Bab kedua..kira-kira pikiran Sebastian bakal muncul karena apa ya? Happy Reading, guys!
Karena saia sudah *oke, baru* selesai U-A-N...saya bebas memakai komputer...*menari tarian gembira ala dua idiot India* karena nggak enak ma pembaca, ni crita dibuat panjaang...*maksudnya labeih panjang*
...Terima Kasih untuk semuanya yang sudah review...
Warning: agak OOC, hint of shonen-ai, pikiran Sebastian yang perverted, bahasa/ucapan, gaje...
Disclamer: Kuroshitsuji beserta alam, karakter, buku dan segala isinya bukan hak milik saya. Ini milik Yana Toboso... Di dalam sini, ada beberapa produk-produk yang juga bukan milik saya.
~Pose~
Du-a
Seperti hari-hari sebelumnya di kediaman Phantomhive. Pagi hari sekali, matahari sedang berusaha untuk mengembangkan cahayanya agar semua tumbuhan di dunia yang terkena sinarnya dapat berfotosintesis (O.o?). Namun pagi itu mendung dan udara dingin menusuk. Sebelum ada kebun yang rusak, suara pecahan teapot set yang muahal, dan adanya terror bom di dapur mansion yang membuat Queen Victoria bolak-balik nelpon Indonesia untuk ngirim tim gegana buat mengamankan kalo-kalo ada 'paket misterius' di kediaman Phantomhive tersayangnya itu yang setiap harinya pasti terjadi ledakan. Kepala Pelayan atau lebih kerennya disebut butler yang berbaju hitam lebat seakan habis dari pemakaman atau bajunya kejatuhan cat, atau dia hanya suka memakai baju hitam sedang sibuk di dapur. Namanya tak lain dari Sebastian Michaelis. Sambil menyiapkan custard pie untuk Bocchan tersayangnya itu dia bersenandung...
"Chal Chaiyya Chaiyya Chaiyya...Chal Chaiyya Chaiyya Chaiyya."
Rupanya Sebastian adalah salah satu penggemar Briptu Norman. Kayaknya Inggris jadi Indonesia-Holic gini... Sebastian memasukkan custard pie ke dalam oven dan mengatur waktunya 20 menit dalam 400°C. Sambil menuangkan sejumlah air panas ke dalam pot Redoute Rose yang menawan, Finni, Bard, dan Meyrin datang ke dapur dengan muka yang masih mengantuk, "Selamat pagi, Sebastian!" sapa mereka hampir bersamaan, "Selamat pagi, sudah kusiapkan teh melati untuk kalian. Omeletnya ada di meja, sudah dihangatkan. Setelah itu lakukan pekerjaan kalian!" Sebastian meskipun jarang entah mengapa sangat perhatian pada ketiga pelayan Phantomhive yang berbeda itu. "Yes, sir!" jawab mereka mulai bersemangat.
Setelah mengelap cangkir design yang sama dengan potnya, Sebastian mengambil scones dari oven satunya ditaruhnya di kereta dorong dari perak yang mengkilap dan akhirnya berjalan menuju kamar pribadi Earl Ciel Phantomhive.
"Bocchan, selamat pagi! Hari ini cerah sekali." Sapa Sebastian seraya membuka gorden kamar Ciel yang tertutup rapat. Jendela terbuka dan udara dingin masuk ke dalam ruangan yang gelap itu, Ciel terus berbaring dan bergelut pada selimutnnya. "Hn...lima menit lagi." Ciel menjawab dengan nada yang lemas.
"Jadwal anda sangat ketat hari ini. Apalagi Nona Elizabeth akan berkunjung hari ini." Protes Sebastian dengan nada ramah, namun Bocchannya hanya berpaling ke arahnya sambil memasang wajah kesal, lalu berbalik lagi, "Hn...trus apalagi?"
"Bocchan!", Kesabaran Sebastian sudah mulai melampaui batas, "Anda harus bangun sekarang...", Sebastian menyibak selimut Bocchannya, dan pikiran mesumnya kembali, "Waouw, lihat posturnya yang menawan itu."
"Sebastian..kenapa sih nyibak-nyibak selimut...lagi enak-enak tidur juga." Protes Ciel sambil terlentang di atas kasur besar tanpa selimut itu. Dan menatap butler-nya dengan tatapan benci.
"Yah, mau apalagi, Bocchan. Sudah sepantasnya saya.", Pikiran Sebastian mulai mengambil kekuasaannya lagi "Meskipun sayang juga harus ucapkan selamat tinggal kepada postur tubuhmu yang sedang 'pas' itu.", Sebastian kembali melanjutkan kalimatnya, "Mengatur jadwal anda dan bertanggung jawab agar anda selalu tepat waktu."
"Kenapa ada jeda gitu? Hhnn...", Ciel bangkit dari tempat tidur dengan kecepatan yang pasti membuat semua orang yang melihatnya mimisan, "Okelah, aku mau ke toilet."
"Baiklah, Bocchan." Sahut Sebastian sambil tersenyum. Namun saat Sebastian ingin menyiapkan teh untuk Ciel, terdengar bunyi yang amat sangat keras dari dalam kamar mandi.
BRUUUAAAKK! PRAAANNGGG! GGUUUUBRAAAK! (*voice effect-nya lagi lebay mode on)
"Bocchan! Apa yang terjadi? Apakah anda baik-baik saja?" tanya Sebastian dengan panik, masa' Bocchannya yang mungil nan imut itu kalau jatuh bunyinya kayak tim FBI menggeledah rumah teroris gitu? Jangan-jangan ada makhluk-makhluk jahat di kamar mandi? Ada yang enggak beres ma voice effect-nya ya? Tanpa peringatan Sebastian lari secepat kilat dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Uuh..siapa yang menaruh ember di sini sih? Enggak elit banget sih!" terlihat posisi Ciel yang basah kuyup sedang mengusap kepalanya yang sedikit terbentur. Baju tidur yang basah itu melekat di tubuh Ciel dan rambutnya yang basah menawan apalagi dengan muka merona yang dipasang di wajah muda itu menambah nilai seksi pada anak kecil yang sepertinya terpeleset sabun warna putih dengan ukiran Dase di atasnya.
"Wau...tidak percaya rencana yang dibuat oleh pikiranku berhasil juga!" Sebastian tersenyum. Ternyata selama ini dia yang mempersiapkan ember dan sabun itu.
"Tuh, kan? Lu sih, ga percaya gue bisa bikin Tuan Muda Ciel terlihat seksi dimata kita." Yang lebih aneh lagi, ternyata pikiran Sebastian yang mesum itu punya pikiran sendiri! O-Mai-Gat! Sebastian masih tersipu hebat dengan kejadian di kamar mandi sedang berbicara dengan pikiran mesumnya.
"Iya juga sih, mungkin besok-besok gue harus ngikutin apa kata lo ya?"
"Ya iyalah! So pasti!"
"Sebastian! Aku bilang tolong ambilkan aku baju baru!" sangking asiknya Sebastian berdiskusi dengan pikirannya, dia menghiraukan panggilan Tuan Muda Ciel yang mendekapkan tangannya. Seakan kedinginan.
"Oh?..Oh, ya. Namun Bocchan, anda sudah basah karena ember.", "Yang saya persiapkan.", "Mungkin sebaiknya anda mandi."
"Baiklah, tapi cepat! Ntar aku masuk angin."
"Yes, My Lord." Sebastian membungkuk sambil mengucapkan kata-kata primernya itu.
"Oh Yeah! Double Jackpot! Hari ini dapat dua poin. Mungkin sebaiknya aku beli kamera ya? Agar aku bisa mengabadikan posisi Bocchan yang amat sangat menggiurkan ini..khekhekhe..oke, pikiran! Kita akan bekerja sama!" Sahut Sebastian kembali dengan percakapannya, pikirannya langsung menyetujui, "Woke, Bos!"
"Sebastian! Hatchu! Jangan berdiri di sana dan tersenyum seperti Ha..hatchiu! Orang gila! Hatchiu! Cepat siapkan baju baru untukku! Hatchiu! Dan bak mandi panas!Hatchiu!"
Ciel mulai bersin-bersin. Tentu bersin yang dikeluarkan bersuara imut. Mungkin karena pengaruh ember berisi air dingin dan udara yang tidak ada mataharinya tubuh Bocchan yang lemah gampang terjangkit penyakit.
"Ooh, itu sudah saya persiapkan.", "Karena sebagai butler kelas atas mana mungkin saya akan mencelakakan Bocchan demi kesenangan sendiri dan tidak bertanggung jawab?", "Mengapa anda tidak berdiri dan melangkah ke dalam bak mandi, Bocchan?", Sebastian menunjuk ke bak mandi yang terbuat dari bahan porcelain terbaik. Yang anehnya, terisi air mandi panas untuk Ciel.
"Se..Sejak kapan? Hatchiu! Kalau melihat sih, aku bakal, WAA! Hatchiu!" Tanpa sadar, Ciel kembali terpeleset sabun dan sempat-sempatnya dia bersin.
BRUUUAAAKK! PRAAANNGGG! GGUUUUBRAAAK! (*voice effect-nya masih lebay mode on, kayaknya bakal perlu manggil Sebastian buat ngebenerin, nih. )
"Adududuh... Ni sabun kayak dendam banget sih ama gua!" tanpa sadar, Ciel menggunakan bahasa gaul..lupa nih ye, ama etika. Dengan membuka bajunya dia masuk ke dalam bak mandi yang telah dipersiapkan itu.
CPLUK! (*Aah, Asik! Voice effect-nya sudah dibenerin! Makasih, Sebastian! Cepet banget tapi ya?)
"Lho? Kayaknya aku cuma menaruh satu sabun. Kenapa jadi dua? Dan yang satunya warna merah dengan bau mawar! Bocchan kan hanya suka memakai sabun Dase dengan ekstrak vanili. Itu berarti, kesimpulannya adalah...ada orang di luar sana yang ingin melihat pose Bocchan yang seksi dan akhirnya menginginkan Bocchan untuk dirinya sendiri." Sebastian mengidentifikasi sabun yang baru saja terpeleset oleh Bocchannya itu.
"Kita punya saingan, Seb! Harus kita ajarin siapapun di luar sana kalau Bocchan punya kita!" pikiran Sebastian menyahut dengan nada kesal.
"Sebastian! Tolong sabunku dong!" Sahut Ciel beberapa saat kemudian, Sebastian mengambil sabun Dase dan memberikannya ke Ciel. Ciel menerimanya dengan senang lalu mengusapkan sabun itu ke seluruh badannya. Melihat adegan itu, Sebastian terkejut.
"Astaga! Bocchan bisa mandi sendiri?"
"Jangan ngikutin ucapan Ibu di buku 'Aku Bisa Mandi Sendiri'! Ya iyalah aku bisa mandi sendiri!" Sahut Ciel dengan nada jengkel, dia tahu terkadang Sebastian sering meremehkannya.
"Jadi Bocchan itu mandiri."
"Garing, ah. Tolong ambilkan baju buat ganti, Sebastian." Perintah Ciel dari bak mandinya.
"Mungkin sebaiknya saya ambilkan buku 'Aku Bisa Pakai Baju Sendiri', Bocchan?" Sebastian berkata dengan nada mengejek, seperti biasanya.
"Hem, mungkin aku harus nulis buku 'Aku Bisa Ngambil Baju Ganti Buat Tuan Mudaku dengan Cepat'?" Ciel bertanya balik ditambah dengan senyum terpaksa yang menutupi kemarahan di dalam diri Ciel.
"Baik, Bocchan. Saya akan segera kembali."
Mungkin mereka berdua tidak tahu, tapi di luar kamar mandi Ciel, ada sesosok bayangan yang tertawa senang. Lalu dia menghilang...misterius.
...O.o...
Ada saingan untuk mereka berdua... siapa ya?
Kira-kira ada yang bisa usul nickname buat pikirannya Sebastian? Apa aja boleh, yang namanya ampe gak jelas dan gak nyambung pokoknya usul deh! (maksa banget ni orang)
Kira2 posisi Ciel apa lagi yang bakal bikin Sebastian enggak tahan? Ada yang punya usul cerita enggak? Kalo ada, mohon review ya!
Terima Kasih...:3
Kalo Sebastian mau beli kamera, kira-kira kamera apa yang paling bagus?
a. Kamera Digital
b. Kamera Manual
c. Kamera Hape
d. Kamera buat Filem Hollywood yang super duper canggih
e. Beli Laptop sekalian biar fotonya bisa diedit.
DIA-LO-GUE.
