BAD BOY'S TRAP

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Crime

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please.

NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

You've got to fortify my love, you should be mine...

.

.


Eunhyuk duduk lesu di bangku taman yang menghadap ke Sungai Han, matanya menerawang jauh, dan pikiran berkecamuk tidak jelas. Memikirkan banyak hal. Kaleng minuman yang tadi dingin, sudah menjadi hangat karena suhu tubuhnya dan cuaca yang memang sedikit panas. Di hari Minggu yang cerah ini, Eunhyuk masih mengenakan setelan kantor, hanya saja ia meninggalkan jas dan dasinya di mobil. Memakai pakaian yang terlalu formal sangat tidak cocok dengan kepribadian Eunhyuk.

Lelah sekali, bahkan di hari Minggu Eunhyuk tetap harus datang ke perusahaan. Seharusnya, Eunhyuk bertemu dengan Donghae di sini pada pukul sepuluh tadi. Tapi, karena Eunhyuk tidak bisa meninggalkan kantor, jadilah mereka mengundurnya dan memutuskan untuk bertemu pada sore hari. Pertemuan di sore yang cerah ini, mungkin akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Donghae. Siapa yang tahu? Eunhyuk hanya bersiap-siap, jika saja Donghae tidak percaya dengan ceritanya dan ingin meninggalkannya detik ini juga.

Bagaimanapun, keputusannya sudah bulat. Eunhyuk tidak mau menutup-nutupinya lagi, ia ingin ada satu orang saja yang percaya pada ceritanya. Cerita yang sesungguhnya. Selama tiga tahun Eunhyuk memendamnya sendirian, karena apapun yang ia katakan tidak akan ada orang yang mempercayainya. Bahkan ayahnya sendiri. Eunhyuk memang baru menjalin hubungan dengan Donghae, tapi dari apa yang selalu diceritakan Sohyun padanya, Eunhyuk yakin bisa mempercayai Donghae.

"Lama menungguku?"

Dia datang, seseorang dengan mata yang sendu, mata yang selalu Eunhyuk puja, mata yang membuat Eunhyuk bertekuk lutut padanya. Seseorang yang ketika dia tersenyum, akan menyerupai anak kecil. Seseorang yang belakangan ini mengisi hari-harinya dan baru-baru ini resmi menjadi kekasihnya. Resmi? Bolehkah Eunhyuk menyebutnya begitu? Ia terlalu bahagia dengan hubungan mereka saat ini dan tidak ingin memikirkan yang lain. Tapi, Donghae berhak tahu kejadian yang sesungguhnya. Mungkin, ini satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk Donghae.

"Lama sekali!"

"Maaf."

"Sebagai gantinya, aku ingin kau memegang tanganku sambil berjalan ke ujung jalan."

"Karena di sini sepi, baiklah."

"Memangnya kenapa kalau ramai?"

"Aku masih canggung. Belum terbiasa dengan semua ini."

"Aku akan membuatmu biasa."

Mereka berdua tersenyum sambil saling menatap. Tatapan itu, masihkah akan tetap sama ketika dia tahu apa yang terjadi di masa lalu?

"Aku ingin kita lebih sering berjalan seperti ini."

"Hm."

Sebelumnya, Eunhyuk tidak pernah melakukan hal-hal cheesy seperti ini. Well, ini pertama kalinya Eunhyuk memiliki kekasih, jadi apapun yang dilakukannya bersama Donghae selalu menjadi hal baru untuknya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, tanpa kata, tanpa suara, hanya berjalan lurus ke depan sambil bergandengan tangan. Baik Eunhyuk maupun Donghae, tidak ada yang berinisiatif membuka obrolan, mereka hanya ingin menikmati saat-saat seperti ini. Bergandengan tangan di pinggir Sungai Han, merasakan hembusan angin, dan menikmati setiap detik yang berlalu.

"Apa kau percaya padaku?"

Eunhyuk membuka obrolan dengan suara yang lirih, entah kemana perginya Eunhyuk selalu penuh percaya diri. Saat kehilangan Donghae nanti, Eunhyuk mungkin tidak akan mampu bersuara lagi. Entahlah.

"Tentu."

"Kenapa?"

"Aku ingin mempercayaimu apapun yang terjadi. Bukankah itu point utama dari sebuah hubungan? Ya, terlepas dari hubungan yang lurus atau seperti kita sekarang, kepercayaan adalah point yang paling utama dan penting. Setidaknya, menurutku begitu."

Jawaban Donghae membuat Eunhyuk terdiam, ia terenyuh dan merasa tersentuh dengan kata-kata sederhana Donghae. Dia bahkan menjawab dengan lancar tanpa berpikir terlebih dahulu. Di awal hubungan mereka, Donghae bahkan sudah menunjukan keseriusannya dengan menunjukan rasa percayanya pada Eunhyuk. Jika Eunhyuk tidak jujur padanya, maka Eunhyuk akan terlihat sangat jahat. dan Eunhyuk tidak mau menjadi sosok seperti itu di mata Donghae.

"Bagaimana kalau aku membuatmu kecewa?"

"Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

Langkah Donghae terhenti, otomatis Eunhyuk ikut berhenti. Tatapan mereka kembali bertemu, dan di saat seperti ini Eunhyuk membenci tatapan itu. Tatapan Donghae yang sendu dan hangat itu akan membuat Eunhyuk berkata jujur dengan sukarela.

"Aku ingin kau mendengarkanku sampai ceritaku berakhir. Setelah itu, aku tidak akan menolak keputusan apapun darimu. Bahkan, jika kau memutuskan untuk meninggalkanku, aku akan menerimanya"

Donghae diam, tidak memberi tanggapan apapun. Ia menarik Eunhyuk untuk duduk di bangku terdekat dan bersiap mendengarkan cerita Eunhyuk. Dari dulu, Donghae tidak pernah mendahulukan emosinya dan selalu mendengarkan orang yang ingin menjelaskan sesuatu. Meski terlihat sangat tenang, Donghae sebenarnya sangat gugup dan penasaran dengan apa yang akan diceritakan Eunhyuk padanya.

Hanya bisa berharap, apa yang selama ini dipikirkannya salah.

"Aku mengenal Sohyun. Tidak, bahkan lebih dari itu. Aku berteman dengannya dan sering berbagi cerita dengannya."

Eunhyuk menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. Baru mengatakan awalnya saja, Eunhyuk sudah kesulitan mengatur nafasnya. Tatapan Donghae yang lembut dan sendu seakan mengintimidasi. Eunhyuk takut sekali.

"Awalnya, aku berteman dengannya karena dia satu-satunya orang selain Siwon yang menerima perbedaanku. Dia tidak pernah mempermasalahkan orientasi sex menyimpangku, dia juga selalu mengajakku bicara meski dia tahu aku ini berbeda. Selain mengajariku soal keuangan perusahaan, dia selalu menceritakan soal kekasihnya padaku. Makanan kesukaannya, kebiasaannya saat mabuk, sifatnya, dan hal-hal kecil lainnya yang membuatku merasa dekat dengan kekasihnya."

Jemari Eunhyuk terkepal kuat, ia benar-benar ketakutan dan bingung. Haruskah ceritanya dilanjutkan? Donghae belum memberi reaksi apa-apa, dia masih duduk dengan tenang disampingnya sambil mendengarkan Eunhyuk dengan seksama.

"Kemudian, suatu hari kau datang ke perusahaan untuk menjemput Sohyun. Hari itu aku ada di sana, melihatmu tersenyum cerah menyambutnya di depan gedung perusahaan. Ternyata, kekasih Sohyun sangat tampan, persis seperti yang selalu Sohyun ceritakan. Aku langsung jatuh cinta padamu saat itu juga. Aku menyukaimu dan aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri."

Perasaan Donghae mendadak tidak enak, ia takut sekali dengan kalimat Eunhyuk yang selanjutnya. Bagaimana jika Eunhyuk mengatakan hal-hal yang tidak diinginkan Donghae? Tapi meski begitu, Donghae tetap tenang dan berusaha bersabar mendengarkan cerita Eunhyuk sampai akhir.

"Aku menyukaimu, itu sebabnya aku semakin rajin datang ke perusahaan sebelum berangkat ke bar. Meski terpaksa, aku tetap datang untuk belajar keuangan dan mendengar cerita Sohyun tentang dirimu. Tapi suatu hari, Sohyun yang biasanya ceria mendadak pendiam. Dia kelihatan murung dan tidak bersemangat. Padahal aku tahu, hari pernikahannya tidak lama lagi. Kupikir dia hanya tegang saja, tapi saat aku mencari tahu, ternyata dia tertekan karena ayahku yang tidak mengijinkannya keluar dari perusahaan sebelum keuangan perusahaan stabil. Ayahku bilang, dia harus berhasil membuatku menjadi CEO sebelum dia mengundurkan diri."

"Jadi—dia benar-benar bunuh diri karena tertekan?"

Eunhyuk menggeleng, ia menatap Donghae penuh harap. Berharap Donghae tidak berpikir macam-macam sebelum ceritanya selesai.

"Dia di bunuh."

"A—pa?"

"Aku melihat pembunuhnya berlari lewat tangga darurat setelah memukul kepala Sohyun dengan sesuatu seperti palu, kemudian dia mendorong tubuh tidak berdaya Sohyun ke bawah agar terlihat seperti kecelakaan atau bunuh diri. Aku tidak melihat pelakunya dengan jelas, tapi aku yakin pelakunya melihat wajahku."

Wajah Donghae berubah pucat pasi, ia membayangkan bagaimana kejamnya si pembunuh itu menyiksa Sohyun lalu membunuhnya. Salah apa Sohyun? Kenapa ada orang yang tega membunuh gadis yang berat badannya bahkan tidak sampai 60 kilogram. Manusia keji seperti apa dia?

"Seseorang yang masuk ke apartemenku waktu itu bukan Kim Kibum. Dia—dia pembunuh Sohyun, pembunuh itu selalu mengawasi gerak-gerikku dan mengancamku setiap kali aku akan membuka mulutku soal kasus ini."

"Lalu, kalau kau dan ayahmu tidak terlibat, kenapa kasus ini terkesan ditutup-tutupi?"

"Ayahku salah paham! Di hari yang sama, ayahku datang ke apartemen Sohyun dengan tujuan untuk membujuk Sohyun agar tetap tinggal di perusahaan. Dia melihatku duduk di samping Sohyun, dan dia kira akulah yang melakukan itu semua. Itu sebabnya ayahku panik dan menyuruhku pergi tanpa mau mendengarkan penjelasanku."

"Kenapa?"

"Dia berpikir aku benar-benar membunuhnya dan tidak mau mengakuinya karena takut. Aku bahkan sudah berteriak dan menangis dihadapannya, tapi dia menutup telinganya dan menghubungi semua kenalannya di kejaksaan untuk menutup kasus Sohyun sebagai kasus bunuh diri biasa."

"Jadi, semua di rekayasa oleh ayahmu?"

"Maafkan aku."

Donghae melemas, pikirannya campur aduk tak karuan. Apa yang akan dilakukannya? Apa yang harus dilakukan?

Apa yang harus aku lakukan?

.

.


ooODEOoo


DESEMBER 2012

Sohyun mendengar bell apartemennya berbunyi sesaat setelah sambungan teleponnya dengan Donghae terputus, ia pikir itu Eunhyuk karena kemarin Eunhyuk memberitahunya akan memberikan kado pernikahan untuknya. Dengan senyum yang masih mewarnai wajah cantiknya, Sohyun membuka pintu apartemennya tanpa melihat intercomnya, ia terlalu senang hingga tidak berpikir untuk melihat intercom. Padahal, Donghae selalu mengingatkannya agar melihat intercom untuk memastikan siapa yang datang.

"Hai."

"K—kau. Mau apa?"

Sesosok laki-laki yang sangat di kenal Sohyun berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya. Sayangnya, Sohyun tidak menyukai senyumnya yang terkesan mengintimidasi itu. Hanya segelintir orang yang tahu, di balik senyumnya ramah, dia adalah sosok yang sangat mengerikan.

"Kau gadis pembangkang ternyata."

Sohyun mundur beberapa langkah begitu laki-laki itu melangkah maju mendekati Sohyun. Suaranya datar tapi menusuk dan mengintimidasi. Samar-samar, Sohyun melihat laki-laki itu menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

Seperti—tas?

"Bukankah aku sudah bilang padamu? Jangan membantahku!"

"Kau sungguh menyedihkan!"

Laki-laki itu tidak bergeming, ia duduk di meja makan Sohyun lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dengan santai, ia menuangkan sesuatu ke dalam gelas lalu meminumnya dengan santai.

"Sudah mau mati pun, kau tetap angkuh dan sombong. Aku tidak mau melakukan ini, tapi kau memaksaku untuk melakukannya. Bagaimana, Joo Sohyun?"

Dalam satu gerakan yang cepat, laki-laki itu menyeret Sohyun ke tangga darurat dimana tidak ada orang yang akan datang kesana melam-malam begini. Laki-laki itu menghantam kepala Sohyun dengan palu ditangannya, mengabaikan jeritan kesakitan Sohyun. Setelah di rasa gadis itu telah tidak berdaya, ia mendorongnya agar jatuh bergulingan dan terlihat seperti baru kecelakaan.

Laki-laki itu tersenyum puas sambil memandangi tubuh Sohyun yang bersimbah darah.

"Matilah dengan tenang, terima kasih sudah membantuku selama ini."

.

.


ooODEOoo


Donghae berlari ke ruangannya dengan tergesa-gesa, ia mengumpulkan semua berkas kasus yang ia dapat dari senior-seniornya yang menangani kasus Sohyun tiga tahun yang lalu. Kasus ini harus di buka kembali, pembunuhnya masih berkeliaran dan nyawa Eunhyuk dalam bahaya. Kalau Donghae menyerah pada kasus ini, maka ia akan kehilangan Eunhyuk juga. Jika sampai Eunhyuk terluka juga, maka Donghae akan hancur untuk kedua kalinya.

"Yunho, hubungi jaksa yang menangani kasus Sohyun dan kepala polisi sekarang juga. Yoochun, pergilah ke ke NFS dan minta berkas otopsi Sohyun. Dan petugas Cha, ambil rekaman CCTV sebulan terakhir dari gedung apartemen Eunhyuk."

Melihat Donghae masuk dan langsung memberi perintah dengan tidak santai, membuat Yunho dan Yoochun bertukar pandang. Apa-apaan? Datang-datang langsung memberi perintah tanpa memberi penjelasan yang jelas terlebih dahulu. Yunho meninggalkan mejanya, ia menghampiri Donghae dan menahan gerakan tangan Donghae yang sedang sibuk membolak-balik berkas kasus.

"Ada apa sebenarnya?"

"Aku ingin kasus tiga tahun yang lalu di buka lagi."

Damn it! Donghae sungguh nekat! Yunho mendelik tidak percaya, berani sekali Donghae meminta membuka kasus yang sudah di tutup? Urusannya bukan hanya dengan kepala polisi saja, tapi juga dengan jaksa terkait dan mungkin keluarga korban.

"Kau sadar dengan apa yang kau katakan, Lee Donghae?"

Kali ini Yoochun angkat bicara, ia yang biasanya diam saja dan selalu menuruti perintah rekannya, kali ini merasa harus menahan Donghae dan tidak mengikuti perintahnya.

"Sohyun di bunuh! Pembunuhnya masih berkeliaran dan Eunhyuk ada dalam bahaya!"

"Oke, pertama-tama kau harus menceritakan dulu detailnya. Setelah tahu duduk perkaranya, aku dan Yoochun akan melakukan perintahmu."

Alis Yoochun bertaut, ini gila! Kalau ketua tim sampai tahu, mereka bisa dapat hukuman. Yunho mana bisa sembarangan mengiyakan keinginan Donghae? Dia seharusnya berpikir dulu sebelum bicara.

"Yunho, kalau kau membantunya dan Timjangnim tahu, kita semua akan selesai!"

"Aku akan melibatkan Timjangnim. Aku akan memberitahunya secepat mungkin."

Yoochun tidak habis pikir, bagaimana bisa pikiran Donghae sedangkal itu? Kalaupun ketua tim menyetujuinya dan kasus kembali di buka, ia tidak akan bisa terlibat. Dalam peraturan sudah jelas, anggota keluarga korban dilarang terlibat dalam kasus penyelidikan karena hasil penyelidikannya tidak akan objektif dan hanya berdasarkan emosi.

"Kalaupun semua ini disetujui, kau tidak akan bisa terlibat dalam kasus penyelidikan ini."

"Kalau begitu aku tidak akan terlibat, aku hanya akan memohon pada kalian untuk membantuku mencari dan menangkap pelaku yang sesungguhnya."

Mata bening Donghae berkaca-kaca, ia duduk lesu di kursinya dan tatapan yang tidak bisa di tolak. Jika sudah begini, Yunho dan Yoochun hanya bisa menghela nafas panjang secara bersamaan. Apa lagi? Siapa yang bisa menolak tatapan sendu itu?

"Ceritakan dulu apa yang sebenarnya terjadi?"

Dengan terbata-bata disertai nafas yang tidak teratur, Donghae menceritakan semua yang didengarnya dari Eunhyuk pada Yunho dan Yoochun. Semua, tanpa terkecuali. Donghae menceritakan setiap detail yang diceritakan Eunhyuk, berharap kedua sahabatnya ini mau percaya dan membantunya membuka kasus itu kembali.

Kalau pelakunya tertangkap, Donghae tidak akan melakukan hal gegabah, ia hanya ingin pelakunya di tangkap dan diadili sesuai dengan perbuatan kejamnya pada Sohyun. Hanya itu, Donghae tidak menginginkan apapun lagi.

"Jadi, pelaku yang mengacak-acak rumah Eunhyuk waktu itu adalah pembunuh Sohyun?"

"Itu sebabnya aku minta bantuan pada kalian. Kalau terjadi sesuatu pada Eunhyuk, maka aku akan hancur dua kali. Atau bahkan aku tidak akan sanggup berdiri lagi dan akhirnya memilih mengakahiri hidup. Aku mohon."

"Oke, oke baiklah. Aku akan mencoba menemui jaksa yang menangani kasus Sohyun, dan Yoochun akan menjelaskan semuanya pada Timjangnim. Setelah itu, barulah Timjangnim yang akan memberitahu kepala polisi. Kau tidak perlu khawatir, kalau yang kau katakan memang benar, maka surat perintah untuk membuka kasus tiga tahun yang lalu akan segera ada di tangan kami."

"Masalahnya,"

Yoochun menyela pembicaraan Yunho. Kalau dibiarkan lebih lanjut, mereka akan mengabaikan aturan-aturan yang paling penting. Dua orang bodoh ini tidak bisa di tinggal sendirian. Lihat saja, belum apa-apa sudah mau bertindak gegabah tanpa di pikir sebab dan akibatnya.

"Kita tidak bisa hanya membawa omong kosong. Kalau kau ingin jaksa percaya dan ingin kasus ini kembali di buka, maka kita harus membawa Eunhyuk dan menjadikannya sebagai saksi. Bukankah kau bilang dia ada di TKP pada waktu itu? Dia akan menjadi bukti bahwa memang kasus ini adalah pembunuhan. Dan yang paling penting, Eunhyuk harus meyakinkan ayahnya bahwa dia bukan pelaku yang sebenarnya dan mencabut semua koneksinya agar jaksa terkait tidak menutup-nutupi kasus ini lagi. Sehingga, jaksa yang berkaitan bersedia membuka kasus ini tanpa proses panjang yang melelahkan."

"Eunhyuk sedang menemui ayahnya sekarang. Kalau ada kabar, dia akan meneleponku dan aku akan langsung menemuinya. Oh, tapi bukankah bahaya bagi Eunhyuk jika dia muncul sebagai saksi? Pelakunya terus mengawasi gerak-gerik Eunhyuk."

"Kita akan memberlakukan perlindungan saksi terhadapnya. Kau juga bisa melindunginya, tinggal lah bersamanya sementara waktu."

Akhirnya Donghae bisa bernafas sedikit lega, setidaknya sahabatnya mau membantunya. Meskipun tidak bisa secara langsung terlibat dalam kasus penyelidikan, ia masih bisa bersyukur karena teman-temannya mempercayainya dan bersedia membantunya.

"Petugas Cha sudah berangkat untuk mengambil rekaman CCTV di apartemen Eunhyuk."

Yunho melihat ke meja yang biasa ditempati petugas Cha. Wah, Yoochun benar. Dia sudah tidak ada ditempatnya. Kenapa dia gesit sekali? Baru di perintah sekali, dia langsung menjalankannya tanpa bertanya. Jabatannya akan cepat naik kalau dia selalu gesit seperti itu.

Tuhan, bantu aku kali ini...

.

.


"Sudah aku bilang, bukan aku pelakunya!"

Eunhyuk yang awalnya bicara baik-baik pada ayahnya, kini mulai menaikan nada suaranya dan terkesan berteriak pada ayahnya. Orang di luar pasti sedang menguping dan terkejut mendengar teriakan Eunhyuk. Persetan dengan tanggapan semua orang, Eunhyuk hanya ingin ayahnya tahu bahwa ia tidak bersalah dan tidak melakukan apapun pada Sohyun.

"Ayah mengerti. Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengaku karena ayah sudah mengurus semuanya. Kau hanya perlu diam saja sampai akhir dan pura-pura tidak tahu."

"Ayah!"

"Hyukjae, ayah mohon."

"Kau benar-benar tidak mempercayai anakmu sendiri? Aku sungguh tidak membunuhnya! Pelaku yang sesungguhnya sedang berkeliaran di luar sana, dia bisa saja membunuh orang lain dan akan jatuh korban lainnya. Aku tidak meminta ayah untuk melakukan hal besar, aku hanya meminta ayah untuk tidak ikut campur dalam kasus tiga tahun yang lalu jika kasus itu kembali di buka."

Sang ayah terdiam, ia memperhatikan wajah anaknya dengan seksama. Kekhawatiran tercetak jelas di wajah sendunya, ia jelas mengkhawatirkan anak laki-lakinya, tapi tidak bisa berbuat banyak. Sekuat tenaga ia mengubur kasus itu dan tidak mau membahasnya lagi, tapi anaknya malah terus membawanya kepermukaan.

"Aku akan mengambil alih posisi Siwon, aku akan menjadi apa yang ayah mau, dan menjalani semua perintah ayah dengan patuh. Tapi, aku harap ayah tidak ikut campur dalam kasus ini dan biarkan polisi bekerja. Aku akan membuktikan pada ayah, bahwa aku bukan pelakunya."

"Lakukan."

Akhirnya sang ayah melunak, ia mengangguk perlahan. Tapi, raut kekhawatiran itu masih terlihat jelas di wajahnya. Eunhyuk yakin, bahkan ketika ia pergi untuk menjalani wajib militer, ayahnya tidak pernah memasang raut wajah seperti itu. Eunhyuk jadi bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan ayahnya?

"Kalau begitu, aku permisi."

"Tinggal lah dengan kekasihmu."

Eunhyuk kembali berbalik untuk menatap wajah ayahnya. Kekasih? Ayahnya tahu ia punya kekasih? Seingatnya, Eunhyuk tidak pernah memberitahu apapun soal Donghae pada ayahnya.

"Dia polisi, bukan? Kau akan lebih aman jika tinggal bersamanya. Aku akan meminta pihak kepolisian untuk memberlakukan perlindungan saksi padamu."

Mulut Eunhyuk masih terkunci rapat, ia masih bingung dengan tindakan sang ayah. Jadi, selama ini dia tahu bahwa Eunhyuk menyimpang dan tidak pernah protes? Kenapa? Wah, ayahnya menyimpan banyak rahasia rupanya. Oh, Eunhyuk lupa ayahnya bisa melakukan apapun. Termasuk menyewa orang untuk membuntutinya dan memata-matainya.

"Ayah tahu semuanya?"

"Pergilah, ayah ada rapat sebentar lagi. Oh, rapat besok pagi dengan dewan direksi kau harus menghadirinya."

"Aku tahu."

Eunhyuk keluar dari ruangan ayahnya, bibirnya menyunggingkan senyum samar-samar. Ternyata, ayahnya tidak seburuk yang ia pikirkan. Dia menunjukan reaksi yang kooperatif bahkan setelah tahu Eunhyuk menyukai sesama jenis.

"Kau jadi rajin menemui ayahmu, mulai tertarik dengan perusahaan?"

Sialan! Kyuhyun muncul tiba-tiba dihadapannya, membuat Eunhyuk terperanjat kaget dan hampir saja ia mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyumpahi Kyuhyun. Untungnya, Giljun ada di sana untuk menahan amarahnya.

"Kau benar-benar seperti setan, muncul tiba-tiba dihadapan orang! Mau apa?"

"Mau makan malam denganku?"

"Aku ada janji dengan Donghae. Maaf."

"Aku membenci perubahanmu."

Dia mulai lagi. Eunhyuk memutar bola matanya, malas. Terakhir, Eunhyuk adu mulut dengan Kyuhyun gara-gara dia meminta Eunhyuk meninggalkan Donghae tanpa alasan yang jelas. Bagi Eunhyuk, Donghae adalah segalanya dan tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan Donghae. kenapa Kyuhyun selalu memaksanya untuk meninggalkan Donghae? Dia tampan dan kaya, siapapun bisa dia dapatkan.

"Jangan mulai, Kyuhyun."

"Kau jadi lebih tenang. Aku lebih suka kau menjadi dirimu sendiri. Liar, kasar, dan binal."

Eunhyuk menahan emosinya, jemarinya terkepal kuat dan nafasnya mulai memburu. Kalau saja ini bukan di perusahaan dan tidak ada mata yang memandangi mereka, Eunhyuk pasti sudah melayangkan tinjunya dan membuat wajah tampan Kyuhyun babak belur.

"Aku tidak mau melukai wajah tampanmu, Kyu. Enyahlah dari hadapanku, saat ini aku sedang tidak mau bicara padamu."

Kyuhyun tersenyum simpul, ia merasa sudah biasa di tolak dan dikasari oleh Eunhyuk. Meskipun begitu, Kyuhyun tetap bertahan karena itulah yang membuat Eunhyuk tampak menarik dimatanya. Menantang dan sexy. Sejujurnya, Kyuhyun kurang suka dengan laki-laki yang terlalu mudah ia dapatkan. Tidak ada tantangannya, datar, dan tidak seru.

"Pacarmu di bawah, menunggumu dengan wajah cemas seperti orang bodoh."

"Tutup mulutmu, brengsek!"

Kyuhyun mengatupkan bibirnya, kemudian ia mengangkat bahu. Memangnya apa yang salah? Donghae memang tampak seperti orang bodoh di bawah sana. Heran, kenapa Eunhyuk bisa menyukai seseorang dengan tampang seperti anak kecil begitu.

"Giljun, kau tidak usah menemaniku. Besok aku akan datang pagi-pagi dan menghadiri rapat. Sekarang, kau pulang saja"

Tatapan Giljun seperti meragukan kata-kata Eunhyuk, dan tentu saja hal itu mengundang desisan sebal dari Eunhyuk. Sekretarisnya ini selalu saja mencurigainya dan ketakutan kalau Eunhyuk akan kabur.

"Aku janji, Kang Giljun!"

"Baiklah, Sajangnim."

Eunhyuk sampai harus memelototinya, baru dia berhenti mengikuti Eunhyuk dan berbalik untuk kembali ke ruangannya. Ah, bocah itu! Harus diteriaki dulu baru mau menurut. Dia pikir suara Eunhyuk tidak berharga? Eunhyuk hanya akan berteriak pada Donghae dan mendesah untuknya.

"Kenapa wajahmu di tekuk? Kesal? Atau jangan-jangan—"

"Ayah setuju tidak akan ikut campur."

Mata Donghae membola, dalam hati ia bertanya-tanya. Kenapa mudah sekali? Donghae pikir ia harus datang dan memohon pada ayahnya Eunhyuk agar dia tidak ikut campur.

"Semudah itu?"

"Aku berjanji akan mengambil posisi Siwon dan bekerja dengan rajin di perusahaan. Aku menukar kebebasanku demi membongkar kasus yang melibatkanku."

Donghae tersenyum bangga, ia meraih Eunhyuk ke dalam pelukannya lalu mengecup pelipisnya. Kekasihnya ini pasti sudah mengorbankan banyak hal. Tidak ada yang bisa dilakukan Donghae selain mendukungnya dan melindunginya.

"Aku tidak bisa terlibat dengan penyelidikan ulang kasus ini jika di buka lagi. Yoochun bilang, anggota keluarga korban di larang diikutsertakan dalam penyelidikan karena penyelidikannya tidak akan objektif."

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Hm, bersantai di rumah bersamamu. Sekarang, kita ke apartemenmu dan mengambil barang-barangmu. Mulai hari ini, kau harus tinggal bersamaku."

Sebenarnya, Eunhyuk senang bisa tinggal dengan Donghae, tapi selama ini ia biasa tinggal sendiri dan tidak takut dengan ancaman si pembunuh. Eunhyuk bahkan tidak pernah melapor ke polisi, tapi kali ini Eunhyuk akan mengikuti saran Donghae untuk tinggal bersamanya. Karena apa? Karena tentu saja Eunhyuk jadi bisa menggodanya setiap saat, setiap hari, setiap kapanpun ia mau. Bagus sekali. Kapan lagi dapat kesempatan langka seperti ini?

"Kenapa aku jadi merinding."

Donghae bergumam sambil melirik sinis ke arah Eunhyuk. Well, ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan kekasih cabulnya itu. Kalau tidak sex non stop, pasti sesuatu yang lain yang tidak kalah mengerikannya. Donghae benar-benar tidak bisa menebak isi pikiran cabul Eunhyuk.

"Kenapa?"

"Kau pasti memikirkan sesuatu yang mesum."

"Kalau iya, memang kenapa? Keberatan? Kau selalu berlagak menolak, tapi pada akhirnya kau minta tambah hingga aku tidak kuat melayanimu."

"Kau—! Auh, ya Tuhan! Bahasamu, Hyuk!"

.

.


"Kupikir barang-barangmu akan banyak. Kau yakin hanya itu semua?"

Eunhyuk melirik satu koper besar yang sedang di tarik Donghae, kemudian mengangguk mantap. Rasanya, ia tidak memiliki banyak barang berharga selain gadgetnya. Lagi pula, sebenarnya Eunhyuk tidak perlu perlindungan yang berlebihan. Memangnya kenapa? Untuk apa? Eunhyuk sudah terbiasa menghadapi bahaya, bahkan ia pernah hampir mati. Ayah dan kekasihnya mulai berlebihan memperhatikan keselamatannya. Terlalu berlebihan.

"Donghae."

"Hm?"

Mendengar namanya di sebut, Donghae menutup pintu bagasi mobilnya lalu menatap Eunhyuk serius. Nada suaranya seperti ingin membicarakan hal yang serius. Tidak biasanya.

"Masuk dulu ke mobil."

Tanpa bertanya lagi, Donghae masuk ke dalam mobil. Kemudian memasang seat belt karena ia pikir, Eunhyuk ingin cepat-cepat pergi dari sana.

"Kenapa hari ini kau memakai wifebeater dan kemeja tipis?"

"Memangnya kenapa? Ini musim panas, kalau memakai jaket kulit aku bisa kepanasan."

"Saat kau membereskan apartemenku tadi, kau melepas kemejamu."

"Hm, lalu?"

"Aku tiba-tiba hard."

"A—apa?"

Mata Donghae melirik selangkangan Eunhyuk ragu-ragu. Sialan! Eunhyuk dan hormonnya benar-benar membuat Donghae kelabakan dan kalang kabut. Bagaimana bisa ia tegang begitu saja? Bagaimana kalau dia melihat Donghae telanjang tadi? Bisa-bisa dia langsung hamil dan melahirkan.

"Selesaikan di sini. Aku tidak suka menunggu."

"H—hei, ini di masih basement."

Mengabaikan penolakan Donghae, Eunhyuk langsung melepas seat belt Donghae dan duduk dipangkuannya. Tatapannya mulai berubah, menjadi lebih menggoda. Oh, baiklah. Mungkin mencoba sex di dalam mobil tidak buruk. Anggaplah sebagai menambah pengalaman. Donghae menarik pinggang Eunhyuk agar lebih mendekat padanya, ia juga mulai menatap Eunhyuk dengan tatapan yang berbeda. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tak biasa, terkesan menyeringai dan lebih menantang.

"You want me, right? Do me."

"You and your fucking mouth, Eunhyuk."

Eunhyuk tersenyum puas saat menyadari jemari Donghae mulai menggerayangi bagian depannya dan mulai membuka satu persatu kancing kemeja tipis Eunhyuk. Gerakannya lambat, tapi tatapannya sangat sensual. Hanya di tatap seperti itu saja, Eunhyuk merasa sudah ditelanjangi.

Sambil menunggu Donghae selesai dengan pekerjaannya, Eunhyuk memagut bibir Donghae tidak sabaran. Nafasnya memburu, pinggulnya bergerak tidak teratur, memberi stimulasi pada bagian bawah Donghae. Dalam pagutannya, Eunhyuk tersenyum. Kancing kemejanya sudah lepas semua dan sekarang Donghae sedang berusaha membuka bagian bawah Eunhyuk.

"Karena ini di tempat umum, aku akan melakukannya dengan cepat."

Donghae menarik turun resleting celananya, lalu mengeluarkan miliknya dan memposisikannya tepat di lubang Eunhyuk. Kontan saja hal itu membuat Eunhyuk menggigit bibir bawahnya. Sex di dalam mobil membuat gairah Eunhyuk semakin cepat terbakar.

"Ahyou got it. Bergerak, Donghae. Ngh—"

"Langsung kena? Ah, tidak seru. Seharusnya aku menyiksamu lebih lama."

"Hei—! Ahno. Donghae—please."

Eunhyuk memekik dan merintih, ia memohon pada Donghae agar terus menumbuk titik terdalamnya, menggerakan pinggulnya secara teratur, dan membuatnya melayang merasakan kenikmatan yang selalu ia damba.

"Ah—aku tidak ingin mengotori mobilku. Jadi, aku akan mengeluarkannya di dalam."

Desahan Eunhyuk semakin tidak karuan, ia merasa puncaknya sudah dekat, dan milik Donghae di dalam sana juga semakin membesar.

"Keluarkan semuanya di dalam."

Donghae menggeram nikmat saat cairannya keluar memenuhi bagian dalam Eunhyuk, ia mengatur nafasnya yang tersengah-engah tanpa mau repot-repot menyingkirkan Eunhyuk dari pangkuannya. Ia malah membiarkan Eunhyuk mengecupi seluruh lehernya. Satu atau dua tanda merah mungkin akan tertinggal, dan jika Yunho sampai tahu, dia akan uring-uringan karena Jaejoong belum bisa pulang ke Seoul.

Poor Yunho.

Sekali-kali, biar Donghae yang pamer dan meledek Yunho. Kasihan sekali, punya kekasih terkenal yang sibuk. Tidak bisa di garap kapanpun.

"Mau dilanjutkan saat kita sampai di rumah?"

"How about, no?"

"Kenapa?"

"Aku harus bekerja besok, begitu juga denganmu. Kau dan aku jika sudah di ranjang, tidak akan bisa berhenti."

Eunhyuk berdecih, ia mengecup singkat bibir Donghae sebelum menyingkir dari pangkuan Donghae.

"Ayo, jalan."

"Kau benar-benar terdengar seperti maniak!"

"Dan kau si bodoh yang selalu terjebak oleh si maniak ini. Katakan padaku, berapa kali kau terjebak? Kau selalu menolak, tapi pada akhirnya kau yang tidak bisa berhenti!"

"Kau—"

Yunho calling...

"Yunho menelepon, sebentar."

Eunhyuk mengangguk, ia bersandar di jok mobil sambil memejamkan matanya. Lelah sekali, harus bercinta di tempat sempit. Belum lagi, Donghae selalu mengajaknya berdebat setelah mereka selesai. Tidak bisakah Donghae mengatakan cinta setelah mereka selesai bercinta? Setidaknya katakan sesuatu yang manis, agar Eunhyuk tersentuh atau semacamnya. Dasar, Lee Donghae bodoh!

"Ada apa?"

"Joo Yuri dan Kim Miyoung yang kau datangi waktu itu, ditemukan meninggal di apartemennya."

"Apa?"

"Joo Yuri diperkirakan meninggal 2 hari yang lalu karena minum racun, namun mayatnya baru ditemukan hari ini. Dan Kim Miyoung baru meninggal dua jam yang lalu, mayatnya ditemukan tergantung di palang pintu kamarnya. Gantung diri."

Donghae melirik Eunhyuk dengan ekor matanya, kasus ini ternyata lebih rumit dari perkiraannya. Pembunuh itu pasti mengawasi setiap gerak-gerik Donghae dan Eunhyuk. Gawat, jika Donghae meneruskan penyelidikannya, maka akan ada korban lainnya. Bahkan mungkin, Eunhyuk lah yang akan jadi korban selanjutnya.

"Kasus tiga tahun yang lalu di buka kembali atas pertimbangan dari kepala polisi, jaksa yang menangani kasus itu mengundurkan diri karena malu menerima suap. Masalahnya sangat rumit, tapi untungnya kasus ini telah resmi kembali di buka. Sayangnya, kau tidak akan bisa ikut dalam tim khusus kali ini. Kau ditugaskan bersama Jongwoon Hyung dan Ryeowook untuk menyelidiki kasus kematian Joo Yuri dan Kim Miyoung."

"Aku mengerti, terima kasih."

Keterlaluan, pembunuhnya pasti seseorang tanpa perasaan! Bagaimana bisa dia membunuh orang-orang tak bersalah? Donghae memukul stirnya, frustasi. Sekali lagi, matanya melirik Eunhyuk yang kini sedang meliriknya juga dengan tatapan bingung.

"Ada apa? Kau membuatku kaget."

"Joo Yuri dan Kim Miyoung ditemukan meninggal."

"Siapa mereka?"

"Aku mendatangi mereka beberapa hari yang lalu, mereka orang-orang yang dekat dengan Sohyun."

Wajah Eunhyuk berubah muram, ia berpikir semua ini gara-gara dirinya. Mungkin pembunuh itu tahu Eunhyuk akan bersaksi untuk kasus tiga tahun yang lalu, itu sebabnya ia kembali menebar teror untuk menekan Eunhyuk.

"Bagaimana ini?"

"Aku akan memastikan kau aman sampai teman-temanku menangkap pelakunya."

Aku akan melindungimu. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan melindungimu...

.

.


ooODEOoo


Korban Kim Miyoung, duapuluh sembilan tahun, bekerja di Hyundai Group sebagai manager keuangan menggantikan Sohyun yang meninggal tiga tahun yang lalu. Ditemukan meninggal di apartemennya dalam keadaan gantung diri di palang pintu kamarnya. Tali yang digunakan adalah tali tambang plastik berukuran 7mm dengan panjang sekitar 2 meter.

Ada yang aneh di sini.

Donghae memakai sarung tangan latexnya sebelum memegang tali yang digunakan korban untuk bunuh diri. Aneh, bekas jeratan di leher korban ukurannya lebih besar dari tali yang digunakan. Bekas jeratan di leher korban seperti menggunakan tali berukuran 12mm sementara tali yang digunakan untuk bunuh diri adalah 7mm. Bagaimana bisa ukurannya berbeda?

"Ada yang aneh, 'kan?"

"Hm."

Kim Ryeowook, detektif bertubuh mungil dengan kemampuan menembak yang luar biasa. Sebelum ada di divisi pembunuhan, ia ditempatkan di bagian SWAT, ahli menembak jarak jauh. Ryeowook menyerahkan kantong plastik kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan bukti pada Donghae, ia ikut berjongkok di samping Donghae sambil mengamati tali yang tadi di pegang Donghae.

"Itu ditemukan di leher korban. Seperti serat ijuk atau semacamnya. Jelas, korban bukan mati karena di jerat tali 7mm itu. Seseorang mungkin menjeratnya dengan sesuatu, sebelum menggantungnya agar terlihat seperti bunuh diri. Serat itu biasanya ditemukan di tali tambang yang terbuat dari ijuk. Tapi anehnya, tali yang temukan di sini malah tali tambang plastik."

Kejadian yang sama lagi. Donghae mendesah pelan, ia selalu saja terlibat dalam kasus seperti ini. Sekali lagi Donghae mengamati tali yang digunakan korban saat bunuh diri, ia yakin pasti ada sesuatu.

"Apa tim forensik sudah memeriksa semua ini?"

"Sudah, tapi tidak ada sidik jari siapapun kecuali sidik jari korban. Semuanya bersih. Tapi, aku berencana mengirim tali ini ke laboratorium untuk di teliti lebih lanjut lagi. Mungkin saja sidik jari korban ada yang tertinggal. Bukti-bukti mikro akan sangat membantu di saat seperti ini."

"Bagaimana dengan jejak kaki atau DNA di kuku korban? Siapa tahu korban sampan menyentuh pelakunya."

"Semua itu sedang di periksa bagian forensik, setelah hasilnya keluar mereka akan mengabari kita. Oh, masalah kuku, korban tidak memiliki kuku panjang."

Tidak memiliki kuku panjang? Alis Donghae bertaut, itu bahkan semakin aneh. Terakhir saat Donghae bertemu dengan Kim Miyoung, dia menggunakan cat kuku dan pernak-pernik lucu di kukunya, dia juga terlihat seperti orang yang sangat merawat kukunya. Terbukti dengan adanya beberapa alat kecantikan kuku di meja kerjanya. Seperti kikir, cat kuku warna-warni, dan beberapa gliter. Gadis seperti itu, tidak mungkin membiarkan kukunya di potong pendek tanpa alasan.

Donghae mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sepertinya, korban adalah orang sangat rapi. Semua barang-barangnya tertata rapi. Tidak banyak barang, hanya ada sofa, televisi, meja bundar kecil yang terdapat gelas wine diatasnya, dan meja makan kosong yang terletak di samping dapur kecilnya.

"Korban menggunakan cat kuku berwarna merah muda, tapi kukunya pendek."

"Lalu, korban Joo Yuri?"

"Jongwoon Hyung bilang, sepertinya korban minum racun arsenik. Sulit sekali terdeteksi, Jongwoon Hyung hampir seharian menunggu di NFS."

Yang ini juga aneh.

Arsenik? Korban bunuh diri biasanya minum cairan pembersih toilet, obat dosis tinggi, atau paling parah pil sianida. Tapi ini? Arsenik? Bagaimana bisa korban bunuh diri menggunakan arsenik? Lagi pula, sulit mendapatkan arsenik di pasar bebas.

"Menurutmu aneh juga, 'kan? Tidak biasa bunuh diri menggunakan arsenik."

"Sudah ada yang dicurigai? Bagaimana laporan CCTVnya?"

Ryeowook mengeluarkan tablet canggihnya, di saat Donghae masih menggunakan buku catatan, Ryeowook sudah menggunakan benda canggih itu untuk menyimpan berbagai informasi penting. Well, sebenarnya Donghae bukannya tidak mau menggunakan alat canggih itu. Hanya saja, tangannya seperti sesuatu yang mematikan untuk gadget. Pernah beberapa kali Donghae menggunakan tablet, dan pada akhirnya tablet itu mati dengan sendirinya. Yunho bilang, tangannya musuh bagi semua gadget. Well, terserah. Toh, Donghae masih bisa menulis.

"Belum ada orang yang dicurigai, CCTV di lobby sedang dalam perbaikan dan CCTV di basement tidak menangkap apapun yang mencurigakan. Kemungkinan besar, pelaku melewati tangga darurat yang tidak terpasang CCTV. Jangan bertanya soal Korban Joo Yuri! Keadaannya juga sama saja. CCTV di apartemennya tidak merekam sesuatu yang janggal."

Benar-benar sialan! Fuck! Shit! Donghae melepaskan sarung tangan latexnya, lalu melemparkannya dengan kesal. Pelakunya benar-benar orang yang cerdas, dia tidak meninggalkan jejak apapun. Sidik jari, jejak sepatu, atau rekaman CCTV. Sebenarnya dia manusia atau bukan? Kenapa membunuh dengan cara serapi itu?

"Kasus ini sepertinya terkait dengan kasus tiga tahun yang lalu. Tapi kau tidak perlu cemas, kita pasti bisa menyelesaikannya. Sudah malam, kau pulang lah duluan. Aku dan beberapa petugas akan berjaga di sini. Kudengar, kau sedang melindungi saksi, 'kan? Jangan tinggalkan dia terlalu lama, pembunuhnya mungkin sedang menunggu kesempatan untuk mencelakainya."

Oh, benar. Eunhyuk sedang menunggunya di rumah, sudah larut malam juga. Saat ini, kelesamatan Eunhyuk harus diutamakan, terlebih pelaku selalu mengawai gerak-gerik Eunhyuk.

"Aku akan mampir ke tempat Joo Yuri dulu."

"Disana sudah ada Jongwoon Hyung!"

"Aku perlu memeriksa TKP!"

Ryeowook menghela nafas, sejak dulu Donghae memang keras kepala. Akhirnya Ryeowook menyingkir dari jalan dan membiarkan Donghae lewat. Percuma berdebat dengannya, dia tidak akan mendengarkannya dan tetap pergi.

"Petugas Cha, ada berapa orang yang mengawasi apartemen Detektif Donghae?"

"Empat orang."

"Mereka bersenjata?"

"Tentu saja! Mereka orang-orang yang pernah kau latih menembak dulu."

"Baguslah."

.

.


Korban Joo Yuri, tigapuluh tahun, bekerja di LG Group sebagai ketua tim bagian pemasaran. Pernah bekerja di Hyundai Group dan berteman dengan Sohyun sebelum akhirnya pindah bekerja. Ditemukan meninggal diapartemennya karena keracunan. Racun yang digunakan korban adalah jenis arsenik cair yang dicampurkan ke dalam minuman penambah energi yang biasa di konsumsi korban. Dari laporan NFS, dosis yang digunakan cukup tinggi.

Sama seperti yang terjadi pada Kim Miyoung, tidak ada jejak dan sama sekali bersih.

"Henry sedang memeriksa pemilik arsenik, tim lain masih memeriksa CCTV dan sebagian ada di NFS menunggu perkembangan."

"Kenapa kau masih disini?"

"Aku merasa janggal."

Jongwoon menunjukan gelas wine yang ada di samping televisi, laki-laki bermata sipit dengan tinggi rata-rata itu kembali memakai sarung tangan latexnya lalu membawa gelas wine itu kehadapan Donghae.

"Saat melihat kondisi korban, sepertinya dia baru pulang dari suatu tempat. Riasan diwajahnya masih terlihat dan bibirnya masih merah menyala karena lipstick. Tapi, di gelas wine ini tidak ada bekas bibirnya sama sekali? Tidak ditemukan bekas lipstick di gelas wine ini dan tidak ditemukan sidik jari korban. Yang lebih aneh lagi, tidak ditemukan satupun botol wine di sini."

Tunggu.

Gelas wine?

"Di rumah korban Kim Miyoung juga ditemukan gelas wine serupa! I—ini, bukankah ini pembunuhan berantai?"

"Benarkah? Kalau begitu kita akan memasukan ini sebagai alat bukti."

"Hyung, periksa dulu gelasnya. Siapa tahu DNA korban tertinggal."

Jongwoon mengangguk, ia memasukan gelas itu ke dalam kantong plastik lalu menghubungi Ryeowook untuk membawa gelas yang ada di rumah Kim Miyoung ke laboratorium forensik.

"Aku dan Ryeowook akan memeriksa ini di laboratorium, kau pulanglah duluan."

Donghae mengangguk, ia melihat Jongwoon keluar pintu lalu matanya kembali memperhatikan setiap sudut rumah.

Pasti pelakunya meninggalkan sesuatu...

Pasti.

.

.


"Kau sudah pulang?"

"Hm."

Donghae melepaskan kemeja tipisnya, lalu berbaring di sofa sambil memandangi langit-langit rumahnya. Donghae yakin, kasus ini pasti ada kaitannya dengan kasus tiga tahun yang lalu. Meski masih belum tahu siapa pelakunya, tapi dia pasti pelaku yang sama.

"Aku menemukan ini di kotak suratmu."

Surat ancaman!

Mata Donghae mendelik, ia melirik Eunhyuk lalu merebut surat itu dari tangan Eunhyuk. Dari kotak suratnya? Tidak mungkin! Mungkinkah si pelaku tahu alamat rumahnya?

"Surat itu bukan ditujukan padaku. Dia bilang, kau yang selanjutnya."

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya, ia tidak pernah takut saat menerima banyak surat ancaman yang ditujukan padanya, tapi saat menemukan surat itu ditujukan pada Donghae, ia merasa sangat ketakutan. Bagaimana jika pembunuhnya benar-benar ingin membunuh Donghae?

"Aku akan mengirimkannya ke tim forensik besok, kau tidak perlu cemas."

Donghae menarik lengan kurus Eunhyuk, lalu mendekapnya dengan erat. Tidak yang bisa Donghae katakan saat ini, ia hanya bisa memeluk Eunhyuk untuk membuatnya nyaman dan merinkankan kecemasannya.

"Kau bisa celaka gara-gara aku, bagaimana bisa aku tidak cemas?"

"Dia akan tertangkap sebelum bisa mencelakai aku."

Jemari Donghae mengusap lembut wajah Eunhyuk, kemudian memagut lembut bibir plumnya. Wah, di saat seperti ini, kenapa Donghae merasa Eunhyuk sangat manis? Sialan! Donghae telah benar-benar terjebak oleh pesonanya. Donghae bahkan tidak peduli dengan surat ancaman yang diterimanya dan lebih mencemaskan keselamatan Eunhyuk.

"Besok pagi-pagi aku harus ke kantor, sebaiknya kita tidur."

Eunhyuk mengangguk, ia masuk ke dalam kamar tanpa menunggu Donghae lalu mematikan lampunya dan bersiap tidur. Suasana hatinya sedang buruk, padahal tadi ia ingin sekali menggoda Donghae dan melanjutkan aktifitas di mobil tadi.

"Lampunya jangan dimatikan!"

"Kenapa?"

"A—aku—hm, sedikit takut gelap."

Bibir Eunhyuk mengatup menahan tawa, tidak di sangka polisi seperti Donghae takut gelap. Haruskah ia tertawa sekarang? Pantas saja Yunho sering meledeknya.

"Oke."

"Dan jangan tidur sambil memunggungiku."

"Kenapa lagi?"

"Banyak tanya!"

Donghae menarik Eunhyuk ke dalam dekapannya, beberapa kali ia mengecupi puncak kepala Eunhyuk.

"Pernahkah aku mengatakan cinta padamu?"

"Hm? Tidak pernah."

"Suatu saat. Suatu saat, aku akan mengatakannya dengan cara yang tidak akan pernah kau duga."

"Kau sedang merayuku?"

"Begitulah."

Mata Eunhyuk menatap mata sendu Donghae, ia biasanya tidak suka diperlakukan seperti ini. Tapi dengan Donghae, ia merasa tidak keberatan dan justru merasa tersanjung.

"Kau tipe laki-laki yang romantis rupanya."

"Tapi aku tidak pintar bicara."

"Aku tahu."

Apakah aku telah benar-benar jatuh cinta padamu?

.

.

TBC


Ini beneran jadi crime romence gimana gitu...saya nekat bgt ya nulis beginian...maaf kl jelek..masih pemula heheheh. maaf juga kl gak suka, saya hanya mencoba keluar dari zona aman saya...jadi saya pengen coba sesuatu yang baru...dan saya gak ngawur nulis beginian, saya sampe ngabuburit di perpustakaan cuma buat nyari bahan referensi hahahah. oke itu gak penting. saya cm berharap, semoga kalian suka dengan cerita ini ^^

Oh iya, ada yang tanya "kok sex pertama HaeHyuk gak di ceirtain?" nah, coba baca Bad Boy's Trap yang drabble. cerita ini kan series dari drabble itu ^^

Pertanyaan lainnya, udah di jawab di chapter ini ya. Oh, Cast di sini (nama-nama yang ada di atas selain DBSJ) bukan OC buatan saya, mereka itu dancernya SJ ^^

Masalah moment Eunhaenya, akan ada di satu chapter yg isinya mereka lovey dovey, jadi mari kita fokus dulu ke kasus untuk saat ini hehehe

Makasih buat kritik, saran dan koreksinya. saya selalu langsung edit kl kalian mengkoreksi ^^ makasih ya ^^ buat ALP, makasih ya dikoreksi, sudah saya perbaiki ^^

Okelah, terakhir saya minta maaf krn gak bisa update cepet terlalu banyak yg terjadi di kantor lol.

Oh iya, kl ini chapternya agak panjang gpp kan? sekitar 7 atau 8 chapter...gak akan bosen kan? kl bosen biarlah saya discontinue aja wkwkwkwk

Mau ada yg di sampaikan? silahkan line, bbm, chat fb ato PM. saya selalu stay tune, jd kl pertanyaannya di review gak ke jawab silahkan lewat media yg lain ^^ tp review kalian tetep selalu saya baca satu-persatu dengan teliti heheheh jadi terharu

Oke sekian aja~~ maaf banyak pidato heheh

LOVE YOU GUYS WITH ALL OF MY HEART ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee