BAD BOY'S TRAP

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Crime

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please.

NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

You've got to fortify my love, you should be mine...

.

.


Sudah hampir pagi, Donghae masih duduk di ruang tunggu dengan lengan baju yang bersimbah darah. Untuk kedua kalinya, Donghae duduk seperti ini dengan darah Eunhyuk yang membasahi bajunya. Kali ini Donghae benar-benar tidak bisa tenang dan bernafas dengan benar, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Kyuhyun memukul kepala Eunhyuk dengan palu hingga membuatnya tersungkur tidak berdaya.

"Eunhyuk banyak kehilangan darah, jadi dokter mengupayakan transfusi darah. Sekarang, tim dokter sedang mengoperasi luka dikepalanya. Dokter bilang, beruntung karena Eunhyuk terpukul di bagian dekat pelipis kiri, tidak di bagian belakang yang berbahaya. Meski lukanya lumayan dalam, tapi itu tidak menembus bagian dalam. Tulang kepalanya hanya retak sedikit."

"Hm."

"Maaf karena aku terlambat. Aku tidak menemukan jalan masuk, rumah Cho Kyuhyun dilengkapi dengan keamanan yang super ketat. Pagarnya tinggi, aku tidak bisa memanjat karena—ya, kau tahu sendiri ukuran tubuhku."

Ryeowook tidak pernah suka membahas soal tinggi badannya, tapi di situasi begini mau tidak mau ia harus jujur. Ukuran badannya memang mungil, tidak setinggi Yunho atau Changmin yang bisa memanjat pagar tinggi dengan mudah. Mau bagaimana lagi? Tuhan menciptakannya begini.

"Sudahlah."

"Aku juga minta maaf atas nama rekan-rekanku yang menjaga Eunhyuk, mereka lalai dan tidak menyadari Eunhyuk di culik Kyuhyun pada waktu itu."

"Kyuhyun yang terlalu pintar."

Sebenarnya kesalahan itu juga disebabkan oleh Donghae juga, tidak semata-mata oleh rekan-rekan Ryeowook saja. Kalau saja Donghae lebih peka dan lebih hait-hati, Eunhyuk mungkin tidak akan di culik Kyuhyun. Donghae terlalu sibuk mencari bukti hingga lupa menghubungi Eunhyuk. Semua ini terjadi karena kelalaiannya, bukan karena orang lain. Donghae tidak pantas menyalahkan orang lain atas kejadian ini.

"Oh, Yunho sedang mengintrogasi Cho Kyuhyun. Kau dan aku resmi tidak diperbolehkan ikut campur dalam kasus ini lagi. Mungkin setelah kasus ini benar-benar selesai, kau dan aku akan mendapatkan hukuman suspensi."

Hukuman suspensi? Donghae tidak peduli, bahkan jika ia menerima surat pemecatan juga tidak akan peduli. Untuk apa terus berkarir dikepolisian? Kalau pada akhirnya, orang-orang yang ia sayanginya meninggal karena kebodohannya. Kalau hukuman atau pemecatannya akan membuat Eunhyuk terus hidup dan berada disisinya, maka Donghae tidak akan pernah menyesal menerima hukuman itu.

"Jadi, kenapa dia membunuh Sohyun?"

"Keterangannya berbelit-belit, tim khusus masih menyelidiki kasus ini. Kabarnya, ada beberapa keterangannya yang tidak cocok dengan bukti-bukti yang ditemukan. Kau pulang lah, makan dan berganti pakaian. Aku akan menjaga Eunhyuk di sini."

"Aku tidak akan kemanapun sampai dia sadar."

Keras kepala. Meskipun sudah tahu Donghae keras kepala, Ryeowook masih saja mencoba membujuknya. Tahu itu tidak akan berguna, akhirnya Ryeowook yang pulang ke rumah Donghae untuk membawakannya beberapa pakaian bersih dan makanan. Melakukan hal-hal kecil untuk Donghae, mungkin akan mengurangi sedikit rasa bersalahnya karena telat menerobos masuk dan menyelamatkan mereka. Ryeowook tahu itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, tapi tetap saja ia merasa terbebani.

"Baiklah, aku saja yang pulang ke rumahmu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu."

"Hm."

Tak lama setelah Ryeowook pergi, lampu ruang operasi mati. Operasi Eunhyuk telas selesai dilakukan, entah itu berhasil atau tidak, semua tergantung pada seorang dokter yang menghampiri Donghae. Dari raut wajahnya, Donghae sudah tahu apa yang terjadi.

"Operasinya berhasil dan masa kritisnya sudah lewat, dia sudah dipindahkan ke ruangan biasa. Kau sudah bisa menemuinya."

Tidak ada berita yang lebih melegakan dari ini. Akhirnya, akhirnya Donghae bisa bernafas dengan lega. Setidaknya, Eunhyuk berhasil melewati masa kritisnya. Dia hanya perlu bertahan, dia harus bertahan dan tidak boleh meninggalkannya.

"Terima kasih, dokter."

"Tapi, pasien masih belum sadarkan diri."

"Apa ada kemungkinan gegar otak dan hilang ingatan?"

"Soal itu, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut saat pasien sadar."

"Oh, terima kasih banyak."

Donghae melangkah masuk ke ruangan Eunhyuk dengan langkah gontai, ia membuka pintu dengan perlahan dan mendapati Eunhyuk tergolek lemah di atas bangsal. Kepalanya berbalut perban, tangannya di pasang jarum infus, nafasnya di bantu oleh selang, dan matanya masih terpejam.

Hati Donghae berdenyut sakit, melihat Eunhyuk lagi-lagi celaka karena kebodohannya.

"Bangunlah, aku tidak suka melihatmu seperti ini. Berteriak dan maki lah aku, karena aku yang membuatmu begini. Seharusnya, aku melakukan semuanya sendiri dan tidak melibatkanmu sama sekali. Maafkan aku."

Airmata Donghae tumpah, ia menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Eunhyuk.

"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, jadi bangunlah dan jangan membuatku cemas."

Seharusnya, aku mengatakan itu dari dulu...

Mengatakannya, di saat kau masih menatapku dengan penuh cinta...

Mengatakannya, saat kau tersenyum dan tertawa...

Mengatakannya, saat kau mengatakannya juga...

.

.


Dua hari berlalu, namun Eunhyuk belum juga membuka matanya. Bola mata indahnya yang terkadang menatap Donghae dengan seduktif itu, bersembunyi di balik kelopak matanya. Entah sampai kapan dia akan seperti itu. Selama dua hari ini Donghae tidak pernah meninggalkan rumah sakit, ia juga bahkan hampir tidak beranjak dari tempatnya. Donghae terus berada di samping Eunhyuk, berdoa untuknya agar cepat melewati masa tidur panjangnya dan segera sadar. Ini mungkin gila, tapi Donghae merindukan suara mendayunya yang di buat-buat, atau suara tertawanya yang kadang mengganggu telinga Donghae. Semuanya, Donghae merindukan semuanya yang ada pada Eunhyuk.

"Lee Donghae, ikut aku."

Suara dingin Yoochun menandakan bahwa dia sedang menahan marahnya, Donghae tahu betul soal itu. Setelah dua hari berlalu, akhirnya ada seseorang dari kepolisian yang mendatanginya. Kalau tidak untuk memaki, pasti dia datang untuk memberitahu soal hukuman apa yang akan Donghae terima. Donghae melepaskan tangan Eunhyuk yang sedari tadi ia genggam, lalu berjalan mengikuti Yoochun keluar dari ruang rawat Eunhyuk.

"Kau sudah gila? Bukankah Yunho sudah memberitahumu agar mundur dari kasus ini?"

"Pelakunya sudah tertangkap, aku tidak peduli dengan karirku lagi."

"Bodoh!"

Yoochun yang sedari tadi mencoba menahan emosinya, akhirnya meledak juga. Ia menaikan nada bicaranya dan berteriak pada Donghae. Sebenarnya, Yoochun sudah ingin meneriakinya sejak dia mencoba menangkap Kyuhyun sendirian. Tapi sialnya, saat itu Yoochun dan Yunho harus kembali ke kantor dan mengintrogasi Kyuhyun karena kasus ini ditangani oleh tim mereka. Terpaksa, Yoochun harus menahan amarahnya sampai hari ini.

"Kalau saat itu Ryeowook tidak berpikir cepat, kau sudah tewas ditangannya bersama Eunhyuk! Kenapa? Kenapa kau masuk kesana tanpa Ryeowook bersamamu? Sok jagoan? Ingin menjadi pahlawan?"

Kata-kata tajam Yoochun tidak Donghae respon, pandangannya kosong dan terlihat seperti orang linglung. Oh, kejadian dua hari yang lalu? Donghae memang sengaja masuk ke rumah Kyuhyun sendirian karena tidak ingin menyeret Ryeowook ke dalam masalahnya. Donghae tidak keberatan dengan hukuman apapun yang akan diberikan tim pendisiplin, tapi ia tidak mau temannya terkena getah akibat ulahnya. Itu sebabnya Donghae memilih masuk sendirian dan menyuruh Ryeowook berjaga di luar, jika Donghae butuh bantuan barulah dia boleh masuk. Tapi sayangnya, Donghae tidak berpikir panjang. Sistem keamanan di rumah Kyuhyun sangat ketat, di tambah lagi pagarnya tinggi sekali. Jelas saja Ryeowook tidak bisa masuk menerobos begitu saja.

"Kau tahu? Sistem keamanan di rumah Cho Kyuhyun sangat ketat, Ryeowook tidak bisa masuk begitu saja karena pagarnya tinggi sekali. Kalau dia tidak berpikir untuk naik ke atap rumah orang dan menembak Cho Kyuhyun, apa yang akan terjadi? Pernahkah kau memikirkan soal itu? Dengar, dari pada hukuman atau apapun itu, nyawa rekan jauh lebih penting, Lee Donghae!"

Donghae tetap diam tak bergeming meski Yoochun berteriak tepat di depan wajahnya dan mengguncangkan tubuhnya. Yoochun pernah kehilangan rekannya saat bekerja, wajar bila dia bereaksi seperti itu. Tanpa kata, airmata Donghae turun begitu saja.

"Aku memang bodoh."

"Benar! Kau bodoh! Saking bodohnya, kau bahkan tidak tahu bahwa kau di jebak! Pelaku sesungguhnya bukan Cho Kyuhyun seorang, ada orang lain di balik semua ini!"

"T—tapi dia mengakui semuanya. Dia bilang, dia memang membunuh Joo Yuri dan Kim Miyoung. Dia juga mengakui telah membunuh Sohyun, dia bahkan menunjukan palu yang dia pakai untuk membunuh Sohyun tiga tahun yang lalu. Dia memukul Eunhyuk dengan palu itu! Palu yang sama pada saat dia membunuh Sohyun! Dia sendiri yang bilang, bahwa palu itu dia pakai untuk menghabisi Sohyun tiga tahun yang lalu, bagaimana bisa bukan dia pelakunya?"

Yoochun mengusap wajahnya gusar. Akhirnya ia mengerti, kenapa pihak yang terkait dengan korban dilarang ikut dalam penyelidikan tim khusus. Donghae adalah contoh nyatanya. Dia memang menemukan semua bukti, pandangannya terhadap kasus objektif, tapi saat emosi menguasainya, dia tidak akan bisa mengontrol dirinya sendiri dan akhirnya dia hanya bernafsu untuk menangkap tersangka tanpa mau melihat bukti-bukti yang lain.

"Dengar ya, Lee Donghae. Cho Kyuhyun memang membunuh Joo Yuri dan Kim Miyoung, tapi dia tidak membunuh Lee Sungmin dan Joo Sohyun."

"A—pa?"

"Kau meminta agar kasus tiga tahun yang lalu di buka, aku dan rekan-rekan yang lain mengambil kasus itu dan menyelidikinya siang dan malam hampir tidak tidur sama sekali. Seharusnya, kau menghargai kami dan tidak bertindak gegabah! Surat ancaman yang datang padamu dan Eunhyuk, di kirim oleh orang lain, bukan Cho Kyuhyun!"

"Apa maksudmu?"

"Saat Yunho mengintrogasinya, dia memang mengaku telah melakukan pembunuhan pada keempat orang itu. Dia menjawab pertanyaan soal kronologis kematian Joo Yuri dan Kim Miyoung dengan lancar dan terperinci, meski pertanyaannya di bolak-balik, dia tetap mampu menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama. Tapi, apa kau tahu? Saat pertanyaan soal Joo Sohyun dan Lee Sungmin muncul, dia tidak pernah menjawab pertanyaan itu dengan benar. Kalau tidak jawaban yang berbelit-belit, dia memilih diam. Kau tahu apa artinya itu? Ada kemungkinan dia tidak membunuh kedua korban itu, dia hanya melindungi seseorang yang mungkin membunuh kedua korban itu."

Bola mata Donghae bergerak gelisah, kenapa? Kenapa ia bisa salah tangkap dan tidak memperkirakan kemungkinan yang dikatakan Yoochun tadi? Apa dirinya mulai tidak objektif dalam menangai kasus? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Donghae, ia merasa sangat gagal sebagai polisi. Sudah membuat Eunhyuk hampir mati, sekarang ia melakukan kesalahan yang fatal.

"Tapi Cho Kyuhyun orang cerdas, tidak mungkin dia memberikan jawaban seperti itu. Dan lagi, tidak mungkin dia terjebak oleh pertanyaan bolak-balik seperti itu."

"Aku yakin, dia berpura-pura bodoh untuk memperlambat proses introgasinya. Saat ini Yunho masih mengintrogasi Cho Kyuhyun, mungkin sebentar lagi kita akan dapat petunjuk. Yunho harus terus mengintrogasinya sampai kita tahu apa motif sebenarnya dari pembunuhan ini. Kita tidak punya banyak waktu, karena batas waktu penahan tersangka untuk di introgasi adalah 20 hari. Kalau lewat dari 20 hari kita tidak menemukan apapun, kita harus membebaskannya."

"Maafkan aku, semua karena kesalahanku."

"Sudahlah, ini tidak sepenuhnya bentuk kesalahan. Bagaimanapun, Kyuhyun memang melakukan pembunuhan, hanya saja kau tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan kecil. Seharusnya kau mendengarkan aku dan Yunho, Donghae. Kami tidak ingin kau berada dalam bahaya."

"Lalu, bagaimana sekarang?"

"Yunho sedang menyelediki dari mana asal surat-surat ancaman yang dikirimkan pelaku padamu dan Eunhyuk. Dia belum mengatakan apapun soal itu, tapi aku yakin dia menemukan sesuatu. Yunho hanya bilang, kita harus menemukan Lee Kanghun Hwaejangnim. Barulah kita akan tahu alasan kenapa Joo Sohyun meninggal, begitu pula dengan dua korban lainnya. Motif pembunuhan ini akan terungkap, jika Yunho bisa menemukan dari mana asal surat itu dan siapa yang mengirimnya. Oh, kita juga harus menemukan Lee Sungmin. Aku tidak tahu, tapi Yunho yakin kedua orang itu ada hubungannya dengan kasus ini."

"Maksudmu—"

"Lee Kanghun Hwaejangnim ada dalam daftar pencarian orang."

"Apa?"

"Sehari setelah Cho Kyuhyun di tangkap, dia menghilang tanpa jejak. Jongwoon Hyung sedang mencari informasi keberangkatan luar negeri, dan sisanya mencari keberadaannya di seluruh kota. Jika ada informasi baru dari Cho Kyuhyun, Yunho akan segera menghubungiku. Untuk sementara ini, kau dilarang ikut dalam penyelidikan kasus apapun."

Kenapa harus ayahnya Eunhyuk?

.

.


"Kau yakin membunuh Joo Sohyun dan Lee Sungmin? Kenapa kau tidak bisa menjelaskan kronologis kejadiannya? Padahal, kau bisa menjelaskan kronologis saat kau membunuh Joo Yuri dan Kim Miyoung. Dan mengenai surat ancaman yang kau kirimkan pada Donghae, kau yakin itu perbuatanmu? Kau mengirimkan surat itu sendiri?"

Itu adalah pertanyaan Yunho yang ke sepuluh kali. Berkat Cho Kyuhyun sialan ini, Yunho harus mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Introgasi ini awalnya tidak berlangsung alot, sampai pada pertanyaan motif kenapa dia membunuh Joo Yuri dan Kim Miyoung, barulah introgasi ini mulai terasa sangat menyiksa.

Kyuhyun bisa menjawab pertanyaan tentang kronologis kejadian, bahkan dia menceritakannya dengan raut wajah yang bangga tanpa penyesalan sama sekali. Tapi ketika Yunho menanyakan alasan kenapa dia membunuh kedua korban itu, Kyuhyun mulai berbelit-belit. Yunho menyerah, akhirnya ia ganti pertanyaan dan menanyakan soal kronologis bagaimana dia membunuh Joo Sohyun dan Lee Sungmin. Dan lagi-lagi, Kyuhyun berbelit-belit. Kalau tidak berbelit-belit, dia akan diam dan membuat Yunho naik pitam.

"Aku akan menanyakan pertanyaan yang belum kau jawab sekali lagi. Jadi, aku harap kau menjawab pertanyaanku dengan benar atau kursi ini akan melayang ke wajahmu!"

Kyuhyun tersenyum miring, matanya memandang Yunho dengan tatapan meremehkan. Di gertak seperti itu tidak akan membuat Kyuhyun ketakutan. Justru sebaliknya, ia merasa Yunho sangat lemah karena selalu membiarkan dirinya meledak-ledak dan dikuasai emosi.

"Orang yang emosinya meledak-ledak, biasanya otaknya kosong. Atau biasa di sebut, bodoh."

Kesabaran Yunho habis, berdiri dan mengangkat kursi yang didudukinya tadi. Untungnya, sebelum kursi itu benar-benar melayang dan menghantam wajah Kyuhyun, Changmin datang menahan gerakan brutal Yunho.

"Hyung, kau bisa membunuhnya! Hentikan, Hyung! Jangan emosi!"

"Minggir, Shim Changmin, dia ini bedebah! Dia binatang, bukan manusia!"

Laki-laki dengan tinggi hampir dua meter itu terpaksa memeluk Yunho, menghentikan gerakan tangannya yang siap-siap melemparkan kursi ke arah Kyuhyun. Oh, yang benar saja. Entah untuk yang ke berapa kalinya ia harus menjinakan amarah Yunho. Sejak bergabung dengan tim penyelidik kasus bersama Yunho, ia selalu kebagian tugas untuk menghentikan aksi brutal Yunho ketika emosi. Selain karena ukuran tubuhnya, di kantor ini memang tidak ada yang berani menyentuh Yunho ketika dia sedang marah.

"Kau harus keluar dari ruangan ini, Hyung! Biarkan Timjangnim yang mengintrogasinya."

"Dengar ya, brengsek. Aku akan menemukan semua yang tidak kau katakan, secepatnya! Jadi, silahkan tutup mulut sampai kau membusuk!"

"Sudah, Hyung!"

Akhirnya, setelah perjuangan yang cukup berat Yunho mau melepaskan kursi yang ada di tangannya dan ikut bersama Changmin keluar dari ruangan introgasi itu. Yunho selalu saja meledak-ledak saat mengintrogasi. Terakhir, tiga bulan yang lalu dia menghajar tersangka penculikan sampai babak belur, tapi untungnya si tersangka tidak sampai sekarat dan langsung mengaku karena lelah di hajar Yunho.

"Hei, Henry! Belikan aku makanan."

"Kau baru saja menghabiskan empat mangkuk ramen!"

"Yunho Hyung mengamuk, aku mencegahnya agar tidak menghajar tersangka."

"Lalu?"

"Lalu, aku kembali lapar!"

"Ah, kau memang food monster!"

Satu tim dengan manusia macam Shim Changmin, sungguh melelahkan! Dia lapar kapanpun dan dimanapun. Sekecil apapun aktifitasnya, dia akan kembali lapar meskipun sebelumnya sudah menghabiskan lima bungkus ramen sendirian. Heran, kenapa orang-orang di timnya tidak ada yang waras? Well, semua yang ada di sini cerdas, berkemampuan di atas rata-rata, dan berkompeten. Tapi, kepribadian mereka semua tidak ada yang normal. Ada yang emosinya meledak-ledak, yang rakus, yang irit bicara, yang aneh, dan masih banyak lagi.

"Changmin! Kau sudah menyusun laporan kronologis kejadian?"

"Sudah, Hyung."

Changmin menyerahkan laporan yang ia buat pada Yunho, kemudian ia kembali lagi ke mejanya dan membiarkan Yunho berkutat dengan pikirannya sendiri.

Dia sedang musang mode on. Mengganggu, sama dengan cari mati.

"Ini laporan kronologis di dua TKP, 'kan?"

"Ya, Hyung."

Hm, jadi Cho Kyuhyun datang ke apartemen Joo Yuri pukul 21.00. Dia datang sebagai tamu dan sempat berbincang-bincang sejenak dengan Joo Yuri. Pukul 21.10 dia memberikan minuman penambah energi pada korban, dan akhirnya pada pukul 21.30 korban tewas karena minuman penambah energi itu di campur racun arsenik cair. Masalahnya, Yunho masih belum tahu alasan Kyuhyun menaruh gelas wine di sana. Untuk apa? Apa maksudnya? Dan di tambah lagi, Yunho juga belum tahu motif sesungguhnya kenapa Kyuhyun membunuh? Si bedebah itu masih saja bungkam, bikin naik darah saja.

Ke kasus selanjutnya. Sama dengan Joo Yuri, Kyuhyun datang ke apartemen Kim Miyoung pukul 21.00 sebagai tamu. Sebelum membunuhnya, Kyuhyun berbincang-bincang sejenak dengan korban. Pukul 21.10 dia menjerat leher korban dengan tali tambang yang dia siapkan di tas olahraganya. Korban berontak saat Kyuhyun menjerat lehernya dari belakang, dia mencoba menggapai wajah Kyuhyun dan akhirnya tanpa sengaja mencakar pelipis kirinya. Merasa marah karena korban melukai wajahnya, Kyuhyun pun semakin kuat menjerat korban dan akhirnya dia tewas pukul 21.30. Sebelum Kyuhyun menggantung korban dengan tali tambang plastik di palang pintu, dia menggunting kuku korban agar tidak meninggalkan jejak apapun.

Dia melakukan semuanya tepat waktu, dan juga bersih tanpa jejak. Benar-benar seorang psikopat.

Meskipun Yunho sudah tahu kronogis kejadiannya. Mulai dari pelaku datang ke apartemen korban, lalu membunuhnya. Yunho masih belum bisa menemukan motifnya, apa motif dari pembunuhan ini? Kenapa pelaku menghabisi nyawa korbannya? Terlebih lagi, ada kemungkinan besar dia tidak membunuh Joo Sohyun dan Lee Sungmin. Padahal, kasus ini saling berkaitan satu sama lain.

Satu yang diyakini Yunho, si pelaku sedang mencoba melindungi seseorang.

"Sudah ada laporan dari Yoochun atau Jongwoon Hyung?"

"Belum, dia masih di bandara dan mengumpulkan data orang-orang yang ke luar negeri. Yoochun Hyung sudah pulang dari rumah Lee Kanghun, tapi dia mampir sebentar ke rumah sakit untuk melihat keadaan Donghae Hyung dan kekasihnya."

Ah, benar. Saking sibuknya, Yunho belum sempat melihat keadaan Donghae dan Eunhyuk. Yunho yakin, sahabatnya itu pasti sangat tertekan dan hancur. Seharusnya, Yunho ada bersamanya di saat seperti ini. Tapi apa boleh buat? Jangankan bertemu Donghae, sekedar berbicara di telepon dengan Jaejoong saja susah. Kalau sudah begini, siap-siap saja Yunho di gantung. Jaejoong pasti akan marah berat padanya. Sungguh, kasus ini menyita terlalu banyak waktunya.

"Bagaimana dengan pencarian Lee Sungmin? Ada kemajuan?"

"Jalan di tempat. Bukankah Donghae Hyung bilang Cho Kyuhyun membunuhnya? Untuk apa di cari lagi? Dan kenapa dia terkait dengan kasus ini?"

"Justru itu, kalaupun benar Cho Kyuhyun membunuh Lee Sungmin, seharusnya kita menemukan jasadnya. Tapi si bedebah itu tidak mau menjawab pertanyaan apapun soal Joo Sohyun dan Lee Sungmin, membuatku marah saja! Lee Sungmin adalah kekasih Cho Kyuhyun, dia menghilang setelah dua tahun Sohyun meninggal. Aku yakin, dia tahu sesuatu soal kasus ini."

Sebenarnya, apa motifmu membunuh?

.

.


ooODEOoo


"Kau siapa?"

Itu adalah kata-kata pertama yang diucapkan Eunhyuk saat dia membuka matanya. Sebulan telah berlalu sejak Eunhyuk larut dalam tidur panjangnya, dan saat bangun dia menanyakan sesuatu yang ditakutkan Donghae selama ini. Pandangan Donghae dan Eunhyuk bertemu, tapi Donghae tidak bisa berkata apapun, ia bahkan tidak bisa bereaksi karena terlalu terguncang dengan pertanyaan pendek Eunhyuk. Demi Tuhan, Donghae kaget bukan main. Jantungnya seperti berpacu lebih cepat, tangannya mulai dingin, dan nafasnya mulai sedikit tidak teratur.

Tidak...jangan sampai...

"Eun—Eunhyuk? Ini aku, Donghae. Kau tidak mengenalku?"

Seharusnya Donghae segera memanggil dokter dan melaporkan kejadian ini, tapi kakinya seperti terpaku dan sulit melangkah. Jantung masih Donghae berdegup kencang, nafasnya mulai memburu, dan matanya menatap lurus ke arah Eunhyuk. Tidak, tidak boleh! Eunhyuk tidak boleh melupakannya begitu saja. Apa yang selama ini ia takutkan tidak boleh terjadi!

"Eunhyuk, aku—"

Belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, Eunhyuk sudah tertawa lirih. Tangannya menggenggam jemari Donghae, lalu mengecupnya pelan.

"Kau terlihat sangat bodoh. Ya ampun, aku ingin tertawa kencang tapi kenapa rasanya lemas sekali."

Mata Donghae mengerjap beberapa kali, ia masih memandangi Eunhyuk tak percaya. Apa-apaan ini? Kenapa Eunhyuk tiba-tiba tertawa? Apa otaknya bermasalah? Apa dia jadi gila? Sulit di percaya, Eunhyuk terbaring lemah, tapi dia masih bisa tertawa dan menggenggam tangannya.

"Kepalaku yang terluka, kenapa kau yang jadi idiot?"

"Eunhyuk, kau baik-baik saja? Kau kenal aku siapa?"

"Hm. Kekasihku yang paling tampan, pintar, menggemaskan, dan munafik. Lee Donghae."

"Kau mempermainkan aku?"

Oh, ya Tuhan! Jantung Donghae hampir saja turun ke lutut saking lemasnya. Donghae sudah siap-siap mau menangis, jika seandainya Eunhyuk benar-benar hilangan ingatan. Apa lagi hilang ingatan permanen, bisa gila Donghae.

"Hm."

"Tidak lucu! Kau membuatku takut."

Eunhyuk hanya bisa terkekeh, ekspresi Donghae sungguh lucu. Apa dia benar-benar takut jika Eunhyuk melupakannya? Oh, itu manis.

"Aku akan memanggil dokter."

Sebelum pergi, Donghae mengecup kening Eunhyuk lembut. Meski sedikit kesal, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Akhirnya, kekasihnya bangun dan bisa tersenyum lagi. Asalkan Eunhyuk bisa tersenyum seperti biasa lagi, maka Donghae tidak membutuhkan apapun lagi. Donghae tidak menginginkan apapun, selama Eunhyuk ada bersamanya dan tidak pernah meninggalkannya.

"Bagaimana keadaannya, dokter? Dia baik-baik saja? Bagaimana luka dikepalanya? Apa itu berbahaya? Apa dia akan hilang ingatan?"

Dokter baru selesai memeriksa keadaan Eunhyuk, dan Donghae langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Eunhyuk yang menyaksikan itu dari bangsal hanya tersenyum kecil, kalau bisa melihat Donghae selalu mencemaskannya seperti itu, rasanya ia rela sakit terus.

"Kondisinya sudah stabil, operasinya berhasil, dan tidak ada masalah dengan kepalanya. Hanya saja—"

"Hanya saja?"

"Mungkin ada beberapa ingatannya yang hilang, termasuk ingatan saat ia di culik."

"Ah, baiklah. Terima kasih, dokter."

Donghae membungkuk pada dokter, lalu kembali lagi ke samping Eunhyuk. Rasanya senang sekali bisa melihat matanya kembali terbuka dan mendengar suaranya lagi.

"Eunhyuk, kau ingat bagaimana kau bisa di culik oleh Kyuhyun?"

"Hm? Di culik?"

"K—kau di culik oleh Kyuhyun."

Mata Eunhyuk mengerjap, di culik? Kenapa Kyuhyun menculiknya? Sepertinya, ia masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga. Saat di kantor, Eunhyuk terpaksa menggunakan tangga darurat karena elevator sedang dalam perbaikan. Dan kalau tidak salah ingat, ia di dorong oleh seseorang hingga terjungkal, lalu kepalanya menghantam sesuatu. Tapi, ia tidak ingat siapa yang mendorongnya.

"Hal terakhir yang aku ingat adalah saat aku jatuh dari tangga."

Eunhyuk yakin, ia tidak melewatkan apapun. Ia masih ingat malam setelah mereka bercinta, Donghae meminta bantuannya untuk mengambil helaian rambut Kyuhyun. Meskipun Donghae tidak mengatakan alasannya, Eunhyuk tetap melakukannya tanpa bertanya. Apapun yang dilakukan Donghae, pasti untuk sesuatu yang penting. Itu sebabnya Eunhyuk tidak bertanya lagi dan memilih percaya pada Donghae.

Setelah berhasil mengambil helaian rambut Kyuhyun dengan cara yang—hm—mungkin akan membuat Donghae marah, Eunhyuk memberikannya pada Donghae. Eunhyuk yakin ia tidak ketahuan, karena sikap Kyuhyun padanya tidak berubah sama sekali. Dua hari setelah kejadian itu, elevator di kantor rusak jadi terpaksa Eunhyuk naik lewat ke ruangannya lewat tangga darurat. Dan saat itu lah, Eunhyuk merasa ada seseorang yang mendorongnya hingga tak sadarkan diri.

"Dasar bodoh! Kau pikir hanya jatuh dari tangga, bisa membuatmu koma sampai sebulan?"

"Siapa yang kau bilang bodoh? Memangnya kalau aku tidak ingat itu salahku? Kau mencari ribut dengan pasien?"

Saat bersama Eunhyuk, Donghae selalu lupa tempat dan mengontrol emosinya. Donghae bahkan lupa Eunhyuk sedang sakit saat ini. Ah, salahkan saja dia yang selalu cari ribut! Sedang sakitpun dia masih sempat mempermainkan Donghae. Hampir saja ia di buat menangis konyol oleh Eunhyuk.

"Maafkan aku."

"Tapi, aku bermimpi sesuatu saat aku koma."

"Mimpimu tidak akan jauh-jauh dari hal porno dan mesum!"

"Hm, kau benar. Wajahmu memang porno dan mesum, itu sebabnya ada di dalam mimpiku."

"Hm? Aku ada dalam mimpimu?"

"Kau menangis tersedu-sedu memintaku bangun, kau juga mengatakan cinta padaku hingga putus asa. Konyol dan menggelikan."

Donghae mendelik tajam, konyol katanya? Donghae menangis untuknya dan mengatakan cinta padanya. Dan apa dia bilang? Konyol? Awas saja, jangan harap dia bisa mendengar kata-kata itu lagi!

"Kenapa wajahmu jadi masam?"

"Aku merasa sia-sia menangis untukmu!"

Hening. Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Boleh diulangi lagi? Donghae menangis untuknya? Eunhyuk tiba-tiba merasa hatinya menghangat, untuk pertama kalinya ada orang selain ibunya yang menangis untuknya ketika ia terbaring tidak berdaya.

"Kemarilah."

"Mau apa?"

"Kemari!"

Donghae mendekatkan wajahnya ke arah Eunhyuk. Sebenarnya ia tahu apa yang akan dilakukan Eunhyuk, hanya saja ia berpura-pura bodoh. Jangan bercanda, sekian lama bersama Eunhyuk mana mungkin Donghae tidak tahu apa yang akan dilakukan Eunhyuk.

"Aku mencintaimu, terima kasih."

Bibir plum Eunhyuk mendarat di bibir tipis Donghae, hanya kecupan kecil tapi mampu membuat Donghae sempat tidak bisa mengedipkan matanya sejenak. Kata-kata itu terdengar tulus, entah kenapa Donghae jadi ingin terus mendengar Eunhyuk mengucapkannya.

"Jangan pernah terluka lagi. Maafkan aku, karena kebodohanku kau jadi terluka."

"Hm, apa kita sedang syuting semacam drama? Kenapa kau bicara seperti aktor di drama?"

"Sulit di percaya. Kau memang perusak suasana!"

Setelah pembicaraan mereka selesai, suasana kembali hening. Donghae memegangi tangan Eunhyuk, ada banyak sekali yang harus ia katakan pada Eunhyuk, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Bagaimana reaksinya jika dia tahu, ayahnya mungkin terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

"Kau mau bilang sesuatu?"

"Oh, itu—hm—"

"Ngomong-ngomong, kenapa Kyuhyun menculikku? Kau bilang, aku begini karena di culik olehnya."

"Dia tersangka dari kasus pembunuhan Kim Miyoung dan Joo Yuri."

"Dan juga Sohyun?"

"Itu—hm—"

Donghae ragu, apakah ia harus mengatakannya? Eunhyuk baru saja sadar, kesehatannya belum pulih sepenuhnya, mungkin akan sangat keterlaluan jika Donghae mengatakannya sekarang. Meskipun Donghae tahu hubungan Eunhyuk dan ayahnya tidak baik, tetap saja mereka ayah dan anak. Eunhyuk mungkin akan sangat terpukul bila tahu ayahnya menghilang dan masuk dalam daftar pencarian orang.

"Begini saja, aku akan menceritakannya semuanya kalau ingatanmu kembali. Aku mungkin sangat keterlaluan dan sangat kurang ajar, tapi aku membutuhkan kesaksianmu untuk mengungkap motif pembunuhan ini."

Kepala Eunhyuk berdenyut sakit, samar-samar ia mengingat hari ketika ia jatuh dari tangga. Seperti potongan-potongan film, ingatan itu muncul secara acak dan tidak jelas.

"Kau kenapa?"

"Kepalaku sakit."

"Kau tidak perlu mengingat apapun! Aku tidak akan melibatkanmu lagi. Tidak, kita tidak akan terlibat dalam kasus ini lagi."

Aku tidak mau kehilanganmu...

.

.


"Donghae! Mana celana robek-robek milkku? Kau tidak membawakannya?"

"Kau baru keluar rumah sakit dan langsung ingin memakai celana tidak layak pakai itu?"

"Hei!"

Eunhyuk menghela nafas. Selalu saja begini! Saat Donghae kalah berdebat, atau tidak tahu mau menjawab Eunhyuk bagaimana, dia selalu membungkam mulut Eunhyuk dengan sebuah kecupan. Hal itu tidak membuat Eunhyuk keberatan, tapi tetap saja membuatnya jengkel. Selama beberapa hari di rumah sakit bersama Donghae, mereka selalu saja berdebat dan bertengkar. Entah itu karena Donghae yang keras kepala atau Eunhyuk yang tidak mau kalah. Mereka berdua sama saja.

"Kenapa kau selalu menciumku saat kita berdebat?"

"Kau berisik!"

"Tapi itu memang salahmu!"

"Kau tidak suka aku cium?"

"I—tu—hm, suka. Tapi—"

"Ya sudah, apa yang perlu kau ributkan?"

Tidak ingin berdebat lagi dengan Donghae, Eunhyuk memilih diam dan melipat tangannya. Ia membiarkan Donghae membereskan pakaiannya selama di rumah sakit sendiri. Baiklah, Eunhyuk mulai merajuk sekarang. Dengan bibir yang maju ke depan, wajah dipalingkan, dan kepala yang masih berbalut perban, justru membuatnya terlihat menggemaskan.

"Mau pulang tidak?"

"Mau!"

Eunhyuk mengulurkan tangannya, meminta Donghae untuk menggenggam tangannya. Setelah merajuk, sekarang dia bertingkah manja. Tapi memang dasarnya Donghae, ia tidak paham dengan maksud Eunhyuk dan malah memandanginya dengan tatapan bertanya.

"Kenapa malah diam? Aku sakit! Kau harus menggandeng tanganku."

"Apa hubungannya?"

"Cepat!"

"Manja!"

Meski menggerutu dan mengomel, pada akhirnya Donghae tetap menuruti keinginan Eunhyuk. Mereka berjalan melewati lobby sambil bergandengan tangan, mengundang tatapan semua orang. Tapi sepertinya Donghae tidak terganggu dengan hal itu, ia tetap melangkah dengan percaya diri dan menghiraukan tatapan aneh semua orang.

"Kau mulai membiasakan diri memegang tanganku di depan umum?"

"Aku terbiasa, bukan membiasakan."

"Donghae, sampai di rumah nanti aku ingin makan Galbi. Ah, juga yang manis-manis."

"Apa aku tidak cukup manis untukmu?"

Alis Eunhyuk bertaut, wajahnya memberengut tidak setuju. Demi apapun, ia merasa geli ketika Donghae membanggakan dirinya seperti itu. Apa? Manis katanya? Pasti ada yang salah dengan kepala Donghae.

"Kau menggelikan!"

Diam-diam Donghae terkekeh, ia suka melihat wajah terheran-heran Eunhyuk. Luar biasa manis dan menggemaskan.

"Donghae."

"Hm?"

"Kau sedang gelisah memikirkan sesuatu, 'kan?"

"Tidak."

"Aku bisa merasakannya. Aku janji, aku akan berusaha mengingat ingatan yang hilang. Meskipun aku tidak tahu itu berguna atau tidak, aku akan mengingatnya dan membantumu mengungkap kasus ini."

Langkah Donghae terhenti, ia memegang bahu Eunhyuk lalu menatapnya.

"Dengar, kita tidak akan terlibat dengan kasus ini lagi. Aku akan minta pindah ke divisi lain dan tidak akan pernah terlibat dengan kasus ini lagi."

"Kenapa?"

"Eunhyuk, kau hampir kehilangan nyawamu karena kebodohanku! Aku tidak ingin kehilanganmu, mengertilah. Aku tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya."

Kata-kata yang langsung menyentuh hati Eunhyuk dan membuat Eunhyuk merasa sangat diinginkan. Eunhyuk menghambur kepelukan Donghae, menenggelamkan wajahnya di bahu Donghae. Begini saja sudah cukup, Eunhyuk hanya butuh diperlakukan seperti ini oleh Donghae. Kata-kata cinta yang sangat diharapkannya itu hanya bonus, Donghae sudah memperlakukannya dengan sangat baik, menatapnya dengan lembut, dan selalu memperhatikannya. Itu sudah cukup. Lebih dari cukup.

"Aku janji, aku tidak akan terluka lagi dan membuatmu cemas. Tapi aku ingin kau berjanji sesuatu juga."

"Apa?"

"Selesaikan kasus ini."

"Eunhyuk, aku—"

"Sohyun temanku juga. Setidaknya, aku ingin pelakunya benar-benar di tangkap. Aku merebutmu darinya, setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuknya."

"Eunhyuk!"

"Aku mohon."

Donghae menghela nafas panjang. Sejujurnya, ia juga tidak mau menyerah dari kasus ini. Tapi jika ambisi dan kegigihannya hanya akan membahayakan Eunhyuk dan nyawanya, maka Donghae akan menyerah dan tidak akan pernah terlibat lagi.

"Aku mohon, hm?"

"Aku akan bicara pada Yunho nanti."

"Kau yang terbaik."

Yang terbaik? Donghae bahkan tidak tahu, apakah yang dilakukannya ini benar? Apakah semua akan baik-baik saja jika ia kembali terlibat?

.

.


ooODEOoo


"Jasad Lee Kanghun Hwaejangnim ditemukan di pinggiran sungai Han, ada warga yang melapor dan tim forensik sudah memastikan bahwa jasad yang ditemukan itu adalah Lee Kanghun. Dugaan sementara, korban tewas karena tenggelam. Jasad sudah di ambil oleh NFS dan akan segera dilakukan otopsi untuk mengetahui sebab kematian lebih detail lagi."

Laporan yang dibacakan Yoochun untuk Youngwoon, mengusik ketenangan makan siang Yunho. Tanpa peduli dengan mulutnya yang belepotan, Yunho menyingkirkan mangkok ramennya lalu menerjang Yoochun. Bahkan, tatapan tajam Youngwoon pun ia abaikan.

"Ditemukan tewas?"

"Ya."

"Bagaimana bisa?"

"Kita akan segera mencari tahu setelah laporan dari NFS keluar."

Youngwoon berdeham sambil memelototi Yunho, beraninya dia memotong laporan Yoochun. Sudah bosan hidup, atau bagaimana?

"Maaf, Timjangnim."

"Lanjutkan, Park."

"Laporan mengenai orang yang di laporkan hilang, Lee Sungmin. Tim sudah menemukannya, dia memang masih hidup dan ditemukan Gangwon. Dia tinggal di desa kecil sendirian. Jika ada surat perintah, maka tim akan segera berangkat untuk menangkapnya."

"Apa?"

"Bawa Lee Sungmin dengan cara apapun, dan dapatkan laporan otopsi Lee Kanghun dari NFS secepatnya. Waktu kita tersisa 7 hari, kalian tahu? Kita sudah memperpanjang masa penahanan Cho Kyuhyun selama 40 hari, dan itu tidak bisa diperpanjang lagi. Kita akan menyelesaikan kasus ini dalam waktu 7 hari, mengerti?"

"Siap! Di mengerti, pak."

Yunho melihat Yoochun berlari meninggalkan kantor, tapi tidak ada inisiatif untuk mengikuti. Ia malah mematung ditempatnya, sibuk berpikir. Ternyata, dugaannya selama ini benar. Bukti-bukti yang ditemukan Yunho selama masa penyelidikan memang mengarah kesana, tapi ia belum bisa memutuskan apa-apa selama Lee Sungmin belum ditemukan.

Sial! Yunho ingin berteriak dan memaki. Tersangka utama yang dicurigai Yunho justru tewas tanpa memberi keterangan apapun. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

"Kau tidak ikut dengan Yoochun?"

"Aku—aku tidak ikut, pak. Ada yang harus aku periksa sekali lagi."

Makan siang telah benar-benar Yunho lupakan, ia kembali ke mejanya dan membuka kembali laporan selama penyelidikan kasus Sohyun. Selera makannya hilang, karena buruannya tewas bahkan sebelum ia menembakan pelurunya.

Yunho mulai memeriksanya dari apa saja yang ia temukan di TKP.

Pertama, Yunho menemukan surat-surat ancaman yang datang pada Donghae dan Eunhyuk datang dari Gangwon. Itu terbukti dari cap pos yang ditemukan di surat itu, Yunho juga sudah memeriksa CCTV di skitar kantor pos. Dan benar, surat itu bukan Kyuhyun yang mengirimnya. Sayangnya, CCTV di sana kualitasnya rendah, sehingga menyulitkan Yunho untuk melihat wajah pelakunya. Terpaksa, Yunho datang kesana untuk memastikan siapa dalang di balik kasus ini. Tersangka pertamanya adalah Lee Kanghun, yang memang berasal dari sana.

Kedua, orang yang mendatangi Sohyun ke apartemennya hari itu adalah Lee Hyukjae, Lee Kanghun, Cho Kyuhyun, dan Kang Giljun. Dan orang terakhir yang mengunjungi apartemen Sohyun hari itu, adalah Lee Kanghun. Orang yang menemukan mayat korban setelah Lee Hyukjae dan memerintahkan kejaksaan untuk menutup kasus ini sebagai kasus bunuh diri atau kecelakaan biasa. Yunho yakin, tentu ada alasan kuat di balik tindakannya itu. Bukan semata-mata melindungi anaknya saja, tapi dia pasti menutupi sesuatu dengan menjadikan anaknya sebagai kambing hitam.

Ketiga, CCTV basement merekam seseorang berpakaian serba hitam masuk. Tapi saat Yunho memeriksa CCTV di dalam gedung, orang itu tidak ditemukan dimana pun. Seperti yang sudah di duga sebelumnya, pelaku melanjutkan perjalanannya lewat tangga darurat.

Yang menggelitik insting Yunho di sini adalah, Kyuhyun masuk ke dalam apartemen Sohyun tak lama setelah pelaku masuk. Dan lagi, Kyuhyun masuk melalui pintu utama apartemen dan naik dengan menggunakan elevator dimana kedatangannya akan terekam jelas oleh CCTV. Korban meninggal sekitar pukul 22.00, orang yang masuk setelah jam itu adalah Kang Giljun, Lee Hyukjae, dan lalu Lee Kanghun.

Awalnya, Yunho mengarahkan kecurigaannya pada Lee Kanghun karena dia adalah satu-satunya orang tanpa alibi yang datang ke apartemen Sohyun, ditambah lagi dia menghilang tak lama setelah Kyuhyun di tangkap. Tapi sialnya, Lee Kanghun justru ditemukan tewas.

Untuk sementara ini, petunjuk yang ditemukan Yunho selama penyelidikan adalah, surat yang dikirimkan pelaku, dua apartemen yang ditempati Kyuhyun, dan rekaman CCTV. Jika tersangka utama tewas, maka Yunho akan mengarahkan kecurigaannya pada orang yang satunya dan memulai kembali penyelidikannya di waktu yang tersisa tidak banyak ini.

Jika bukan Lee Kanghun pelakunya, maka kau adalah satu-satunya orang yang tersisa.

"Hei, Jung. Dari pada kau melamun tidak jelas seperti, bagaimana kalau—"

"Ada yang harus aku kerjakan, pak."

"Hei, kau—!"

.

.


"Tidak di sangka, aku benar-benar menjadi kekasihmu dan bahkan tinggal bersama denganmu."

Ocehan Eunhyuk sepanjang perjalanan menjadi latar belakang musik mereka. Meski tidak banyak menanggapi ocehan Eunhyuk, Donghae tetap menyimaknya dan sesekali tersenyum. Tautan tangan mereka masih berlum terlepas, sudah sampai di dalam gedung apartemen dan Donghae belum juga melepaskan tautan tangannya.

"Oh, petugas keamanannya ganti?"

"Hm, sudah hampir sebulan."

Mereka sudah di depan elevator, Donghae hanya perlu menekan tombol ke atas dan pintu elevator akan segera terbuka. Tapi Donghae tidak melakukan itu, ia malah mematung memandangi pintu elevator.

"Akhir-akhir ini kau sering melamun, sebenarnya ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Apa ingatanku yang hilang itu sangat penting?"

"Eunhyuk aku—"

"Aku tidak suka saat kau memandangku dengan tatapan kosong! Tubuhmu memang ada di sini bersamaku, tapi hati dan pikiranmu tidak ada bersamaku. Sebenarnya, ada apa denganmu? Apa yang mengganggumu?"

Akhirnya Eunhyuk meledak juga, ia mencurahkan seluruh isi hatinya yang terpendam selama ini. Yang benar saja, sejak dirinya sadar dari koma, Donghae selalu memandangnya dengan tatapan kosong, dia juga jadi sering melamun tidak jelas. Demi apapun! Hal itu sangan menganggu Eunhyuk. Diamnya Donghae sama sekali tidak menyenangkan! Eunhyuk lebih suka saat Donghae marah atau berusaha menolak godaannya dengan kata-kata pedas.

"Perasaanku tidak enak, pergilah ke kantor polisi dan beritahu Yunho atau siapapun yang ada di sana untuk datang kesini secepatnya."

"Apa kau begini karena dokumen-dokumen yang diberikan Yoochun? Laporan apa itu? Apa yang kau baca?"

"Sayang, aku akan menjelaskannya nanti. Aku janji. Sekarang, pergilah ke kantor polisi dan beritahu Yunho untuk datang kemari."

Eunhyuk benar-benar kesal dengan tingkah Donghae hari ini, ia menendang kopernya, lalu pergi dari hadapan Donghae. Setelah sadar dari koma, kenapa Eunhyuk malah menemukan Donghae berubah menjadi orang yang tidak ia kenali? Sebenarnya apa yang ia lupakan? Apa yang terjadi sebelum ia koma?

"Eunhyuk!"

Langkah Eunhyuk terhenti. Eunhyuk tahu Donghae memanggilnya, tapi ia enggan berbalik dan melihat wajah Donghae. Ia masih marah dan perasaannya masih kesal karena tingkah Donghae yang mendadak menjadi menyebalkan itu.

"Jangan pernah memanggil namaku kalau kau masih menatapku dengan tatapan kosong itu."

"Aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu."

Alis Eunhyuk bertaut, bingung. Di saat seperti ini, kenapa dia malah menyatakan cinta? Apa ini cara barunya untuk menghindari perdebatan? Terlalu kekanakan!

"Aku mencintaimu."

Donghae membuat Eunhyuk berbalik, kemudian menatapnya dengan tatapan sendu seperti biasanya.

"Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi, tapi aku merasa gelisah jika kau tidak berada dalam jarak pandangku. Aku merasa cemas jika tidak mendengar suaramu, aku juga merasa sangat marah saat kau berinteraksi terlalu intim dengan orang lain. Aku gila, pikiranku kacau, aku tidak tahu kemana diriku yang mengaku homofobik. Kau membuatku terperangkap, kau menjebakku, kau mencuri hatiku dan segalanya yang ada pada diriku."

Mata Eunhyuk mengerjap. Wow, itu adalah kalimat Donghae yang terpanjang. Demi Tuhan, Donghae tidak pernah bicara sepanjang itu sebelumnya. Bahkan saat dia menyatakan cinta dulu, kalimatnya tidak sepanjang dan sepuitis itu. Apakah dia benar-benar Donghae yang di kenal Eunhyuk selama ini?

"Pergilah ke kantor polisi. Ingat, hati-hati dan jangan sampai terluka."

Ingin menangis, tapi terlalu gengsi. Eunhyuk merasa dirinya seperti perempuan jika ia menangis di saat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Kata-kata Donghae barusan sangat menyentuh dan melebihi harapannya selama ini.

"Brengsek! Kau membuatku terlihat cengeng!"

Eunhyuk menghambur ke pelukan Donghae, menyembunyikan airmatanya. Sialan! Memalukan sekali, menangis karena tersentuh oleh kata-kata polisi yang dulu mengaku homofobik.

"Katanya, kau akan bilang cinta padaku dengan cara yang tidak biasa. Kenapa hanya seperti ini?"

"Jika aku membuatkan event untumu dan membawa seikat bunga, kau akan muntah dan memakiku seharian. Hal itu membuatmu terlihat seperti perempuan, bukankah kau benci diperlakukan seperti itu?"

"Hm, lihat dirimu! Kau mulai memahamiku."

Kalau aku tidak kembali lagi, kalau hari ini adalah akhir bagiku, setidaknya kau sudah mendengar isi hatiku. Kau sudah mendengar kata-kata yang selalu kau harapkan...

Kejujuran yang selama ini aku simpan rapat-rapat dalam hatiku...

.

.


"Kau benar-benar datang rupanya."

Donghae menutup pintu apartemennya dengan santai, ia membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah seperti biasanya. Seseorang dengan gelas wine ditangannya itu tersenyum remeh, ia memperhatikan Donghae dari sofa ruang tengah dengan ekor matanya.

"Kau tahu aku di sini? Hebat! Rumor tentang dirimu ternyata memang benar, detektif Lee. Jadi, bagaimana bisa kau tahu aku akan datang kesini untuk menyambutmu dan—hm? Mana kekasihmu?"

Gantian Donghae yang menatap meremah ke arah laki-laki itu. Membaca setiap laporan penyelidikan yang diberikan Yoochun setiap harinya, membuat Donghae menemukan bahwa memang ada orang lain yang menjadi dalang dari kasus ini. Well, yang dilakukan Yoochun memang illegal, tidak seharusnya ia memberitahu Donghae soal laporan kasus ini. Tapi lupakan, mari kita bahas soal itu nanti.

"Kau muncul tanpa pancingan apapun. Kutebak, sepertinya kau menikmati tontonanmu. Atau, kau merasa terusik? Itu sebabnya kau muncul dan langsung mencariku."

"Jangan memancing emosiku, aku tidak mau menusuk lehermu sebelum kita berbincang-bincang terlebih dahulu."

"Kenapa kau membunuh Sohyun?"

"Ah, gadis itu? Dia menyebalkan, pembangkang! Kau tahu? Aku menyuruhnya untuk pergi dengan tenang dari perusahaan, tapi dia mengancamku dan bilang akan melaporkanku pada polisi. Aku tidak suka terpojok dan terancam, itu sebabnya aku menghabisi nyawanya dengan palu."

"Apa maksudmu?"

"Aku berniat untuk menghabisi Eunhyuk. Orang yang sekarang kau cintai dan kau jadikan sebagai kekasih itu, semacam jalang yang tidak tahu diri. Dia tahu orang yang dia goda dan menjadi partner sexnya adalah kekasihku, tapi dia tetap menggodanya demi memuaskan lubang laparnya. Bukankah dia sangat kurang ajar? Maka dari itu, aku memotong rem motornya agar dia cepat menghilang dari dunia ini tanpa mengotori tanganku sama sekali. Tapi sialnya, Sohyun melihat perbuatanku. Aku bernegosiasi dengannya agar dia tutup mulut, dan dia bersedia tutup mulut. Sampai di situ, dia memang menjadi anak manis yang penurut."

Jemari Donghae terkepal kuat, mendengar dia ingin mencelakai orang yang dicintainya, membuat darah Donghae mendidih. Entah itu pada Eunhyuk atau Sohyun, intinya Donghae merasa tidak suka melihat gaya bicara orang ini yang seolah-olah meremehkan nyawa orang lain.

"Jujur saja, pada awalnya aku tidak ada niatan untuk membunuhnya. Tapi, suatu hari kekasihku mengatakan padaku bahwa dia merasakan sesuatu pada Eunhyuk. Ironisnya, dia tidak bisa melepaskanku meski dia mulai merasakan sesuatu pada orang lain."

"Jadi, kenapa kau membunuh Sohyun?"

Donghae tidak tertarik dengan kisah cinta orang ini, apa pedulinya? Yang ingin ia tahu adalah, kenapa dia membunuh Sohyun? Bukan yang lain, apa lagi kisah cintanya.

"Sudah aku bilang, aku tidak berniat membunuhnya! Tapi gadis itu selalu membangkang padaku, dia selalu melindungi Eunhyuk tiap kali aku berusaha mencelakainya! Dia seperti batu kerikil di sepatuku, itu sebabnya aku perlu menyingkirkannya agar aku bisa melangkah dengan nyaman."

Tubuh Donghae mulai gemetar, jadi Sohyun menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Eunhyuk? Gadis bodoh! Sebenarnya, hatinya terbuat dari apa? Kenapa dia begitu baik? Lebih dari itu, Sohyun melindungi seseorang yang sekarang menggantikan posisinya di hati Donghae. Apa yang sebenarnya di pikirkan Sohyun saat itu?

"Saat aku sedang menghantam Sohyun dengan palu, Kyuhyun datang dan melihatku sedang menghabisi Sohyun. Tapi, apa kau tahu? Dia tidak berkata apa-apa dan pergi begitu saja. Aku ingin mengejarnya, tapi kekasihmu masih saja hidup meski aku sudah menghajarnya habis-habisan. Jadi, aku putuskan untuk menghabisi nyawa kekasihmu dengan cara mendorongnya ke lantai bawah, baru setelah itu aku mengejar kekasihku."

Laki-laki itu kembali meneguk wine, menghentikan ceritanya untuk sejenak agar dia bisa menikmati red wine yang ada digelasnya.

"Tragisnya, saat gadis itu sudah mati dan aku akan melarikan diri, Eunhyuk datang dan melihatku melarikan diri. Bertambahlah alasan kenapa aku ingin menyingkirkannya."

"Bajingan!"

"Oh, aku ingin bertanya. Apa gadismu belajar bela diri atau semacamnya? Pukulannya dihidungku cukup kuat, dia membuat hidungku berdarah. Ah, mengingat itu membuatku ingin membunuhnya dua kali. Ah, benar. Ambil lah, itu surat yang di tulis gadis itu sebelum mati."

Laki-laki itu melemparkan sebuah amplop putih ke arah Donghae, membuat darah Donghae semakin mendidih, tapi ia harus tetap tenang karena ada banyak pertanyaan yang akan ia ajukan pada bajingan yang sedang duduk manis dihadapannya itu.

"Lalu, kenapa kau membunuh ayahnya Eunhyuk juga?"

"Dia tahu aku membunuh Sohyun, jadi aku mengancamnya agar tetap tutup mulut dan segera menyelesaikan kasus tanpa ribut-ribut. Aku tahu, dia orang yang berkuasa dan bisa melakukan apapun demi anaknya. Tapi lagi-lagi, orang yang awalnya penurut menjadi pembangkang. Dia terbujuk dengan rayuan anaknya untuk membuka kasus ini kembali, membuatku repot saja. Apa tidak cukup dengan menangkap Kyuhyun saja? Kenapa harus aku juga?"

"Jadi, kau tahu Kyuhyun membunuh dua orang itu? Apa motifnya?"

"Entahlah, aku baru menyadari hari ini apa motifnya. Kurasa dia ingin melindungiku, dua gadis yang dia bunuh mungkin mengetahui sesuatu soal kematian Sohyun. Akhirnya aku mengerti, kenapa dia diam saja saat melihat aku membunuh seseorang? Kenapa dia membunuh dengan meninggalkan gelas wine sama sepertiku? Dan kenapa dia menyuruhku menghilang dan mengaku bahwa dia telah membunuhku dan Sohyun? Itu karena dia masih mencintai aku meskipun dia merasakan sesuatu pada orang lain."

"Kalian berdua bukan manusia!"

"Kau tahu? Yang dirasakan Kyuhyun pada Eunhyuk itu obsesi, sementara yang dia rasakan padaku adalah cinta. Makanya dia dengan mudahnya mencelakainya, Kyuhyun marah karena tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi obsesinya. Jalang seperti dia memang pantas mendapat perlakuan seperti itu! Kyuhyun melakukan hal yang baik."

Hal baik katanya? Mereka menghilangkan nyawa orang, dan menurutnya itu baik? Pertahanan Donghae runtuh, ia menerjang laki-laki itu lalu menghajarnya. Meninju wajahnya sekuat mungkin, bahkan untuk sejenak Donghae berpikir untuk membunuhnya dengan cara yang sama saat ia membunuh Sohyun. Masihkah dia sanggup berbicara dengan angkuh saat ada palu menghantam kepalanya?

"Kau tidak pantas hidup dan di sebut manusia, kau bahkan lebih rendah dari binatang!"

"Hajar aku sepuasmu! Kau tahu, kenapa aku mengakui semua ini padamu? Aku ingin kau membenci Eunhyuk! Aku ingin kau menyimpan dendam padanya, karena dia yang menyebabkan nyawa kekasihmu melayang sia-sia! Aku ingin kau hidup dengan dendam yang menguasai hatimu!"

Donghae berhenti memukuli wajah laki-laki itu, wajahnya lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Benar, Donghae tidak boleh berubah menjadi pembunuh sepertinya. Hidupnya tidak boleh hancur karena dendam.

"Tidak, Sohyun tidak mati sia-sia. Dia melakukan hal yang baik dengan melindungi orang lain dari kejahatanmu! Dan aku tidak akan menyimpan dendam pada siapapun! Jika Sohyun saja melindungi Eunhyuk sampai nafas terakhirnya, maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan melindunginya dari manusia rendahan sepertimu, Lee Sungmin!"

Laki-laki yang di panggil Lee Sungmin itu memukul wajah Donghae, ia marah mendengar kata-kata Donghae. Bukan itu yang ia harapkan!

"Bajingan."

Sungmin mendesis, ia mengeluarkan pisau lipat yang ada disakunya lalu mengarahkannya pada Donghae. Oh, sial! Di saat seperti ini kenapa Donghae tidak memiliki pistolnya? Dan dimana Yunho? Apa Eunhyuk sudah memanggilnya?

"Ini akan menjadi akhir untukmu, kau akan menyesal karena memakiku dan memancing emosiku."

"Hentikan! Angkat tangan dan turunkan senjatamu!"

Akhirnya dia datang, Donghae bernafas lega sambil melihat ke arah Yunho. Si bodoh itu cepat dalam hal meledek, tapi lelet dalam hal-hal genting seperti ini. Namun sialnya, belum ada lima menit Donghae merasa lega, Sungmin menendangnya hingga tersungkur, lalu menginjak lehernya. Oh, hell! Catatan untuk Donghae agar tidak lengah di saat apapun.

"Mendekat dan aku akan menginjak leher orang ini hingga mati."

"Lakukan, Yunho!"

"Kau bisa mati!"

Donghae meneriaki Yunho agar mendekat dan meringkus Sungmin, namun Yunho malah mematung dan pandangannya mulai tidak fokus. Sial, harus bagaimana ini? Haruskah Yunho menembaknya? Atau bernegosiasi dengannya untuk menyelamatkan Donghae dulu?

"Persahabatan yang indah. Kau tidak takut mati, Lee Donghae?"

"K—kalau mati bisa membuatmu membusuk di penjara, aku tidak—tidak keberatan sama sekali!"

"Masih berani memaki? Bajingan!"

Dan, BAM! Suara tembakan mendominasi seluruh ruangan. Satu tembakan tepat mengenai lengan Sungmin, dan satu tembakan lagi mengenai kakinya. Yunho melihat kebelakangnya, sungguh ia kaget setengah mati saat melihat Ryeowook dengan pistol ditangannya dan melangkah santai untuk meringkus Sungmin. Sementara Ryeowook memborgol Sungmin, Yunho membawa tim medis masuk dan membawa Donghae keluar terlebih dahulu.

"Hei, Kim Ryeowook! Bukannya kau sedang dalam masa hukuman? Pistol siapa itu?"

"Maaf, ini milik Yoochun. Saat pistol berada ditanganmu, seharusnya kau fokus dan membersihkan pikiranmu. Kau tidak bisa menembak dengan pikiran yang kacau dan ragu, yang ada kau malah mencelakai sandera."

"Hentikan perdebatan kalian, pastikan kalian membuat si bajingan itu membusuk di penjara. Ah, bawa ponsel ini bersamamu."

"Ponselmu? Kenapa?"

"Dia mengakui semua perbuatannya. Rekaman itu bisa memberatkan hukumannya di persidangan nanti."

Dan setelah itu, Donghae pingsan. Yunho dan Ryeowook saling pandang sejenak sebelum memanggil tim medis masuk.

Pekerjaan bagus, bung.

.

.


"Detektif Jung, apa yang terjadi pada Donghae? Dia tertusuk? Tertembak? Apa dia akan hidup?"

Yunho terkekeh, memangnya Eunhyuk pikir ini semacam drama? Yang benar saja, Donghae bahkan hanya pingsan karena shock. Bagi seorang detektif yang sudah melalui banyak kasus, hal itu sangat memalukan. Lihat saja, saat Donghae sadar nanti, ia akan meledeknya sampai puas!

"Dia hanya pingsan, sebentar lagi juga sadar!"

"T—tapi tadi aku melihat lehernya di gips!"

"Ah, itu karena lehernya diinjak oleh pelaku."

"Apa? Bajingan, bedebah, brengsek, kurang ajar! Aku harus menemui si brengsek itu, memangnya dia siapa berani menginjak leher pacarku? Huh? Sudah bosan hidup? Dia tidak tahu siapa aku?"

Reaksi Eunhyuk yang berlebihan membuat Yunho tersenyum. Ya, setidaknya ada hiburan setelah tadi ia melalui hal yang menegangkan. Di saat genting seperti tadi, hanya Ryeowook yang berpikiran jernih dan berhasil meringkus pelaku tanpa melukai Donghae. Yunho benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga membuat pikirannya kacau dan tidak bisa menembak. Sementara Yoochun sudah lemas duluan, karena trauma yang dialaminya di masa lalu. Dia tidak bisa menghadapi situasi dimana pelaku menyandera rekannya sendiri. Sepertinya, setelah ini ada banyak hal yang harus ia pelajari dari Kim Ryeowook.

"Eunhyuk, aku harus kembali ke kantor dan menyusun laporan. Motif pembunuhan ini sudah jelas, aku harus membuat laporan yang baru. Kau bisa menjaga Donghae sendirian di sini?"

"Oh, pergilah. Terima kasih."

"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."

"Hm."

Selepas Yunho pergi, Eunhyuk menarik sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur Donghae. Melihat kekasihnya terbaring di rumah sakit seperti ini, membuat Eunhyuk merasakan apa yang Donghae rasakan saat dia menunggu Eunhyuk sadar dari komanya.

"Celaka setelah menyatakan cinta padaku. Kau pikir, kau sedang main drama atau semacamnya? Dasar sok jagoan! Bangunlah, aku tahu kau sudah bangun sejak Yunho pergi tadi!"

Donghae membuka matanya, ia melirik Eunhyuk dengan ekor matanya, kemudian berbaring memunggungi Eunhyuk. Memalukan sekali harus melihatnya setelah apa yang dia katakan hari ini. Donghae pikir, ia akan mengalami kecelakaan parah saat menghadapi Sungmin. Tapi ternyata, ia hanya mengalami luka dilehernya karena diinjak oleh Sungmin.

"Kenapa memunggungiku? Berbalik!"

Seperti anak kecil, Donghae menurut. Ia membalikan tubuhnya, lalu melihat Eunhyuk dari balik selimutnya.

"Maafkan aku."

"Kau bersikap seolah-olah aku ini ibumu! Jadi, alasan kenapa aku bisa hidup sampai saat ini adalah karena Sohyun melindungiku?"

"Hm."

"Seharusnya kau membenciku."

Donghae menyingkirkan selimutnya, dengan kekuatan yang ada, ia mencoba duduk dan menatap Eunhyuk dengan serius. Apa Eunhyuk mendengar rekaman yang ia berikan pada Yunho? Tidak, tidak! Jangan sampai Eunhyuk salah paham dan memilih untuk meninggalkannya karena rasa bersalah yang konyol!

"Kenapa aku harus membencimu?"

"Aku yang menyebabkan Sohyun meninggal, semua karena keserakahanku yang selalu ingin dicintai meskipun oleh kekasih orang lain. Sekarang, aku merebut seseorang yang sangat dicintai Sohyun. Aku merasa tidak pantas menerima semua kebahagiaan ini."

"Kau tidak terlihat sepertimu. Itu benar, dia meninggal karena melindungimu. Tapi, apa kau tahu? Takdir antara kau dan aku siapa yang tahu? Semua ini terjadi karena memang seharusnya seperti ini. Tidak ada yang patut dipersalahkan, karena memang beginilah jalan takdir kita."

"Kau yakin? Kau tidak menyesal?"

Donghae menggeleng mantap, ia menggenggam tangan Eunhyuk dengan kedua tangannya. Meyakinkannya, bahwa ia tidak pernah menyesali pertemuannya dengan Eunhyuk.

"Aku mencintaimu, hanya itu yang bisa aku katakan saat ini. Soal penyesalan yang mungkin akan datang kapan saja, aku tidak mau memikirkannya. Kalaupun suatu saat aku menyesali keputusan ini, tapi ada satu yang pasti."

"Apa?"

"Aku pernah mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati."

Tatapan mereka saling bertemu, tapi kemudian Donghae memutuskan kontak mata mereka dan kembali bersembunyi di balik selimut.

"Pergilah! Aku malu!"

Tapi satu hal yang pasti...Aku pernah mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati...

Itu adalah kata-kata yang paling menyentuh...

.

.


ooODEOoo


Sebulan berlalu sejak kejadian hari itu, hari dimana mereka mengalami banyak hal yang menegangkan. Donghae, Ryeowook, Yunho, Yoochun dan rekan-rekan satu tim mereka menerima hadiah dan penghargaan karena menungkap kasus pembunuhan yang rumit itu. Tapi sayangnya, Donghae dan Ryeowook harus rela menerima hukuman suspensi karena perbuatan mereka. Dan Yoochun, dia juga menerima hukuman suspensi karena memberitahu Donghae laporan penyelidikan kasus. Untuk tiga bulan ke depan, mereka tidak diperbolehkan ikut dalam penyelidikan dan gaji mereka selama tiga bulan pun harus rela di potong.

Oh, bagus sekali. Menerima hadiah dan hukuman sekaligus.

Ah, soal ingatan Eunhyuk. Ingatannya sudah kembali, itu terjadi saat ia harus kembali ke kantor dan melihat tangga darurat. Katanya, dia memang melihat Kyuhyun mendorongnya dari tangga dan menyeretnya ke rumah pribadi Kyuhyun saat Eunhyuk lemah. Saat di sekap, Eunhyuk memang mengatakan banyak makian pada Kyuhyun. Tidak heran, Kyuhyun menghantam kepalanya tanpa ragu-ragu. Setelah kejadian itu, Donghae harus mengajarinya berkata-kata dengan sopan dan mengajarinya bagaimana cara merendah saat di sekap oleh penjahat.

Soal kematian ayahnya, Eunhyuk juga sudah tahu. Dia begitu emosional karena tahu ayahnya mencoba melindunginya dengan cara yang tidak pernah di duga sebelumnya. Dendam? Eunhyuk hanya marah, tapi dia tidak menyimpan dendam sama sekali. Well, aura positif Donghae menular padanya. Dekat-dekat dengan Donghae, ternyata membawa pengaruh baik padanya. Jangan membayangkan Eunhyuk diam saja atau melakukan hal baik! Dia memang tidak menyimpan dendam, tapi kemarahannya sungguh mengerikan. Dia datang ke persidangan dan menghajar Sungmin habis-habisan, ia juga bahkan memaki siapapun yang mencoba menghentikannya. Akibatnya, dia harus mendapat teguran dan di usir dari ruang sidang.

Sementara Kyuhyun dan Sungmin mendapatkan hukuman penjara seumur hidup. Dan ya, Kyuhyun memang membunuh dua korbannya untuk melindungi Sungmin. Dia sengaja menaruh gelas wine di sana agar semua tuduhan mengarah padanya. Motif Kyuhyun membunuh memang untuk melindungi Sungmin, tapi di balik semua itu, dia melampiaskan kemarahannya yang tidak bisa mendapatkan Eunhyuk. Orang yang menjadi obesesinya. Tes kejiwaan mereka mengatakan, bahwa keduanya memang memilki kelainan jiwa. Terlalu obsesif dan menyelesaikan masalah dengan cara membunuh. Sudahlah, Donghae sudah tidak ingin membahas mereka lagi.

"Apa itu enak?"

Dan sekarang, Donghae sedang makan malam bersama Eunhyuk di rumah. Menu hari ini adalah masakan yang di buat Eunhyuk. Demi Tuhan dan alam semesta, ini adalah makan malam yang paling mengerikan sepanjang hidup Donghae. Oke, Eunhyuk memang hebat dalam urusan ranjang. Tapi urusan dapur? Sebaiknya tidak usah ditanyakan. Dia mengacak-acak seluruh isi dapur seharian, tapi pada akhirnya tidak ada satupun makanan yang ia buat bisa di makan.

"Hyuk, sebaiknya kita beli atau makan di luar saja."

"Ah, aku ingin bersumpah serapah! Kenapa aku tidak bisa memasak?"

"Itu bukan masalah, sayang. Kau bukan perempuan dan aku paham betul soal itu."

"Tapi Ryeowook bisa memasak! Dia laki-laki, polisi, tangguh, penembak jitu, tapi dia hebat dalam urusan dapur."

Donghae mendesah pelan. Mulai lagi. Eunhyuk akan bicara panjang lebar soal keahlian memasak Ryeowook dan berakhir dengan suasana hatinya yang buruk. Akhirnya apa? Donghae harus rela tidur dipunggungi. Ingatkan Donghae agar tidak mengajak Eunhyuk ke pesta-pesta dimana Ryeowook yang memasak sendiri untuk hidangan pestanya.

"Sayang, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing."

"Yang ada padaku semuanya hanya kekurangan! Aku tidak bisa memasak, bicaraku kasar, tidak hebat dalam urusan perusahaan, dan tidak pintar bersih-bersih. Aku hanya tahu berkelahi dan membuat masalah saja."

Kenapa dia random sekali hari ini?

"Benar, kau tidak bisa melakukan semua itu. Tapi kau hebat dalam urusan ranjang dan menggoda."

Eunhyuk memincingkan matanya tidak suka, yang benar saja! Apa hal itu bisa di sebut kelebihan?

"Itu kelebihanmu, itu sebabnya kau bisa membuatku terjebak dan berakhir seperti ini bersamamu. Berakhir dengan mencintaimu dan takut kehilanganmu. Perangkapmu benar-benar mematikan!"

Itu tidak layak di sebut pujian atau rayuan, tapi lumayan bisa membuat Eunhyuk sedikit senang. Ya, setidaknya Donghae mulai bisa berkata-kata manis dan tidak sekikuk dulu.

"Menikahlah denganku."

"Apa? Tapi—"

"Menikahlah denganku. Aku tidak akan memintanya untuk yang ketiga kali."

"Aku tidak bisa memasak, tidak suka bersih-bersih, jorok dan—"

"Kau bisa memuaskan aku di ranjang."

Oh, ya Tuhan. Itu adalah lamaran yang paling tidak sopan. Bagaimana bisa Donghae melamar Eunhyuk dengan sebagian kalimat vulgar seperti itu? Sejak kapan Donghae tertular Eunhyuk? Sepertinya, mereka mulai menulari sifat satu sama lain.

"Aku serius, aku ingin hidup bersamamu. Kita banyak kekurangan, itu sebabnya kita harus bersama."

"Kenapa?"

"Karena kita akan saling melengkapi dan menutupi kekurangan kita."

"Itu manis."

"Well, aku berlatih dengan Yunho."

"Apa?"

Kau dan aku memiliki jalan takdir yang unik, kita menjadi satu dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya...

Tapi satu yang pasti, kau dan aku diciptakan untuk saling melengkapi...

.

.


EPILOG

"Donghae—ngh! Ah, lepas. Sudah hampir pagi, kita harus—ngh!"

Sulit bagi Eunhyuk untuk bicara dengan benar, Donghae terus saja menusuk titik sensitifnya. Serius! Hari sudah mau pagi dan Eunhyuk harus datang ke perusahaan. Semenjak ayahnya meninggal, Eunhyuk dilimpahi banyak tanggung jawab sebagai pewaris tunggal perusahaan dan harta-harta ayahnya yang lain.

"Sebentar, sayang. Ugh—kau menjepitku."

Begitulah, entah sejak kapan Donghae jadi suka bicara vulgar ketika mereka bercinta. Mungkin Eunhyuk harus menyalahkan dirinya sendiri, tapi sudahlah lupakan saja. Eunhyuk justru suka mendengar Donghae begitu, terdengar menggairahkan dan sexy.

Yunho calling...

"Yunho, Jung Yunho menelepon!"

Donghae menggeram, ia mengangkat ponselnya sambil terus menggerakan pinggulnya. Membuat Eunhyuk meringis, lalu merintih karena titik terdalamnya terus-terusan dikerjai Donghae.

"Apa? Mau apa dini hari begini?"

"Ada mayat ditemukan di toilet bandara. Segera datang ke TKP!"

"Oh, Shit!"

Tanpa memikirkan Eunhyuk yang sedang menikmati gerakannya, Donghae melepaskan tautan mereka lalu berlari ke arah lemari dan memakai pakaian.

"Mau kemana?"

"Ada kasus."

"Brengsek!"

"Aku mencintaimu, sayang."

.

.


Untuk Donghae,

Aku tahu hari ini akan datang, aku juga tahu hari dimana aku akan menulis surat ini padamu akan datang. Aku tidak banyak bicara soal cinta padamu, tapi aku yakin kau sudah tahu bahwa aku hanya mencintai dirimu seorang dengan sepenuh hati...

Aku mengalami satu kejadian, dimana aku ingin melindungi orang itu meskipun harus mati. Aku tidak menyesal melakukan hal itu, karena aku tahu dia yang kuselamatkan pasti akan mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.

Saat kau melihat ini, aku pasti sudah tiada. Aku harap, kau tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun. Jagalah hatimu tetap bersih, tanpa dendam sama sekali. Jangan menaruh dendam, karena hal itu hanya akan membuatmu menjadi monster. Membuatmu menjadi manusia yang rendah.

Hiduplah dengan bahagia meski tanpa aku, tersenyumlah karena itu akan membuatmu bahagia...

Aku mencintaimu...

.

.

END


FINALLY END ! YEAAAAAAAAAAAAAAAAYYYYY hahahah lega banget duh bisa kelar ini fanfic.

Kenapa nih gak ada NC?

Jawabannya, krn di tiap chapter saya sudah menyisipkan NC, di chapter ini saya sisipkan sedikit aja yah ^^

Pertama, maaf kl endingnya tidak sesuai harapan, karena ya balik lagi saya baru nulis genre crime begini...saya bukan psikopat beneran, polisi, atau detektif, jadi ya cuma segini kemampuan saya. hehehehe... saya gak ada bosen-bosennya untuk meminta maaf atas kekurangan di sana-sininya...saya masih terus belajar, jadi mohon maklum kalau banyak kekurangan dalam menulis ^^ jangan pernah membanding2kan dengan kasus di dunia nyata ya, krn ini karangan saya doang hahahah jadi ya jangan di bandingkan dengan kasus beneran...namanya juga fanfic, bisa2nya author aja hehehehe

Kedua, terimakasih sama semua yang selalu support saya, maaf gak bisa balesin review satu2 atau nulis thanks to huhu kebanyakan T_T dan waktunya mepet dooohhh...ini saya ngpost ini msh di kantor loh belum pulang hahahah bela-belain pulang malem buat ini u_u

Ketiga, maaf krn blm bisa nerima request ff, bukannya gak mau tapi saya gak punya banyak waktu krn hrs kerja juga ^^ maaf yaaaaaa~~~ maaf banget banget

Nah, segitu aja...semoga chapter ini memuaskan ya...saya nulisnya sampe mikir keras banget lol...asli lah capek nulis fanfic dengan genre crime begini...harus research kemana2 dan hrs bener2 mendetail hahahah capeeeeeeeekkk hihi

Silahkan curhat di kota review, bagian mana yg kalian suka? *berasa dora* lol saya suka banget baca review2 kalian yg unik dan manis bikin cengar cengir hahahahah uuuhhhhh lovely banget sih kalian sayang sama semuanya deh ^^

Haruskah saya bikin chapter special untuk fanfic ini? tanpa kasus dan hanya momen mereka aja? hahahahah

Oke, sampai ketemu di fanfic My Innocent Looked Boy hahahahah

Last, Review pls? ^^

THANKYOU FOR ALL YOUR SUPPORT AND LOVE ^^ LOVE YOU WITH ALL OF MY HEART GUYS ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee