, dan masih banyak lagi luka-luka lainnya. Terutama di bagian lengan dan perut. Bekas luka tusukan yang di torehkan Kim Kibum masih membekas dengan jelas. Mengingat hal itu, Donghae mendadak ingin marah dan menghajar Kim Kibum.
"Bertanya, kenapa dia membunuh Sohyun?"
"Hanya bertanya?"
"Lalu, aku harus bagaimana? Menghajarnya? Membunuhnya juga? Apapun yang aku lakukan, tidak akan merubah apapun. Sohyun juga tidak akan tiba-tiba hidup lagi."
Semakin dekat dengan Donghae, Eunhyuk semakin merasa Donghae terlalu polos dan naif sebagai laki-laki. Hatinya terlalu baik dan tidak punya dendam sama sekali. Eunhyuk penasaran, apa Donghae tidak lelah menjadi manusia baik-baik? Menjadi baik repot, kadang ada saja orang tidak tahu diri yang memanfaatkan kebaikan orang lain.
"Lalu, bisakah kau melupakan Sohyun dan membiarkan aku mengisi tempatnya di hatimu?"
Tidak ada jawaban, Donghae beranjak dari tempatnya lalu melemparkan pakaian yang baru ia ambil dari lemari ke wajah Eunhyuk.
"Pakai baju! Atau aku usir kau!"
Pemandangan Eunhyuk yang telanjang dada dan hanya menggunakan celana dalamnya, sungguh membuat Donghae risih. Matanya terus saja melirik Eunhyuk secara otomatis, bahkan saat berusaha mengalihkan pandangannya, matanya akan tetap melirik ke arah Eunhyuk. Eunhyuk dan kebiasaan telanjangnya, benar-benar membuat Donghae kelimpungan!
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
Kalau dulu Donghae akan menjawab tidak dengan mantap pada semua orang yang mengaku suka padanya, kenapa hari ini sulit sekali berkata tidak? Donghae malah menatap Eunhyuk dan berpikir, jawaban apa yang akan diberikannya pada Eunhyuk? donghae tidak pernah mengijinkan siapapun masuk ke dalam hatinya, tapi Eunhyuk sudah masuk kesana tanpa ijin. Dia bahkan menempati tempat yang istimewa tanpa Donghae sadari.
"Aku tidak tahu."
"Aku tidak akan menyerah."
Eunhyuk menghampiri Donghae, memeluknya dari belakang, lalu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Donghae.
"Lepas!"
"Meskipun kau terus mendorongku agar terus menjauh, aku akan bangun lagi dan terus datang padamu. Aku akan terus melakukannya sampai kau jatuh dan tersungkur untukku."
"Lepaskan a—"
Donghae berbalik untuk melepaskan rengkuhan Eunhyuk, tapi kemudian wajah mereka bertemu dan Eunhyuk menyatukan bibir mereka dengan lembut. Donghae yang awalnya menolak, mulai terbawa suasana. Ia meraih pinggang Eunhyuk agar mendekat padanya, lalu memperdalam pagutan mereka. Sejak awal, Donghae selalu menolak semua ini. Hanya berusaha, tapi tidak pernah benar-benar menolak.
Tangan mereka berdua sama-sama tidak bisa diam. Donghae meraba seluruh lekuk tubuh Eunhyuk, sementara Eunhyuk sibuk memereteli kancing piyama Donghae. Kalau tahu akan di lepas, untuk apa Donghae repot-repot mengancingkannya?
Eunhyuk mendorong Donghae ke tempat tidur, sehingga Eunhyuk berada di atas tubuh Donghae. Bibir mereka masih bertaut, bagian bawah mereka juga beradu dengan intim.
Yunho Calling...
Pagutan bibir mereka terlepas, Donghae meraih ponselnya yang berada di samping kepalanya. Tanpa mempedulikan wajah masam Eunhyuk, ia mendorong Eunhyuk menjauh dari tubuhnya, lalu mengangkat panggilan Yunho. Biasanya, ada yang sangat penting kalau dia menelepon malam-malam begini.
"Ada apa?"
"Laporan tentang Kim Kibum sudah selesai, kronologi saat dia membunuh Choi Siwon juga sudah terperinci. Tapi—"
"Tapi apa?"
"Dia tidak ada hubungannya dengan kasus tiga tahun yang lalu."
Donghae menghela nafas panjang, ternyata dugaannya salah. Sepertinya, mulai besok Donghae akan melakukan penyelidikan diam-diam mengenai kasus tiga tahun yang lalu. Bagaimanapun caranya, Donghae harus menangkap pembunuh Sohyun.
"Aku akan ke kantor untuk melihat laporannya."
"Hm, kutunggu."
Melihat Donghae melepaskan piyamanya, lalu berganti pakaian dengan setelan kemeja, membuat Eunhyuk menganga tidak percaya. Apa-apaan Donghae sialan itu? Dia berencana meninggalkan Eunhyuk dalam keadaan yang sudah terlanjur? Mereka sudah setengah jalan tadi!
"Kau mau kemana?"
"Ke kantor, melihat laporan Kim Kibum."
"Lalu aku?"
"Kau kenapa?"
"Kau tidak lihat? Aku sudah setengah tegang!"
"Ah, selesaikan saja sendiri. Aku pergi."
"Lee Donghae, bajingan! Terkutuk kau!"
Jangan bertanya karena jawabannya sudah jelas. Kau sudah menempati tempat yang istimewa, bahkan sebelum aku menyadarinya. Aku hanya terlalu naif untuk mengakui semua itu...
.
.
TBC
Hai, gak bosen-bosennya saya minta maaf kl masih ada typo dan berantakan ^^
Ih! saya mau publish pas udah lebaran...eh taunya saya malah datang bulan...gak ada kegiatan pas malem jadi ya ngetik deh beginian heheheh ini ada yg nyumpahin saya dapet deh pasti =_= hahahah
Oke, hm maaf kl ini gak bagus dan gak masuk akal, kejadian crime di atas pure pemikiran saya. krn saya bukan penjahat beneran, jadi mungkin ada banyak kekurangannya. maaf ya,semua berdasarkan imajinasi aja bukan hal nyata, jadi jangan terlalu di sangkut2in sm kasus beneran ya ^^ bedakan mana fiksi mana yg nyata heheh. saya baru belajar nulis genre crime, jadi pasti banyak kekurangannya ^^ maaf jg kl imajinasinya terbatas cm sampe di situ... sejujurnya saya emang kurang yakin kl harus nulis crime, tp saya pengen keluar dr zona nyaman yg itu2 aja, jadilah saya nekad nulis ini hahahah. maaf ya..
Oh, terima kasih kritik dan saran di chapter kemarin, sudah di perbaiki ^^ jadi semoga makin nyaman bacanya ^^
Sekali lagi, mohon maaf atas kekurangan di sana-sinnya, setiap harinya saya selalu berusaha memperbaiki cara menulis saya dan berusaha yg terbaik ^^ makasih buat semua yang selalu nyemangatin saya ^^
Oke, ini panjang banget ya ampun =_=
Love you guys ^^ LOVE LOVE LOVE YOUUUUU ^^
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, mohon maaf lahir batin ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
