Disclaimare

Gintama punya Sorachi sensei

Warning

A/B/O, OOC, Typo, BL, bahasa kasar, dan banya kekurangan lainnya

Pairing

Hijikata x Gintoki

***mulai***

Di dalam sebuah kamar, dengan pencahayaan yang malu-malu, seorang bocah dan pria dewasa bergumul di atas tempat tidur. Sang bocah mengerang kesakitan, berusaha melepaskan diri dari kurungan sang pria dewasa. Namun apalah daya, bocah yang disandingkan dengan pria dewasa, sama saja menyamakan singa dan kelinci.

***IchigoStrawberry-nyan***

"Gin-san...Gin-san...!" suara panggilan dari seseorang yang dikenalnya, membuat Gintoki terbangun dari tidurnya. Kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan warna crimson yang cantik. Ia mengulet. Beberapa kertas terjatuh dari meja, saat ia terbangun. Tangannya mengucek mata. Orang yang memanggilnya masih menunggu.

Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, mencari jam. Rupanya jam masih menunjuk angka sepuluh, matanya terbelalak lebar. Ia langsung bangkit. Meja pun turut bergetar saat ia bangkit dari duduknya.

"Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi Patsuan! Kau tahu hari ini kita akan menyelediki ke tempat anak manja itu!" omel Gintoki tapi tidak berlanjut lagi, karena bukan waktunya untuk marah. Jadi ia melangkah ke kamar mandi, yang terletak di ruangan tempatnya bekerja.

Pintu kamar mandi dibuka dengan paksa. Keran diputar dan ketika air mengalir ia langsung membersihkan wajahnya yang kumal, karena ia baru tidur jam lima pagi. Semalaman ia begadang untuk menyelesaikan laporan tentang kasus kematian Omega wanita.

Kasus rumit yang belum ketemu jawabannya. Selain itu, ia juga sekalian mencari informasi melalui laptop berkulit hitam, yang masih menyala di atas meja kerjanya. Bisa diliat juga, dua cangkir kopi yang telah kosong, di atas meja berkaki pendek yang terbuat dari kayu jati, sebagai teman begadang.

Seharusnya kemarin ia libur. Tapi karena ada lagi Omega yang tewas, mau tidak mau ia tidak jadi liburan dan malah menyelediki kasus tersebut. Lalu akhirnya... ia berakhir di ruang kerja di kantor kepolisian Shinsengumi, hingga pagi. Dan pada saat jarum jam menunjuk angka lima, ia tertidur, baru bangun jam sepuluh.

Padahal hari ini ia harus pergi ke tempat anak manja, alias ke tempat Yakuza ternama Kihetai, yang dipimpin oleh yang dijuluki anak manja, julukan dari Gintoki.

Laporan Yamazaki salah satu anggota Shinsengumi yang bertugas mencari informasi mengatakan, Omega yang tewas dimutilasi, potongan tubuhnya dijual di pasar gelap.

Lalu hubungannya dengan Kihetai adalah Yakuza ini memiliki bisnis di pasar illegal, kemungkinan ia tahu kemana distribusi potongan tubuh Omega yang tewas.

Jika sudah tahu, bisa dijadikan petunjuk siapa penjual organ tubuh itu, apakah termasuk si pembunuh? ataukah orang yang berbeda?

Jika orang yang berbeda, setidaknya si penjual tahu darimana organ itu didapatkan.

"Maaf Gin-san, komandan bilang, hari ini Gin-san bertugas menjaga Shogun," jawab seorang laki-laki berkacamata yang membangunkan Gintoki tadi.

Laki-laki itu adalah Shimura Shinpachi, bawahannya Gintoki di divisi yang sama. Namun Gintoki selalu memanggilnya Patsuan. Terlihat sejak masuk ia masih berdiri di depan pintu.

"Yang mengatakan itu, Komandan atau Wakil Komandan, Patsuan?" tanya Gintoki yang telah selesai mencuci mukanya dan langsung menuju gantungan baju, yang terletak di sisi kiri meja kerja.

"Ko...komandan yang bi...bilang," jawab Shinpachi yang mendadak bicara gagap. Hal ini karena Gintoki seenaknya melepas kemeja putih lamanya dan diganti dengan yang baru. Membuat tubuh bagian atasnya, terekspos dengan jelas di mata Shinpachi.

Tubuh putih mulus, dengan lengan kekar. Kotak-kotak di daerah perut yang membuat Gintoki bertambah seksi. Tonjolan dibagian dada yang seakan minta diservice. Tentu saja membuat Shinpachi yang seorang Beta, menjadi gagap dengan wajah memerah.

Padahal sudah cukup lama Shinpachi bekerja dibawah pimpinan Gintoki. Pemuda yang kadang dijuluki cherry boy itu, sudah sering diperlihatkan, Gintoki yang membuka baju di depan orang. Tapi tetap saja Shinpachi tidak bisa menahan degup jantungnya, wajah merahnya dan bicara yang gagap.

"Kenapa kau mendadak gagap? Jangan-jangan kau bohong, yang mengatakan itu sebenarnya si pecinta mayones itu kan?!" ungkap Gintoki tidak percaya dengan kata-kata Shinpachi.

"Gin-san aku bicara jujur, hari ini Shogun ingin jalan-jalan, jadi kau diminta Komandan untuk menjaganya," balas Shinpachi yang sudah kembali normal karena kemeja Gintoki sudah terpasang, dan kini pimpinannya sedang pakai rompi.

"Baiklah, katakan pada Kondo aku sibuk, hari ini aku mau ke tempat anak manja itu. Kalau mau, Shogun disuruh jalan-jalan ke rumah anak manja saja bersama denganku!"

Shinpachi tampak sweatdrop mendengarnya. Bisa-bisanya Gintoki mengajak pemimpin Edo, ke rumah Yakuza.

"Jangan macam-macam Gin-san. Itu sama saja kau menaruh ular dikandang elang. Lagipula yang akan menyelediki ke tempat Takasugi adalah wakil komandan."

"Kalau begitu aku semakin punya alasan kuat untuk pergi, ke rumah si anak manja. Kau tahu sendiri, ketika mereka bertemu darah pasti ada dimana-mana."

Wajah Shinpachi mendadak horor dan menyetujui perkataan Gintoki. Sejujurnya Shinpachi juga punya firasat buruk, saat mendengar wakil komandan pergi ke markasnya Takasugi alias si anak manja.

Tapi ia diberi pesan, Gintoki tidak boleh mengurus kasus Omega ini lagi. Untuk itulah Shinpachi harus menyakinkan Gintoki agar tidak pergi ke markas Yakuza itu.

"Patsuan sudah berapa lama kau bekerja denganku?" tanya Gintoki tiba-tiba yang sudah selesai memakai jaket Shinsengumi dan bersiap akan pergi.

"Tiga empat tahun kalau tidak salah," jawab Shinpachi dengan kening berkerut heran, karena pertanyaan yang aneh itu.

"Kalau begitu kau tahu kan bagaimana aku. Biarpun dilarang oleh Kondo ataupun Hijikata, aku akan tetap menyelesaikan kasus ini. Lagipula kau juga tahu kan, aku kuat dan aku akan baik-baik saja."

Setelah itu Gintoki langsung berlalu, meninggalkan Shinpachi sendirian sambil menghela nafas. Habis ini ia harus bersiap kena omel Kondo dan Hijikata.

***IchigoStrawberry-nyan***

Mobil mewah melintas di jalanan Edo. Di belakang mobil itu banyak mobil hitam mengikuti dari belakang. Jalanan yang ramai sepi mendadak, karena kedatangan mobil tersebut. Hal ini karena di dalamnya ada seorang pemimpin dengan rambut chonmage-nya, duduk bersebelahan dengan Gintoki.

"Jadi kau tidak bisa ikut jalan-jalan denganku?" tanya sang pemimpin.

"Maaf Shige-chan, aku sedang banyak kerjaan. Mungkin lain waktu aku pasti akan menemanimu," jawab Gintoki yang dengan santainya berbicara dengan sang pemimpin memakai nama asli.

Biar bagaimana pun Gintoki adalah anak dari pasukan pembunuh yang selalu menjaga Shogun sang pemimpin Edo. Jadi Gintoki sudah dekat dengan Shogun, sampai memanggilnya dengan nama asli.

"Ya tak masalah, tapi kau harus hati-hati Gintoki, kasus yang kau tangani menyangkut keselamatanmu juga," nasihat Shogun.

"Kau tenang saja, aku baik-baik saja. Kau tahu kan kemampuanku?"

"Aku tahu karena kau sudah berkali-kali kau melindungiku, dari orang-orang yang selalu mengincarku. Tapi sebagai teman aku juga mengkhawatirkanmu. Aku rasa apa yang dilakukan Kondo dan Hijikata juga karena mereka mengkhawatirkanmu."

"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang yang merendahkan Omega, berkeliaran di luar sana. Omega memang selalu direndahkan, karena biar bagaimana kasta Omega selalu di bawah. Tapi kali ini sudah keterlaluan, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Mendengar hal itu sang pemimpin langsung menunduk. Tangannya mengepal erat diatas pahanya. Bibirnya digigit dengan keras. Gintoki hanya bisa menghela nafas melihat kerapuhan dari pemimpin Edo.

"Maafkan aku, aku tak bisa berbuat apapun mengenai kasta Omega, Beta dan Alpha..."

"Kau bicara apa, sejak kau memimpin, Omega hidupnya sudah enak. Dulu Omega tidak boleh bekerja, hanya boleh menjadi budak. Bahkan kau telah menghapuskan perbudakan Omega. Meskipun Omega masih menjadi karyawan biasa dan belum boleh jadi pemimpin, penghapusan perbudakan Omega sudah lebih dari cukup."

"Tapi jika semua setara bukankah lebih baik."

"Jika kau menginginkan kesetaraan, aku bisa susah terus-terusan melindungimu. Sudahlah tak perlu dilanjutkan lagi!"

Setelah itu keduanya pun terdiam dalam keheningan. Sampai akhirnya mereka di depan rumah besar bergaya Edo.

***IchigoStrawberry-nyan***

Gintoki memijat keningnya, padahal sudah dewasa, tapi kelakuan seperti bocah. Shogun yang akhirnya ikut bersama Gintoki menuju kediaman Yakuza ternama di Edo, juga turut sweatdrop melihat keadaan kediaman orang yang mampu mendiamkan anak kecil yang menangis hanya dengan ditatap saja.

Bisa dibilang telah terjadi peperangan antara penyuka mayones dan penyuka yakult. Lalu berakhir Gintoki menjitak keduanya.

"Maafkan kami," jawab Hijikata dan Takasugi berbarengan. Terlihat kedua duduk bersimpuh di depan Gintoki yang berdiri, bagaikan seorang ibu yang sedang mengomeli anaknya, begitulah pikir Shogun.

"Mataku, tugasmu itu untuk mencari informasi Hijikata-kun, bukan berperang, dan kau juga anak manja, apa kau tak malu dengan anak buahmu, bertengkar masalah sepele!"

"Masalah sepele katamu? Dengar yah Gintoki, Hijikata lebih menyukai 'permainan' lembut, sebagai Alpha harusnya, dia 'bermain' kasar, seperti banci saja!"

"Apa maksudmu hah? Aku bukan orang yang suka melukai Gintoki, lagipula 'permainan' lembut itu lebih nikmat ketimbang yang kasar!"

"Heh? Kau tidak tahu memakai pippp dan pippp, asal kau tahu rasanya itu lebih nikmat ketimbang cara biasa!"

"Dengan cara lembut kau akan bisa bermain lama, daripada menggunakan pippp dan pippp, yang akan membuat Omegamu kesakitan, meskipun menggunakan pippp dan pippp juga nikmat, tapi Omegamu juga akan terluka. Perlakukan Omegamu seperti melakukan barang favoritmu. Lakukan dengan hati-hati. Sesekali boleh, tapi jangan sering-sering menggunakan pippp dan..."

Bletak! Bletak!

"Hijikata-kun kalau kau sekali lagi berkata pippp dan pippp, kupastikan selama seminggu tidak ada 'jatah' untukmu dan Takasugi-kun, jika kau segitu inginnya memakai pippp dan pippp, sini 'barang' favoritmu kuberikan pippp dan pippp!" ancam Gintoki dan membuat kedua pria Alpha itu langsung mengunci mulutnya.

Sementara Shogun hanya bisa bersweatdrop ria. Meskipun dalam hati dia dapat pelajaran mana permainan yang lebih lama tapi nikmat dan mana permainan yang cepat tapi kenikmatannya tiada tara eh?

Shogun pun mengenyahkan pemikirannya yang mendadak mesum. Lalu setelah itu mereka pun duduk di atas bantal warna biru yang telah disediakan di ruangan tamu. Takasugi terlihat menyalakan kiserunya dengan dibantu oleh tangan kanannya Bansai. Lalu seorang pelayan dengan pakaian kimono masuk memberikan hidangan teh pada para tamu Takasugi.

"Kenapa kau ada disini Gintoki dan kenapa pula kau bawa-bawa Shogun?" tanya Hijikata membuka pembicaraan pada Gintoki yang duduk di samping kanannya.

"Aku datang untuk membicarakan kasus Omega, sedangkan Shogun, aku sudah bilang untuk pulang saja, tapi dia bilang, dia juga ada keperluan dengan anak manja," jawab Gintoki.

"Siapa yang kau bilang anak manja Gintoki? Ah sudahlah, kau sudah lama tidak berkunjung, bagaimana kalau kau pergi ke dapur buatkan masakan untukku," pinta Takasugi tiba-tiba pada Gintoki yang duduk di samping kirinya.

Terlihat mereka berempat duduk membentuk huruf L. Takasugi duduk di sisi horizontalnya di bawah foto-foto para pempin Kihetai. Gintoki duduk di sudutnya. Sedangkan Hijikata di sisi vertikalnya di sebelah Gintoki. Kemudian disusul oleh Shogun disebelah Hijikata.

"Kenapa aku harus memasak untukmu, kau bukan Alpha-ku?" tanya Gintoki heran. Hijikata tersenyum mendengarnya. Sedangkan Takasugi mendengus mendengarnya.

"Itu benar masakan Gintoki hanya untukku!"

"Kau diam saja mayones. Gintoki , jika kau menginginkan informasi dariku, masakan makanan yang enak untukku!"

"Cih, baiklah," jawab Gintoki yang akhirnya dengan terpaksa ia menuruti permintaan Takasugi. Lalu menggeser pintu dan setelah terbuka ia pun segera pergi ke dapur. Jadilah sekarang hanya ada Shogun, Takasugi dan Hijikata.

"Sekarang dia sudah pergi, kau ingin membicarakan tentang aku yang masih memperbudak banyak Omega kan, Shogun-sama?" tanya Takasugi dengan wajah mengesalkan seperti biasa.

"Kau sudah tahu aku melarang setiap perbudakan Omega dan kau masih melanggarnya. Jika kau terus seperti ini, kupastikan kau tidak bisa lagi menginjak Edo. Lakukan itu di negara lain, bukan di Edo!" Takasugi menaikan sudut bibirnya saat mendengar hal itu.

"Kau cukup berani sebagai pemimpin, tapi ketahuilah Shogun-sama, kebijakanmu hanya akan memunculkan pembunuh dan pemerkosa Omega yang malang," ucap Takasugi seraya menghisap Kiserunya.

"Yang kulakukan tidak salah, aku hanya mempertahankan sistem kasta yang sudah ada sejak ribuan tahun lamanya. Tapi kau dengan entengnya merusak sistem tersebut, ketahuilah Shogun-sama yang kau lakukan memang bagus, tapi belum tentu benar di mata banyak orang!" tambah Takasugi. Terlihat asap keluar dari Kiserunya, membuat ruangan dipenuhi asap.

"Apakah pemberontakan para beta dan pembunuhan Omega, karena ulahmu?" tebak Shogun.

Takasugi tertawa sebentar dan kembali berbicara.

"Wah, wah, jangan sembarangan bicara Shogun-sama. Kau ini pemimpin, tapi seenaknya saja menuduh orang."

"Tenang saja Shogun-sama, aku bisa menjamin Yakult ini bersih, meskipun aku tidak suka dia masih menyukai Gintoki," kali ini Hijikata angkat bicara, sambil menyalakan mayoboronya, lalu menghisap rokok favoritnya itu.

"Heh? Telinga anjing pemerintah memang tajam yah. Tapi kuucapkan terima kasih, karena kau telah mempercayaiku," ungkap Takasugi sakartis pada Hijikata.

"Tidak juga, kalau aku salah, aku tinggal memenggal kepalamu, sampah Yakuza," balas Hijikata.

"Aku juga tidak salah Takasugi. Aku hanya ingin semua rakyatku bisa memiliki kebebasan dan setara. Lagipula aku ingin melepaskan besi yang ada dikaki sahabat baikku dan aku tidak akan menyerah!" ungkap Shogun menatap tajam pada Takasugi.

Pria dengan rambut yang menutupi sebelah matanya terdiam sejenak lalu angkat bicara lagi.

"Kalau begitu kau harus siap menghadapi perang. Karena aku menentang kebijakanmu Shogun-sama."

Sementara itu mereka tak sadar kalau Gintoki mendengarnya sambil berdiri. Ia mengeratkan celananya, sampai celananya terangkat naik sedikit dan kau akan melihat gelang hitam dari besi melingkar dikakinya. Pertanda kau adalah budak seseorang.

***IchigoStrawberry-nyan***

Hari ini adalah hari yang melelahkan. Setelah kunjungan ke kediaman Yakuza Kihetai, mengantar Shogun, sekarang Hijikata harus membuat laporan. Tadinya Gintoki ingin membantu. Tapi Hijikata langsung melarangnya. Kali ini dibarengi oleh tatapan Alpha, sehingga mau tak mau Gintoki pun menurut.

Soulmatenya itu memang tidak ada matinya. Jika Gintoki lembur lagi, tidak akan baik untuk kesehatannya. Apalagi kemarin Gintoki tidak jadi liburan karena ada kasus lagi. Apa Gintoki tidak tahu Hijikata selalu mengkhawatirkannya? Tapi Gintoki selalu saja keras kepala. Membuat kepalanya tambah pusing saja.

Malam ini ia sengaja membuka ruangan kerjanya. Sehingga cahaya bulan akan terlihat sangat jelas.

"Tadi ada kejadian apa?" tanya seorang pemuda dengan penutup mata. Ia muncul diantara tumpukan laporan di belakang Hijikata duduk. Membuat sang wakil komandan harus menengok ke belakang.

"Sejak kapan kau ada disana?" tanya balik Hijikata.

"Jawab saja pertanyaanku. Kenapa mendadak Danna jadi pendiam dan penurut?"

"Aku baru saja 'memerintahnya' untuk berhenti melakukan banyak aktivitas."

"Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Jika Danna 'diperintah', biasanya dia akan menggerutu dan meminta Patsuan membawakan banyak parfait, tapi tadi dia sama seperti Omega lainnya."

"Aku tidak tahu. Takasugi hanya bilang organ-organ Omega yang tewas, dibeli Amanto luar negeri, jadi sepertinya kita tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun jika pembelinya adalah Amanto. Selain itu pembunuhnya mengirim organ ke pasar ilegal, memakai paket dengan nama samaran. Yah mungkin aku akan meminta Yamazaki untuk mencari tahu, kantor yang mengirim paket berupa organ Omega ke pasar ilegal," terang Hijikata.

"Itu juga bukan jawaban yang kuinginkan Hijikata-kun."

Hijikata menghela nafas sebentar dan akhirnya ia pun bicara lagi.

"Yah mungkin maksudmu adalah apa yang dibicarakan Takasugi dengan Shogun yang didengar oleh Gintoki."

"Hoh, dan kau akan diam saja, mereka akan perang?"

"Aku tidak peduli. Aku tidak memihak manapun. Tapi jika membuat Gintoki terluka, pedangku sudah siap untuk memenggal seseorang, tak peduli dia adalah Takasugi ataupun Shogun!"

Setelah mendengar itu pria dengan penutup mata, alias Okita Shougo kapten divisi yang pangkatnya sama dengan Gintoki tersenyum, lalu kembali tertidur. Ia sudah puas mendapati jawaban dari Wakil Komandannya.

***TBC***