Tema hari ini adalah...

PINK! PINK! PINK! PINK! PINK! PINK! MERAH MUDA! PINK!

Dan anda benar! (kalau anda menduganya) Tema hari ini adalah PINK!

Dan bukan merah muda.

Dan cerita ini memang dibuat pendek, karena saat ini saya dalam masa perang sama nilai *hehehe*

Cukup basa-basinya, kita mulai saja cerita yang satu ini.

Warning: shonen-ai, OOC, siap-siap ada KISSU~!

Disclamer: Kuroshitsuji beserta alam, karakter, buku dan segala isinya bukan hak milik saya. Ini milik Yana Toboso...


SEB: Selamat siang saudara-saudara! Nama saya Sebastian Michaelis. Anda telah mengenal saya sebagai butler yang amat tampan dan sempurna. Dan kalau anda semua mengikuti arah cerita ini, pasti anda akan mengetahui kalau saya mencintai Bocchan saya, Ciel Phantomhive. Mengingat adanya tradisi Bumi Februari yang lalu, saya punya pengalaman menarik yang pasti akan menghibur anda semua.

Cerita ini dimulai dengan...


Valentine! Hari kasih sayang, Hari Persahabatan, hari di mana jutaan coklat terjual, hari di mana penjual bunga akan menjadi kaya raya! Dan, hari di mana Sebastian akan mengungkapkan perasaannya kepada sang tuan, kalau ia berani.

Ya, dan kisah ini dimulai di kediaman Phantomhive yang megah, besar, dan hanya diisi oleh 6 orang. Sebastian tengah mendekap di dapur. Di depannya tergeletak coklat yang amat sangat menggoda. Sebongkah coklat yang baru dimasak dini hari menjadi sebuah mahakarya di tangan Sebastian. Coklat itu diukir higga membentuk seuntai pocketwatch. Dengan cepat ia membungkusnya dengan kotak dan kertas kado yang bernuansa merah dan hitam, dark valentine (dun dun duunn).

Mungkin banyak yang tidak tahu, namun belakangan ini Sebastian selalu merenung di kamarnya memikirkan cara yang terbaik untuk menyatakan cintanya. Apakah dengan mawar? Dengan surat? Secara langsung? Bagaimana jika dengan kue bertingkat untuk Ciel? Tapi, nanti Ciel jadi gendut dan Sebastian tidak akan suka. Sebastian juga berguling-guling di kasurnya, berharap akan ada ide yang amat cemerlang. Dan saat ia menoleh ke arah kalender, Sebastian langsung tersenyum.

Dan inilah dia, di depan meja dapur dengan sebuah kotak yang menyimpan perasaan yang mendalam. Sebastian mengecamkan dalam dirinya, hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan. Mungkinkah cinta akan berpihak kepada mereka berdua? Sebastian menghela napas, dan membuka pocketwatch pemberian tuan mudanya Natal yang lalu, dan membukanya.

"Selamat pagi, Bocchan."

Tanpa disangka, sang tuan telah duduk dengan manis di tempat tidurnya, "Pagi."

Sebastian tersenyum lalu melangkah mendekat, "Tumben kau bangun pagi sekali, Bocchan."

Ciel langsung menajamkan matanya dan berkata dengan dingin, "Itu memuji atau meledek?"

Sebastian membuka gorden lalu menghadap Tuan mudanya itu, "Bukan keduanya. Anda terlihat sedikit pucat, apakah anda demam?" Sebastian hendak memegang dahi Ciel, namun Ciel menghindari tangan sang iblis itu, "Waa!"

Sebastian terkejut lalu duduk di kasur dan menghadap anak yang imut itu, "Bocchan? Ada apa?" Ciel memalingkan matanya dari sang butler, lalu ia berkata dengan nada datar, "Aku hanya terkejut."

Perkataan itu makin membuat Sebastian bingung, "Karena apa?" Ciel kembali melihat sekeliling dan ia berkata, "Pohon.", Dan Sebastian yang semakin bingung mendekatkan kepalanya kepada Ciel, "Pohon?"

Ciel langsung berkata dengan lantang, "Anginnya kencang sekali, pohonnya sampai mau tumbang!" Sebastian menaikkan salah satu alisnya, "Hha?"

Ciel mengetahui dari ekspresi pemuda yang tidak biasa, bahwa ia telah mengatakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Ciel menghela napas, dan berkata, "Sudahlah, tak usah kau pikirkan."

Sebastian berdiri, dan mulai menghidangkan sarapan, "Baiklah. Saya telah menyiapkan..."

"Earl Grey." Tebakan anda benar! Satu poin untuk Ciel Phantomhive!

Sebastian tersenyum lalu melanjutkan, "Benar! Dan apakah anda ingin..."

Sekali lagi Ciel memotong kalimat Sebastian, "Aku mau puding roti dengan es krim vanilla."

"Saya tidak menanyakan hidangan penutup apa yang anda inginkan, Bocchan." Sebastian berkata sambil tersenyum, "Puding roti bukan hidangan penutup." Jawab Ciel datar. Sebastian tertawa kecil dan membalas, "Ah, masa?", Ciel lalu menarik napas dan memberi penjelasan singkat, "Roti kan karbohidrat. Jadi aku bisa makan pagi yang manis. Bukankah itu bagus?"

Sebastian memegang dagunya dan mengangguk. "Impian semua anak.", "Lebih bagus daripada kau menyiapkan segala menu masakan yang ternyata hanya kumakan separuh, bukan? Roti itu karbohidrat, puding ada vitaminnya dan vanilla terbuat dari susu, jadi mengandung kalsium." Tambah Ciel dengan nada yang masih datar itu.

Sebastian mengelus pelan dahinya, "Bocchan, apakah anda membaca buku biologi sebelum tidur?"

Ciel terkejut dan membantah Sebastian, "Itu kan pengetahuan umum!", "Bocchan, bagaimana dengan protein?" tanya Sebastian

"Protein?"

"Kau tahu, yang ada dalam ikan, telur, juga vitamin yang baik untuk tubuh seperti buah-buahan dan sayuran." Jelas Sebastian sambil menunjukkan segala macam makanan yang secara misterius ada itu, "Kini siapa yang membaca buku biologi sebelum tidur, hah?" ujar Ciel dengan senyuman sinis terpasang dimukanya.

Sebastian hanya tersenyum, "Bangunlah dari tempat tidurmu, Bocchan. Dan akan kupersiapkan sarapanmu di ruang makan."

"Sebastian?" Sebastian kembali menatap sang tuan, "Ya?"

"Tehku." Sahut Ciel sambil mengulurkan tangannya. Sebastian menuang cairan hangat dengan aroma yang kuat ke dalam sebuah cangkir porselen berwarna biru muda, lalu diberikannya kepada tangan mungil itu.

"Tentu. Masih panas, jangan sampai lidahmu terbakar."

Setelah pekerjaan yang melelahkan, Sebastian kembali merenung di dalam kamarnya yang jarang ia gunakan. Setelah berjam-jam berpikir, mukanya langsung kembali cerah,

"BAIKLAH! Aku akan mengatakannya hari ini!"

Ciel sedang berada di ruangan kerjanya, melakukan pekerjaan yang membosankan. Tumpukan kertas berada di sebelah kiri mejanya, dan ia tampak serius menanggapi isi semua tulisan itu. Sebastian berada di depan mejanya, menunggu si tuan muda menyelesaikan pekerjaannya itu. Yah, sepertinya ia hilang kesabaran karena Sebastian baru saja membuka mulutnya dan, "Bocchan."

"Hm?" Ciel hanya menaikkan satu alis tanpa memalingkan wajahnya dari kertas-kertas itu, Sebastian memberanikan dirinya, "Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu—."

"CIEL!" Elizabeth langsung menyerbu Ciel dan memotong kalimat Sebastian yang terkejut, "Nona Elizabeth?"

"Ah! Kau imut sekali~~." Elizabeth memeluk Ciel dengan erat tanpa melihat iblis dengan amarah membara di belakangnya, Ciel merasa sesak dengan pelukan mematikan yang diberikan gadis pirang itu, "He..hentikan.."

"Kau tahu ini hari apa?" tanya Elizabeth polos seraya melepas pelukannya, Ciel membereskan rambutnya dan merespon, "Hari di mana aku ingin istirahat dengan tenang?"

Elizabeth menggeleng, "Bukan, Ciel! Ini hari Kasih Sayaaang!", Ciel menaikkan alis, "Terus?"

"Karena ini tradisi, aku telah membuatkanmu coklat!" Elizabeth menaruh coklat yang berbentuk hati yang dibungkus oleh kotak yang berwarna pink dengan pita-pita. Ciel berkata dengan datar, "Kau buat ini sendiri?"

Elizabeth tersenyum, "Tentu saja!"

Namun Ciel hanya menatap cokelat itu dan berkata, "Huwa." Mata Elizabeth membelalak,

"Itu saja yang kau akan katakan? 'HUWA.'? Kupikir kau akan memujiku atau sesuatu."

"Aku belum selesai bicara—." Namun di saat itu, tebak siapa yang datang kembali memotong kalimat seseorang, "CIEL! Lihat! Lihat!" seorang bocah sebaya membawa kotak berwarna ungu bernuansa merah ke hadapan Ciel yang terkejut, "Alois? Mengapa kau ada di sini?"

"Aku hanya ingin memberimu ini." Sahut Alois sambil menyerahkan kotak itu disamping milik Elizabeth. Ciel kembali bertanya, "Kau yang membuatnya?", Alois menghela napas sombong, "Ya iyalah. Dengan tambahan bumbu spesial."

"Apa itu?" tanya Ciel dengan nada cuek yang tengah berharap di dalamnya ada racun yang bisa membuatnya pergi dari sini.

"Cinta~!" seru Alois dengan ceria,

Namun Ciel hanya menatap cokelat itu dan berkata, "Huwa." Mata Alois membelalak,

"Itu saja yang kau akan katakan? 'HUWA.'? Kupikir kau akan memujiku atau sesuatu."

"Seperti deja vu." Sahut Ciel sambil memijat keningnya sedikit. Yah, harinya akan bertambah buruk,

"CIEEELL~!"

Karena Pangeran Soma Asman Kadar memasuki ruangan ini!

"Aduh, ini lagi." Ciel semakin ingin membunuh dirinya sendiri, namun Soma langsung memeluknya, "Tahu tidak, hari ini Valentine!", Ciel pasang muka datar, "Lihat ini! Aku membuatkanmu coklat! Sampai pagi, lho!" sahutnya lagi sambil menyodorkan cokelat bundar yang dilapisi bungkusan emas.

Namun Ciel hanya menatap cokelat itu dan berkata, "Huwa." Soma membelalak,

"Itu saja yang kau akan katakan? 'HUWA.'? Kupikir kau akan memujiku atau sesuatu."

Ciel yang mulai panik menggebrak meja dan berteriak kepada Sebastian yang memendam amarahnya sejak tadi, "Sebastian, hentikan mereka semua mengatakan hal yang sama!"

"Bocchan—."

Seketika, banyak orang menyerbu ruang kerja Ciel! Ada yang membawa coklat dalam berbagai bentuk dan warna, ada yang membawa perlengkapan untuk menculiknya, membunuhnya, bahkan ada yang membawa surat untuk ditanda-tangani, dan itu semua membuat Ciel teriak seperti orang panik,

Maaf, dia BENAR-BENAR panik.

"HWAAA!"

Sebastian langsung menyerbu kerumunan itu dan bertanya saat ia bertemu dengan Ciel, "Bocchan! Kau tidak apa-apa?" Ciel memutar bola matanya dan berkata, "Oh, aku sangat apa-apa!"

"Baiklah, sebentar..." seru Sebastian sambil mencoba menyingkirkan beberapa orang yang terlalu dekat ddengan tuan mudanya, "Hei, Hei, hei! Mengapa kalian ini?"

"Waa!" tanpa disangka, Sebastian menjatuhkan coklatnya yang ia simpan di kantung kemejanya dan seseorang yang bodoh malah menginjaknya.

Krek.

"Ah—." Sebastian tak bisa berkata-kata. Namun amarah tidak lagi bisa ia tahan. Dengan nada yang tegas dan penuh amarah ia menunjuk pintu keluar dan berkata. "Keluar."

Semuanya hening dan memandang Sebastian. Ciel berkata dengan nada biasa, "Sebastian?"

"KELUAR SEMUANYA SEKARANG!" perintah Sebastian dengan lantang. Dan kurang dari semenit, semua orang keluar, hanya menyisakan Sebastian, Ciel, dan beberapa coklat yang ditinggalkan mereka.

Jangan lupa coklatnya Sebastian yang remuk di lantai itu.

"A...Ada apa..denganmu?" tanya Ciel dengan nada yang sedikit cemas. Sebastian menghadap Tuan Mudanya, "Bocchan...", Ciel kembali berkata, "Sebastian?"

"A..aku.." Sebastian melangkah maju ke arah Tuan Mudanya yang menyuruhnya untuk mendekat padanya, "Ada sesuatu yang ingin kuberikan, kemarilah."

Lalu Ciel menyerahkan sebuah bungkusan coklat berbentuk hati yang lumayan tipis, dengan muta datarnya yang terlihat berkilauan di mata Sebastian,"Ini."

"Itu..." Sebastian terkejut, lalu menatap Tuan mudanya, lalu cokelat itu. Ciel langsung memberikannya, "Ini cokelat untukmu, aku tidak punya keahlian memasak, jadi aku beli saja di toko." Serunya dengan nada datar dan santai, mata Sebastian berbinar sambil menerima coklat pemberian Tuan mudanya, "Bo...Bocchan..."

"Bungkus yang terinjak itu, cokelat kan?" tanya Ciel sambil menunjuk ke arah coklat yang terinjak itu, Sebastian menoleh dan mengangguk sedikit, "Ya."

Lalu Sebastian berkata, "Sebenarnya mau kuberikan kepada Bocchan, tetapi."

Ciel langsung menjawabnya, "Tak apa, berikan itu padaku."

"Be..benarkah?" tanya Sebastian. Ciel tersenyum, "Tentu saja. Kau sudah membuatnya dengan susah payah, kan?"

"Yah." Sebastian hanya memberikannya coklat yang terinjak itu. Lalu keduanya memakan coklat masing-masing sambil bercanda tentang betapa gilanya hari ini.

Memakan cokelat pemberian, sambil bercanda tawa bersama seseorang yang disayang.

Sungguh, hari yang bahagia.

Dan mereka menutup hari dengan ciuman yang penuh kasih.

Selesai makan coklat itu, Sebastian berkata sambil memegang tangan Bocchannya, "Bocchan, ada satu hal yang harus kukatakan padamu."

Ciel langsung menyelak, "Sudahlah. Aku tahu."

"Benarkah?" Sebastian heran, Ciel hanya tersenyum sinis dan berkata,

"Aku tidak akan memakan coklat pemberian itu hari ini, kok. Tenang saja!"

DWEENG~

Sebastian tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hahaha...kau benar-benar bisa membaca pikiranku, Bocchan!"

Malamnya di kamar Ciel,

Sesaat Ciel mau tidur, dia mengenang semua yang terjadi malam ini, lalu saat itulah Ciel bangun dari posisi terlentangnya dan berkata, "Apa yang baru saja kulakukan?"


SEB: Yah, bisa dikatakan butler yang sempurna seperti saya dapat mencapai kegagalan. Tapi, dia yang berhasil adalah dia yang bangun dari jatuhnya dan mencoba lagi!

PERNYATAAN CINTA TAKE ONE: FAILED

Semoga Hari Valentine anda lebih menarik daripada pengalaman saya.


Better luck next time, Sebs! Menghadapi kepolosan si Tuan Muda itu ...

Chapter berikutnya, akan bertema hal yang sama dengan judul fic ini!

Kira-kira, pose apa yang membuat sang butler deg-degan dan salah tingkah?

Tunggu yaa!~~ *semoga lebih cepat*

/dan biasanya guruku akan berkata, "Di aminin dong!", dan kami akan menjawab, "Amiin, pak!"

DIA-LO-GUE.