BAD BOY'S TRAP
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Crime
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please.
NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
You've got to fortify my love, you should be mine...
.
.
Hasil laboratorium dan laporan dari NFS sudah keluar, Donghae duduk dikursinya hampir sama sekali tidak bergerak karena terlalu serius membaca laporan NFS dengan teliti. Sejak pagi hingga malam, ia mengamati dengan teliti setiap laporan dan bukti foto yang di ambil oleh tim forensik di TKP. Di samping itu, ia juga diam-diam membaca kembali berkas kasus Sohyun. Well, kalau Timjangnim atau Yunho sampai tahu, maka habislah dia.
Benda-benda yang ditemukan di apartemen Sohyun tidak banyak, Donghae hafal betul apa saja yang ada di sana. Hanya saja, Donghae tidak menyadari ada gelas wine di sana. Ia baru menyadari keberadaan gelas itu setelah melihat TKP korban Joo Yuri dan Kim Miyoung, yang artinya kasus ini saling berkaitan satu sama lain. Lihat saja, sebentar lagi akan ada surat perintah yang melarang Donghae untuk ikut dalam penyelidikan kasus ini. Sebelum itu terjadi, Donghae harus menemukan sesuatu.
Sejak tadi, Donghae merasa ada yang janggal saat memperhatikan foto-foto TKP, hanya saja ia tidak tahu apa yang janggal? Meski sudah melihatnya bolak-balik, Donghae masih belum bisa menemukan kejanggalan itu. Tidak ditemukan sidik jari, jejak kaki, atau jejak-jejak lainnya. Donghae jadi ragu, apakah pelakunya manusia atau bukan? Sepanjang karirnya menjadi polisi, baru kali ini Donghae menemukan kasus yang seperti ini. Sebenarnya, tidak bisa dikatakan tanpa jejak juga karena pelaku meninggalkan gelas wine di sana. Entah apa maksudnya.
"Di tali tambang plastik yang digunakan korban Kim Miyoung untuk bunuh diri, tidak ditemukan sidik siapapun kecuali sidik jari korban. Begitu juga dengan gelas wine, tidak ditemukan sidik jari ataupun DNA."
"Bagaimana dengan korban Joo Yuri?"
"Hm, sama saja. Di botol minuman penambah energi itu hanya ada sidik jari korban, gelas wine yang ditemukan di sana juga sama bersihnya. Tidak ada sidik jari ataupun DNA."
"Lalu, bagaimana caranya dia minum tanpa meninggalkan jejak apapun?"
"Begini saja, menurut saksi, bagaimana penampilan korban? Bukankah dia bilang melihatnya berlari kabur saat di tangga darurat?"
"Oh, itu. Eunhyuk bilang, pelakunya menggunakan jaket kulit hitam, sarung tangan, masker, topi hitam, dan dia membawa sesuatu seperti tas olah raga. Eunhyuk tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas meskipun pada waktu itu pelaku berbalik untuk melihat wajahnya."
"Bingo! Dia menggunakan sarung tangan yang tentu saja tidak akan meninggalkan jejak apapun, meski dia menyentuh benda-benda di tempat korban. Dan, dia membawa sesuatu seperti tas olah raga. Menurutmu apa?"
Donghae menjentikan jarinya, setelah lama berpikir hampir stress, kenapa baru terpikirkan sekarang? Otaknya mulai berjalan lambat.
"Dia membawa senjata untuk mencelakai korban dan membawa benda-benda lain untuk membersihkan jejaknya. Kenapa tidak ada DNA di gelas itu? Karena pelaku tidak menggunakan gelas itu dan hanya menyimpannya di sana. Benar?"
"Exactly! Kesimpulan saat ini, dia adalah pembunuh berantai yang meninggalkan jejak."
"Jadi, siapa saja yang sudah dicurigai?"
Ryeowook mengeluarkan tablet canggihnya, ia meletakannya di meja agar bisa melihat sama-sama dengan Donghae.
"Waktu kematian korban Kim Miyoung kemarin diperkirakan pada pukul 21.00 sampai 22.00, orang yang datang ke apartemen Kim Miyoung sebelum akhirnya dia tewas adalah kekasihnya Kim Taewoo, dia orang yang mengantar Kim Miyoung ke apartemennya, setelah berpesta di rumah salah satu teman mereka yang berulangtahun. Dia masuk dan keluar lewat elevator yang tersedia, sehingga dari masuk gedung sampai keluar lagi, dia terekam jelas di CCTV."
Jemari lincah Ryeowook menyentuh layar tabletnya untuk menggeser ke slide berikutnya, semalaman suntuk ia membuat laporan ini agar terlihat rapi dan mudah di mengerti oleh Donghae.
"Tidak ada lagi orang yang naik ke lantai 12 dimana Kim Miyoung tinggal, tapi ada salah satu tetangga Kim Miyoung yang bilang, ada laki-laki berjaket kulit hitam datang ke apartemen Kim Miyoung pada pukul sembilan malam. Waktu dimana Kim Miyoung tewas."
"Lalu, apa tetangga itu melihat wajah pelaku?"
"Tidak. Dia hanya melihat punggungnya dan tidak bertanya apapun karena dia pikir itu adalah kekasih Kim Miyoung yang biasa datang. Oke, kasus berikutnya."
Beralih pada kasus berikutnya, Ryeowook kembali harus menjelaskan sedetail mungkin dan sesingkat mungkin. Kenal dengan Donghae hampir kurang lebih sembilan tahun, membuatnya hafal betul dengan sifat Donghae. Dia cerdas, hanya terkadang otaknya lambat mencerna sesuatu yang berbelit-belit. Jadi sebaiknya, ia menjelaskan semuanya dengan detail sebelum Donghae mengomel.
"Waktu kematian korban Joo Yuri sekitar pukul 21.00 sampai 22.00, korban baru saja pulang dari kantor dan di jam itu seorang saksi mengatakan bahwa ia melihat laki-laki berpakaian serba hitam datang ke apartemen Joo Yuri. Tidak ada yang mencurigakan, karena Joo Yuri tampak akrab dengan pelaku dan mempersilahkannya masuk tanpa ragu. Kemungkinan besar, pelakunya memaksa korban untuk meminum racunnya, karena di botol minuman penambah energi itu hanya ada sidik jari korban."
Donghae tidak lagi bicara, pandangannya fokus pada layar tablet milik Ryeowook. Kesamaan kedua korban di sini adalah sama-sama di bunuh ketika baru saja pulang dari suatu tempat, tepat antara pukul 21.00 sampai 22.00. Pelakunya mungkin menghindari kontak fisik terlalu banyak dengan korban, itu sebabnya hampir tidak ada jejak apapun yang ditemukan.
Pelaku bukannya hantu atau apa, dia jelas manusia biasa. Masalah jejak kaki, akhirnya Donghae menyadari sesuatu ketika melihat foto Ryeowook yang ada di TKP tanpa sepatu dan hanya menggunakan kaos kaki. Pelakunya masuk ke dalam apartemen korban layaknya seorang tamu yang sudah di kenal korban. Dia masuk, membuka sepatunya, dan mungkin sempat berbincang dengan korban sebelum akhirnya dia membunuhnya.
Pelakunya jelas orang yang tidak asing dengan korban.
"Kasus ini saling berkaitan."
"Aku tahu itu! Otakku tidak sependek tubuhku!"
"Oh, ya? Lalu, apakah kau tahu kenapa tidak ada jejak kaki di sana?"
"Memangnya kenapa?"
"Pelaku membuka sepatunya dan masuk layaknya seperti orang yang sudah dekat dengan korban. Dia masuk ke dalam apartemen korban dengan hanya menggunakan kaos kaki, tanpa sepatunya. Itu sebabnya kita tidak menemukan jejak sepatunya."
"Ah, benar juga. Orang-orang yang diintrogasi Henry dan jadi tersangka, memang orang-orang yang berhubungan dengan korban."
Dan terbukti, otak Ryeowook memang sependek tubuhnya. Jelas-jelas dia yang pertama kali datang ke TKP dan dia pula yang punya data tersangka, tapi dia tidak menyadari hal itu. Dia hanya tahu menembak target dan tidak tahu cara menganalisis sesuatu.
"Sudah ada yang dicurigai?"
"Sudah. Geser ke slide berikutnya, di sana ada laporan dari Henry dan Junsu. Mereka mengintrogasi orang-orang dekat korban dan orang-orang di perusahaan masing-masing."
Mata Donghae semakin terpaku pada layar, ia mengabaikan penjelasan Ryeowook. Nama-nama di layar ini, adalah orang-orang yang dekat dengan Eunhyuk.
"Wakil direktur Hyundai Group Cho Kyuhyun, Sekretaris Kang Giljun, Presiden Direktur Hyundai Group Lee Kanghun, kekasih Joo Yuri yang bekerja di LG Group, Kim Sangjin."
"Tepat!"
Ryeowook menjentikan jarinya di depan wajah Donghae. Akhirnya, dia bisa mencerna penjelasan Ryeowook dengan cepat.
"Orang-orang yang kau sebut itu, tidak punya alibi yang kuat saat dua korban itu tewas. Pertama Cho Kyuhyun, di hari kematian Joo Yuri katanya dia berada di kantor seharian, tapi tidak bisa dibuktikan karena petugas keamanan gedung yang biasa berkeliling bilang hari itu sudah tidak ada siapapun di perusahaan."
"Bagaimana dengan rekaman CCTV?"
"Itu dia masalahnya. CCTV merekam mobil Cho Kyuhyun ada di basement dan tidak pernah keluar dari gedung di hari kejadian. Mobil itu baru keluar sekitar jam lima pagi dan dikendarai langsung oleh Cho Kyuhyun. Aneh bukan? Petugas keamanan bilang, dia tidak melihat siapapun di perusahaan, tapi buktinya Cho Kyuhyun keluar dari sana pukul lima pagi."
Itu memang aneh, tapi fokus Donghae saat ini adalah mendengar penjelasan Ryeowook tentang semua tersangka.
"Dan saat Kim Miyoung tewas, dia ada dimana?"
"Hm, di perusahaan. Tapi, belum bisa dipastikan."
"Aku akan memeriksa CCTV seluruh gedung besok pagi. Bagaimana dengan Sekretaris Kang?"
Alibi Cho Kyuhyun saat Kim Miyoung tewas cukup kuat. Saat itu, Donghae sedang menunggu Eunhyuk di depan gedung perusahaan, dan ia melihat Cho Kyuhyun masuk ke gedung lewat basement dengan mata kepalanya sendiri.
Sebentar.
Melihatnya masuk dengan mata kepalanya sendiri? Bukankah itu artinya, Cho Kyuhyun baru dari suatu tempat? Oke, Donghae akan menyelidiki itu nanti.
"Di hari Joo Yuri tewas, mobil Kang Gijun tidak ditemukan di perusahaan ataupun dirumahnya. Tidak ada yang tahu dia ada dimana dua hari yang lalu. Tapi menurut keterangannya, dia ada di Yeouido untuk berlibur karena perintah Eunhyuk. Saat Kim Miyoung tewas, dia juga bilang ada di perusahaan."
Ah, soal itu. Donghae ingat, Eunhyuk mengeluh karena Kang Giljun selalu mengikutinya 24 jam. Alasannya, karena itu perintah dan Kang Giljun tidak bisa membiarkan Eunhyuk sendirian. Selama menjabat menjadi direktur, Eunhyuk tidak diperbolehkan terlibat skandal apapun. Jadi, mau tidak mau Kang Giljun yang mana sekretarisnya itu harus mengikuti Eunhyuk kemanapun.
Beberapa hari yang lalu, Eunhyuk menelepon Donghae, katanya dia menyuruh sekretarisnya berlibur sehari karena Eunhyuk juga mau istirahat di rumah tanpa diikuti sekretarisnya. Donghae tidak yakin alibi sekretaris Kang kuat apa tidak, tapi yang jelas ia merasa cemas dengan keberadaan Kang Giljun. Pasalnya, dia orang sehari-hari berada di dekat Eunhyuk, kalau memang benar dia pelakunya, maka Eunhyuk sedang ada dalam bahaya.
"Lalu, bagaimana dengan Lee Kanghun Hwaejangnim?"
"Di hari Joo Yuri tewas dia bilang sedang berada di Incheon untuk menghadiri rapat, tapi tidak bisa dibuktikan karena saat aku tanya sekretarisnya, dia tidak tahu-menahu soal rapat di Incheon. Bukankah itu aneh? Mana mungkin sekretaris tidak tahu jadwal atasannya. Saat Kim Miyoung tewas, dia bilang sedang ada di restoran dekat perusahaan untuk menjamu tamunya yang datang dari London."
"Sepertinya, alibinya cukup kuat saat Kim Miyoung tewas."
Ryeowook menggeleng tidak setuju, ia menunjukan foto-foto mobil Lee Kanghun yang meninggalkan restoran sekitar pukul 20.00.
"Lihat, ini foto yang diambil dari rekaman CCTV restoran. Dia memang datang ke restoran itu, tapi tidak lama. Dia pergi entah kemana setelah dia mampir sebentar ke restoran itu."
Wah, Ryeowook memang hebat. Dalam kurun waktu sehari dia sudah punya bukti sebanyak itu. Donghae hanya bisa menganga tidak percaya, bagaimana bisa Ryeowook melakukan semua itu?
"Kau mendapat semua itu hanya dalam waktu sehari saja?"
"Di bawah perintah Kim Youngwoon Timjangnim, kau tidak bisa berleha-leha. Gerak cepat, atau akan ada timah panas bersarang di kepalamu."
Benar, Kim Timjangnim memang selalu menuntut gerak cepat.
"Ah, dan Kim Sangjin?"
"Di hari Joo Yuri tewas, dia tidak ada di rumahnya dan tidak ditemukan dimanapun. Sehari setelah Joo Yuri tewas, dia mengambil penerbangan ke Thailand. Tim sedang meminta bantuan polisi setempat di Thailand untuk membawa Kim Sangjin pulang, kita butuh keterangan darinya. Hari ini hanya itu yang aku dapatkan. Besok, kita akan mulai penyeledikian lagi. Aku pulang duluan, sampai jumpa."
"Hm. Sampai jumpa besok."
.
.
Di tengah perjalanan pulang, Donghae tiba-tiba teringat dengan kasus yang ia tangani. Waktunya benar-benar tidak banyak, ia harus menangkap pelakunya sesegera mungkin atau minimalnya menemukan petunjuk untuk menemukan pelakunya. Hanya tinggal beberapa blok lagi untuk sampai ke gedung apartemennya, tapi Donghae memutuskan memutar balik dan banting stir menuju TKP. Pertama ia akan mengunjungi apartemen Kim Miyoung dulu, baru ke tempat Joo Yuri, sekalian meminta data seluruh penghuni di kedua gedung apartemen itu, dan setelahnya ia akan memeriksa CCTV di gedung perusahaan masing-masing. Donghae merasa tidak tenang kalau tidak memeriksa semuanya sendiri, ia yakin pasti bisa menemukan sesuatu yang berguna. Entah itu bukti nyata atau keterangan saksi-saksi.
Kawasan apartemen yang ditempati Kim Miyoung termasuk salah satu yang aman dan mewah, CCTV terpasang di setiap sudut, baik pintu masuk utama maupun pintu masuk di basement semuanya menggunakan sistem password yang mana artinya hanya penghuni apartemen saja yang tahu passwordnya. Tidak mungkin jika pelakunya orang asing, karena pasti petugas keamanan tidak akan memberinya akses masuk begitu saja. Di tambah lagi, korban membukakan pintunya sendiri dan mempersilahkan pelaku masuk. Untuk yang satu itu, bisa dipastikan pelaku memang benar-benar orang yang di kenal korban dan biasa datang ke apartemen korban. Oh, menurut petugas keamanan yang Donghae introgasi, pada pukul 21.00-22.00 tidak ada mobil asing yang masuk, tidak ada orang yang mencurigakan atau berpakaian mencolok masuk ke dalam gedung,dan tidak ada orang yang naik ke lantai 12 lewat elevator, yang mana artinya si pelaku tidak membawa kendaraannya dan tidak masuk lewat elevator.
Masuk ke dalam apartemennya, Donghae mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berusaha mengingat-ingat semua penjelasan Ryeowook dan posisi korban saat pertama kali ditemukan tewas.
"Korban menggunakan cat kuku berwarna merah muda, tapi kukunya pendek."
Kukunya pendek?
Donghae berlari menuju tempat sampah di sudut ruangan dekat dapur, ia memakai sarung tangannya dan langsung mengacak-acak tempat sampah milik Kim Miyoung dengan hati-hati. Jika dugaannya benar, maka pelaku akan meninggalkannya di sini.
"Ketemu!"
Dan dugaan Donghae benar lagi.
Selesai dengan kunjungan ke apartemen Kim Miyoung, Donghae kembali melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Joo Yuri. Tidak jauh berbeda, apartemennya berada di kawasan yang mewah dan aman. Meski tidak ada CCTV di setiap sudut, tapi ada petugas keamanan yang biasa berjaga dan berkeliling di malam hari, setiap pintu masuk juga di pasang pengaman berupa password. Petugas keamanan yang berjaga di sana juga mengatakan hal yang kurang lebih sama dengan petugas keamanan di apartemen Kim Miyoung. Dugaan Donghae masih sama, pelaku tidak membawa kendaraannya, dia masuk lewat basement dan naik menggunakan tangga darurat. Kemungkinan besar pelaku sudah sangat familiar dengan petugas keamanan di sini, itu sebabnya tidak ada petugas keamanan yang mencurigainya.
Sekarang, mari kita simpulkan semuanya.
Pertama, pelaku adalah seseorang yang di kenal oleh kedua korban dan biasa berkunjung menemui kedua korban, buktinya dia bisa masuk ke gedung apartemen dengan keamanan tinggi tanpa kesulitan apapun. Di tambah lagi, banyak saksi yang mengatakan bahwa korban mempersilahkan pelaku masuk ke dalam apartemennya begitu saja.
Kedua, pelaku tidak membawa kendaraannya dan masuk ke dalam gedung lewat basement, lalu naik ke lantai atas menggunakan tangga darurat. Sehingga, jejaknya tidak banyak terekam oleh CCTV. Dari semua rekaman CCTV yang Donghae lihat, tidak ada orang yang masuk ke dalam gedung menggunakan pakaian serba hitam dan membawa tas olah raga. Dalam rekaman itu, banyak orang berlalu-lalang baik lewat pintu masuk utama maupun pintu masuk di basement, tapi di lihat berulang kalipun, memang tidak ada orang masuk kesana dengan pakaian yang mencolok. Rata-rata, orang yang masuk kesana berpakaian rapi ala kantoran, adapun beberapa yang berpakaian seperti mahasiswa, tapi sekali lagi, tidak ada yang berpakaian serba hitam dan membawa tas olah raga.
Cukup dengan kesimpulan sementaranya, ia sudah mendapatkan rekaman CCTV, data seluruh penghuni kedua aprtemen, dan Donghae sekarang akan mendatangi Hyundai Group dan LG Group untuk meminta rekaman CCTV di hari kedua korban tewas. Meskipun tampak tidak berguna, tapi Donghae pasti bisa menemukan sesuatu dari sana, sekecil apapun itu. Puas dengan hasil kerjanya hari ini, Donghae mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ryeowook. Ada sesuatu yang perlu ia pastikan sekali lagi, dan ia membutuhkan bantuan rekannya.
"Aku minta laporan kendaraan Kang Giljun, Cho Kyuhyun, Kim Sangjin dan Lee Kanghun di hari kedua korban tewas. Dan juga, laporan orang hilang setahun yang lalu. Kirimkan datanya secepatnya, aku akan memeriksanya besok pagi."
"Orang hilang? Maksudmu, Lee Sungmin? Hei, jangan bilang kau melakukan penyelidikan sendirian?"
"Aku melakukannya. Jadi, tolong lakukan permintaanku."
"Kau sudah menemukan sesuatu?"
"Aku perlu laporan kendaraan tersangka dan laporan orang hilang itu, baru aku bisa yakin bahwa pelakunya memang dia."
"Siapa?"
.
.
ooODEOoo
Hari ini adalah hari yang sangat panjang dan juga melelahkan. Dua kasus sekaligus yang harus Donghae selidiki. Kasus yang kemungkinan besar berkaitan dengan kematian Sohyun. Kalau tebakannya tidak salah, maka sebentar lagi ia akan diberhentikan dari kasus ini. Begitulah peraturannya, keluarga atau pihak yang terkait dengan korban dilarang terlibat dengan penyelidikan kasus. Meski Donghae yakin penilaiannya akan objektif dan tidak berdasarkan perasaan pribadi, tetap saja ia tidak bisa melanggar peraturan. Jadi, kita lihat akan bagaimana nanti. Sementara ini, Donghae akan fokus pada kasus dan menemukan hal-hal penting sebelum ia diberhentikan dari kasus. Donghae sudah tahu siapa tersangka utamanya, ia hanya perlu bukti konkrit untuk menuduhnya dan menggiringnya ke meja hijau, lalu dipenjarakan hingga membusuk.
Sebelum naik ke lantai 6 dimana ia tinggal, Donghae terlebih dahulu memeriksa kotak suratnya. Biasanya, akan ada surat dari ibunya, surat tagihan kartu kredit, dan tagihan-tagihan lainnya. Sambil berjalan menuju elevator, Donghae memeriksa satu-persatu suratnya dan ia menemukan surat yang asing. Tanpa nama dan tanpa alamat.
Hitung mundur, waktumu tidak akan lama lagi...
Donghae meremas surat itu, entah itu ditujukan untuknya atau Eunhyuk, tapi yang jelas hal yang diinginkan pengirim surat itu tidak akan terjadi. Dengan sekuat tenaga, ia akan melindungi Eunhyuk dan dirinya sendiri. Suara berdenting menandakan Donghae sudah sampai ditujuan, ia keluar dari elevator dengan langkah yang sedikit gontai. Meskipun tidak takut dengan ancaman pelaku, Donghae tetap saja merasa cemas.
"Hai, tampan."
Nafas Donghae tercekat. Benar-benar tercekat. Bagaimana tidak? Ia baru saja masuk ke apartemennya dan tiba-tiba matanya melihat sosok Eunhyuk yang berbalut kemeja kebesaran—yang entah milik siapa—dan tanpa dalaman.
Perlu diulangi?
Tanpa dalaman.
Itu sebabnya Donghae bisa melihat secara samar-samar, milik Eunhyuk yang ada di balik kemeja tipis kebesaran itu.
Baru saja Donghae merasa gelisah dan cemas karena ada seseorang di luar sana yang mengincar nyawa mereka berdua. Dan apa? Eunhyuk malah berpakaian sedemikian rupa dan menggodanya dengan pakaian yang entah harus bagaimana Donghae menyebutnya.
Donghae menelan ludah, lalu berdeham untuk menjernihkan tenggorokannya, "K—kau apa-apaan, Eunhyuk?"
"Menyambutmu, sayang."
Entah kenapa, meski sudah resmi pacaran, Donghae masih sedikit geli mendengar Eunhyuk memanggilnya sayang. Terlebih, dia selalu menggunakan nada manja yang di buat-buat. Cara bicaranya yang di buat-buat itu, tidak cocok dengan kepribadiannya yang sebenarnya galak.
"M—maksudku, kau dapatkan darimana kemeja itu?"
Memang patut dipertanyakan, pasalnya Donghae tidak punya kemeja sebesar itu. Kalaupun kemejanya di pakai Eunhyuk, pasti tidak akan terlihat kebesaran karena ukuran tubuh mereka tidak berbeda jauh. Tinggi mereka hampir sama, hanya saja Eunhyuk lebih pendek sedikit dan lebih kurus.
"Ah, aku baru membelinya tadi. Aku melihat kulkasmu dan aku tidak menemukan makanan apapun. Jadi, aku keluar untuk membeli bahan makanan dan membeli kemeja ini. Salahkan saja ukuran tubuhmu yang hampir seukuran denganku! Aku jadi tidak bisa memakai kemejamu untuk tampil sexy."
Donghae menghela nafas yang lumayan panjang. Jawaban yang polos, menggemaskan, tapi juga menyebalkan dan membuat Donghae ingin menabrakan wajah tampannya ke tembok. Untuk apa tampil sexy dengan menggunakan kemeja kebesaran? Dia pikir ini semacam drama atau film porno? Dan untuk apa pula menyambutnya? Mereka sudah tinggal serumah, apa yang perlu di sambut?
"Untuk apa tampil sexy di rumah?"
Well, sebenarnya penampilan Eunhyuk cukup menarik perhatian Donghae. Sangat menarik. Tapi, Donghae tidak bisa begitu saja terpancing oleh godaan Eunhyuk. Bisa makin jatuh harga dirinya. Kalau sampai ketahuan Yunho, habislah ia. Bisa jadi bahan ledekan seumur hidup, sepanjang sisa hidupnya akan menjadi bahan tertawaan Yunho.
"Menggodamu. Kau memang sudah jatuh untukku, tapi belum tersungkur."
"Eunhyuk, kumohon."
"Wow, kau mulai memohon. Jadi, mau blow job atau hand job? Atau langsung saja? I'm, ready."
And this is it, Eunhyuk dan mulut vulgarnya. Donghae tidak bisa mencegah itu karena ia tidak tahu, kapan Eunhyuk akan mengucapkan hal itu. Donghae hanya bisa mengusap wajahnya dan memejamkan matanya, menahan emosi yang bergejolak.
Entah yang bergejolak itu emosinya atau nafsunya.
Terserah.
"Aku tahu kau lelah karena kasus hari ini. Itu sebabnya, aku bersedia menjadi hiburanmu."
Jadi, hiburan macam apa yang di maksud Eunhyuk di sini? Semacam permainan slave dan master? Donghae tidak menyukai hal-hal seperti itu. Lagi pula, memangnya siapa yang minta di hibur? Dari pada di hibur dengan cara mengejutkan seperti itu, Donghae lebih suka melihat Eunhyuk bertingkah manis, memasak untuknya, dan memijat bahunya yang terasa kaku. Itu baru namanya hiburan untuk orang yang lelah.
Tunggu.
Memasak? Bertingkah manis? Itu tidak cocok untuk Eunhyuk. Ya ampun, Donghae malah geli sendiri membayangkan hal itu terjadi. Sudahlah, begini baru benar. Eunhyuk memang begitu adanya.
"Jadi, bagaimana kau mau menghiburku?"
Donghae duduk di sofa, ia menyilangkan kakinya dan merentangkan tangannya. Oke, kita lihat, akan bagaimana Eunhyuk hari ini. Apakah dia bisa lebih menggoda dari sebelum-sebelumnya? Atau biasa saja dan malah membuat Donghae mengantuk?
"Kau menantangku?"
"Hm."
Melihat tatapan meremehkan Donghae, menyulut gairah Eunhyuk. Lihat saja, masihkah dia bisa seangkuh itu saat melihat Eunhyuk telanjang nanti? Dari dulu sampai sekarang, dia tetap Donghae kecil manis yang munafik.
Pertama-tama, Eunhyuk menggigit bibir bawahnya, ia menatap nyalang ke arah Donghae. Jemarinya mulai memereteli kancing kemejanya dengan gerakan mengundang, membuat Donghae sulit untuk sekedar mengedipkan matanya.
"Lihat, aku baru membuka kancing kemejaku dan kau sudah menelan ludah beberapa kali. Kau bahkan tidak bisa mengedipkan matamu. Aku masih kurang menggoda? Kalau begitu, biarkan aku mendekat."
Jelas saja tidak bekedip! Laki-laki abnormal mana yang akan berkedip bila disuguhi tubuh telanjang Eunhyuk yang putih mulus tanpa cacat? Donghae yakin, laki-laki normal yang mengaku straight juga akan tergiur jika Eunhyuk sudah bertingkah seperti itu. Dia bahkan tidak melepaskan kemejanya dengan utuh, tapi itu saja sudah membuat bagian bawah Donghae berdenyut heboh.
"I—itu."
"Kenapa?"
"Kau bisa masuk angin! Kenapa memakai kemeja tipis tanpa dalaman?"
"Kalau masuk angin, aku akan kembung karena angin. Tapi, hari ini aku akan kembung karena spermamu."
"Hei!"
Telinga Donghae merah, ia malu sekali mendengar kata-kata vulgar Eunhyuk. Sialnya, si jagoan di bawah sana malah bereaksi dengan dirty talk Eunhyuk. Kalau tadi hanya berdenyut heboh, sekarang dia mulai mengeras perlahan dan minta dikeluarkan dari celana.
"Sepertinya si jagoan mulai mengeras."
Eunhyuk tepat menduduki selangkangan Donghae. Kakinya yang tadi menyilang kini terbuka lebar, Donghae tidak sanggup lagi menyilangkan kakinya karena itu terasa menjepit miliknya yang sedang berdenyut.
"Kau memang benar-benar keterlaluan, Eunhyuk."
Kesabaran Donghae habis, ia menarik, lalu mendorong Eunhyuk agar berbaring di sofa. Kilatan mata Donghae berubah, itu artinya Eunhyuk berhasil menggoda Donghae.
Si malang yang lagi-lagi terjebak oleh godaan si penggoda ulung.
"Kau minta semacam hukuman, hm? Aku sedang lelah dan kau malah membuat bagian bawahku berdenyut. Dari pada nakal, kau lebih pantas di bilang menyebalkan. Sekarang, selesaikan apa yang telah kau mulai."
Donghae kembali menarik Eunhyuk untuk duduk dipangkuannya, ia diam saja ketika Eunhyuk mulai memagut bibirnya dan berusaha membuka kemejanya. Kini, Donghae tinggal berbalutkan celana yang berantakan dan wifebeater yang sebentar lagi akan dilepaskan Eunhyuk.
"Kau benar-benar sialan, Lee Donghae."
Nafas Eunhyuk memburu karena nafsu yang sudah tidak terbendung. Ia menarik wifebeater Donghae hingga terlepas dan tidak lupa menurunkan celana Donghae agar miliknya tidak tersiksa lebih lama lagi. Senyum nakal Eunhyuk kembali, ia mengelus milik Donghae sambil menatap Donghae dengan seduktif.
"Mudah untuk membuatnya keras, tapi tidak mudah untuk membuatnya lemas."
Hell, yeah! Dirty talk Eunhyuk memang yang terbaik. Donghae sampai meringis dibuatnya. Kalau Eunhyuk terus mengeluarkan dirty talk andalannya selama satu jam saja, bisa-bisa Donghae klimaks tanpa sentuhan apapun.
"Ini sudah dini hari dan kau melakukannya dengan lambat."
Donghae menyeret Eunhyuk ke kamar, ia membantingnya ke tempat tidur, lalu menindihnya agar Eunhyuk tidak bisa bergerak lagi.
"Aku sudah kenyang dengan kalimat kotormu, jadi aku akan membuat lubangmu kenyang juga."
"Kau bisa berkata-kata kotor juga rupanya."
"Bagaimanapun aku laki-laki dan aku melihat film porno."
Tanpa banyak bicara lagi, Donghae memasukan miliknya dan menekan titik terdalam Eunhyuk. Boleh jujur? Donghae tidak begitu suka ketika miliknya mengenai titik sensitf Eunhyuk. Tidak ada sensasinya. Ia lebih suka membuat Eunhyuk merintih terlebih dahulu hingga frustasi, barulah ia akan menekan titik itu dan mendapatkan lenguhan manja Eunhyuk. Lenguhan yang menjadi candunya.
"Donghae—ah, bukan di situ—ngh."
"Dimana, hm? Kau ingin aku mengarahkannya kemana?"
"Please, honey—ngh."
Donghae suka ketika Eunhyuk memohon dengan nada frustasi. Jadi, ia mengarahkan miliknya ke tempat yang Eunhyuk suka dan akhirnya Eunhyuk memekik dan melenguh untuknya.
"Aku akan benar-benar membuatmu kembung."
"Hm—keluarkan di dalam. Aku—ah—"
Tak lama setelah Eunhyuk sampai puncaknya, Donghae juga sampai dan mengeluarkan semua cairannya di dalam. Donghae bahkan tidak langsung mengeluarkan miliknya dan langsung memeluk Eunhyuk dari belakang.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Kau menggemaskan hari ini. Terima kasih hiburannya, sayang."
Apakah baru saja Donghae memanggilnya dengan sebutan sayang? Mulut Eunhyuk menganga, ia ingin berbalik tapi rengkuhan Donghae terlalu kuat. Sungguh hati Eunhyuk jadi berdebar-debar saat mendengar Donghae memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Jangan berbalik, aku tidak mau kau melihat wajahku yang merona merah."
"Kau malu setelah memanggilku sayang?"
"B—bukan begitu!"
"Katakan sekali lagi."
"Tidak mau! Tidur sana! Sudah dini hari dan aku harus ke kantor pagi-pagi sekali."
Masih tetap tidak mau mengakui cintanya, Donghae tetap bersikap sok galak dan acuh, padahal hati kecilnya mulai menginginkan Eunhyuk dan selalu memanggil-manggil namanya kapanpun dia jauh dari pandangan Donghae.
"Kasus yang aku tangani sekarang, cepat atau lambat aku pasti akan dikeluarkan dan tidak diperolehkan terlibat dalam kasus ini."
Masih dalam keadaan memeluk Eunhyuk dari belakang, Donghae memulai obrolan yang lebih serius. Sebenarnya, jika Eunhyuk tidak menggodanya, Donghae memang ingin membicarakan masalah ini dengannya. Ada sesuatu yang memerlukan bantuan Eunhyuk. Kasus ini akan cepat selesai jika Eunhyuk membantunya kali ini.
"Kenapa?"
"Kasus ini mungkin berkaitan dengan kasus Sohyun. Aku ingin sekali menangkap pelakunya dengan tanganku sendiri, tapi apa boleh buat? Ada peraturan yang tidak bisa aku langgar."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
Eunhyuk berbalik, ia menatap mata Donghae dengan serius. Meski Donghae tidak mengatakannya dengan jelas, ia tahu betul Donghae sedang gelisah. Bagaimanapun, kasus ini telah merenggut nyawa orang yang dicintainya dulu, jelas Donghae ingin menemukan dan menangkap pelakunya dengan tangannya sendiri.
"Apa?"
"Aku tahu ini berbahaya untukmu, tapi kuharap kau bisa melakukannya untuk membantuku."
"Kau lupa? Aku terbiasa dengan bahaya apapun."
Selalu saja keras kepala! Donghae mencubit pipi Eunhyuk dengan gemas. Sebenarnya, kapan dia akan mendengarkan kata-kata Donghae dan menjadi anak yang penurut? Dia selalu membantah Donghae dan melakukan hal-hal yang dilarang Donghae.
"Sakit!"
Eunhyuk menarik tangan Donghae, lalu mengigitnya sekeras yang ia bisa. Tapi sia-sia saja, karena Donghae hanya meringis kecil lalu tertawa terbahak-bahak mentertawakan raut wajah Eunhyuk.
"Hyuk, mau melakukannya sekali lagi?"
"Katanya lelah?"
"Sekali lagi tidak akan membuatku lelah."
Dan pada akhirnya, Donghae yang awalnya kesal di goda, malah terjerumus dan meminta lebih. Masihkah ia berani menyebut dirinya homofobik? Apa kata Yunho nanti? Donghae benar-benar sudah terperangkap dalam jebakan manis Eunhyuk.
Aku sudah jatuh dan bahkan tersungkur untukmu, hanya saja aku terlalu naif untuk mengakuinya...
Kata 'aku mencintaimu' akan kau dengar sebentar lagi...
Ya, sebentar lagi...
.
.
"Lihat, gara-gara kau yang tidak mau berhenti, kau jadi kesiangan dan Yunho mengomel padaku! Dia pikir aku yang membuatmu tidak tidur, padahal kau yang tidak mau berhenti. Aku sudah merintih dan memohon padamu agar berhenti karena pinggangku sakit, tapi kau terus saja menggarapku. Sekarang, kau kesiangan dan kau akan di omeli Yunho juga atasanmu!"
Pagi ini Donghae mendengarkan kicauan Eunhyuk yang tidak ada merdu-merdunya sama sekali. Dia jadi mirip ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya karena kesiangan sekolah. Eunhyuk bahkan mengomel sambil mengoleskan selai ke roti, lalu menjejalkannya dengan paksa ke mulut Donghae, belum lagi kakinya terus melangkah kesana-kemari untuk menemukan kemeja dan celana musim panas Donghae. Membuat Donghae pusing saja! Meskipun matanya masih setengah terpejam, ia tetap bisa melihat Eunhyuk yang sibuk sendiri menyiapkan keperluannya. Heran, semalam Donghae sudah menggarapnya sedemikian rupa, dan dia masih bisa berjalan senormal itu? Hebatnya dia.
"Baju sudah aku siapkan di kamar dan handukmu ada di kamar mandi, cepat selesaikan sarapanmu dan langsung mandi!"
Donghae tidak bisa menjawab Eunhyuk, mulutnya penuh dengan sereal dan roti yang tadi dijejalkan paksa oleh Eunhyuk. Matanya bahkan masih terpejam, tapi Eunhyuk dengan kejamnya menjejali mulut Donghae dengan sereal dan roti.
"Nah, sudah sarapannya. Cepat mandi sana!"
Demi Tuhan, dari pada si panggil pacar, Eunhyuk lebih mirip ibunya. Cerewet dan sangat berisik. Tidak cocok dengan kepribadiannya yang suka berkelahi dan mabuk-mabukan. Apa jangan-jangan, inilah kepribadian asli Eunhyuk? Wah, sama sekali tidak cocok!
"Kenapa jalan malas-malasan? Mau aku mandikan?"
"Tidak, terima kasih."
Jangan bercanda! Minta dimandikan, sama saja dengan minta sex pagi-pagi. Entah Donghae atau Eunhyuk yang memulainya, tapi yang jelas mereka pasti akan menghabiskan waktu yang lama kalau sama-sama berada di kamar mandi. Dan Yunho akan semakin mengamuk pada mereka berdua.
"Eunhyuk?"
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang disiapkan Eunhyuk, Donghae kembali ke dapur dimana Eunhyuk sedang merapikan meja makan. Donghae menarik pergelangan tangannya, mengisyaratkan agar Eunhyuk berhenti sejenak dari kegiatannya. Eunhyuk kembali menaruh semua piring kotor di meja, kemudian duduk di samping Donghae. Sejak semalam, kekasihnya ini selalu terlihat gelisah. Eunhyuk jadi penasaran, apa yang terjadi padanya?
"Hm?"
"Apa Cho Kyuhyun punya kekasih?"
"Oh, punya. Namanya Lee Sungmin."
"Lee Sungmin yang dilaporkan hilang oleh keluarganya setahun yang lalu?"
Kedua alis Eunhyuk bertaut, kenapa dia bisa tahu? Apa jangan-jangan Donghae yang menangani kasus itu? Setahun yang lalu, Kyuhyun memang sempat cerita pada Eunhyuk bahwa kekasihnya hilang dan dia jadi panik tidak karuan karena tidak bisa menemukannya dimanapun, itu sebabnya keluarga Sungmin melaporkannya hilang dan sampai sekarang belum ada kabar lagi.
Sebenarnya, Eunhyuk gak tidak enak hati ketika harus membahas hal itu. Entah dugaannya benar atau salah, tapi sepertinya Sungmin menghilang setelah memergoki dirinya dan Kyuhyun sedang bercumbu. Sampai saat ini, ia masih merasa tidak enak hati dan merasa bersalah pada Sungmin.
"Hm. Bagaimana kau tahu soal itu?"
"Oh, Ryeowook menangani kasus itu jadi aku tahu. Kenapa dia bisa hilang?"
"Entahlah, mungkin karena dia tahu aku dan Kyuhyun ada main di belakang. Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba bertanya soal Kyuhyun dan Sungmin?"
"Tidak apa-apa. Sudahlah, jangan lupa dengan permintaanku semalam. Ingat, lakukan hal itu dengan hati-hati dan tanpa ketahuan. Keselamatanmu adalah yang utama, jadi jangan mengambil resiko yang berbahaya. Aku memang perlu dan meminta bantuanmu, tapi aku tidak ingin kau celaka."
"Aku tahu!"
"Aku berangkat, sayang."
"Hm, hati-hati. Oh, aku akan pulang malam hari ini."
"Kenapa?"
Donghae sedikit kurang setuju kalau Eunhyuk harus pulang terlalu malam dari kantornya. Bukan apa-apa, tapi akhir-akhir ini nyawa mereka sedang ada yang mengincar, dan pulang terlalu malam bukanlah ide yang bagus. Terlebih, Donghae sudah tahu siapa tersangka utama di balik pembunuhan berantai ini. Tidak mungkin baginya untuk membiarkan Eunhyuk selalu sendirian dan pulang larut malam tanpa pengawasan darinya, terlalu berbahaya.
"Ada rapat yang harus aku hadiri dan aku perlu mempelajari banyak hal tentang perusahaan dari Giljun dan Kyuhyun. Aku malas melakukannya, tapi aku sudah berjanji pada ayahku. Kau bisa menjemputku, aku akan menunggumu sampai kau datang."
Eunhyuk memberengut, lalu memeluk Donghae manja. Ia bergumam pelan, "aku rindu kerja di bar dan berkelahi dengan bocah-bocah tengik."
"Hei!"
"Bercanda. Sampai jumpa nanti malam."
"Hm."
"Soal pemintaanku, kau bisa melakukannya, 'kan?"
"Tentu. Pergilah, kau sudah kesiangan! Sampai jumpa."
Sampai jumpa...
Entah kenapa Donghae merasa sulit mengucapkan hal itu, ia tidak bisa memastikan apakah dirinya masih bisa berjumpa lagi dengan kekasihnya setelah hari ini? Hari ini ia akan menemui seseorang dan rasanya ia seperti akan menemui malaikat pencabut nyawanya. Donghae tidak tahu, akankah ia baik-baik saja hari ini? Ia bahkan tidak tahu, manusia macam apa yang akan ia hadapi? Donghae gemetar, tapi ia tetap berusaha bersikap seperti biasa. Monster macam itu harus dihadapi dan dihentikan, sebelum ada korban lainnya. Korban yang mungkin tidak berdosa dan bahkan tidak tahu-menahu mengapa mereka di bunuh.
Aku mencintaimu...
Sangat...
.
.
ooODEOoo
"Seperti yang aku duga, instingmu memang kuat. Bagaimana kau bisa menemukan hal itu? Biasanya orang awam akan mengabaikannya begitu saja."
Donghae tersenyum, ia menerima map biru yang diserahkan Han Jinwoo padanya lalu membungkuk dan berterimakasih. Han Jinwoo adalah seniornya saat Donghae kuliah dulu. Dia salah satu dokter bedah forensik terbaik di NFS, hasil kerjanya selalu memuaskan dan hampir tidak ada satupun kasus yang tidak bisa dia tangani. Saat di ruang otopsi, dia bagaikan dewa yang tahu semuanya. Selain cerdas, dia juga jeli dan sangat teliti, sehingga tidak pernah ada satupun luka di tubuh korban yang luput dari pandangannya.
"Kau tahu, Hyung? Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Dia mungkin menganggap dirinya cerdas dan sempurna, memperhitungkan semua tindakannya, tapi dia ceroboh dan justru meninggalkan sesuatu yang remeh tapi sebenarnya penting."
"Wah, kau memang lebih cocok jadi polisi. Tapi, kau tidak bisa bertindak sendirian. Kau sudah tahu pelakunya, segera beritahu rekan-rekanmu. Jangan menempatkan dirimu dalam bahaya, hm?"
"Aku tahu. Terima kasih sudah membantuku, Hyung."
"Ini pekerjaanku, tidak perlu berterimakasih. Ingat, kau tidak boleh gegabah dan bertindak sendirian. Meskipun kau bisa menangkapnya sendirian, kau tetap harus memberitahu rekan-rekanmu yang lain."
Laki-laki yang bertubuh lebih pendek dari Donghae itu menepuk bahu Donghae pelan, ia mengerti bagaimana gelisahnya Donghae saat ini. Dulu, Jinwoo menyaksikan bagaimana hancurnya Donghae saat Sohyun meninggal. Sekarang, saatnya Donghae mengungkap kebenaran dan menangkap pelaku yang telah membunuh kekasihnya dengan keji.
"Hyung, aku pamit dulu. Terima kasih banyak."
"Hm, hati-hati."
Yunho calling...
"Ya, Yunho?"
"Kau dimana? Timjangnim ingin kau berhenti dari kasus ini."
Lihat? Dugaannya benar lagi. Donghae tahu hari ini akan datang, teman-temannya bukan orang bodoh yang akan lama mengungkap suatu kasus. Mereka pasti sudah menemukan bahwa kasus ini saling berkaitan.
"Yunho, bisakah kau membantuku lagi? Aku tidak bisa mundur dari kasus ini. Tidak, aku bisa mundur, tapi biarkan hari ini aku menyelediki kasus ini. Setelah itu, aku akan menyerahkan semua data yang aku ketahui padamu."
"Bung, kau tahu hal ini berbahaya untuk karirmu! Hei, kau sudah tahu siapa pelakunya? Serahkan semua data yang kau ketahui pada tim khusus penyelidik kasus ini, kau sudah di minta mundur!"
Saat ini Yunho sedang tidak bisa di ajak kerja sama. Donghae tahu Yunho mencemaskannya, tapi bukan itu yang dibutuhkan Donghae sekarang. Ia harus segera menemukan bukti yang lain untuk menangkap pelaku sebelum kasus ini di tutup.
"Kalau begitu maafkan aku, Yunho."
Donghae memutus sambungan teleponnya, ia memandangi map biru yang ada ditangannya, bukti ini cukup untuk menjerat pelaku, Donghae perlu mengumpulkan data yang lainnya dan menyusunnya sehingga alibi pelaku yang sesungguhnya terkuak. Tidak ada lagi alasan baginya untuk mengelak. Saat ini Donghae memiliki contoh DNA pelaku dan laporan kendaraan pelaku di hari kedua korban tewas.
"Aku harus menangkapnya dengan tanganku sendiri."
"Tidak, kau akan menangkapnya bersamaku."
Suara melengking yang sangat khas dan familiar, membuat Donghae terkesiap. Tiba-tiba Ryeowook masuk ke dalam mobilnya tanpa ijin dan memasang seatbeltnya dengan santai.
"Sedang apa kau di sini?"
"Kau tidak berpikir aku sebodoh itu 'kan? Kau memintaku mencari laporan kendaraan tersangka dan meminta data orang hilang setahun yang lalu, tentu saja aku sudah bisa menduga siapa pelaku yang kau curigai. Pelakunya memiliki masing-masing satu unit di kedua apartemen itu, 'kan? Yang satu unit 507 dan yang satunya lagi unit 1107, benar? Yesung Hyung aku perintahkan untuk memeriksa kedua unit apartemen yang terdaftar atas nama Lee Sungmin itu, bukti pasti masih ada di sana."
Wow, Ryeowook bergerak dengan sangat cepat. Donghae bahkan belum mengatakan apapun dan langsung melakukan apa yang akan Donghae lakukan nanti.
"Jadi, apa yang kau dapatkan dari sini?"
"DNA yang ditemukan di kuku korban cocok dengan DNA pelaku, dia tidak akan bisa mengelak."
Harus Ryeowook akui, kegigihan Donghae memang tidak tertandingi. Dia kembali lagi ke TKP dan mengacak-acak tempat sampah korban demi menemukan bukti yang Ryeowook lewatkan. Well, ia akui itu memang kelalaiannya dalam bertugas.
"Aku meminta Eunhyuk melakukan hal yang berbahaya, jadi sebelum pelaku menyadari hal itu, aku ingin segera menangkapnya. Aku tidak mau Eunhyuk celaka karena aku. Oh, ada berapa orang yang mengikuti Eunhyuk hari ini?"
"Hm, empat dan semuanya bersenjata."
"Baguslah."
"Kalau begitu apa yang kau tunggu? Ayo, kita tangkap dia!"
Donghae menghela nafas panjang, apakah Ryeowook tidak tahu? Donghae baru saja mendapat pemberitahuan bahwa ia harus berhenti dari kasus ini. Kalau Timjangnim tahu Ryeowook membantunya, maka dia juga akan ikut terkena masalah.
"Kau tahu? Aku baru saja dapat pemberitahuan agar berhenti dari kasus ini."
"Aku tahu."
"Kau tahu? Lalu, kenapa datang kemari? Kau bisa kena masalah!"
"Hanya hukuman suspensi. Lagi pula, kau tidak semata-mata menggunakan emosimu saja. Kau mencari semua bukti dengan pandangan yang objektif dan tidak melibatkan perasaan pribadi. Apa yang salah? Semua bukti kau punya saat ini adalah bukti nyata yang konkrit."
Suara melengking Ryeowook membuat Donghae meringis. Haruskah dia semenggebu-gebu itu? Dan haruskah dia berteriak-teriak di dalam mobil yang sempit ini? Suaranya melengking dan memekakan telinga. Heran, mana ada mantan sniper yang ribut macam dia?
"Jadi, kita jadi partner in crime?"
"Of course!"
.
.
Seseorang bertubuh tinggi dan berkulit pucat menyambut kehadiran Donghae di rumah mewahnya, dia duduk di sofa mahalnya ditemani dengan segelas wine di tangan kanannya. Seperti yang sudah Donghae duga sebelumya, dia memiliki bekas luka di sekitar pelipis kirinya. Luka cakaran. Orang itu tidak berkedip sama sekali menatap Donghae, dia bahkan tidak terkejut atau takut ketika Donghae mendobrak masuk dan mengacungkan pistolnya ke wajah datarnya. Dia tersenyum remeh, mengabaikan pistol yang mengarah ke kepalanya.
"Oh. Hai, kekasihnya Eunhyuk. Ada perlu apa datang kemari dengan pistol itu?"
"Angkat tanganmu dan jangan bergerak!"
"Wow, santai saja. Kau yakin ingin menembakku? Aku belum mengatakan sepatah katapun. Mau segelas wine?"
"Aku datang kemari untuk menangkapmu, bukan menerima jamuanmu!"
Laki-laki itu berdecak sambil menuangkan wine ke gelasnya, ia sudah tahu hari ini akan datang. Jadi, ia sama sekali tidak terkejut atau merasa takut.
"Memangnya apa salahku, pak polisi?"
"Kau melakukan pembunuhan pada empat orang! Perlu aku mengabsennya? Joo Sohyun, Lee Sungmin, Joo Yuri dan terakhir Kim Miyoung."
"Bagaimana kau bisa yakin aku yang melakukannya? Tidak ada bukti dan jejak apapun?"
Giliran Donghae yang tersenyum remeh, ia memasukan kembali pistolnya dan duduk di sofa yang menghadap ke arah laki-laki berkulit pucat itu. Dengan santai, Donghae meneguk wine yang dituangkan si pelaku.
"Bedebah, kau pikir aku tidak bisa mengungkap kasus seperti ini? Jangan merasa dirimulah yang paling cerdas, Cho Kyuhyun. Kau merasa dirimu yang paling pintar? Orang pintar, tidak akan meninggalkan hal sekecil apapun di TKP."
"Oh, ya? Bagaimana bisa kau menangkapku tanpa bukti apapun?"
"Di hari Joo Yuri tewas, kau memang berada di kantor seharian dan baru keluar kantor pada pukul lima pagi. Secara teknis, alibimu memang kuat. Tapi, adakah yang bisa membuktikan kau ada di kantor saat itu? Tidak ada. Kau bahkan merusak CCTV di lobby yang menuju ke ruanganmu. Bagaimana? Terkejut karena aku tahu kau merusak CCTV? Kau datang dan pergi sesuka hatimu lewat tangga darurat, karena kau tahu di sana tidak terpasang CCTV. Kau keluar dari gedung perusahaan lewat jalan tikusmu itu dan meninggalkan mobilmu di basement agar terkesan kau memang ada di kantor seharian. Sayangnya, alibimu tidak di dukung oleh petugas keamanan yang berkeliling."
Cho Kyuhyun tidak bergeming, dia meneguk winenya dengan elegan sambil terus mendengarkan cerita Donghae yang menurutnya menarik. Well, setelah sekian lama akhirnya ia menemukan lawan yang sepadan. Sejujurnya, ia bosan menjadi orang pintar sendirian dan menghadapi orang-orang bodoh. Dan akhirnya, sekarang ia menemukan seseorang yang mendekati levelnya.
"Dan di hari Kim Miyoung tewas, kau juga menggunakan metode yang sama. Keluar dari gedung perusahaan menggunakan jalan tikusmu, lalu masuk lewat jalan yang sama tanpa diketahui banyak orang. Sayangnya, hari itu aku melihatmu masuk ke gedung perusahaan lewat basement. Aneh, untuk apa wakil direktur masuk ke gedung perusahaannya lewat basement, padahal dia tidak menggunakan mobil? Saat itu kau baru saja kembali setelah membunuh Kim Miyoung, bukan? Kau ingin menyangkal karena kau menggunakan setelan kantor dan tidak membawa apapun ditanganmu?"
"Lanjutkan saja ceritamu, itu menarik. Aku tidak akan mengatakan apapun."
"Kau bisa bebas keluar masuk apartemen kedua korban tanpa dicurigai petugas keamanan, karena kau adalah sering datang ke sana dan di anggap sebagai penghuni di sana. Kau punya masing-masing satu unit di kedua gedung apartemen itu yang terdaftar atas nama kekasihmu, sehingga memudahkanmu keluar dan masuk tanpa dicurigai orang atau petugas keamanan."
Itu benar, Donghae menemukan hal itu setelah seharian penuh melihat data nama-nama penghuni di kedua gedung apartemen itu. Dan berkat bantuan Ryeowook yang tidak di duga-duga, Donghae menemukan unit yang terdaftar atas nama Lee Sungmin di masing-masing gedung apartemen. Lee Sungmin adalah kekasih Cho Kyuhyun dan orang yang di daftarkan hilang oleh keluarganya setahun yang lalu, yang—kemungkinan besar—sebenarnya di bunuh oleh kekasihnya sendiri. Cho Kyuhyun.
"Kau yakin akan hal itu?"
Donghae tahu dia akan bertanya begitu, itu sebabnya ia melemparkan bukti-bukti berupa foto dari rekaman CCTV ke hadapan Kyuhyun. Sekarang, wajahnya mulai terlihat sedikit bereaksi dan tidak sedatar tadi.
"Foto-foto itu di ambil setahun yang lalu, wajahmu dan wajah Lee Sungmin terekam jelas di elevator. Setelah aku memeriksa rekaman CCTV sepanjang tahun lalu, kau sering datang ke apartemen yang sama dengan Joo Yuri itu bersama Lee Sungmin. Bisa di pastikan, kau menjalin hubungan dekat dengannya. Aku datang ke rumah Lee Sungmin untuk memastikan hubungan kalian dan meminta surat-surat kepemilikan apartemen itu. Dan sekarang, rekanku sedang mencoba masuk ke sana untuk menemukan bukti-bukti yang lebih kuat."
"Untuk apa aku memiliki dua unit apartemen di gedung yang berbeda, sementara aku sudah memiliki rumah mewah ini? Konyol!"
Bisa dipastikan, Cho Kyuhyun adalah orang yang pintar berkelit dan bersilat lidah. Donghae sudah menjelaskan semua kejahatan yang dia lakukan hingga tenggorokannya kering, tapi dia hanya tersenyum, mengelak, dan meneguk wine dengan santai. Kalau tidak melanggar aturan, Donghae ingin sekali menyiram wajahnya dengan wine, lalu memukul wajahnya hingga babak belur.
"Apartemen yang pertama, kau beli atas nama Lee Sungmin untuk menyenangkannya dan untuk bertemu dengannya di waktu senggang. Tapi aku tidak tahu, kenapa kau membeli apartemen kedua dengan atas nama Lee Sungmin setelah dia dilaporkan hilang setahun yang lalu? Setelah mencari tahu sepanjang hari, akhirnya aku tahu, kau membutuhkan kedua apartemen itu untuk mengawasi gerak-gerik Joo Yuri dan Kim Miyoung yang kau kira tahu alasan kematian Joo Sohyun. Benar?"
"Jadi, hanya karena aku sering berkunjung ke kedua apartemen itu, kau menuduhku sebagai pembunuh? Aku membutuhkan bukti konkrit."
"Kau datang ke apartemen korban menggunakan setelan kantor agar tidak terlihat mencolok atau mencurigakan. Kemudian, mengganti setelan kantormu dengan kostum membunuhmu di apartemen milikmu itu. Setelah selesai membunuh, kau akan kembali berganti pakaian dan meninggalkan kostum membunuhmu beserta tas olah raga yang berisi wine dan dua gelasnya, serta alat yang kau pakai untuk membunuh di apartemen rahasiamu itu. Sehingga, jika polisi datang ke sini dan menggeledah rumahmu, bukti itu tidak akan ditemukan di sini."
Wine di gelas Kyuhyun habis, ia berdiri lalu bertepuk tangan. Well, ia merasa sangat takjub dengan cerita Donghae. Dia polisi yang pintar, tangkas dan cerdas. Penjelasannya tidak ada yang salah sama sekali. Mulai dari Lee Sungmin kekasihnya, hingga cara ia membunuh para korbannya, Donghae menjelaskannya dengan tepat.
"Ah, jangan lupakan soal DNA yang aku temukan di kuku korban. Kau sengaja memotong kuku korban Kim Miyoung karena saat kau menjerat lehernya dengan tali, korban mencakar pelipis kirimu. Itu sebabnya kau memotong kuku korban dan membuang potongan kukunya ke tempat sampah agar tidak meninggalkan jejak apapun. Sayangnya, kau ceroboh karena membuang potongan kuku itu ke tempat sampah yang ada di dalam rumah korban."
"Aku ketahuan, bagaimana ini? Haruskah aku merasa takut? Ah, sepertinya tidak. Kau lah yang harus merasa takut."
"Jangan menggertakku, brengsek! Sekarang, serahkan dirimu dan ikut denganku!"
"Aku sudah merasa curiga ketika kekasihmu datang ke ruanganku dan merayuku. Kau tahu? Dia menciumku dengan liar, lalu menjambak rambutku dengan gerakan seduktif. Kau pikir aku tidak tahu? Dia sengaja melakukan itu untuk mendapatkan helaian rambutku."
"Serahkan dirimu, sialan!"
"Jangan memakiku, bajingan! Eunhyuk yang kau cintai ada di tanganku sekarang, dan aku bisa membunuhnya sekarang juga kalau aku mau! Kau tahu apa yang terjadi bila kau membuatku marah? Kau akan kehilangan orang yang kau cintai untuk kedua kalinya!"
Nafas Donghae tercekat, pandangannya mulai tidak fokus ketika Kyuhyun menyebutkan nama Eunhyuk. Laki-laki berkulit putih pucat itu masuk ke salah satu ruangan di rumahnya, lalu keluar dengan membawa Eunhyuk yang dalam keadaan terikat tidak berdaya. Kaki dan tangannya diikat lakban silver, begitu juga mulutnya yang direkat oleh lakban sialan itu.
"Jangan menyentuhnya atau aku akan menembak kepalamu, Cho Kyuhyun!"
"Maksudmu, seperti ini?"
Kyuhyun memukul kepala Eunhyuk dengan palu yang ada ditangannya, palu yang ia gunakan untuk menghabisi Sohyun tiga tahun yang lalu.
"Bajingan!"
Sebenarnya, Kyuhyun tidak menginginkan Eunhyuk. Bukan Eunhyuk yang ingin ia bunuh, untuk apa mencelakai orang yang dicintainya? Tapi saat Kyuhyun menculik Eunhyuk untuk memancing Donghae, dia justru memasang raut wajah meremehkan dan bilang bahwa Donghae tidak akan terjebak dengan mudahnya. Dia juga bilang, meskipun Kyuhyun membunuhnya, Donghae tidak akan berubah menjadi monster sepertinya.
Monster?
Kata-kata itu keluar dari mulut orang yang ia cintai, Kyuhyun tidak bisa menerima hal itu. Akhirnya Kyuhyun dapat ide, dari pada membunuh Donghae, bagaimana kalau membunuh Eunhyuk saja? Masihkah Donghae mampu hidup setelah melihat orang yang dicintainya di siksa lalu mati?
"Jangan mendekat, atau dia akan kehilangan nyawanya sekarang juga. Kau ingin tahu bagaimana aku membunuh Sohyun, bukan? Akan aku tunjukan padamu!"
Tangan Donghe gemetar, ia menarik pelatuk pistolnya dan bersiap menembak kepala Kyuhyun. Cukup sudah, persetan dengan peraturan! Masihkah peraturan harus ditegakan di saat seperti ini? Masihkan karirnya di kepolisian penting? Semua itu akan menjadi omong kosong belaka jika Donghae kehilangan Eunhyuk.
"Tembak aku! Kenapa masih ragu? Aku tidak takut mati! Kau tahu, Lee Donghae? Meskipun aku mati, penderitaan yang kau alami tidak akan berhenti. Kau justru akan semakin tersiksa karena kematian dua orang yang sangat kau cintai. Membunuhku, tidak akan membuat Sohyun hidup lagi. Dan Eunhyuk, dia akan tetap mati di tanganku karena kebodohanmu."
Airmata yang berkumpul di pelupuk mata Donghae mulai menghalangi pandangannya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Eunhyuk tersungkur di lantai dengan darah yang bercucuran. Eunhyuk masih sadarkan diri, namun ia menangis dan menatap Donghae dengan tatapan pasrah. Hal itu semakin membuat Donghae gemetar. Tidak, Eunhyuk tidak boleh mati karena kebodohannya.
"Ah, Eunhyuk punya bekas luka tusuk diperutnya, 'kan? Bagaimana kalau aku menusuknya sekali lagi? Menurutmu, apa yang akan terjadi?"
Kyuhyun memecahkan gelas winenya, lalu mengambil potongan paling besar yang runcing untuk membunuh Eunhyuk.
"Jangan lakukan itu, kau menginginkan aku? Bunuh aku, jangan dia!"
"Aku ingin melihatmu menderita seumur hidup, lalu mati sengsara. Aku tidak mau membunuhmu dengan mudah. Tidak menyenangkan sama sekali."
"K—kau bajingan! Kau bukan manusia!"
Donghae benar-benar menarik pelatuk pistolnya, ia sudah tidak peduli lagi dengan peraturan atau karirnya sebegai polisi.
"Ah!"
Tepat di saat Donghae akan menarik pelatuknya, suara tembakan jeritan Kyuhyun terdengar bersamaan. Donghae melihat ke arah kiri dimana suara tembakan berasal, Ryeowook ada di atas sana, di atap rumah tetangga Kyuhyun dengan senapan laras panjang. Tembakannya tepat mengenai lengan kiri Kyuhyun dan membuat fokusnya teralihkan karena rasa sakit dilengannya. Dan di saat itulah, tim yang lain masuk menerobos, lalu mengamankan Kyuhyun. Donghae sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Kyuhyun, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara menyelamatkan Eunhyuk.
"Eunhyuk!"
Donghae melemparkan pistolnya, lalu berlari ke arah Eunhyuk. Ia melepaskan ikatan Eunhyuk, kemudian membangunkannya dari lantai dan membuatnya bersandar di lengan Donghae. Kesadarannya mulai melemah dan nafasnya terputus-putus, luka di kepala Eunhyuk cukup dalam dan darahnya tidak berhenti bercucuran. Donghae terus saja memanggil-manggil nama Eunhyuk agar dia tetap sadarkan diri. Di saat seperti ini Donghae bahkan tidak tahu cara bernafas yang benar, ia ikut tersengal melihat keadaan Eunhyuk yang semakin lemah.
"Jangan pejamkan matamu! Jangan pernah! Lihat aku, kau bisa mendengar suaraku? Jangan hilang kesadaran, Eunhyuk. Tetaplah bersamaku, hm?"
"Maafkan aku."
Suara lirih Eunhyuk membuat airmata Donghae jatuh semakin deras, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Melihat Eunhyuk bersimbah darah dan hampir hilang kesadaran, membuat Donghae ingin membunuh Kyuhyun dengan tangannya sendiri. Bajingan sepertinya tidak layak hidup dan menghirup udara yang sama dengannya!
"Tidak, tidak! Kau tidak boleh seperti ini. Tetaplah sadar, sebentar lagi tim medis datang. Jangan tinggalkan aku."
"Donghae, tim medis sudah datang. Cepat, bawa dia!"
Ryeowook yang baru masuk langsung membantu Donghae membawa Eunhyuk ke dalam ambulans. Dia tidak sadarkan diri dan nafasnya semakin melemah, Ryeowook khawatir dia akan kehabisan darah jika tidak cepat ditangani.
Jangan tinggalkan aku...
Jangan pernah...
.
.
TBC
Hai~~~ !^^ maaf kl ada atau banyak typo, asli gak di edit sama sekali krn gak enak udh kelamaan gak di update jd pengen buru2 post maaf juga lama updatenya...gilaaaaaaaaaaaa...ternyata nulis fic beginian perlu mikir keras sampe ngebul T_T hahahah ya, tapi semikir-mikir kerasnya juga tetep aja msh amatiran dlm urusan nulis fic crime begini ^^ sekali lagi saya mohon maklum kekurangan di sana-sininya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nulis fic ini heheh ^^ dan ini adalah fic dengan chapter terpanjang yg pernah saya buat hahah
Chapter depan akan di ceritakan semua kronologi pembunuhan dan alasan kyuhyun kenapa dia ngebunuh korban-korbannya...cieee yg tebakannya bener...congratsnya ^^ hahahahah jadi, haruskah eunhyuk bertahan atau cukup sampai di sini aja? heheheh masih mau lovey dovey eunhae? ayo~~ review kasih tanggapannya dan curhatannya ^^
Terima kasih kritik dan sarannya, membantu sekali dalam membuat fic ini ^^
Gak bisa ngebalesin review satu-satu maaaafffff...tp suweeerrr saya baca semuanya bikin senyum2 dan makin semangat nulis hehehe. krn saya gak bisa balesin review satu2 makanya saya kasih link FB, twitter, line, IG dan BBM supaya kalian bisa tanya langsung ke saya...soalnya kl lewat review saya bingung mau bls kemana kl gak login, ya kan? blm lg kl udh ke kubur sm review yg lain maaf maaf maaf yaaaa yg reviewnya gak kebales
Chapter depan agak lama lagi ya ^^ soalnya ya itu lah, banyak bgt yang harus di pikiran dan hrs hati-hati juga teliti bikin fic ini tuh hehehe
Oh, maaf lahir batin semua !^^ masih suasana lebaran kan yah? iyain aja pls...
Oke last, see ya next chapter...review pls? ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
