ABOUT US

CHAP 2

Naruto : Masashi Kishimoto

Blood of Judgement & Blood of Agreement : Taeko Tonami

OOC, typo, shounen ai, NaruSasu

.

.

Konoha sepuluh tahun kemudian…

"NARUTO!"

Banyak hal yang mungkin telah berubah. Tapi janji itu pasti tetap sama.

orang yang dipanggil Naruto itu akhirnya menghentikan langkahnya. Dengan ringan ia menoleh dan memandang ke arah gadis yang susah payah menjejeri langkahnya.

:"Masih mau menghentikanku, Ayame?"

Nada suara itu tenang meski cengiran lebarnya turut terpasang di wajah berhias tiga garis di pipi sang pemuda.

Ayame berusaha keras menormalkan napasnya sebelum ia mulai bicara, "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju dengan keputusanmu itu! Buat apa kau susah-susah ke istana dan menjadi ksatria? Memangnya disini tidak ada pekerjaan lain, hah?"

Naruto kali ini menghela napas berat. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada gadis ini kalau keputusannya sudah tidak bisa diganggu lagi. Perlahan tangannya terulur untuk mengacak rambut Ayame pelan, "sebenarnya aku senang bekerja di tempatmu. Apalagi aku bisa makan ramen gratis setiap hari."

Naruto terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri. Memang ramen adalah salah satu hal yang bisa membuatnya merasa bahagia. Dan ia benar-benar beruntung bisa merasakan enaknya Ramen Ichiraku setiap hari. Gratis pula. Yah tidak sepenuhnya gratis, sih. Dia juga bekerja di restoran itu sebagai pelayan. Sedangkan gadis ini adalah anak dari Teuchi, pemilik Ichiraku.

Ayame semakin cemberut, namun gadis itu belum menyerah. Dicekalnya tangan tan yang berada di atas kepalanya kuat-kuat, "apa kau tetap akan pergi? Apa kau masih ingin memenuhi janji bodohmu itu?"

"Ini bukan sekedar janji bodoh. Ini janji yang harus aku tepati."

Dengan itu, Naruto melepaskan tangannya dari genggaman Ayame. Berbalik dan kemudian kembali melangkah sambil sesekali membenarkan letak pedang dipunggungnya.

"DASAR NARUTO BODOH! SEMOGA DI ISTANA KAU BERTEMU DENGAN PENYIHIR! LALU KAU BERUBAH JADI KODOK!"
naruto tersenyum geli mendengar teriakan Ayame. Tapi ia tetap berjalan, lalu pemuda itu pun menghilang di persimpangan setelah melambai sekilas pada Ayame yang kini terduduk lesu.

"Kau memang bodoh, Naruto."

.

.

Sungguh Naruto sebelumnya berpikir jika ia akan diseleksi secara ketat mengingat dia melamar sebagai ksatria di istana. Tapi kenyataan yang didapatinya sungguh berbeda. Ia bahkan dengan mudah bisa bertemu dengan sang Raja juga putrinya. Ini agak aneh memang. Tapi Naruto tidak mau memikirkan hal yang membuat kepalanya pusing. Jadi dia hanya menurut saja ketika salah seorang pengawal membawanya menemui sang Raja.

Mungkin 'dia' juga adalah satu hal yang tidak pernah berubah.

Naruto memberi hormat sebelum berlutut dihadapan Uchiha Sasuke.

"Jadi kau yang akan menjaga putriku?"
"Hah?"

Refleks Naruto mendongakkan kepalanya mendengan pertanyaan itu? Menjaga putri? Hei, dia ini mau menjadi ksatria! Bukannya pengasuh!

Nampaknya Sasuke menyadari ekspresi bingung Naruto, hingga ia pun menambahkan, "aku ingin kau menjaga putriku. Menjadi ksatrianya. Karena aku butuh seorang prajurit untuk menjaga putriku satu-satunya."

Buru-buru Naruto memperbaiki posisi berlututnya dan sekilas menoleh ke arah gadis berambut merah muda disamping Sasuke. Rambut merah mudanya nampak mencolok seperti warna bunga Sakura, tapi ekspresi itu…

Ekspresi yang mirip dengan sang ayah. Dingin. Dan sorot matanya ketika memandang Naruto seolah kosong.

"Dasar orang bodoh."

Lagi-lagi Naruto mendongak mendengar kata-kata pedas yang keluar dari bibir tipis sang Putri Konoha. Otomatis kening pemuda pirang itu berkerut menahan marah. Apa-apaan orang ini? jangan seenaknya mengai orang bodoh, dong! Kalau saja dia bukan putri pasti gadis sombong ini sudah dibalasnya.

Kali ini ia memilih untuk bersabar.

"Uzumaki Naruto."

"Ya, Yang Mulia?" sahut Naruto cepat ketika mendengar namanya dipanggil.

Bahkan suaramu juga masih sama.

"Sebagai seorang ksatria yang telah mempersembahkan kehormatan dan juga nyawamu, kuperintahkan kau menjaga Putri Sakura."

.

.

Ini benar-benar menyebalkan. Catat sekali lagi. MENYEBALKAN!

Bagaimana ceritanya seorang pengawal sepertinya disuruh beres-beres bahkan mencuci baju?

Putri ini benar-benar sudah tidak waras, bukankah di istana ini banyak ada pelayan? Kenapa harus dia yang pontang-panting kesana kemari membereskan kamar si putri manja ini?
"Sakura! Kenapa harus aku yang mencuci semua baju-baju ini?" protes yang entah sudah berapa kali dilayangkan Naruto pada Sakura yang kini sedang asyik bermain dengan seekor anak burung dipangkuannya.

Memang Sakura meninta pengawalnya itu memanggilnya dengan nama saja ketika mereka sedang berdua. Alasannya? Naruto tidak pernah tahu. Dan tidak mau tahu.

"Kalau mau cepat selesai, lebih baik mulutmu diam dan biarkan tanganmu yang bekerja."

JLEB

Kata-kata tajam sang Putri mulai muncul dan sukses membungkam Naruto dan keluhannya.

Setelah berkutat dengan urusan membereskan kamar Sakura, Naruto tanpa sungkan mendudukkan diri di samping gadis itu tanpa canggung. Beberapa bulan menjadi pengawal membuat mereka cukup akrab. Dengan cara mereka sendiri tentunya.

Naruto sungguh tidak melupakan tujuan awalnya datang ke istana ini, hanya saja segala tugas yang tidak masuk akal seperti sekarang ini membuatnya kesulitan untuk sekedar menyapa Uchiha Sasuke.

Sakura menoleh dan mendapati Naruto sedang meneguk jus jeruknya dengan brutal.

"Apa kau takut dengan darah ayahku?"

Seketika Naruto tersedak mendengar pernyaan aneh Sakura, "kau memang aneh. Pertanyaan macam apa itu?" ia mengelap sudut bibirnya yang terkena cairan jus sebelum melanjutkan. "Lagipula, kenapa aku harus takut dengan darah Yang Mulia Raja?"

"Kau tahu 'kan berapa batas umur rakyat Konoha?" pertanyaan yang lain terlontar sebelum Naruto sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.

Umur? Bagaimana ia bisa lupa hal itu?

"Dua puluh lima tahun," Helaan napas berat terdengar dari Naruto. "Kita, rakyat Konoha, hanya bisa bertahan sampai umur segitu. Ah, kecuali orang-orang kaya atau bangsawan yang bisa menambah umur dengan ramuan obat keabadian itu 'kan?"

"Dan apa kau tahu apa yang dilakukan ayahku untuk memperpanjang rakyat Konoha ini?"

Gelengan pelan sebagai jawaban.

"Ayahku membuat perjanjian…" jeda sejenak. Sedangkan tanpa sadar Naruto menahan napasnya, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari Sakura. "Menukar seluruh darahnya dengan bibit bunga panjang umur, membuatnya harus melukai seluruh tubuhnya setiap hari demi tanaman obat itu. Karena tanaman itu membutuh darah biru agar bisa tumbuh."

"Darah biru?" Tanya Naruto heran.

"Perjanjian itu telah mengubah darah ayahku menjadi biru. Membuatnya tersiksa karena rasa sakit yang harus setiap hari melukai tubuhnya!"

Kali ini suara putri itu sedikit meninggi. Emosinya seolah meluap ketika melihat bagaimana ayahnya harus menahan sakit demi memberikan tetes-tetes darahnya pada tanaman obat itu.

Naruto memijit keningnya perlahan. Sungguh pembicaraan yang tiba-tiba ini membuatnya bingung. Perjanjian? Darah biru? Memang ia tahu kalau tanaman obat itu ditanam di istana dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya karena jumlahnya yang terbatas. Tapi ia baru tahu kalau ternyata raja mereka berkorban sampai sejauh ini. membayangkan kalau Sasuke harus melukai tubuhnya sendiri membuatnya merasa begitu sesak.

Tanggung jawab sebagai pemimpin negara dan keinginan agar rakyatnya bisa hidup lebih lama. Itu hal yang membuat Sasuke memilih jalan ini.

"Yang Mulia mengikat perjanjian dengan siapa?" tanya Naruto sambil memandang dalam iris hijau Sakura.

Burung kecil dipangkuan Sakura berkicau ketika gadis itu bermain dengan sayap mungilnya. "Hebi. Bangsa penyihir yang semuanya berdarah biru. Mereka juga hidup dalam keabadian. Bangsa yang tidak bisa mati."

"Apa maksud-"

Sakura mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar Naruto diam, "Jangan banyak bertanya, Naruto. Setidaknya sekarang belum waktunya untuk bertanya."

"Hah, keadaan ini membuatku muak." Ucap Sakura lagi dengan nada dingin seperti biasa. Gadis itu kemudian beranjak dan meninggalkan Naruto yang tercenung.

Sebenarnya, apa lagi yang aku tidak tahu tentangmu, Sasuke?

To be continued

Chap dua sudah update ^^ terima kasih bagi yang sudah ripiu di chap awal. Kali ini 'sedikit' lebih panjang :D karena saya memang tidak begitu bisa membuat fic yang panjang gomen ne ^^