Saya tahu Natal lewatt lamaa~ (atau belom? Emang orangnya rada lebayy) tapi saat itu ayah saya lagi banyak kerjaan dan memerlukan komputer satu-satunya di rumah ini. Jadi, maafkan saya karena tidak bisa memenuhi deadline .
—DHEG! Baru sadar sesuatu. Saya pernah nanya tentang kamera apa yang Sebastian pakai...apalah itu... Dan ternyata itu tidak dipakai sama sekali *HAHAHA—* Saya merasa sangat bersalah sebenarnya, dan juga untuk nicknamenya pikiran Sebastian. Yang sepertinya tidak begitu banyak muncul di chapter ini. Benar-benar saya merasa bersalah...dan mengapa saya merasa bersalah? I DON'T KNOWW.../help mee I'm turning into a freak! Wait, I AM ONE
Dan lagi, saya selalu senang melihat review kalian semuaa— itu seperti motivasi saya untuk mengetik.
Kalau ada saran pose dan cerita, jangan ragu-ragu untuk bilang yaa...soalnya ide saya tinggal dikit.
/sankyu
Disclamer: Kuroshitsuji beserta alam, karakter, buku dan segala isinya bukan hak milik saya. Ini milik Yana Toboso...
Warning: hint shonen-ai, typo (maybe?), bahasa, a bit of OOC.
Hari ini ada kejutan! Kejutan apa hayoo.../again, with the freak
Natal hampir tiba! London dipenuhi oleh paduan suara yang menyentuh hati, orang berpakaian seperti Santa, toko mainan dipenuhi oleh ribuan orang, ratusan pasangan menyiapkan hari besar mereka, dan masih banyak hal yang dilakukan untuk menyambut Natal itu. Tak terkecuali di kediaman Phantomhive. Tiga pelayan sangat bersemangat atas datangnya Natal. Mereka membeli dekorasi, pohon, dan mulai menghiasi pohon dengan segala macam dekorasi, yang berarti benda-benda yang tidak lazim. Bard menghias pohon dengan hiasan yang gemerlap. Pohon itu dilingkari dengan gulungan kembang api yang dipasang oleh Bard, dan ia juga memasang gantungan yang terbuat dari peluru. Finni menaburkan tepung yang ia temukan di kandang kuda (*bagaimana caranya ada tepung di kandang kuda?*) di pohon itu dan membuatnya seperti bersalju, ia juga memetik beberapa bunga mawar dari kebun dan menggantungnya. Di pucuk pohon itu, Maylene menaruh bintang yang berpenjuru lima kurang satu. Yak, saudara-saudara! Maylene mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkan pecahnya bintang yang menyala dengan indah itu di pucuk pohon.
"Wuaah...pohonnya indaah!" Finni teriak melihat hasil kerja keras mereka dengan begitu semangat. Bintang di pucuk yang menyala dengan terangnya, meskipun terlihat sedikit hancur, hiasan kembang api Bard yang belum dinyalakan, pelurunya yang digantung juga menangkap cahaya. Tak lupa dengan taburan tepung dari Finni dan bunga-bunga mawarnya. Sangatlah menawan dengan lampu-lampu di ruang utama.
"Tentu saja, Finni. Kan kita yang menghiasnya." Sahut Bard, sambil menepuk punggung sobatnya itu, Maylene juga terkagum-kagum saat melihatnya dan bersorak, "Apa yang akan Tuan Ciel katakan saat ia melihat ini?"
"Coba tanyakan saja." tanggap sosok manusia yang bertubuh mungil dengan pakaiannya yang sederhana namun bernuansa elegan. Ketiga pelayan tadi langsung terkejut dan berbalik ke arah satu-satunya tangga besar di rumah itu dan berteriak secara spontan memanggil nama sosok yang sedang berada di tangga tersebut, "TUAN CIEL!"
Ciel merasa telinganya ingin meledak, namun ia tidak menunjukkan itu. Ia hanya kembali dengan ekspresi datar dan dinginnya yang terkenal itu dan mengucapkan, "Aku ingin bertanya."
"Apa saja, Tuan!" sahut mereka bertiga sambil mendekatkan diri kepada Tuan mereka yang mengambil beberapa langkah ke atas tangga kembali.
"Apa yang kalian inginkan untuk natal tahun ini?" tanya Ciel dengan nada yang datar dan cuek. Ketiga pelayan itu langsung bertukar pandangan dan memunculkan wajah berpikir mereka dan bergumam,
"Euhm..."
"Aku ingin melihat Tuan Ciel tersenyum!" Finni memohon dengan mata yang bebinar. Mendengar itu, dua orang yang tersisa langsung terkejut dan merubuhkan Finni ke lantai dengan maksud membungkam mulutnya, "F..FINNII!"
"Ter..tersenyum?" ternyata Ciel mendengar permintaan salah satu pelayannya yang ditahan dengan kedua temannya. Karena Finni mempunyai kekuatan super! *baca supernya seperti Mario Teguh* dia bisa bangkit dari dua orang temannya dan menghadap Tuannya kembali dengan mata yang berbinar dan menekan kembali perkataan sebelumnya, "Kami selalu menginginkannya! Kami ingin melihat Tuan Ciel tersenyum!"
"FINNII...DIAAMM!" Dua orang yang telah dikalahkan tadi kembali membungkam mulut Finni, namun, yah cara itu tidak mungkin berhasil lagi karena saat mereka ingin merubuhkan teman mereka, Finni langsung menghindar, dan ia membungkuk di hadapan sang Tuan, "Betul kok! Maaf atas kelancanganku tapi yang kuinginkan adalah senyuman Tuan Ciel."
Bard dan Maylene langsung sigap berdiri di samping Finni dan mulai menjelaskan, "Maaf Tuan Ciel, kami semua tahu bahwa.."
"Baiklah." Jawaban singkat dari sang Tuan yang dengan kekuatan kedataran dan kedeinginannya membuat tiga pelayan yang berdiri melotot and menganga sambil berteriak dengan nada yang tidak percaya.
"Haaa—?"
Meskipun dirinya dikenal sebagai tuan yang-tidak-mungkin-mengulang-perkataannya-lagi hari ini justru sebaliknya, "Baiklah." Ya kan? Ia mengulangnya. Dan ketiga pelayan itu masih terkejut atas ucapan singkat tuannya yang pergi meninggalkan mereka.
Ciel sedang berjalan dengan damai mengitari rumahnya yang besar, namun tidak lama ia diganggu oleh seorang tamu yang tak diundang, "Aah~natal hampir tiba..Earl~." sahut seorang pemuda cina yang gagah. Ia tetap membanggakan tradisinya dengan memakai pakaian yang biasa ia pakai, namun hari ini, tak terlihat seorang wanita yang cantik dan seksi berada di pelukannya.
"Lau! Sedang apa kau di sini?" Ciel sedikit terkejut melihat adanya tamu yang tidak diundang berada di rumahnya, meskipun dalam arti sedikit adalah dia sudah memperkirakan kalau akan ada 'tamu itu', namun ia terkejut karena 'tamu itu' datangnya hari ini. Lau tersenyum mendengar respon dari bocah kecil yang berdiri di sampingnya itu, dan mendekatkan wajahnya ke wajah bocah kecil itu, "Aku di sini untuk melihat boneka yang dihadiahkan kepadaku."
Ciel mengangkat satu alis, lalu menanggapi pernyataan itu dengan datar, "Ran Mao tidak ada di sini, tahu."
"Ooh~bukan dia maksudku...kau mengenal seorang yang selalu berpakaian rapi dan merasa tinggi meskipun dirinya pendek?" tanya Lau sambil menatap Ciel dengan tajam.
Kembali, Ciel menanggapinya dengan nada yang datar dan cuek namun terkesan polos, "Tanaka? Kau ingin bertemunya?"
"Apakah salju membuat otak tajammu terhambat, Earl~?" lanjut Lau sambil menyentuh kepala Ciel dan mengetuknya, Ciel yang merasa jengkel menunjuk ke arah ruangan pojok dan berkata, "Tanaka ada di ruangan pojok, Kau ada keperluan lain?"
"Aah—bagaimana jika kita minum teh bersama? Akan kutunjukkan ruangannya." Merasa kalah dengan kedataran Ciel, Lau langsung mendorong punggung Ciel dan menuntunnya. Ciel kembali dengan menaikkan satu alisnya dan berkata, "Ini rumahku, kan?"
"Di manakah butler itu, Sebastian-san?" Lau memanggil Sebastian yang biasanya selalu hadir di saat yang diharapkan. Yah, Sebastian langsung muncul dihadapan mereka berdua. Sepertinya ia sudah sembuh dari gejala 'iblis panik' seperti di chapter yang lalu.
"Bocchan! Di situ anda rupanya."
"Ada apa, Sebastian? Tidak biasanya kau telat begini." Ciel masih mengira butler bin sempurnanya itu masih mengidap 'iblis panik', namun Sebastian membungkuk dan berkata dengan nada yang seperti dirinya,
"Saya sudah menyiapkan teh di ruang tamu, dengan chocolate cream pie kesukaan Tuan Muda."
Mendengar itu, Lau kembali mendorong Ciel ke ruang tamu dan memuji hasil kerja Sebastian sambil memukul pundak sang butler, "Aah~bagus, Sebastian. Antarkan kami ke ruang tamu."
Dan Ciel hanya bisa berbicara dalam hatinya, "Ini rumahku, kan?"
Sementara itu, di ruang utama, ketiga pelayan duduk di anak tangga paling bawah. Maylene membuka pembicaraan mereka, "Kau tadi keterlaluan, Finni."
"Eeh?" Finni merengek.
"Yah, meminta seperti itu. Itu bisa dianggap lancang lho." Bard menambahkan sambil meluruskan kakinya, Finni berdiri dan menghadap kedua temannya itu dengan tatapan yang panik,
"Be..benarkah?"
Bard menarik nafas, dan melanjutkan sambil berdiri dan mengacak rambut Finni, "Tapi, mungkin karena keberanianmu itu, mungkin permintaanmu akan terkabulkan."
Maylene juga tidak mau kalah, "Kita tunggu keajaiban natal tahun ini, Finni!"
"Ye..YEAH!" Finni kembali bersemangat dan mengeluarkan ide terbaiknya untuk natal tahun ini, "Aku ingin menghadiahkan sesuatu untuk Tuan Ciel, bagaimana menurutmu?"
"Iya sih, tapi kita harus mengeluarkan kemampuan terbaik kita!" Bard mengelus dagunya dan secara tiba-tiba, Maylene berteriak,
"Aku ada IDE!"
Bard dan Finni langsung sigap dan bertanya, "Apa itu, Maylene?"
"Kita akan buat kue kering yang imut untuk dimakan bersama!" dan dengan satu ide yang datang dari otak jenius sang pelayan dengan rambut merah muda ini, ada usulan tambahan yang tak kalah bagusnya dari si tukang kebun, "Jangan lupa bentuk orang-orangan agar bisa digantung!"
"Ide bagus! Ayo kita laksanakan!"
Saat dua orang itu menari dengan senang, Bard berteriak, "Natal kan lusa!", dan menambahkan, "Tak mungkin orang seperti kita dapat membuat kue dalam waktu dekat dan dalam percobaan pertama! Kita coba hari ini saja, oke?"
"OKE!" pelayan wanita dan tukang kebun itu bersorak dengan riang, lalu Maylene mengecek kalender dan langsung panik, "Kau salah, Bard! Natal itu besok!"
"Ayo kita mulai saja sekarang! CEPAAATT."
Dan ketiga pelayan tersebut berlari menuju dapur, semoga tidak terjadi apa-apa ke mereka yah.
Kita menuju ke ruang tamu. Di mana Sebastian sedang menuangkan teh untuk Lau, Ciel sedang duduk terdiam menyeruput tehnya, dan Lau duduk di kursi yang berhadapan dengan Ciel menunggu Sebastian menyerahkan tehnya. Sambil menyerahkan secangkir teh panas ke Lau, Sebastian bertanya,
"Mengapa kau ada di sini, Lau-sama?"
Lau haya tersenyum licik dan menjawab, "Aku ingin melihat boneka yang dihadiahkan kepadaku."
Sebastian menaikkan satu alis dan menangkal pernyataan itu dengan dingin, "Maaf, tapi boneka itu sudah ada yang punya."
"Ooh~ apa ada tanda di boneka itu?" tanya Lau dengan nada yang menjengkelkan, tapi si butler bin sempurna ini tidak punya kata 'kalah' dalam hidupnya, "Yang punya lupa memberi tanda."
Itu memberikan Lau sebuah ide, "Aah~ jadi yang menemukan pertama akan menjadi pemiliknya..."
Sebastian menahan amarahnya dengan sangat kuat, "Yang punya akan mempertahankan bonekanya."
"Kita lihat saja nanti, Sebastian."
"Saran, Lau-sama. Lebih baik kau mundur saja."
"Hoo~."
Dan, karena keasyikan mereka menantang satu sama lain, tuan rumah yang duduk di hadapan mereka berdua tak tahan lagi di abaikan dan protes, "Kau tahu itu tidak sopan untuk bergosip di rumah orang?"
"Tidak, Earl~ kami hanya berdiskusi." Jelas Lau. Dan itu sama sekali tidak mengubah raut wajah dari si tuan rumah yang berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju pintu.
"Diskusi semau kalian di tempat lain! Sebastian, bawa tehnya ke ruanganku!" perintah Ciel dengan tegas. Sebastian hanya membungkuk perlahan dan menjawab, "Baik."
"Kau tahu? Boneka yang menawan, terlihat amat keras tetapi amat sangat rapuh di dalam." Lau berkomentar 5 detik setelah Ciel meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, dan Sebastian menatap Lau dengan tajam dan amarah, "Anda menginginkannya?", "Rival juga menyebut boneka."
"Ada yang lebih menginginkan boneka itu, Sebastian." Jelas Lau sambil berjalan menuju jendela yang menghadap keluar, Sebastian pasang muka masam, "Maksud anda, ada orang selain kau yang menginginkannya?"
"Orang selain aku...fufufu~ Kau kurang melihat sekelilingmu." Lanjut Lau sambil membuka kunci jendela itu dan membukanya lebar-lebar. Sebastian ingat permintaan tuannya dan langsung menyiapkan teh serta kue-kue yang secara tidak wajar masih panas membara. Lalu ia membungkuk ke arah Lau,
"Maaf, tapi saya harus permisi. Nikmati waktumu di sini, Lau-sama."
Dan dalam sekejap, sang butler telah sampai di ruangan Tuan Mudanya yang menunggunya. Sementara Lau menatap jauh ke sosok yang bersembunyi di balik pepohonan, dan berbisik kepadanya,
"Kalau kau sangat menginginkannya, mengapa kau bersembunyi di balik bayangan?"
Sosok itu terdiam. Lau merasakan aura yang tajam dari sosok tersebut, dan ia melanjutkan percakapannya,
"Kau tahu singkat atau lambat boneka itu akan di ambil kan?"
Sosok itu mulai keluar dari pepohonan, Lau tersenyum licik melihatnya.
"Keluarlah dari bayangan, dan berhadapan dengan kami."
Selesai mengucapkan kalimat itu, Lau langsung menutup jendela rapat-rapat dan berbicara dengan pelan,
"Atau mungkin kau memang pengecut."
Dan sosok yang bisa membaca gerak bibir itu, terkejut.
"Ha...hangus!" Bard mengelap keringatnya, Maylene menghela napas panjang, sementara Finni merubuhkan dirinya di dapur yang gosong, berantakan, kotor, dan penuh pecahan-pecahan mangkuk.
"Bard! Kau jangan memakai flamethrower-mu!" teriak Finni, Bard yang mendengarnya langsung tersinggung dan memprotes, "Ini akan mempercepat waktunya!"
"YAA! Tapi kau terlalu mempercepatnyaa!" Finni kembali menyangkal, May yang penuh dengan gula mulai tidak tahan dengan pertengkaran kedua temannya itu. Bard akhirnya menyerah, namun langsung menyerang Finnian kembali, "Baiklah, aku tak akan memakainya. Kau juga jangan memakai tenagamu untuk mengocok adonannya! Kau lihat sudah berapa mangkuk yang kita pecahkan?" Finni melihat sekitar dapur, dan Maylene sudah tidak sabar, "Finni! Bard! Jangan berkelahi! Kita harus bekerja sama untuk membuat kue kering ini! Meskipun aku tidak bisa menghias dengan baik, pasti aku akan berlatih lagi hingga aku berhasil!", Bard dan Finni menghela napas, dan Bard mulai berbicara motivasinya, "May benar. Kita harus berjuang! Kita tidak tahu, mungkin Tuan Ciel sedang berusaha untuk tersenyum!"
"YA! Aku akan berhati-hati mengocok adonannya!" teriak Finni dengan semangat, May tersenyum melihat kedua temannya itu dan berteriak, "OKEE! Kita lakukan lagi?"
"YAA!" sahut dua lelaki pirang yang semangat!
Beberapa menit kemudian.
"WUAAH! Ini tidak hangus!" Maylene mengagumi adonan yang kental dan coklat yang tidak berbau hangus di dalam oven itu, Bard yang baru melihatnya berkomentar, "Tapi bentuknya menjijikan. Seperti t*i."
"Coba rasakan." Bard mencolek sedikit dari adonan itu dan memakannya, dia seperti mau muntah , "HUEKH~"
Maylene yang penasaran langsung ikut mencoba kue yang kelihatan menjijikan itu, "Masa sejijik itu? Coba...HUEKH~" dan, responnya sama seperti Bard.
"Seperti apa sih, rasanya?" Finni yang penasaran ikut mencoba kue yang mereka buat bersama, Bard dan Maylene mencoba memperingatinya tapi, "FINNI! JANGAN—"
"HUEKH~" terlambat sudah, ketiga sahabat itu berbaring dengan muka masam di dapur yang lebih mirip zona perang ini. Bard menoleh ke kanan dan ke kiri sambil bergumam, "Kira-kira apa yang salah..."
"HA! Ini masalahnya!" sahut Maylene tiba-tiba, ia langsung bangkit dan menarik sekarung pupuk kandang yang berada di dapur itu, "Finni memasukkan pupuk kandang dan bukan tepung!"
Finni langsung bersujud di tempat dan meminta maaf, "Habis karungnya sama! Maafkan akuu.."
Bard dan Maylene tersenyum geli, "Tidak apa, lagipula mengapa kita punya pupuk kandang?" tanya Bard kepada Maylene yang hanya mengangkat bahu,
"Ini tepungnya, ayo kita coba lagi!" Finni kembali dengan sekarung tepung dan senyuman yang lebar. Dengan serentak mereka loncat dan teriak,
"BERJUAAANG!"
Setelah itu,
"HUEKH~Sepertinya kau bingung antara gula dan garam." Finni mencicipi kue yang seasin air laut itu, muka Maylene langsung pucat, "Aah! Ini salahku. Gula dan garam ini berdekatan, aku lupa mana yang mana."
"Tak apa-apa, kita masih punya banyak waktu!" Finni menyemangati Maylene, sementara Bard yang mulai panik memarahi mereka, "Natalnya kan besoook!"
"Kan untuk memotivasi, Bard Bodoh!" Maylene menyatakan perang mulut ke Bard,
"Kok aku Bodoh? Yang lupa garam sama gula siapa?" Namun Bard tetap saja menyerang Maylene sebelum dihentikan oleh Finni yang meleraikan mereka berdua, "Bard, May hentikaan!"
Setelah 5 kali percobaan dan tetap terasa asin...
"HUEKH~Apa yang salah kali ini? Mengapa pedas sekali!" Maylene menjulurkan lidahnya sementara Finni yang kepedesan mencari-cari air.
Bard melihat botol yang kosong di sebelah bubuk coklat, saat ia menciumnya, ia mencium merica, "Aku memasukkan merica bukannya bubuk coklat!"
"Laa...memangnya kita perlu bubuk coklat?" tanya Maylene heran, Bard menggaruk lehernya yang tidak gatal, "Bukannya iya?"
"eee."
Setelah percobaan selama berjam-jam, beribu-ribu dan gagal, apakah yang satu ini akan menjadi keajaiban? Kita tunggu saudara-saudara!
"Ini sudah berpuluh-puluh kalinya kita mencobanya." Bard mengelap keringatnya, Maylene berlutut di depan oven yang masih menyala dan berharap, "Semoga saja hasilnya benar." Finni juga ikut berlutut dan menutup matanya sambil berguman, "Kumohon..."
TING! Suara oven penentuan berbunyi...ketiga pelayan itu membukanya dan...
"Wanginya harum." Maylene yang pertama kali menghirupnya,
"Bentuknya juga bagus. Tidak hangus dan tidak seperti t*i." Bard ikut berkomentar tentang kue itu,
"Rasanya mungkin enak. Kita masukkan tepung, bukan pupuk kandang." Finni juga menambahkan,
"Kita juga tidak keliru antara gula dan garam!" Maylene ikut mengingatkan kesalahan mereka di puluhan percobaan yang lalu,
"Dan siapa orang bodoh yang pertama kali memasukkan bubuk merica? Tidak lagi!" sahut Bard yang tanpa sengaja mengejek dirinya sendiri.
"Ayo kita coba!" Maylene mengambil sepotong kue kering itu dan membaginya. Mereka bertiga melihatnya dan masing-masing mencobanya,
"Kruk.", "Kruk.", "Kruk."
"ENAAK!" Respon yang sama dilontarkan oleh ketiga orang yang telah mencoba membuat kue untuk Tuannya dari tadi, mereka menari di dapur yang sama dan tetap seperti zona perang makanan. Tanpa sadar, seorang butler berpakaian hitam muncul dari arah pintu dapur dan membunuh kesenangan mereka, "Sedang apa kalian dan mengapa dapur ini terlihat sangat berantakan?"
"Se-SEBASTIAN!" serentak ketiga pelayan tersebut berlari menuju Sebastian dan memeluknya. Untung Sebastian ini kuat, sehingga ia dapat menopang mereka bertiga di pintu dapur. Sebastian langsung protes dengan nada yang keras, "HOI! Mengapa kalian ini?"
"KITA DAPAT HADIAH NATAL UNTUK TUAN CIEL!" sahut mereka bertiga dengan semangat sampai mereka menjatuhkan Sebastian ke lantai yang kotor itu. Dan Tanaka hanya minum tehnya dan tersenyum,
"Ho-ho-ho."
Ciel sedang duduk di ruangannya dan membaca dokumen yang bertumpuk. Kebenciannya dengan dokumennya itu sama dengan kebencian murid yang pekerjaan rumahnya tidak bisa diambil dari internet. Tapi, mau bagaimanapun, dokumen itu bukan sekedar peer yang bisa dicontek dari teman keesokan harinya. Ciel merasa terganggu dengan adanya tamu tak diundang di ruangannya itu. Siapa lagi kalau bukan, Lau, "Ah~Earl yang sibuk, apakah kau punya waktu untuk bermain denganku?"
Ciel menggeleng sambil tetap membaca dokumen, "Tidak, Lau. Ini harus selesai sebelum Natal."
"Menyebalkan sekali bagi orang Inggris sepertimu, tidak ada waktu untuk bersenang-senang." Lau tengah melihat koleksi buku yang dipajang dengan rapi dan terurut, Ciel membuka mulutnya dan menyarankan temannya yang menyebalkan itu, "Bisakah kau berhenti menggangguku?"
Lau tersenyum, "Aku akan berhenti mengganggumu bila kau mau main denganku."
Dan Ciel pun menyerah, "Haah~yasudahlah. Tapi berjanji untuk tidak menggangguku setelah ini. Kau mau main apa?" dia bangkit dari kursinya dan duduk dengan Lau di sofa yang memperlihatkan sekotak permainan kartu remi itu, Ciel menghela napasnya,
"Baiklah. Kau yang mengocok."
Tiba-tiba saja...
PRAAANG! Bayangan hitam memecahkan kaca ruang kerja Ciel dan menghantam perut Lau dengan kuat dan cepat sehingga ia pingsan, "Ukh!"
"Lau! Si...siapa kau?" Ciel menatap tajam bayangan hitam tadi yang segera melingkarkan tangan di pinggang Ciel yang kecil dan menariknya dekat, "Kau akan ikut denganku, Phantomhive."
"Tidak akaan..mmpphh..." Ciel dibius dengan sapu tangan yang dibubuhi kloroform. Dengan cepat dia pingsan di tangan si bayangan, yang mencari pulpen dan kertas kosong di meja kerca anak kecil yang pingsan dan bergumam, "Sekarang, meninggalkan pesan."
Di saat yang sedikit lambat, Sebastian mengetuk pintu ruang kerja tuannya dan menyahut, "Bocchan, anda di dalam?", merasa sedikit ganjil, Sebastian membuka pintu dan melihat ruangan yang amat berantakan, kaca yang pecah, bingkai jendela tergeletak di lantai, kertas berserakan namun tak ada tanda-tanda bocah kecil, yang ada hanyalah seorang lelaki Cina yang menahan sakit sambil memegang perutnya itu. Sebastian langsung menghampirinya, "Lau-sama! Anda tidak apa-apa?"
Lau yang memang menahan kesakitan itu berbicara dengan susah payah, "Haa~Sebastian. Kejadiannya sungguh cepat." Sebastian bertanya lagi, "Di mana Bocchan?" Lau menggeleng dan Sebastian langsung mengeluarkan aura yang tajam, "Ooh, sekarang ia berani muncul." Pikirannya pun ikut mengerluarkan aura yang tajam. Aura Sebastian sangat tajam, Lau pun menyadarinya, "Atmosfer disekelilingmu amat sangat kelam, Sebastian."
Sebastian menjadi satu dengan pikirannya, "Kau kira bisa mendapatkan Bocchan untuk dirimu sendiri, HAH?"
Lau menunjuk ke arah meja yang penuh dengan kertas dan pecahan kaca, "Dia meninggalkan pesan, Sebastian." Sebastian melihat secarik kertas yang dimaksud, dan membacanya,
"Hoo~ keyakinan yang kuat." Sebastian melangkah dengan amarah yang tertahan ke jendela yang hancur, ia bisa melacak di mana tuannya pergi, namanya juga iblis...Lau berdiri dengan bantuan sofa, "Kau akan pergi sendirian, Sebastian?"
Sebastian balik badan ke hadapan Lau dan menyeringai, "Maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi saya harus permisi, Lau-sama." Lalu ia membungkuk, Lau hanya tersenyum sambil tetap menahan sakitnya, "Bawalah ia kembali, Sebastian."
Bocchan, bertahanlah sampai aku datang. Dan setelah itu, Sebastian langsung menghilang secepat kilat dan mengejar bayangan yang menculik Bocchannya itu.
Sementara Lau yang menyadari bahwa ia tidak punya teman main, memungut secarik kertas dengan tulisan buruk dari sang penculik dan membacanya, "Apa isinya kira-kira?"
Ciel Phantomhive akan menjadi boneka tercantik di pohon Natalku malam ini.
Gelap dan dingin. Ciel membuka matanya dan menemukan dirinya duduk terikat di sebuah kursi di dalam bangunan tua London yang gelap dengan lampu yang redup. Ciel melirik ke kanan dan kiri, lalu bergumam, "Di...di mana aku?"
Suara yang sama dengan orang yang menculiknya tadi menggema di bangunan tua itu, "Oh, apakah kau sudah sadar, Phantomhive?"
"Siapa kau?" Ciel membentak sambil mencari-cari sumber suara itu, dan muncullah seorang lelaki jantan dengan otot-ototnya yang perkasa, senyuman jahat terplester di wajahnya yang menyeramkan, meskipun dengan fisiknya ia selalu berhasil membuat anak-anak kecil ketakutan, tampaknya yang satu ini tidak terpengaruh. "Owh. Ekspresi yang begitu galak tidak cocok dengan mukamu yang begitu halus dan menawan.", katanya sambil mengelus wajah bocah yang semakin jengkel dengan banyaknya orang yang menculiknya dan menyentuhnya tanpa persetujuan,
"Jangan sentuh aku semaumu!" sekali lagi bocah yang terikat itu membentaknya. Lelaki berotot itu hampir memukulnya, namun dihentikan oleh butler berbaju hitam yang muncul dihadapannya, "Tolong dengarkan permintaan Tuan Mudaku, br*ngsek!" dilemparnya lelaki itu dengan gampangnya ke arah dinding menggunakan tenaga supernya sehingga lelaki itu pingsan di tempat.
"Sebastian!" Ciel memanggil butlernya yang setia, sementara Sebastian membungkuk di depan tuannya dan berkata, "Aku sudah datang, Bocchan. Dan kau baru kepikiran untuk memanggil namaku?"
Sesaat, momen ini terasa begitu pas. Putri yang diculik telah diselamatkan dari lelaki berotot oleh sang pangeran. Tapi, hidup tidak semudah itu. Karena setelah itu banyak orang-orang jahat yang sepihak dengan si lelaki berotot itu berdatangan dengan senjata mereka yang tak kalah seru. Sebastian menyeringai dan mencabik mereka satu persatu dengan mudahnya. Seperti menonton Balet 'Mimpi Buruk' yang diiringi oleh Reqiuem for A Dream karya Mozart, gerakan Sebastian amatlah halus dan cekatan, pas dengan ritme. Darah bercampur dengan teriakan, kesakitan, dan penderitaan. Dan bisa dibayangkan, semua orang yang melihatnya mendapatkan mimpi terburuk dalam hidup mereka bahkan sebelum mereka menutup mata.
Sebastian selesai dan membungkuk. Ciel hanya bisa diam dan menyembunyikan rasa takutnya pada iblis yang berdiri sendiri di lautan mayat dan darah itu. Sebastian mengerutkan alisnya saat memandang adanya orang yang tak dikenal bertepuk tangan di beranda puncak,
"Kau memang sangat kuat, Sebastian. Tidak salah untuk menilai cara bertarungmu."
Sebastian semakin marah setiap detiknya, "Apa maumu? Cepat katakan!"
"Yang aku inginkan adalah Tuan Mudamu, di pangkuanku selamanya." Jawab orang misterius itu dengan jujur sambil menunjuk bocah yang masih saja terikat di kursinya.
"Kau tahu aku tak akan membiarkan itu." Sahut Sebastian dingin, ia mengepalkan tangannya. "Aku tahu, dan aku akan berusaha mendapatkannya."
"Aku ingin melihatmu mencoba." Tantang Sebastian sambil mencoba membunuhnya dengan tatapan iblisnya itu. Orang misterius tadi hanya tertawa kecil dan membalas tantangan Sebastian, "Ya, aku juga menantikan hari itu, Sebastian. Sampai jumpa." Dan ia menghilang dalam kegelapan.
"Kau tahu siapa itu, Sebastian?" tanya Ciel penasaran. Sebastian menggeleng dan menurunkan emosinya, ia menghadap tuannya itu, "Tidak, Bocchan. Mari kita pulang?", Ciel melihat ke langit-langit seperti berpikir lalu berbicara dengan nada yang datar, "Mungkin lebih baik jika kau melepas ikatanku ini." Sebastian tersenyum dan menjawab,
"Baiklah."
Terlepas dari ikatan dan keluar dari bangunan tua itu, Ciel berjalan di depan Sebastian. Tanpa aba-aba Sebastian mengangkat Ciel layaknya pengantin dan berkata dengan lembut, "Mari kita pulang, Bocchan. Semua sudah menunggu."
Ciel memiringkan kepalanya dan bertanya, "Semua?"
Saat membuka pintu utama kediaman Phantomhive, keduanya disambut oleh senyuman, makanan, dan kebersamaan. Ciel yang masih digendong oleh Sebastian melihat dengan muka yang bingung, sementara Sebastian hanya tersenyum melihat tampangnya. Ciel diturunkan, dan Lau menghampirinya. Dia masih memegang perutnya dan perempuan cantik yang lumayan mirip dengannya sedang mendekapnya. Lau meyambutnya dengan senyuman, "Selamat datang kembali, Earl.", Ciel hanya mengangguk, dan mengingat apa yang terjadi, ia bertanya, "Lau? Bagaimana lukamu?"
"Aku baik-baik saja. Aku lihat dia tidak melukaimu." Jawab Lau dengan santai sambil mengangkat dagu Ciel yang mulus, dan melihat ekspresi di wajah imutnya, Ciel benar-benar muak dengan laki-laki yang terus-menerus memegangnya itu, "Jangan sentuh aku." Dan dia menyingkirkan dagunya dari cengkraman orang cina itu.
Saat ia mengitari pesta di rumahnya sendiri, ia berpapasan dengan Elizabeth yang langsung memeluknya dengan erat dan berkata sambil menahan tangisnya, "CIELL! Aku sangat sedih mendengar kau diculik lagiii!", Ciel yang mati gaya Cuma bisa memeluk tunangannya balik dan menepuk punggungnya, "E..Elizabeth.", Elizabeth langsung melepaskannya dan meremas pipi Ciel dengan kedua tangannya, "Habisnya kau imut sekali, sih. Makanya banyak orang yang mau menculikmu! Sekarang kau lebih hati-hati ya Ciel!" dan kembali memeluk Ciel dengan amat erat, korban pelukan yang hampir tak bisa bernafas berkata dengan terbata-bata, "Ee...Elizabeth...aku..tak bisa bernafas.."
"Haha dasar lemah." Ejek Alois Trancy yang ikut memeriahkan pesta tersebut. Claude Faustus juga ikut bersamanya dan tengah berbincang dengan Undertaker sambil meneguk segelas champagne. Ciel yang terlepas dari jeratan mematikan yang disebut 'Tangan Elizabeth' itu masih tidak percaya dengan adanya bocah pirang di rumahnya, "Al...Alois?", dan bocah pirang itu hanya tersenyum girang dan mengusap rambut Ciel dan bercanda, "Siapa mengira Tuan Gerutu akan mengadakan Pesta Natal?"
Saat itu juga, mereka didatangi oleh Pangeran Soma dengan Agni yang tersenyum dan berkata, "Bukankah indah untuk menghabiskan Malam Natal dengan semuanya, Ciel?" Lalu Ciel melihat sekeliling, Claude dan Undertaker masih bercanda dengan girangnya dimeriahkan oleh Bard, Finni, dan ketiga pelayan keluarga Trancy, Hannah sedang bergossip dengan Paula, Elizabeth juga ikut kerumunan wanita itu tak terkecuali Maylene. Banyak Shinigami yang hadir di sana, semuanya sedang berbincang dan bercanda tawa. Lau dengan Ran Mao sedang berbincang dengan serius di sofa sana. Soma dan Alois ikut bercanda di dekatnya. Ciel mengangguk sedikit dan bergumam, "Uhm, baiklah."
Sebastian menepuk tangannya dengan keras dan mengumumkan,
"Baiklah semuanya, hidangan telah disiapkan."
Hidangan malam itu sangat menggiurkan. Semuanya makan-minum sampai puas. Berbincang, tertawa, makan, lalu diulang hingga semuanya tumbang dan memutuskan menginap di mansion Ciel. Selesai pesta, Ciel tengah menikmati waktunya dengan secangkir teh chamomile hangat. Ketiga pelayan Ciel dengan hadiah mereka mengintip tuannya itu yang sedang menatap bulan sendirian. Perlahan-lahan mereka mendekat, lalu mengucapkan secara bergantian, "Apakah Tuan Ciel senang? Kami menyiapkan dekorasinya! Sebastian yang menyiapkan hidangannya!" Ciel merasa terkejut namun langsung menjawabnya, "Ya, terima kasih untuk kerjasamanya."
"Ini hadiah Natal untuk Tuan Ciel!" ketiga pelayan tersebut menyodorkan kado yang tidak terbentuk dan dibungkus dengan buruk. Ciel melihat kado itu, dan ketiga pelayannya secara bergantian dan bertanya, "Untukku?" ketiga pelayan itu mengangguk senang. Finni menambahkan, "Memang tidak begitu pantas untuk menyerahkan hadiah sebelum Natal, tapii.."
DING! DONG!
Suara jam tua yang berdentang menggema menunjukkan pukul 12 tengah malam. Ciel membuka pembungkus kado itu dan melihat kue yang hangat dan terlihat enak itu, "Kue? Kalian yang buat sendiri?"
"Yaah, dengan beberapa kegagalan. Tapi kami berhasil!" ucap Bard dengan bangga, "Cobalah, Tuan Ciel." Maylene menambahkan dengan senyuman.
"Kruk."
"Bagaimana?" tanay Finni tidak sabaran. Ciel menghabiskan satu kue yang diambilnya dan berkata dengan datar, "Ini enak."
"Ooh.." mereka bertiga tersenyum dan memandang satu sama lain untuk menyembunyikan muka kecewa mereka. Ciel mengetahui penyebabnya dan ia menambahkan, "Aah tidak.. Ini enak sekali, terima kasih ya!" dengan sadar ia tersenyum dengan amat tulusnya kepada ketiga pelayan itu. Mereka begitu tersentuh dan memeluknya, "Tuan Cieel..."
"Kalian pasti lelah, istirahatlah." Ciel masih tetap tersenyum dan saat ketiga pelayan itu berbalik, senyumannya hilang. Sebastian melihat itu semua dan mengajak tuannya untuk istirahat untuk hari ini.
"Anda tahu, baru pertama kalinya saya melihat Bocchan tersenyum seperti itu." Sebastian berkomentar saat ia mengancingkan baju tidur pada tuan mudanya. Ciel hanya menghembuskan nafas panjang dan membalasnya, "Itu yang mereka minta, Sebastian."
"Saya permisi dulu, Bocchan." Sebastian membungkuk, namun dihentikan oleh Ciel,
"Tunggu.",Ciel menyerahkan sekotak kado untuk Sebastian, "Ini, hadiah Natalmu, Sebastian."
"Untuk saya, Bocchan?" tanya Sebastian tidak percaya, dia mengambil kotak itu dari tuannya.
"Bukalah." Perintah Ciel. Sebastian membukanya, dan dilihatnya sebuah pocketwatch baru dari emas, dia memandang tuan mudanya, "Ini..."
"Aku sadar kau kehilangan punyamu itu. Kalau memang sudah jelek bilang saja, jangan dibuang. Aku sampai sakit hati tahu." Jelas Ciel tanpa nafas. Terlihat di mukanya ia sedikit jengkel. Sebastian tersenyum dan membungkuk perlahan, "Maafkan kecerobohan saya, Bocchan.", "Ceroboh apaan? Itu lu relain dengan sengaja kok." Pikirannya pun kembali berkomentar.
"Oke, jangan sampai kupergok kau terlambat lagi, Sebastian.", Ciel memberi peringatan terakhir yang lebih terdengar seperti ancaman dan dia memanjat ke tempat tidurnya, "Aku ingin beristirahat sekarang, selamat malam."
Sebelum dihentikan oleh Sebastian yang menahan pergelangan tangan sang tuan.
"Tunggu, Bocchan."
"Apa lagi?" tanya Ciel tidak sabaran
Sebastian memperlihatkan telunjuknya, "Lihat di atas." Dan otomatis Ciel melihat ke atas dan melihat adanya daun mistletoe yang digantung tepat di atas mereka berdua. Ciel mengangkat satu alisnya dan bertanya pada Sebastian
"Kenapa di kamarku ada—."
Sebastian memotong kalimat sang tuan dengan sebuah ciuman. Yap, ciuman di bibir. Ciuman yang biasa, tidak ada lidah, tidak ada lanjutan, tiada apapun, namun keduanya berdebar-debar dan merasakan kehangatan masing-masing. Setelah beberapa detik yang tak terhitung, mereka melepaskan diri untuk bernafas. Yah, agar Ciel bisa bernafas.
Sebastian tersenyum lalu mempersilahkan dirinya meninggalkan kamar tidur Ciel dan mengucapkan, "Selamat tidur, Bocchan."
Ciel memegang bibirnya, dan menyesali perbuatannya, "Tch."
Meskipun di dalam hatinya ia amat menyukainya.
"Kita tidak melihat pose Bocchan hari ini, Sebs." Pikiran Sebastian kembali beraksi saudara, namun Sebastian tidak menyesali hari ini, "Tak apa, hari ini aku dapat hadiah terindah." Ia mengambil pokcetwatch dari kotaknya dan membukanya. Pikirannya berkomentar, "Pocketwatch emas? Harganya berapa coba?", di dalamnya ada secarik kertas yang dilipat sekecil mungkin, "Ah, ada tulisannya."
Sebastian membuka kertas itu dan membaca tulisan tuan mudanya;
Kepada Butlerku yang setia:
Kalau sudah usang dan mau yang baru, bilang saja. Jangan dibuang yang ini harganya mahal, jelek!
Ciel Phantomhive
Sebastian tidak bisa merespon apapun kecuali tersenyum.
Semoga kalian semua menyukainya .
DIA-LO-GUE.
