Dalam ruang kecil yang disinari oleh mentari yang terang dari jendela, terdapat dua orang yang sangat berbeda. Yang satu kecil, yang satu besar. Si besar sedang duduk di sebuah kursi di depan kecil yang sedang melakukan push-up. Yang mereka berdua—kecil dan besar tidak tahu, adalah orang ketiga yang memandangi si kecil sejak tadi. Sekitar...50 detik yang lalu
"Tiga ratus sembilan puluh enam." bocah kecil dengan baju oblong yang longgar dan celana pendek selutut tengah melakukan push-up di depan orang yang lebih besar, yah, berkeringat, terengah-engah, dan menghitung.
"Apa kau sudah capek, Phantomhive?" seru orang tersebut mengejek. Dia membenarkan kacamatanya.
"Tiga...tiga ratus sembilan puluh tujuh."
"Kalau kau capek tidak usah dipaksakan lho." Ejekan ataupun remeh-temehnya masih tidak dihiraukannya.
"Tiga ratus sembilan puluh delapan."
"Aku bertanya, Phantomhive."
"Diam, brengsek! Tiga ratus sembilan puluh sembilan." Teriak bocah berambut biru kelabu dengan amarah yang tertahan.
"Anu, permisi." Seorang pemuda yang berambut hitam legam memasuki ruang kecil itu. Dia memegang sebuah amplop berwarna coklat yang besar, dan
"Oh, Halo!" Si Besar membalikkan kepalanya untuk berhadapan dengan pemuda tersebut.
"Empat ratus! Ha, berapa nilaiku, Spears?" bocah kecil tadi menghela napas panjang dan berbaring di tempatnya, lalu menghadap ke arah si Besar.
"Lima puluh delapan." Kata si Besar seraya melihat stopwatch yang dari tadi ia pegang.
"Menit?" tanya Ciel, "Detik. Hai, kau siapa?" sahut William, ia berbalik lagi ke hadapan pemuda berambut hitam tadi.
"Anu...namaku Sebastian." serunya. "Sebastian..." William menaikkan salah satu alisnya.
"Michaelis. Aku mendapatkan beasiswa untuk masuk di klub softball?" sahut Sebastian dengan sopan sambil menggaruk kepalanya. (*entah grogi atau gatal karena enggak keramas selama 100 tahun...humor garing ah, lanjuut).
"Ooh..anak yang itu. Perkenalkan, namaku William Spears. Kapten Softball SMA Victoria. Ini Ciel Phantomhive. Dia sama denganmu, dia beasiswa softball. Tapi juga beasiswa akademik." William bangkit dari bangkunya dan menjabat tangan Sebastian, lalu memberi sinyal pada Ciel untuk bangkit dan mendekat sambil memperkenalkannya.
"Salam kenal." Sapa Ciel sambil pasang muka innocent dan senyum yang ramah, dan menjabat tangan Sebastian. Sebastian merona hebat, pesona Ciel yang baru dikenalnya amat sangat besar. Melihat itu, William menaikkan kacamatanya dan menepuk pundak Ciel,
"Phantomhive, kau kasih tahu peraturan di sini. Ajak dia membersihkan gudang bersamamu, oke?"
"Apa?" teriak Ciel tak percaya,
"Nah, selamat bersenang-senang! Aku mau mencari Sutcliff. Dari tadi aku menunggu donatku."
"Jadi, Michaelis. Kau pindahan dari mana?" tanya Ciel dengan muka innocentnya. Sebastian hanya tersipu, menyadari bahwa mereka hanya berdua di dalam ruangan ini.
"Sekolah Asrama EG. Yang di kota sebelah."
"Hoo..orang berada. Kenapa kau pindah ke sini?"
"Aku suka softball. Kalau kau, Phantomhive?"
"Yah, Pelatih Ash mengajariku bermain dan dari dulu aku suka baca buku di perpus kota. Kami bukan orang yang berada, uang hanya untuk biaya keluarga."
"Ooh..lalu..yang tadi?"
"Push-up itu? Aku mau coba rekor. Spears bisa 400 push-up dalam waktu 1 menit 2 detik." Lanjut Ciel dengan mengancungkan jari. Sebastian tersenyum, lalu senyumnya berubah menjadi meringis
"Tapi, saat kau melakukan push-up tadi, kau terlihat amat sangat seksi." Sebastian melangkah maju sementara Ciel melangkah mundur, "Eh? Maksudmu?"
"Aku...suka sekali. Bocah mungil, dengan mulut kasar, keras kepala, bertenaga sepertimu..." Sebastian mengiringi Ciel sampai ia mencapai tembok ruangan yang sempit itu, Ciel gemetaran tak terkendali. Sebastian menempelkan tubuhnya ke tubuh Ciel yang mungil dan menyenderkan kepalanya ke bahu Ciel,
"Eh..Michaelis..."
"Aku ingin membuatmu berteriak, memanggil namaku, Phantomhive..", Sebastian berbisik ke telinga Ciel, membuat bocah yang lebih kecil itu merinding sekujur tubuh. Ciel meronta-ronta tapi tenaga tangan kurusnya itu takkan bisa melawan tubuh Sebastian yang kekar.
"Micha...Michaelis..jangan bercanda.."
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Ciel. Nah, apa jawabanmu?" Sebastian mulai mencium leher Ciel yang putih pucat dan merinding karena tidak terbiasa dengan sentuhan dari orang, apalagi cowok!
"Micha.." muka Ciel memerah, napasnya mulai tak terkendali.
"Panggil namaku..", pinta Sebastian kembali berbisik mesra di telinga bocah kecil dengan napas terengah-engah, muka merah padam dan bergetar. Namun, dibalik adegan mesra pasti selalu ada pengganggunya,
"Nama depanmu apa tadi?" tanya Ciel datar. Sebastian yang mendengar pertanyaan itu langsung cengo. Dengan muka jelas memperlihatkan dirinya jengkel, dia menjawab, "Sebastian. Jangan melenceng dari topik gini, dong!"
"Eh, Sori.", Ciel berkata dengan suara kecil. Sebastian yang sedikit bete langsung "menyerang" leher bocah yang tak bersalah itu, "Waa! Sebas-"
Dan semuanya menjadi gelap.
Maaf untuk update yang lama, aku berusaha semaksimal mungkin, ini bab dibikin sedikit panjang...
Dimulai dengan adegan yang mendebarkan (mungkin) Dan ternyata...ini merupakan hari panjang buat Sebastian.
~Poses~
Ti-ga
Warning: OOC—apalagi Sebastian, shonen-ai, pikiran Sebastian yang perverted, bahasa/ucapan, gaje...
Disclamer: Kuroshitsuji beserta alam, karakter, buku dan segala isinya bukan hak milik saya. Ini milik Yana Toboso...
NOTE: Terima Kasih untuk para review-ers...semoga cerita ini memuaskan kalian!
Kembali ke Kediaman Phantomhive yang megah, besar, luas, dan elit! Pagi yang cerah, menyambut seluruh warga di mansion. Sebastian yang jarang terlihat di kamar tidurnya sedang tidur dengan asiknya sambil memeluk bantal berbentuk kucing dan mukanya tersenyum dengan mesum.
"Aih, lagi asik-asiknya." pikiran Sebastian yang mesum menyambut pagi sebelum Sebastian yang asli, mereka berdua sedang berharap dapat kembali ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan Ciel, Ciel, dan Ciel. Sebastian membuka matanya, menggeliat dan duduk di depan tidurnya,
"Ooh..itu mimpi doang. Eh! Jam berapa ini?"
"Jam delapan pagi.", setelah perkataan itu, Muka Sebastian langsung pucat dan panik luar biasa, "Oh, tidak..."
Sebastian yang panik menelusuri ruangan pribadinya, merobek langsung baju tidurnya (namanya juga iblis panik), mengenakan pakaian butlernya, lalu langsung ambil langkah seribu ke dapur, namun berhenti di depan cermin untuk merapikan rambut tidurnya itu. Sesampainya di dapur, Sebastian merenungkan mimpinya tadi, dan kira-kira hari ini Tuan Mudanya akan memberikannya pose apa. Secara tiba-tiba, muncul suara dari arah pintu dapur,"Selamat pagi, Sebastian." Sapa Ciel yang berpakaian lengkap, dengan dasi—yang tumben banget bisa rapi, dan sepatu yang diikat dengan teliti. Sebastian langsung menoleh ke arah makhluk yang mucul di mimpinya itu,"Pagi, Bocchan. WAA! Siapa yang memakaikan anda baju?" sahut Sebastian terkejut setengah abad, Ciel yang merasa diremehkan itu langsung menyatakan perang mulut dengan butlernya yang tampan bin sempurna,
"Aku pakai sendiri, tolol! Jangan meremehkan gitu, dong."
Tak dipercaya, Sebastian langsung mengibarkan bendera putih dan duduk di pojokan dapur dengan aura kelam, "Kalau anda bisa sendiri, apa gunanya saya?"
Ciel langsung memamerkan senyum kemenangannya dan berkata dengan nada sarkastis, "Yah, aku belum bisa bikin teh." Karena ucapan tersebut, Sebastian—lagi-lagi panik.
"ASTAGA! Maafkan saya, Bocchan!" Teriakan iblis itu mengguncangkan seluruh mansion—bukan ungkapan, itu yang benar-benar terjadi. Ia mengambil teapot , lalu ia mengambil kaleng teh Earl Oolong, menuangkan dua sendok teh. Saat meraih kaleng untuk gula, ia baru sadar kalau gulanya habis. Dengan panik ia meraih bingkisan gula yang memang ia siapkan di laci paling atas, namun hilang keseimbangan sehingga pecah. Ciel yang melihat kelakukan butlernya yang biasanya kalem itu langsung heran.
Untungnya, pecahan plastik gula itu hanya seberapa. Akhirnya Sebastian berhasil memasukkan gula ke dalam teapot, menuangkan air panas yang sedikit tercecer di lantai dan menuangkan teh yang dibuat dengan susah payah itu ke dalam cangkir porselein terbaik yang bersinar lalu diserahkannya teh ke pada Tuan Mudanya yang duduk di atas kursi dan memperlihatkan muka bingung pada butlernya. Selesai Ciel menyeruput tehnya, ia menghadap Sebastian dan berkata, "Kau itu kenapa sih? Mungkin sebaiknya kau libur?" Sebastian langsung menengadah dari pekerjaannya yang sekarang, memotong bawang. Dengan mata berlinang air mata ia bergumam,
"Bukan begitu, Bocchan..."
Tanpa aba-aba, Pikiran Sebastian langsung menampar kepala Sebastian yang sepertinya sedang tidak sehat hari ini, menyadarkannya, "Woi! Beli kamera! Minta waktu ma Bocchan!"
"Euh..saya punya ide bagus, Bocchan. Bolehkah saya libur sehari?", Sebastian langsung bermuka cerah dan mengusulkan ide libur yang sudah ia rebut dari sang tuan. Melihat itu, Ciel yang heran itu tambah pusing kepala 360°. Ciel yang mengetahui bahwa butler bin sempurnanya itu sedang tidak beres, langsung ikut dalam ide yang dikemukakan oleh lelaki tampan berpakaian hitam di depannya itu,
"Baiklah. Tenangkan pikiranmu. Ajak mereka bertiga ke London, mereka juga butuh liburan.", Nada yang ia gunakan masih cenderung cuek dan datar. Sebastian dan Pikiran Sebastian memikirkan hal yang sama, "Mereka bertiga juga ikut?"
"Mengapa kau menjadi perhatian begini, Bocchan? Dan mengapa mereka bertiga juga ikut?" tanyanya dengan serius, dan Ciel langsung menghadap ke tembok dapur yang amat sangat bersih dan menjawab pertanyaan butlernya dengan nada dingin, "Banyak hal yang ingin kurenungkan."
"Baiklah."
"Pergi cepat sebelum aku berubah pikiran!"
"Terima kasih, Bocchan."
"Ya, ya." Sahut Ciel seraya meninggalkan dapur sambil berjalan dengan tegap ke arah ruang kerjanya.
"Bard, May, Fin!" Panggil Sebastian dengan suara yang keras. Entah bagaimana caranya, sekejap mereka bertiga muncul di depan dengan senyum yang lebar, "Ya, Sebastian?" tanya mereka secara bersamaan. Sebastian menghela napas lalu menjawab, "Kita akan bersantai di London, kemas hal yang diperlukan."
Sementara Finni dan Maylene berdansa dengan riangnya, Bard bertanya, "Apa Tuan Muda ikut?" Sebastian menggeleng, "Tidak. Dia harus merenungkan sesuatu. Cepat!" perintah sang iblis dan butler itu.
"Yes, sir!"
Perjalanan ke Kota London amat mengesankan bagi Finni dan Maylene yang melihat pemandangan, melelahkan bagi Bard yang harus mendengarkan celotehan kedua rekannya itu, memusingkan bagi Sebastian yang mencoba sabar sambil memijat keningnya dari tadi. Sementara Tanaka sendiri menjaga Tuan Muda mereka yang "harus merenungkan sesuatu" itu.
Sesampainya di Kota London tepatnya di daerah pertokoan, Finni dan Maylene tengah melihat kue kecil yang diselimuti oleh buttercream lembut yang berwarna-warni dan hiasan fondant yang membuat kue mungil itu terlihat imuut sekali...
"Aah..lihat Maylene! Lihat kue kecil yang lucu itu!" sahut Finnian menunjuk cupcake yang ada di tumpukan atas, dengan krim berwarna biru muda dan gula kristal berwarna merah muda. Maylene juga ikut berkomentar, "Wuaah! Kue ini lucu sekali! Apakah kau bisa membuat itu, Sebastian?" tanyanya sambil melihat Sebastian yang masih memijat keningnya, "Yah, mungkin saja."
Dan, pikiran Sebastian kembali aktif dan membisikkan ide yang tak bisa diabaikan, "Hey, Seb. Mending kita nyari toko kamera, deh."
Wanita berambut merah muda yang panjangnya sepinggang muncul dari pintu toko kue yang di amati oleh Finni dan Mayleye. "Selamat datang di Toko Kue Destrain! Apakah kau ingin mencoba kue buatan kami?"
"Benarkah?" tanya mereka berdua sambil melingkari wantia tadi. Wanita berambut merah muda itu mulai panik, namun secepat kilat ia menyambar kotak yang penuh dengan kue-kue mungil tadi, dan mempromosikannya. "Tentu saja! Ada coklat, vanila..."
Tentu saja, wanita tadi langsung diserbu oleh Finni dan Maylene. Sementara Bard dan Sebastian yang berada beberapa langkah dari toko kue tersebut melihat mereka dengan pandangan yang lelah.
"Bard, ini uang. Kalian makan siang dan beli apaan gitu. Aku akan pergi ke toko lain." Sahut Sebastian sambil memberikan Bard beberapa lembar puluhan Pound. Bard langsung menyalakan rokok barunya, dan merespon, "Oke." Saat Bard menghampiri dua rekannya yang tengah menyerbu wanita penjual kue tadi, Sebastian menelusuri satu-satu dari toko, berharap menemukan toko yang ia cari...
"Nah, kita-kira di mana? Itu dia!" Wajahnya langsung menjadi cerah saat ia menemukan papan tanda
'TOKO KAMERA APALAGEH. Menjual kamera berbentuk macam-macam dari yang bunyi "ckrek" sampe yang bunyi "DHUARR!" dari yang kecil ampe yang guede, dari yang jadul sampe yang canggih. Pokonya serba kamera! MASUK GA?'
Benar-benar papan tanda yang bersemangat, uda ada nama, jualnya apa aja, pake perbandingan sampai-sampai ada ancamannya juga. Sebastian melongo di depan pintu toko tersebut, pikirannya langsung menyadarkannya, "Ayo, Seb! Kita beli kamera!"
"Ohoi...selamat datang di tokoku! Aku menjual beberapa kamera, silahkan melihat-lihat!" Mereka disambut oleh perempuan yang berwajah bulat, bermata biru, dan rambutnya yang tebal diikat ke atas sambil tersenyum lebar seakan tak pernah ada yang masuk ke tokonya.
"Yang itu apa?" Tanya Sebastian sambil menunjuk ke arah laptop yang ditutupi oleh kotak kaca dan disinari oleh satu lampu diatas, rupanya sempurna sekali, memberi kesan istimewa bahwa ia beda dengan kamera-kamera lain yang dari tadi terlihat di toko kamera tersebut.
"Itu Komputer Tipe XnaitsabeSetaHID! Atau lebih pendeknya, XS-HID! Mari kutunjukkan!" Sahut perempuan tadi sambil menarik Sebastian ke arah komputer itu. Sebastian menjelaskan padanya, "Maaf, aku mencari kamera, bukan komputer." Namun, perempuan ini entah tidak bisa mendengar, atau tidak mau mendengar, atau memang telinganya tersumbat, ia tetap mempromosikan komputer istimewa itu,
"XS-HID juga memiliki webcam..bisa video ato motret. Dilengkapi dengan Speed Meter untuk mengatur kecepatan shutter, dan anda bisa langsung mengeditnya dengan XS-Movie yang tercanggih di abad ini! Ada voice effect yang lengkap! Pokoknya komputer ini canggih bener!" tanpa disangka, promosi itu mengambil perhatian Sebastian juga, ia menatap kagum akan benda yang unik dan super duper canggih di depannya itu. Untuk menutup rasa penasarannya, ia bertanya pada perempuan yang melihatnya dengan semangat dari tadi,
"Ee..berapa harganya?"
Perempuan tadi menghela napasnya dan menjawab,
"#^?%*." (Sensor bukan untuk benda yang "tidak pantas" namun karena MUAHAAALLL SEKALIII)
"APA? Aku tidak punya uang sebanyak itu!"
Perempuan tadi merenung sebentar dan akhirnya berkata, "Kalau mau, kita bisa barter."
"Barter?" tanya Sebastian heran, bukan barter itu apa, tapi..dengan apa?
"Apa yang paling kau hargai dan lebih penting dari jiwamu sendiri?"
"Tuan Mudaku..."
"Berikan dia padaku!" jawab perempuan itu dengan mata berbinar. Sebastian terkejut,
"Kau gila! Mana mungkin aku menyerahkan Tuan Muda padamu? Dia adalah objek foto yang paling penting!"
Dengan senyuman licik dari si perempuan, dia menuju meja kasir dan mengubrak-abrik beberapa kotak yang tersimpan rapi di lemari meja tersebut, "Kalau begitu, aku punya ini! Kamera canggih yang..dimana ya..Aha! Inilah jawaban untuk pertanyaanmu!" Katanya sambil menunjukkan kamera berukuran kecil yang sepertinya sudah usang, berwarna dominan putih dengan segitiga hitam di pojok atas dan satu tombol bulat.
"Ini? Kamera usang ini? Kamera ini.." tanya sang butler heran. Dia melihat orang dari luarnya saja siih...
"Diam, Kuro-sama! Kamera ini adalah model XiskeSutIleiCP! Kamera manual ini dapat menangkap gambar dengan magnificent! Pokoknya tinggal anda kembangkan jiwa memotret anda di dalam diri, lalu dengan memencet tombol lingkaran ini, anda akan dapat foto yang bagus! Tapi ingat, anda harus yakin bisa dapat foto yang bagus, nanti kamera XS-ICP ini akan menghasilkan gambar yang wuiish!" jelas si perempuan dengan promosi ala mbak sales. Tentu disinari dengan senter yang membuat kameranya sedikit dramatis—walaupun sebenarnya enggak.
Sebastian tertarik dengan penawaran itu. "Anda jual dengan harga berapa?" kembali
"Satu pocketwatch! Seperti yang anda punya, Kuro-sama." Sahut perempuan itu sambil menunjuk ke arah kantung jas Sebastian. "Pocketwatch? Yang ini? Ini pemberian Tuan Mudaku."
"Hei, kau kira aku tidak mengorbankan apapun untuk mendapatkan kamera ini? Aku bertaruh nyawa demi mendapatkan ini!" teriak perempuan itu, sambil menunjukkan kembali kamera usang tadi dengan bangga.
"Hanya saja.." Sebastian masih ragu, sambil mengusap lehernya lalu menggaruknya walaupun tidak gatal, namun perkataan dari perempuan berikut langsung memantapkan niatnya.
"Apakah kau ingin mengabadikan momenmu dengan Tuanmu atau hanya mendapatkan pocketwatch yang berapa sih? Palingan cuman 1000-an Pound.."
"Baiklah. Ini." Sebastian menyerahkan pocketwatch yang ia dapat dari Tuan Muda, dengan hati yang berkeping-keping,"Ni orang sinting apa ya? 1000 pound dibilang cuman. CUMAN!" pikiran Sebastian kembali beraksi, "Aah. Lu doang yang miskin."
"Kau ngomong sesuatu?" tanya perempuan tadi, Sebastian menggeleng.
"Terima Kasih, Kuro-sama. Kalau ada perlu apapun, apa saja. Kau tahu di mana aku. Dan ini kartuku, kalau kau tidak bisa menemukanku! Aku akan tutup toko! Sampai nanti, Kuro-sama!" Sambung perempuan tadi sambil menjabat tangan Sebastian dan menyerahkan kartu namanya yang hanya berisikan:
'TOKO KAMERA APALAGEH. Menjual kamera berbentuk macam-macam dari yang bunyi "ckrek" sampe yang bunyi "DHUARR!" dari yang kecil ampe yang guede, dari yang jadul sampe yang canggih. Pokonya serba kamera! MASUK GA?, London. Tak ada telepon, kalau pintu dikunci ketok aja.'
Setelah membaca kartu itu, Sebastian langsung keluar sambil membawa kamera yang baru ia beli itu.
"Terima Kasih." Perempuan itu melambaikan tangannya pada Sebastian lalu memasang tanda 'TUTUP' pada pintu toko.
"Sebastian!" Sahut trio dengan girang, Sebastian menoleh ke arah mereka. Dilihatnya karung belanjaan yang begitu banyak dan besar, serta tong yang mencurigakan di pikul Bard.
"Kau dari mana? Kami mencarimu sepanjang hari!" lanjut Finnian dengan mata yang bersinar, sebelum Sebastian menunjuk berbagai macam kantung belanjaan di tangan mereka bertiga, "Kalian belanja?"
"Kau tahu toko kue yang tadi? Kami beli empat lusin!" May menjelaskan, "Lalu Tanaka kami belikan cawan teh baru sekaligus kami bertiga! Sekarang kita bisa ngaso bareng, deh!" Finny menambahkan seraya memperlihatkan tiga buah cawan teh yang mengkilap dan berwarna-warni, "Lalu aku beli mesiu. Tong di rumah kan habis." Bard juga tidak mau kalah. Mereka bertiga langsung menjelaskan barang-barang yang mereka beli secara bersamaan lalu semua terdiam saat Sebastian berkata,
"Berapa yang tersisa, uangnya?"
PLUK. Bard menampakan satu buah koin di hadapan Sebastian.
"Itu sisanya. Se-penny." Sebastian menghela napas. "Sepertinya sudah telat, mungkin lebih baik kita kembali."
"AYO!"
Setelah kembali di kediaman Phantomhive, Sebastian menuju dapur dan membuat teh untuk Tuan Mudanya. Tak lupa menaruh kamera yang baru ia beli di dalam kantungnya. Berjalan ia menuju ruang kerja Tuan Mudanya, mengetuk pintu tiga kali, dan langsung membuka pintunya.
"Permisi, Bocchan. Saya telah persiapkan teh...untuk anda..." Sebastian terkejut melihat ruang kerja Tuan Muda Ciel Phantomhive penuh dengan bangunan kartu yang amat menawan. Replika Kota London! Bayangkan!
"Ooh...hati-hati melangkah, Sebastian. Butuh dua jam untuk itu!" Ciel memberi peringatan.
"Canggih bener ni anak. Bener-bener Bocchan kita! Bikin replika Kota London dalam dua jam pake kartu!" pikiran Sebastian juga ikut terpukau. Melihat istana kartu ini Sebastian jadi mencurigai motif Tuan Mudanya yang memerintahkan pelayannya untuk pergi. "Baiklah, Bocchan. Maaf saya lancang tapi, saya heran. Untuk apa anda membutuhkan keheningan?"
"Apa kau buta? Maylene akan memecahkan tea set atau mengacaukan pekerjaan, itu akan membuat bising. Finnian akan loncat kegirangan seperti orang gila dan itu sangat mengganggu. Sementara itu Bard akan menggunakan flamethrower-nya untuk memasak. Tak hanya ia mengacaukan dapur, tapi juga membuat keributan dan seisi rumah bakal bergetar. Apalagi kalau kau kehabisan amarah sama mereka bertiga. Kau bakal mengamuk dan bakal berisik banget! Tak lain juga kau mengetuk pintu kerjaku saat aku sedang stress dengan pekerjaan dan kau akan berkata 'Bocchan, aku membawakan teh siang' tapi kalau aku minta sesuatu di lain itu kau akan 'Tidak Bocchan. Kau tidak akan menghabiskan makan malammu.' Dan aku bakal 'tch.' Itu sangat mengganggu bukan?" ocehan Ciel yang panjang lebar itu belum pernah terjadi dalam sejarah selama Sebastian menjadi butler bocah ini.
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Tuan."
"Aku ingin mengubah rutinitas sehari-hari. Yang membedakan hari ini dan yang lain adalah keheningan. Dan yah, aku membuat replika kartu yang sangat ingin kubuat. Dan itu takkan terjadi apabila semua orang di rumah ini brisik, bukan?" Jawab Ciel dengan singkat, padat, dan jelas. Sebastian langsung menahan amarahnya dan tersenyum dengan paksa, "Jadi..nyut-nyut...anda tidak...nyut-nyut...mengerjakan apapun dari tadi selain membangun...nyut-nyut...istana kartu ini?"
"Iya." Jawab Ciel, tanyanya dengan nada yang imut ditambah sparkle-sparkle yang mengelilinginya "Apakah kau marah padaku?"
"Bo...Bocchan.." Sebastian menelan ludah dan terbawa dengan pesona Ciel, tak terkecuali pikirannya, "Waouw, sparkle-nya nggak nahan, Seb! Ayo kita pojokkan dia di ruangan ini!"
"Hihihi." Ciel kembali dengan nada yang kalem, "Alois benar juga. Bicara dengan nada begini bisa membuat orang sepertimu meleleh."
"Eh, saya...tidak..." Sebastian menyangkal perkataan Tuan Mudanya tadi.
"Ayo mengakulah, Sebas-tian. Apakah aku harus mengikuti Alois juga?" tanyanya sambil menatap Sebastian dengan mata yang menggoda.
Sebastian mulai perang dengan pikirannya sendiri:
"Aduh...gue nggak sanggup, Seb. Ni anak udah mulai bicara menggodanya."(pikiran)
"Gue juga enggak tahan."(Sebastian)
"Seb...lari Seb. Daripada ntar ada hal-hal yang bakal kita sesali."(pikiran)
"Anjrit. Ni anak tu cowok bedon! Mo udah jebol ato enggak kagak ketauan!"(Sebastian)
"Bukan itu maksud gua. Lebih parah."
"Udahlah, gak usah sok deh. Mending kita keluar aja."
Ciel agak gusar melihat butlernya yang hanya diam di tempat dan sepertinya gemetaran, ia meluruskan perkataannya, "Hei, Sebastian. Aku bercanda. Aku enggak bakal tahan jadi Alois."
"Pemikiran yang bagus, Bocchan!" Sebastian yang telah menyelesaikan perang yang tidak ada gunanya itu langsung tersenyum mendengar Tuan Mudanya yang imut.
"Sebastian, buatkan aku makanan manis!" perintah Ciel sambil duduk di atas meja kerjanya
"Seperti apa yang kau minta, Bocchan?"
"Pretzel. Dengan Cinnamon. Hangat."
"Segera, Bocchan." Saat Sebastian melangkah ke belakang, tanpa disangka ia menabrak perlahan salah satu kartu yang merupakan bagian dari replika Londonnya itu, dan...
BRUK!
"Aa.." Ciel terdiam. Shock. Kerja keras selama dua jam, dia tidak makan ataupun minum untuk menyelesaikan projek ini. Ciel termenung, dia membelakangi Sebastian, menatap ke jendela.
"Maafkan saya, Bocc.."
"Keluar." Katannya dingin.
"Bocchan.." Sebastian ingin meminta maaf, namun...
"Aku bilang keluar!"
Dan, agar tidak ada konflik antara Tuan dan Butlernya, Sebastian keluar dari ruangan yang berserakan kartu itu. Meninggalkan Tuan Mudanya sendiri.
Sementara itu, Ciel yang termenung tadi melihat ke arah pintu yang tertutup dan langsung tersenyum licik, hampir menyeringai. "Haah, aku jahat ya?" Ciel mengingat-ingat kejadian beberapa detik yang lalu sambil tertawa kecil. Ya, saudara-saudara, dialah pelaku dari keambrukan replika Londonnya sendiri.
"Sudahlah. Tadi kayak ada yang bunyi 'ce-krek', apaan ya?" Sementara Ciel termenung, Sebastian yang sedang di dapur, menunggu pesanan Tuan Mudanya matang merogoh kamera yang ia kantungi dan menyalakannya,
"Okee! Foto pertama di kamera ini."
"Yoi, Seb. Ayo kita lihat!" Senyuman lebar yang ditunjukkan si pelayan dan pikirannya langsung berubah 180 derajat.
"Cih, buram lagi. Tadi si cewek gila itu bilang apa?"
"Lupa, Sebs. Tentang jiwa sesuatu.."
"Itu dia! Kita harus yakin kita akan dapet foto bagus! Jadi setiap saat menghadapi Bocchan, kita sudah harus yakin Bocchan akan menampilkan sesuatu dan kita pasti dapet foto bagus!" itulah salah satu sifat butler keluarga Phantomhive, selalu berpikir positif.
"Baik, Sebs! Ayo kita coba besok!"
"Bagaimana kalau sekarang?" Sahut Sebastian saat mendengar bunyi 'ting' dari oven.
"Pretzel udah mateng? Tadi lu rubuhin keringet dua jamnya dikasih apaan?"
"Teh Leci. Dan sepertinya kau harus lebih teliti deh." Sebastian meletakkan satu pot teh leci, lengkap dengan cangkir yang bermotif dedaunan, pretzel yang sudah ia taburi dengan cinnamon di atas piring dengan motif yang sama di atas troli yang biasa ia gunakan.
"Eh? Bocchan melakukan itu?"
"Ahaha..." Lalu keduanya kembali menuju ke ruang kerja sang Tuan. Tak lupa Sebastian memasukkan kamera barunya di kantung lagi.
Kembali sebastian mengetuk pintu tiga kali, "Bocchan, pesanan anda sudah siap."
"Masuk." Sebastian tertegun melihat Tuan Mudanya yang kembali menghantarkan kepadanya posisi yang 'mengundang' sekali itu. Ciel duduk nungging sambil memungut satu persatu kartu yang tadi berserakan. Sebastian langsung pasang tampang fotografer—Fotografer mode on! Dan merogoh kantungnya dengan cepat, dan memotret posisi Ciel.
Ckrek
Dengan cepat ia memasukkan lagi kamera itu dan bertanya, "Apa yang anda lakukan, Bocchan?"
"Mengumpulkan kartu yang berserakan. Kerja keras selama dua jam yang kau rubuhkan dalam satu detik takkan terkumpul dengan sendirinya. Ada masalah?" tanyanya dengan nada ketus, meskipun di dalam hatinya—dalam, amat dalam dia tertawa dengan kerasnya.
"Biar saya bantu mengumpulkan." Sebastian ikut duduk di bawah dan membantunya memungut kartu, "Sudah sepastinya kan..Wuaah!" Tiba-tiba saja, angin berhembus dengan kencangnya sampai jendela ruang kerja Ciel terbuka, Ciel langsung melihat ke arah jendela sambil memeluk badannya yang lumayan dingin. Sebastian langsung sigap memotret Tuan Mudanya.
Ckrek
"Bunyi itu lagi! Sebastian, kau dengar juga?" Ciel langsung berhadapan dengan Sebastian yang juga sedang mengumpulkan kartu dengan mukanya yang cemerlang dan tampak tak ada dosa itu, "Bunyi apa, Bocchan? Saya tidak mendengar apapun! Akan saya kunci jendelanya, ya..." Ia segera menumpuk beribu kartu yang berserakan, dan berjalan ke arah jendela, dan dikagetkan oleh sekuntum mawar biru yang terletak di ambang jendela, yang dibalut oleh secarik kertas putih pucat.
Sebastian semakin curiga. Ciel berjalan pelan menuju jendela, "Apa itu, Sebastian?"
Sebastian memperlihatkan sekuntum mawar biru itu, "Mawar."
"Mawar?" Ciel semakin bingung, hari ini aneh sekali, pikirnya
"Mawar Biru. Dengan tulisan." Jawab Sebastian sambil membuka secarik kertas yang membungkus mawar itu dan membacanya:
Matamu sedalam laut, seluas langit, sebiru dan seindah mawar ini. Aku ingin punya boneka seperti dirimu,
Ciel Phantomhive.
Meskipun Ciel merasa geli dengan surat tadi, ia berusaha bersikap tenang dan bertanya, "Dari?"
"Tidak tertulis." Meskipun begitu, Sebastian dan pikirannya tahu pengirimnya, "Rival."
"Mawar biru itu jarang, kan?" tanya Ciel sambil mengagumi mawar pemberian orang misterius.
"Tidak tahu." Jawab Sebastian dingin. Sekali lagi, kata itu muncul lagi, "Rival."
"Kira-kira siapa ya?" tanya Ciel kembali, dia semakin penasaran.
"Tidak terpikirkan olehku, Bocchan."
"Rival."
"Sama sekali tidak terpikirkan."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Sebastian membanting jendela dan menguncinya erat-erat. Matanya yang tajam menangkap sesosok manusia bertengger di pepohonan di luar ruang kerja Ciel.
Aura pembunuh yang besar menyelimuti mereka berdua.
Akh! Apa ada yang nyadar? RIVAL akan datang beberapa chapter lagi! *dun-dun-duun*
Kalau ada yang rasa Ciel harus pose kayak gimana buat difoto ama Sebastian, tolong dibilang aja ya!
Terima kasih untuk para reviewers yang tidak bisa saya ucapkan satu-persatu...*orang yang malas, maklum*
Hey-hey-hey! Kalau ada ide cerita tolong dikasih tauu! Ide saya mampet, kebanyakan baca buku pelajaran *sebenarnya belajar mati-matiannya satu jam sebelum ulangan*
DIA-LO-GUE.
