BAD BOY'S TRAP

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Crime

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please.

NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

You've got to fortify my love, you should be mine...

.

.


DESEMBER, 2012

"Kapan pulang? Aku ingin kau melihat barang-barang yang baru kubeli. Kalau bisa pulang cepat hari ini, mampirlah sebentar ke apartmenku."

"Aku akan pulang secepatnya, Jungsoo Sunbaenim memberiku banyak tugas hari ini. Tapi aku janji, hari ini pasti datang ke apartemenmu."

"Hm, aku menunggumu."

Pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi, tapi Donghae masih saja sibuk mengurus ini dan itu di kantor. Park Jungsoo, senior Donghae di kepolisian memberinya banyak tugas. Kebetulan, Jungsoo sedang menangani banyak kasus pembunuhan dan peredaran obat terlarang, jadi Donghae kebagian tugas untuk menyusun semua laporan penyelidikan yang telah dilakukan seniornya itu.

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Donghae masih belum menyelesaikan tugasnya. Mungkin masih ada sekitar tiga atau empat berkas kasus yang belum Donghae susun. Hatinya mendadak gelisah, ia ingin pulang cepat hari ini karena Sohyun pasti sedang menunggunya. Hari pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi, tapi mereka tidak punya waktu banyak untuk saling bertemu. Entah itu karena Donghae yang sibuk di kepolisian, atau Sohyun yang sibuk di perusahaan. Semenjak jabatannya naik, Sohyun semakin sibuk. Menjadi manager keuangan di sebuah perusahaan sekelas Hyundai Group bukanlah pekerjaan mudah, banyak tekanan yang di terima Sohyun. Entah sudah berapa kali Donghae mendengar Sohyun mengeluh soal itu.

"Sunbaenim, laporan kasus sudah aku susun semua. Hm, aku akan pulang cepat hari ini, tidak apa-apa?"

"Oh, pulang lah. Beberapa hari lagi kau akan menikah, tapi aku malah memberimu banyak tugas."

"Kalau begitu aku permisi, Sunbaenim."

Donghae berlari kecil menuju mobilnya, ia tidak sabar melihat calon istrinya. Rasa rindu yang membuncah, membuat Donghae tidak bisa berhenti tersenyum. Sepanjang jalan, Donghae memikirkan banyak hal bahagia yang akan terjadi padanya dan Sohyun nanti. Membayangkan memiliki keluarga kecil yang bahagia, juga mencintai Sohyun selamanya.

"Sohyun? Aku datang."

Aneh, bukankah Sohyun bilang akan menunggunya? Kenapa dia tidak ada? Barang-barang yang di sebutkan Sohyun di telepon tadi, tergeletak begitu saja di ruang tengah. Donghae tahu betul, Sohyun bukanlah orang yang berantakan. Meski hanya pergi ke kamar mandi, dia akan terlebih dahulu membereskan kekacauan yang dia buat. Begitulah Sohyun, rapi, teratur, dan bersih.

"Sohyun? Jangan bercanda, Joo Sohyun! Kau dimana?"

Perasaan Donghae mendadak tidak enak, Sohyun tidak ada dimanapun. Di dapur, kamar, dan kamar mandi, dia tidak ada dimanapun. Donghae buru-buru mengeluarkan ponselnya, ia menekan nomor yang sudah sangat ia hafal. Pasti terjadi sesuatu padanya.

Tidak ada jawaban, ponsel Sohyun mati.

"Tolong! Tolong!"

Donghae terkesiap begitu mendengar jeritan minta tolong, ia keluar terburu-buru dari apartemen Sohyun untuk mencari siapa yang menjerit minta tolong. Sepetinya sumber suara dari tangga darurat. Hatinya yang memang sejak awal sudah gelisah, semakin tidak tenang. Jika sesuatu terjadi pada Sohyun, apa yang akan ia lakukan?

"T—tolong!"

Seorang perempuan paruh baya muncul dari pintu tangga darurat, tubuhnya gemetar dan nada suaranya penuh dengan ketakutan.

"Ada apa?"

"A—ada yang terluka. Seseorang terluka di bawah sana."

Donghae membuka pintu tangga darurat itu perlahan, seseorang bersimbah darah dalam keadaan telungkup. Seseorang itu—dia—dia, Joo Sohyun. Joo Sohyun calon istrinya. Donghae mematung sejenak, jantungnya seperti berhenti berdegup menyaksikan tubuh kekasihnya terbujur kaku tidak berdaya.

"S—sohyun. Joo Sohyun!"

Dengan pikiran yang kacau, Donghae menelepon ambulans, kemudian menelepon ke kantor polisi. Ragu-ragu, Donghae menekan nadi Sohyun, berharap gadisnya masih hidup dan bisa diselamatkan.

"Tidak mungkin! Bangun, Sohyun! Bangun, Joo Sohyun!"

Tidak lama kemudian, ambulans dan beberapa polisi datang. Mereka sibuk memasang garis polisi dan membawa jasad Sohyun ke ambulans. Donghae masih duduk ditempatnya, mematung dan membeku. Beberapa orang polisi menghampiri Donghae, bertanya soal kronologi kejadian. Tapi pikiran Donghae seperti kosong, ia tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukan padanya.

"Tuan? Kau dengar kami? Apa yang terjadi?"

Karena tak kunjung menjawab pertanyaan, akhirnya Donghae di giring ke kantor polisi bersama perempuan paruh baya yang menemukan Sohyun pertama kali.

"Jadi, gadis itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa saat kau sampai di sana?"

Donghae mengangguk pelan, pikirannya masih kacau dan kalut. Ada puluhan pertanyaan yang di ajukan padanya di ruang introgasi, tapi tidak satupun yang Donghae jawab dengan benar. Donghae hanya mampu mengangguk atau menggeleng saja.

"Donghae, aku janji padamu akan mengungkap kasus ini. Oh, aku menemukan ini di apartemen Sohyun."

Jungsoo menyerahkan secarik kertas pada Donghae, kemudian Donghae membacanya dengan seksama. Hanya pesan singkat permintaan maaf yang di tulis langsung oleh Sohyun. Minta maaf? Untuk apa? Kenapa? Donghae tidak mengerti!

"Bunuh diri? Tapi itu tidak mungkin! Sohyun baru saja—"

"Aku tahu. Kau pulang saja dulu, aku akan mengabarimu kalau ada perkembangan."

.

.


ooODEOoo


"Jadi, Kim Kibum menyuruh Choi Siwon datang ke basement lewat tangga darurat setelah menghancurkan semua CCTV? Kenapa dia mau? Memangnya dia bodoh?"

Yunho memukul kepala Donghae dengan map yang dipegangnya. Lihat dia, cara bicaranya mulai sembarangan seperti si berandalan itu. Bagaimana bisa dia bicara seenaknya pada orang yang sudah meninggal? Tidak sopan!

"Kim Kibum mengancamnya! Kalau dia tidak datang, maka Kim Heechul yang akan membayar kesalahannya."

"Oh. Lalu, setelah turun ke basement apa yang terjadi?"

Padahal laporannya sudah terperinci dengan jelas, Yunho sudah menyusunnya sedemikian rupa sampai ia harus lembur di kantor demi menyelesaikan laporan kasus. Tapi Donghae si kaki pendek ini, terus saja bertanya pada Yunho tanpa mau membaca laporan yang sudah susah payah ia buat. Mau tidak mau, Yunho kembali membuka mapnya dan menjelaskan apa yang sebenarnya sudah jelas pada Donghae. Biar saja, mungkin otak Donghae sependek kakinya, jadi Yunho harus membacakan laporannya pada Donghae.

"Kau benar-benar pemalas! Apa susahnya membaca sendiri?"

"Bacakan saja!"

"Setelah turun ke basement, Choi Siwon naik ke mobil Kim Kibum. Mereka pergi menuju gedung Hyundai, tepatnya ke atap. Di sana mereka sempat adu mulut dan akhirnya Kim Kibum menodongkan pistolnya pada Choi Siwon."

"Choi Siwon terpojok, lalu dia jatuh dari atap gedung. Benar begitu?"

"Hm. Oh, mengenai obat tidur, itu memang benar Kim Kibum yang menukarnya. Tujuannya, untuk membunuh Choi Siwon secara perlahan. Dia tahu, daya tahan tubuh Choi Siwon terhadap obat dosis tinggi sangat lemah, itu sebabnya dia menukar obat dosis rendah milik Choi Siwon dengan obat yang dosisnya sangat tinggi."

"Karena Choi Siwon tak kunjung mati juga, akhirnya dia memutuskan untuk membunuh Choi Siwon di atap agar terlihat seperti bunuh diri?"

"Tepat!"

"Ah, aku harap hukuman penjaranya seumur hidup! Kapan sidang akan dilakukan?"

"Lusa."

Pembahasan seputar kronologi pembunuhan Choi Siwon terhenti, Yunho tiba-tiba memperhatikan Donghae dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ada apa?"

"Hm, mengenai Sohyun."

"Kenapa?"

"Kau tahu betul dia bekerja di Hyundai Group dan kau juga tahu, Eunhyuk adalah anak dari pemilik Hyundai Group. Menurutmu apa?"

Donghae diam sejenak. Sebenarnya, sebelum Yunho berpikir kesana, Donghae sudah terlebih dahulu berpikir kesana. Hanya saja, Donghae mempertimbangkan banyak hal. Ada banyak kemungkinan, tapi tidak mungkin Eunhyuk mengetahui soal kematian Sohyun. Setahu Donghae, Eunhyuk sangat benci datang ke perusahaan. Jadi, mana tahu dia soal apa yang terjadi di perusahaan? Benarkan?

"Sudahlah. Aku akan membawa laporan Choi Siwon ke rumah, Eunhyuk sedang menungguku."

"Kau sedang bersamanya?"

"Hm."

"Kalau kau tidak menyukainya, tidak mau jadi kekasihnya, dan tidak punya perasaan apapun padanya, jangan memberinya harapan palsu. Kalau tidak ada rasa apa-apa, sebaiknya tinggalkan dia."

Ucapan Yunho bagai angin lalu, Donghae tidak ingin mendengarnya atau membahasnya. Donghae tahu, ia tidak boleh bersikap seperti ini. Terjebak dalam hubungan 'Some' bukanlah hal yang baik, tapi Donghae ragu jika harus melangkah lebih dari ini.

Aku ragu untuk melangkah maju, tapi aku takut untuk kembali mundur...

.

.


"Kau! Kau mau kemana?"

Melihat Eunhyuk keluar malam-malam dengan t-shirt tanpa lengan dan berdiri di depan gedung apartemennya, membuat mata Donghae mendelik tajam. Bagaimana tidak? Bocah itu berdiri sedemikian rupa, seperti menunggu seseorang untuk memangsanya. Donghae hanya meninggalkannya selama beberapa jam saja dan dia sudah berulah. Sepertinya, lain kali Donghae harus memborgolnya saat ia pergi. Jadi, dia tidak akan bisa pergi kemanapun tanpa ijin dari Donghae.

Well, mulai posesif.

"Oh, Kyuhyun menelepon. Katanya, ada yang mau dia bicarakan."

"Lalu, kau mau pergi begitu saja? Ini sudah larut malam."

"Kau juga tadi pergi begitu saja! Dan jangan lupa, aku memang terbiasa keluar malam."

"Tapi—"

"Oh, dia sudah datang."

Sebuah mobil Audi berwarna hitam berhenti tepat dihadapan Donghae dan Eunhyuk. Tatapan Donghae berubah menjadi garang, seperti melihat musuh yang akan memangsa buruannya. Baru melihat mobilnya saja, Donghae sudah mengerutkan alisnya dan memasang wajah tidak ramahnya bagaimana kalau melihat wajahnya nanti?

"Cepat masuk, Hyuk."

Seseorang bertubuh tinggi dan berkulit pucat turun, lalu menyapa Donghae dengan sopan. Sopan? Tidak sama sekali! Kyuhyun tampak tersenyum meremehkan dan melihat Donghae dari atas sampai bawah setelah ia membungkuk. Menyebalkan!

"Aku pergi dulu, terima kasih pengobatannya."

Sebelum Eunhyuk sempat membuka pintu mobil, Donghae terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya. Demi Tuhan! Itu gerakan yang refleks, Donghae sendiri tidak menyadari pergerakan tangannya.

"Apa?"

"I—tu—hm, kau mau kemana?"

"Club malam."

"Jangan pergi."

"Memangnya kau siapa?"

"Aku—"

Sudah bisa Eunhyuk tebak, raut wajah Donghae pasti seperti itu. Bingung dan ragu. Eunhyuk melepaskan cengkraman tangan Donghae, kemudian menatap Donghae serius.

"Kalau kau belum bisa menjawabnya, jangan pernah menyuruhku untuk melakukan perintahmu."

Kata-kata Eunhyuk menusuk tepat di jantung Donghae, telak memukul kepalanya, dan membuatnya sadar, mereka tidak terikat hubungan apapun. Akhirnya mobil hitam Kyuhyun meluncur jauh, semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan mata Donghae.

"Sialan!"

Donghae kembali masuk ke dalam mobilnya dan menyusul mereka berdua ke club malam. Lagi-lagi, Donghae melakukan hal di luar kebiasaannya. Datang ke club malam seperti ini, tidak pernah Donghae lakukan sebelumnya. Pernah sekali Yunho memaksanya untuk datang, tapi Donghae menolak ajakannya dengan segala cara. Tapi sekarang? Donghae bahkan datang dengan sukarela.

Eunhyuk merubah dunianya menjadi terbalik!

Hal pertama saat Donghae sampai adalah para penjaga di depan pintu masuk meminta Donghae mengeluarkan kartu identitasnya. Ah, mencegah anak di bawah umur masuk. Donghae mengeluarkan kartu identitasnya, kemudian dipersilahkan masuk. Dentuman musik menghentak langsung masuk menyapa gendang telinga Donghae, liukan orang-orang yang ada di lantai dansa pun semakin menggila, mengikuti alunan musik yang menghentak. Tapi Donghae tidak peduli dengan semua itu! Ia datang kemari untuk mencari Eunhyuk. Mata sendunya menatap satu-persatu meja yang ada di pojokan, berharap menemukan Eunhyuk secepatnya dan pergi dari tempat bising ini.

"Aku tahu kau akan menyusulku."

Donghae berbalik, ia melihat Eunhyuk dan Kyuhyun yang sudah sangat berantakan. Well, mereka pasti melakukan sesuatu. Sesuatu yang membuat darah Donghae mendidih.

"Aku tidak akan ikut denganmu meskipun kau memaksaku. Ingat? Aku bukan perempuan yang harus kau jaga atau kau lindungi 24 jam. Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak usah cemas. Aku akan datang ke apartemenmu setelah urusanku di sini selesai. Jadi, kau pulang duluan saja."

Setelah selesai dengan kalimatnya, Eunhyuk pergi begitu saja. Tanpa membiarkan Donghae mengucapkan sepatah katapun.

"Eunhyuk!"

Mendengar namanya di panggil, Eunhyuk menghentikan langkahnya. Tapi tidak berbalik sama sekali.

"Aku benar-benar akan menunggumu di rumah. Seperti anak anjing."

Eunhyuk berdecih, ia tahu Donghae sedang menyindirnya. Namun Eunhyuk tetap tidak bergeming, tidak ada niat sedikitpun untuk berbalik atau membalas kata-kata Donghae.

"Dia sudah pergi. Jadi, bisa kita bicara sekarang?"

Eunhyuk mendengus sebal, ia duduk di meja paling ujung dengan raut wajah tidak ramah. Rencananya menghabiskan malam romantis bersama Donghae hancur sudah! Semua gara-gara Kyuhyun yang tiba-tiba menelepon dan mengancam akan membeberkan semuanya jika Eunhyuk menolak menemuinya. Dia benar-benar titisan setan!

"Apa maumu?"

"Jadi, kekasihmu si polisi itu? Bagaimana bisa?"

"Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan semua itu padamu."

"Dia sudah tahu semuanya?"

Di bahas lagi. Eunhyuk meneguk segelas wine yang ada dihadapannya dengan sekali teguk, membuat Kyuhyun mengernyit tidak suka. Hei, bukan begitu cara minum wine! Kyuhyun yang pada dasarnya maniak wine, tidak terima jika ada orang yang meminum wine dengan cara yang tidak seharusnya.

"Kau benar-benar tidak tahu cara minum wine!"

"Cepat atau lambat aku akan memberitahunya, kau tidak usah ikut campur masalahku."

"Aku tidak ingin kau disakiti."

"Jika itu benar-benar terjadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Berdiri tepat dibelakangmu, bersiap untuk memelukmu."

Well, itu kata-kata yang sangat sentimentil. Seharusnya menyentuh, tapi Eunhyuk malah merasa itu tindakan bodoh. Untuk apa memeluknya? Eunhyuk bukan perempuan yang akan menangis setelah disakiti. Bila saat itu benar-benar terjadi, maka Eunhyuk akan melampiaskan semua kemarahan dan kesedihannya dengan caranya sendiri. Berkelahi atau mabuk, bukan menangis dipelukan seseorang.

"Kalau kau tidak mau melihatnya hancur dan membencimu, sebaiknya jauhi dia."

"Aku akan terus melangkah, jika aku menemui jalan buntu maka aku akan datang padamu."

"Menyerah?"

"Meminta bantuan. Oke, aku tidak ingin membahasnya. Sekarang, katakan apa maumu?"

Kyuhyun meneguk winenya dengan gaya yang elegan. Bukan bergaya, memang begitulah gesture tubuhnya. Penuh dengan kharisma dan elegan. Wine digelasnya terisisa seteguk lagi, namun Kyuhyun tidak menghabiskannya dan kembali meletakan gelasnya di meja. Mata kelamnya menatap Eunhyuk serius, mengajak Eunhyuk untuk membicarakan masalah ini dengan sungguh-sungguh.

"Aku tidak ingin begini, tapi ayahmu memintaku untuk membujukmu datang ke perusahaan."

"Aku tidak mau!"

"Dengar, dia sudah menemukan kelemahanmu. Kau tahu bagaimana ayahmu, bukan?"

Sepertinya, tidak ada yang lebih menyebalkan dari Lee Kanghun Hwaejangnim. Eunhyuk benar-benar tidak habis pikir, kenapa ia harus menjadi anak dari orang seperti dia. Memaksa, mengancam, dan memanipulasi orang adalah keahliannya.

"Besok pagi, sekretaris Kang akan menjemputmu. Kau tidak punya setelan jas, 'kan? Aku sudah meminta sekretaris Kang untuk membelikanmu beberapa setel jas. Pakai itu ke kantor! Kalau kau berani memakai celana tidak layak pakai, maka aku yang akan memakaikan jas itu padamu dengan paksa. Mengerti?"

"Hm."

"Oh, dan hitamkan rambutmu!"

Eunhyuk menyentuh rambutnya, dihitamkan? Kyuhyun memang brengsek! Bagaimana bisa ia menghitamkan rambutnya? Warna pirang sangat cocok dengannya, itu yang membuatnya tampak lebih sexy.

"Perusahaan bukan tempat untuk menggoda orang, jadi hitamkan rambutmu sebelum datang ke perusahaan."

Brengsek...

.

.


Donghae membanting jaket kulit hitamnya ke lantai, emosinya memuncak saat mengingat penolakan Eunhyuk di club malam tadi. Apa katanya? Tidak akan ikut, meskipun di paksa? Dia sudah gila! Memangnya dia siapa berani menolak Donghae? Sebenarnya, Donghae tidak tahu kenapa ia harus marah? Tapi ada sesuatu yang membuat darah Donghae mendidih. Oh, senyuman miring laki-laki berkulit pucat itu. Donghae benar-benar ingin memukul wajahnya ketika mengingat senyum itu. Apa? Dia meremehkan? Mengejek? Sialan!

Partner sex? Donghae tidak yakin, hubungan mereka sebatas itu saja. Setidaknya, kalau pernah melakukan hubungan sex, mereka akan merasakan sesuatu. Buktinya, Donghae merasakan sesuatu yang berbeda setelah—

Apa?

Donghae berdeham, pikirannya kembali menjadi kotor dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Padahal, saat ini ia sedang marah pada bocah penggoda itu.

"Kau marah?"

Meski mendengar dengan jelas dan tahu suara milik siapa itu, Donghae mengabaikannya. Ia pura-pura tidak tahu dan melangkah ke dapur untuk meneguk segelas air putih. Ya, setidaknya dia benar-benar datang ke apartemen Donghae dan menepati janjinya.

"Kau benar-benar marah? Lihat, keinginanmu baru di tolak sekali dan kau sudah semarah ini. Sekarang, kau sudah paham bagaimana rasanya di tolak dan diabaikan? Huh? Seharusnya kau lebih memahami aku."

Tetap tidak ada jawaban, Donghae terus-terusan meneguk air putih dan mengabaikan Eunhyuk. Persetan dengan perutnya yang mulai kembung karena terlalu banyak minum air, kemarahannya saat ini lebih penting. Donghae harus bertahan dan tidak bicara pada Eunhyuk, agar dia mempelajari pelajarannya.

Pelajaran apa?

Terserah, Donghae bahkan tidak mau tahu.

"Baiklah, aku akan pulang saja. Kunci cadangan yang kau berikan padaku, aku simpan di dekat televisi."

"Saat sesama laki-laki pacaran, bagaimana harus memulainya?"

Bertahan? Omong kosong! Pada akhirnya Donghae tetap mengajak bicara Eunhyuk duluan. Ia meletakan gelasnya dan menatap punggung Eunhyuk dengan tatapan penuh harap. Berharap dia akan berbalik dan tidak jadi pulang.

Konyol.

"Hm?"

Eunhyuk sudah sampai di depan televisi dan bersiap meninggalkan apartemen Donghae, tapi kemudian pertanyaan aneh Donghae membuat niatnya urung. Ada apa dengannya? Menolak bicara, tapi sekalinya bicara dia malah melontarkan pertanyaan aneh.

"Aku tidak terbiasa dengan hal ini, aku juga tidak bisa berkata-kata romantis. Jadi, kau mau aku memanggilmu apa? Sayang? Baby? Hyuk?"

"Aku—"

"Ah, khusus untuk panggilan sayang atau baby, hanya akan aku lakukan saat kita berdua saja. Mulai hari ini, kau harus menuruti apa kataku."

Yang tadi itu, pernyataan cinta? Haruskah Eunhyuk melompat kegirangan sekarang? Eunhyuk ingin menahan senyumnya dan memasang wajah tidak peduli, tapi wajah canggung Donghae terlalu menggemaskan untuk dilewatkan. Dia menunduk dan memainkan ujung kakinya setelah menyatakan cinta. Dan seperti yang Yunho bilang, saat dia menginginkan sesuatu tapi malu, maka dia akan memasang wajah sok acuh. Manisnya.

"Kau menyatakan cinta?"

"Ah, kenapa terdengar sangat menggelikan? Jangan di bahas!"

Eunhyuk menghampiri Donghae ke dapur, ia melingkarkan lengannya di pinggang Donghae. Kepalanya ia miringkan agar bisa melihat wajah Donghae, wajah tampannya yang sedang malu-malu.

"Mana ada orang yang menyatakan cinta segalak itu? Seharusnya kau mengatakannya dengan lebih halus lagi. Lebih manis."

Banyak mau! Untuk mengatakan semua itu saja, butuh keberanian yang ekstra. Donghae harus membuang gengsi dan harga dirinya melakukan semua itu, dan Eunhyuk masih meminta lebih? Haruskah Donghae menarik kembali kata-katanya? Malu sekali!

"Apa saja yang kau lakukan dengan bocah itu?"

Donghae berbalik, memegang erat kedua lengan Eunhyuk dan memenjarakan pandangannya agar hanya terfokus pada Donghae.

"Kyuhyun?"

"Haruskah kau menyebut namanya di depanku?"

"Sedikit making out? Menyelesaikan apa yang tidak kau selesaikan."

"Kau—"

Donghae tidak meneruskan kalimatnya, membayangkan Eunhyuk dan Kyuhyun saling menyentuh dan menyebutkan nama masing-masing, membuat Donghae naik darah. Apa maksudnya? Bukankah Eunhyuk yang duluan mengklaim bahwa mereka pacaran? Kenapa masih mau di sentuh orang? Ah, bocah sialan! Dia benar-benar cari gara-gara rupanya. Oke, Donghae memang salah karena meninggalkan Eunhyuk dalam keadaan yang tidak seharusnya. Tapi, apa harus dia menyelesaikannya dengan orang lain? Donghae bisa melakukannya! Dia hanya perlu bersabar sebentar saja. Apa sulit baginya untuk bersabar?

Dan sekarang, Donghae menjadi sosok yang ingin dibutuhkan oleh Eunhyuk.

"Cemburu?"

Pertanyaan retoris. Jika Donghae memasang wajah masam dan nada bicaranya mulai tinggi, apa itu namanya? Tidak usah ditanyakan, karena jawabannya sudah jelas! Dan apa-apaan itu? Eunhyuk memasang wajah menggodanya dan menggerakan jemari nakalnya di dada Donghae. Oke, Donghae tidak tahan lagi. Tidak peduli ini sudah jam dua malam, kesabaran Donghae sudah pada batas limit. Donghae menyeret Eunhyuk masuk ke kamar, ia membantingnya ke tempat tidur, lalu menindihnya sebelum Eunhyuk sempat bergerak.

"Easy, dude! I'm still here."

Tidak mau membuang-buang waktu, Eunhyuk melucuti pakaiannya tanpa di perintah. Matanya menatap Donghae seduktif, gerakan tangannya semakin melambat saat melepas bagian bawahnya. Eunhyuk ingin sekali menurunkan celana dalamnya sekaligus, tapi melihat mata Donghae yang tampak sangat kelaparan, Eunhyuk jadi ingin menggodanya dulu. Ingin melihat, akan bagaimana reaksinya?

"Kau ingin aku membuka ini juga?"

Oh, sialan! Donghae sudah dalam keadaan tinggi dan Eunhyuk malah mengajaknya main-main. Dengan gerakan tergesa-gesa, Donghae melepaskan kemejanya dan celana panjangnya. Meninggalkan celana pendek ketat yang membungkus bagian bawahnya.

"Kau benar-benar membuatku marah, Eunhyuk."

Donghae meninggalkan tempat tidur, ia memungut jaket kulit yang tadi ia buang di lantai dan mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah borgol.

Hell! Eunhyuk tidak tahu, Donghae yang selalu kelihatan dingin dan polos ini, ternyata sangat liar. Tapi Eunhyuk suka, baik Donghae yang polos atau yang seperti sekarang, keduanya Eunhyuk suka.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Kau tahu apa yang akan aku lakukan, dude."

Donghae memborgol kedua tangan Eunhyuk di belakang, membuat Eunhyuk mau tidak mau menjadi telungkup dan akhirnya di buat menungging oleh Donghae. Telapak tangan Donghae menyentuh punggung telanjang Eunhyuk, menyentuhnya dengan seduktif hingga mengundang pekikan dan lenguhan manis Eunhyuk.

"Suka, hm?"

"Sudah hampir pagi, lakukan dengan cepat!"

"Aku sedang tidak ingin menuruti perintahmu."

Donghae mengigit kecil daun telinga Eunhyuk, kemudian turun untuk menjilati tengkuk dan sebagian bahu Eunhyuk. Telapak tangannya masih meraba seluruh lekuk tubuh Eunhyuk, saat sampai di puncak dadanya, Donghae memainkannya dengan gerakan yang sedikit kasar. Lagi-lagi Eunhyuk memekik, namun ia tidak bisa melakukan banyak hal karena tangannya terborgol di belakang.

"Suka saat aku menyentuhmu dan memainkan tubuhmu, hm?"

"Shit! Dari mana kau belajar kalimat kotor seperti itu?"

"Darimu, master."

Panggilan seduktif Donghae langsung menaikan hasrat Eunhyuk, miliknya bahkan tegang tanpa sentuhan sedikitpun. Hell, yeah! Tubuhnya bereaksi sangat jujur terhadap sentuhan kecil Donghae.

"Aku akan melakukannya sekarang."

Donghae menarik celana dalam Eunhyuk sampai sebatas paha, kemudian mendorong miliknya untuk masuk sedikit demi sedikit, menyiksa Eunhyuk dengan kenikmatan yang tiada tara.

"Kau merasakannya? Bagaimana aku masuk dan menyentuh titik terdalammu."

"Donghae, please."

Eunhyuk tak sanggup berkata-kata, semua yang dilakukan Donghae pada tubuhnya, membuatnya melayang. Terlalu nikmat untuk di jelaskan dengan kata-kata. Gerakan mereka semakin teratur, semakin lama, semakin cepat dan brutal.

"Donghae—ngh, slow down, baby. It's too much."

Keterlaluan! Sentuhan Donghae sangat keterlaluan! Entah dia melakukannya dengan kasar atau lembut, Eunhyuk tetap akan mengemis kenikmatan padanya. Mengerang untuknya dan memuja sentuhannya. Demi Tuhan, Eunhyuk tidak pernah merasakan sex sehebat ini.

"Akan aku keluarkan di dalam dan membuatmu penuh."

"Do it!"

"Eunhyuk, aku—ah!"

Tautan mereka terlepas begitu sampai sampai di puncak, Donghae membalikan tubuh Eunhyuk dan langsung memagut bibirnya. Ia baru ingat, tidak menyentuh bibir Eunhyuk sejak permainan mereka di mulai. Padahal, bibir Eunhyuk adalah bagian yang paling ia sukai.

"Hei, tanganku sakit."

"Maaf."

Donghae melepaskan tautan bibir mereka dengan terpaksa, ia harus membuka borgolnya agar Eunhyuk lebih leluasa.

"Kinky! Aku tidak tahu kau bisa seperti ini!"

"Kau suka?"

"Hm. Nomong-ngomong, aku di paksa kembali ke perusahaan. Jadi, mulai besok aku kan bekerja di perusahaan."

"Itu bagus. Jadi, kau tidak perlu bekerja di bar itu lagi."

Hening sesaat, Eunhyuk memandang langit-langit kamar Donghae dengan pandangan menerawang. Ingin jujur, tapi bibirnya seperti terkunci dan sulit mengucapkan kata-kata. Ada satu kebenaran yang harus Donghae tahu, tapi Eunhyuk tidak yakin dan tidak tahu harus memulainya dari mana. Hubungan yang sedang mereka jalani sekarang sudah cukup bahagia, meskipun Eunhyuk harus tetap menyimpan rapat rahasia itu.

Biarkan aku menjadi orang yang egois kali ini saja...

.

.


ooODEOoo


"Ini semua laporan kasus tiga tahun yang lalu. Hanya itu yang bisa aku dapatkan, sulit mendapatkan laporan yang lain karena kasus sudah di tutup. Aku harap kau tidak akan melakukan hal yang gegabah, kau tahu? Posisimu dipertaruhkan. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukan penyelidikan ulang pada kasus ini. Tapi ingat, kau tidak bisa sembarangan atau gegabah."

Donghae mengangguk, ia sudah mendengar Jungsoo mengoceh hal yang sama hampir sepuluh kali. Donghae tahu dia cemas, tapi mengulang kalimat yang sama kurang dari sepuluh menit, sangatlah berlebihan. Ayolah, Donghae bukan anak kecil yang harus di beritahu berkali-kali. Tanpa di dikte pun, Donghae sudah tahu apa saja yang tidak boleh ia langgar.

"Dari mana kau akan mulai?"

Suara Yunho membuyarkan konsentrasi Donghae, ia menutup mapnya dan mengalihkan perhatiannya pada Yunho yang sedang duduk di meja kerjanya. Tidak sopan, tapi memang biasanya juga seperti itu.

"Aku akan menemui teman-temannya yang masih bekerja di Hyundai Group, setelah itu baru aku pikirkan langkah selanjutnya."

"Seandainya, kalau Sohyun benar-benar di bunuh, apa yang akan kau lakukan?"

Pertanyaan Yunho membuat Donghae bingung, ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan. Ada dendam? Tentu saja! Donghae punya dendam dan ada hasrat untuk membalas dendam pada pembunuhnya. Hanya saja, dendamnya akan terasa sia-sia karena apapun yang ia lakukan, tidak akan merubah kenyataan apapun.

"Bukankah aku sudah bilang? Aku hanya ingin bertanya, kenapa dia membunuh Sohyun? Apa salahnya? Dan kenapa? Hanya itu."

"Aku tidak tahu, kau itu polos atau bodoh? Bagaimana bisa di dunia ini ada manusia yang hatinya sebaik dirimu? Kekasihmu di bunuh orang, dan kau hanya ingin bertanya kenapa pada si pembunuh? Kau terlalu naif, bung."

"Katakanlah aku memang begitu. Lalu, kalau aku membalas dendam dan melakukan hal yang sama padanya, akankah Sohyun kembali ke sisiku? Akankah semua berubah? Tidak akan ada yang berubah, Yunho. Yang ada aku menjadi sama sepertinya, bajingan tidak berperasaan."

Jika Donghae sudah mulai dengan kata-kata bijaknya, maka Yunho hanya bisa mendengus pasrah. Apa lagi? Kata-katanya memang tidak ada yang salah, balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan merubah apapun. Ah, menyebalkan sekali. Donghae yang selalu Yunho ledek, ternyata punya sisi yang sangat dewasa. Dan itu membuatnya sedikit berkharisma.

"Kau harus tahu, betapa aku membencimu!"

"Hm, sangat benci sampai kau ikut menangis bersamaku di pemakaman Sohyun."

"Dasar sialan!"

"Aku masih ingat, kau bahkan menangis lebih keras dari aku."

"Hei, jangan di bahas!"

Mereka tertawa, mengingat kejadian waktu itu. Dua laki-laki dewasa saling berpelukan dan menangis di pemakaman orang. Yunho masih ingat, ia memeluk Donghae layaknya memeluk seorang adik kecil. Wajah garangnya tidak terlihat lagi, karena ia sibuk menenangkan Donghae dan berakhir ikut menangis bersamanya. Saat itu, Yunho tidak tahu harus melakukan apa, jadi ia hanya diam di sana dan ikut menangis. Saat malam tiba, barulah Yunho mengajak Donghae minum. Setidaknya, beban Donghae sedikit berkurang saat Yunho ada bersamanya dan menemaninya minum sampai pagi menjelang.

"Ngomong-ngomong, kenapa berandalan itu tidak pernah datang lagi kemari? Kalian putus?"

"Putus kepalamu! Kami bahkan baru memulainya."

"Oh, lihat si homofobik munafik ini. Sudah berani mengakuinya terang-terangan, huh?"

Lagi-lagi wajah meledek itu. Donghae mengambil map yang tergeletak di meja dan memukulkannya tepat pada wajah Yunho. Demi Tuhan, wajah meledek Yunho sangat menganggu dan menyebalkan! Apa lagi, jika dia menaik-turukan alisnya. Haruskah Donghae mencakarnya sekarang? Melihat wajah menyebalkannya di siang secerah ini, akan mengakibatkan hal yang fatal di malam hari. Donghae mungkin akan mimpi buruk dengan wajah menyebalkan Yunho di dalamnya.

"Kenapa memukul wajahku?"

"Kau menyebalkan, sialan!"

"Jadi, kemana si berandalan itu?"

"Dia bekerja di perusahaan, aku juga sudah hampir seminggu tidak bertemu dengannya."

"B—bekerja? Di perusahaan?"

Donghae bersumpah, itu adalah wajah yang paling jelek yang pernah ditunjukan Yunho. Masihkah Jaejoong menyukainya, jika dia melihat raut wajah Yunho sekarang?

"Hm. Katanya, dia di paksa oleh ayahnya."

"Wah, mengaggumkan! Berandalan yang beberapa bulan lalu kita kejar-kejar di jalanan, sekarang bekerja di perusahaan besar."

Berandalan, ya? Kalau di bahas seperti ini, Donghae jadi merasakan perbedaannya. Dulu, ia bisa dengan mudahnya bertemu Eunhyuk. Tapi sekarang, jangankan bertemu, bicara di telepon saja susah. Kalau begini caranya, Donghae lebih suka Eunhyuk bekerja di bar saja, karena bisa ditemui kapapun ia mau.

Tunggu sebentar.

Kenapa jadi Donghae yang selalu mencemaskannya dan merindukannya? Ini tidak adil! Seharusnya Donghae tidak merasakan perasaan seperti itu. Seharusnya Eunhyuk yang mencarinya, seperti dulu.

"Oh, aku mau pergi duluan."

"Kemana?"

"Ke Hyundai Group, mencari teman-teman lama Sohyun dan meminta keterangan."

"Hm, dasar si pendek. Kau mau menyelidiki kasus atau mencari kekasihmu, huh? Baru tidak bertemu seminggu saja sudah kelabakan! Kau tidak tahu? Aku dan Jaejoong tidak bisa bertemu selama tiga bulan karena dia sibuk pemotretan di Paris!"

Alis Donghae bertaut, bingung. Lalu, apa urusannya dengan Donghae? Kenapa Yunho jadi mencurahkan isi hatinya? Memangnya Donghae akan peduli? Mau dia tidak bertemu dengan Jaejoong sampai tiga tahun lamanya pun, Donghae tidak akan peduli dan acuh seperti biasanya.

"Bukan urusanku."

"Kau memang bedebah!"

Donghae mengangkat bahu acuh. Dari pada mendengar ocehan tidak bermutu Yunho, lebih baik ia cepat-cepat pergi dan menemui Eunhyuk. Hm, menemui teman-temannya Sohyun.

Shit, what you've done to me?

.

.


"Jadi, keuntungan dari Department Store dan hotel, harus meningkat sebanyak 30%. Kita akan memulainya dengan promosi dan mengganti brand ambassador yang lama dengan bintang-bintang baru."

Dan bla...bla...bla...

Mendengar ocehan seseorang yang sedang presentasi dihadapannya, membuat Eunhyuk sangat bosan dan mengantuk. Beberapa kali ia menguap dan harus memelototkan matanya dengan paksa demi memperhatikan isi rapat yang sama sekali tidak ia mengerti. Sekretaris pribadinya—Kang Giljun—memang sudah menjelaskan semuanya, tapi semua itu hanya numpang lewat di telinga Eunhyuk. Hanya ada beberapa kalimat yang menyangkut di otaknya, sisanya? Lupakan saja, Eunhyuk juga tidak tahu kemana larinya penjelasan sekretaris Kang.

"Bagaimana, Sajangnim?"

"Lakukan saja apa maumu. Terserah."

Eunhyuk beranjak dari kursinya, ia melepaskan dasi dan jasnya sambil berjalan menjauh dari ruang rapat yang membuatnya bosan itu. Tidak tahu mau kemana, yang penting menjauh dari ruang sialan itu!

"Aku bisa gila!"

Akhirnya Eunhyuk sampai di lobby lantai dasar, ia membuka dua kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan kemejanya, sementara Giljun memunguti jas dan dasi yang Eunhyuk lempar ke sembarang arah. Pekerjaan di perusahaan sama sekali tidak cocok dengannya, semuanya hanya membuat Eunhyuk bosan dan jengah. Berada di perusahaan selama setahun, mungkin akan membuat Eunhyuk berakhir keriputan seperti ayahnya. Mengerikan!

"Aku bosan! Seharian ini aku hanya duduk di ruanganku, datang ke rapat membosankan, lalu menyapa orang-orang yang tidak aku kenal, dan harus bersikap sopan. Jas dan kemeja ini membuatku gerah! Dimana ayahku?"

"Hwaejangnim ada di ruangannya."

"Aku akan—"

"Eunhyuk?"

Ocehan Eunhyuk terhenti, ia membalikan badannya saat suara yang sangat familiar melewati gendang telinganya.

"Donghae!"

Yang di panggil namanya malah mematung, mata sendu Donghae sibuk memperhatikan Eunhyuk dari atas sampai bawah. Sulit di percaya! Eunhyuk menjadi orang yang berbeda. Rambutnya berwana hitam dan tertata rapi, dalam balutan setelah kantor dia terlihat sangat keren dan sexy, tubuh rampingnya tercetak jelas karena dia menggunakan kemeja putih tipis yang pas di melekat di tubuh rampingnya.

Wow.

Hanya itu yang bisa Donghae ucapkan dalam hati. Eunhyuk terlihat sangat menganggumkan!

"Sedang apa di sini?"

"Oh, hm—itu hanya kebetulan lewat dan mampir."

"Menemuiku?"

"Begitulah."

Eunhyuk tersenyum puas mendengar jawaban jujur Donghae, akhirnya dia tidak menyangkalnya lagi. Hari ini, kekasihnya luar biasa tampan. Well, biasanya juga memang begitu. Tapi, melihatnya dalam balutan jaket kulit hitam dan celana hitam ketat seperti sekarang, membuat Eunhyuk berdesir dan ingin menerkamnya!

"Aku melewatkan jam makan siangku gara-gara rapat sialan! Mau menemani aku makan?"

"Hm, tentu."

"Oke! Giljun, katakan pada Kyuhyun agar jangan menungguku."

"Ya, tentu."

Setelah Giljun pergi, barulah Donghae berani selangkah lebih dekat pada Eunhyuk. Saat ada orang lain di antara mereka, Donghae terkadang masih sedikit canggung. Donghae melirik ke kanan dan ke kiri, ia kemudian berdeham sebelum menggandeng tangan Eunhyuk dan membawanya keluar gedung.

"Dia siapa?"

"Sekretarisku, Kang Giljun. Kenapa?"

"Kau tidak menggodanya juga 'kan?"

Rasa lelah dan bosan yang tadi menyelimutinya, hilang entah kemana. Donghae dan cemburunya yang sedikit berlebihan membuat Eunhyuk merasa sangat berarti, tidak pernah sebelumnya ia merasakan seperti yang ia rasakan sekarang. Donghae memberikan banyak warna baru dihidupnya.

"Dan apa? Menyuruh Kyuhyun agar tidak menunggumu? Kau masih menemuinya?"

"Aku tidak menggoda Kang Giljun karena dia bukan tipeku. Aku menemui Kyuhyun untuk membahas masalah perusahaan, dia wakil CEO di sini."

Penjelasan Eunhyuk membuat Donghae terlihat bodoh, ia berdeham sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mau apa tadi? Ah, makan siang. Sial! Tidak seharusnya Donghae menunjukan rasa cemburunya dengan berlebihan.

"Mau makan apa? Hari ini kau boleh memilih apapun. Hari-hari bekerja di perusahaan pasti sangat berat untukmu yang terbiasa bebas. Benarkan?"

"Hm."

Eunhyuk mengangguk—sok—manis, ia memajukan bibir bawahnya, meminta perhatian lebih dari Donghae. Melihat Eunhyuk yang tiba-tiba sok manis, membuat Donghae terkekeh, ia mengelus lembut rambut hitam Eunhyuk lalu mengecup singkat pipinya. Hm, well, ini di pinggir jalan dan tidak seharusnya mereka terlalu mesra karena ada banyak pasang mata yang memandangi mereka.

"Hei, kita makan di kedai ddokboki saja. Aku sedang tidak ingin makanan berat."

Donghae mengangguk, mereka masuk ke kedai di pinggir jalan yang tidak jauh dari lokasi perusahaan Eunhyuk. Bagi Donghae, makan dimanapun sama saja asalkan ia bisa bersama Eunhyuk hari ini. Hari-hari ke depan, mungkin mereka akan sulit bertemu karena kesibukan Donghae di kantor polisi dan kesibukan Eunhyuk sebagai CEO perusahaan besar. Makan siang seperti sekarang ini, mungkin akan sulit dilakukan.

"Sebenarnya, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Apa?"

"Hm—sebenarnya, Sohyun pernah bekerja di perusahaanmu. Joo Sohyun, dia Manager bagian keuangan. Kau pernah mendengar tentangnya?"

Jemari Eunhyuk terkepal, ia tidak menyangka Donghae akan menanyakan hal itu. Sebenarnya, Eunhyuk sudah menyiapkan mentalnya kalau saja Donghae bertanya soal Sohyun padanya. Hanya saja, Eunhyuk tidak menyangka Donghae akan menanyakannya hari ini.

"Hm, pernah. Maaf aku tidak mengatakannya sejak awal padamu."

Eunhyuk memasukan beberapa potong ddokboki ke dalam mulutnya, ia enggan menatap Donghae karena gugup.

"Kau kenal Sohyun?"

"I—itu—aku mengenalnya. Beberapa kali aku bertukar sapa dengannya, dia juga pernah mengajariku soal keuangan perusahaan. Hm, minggu depan kita bertemu lagi, aku akan menjelaskan semuanya pada saat itu. Sekarang, aku sangat sibuk. Terima kasih makan siangnya."

"Hm, pergilah."

Eunhyuk beranjak dari kursinya tergesa-gesa, namun ia kembali berbalik dan mencuri kecupan dari Donghae. Kontan saja Donghae terkejut, matanya membola dan jantungnya seperti turun ke kaki. Sialan! Dia melakukannya di depan umum dan sekarang Donghae menjadi pusat perhatian!

Dasar tidak tahu malu!

.

.


"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?"

Donghae menyerahkan buku catatannya pada Yunho, mengisyaratkan padanya agar membacanya sendiri. Suasana hatinya sedang buruk! Niat bertemu dan menghabiskan waktu bersama Eunhyuk malah berantakan. Akhirnya, ia berkeliling dari gedung yang satu ke gedung yang lainnya untuk mencari informasi dari teman-teman lama Sohyun yang dulu sama-sama bekerja di Hyundai Group.

Kim Miyoung bekerja di Hyundai Group sebagai manager di bagian keuangan, menggantikan Sohyun. Dia salah satu teman dekat Sohyun ketika mereka masih bekerja di bagian keuangan. Menurutnya, Sohyun sempat selisih paham dengan Presiden Direktur di ruangannya. Dia tidak tahu-menahu soal apa yang ributkan, tapi yang pasti mereka berdua membahas soal pernikahan Sohyun. Selang beberapa hari setelah berselisih paham dengan Presiden Direktur, dia melihat Sohyun menangis di tangga darurat. Tapi Sohyun tidak mengatakan apa-apa padanya.

"Sohyun pasti orang yang sangat tertutup."

Benar, Sohyun memang sangat tertutup pada orang lain. Dia tidak akan membiarkan orang lain tahu soal penderitaannya, dia lebih suka memendamnya sendirian dan menyelesaikan semua masalahnya sendiri tanpa mau merepotkan orang lain.

"Hm, dia memang sangat tertutup."

"Oh, kau juga menemui temannya yang lain?"

Joo Yuri, bekerja di LG Group sebagai ketua tim di bagian pemasaran. Menurut keterangannya, Sohyun memang berselisih paham dengan Presiden Direktur. Dari apa yang disampaikan Sohyun padanya, mereka selisih paham karena Presiden Direktur tidak menginginkan Sohyun menikah. Alasannya, Sohyun masih sangat dibutuhkan di perusahaan. Setelah berselisih paham dengan Presiden Direktur, Sohyun juga sempat adu mulut dengan sekretaris Kang. Kabarnya, sekretaris Kang memang menaruh hati pada Sohyun, itu sebabnya ia sempat marah saat tahu Sohyun akan menikah.

"Apa sepenting itu posisi Sohyun di perusahaan?"

"Dia menjadi manager keuangan di saat perusahaan dalam keadaan genting. Dengan posisinya saat itu, Sohyun mampu membuat keuangan perusahaan menjadi stabil. Itu sebabnya, perusahaan tidak bisa kehilangan Sohyun di saat keuangan perusahaan belum sepenuhnya stabil."

"Oh."

Yunho manggut-manggut, ia membuka lembar selanjutnya dan menampilkan catatan soal sekretaris Kang.

Kang Giljun, sekretaris pribadi Lee Hyukjae—

"Tunggu, siapa lagi Lee Hyukjae?"

"Nama asli Eunhyuk."

"Ah, aku pikir Eun adalah nama keluarganya."

Sebelum menjadi sekretaris pribadi Lee Hyukjae, dia adalah sekretaris Presiden Direktur dan sering bekerja sama dengan Cho Kyuhyun untuk mengatasi masalah naik-turun harga saham perusahaan. Menurut keterangannya, dia memang berselisih paham dengan Sohyun masalah pernikahannya. Jujur saja, Kang Giljun memang menaruh hati pada Sohyun, itu sebabnya dia keberatan dengan rencana pernikahan Sohyun. Perselisihan mereka berhenti sampai di situ, karena keesokan harinya Sohyun ditemukan tewas. Sebelum ditemukan tewas, Kang Giljun mendengar Presiden Direktur menelepon Sohyun.

"Hanya itu?"

"Hm."

Yunho menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya, kasus ini tidak begitu sulit untuk dipecahkan. Bagi detektif sekelas Yunho dan Donghae yang sudah terlibat dengan beberapa kasus besar, kasus seperti ini makanan sehari-hari untuk mereka. Hanya saja, jika kasus sudah tersangkut dengan Presiden Direktur, maka akan sulit mengungkapkannya karena uang akan bicara terlebih dahulu.

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Menemui Eunhyuk. Sebelum menemui ayahnya, aku akan menanyainya terlebih dahulu. Aku tidak yakin, tapi kurasa Eunhyuk pasti tahu sesuatu."

"Bagaimana jika dia memang tahu sesuatu dan terlibat atau terkait dengan masalah ini?"

Pertanyaan Yunho tidak bisa Donghae jawab, ia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat dan otaknya menolak untuk memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan Yunho. Kalau memang benar seperti kenyataannya, Donghae sendiri tidak tahu akan bereaksi seperti apa.

Marah?

Kecewa?

Sedih?

Donghae bahkan tidak mau memikirkannya...

.

.

TBC


Hai~~ akhirnya bisa update T_T tadinya mau minggu kemarin update tp tiba-tiba keponakan boss saya datang dan pake komputer saya di kantor jadi gak bisa post. gak bisa ngepost dr laptop ato pc pribadi krn semua data ada di komputer kantor. untuk chapter selanjutnya mungkin agak lama, mungkin ya...krn kan ya itu tadi, komputer saya di pake semena-mena sm keponakan boss saya dan saya gak bisa ngapa2in T_T tapi, saya usahakan untuk update secepat yg saya bisa ^^ akhir2 ini saya sering pulang malem dr kantor demi nyelesein fanfic ini hahah jd maaf ya kl lama ato banyak typo saya ngetik malem dan ngepost besoknya, jd gak berani ngedit ngahahahah maaf *bow*

Makasih buat semua review, kritik, saran dan dukungannya ^^ you guys so precious

Apa lagi ya? banyak yang mau di sampein tp lupa lagi, lol... ya sudah lah..

Last, Review pls? ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee