Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
STAY © Mika Kim
Rate : T
Genre : Family, Romance
Warn : Gender-bender, Female!Naruto, Female!Kyuubi, OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD
DLDR!
Enjoy
Chapter 2 : Mission Failed!
.
.
.
.
.
"Kawaih Orenji in, Over!"
"Retto vervetto in, Over!"
"Kawaih orenji bersiap di posisi. Bagaimana dengan Retto vervetto, posisi aman? Over!"
"Retto vervetto, aman. Target belum terlihat, jadi retto vervetto masih setia menunggu. Over!"
"Tetap lakukan pengintaian, Kawaih orenji offu dulu, mau ngopi"
"Roger! Retto vervetto mau nabung dulu ke wc, soalnya mules abis makan rujak apel"
Kira-kira seperti itulah percakapan ala agen Mission impossible yang dilakukan oleh dua orang anak manusia berambut pirang dan yang satunya berambut merah melalui alat komunikasi mirip ponsel yang orang jaman sekarang namai walkie talkie, padahal jarak mereka hanya sekitar dua meter.
Dua anak manusia itu adalah penjahat elit kelas lele yang sedang bersiap menjalankan aksinya. Kali ini target penculikan indah mereka adalah anak seorang Menteri. Menteri itu terkenal dengan kecerdasannya yang konon melewati kadar batas kewajaran. Saking pintarnya, dulu ketika SMA, menteri itu sekalipun suka tidur dalam kelas saat pelajaran berlangsung, ia tetap bisa menjawab pertanyaan guru hingga membuat sang guru mangap seperti ikan yang kekurangan air. Jadi mereka penasaran, apa anaknya akan secerdas bapaknya? Karena mereka pernah dengar kata pepatah bahwa 'Buah yang jatuh itu akan bergelindingan di bawah pohonnya' jadi, mereka ingin membuktikan bahwa anaknya itu tidak mungkin cerdas karena kecerdasan sang menteri bergelindingan pergi ketika proses pembuatan sang anak [?]
Beberapa menit kemudian, si Red velvet aka Uzumaki Kyuubi kembali dari wc karena panggilan alam yang harus ia penuhi dan menghampiri adiknya, si kawai orange, yang sedang menikmati black coffenya di sebuah kedai dekat Toko Jemari Sally. Sebenarnya mereka masih berniat untul berkomunikasi lewat walkie talkie tapi karena sinyal di konoha lagi ada masalah dan suara jadi terdengar tidak jelas, keduanya memutuskan untuk langsung bicara face to face, biar tidak rempong.
"Kyuu-nee, kau yakin target kita kali ini adalah putra Menteri Nara?" Si kawai orange aka Naruto bertanya dengan nada sedikit khawatir. Kyuubi yang mendengar pertanyaan sang adik langsung mendengus dan tertawa sombong layaknya bos mafia. "kalau bukan anak seperti itu, memangnya siapa lagi yang akan kita culik, hm? Lagian sangat tidak lucu kan kalau kita nyulik anak tukang baso?" celetuk Kyuubi dengan seringai yang nampak di bibir indahnya saat membayangkan jumlah uang yang bisa ia peroleh dengan menculik anak Menteri Nara. Namun berbeda dengan Kyuubi, Naruto malah terlihat resah dan gelisah sambil diliatin semut merah yang berbaris di dinding dan menatapnya curiga seakan penuh tanya, apa yang sedang ia gundah gulanakan.
Merasakan hawa kemurungan sang adik, Kyuubi menghentikan imajinasi mandi uangnya dan menatap Naruto dengan tatapan menyelidik. "Naru-chan? Ada apa?" tanya Kyuubi terlihat penasaran.
Naruto mendongak, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kyuu-nee.. Apa kau tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang berbeda?" tanya Naruto pelan mengabaikan pertanyaan Kyuubi sebelumnya. Kyuubi mengernyit bingung. "Maksudmu?" Naruto menghela napas pelan. Mata birunya menerawang jauh keramaian area distrik pertokoan konoha. "Maksudku, kita menculik anak-anak dari kalangan orang biasa. Maybe, seperti anaknya uncle Murtu" jawab Naruto lagi membuat Kyuubi hampir saja menyemburkan cappucino yang diseruputnya. Kenapa dengan adiknya ini, astaga. "Maksudmu anak orang india pendek dan gemuk pemilik kedai di depan Toko Jemari Sally sana?" desis Kyuubi tak percaya. Matanya langsung tertuju ke seorang bocah botak yang sedang membantu ayahnya di sebuah kedai yang terkenal dengan es campur ABCD itu. Naruto mengangguk pelan. Bukankah itu terdengar lebih seru? Kyuubi memutar bola matanya bosan. "Kau sudah gila ya, Nar?" olok Kyuubi dengan tatapan mencemooh "Memangnya kalau kau minta uang tebusan jutaan Yen, Uncle Murtu dapat uang dari mana? Kontrakannya saja kudu nyicil" sambung Kyuubi gemas. Pikiran adiknya itu benar-benar di luar akal sehat. Lagian apa gunanya menculik anak yang berasal dari kalangan biasa? Mau dapat uang darimana orang tua mereka untuk memberi uang tebusan? Selain kemungkinan tebusannya yang kecil, resikonya lebih besar. Soalnya untuk kalangan orang biasa, dia pasti lebih mengandalkan polisi, berbeda dengan orang super kaya yang tidak akan babibu lagi saat dimintai uang tebusan apalagi kalau sudah di embel-embeli kata mutilasi, dalam jentikan jari pun uang sudah ada di tangan. Oh ayolah, Kyuubi hanya sedang berpikir rasional.
Naruto menghela napas. Oke, sepertinya dia memang sedang berpikir sinting. Apa yang dikatakan sang kakak itu benar adanya. Mana mungkin ia menyusahkan kalangan orang biasa karena penculikannya, hidup orang-orang itu saja sudah susah. Sebagai penculik yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan perdamaian dunia, ia tidak boleh menyusahkan orang lain. Beda ceritanya kalau orang itu kaya 'kan, menguras uang mereka jutaan yen tidak akan masalah, pikir Naruto nista.
"Kau benar, Kyuu-nee. Sepertinya otakku memang ada yang konslet" ringis Naruto. Ya memang sih, sejak penculikan seorang anak bernama Kou beberapa hari yang lalu, Naruto merasa ada sesuatu yang lain pada dirinya. Rasanya seperti ia tersengat ribuan tawon, antara geli dan sakit. Sering kali ia melamunkan anak itu.
Tunggu.. Jangan bilang ia sedang jatuh cinta?
Haaaa?
Dengan Kou? Bocah enam tahun yang memang tampan itu?
Noooo! Demi sertifikat penculik profesional yang ia dapatkan dari ketua PPAK [Persatuan Penculik Anak Konoha], mana mungkin ia jatuh cinta pada bocah? Dia bukan pedo! Ingat.
Naruto memukul kepalanya. Kyuubi sampai melongo melihat tingkah anarkis sang adik yang menganiaya kepala pirangnya sendiri.
"Nar, stop! Apa kau ingin membuat otak dungumu itu semakin dungu?" tegur Kyuubi berhasil menghentikan sang adik. Naruto menyengir watados. Ia kembali menerawang jauh.
Tidak, ia tidak sedang jatuh cinta oke? Dia hanya terlalu menyukai anak itu, apalagi tatapan matanya itu loh yang menampilkan sorot luka yang membuat Naruto penasaran. Dari semua korbannya, Kou lah yang memiliki tatapan berbeda kepada dirinya. Ia seakan melihat ada kerinduan di hati bocah enam tahun itu. Ada apa dengan Kou?
"Nar?" Kyuubi mengibas-ngibaskan tangannya depan wajah Naruto yang melamun.
"Naru-chaaaaan! Heyyooo! Kau masih hidup kan?" jerit Kyuubi dengan keras membuat beberapa orang yang lewat berbalik dan menatap Kyuubi horor, termasuk Naruto.
"Kau ini kenapa sih uring-uringan dari tadi?" cetus wanita berambut merah itu kembali menghancurkan lamunan Naruto.
"Oh, tidak" elak Naruto sambil menggaruk kepalanya yang gatal karena kutuan. /ngga/ gadis itu kemudian berseru "Kyuu-nee! Target sudah muncul" teriak Naruto sambil menunjuk bocah berambut Nanas yang baru saja keluar dari tempat latihan Taekwondo.
Wow, sepertinya target mereka kali ini benar-benar akan membuat duo Uzumaki si penjahat elit dan cantik akan bekerja extra. Lihat saja dua bodyguard berbadan kayak atlit angkat besi di kedua sisi bocah itu.
Kyuubi meringis. Ia menatap Naruto dengan tatapan siap bertarung. Naruto mengangguk mantap. Keduanya lalu berdiri dan saling bergenggaman tangan kemudian berdoa agar misinya kali ini berhasil.
"Kami-sama, semoga kami berhasil. Semoga kali ini engkau memberkati kami, dan mencegah segala kemungkinan buruk yang akan menjebloskan kami ke penjara. Kami masih terlalu muda dan terlalu cantik untuk jadi napi. Jadi, lindungi kami." Kyuubi memimpin doa dengan khidmat. Naruto menunduk menghayati doa dengan air mata yang hampir menetes.
"Amin" seru keduanya seusai doa dipanjatkan. "Bersatu kita teguh, bercerai kita nyelamatin diri masing-masing" keduanya mengucapkan motto mereka dengan lantang.
"Saatnya beraksi" ujar Kyuubi ala komando pasukan batalion kesepuluh yang siap memasuki area peperangan.
"Roger!"
...
Duo Uzumaki pun mulai melakukan aksinya. Pertama yang akan mereka lumpuhkan adalah kedua penjaga putra Menteri Nara. Bagaimana caranya? Biarkan wanita bekerja.
Dari balik pohon, Naruto mengamati gerak-gerik penjaga yang berjalan di kedua sisi Putra Nara menuju sebuah mesin minuman. Kalau dilihat postur wajahnya, kedua penjaga itu suka membaca majalah dewasa, karena meskipun wajah mereka terlihat datar, tapi ada kerutan di sudut bibir mereka. Itu artinya, orang itu sering tersenyum ero saat membaca majalan dewasa. Teori ini adalah teori baru yang ditemukan Naruto.
Oke, pengintaian berhasil. Naruto memberikan kode kepada Kyuubi yang sudah bersiap untuk memasuki medan perang yang entah sejak kapan berganti pakaian ala gadis remaja yang baru kena pubertas. Naruto mengacungkan jempolnya ke arah sang kakak. "Semoga berhasil" Naruto menyemangati melalui walkie talkie, Kyuubi mengangguk dan memasukkan alat komunikasinya kedalam tas jinjing.
Berpindah ke si Putra Menteri Nara.
Sedangkan di dekat mesin minuman, putra menteri Nara terlihat bingung untuk memilih minuman apa yang ingin ia beli untuk menghilangkan rasa hausnya yang membandel.
"Tuan muda, apa yang ingin anda minum? Kuku Jima? Teh jelas? Ichip Ocha? Cola? Teh cap ulat pucuk? Mijone? Akua? Atau potari sweat?" tanya si penjaga1 yang menyebutkan hampir semua isi mesin minuman itu. Putra menteri Nara terlihat berpikir keras. Matanya yang besar dan imut terlihat menari-nari menjajah isi mesin minuman yang kemudian berhenti di sebuah susu kotak bermerk Hailo.
"Aku mau itu paman. Soalnya aku mau tumbuh ke atas, bukan ke samping kayak anaknya paman Chouji" ujar si bocah lugu dengan tangan mungil yang menujuk kearah susu itu sambil berjinjit. Penjaga1 langsung memasukkan koin dan tibalah susu itu di tangan si bocah.
Saat si bocah sedang menikmati susunya, ada seorang wanita yang lewat berlenggak lenggok bak model fashion week sambil mengibaskan rambutnya yang berkilau membuat kedua penjaga putra menteri Nara terpukau. Mata keduanya tak lepas dari sosok bak bidadari berambut merah itu.
"Yes, mereka terpesona. Langkah selanjutnya adalah..." batin wanita itu menyeringai.
"Aduh!" Wanita itu meringis saat [pura-pura] jatuh, dengan wajah yang sok dikiyut-kiyutkan. Otomatis kedua penjaga yang sedari tadi mengikuti pergerakan si wanita cantik, menghampirinya dan you knowlah, berusaha modus.
"Nona? Anda tidak apa-apa?" tanya si penjaga1, terlihat khawatir. Tangannya lalu memeriksa kaki putih wanita itu.
"Nona apa kaki anda sakit?" Penjaga2 tidak ingin kalah dari si penjaga1 dan sok mulai memeriksa padahal cuma ingin merasakan kulit sehalus kapas milik si wanita berambut merah.
Wanita itu aka Kyuubi mendengus dalam hati. Kalau saja ia tidak sedang dalam misi, sudah pasti ia akan menggunduli kedua pria bertangan kurang ajar ini karena sudah menyentuh kulitnya yang super mulus karena perawatan mahal yang sering ia lakukan. Dengan wajah ala wanita teraniaya, Kyuubi memelas hingga membuat kedua penjaga itu hampir mati kehabisan darah gara-gara mimisan.
"Kakiku sepertinya terkilir" ujar Kyuubi sok lemah. "Tuan-tuan, bisakah anda membantu saya berjalan menuju toko sana? Sebagai gantinya saya akan mentraktir anda berdua minum" rayu Kyuubi mulai melancarkan akal bulusnya.
"Ini mah namanya kencan" batin keduanya narsis. Tanp o, kedua penjaga itu pun membantu Kyuubi untuk berjalan menuju toko yang dimaksud wanita itu dan melupakan putra menteri Nara yang sibuk membaca kegunaan susu Hailo untuk badan.
"Misi pertama berhasil, selanjutnya aku serahkan kepadamu, Naru-chan" batin Kyuubi lagi sambil tersenyum nista.
Naruto harus mengakui kehebatan kakaknya kalau dalam masalah meluluhlantahkan pria. Itulah keahlian Kyuubi. "Bagus Kyuu-nee, sekarang giliranku. Baby, I'm coming" ucap Naruto dengan seringai layaknya om om mesum. Wanita pirang itu pun menghampiri putra menteri Nara dan duduk di samping bocah itu.
"Ekhem!" Naruto berdehem, berniat untuk menarik perhatian bocah yang terlihat serius membaca kemasan susu Hailo yang ia minum. Naruto melirik melalui ekor matanya, rupanya dehemannya tidak digubris sama sekali.
"Ekhem hemmm" ulang Naruto sekali lagi. Kali ini lebih dramatis dari sebelumnya, tenggorokannya sampai sakit gara-gara berdehem terlalu lebay. Bocah itu mendongak menatap Naruto dengan tatapan datar. Naruto tersenyum watados.
"Kamu lagi ngapain, manis?" tanya Naruto sok akrab sambil mencondongkan tubuhnya ke arah bocah itu.
"Tante tidak lihat aku lagi ngapain?" Si bocah balik bertanya dengan nada sarkastis. Naruto sampai meremas ujung bajunya saking gemas karena ke sarkatisan anak ini. Kenapa bocah jaman sekarang kecil-kecil udah pada kurang ajar sih, tidak ada imut-imutnya sama sekali. Naruto menggerutu dalam hati. Wanita pirang itu lalu menghela napas pelan.
"Yang aku lihat sekarang hanyalah seorang anak tampan sedang minum susu peninggi badan" jawab Naruto asal membuat wajah bocah itu memerah. Naruto sampai tersenyum dalam hati. Oh rupanya.. "Oh, kamu ingin cepat tinggi, ya?" Si bocah makin menunduk, namun malu-malu ia mengangguk membenarkan. Aaa, akhirnya sisi bocahnya keluar juga 'kan.
"Siapa namamu?" Naruto mencoba masuk lebih dalam ke diri anak menteri Nara. Mata birunya menatap wajah si bocah yang terlihat merona.
"Shikadai" jawab si bocah dengan suara pelan. Naruto makin bersorak senang karena akhirnya bocah ini semakin membuka peluang baginya untuk menyukseskan rencana penculikan berkelasnya.
"Shikadai-kun, kamu tau tidak sih ada cara yang baru saja ditemukan oleh Profesor Sakamoto untuk membuat anak kecil tumbuh lebih cepat?" Naruto mulai mengarang cerita. Berharap anak ini akan tertarik dan semakin jatuh kedalam perangkapnya. Namun ekspektasi Naruto sepertinya terlalu jauh dari kenyataan. Bukannya tertarik, bocah itu malah mendengus dan menatap Naruto dengan tatapan malas.
"Tante, kau ini berusaha membodohiku ya? Meskipun aku masih kecil, aku sudah menghapal semua nama profesor yang ada di dunia ini. Dan tidak ada yang namanya profesor Sakamoto" cetus si bocah tajam. Kokoro Naruto rasanya seperti ditusuk karena dikalahkan dengan telak oleh bocah berusia enam tahun ini. Ternyata benar desas desus yang menceritakan tentang IQ keluarga Nara yang diluar batas kewajaran. Tapi bukan Naruto namanya kalau ia mengalah sekarang. Ia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kakaknya yang rela digodain pria berbadan kekar demi memberi kesempatan pada dirinya untuk mendekati anak ini.
"Wah. Kamu hebat ya, kamu sekolah dimana sih?" tanya Naruto sok kagum. Padahal udah kesal tingkat akut.
"Aku home schooling. Semua guruku itu Bule" ujar si bocah dengan nada sombong.
Naruto menyeringai. Bingo! Sekarang ia punya senjata baru untuk menaklukan bocah sotoy yang satu ini. Bukan sotoy sih ya, emang anak ini pinter, Naruto meralat dalam hati.
"Hee.. Home schooling?" Naruto bergumam dengan nada mencemooh. Shikadai mendongak menatap Naruto dengan dahi berkerut. "Kenapa?" tanya bocah itu tidak mengerti. Naruto menggeleng pelan. "Aku hanya kasihan padamu, Shikadai-kun" Naruto menghaluskan suaranya. Terlihat Shikadai makin bingung. "Kasihan sekali anak seusiamu harus merasakan belajar tanpa mengenal lingkungan sosial" ejek Naruto membuat bocah bernama Shikadai itu menggembungkan pipinya
"Berbeda dengan anak seusiamu yang menghabiskan waktu mereka di taman kanak-kanak. Bermain bersama dengan teman-teman sebayanya. Sedangkan kamu? malah asyik berduaan dengan bule yang sudah bau tanah. Sungguh sama sekali tidak asyik" celetuk Naruto panjang lebar, benar-benar niat mengolok bocah itu. Shikadai diam. Otak cerdasnya mencerna tiap perkataan wanita pirang yang duduk di sampingnya.
"Dan lebih parahnya lagi, kamu di paksa untuk belajar terlalu keras, padahal di usiamu yang sekarang, seharusnya kamu menikmati indahnya masa muda" tambah Naruto lagi, mengutip perkataan Guru olahraganya di SMA. Shikadai menunduk. Yang dikatakan tante ini sangat benar. Ia bahkan tidak pernah bicara dengan anak seusianya. Ia hanya di kelilingi oleh orang berjas hitam, bule berdasi, jiji yang mengajarinya di kelas taekwondo dan kakek-kakek berhakama yang selalu memaksanya mematuhi aturan kolot. Ia bahkan sangat jarang diijinkan berbicara dengan anak paman Chouji.
"Oh, dan biar ku tebak.. Kamu pasti tidak punya teman?"
Bingo!
Tubuh bocah itu menegang. Khukhukhu, Naruto tersenyum dalam hati. Meskipun tidak menjawab, sudah jelas bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah IYA. Dengan kurang ajarnya, Naruto malah merangkul Shikadai layaknya sedang merangkul seorang sahabat yang baru saja putus dengan pacarnya dan memberi semangat ke bocah itu.
"Tenang saja, Shikadai-kun.. Semuanya masih belum terlambat kok" bisik Naruto sambil mengusap bahu kecil Shikadai. Bocah itu lalu mendongak dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Benarkah? Aku masih punya kesempatan untuk memiliki teman?" tanya Shikadai sambil sesekali menarik napas panjang untuk mencegah air matanya meluncur. Ya Tuhan, Naruto jadi tidak tega. Kenapa sih harus nangis, ringis Naruto dalam hati. Naruto tersenyum tulus. Sungguh, ia mengutuk keluarga Shikadai yang tidak membiarkan anak ini untuk menikmati indahnya masa muda.
"Benar Shikadai-kun. Langkah pertama untuk itu adalah, aku akan menjadi temanmu" Wanita pirang itu tersenyum tulus. Mata Shikadai berbinar bahagia. "Hontou?" tanyanya memastikan. Naruto mengangguk. "Selanjutnya, bilang ke orang tuamu, kalau kamu udah ngga mau Home Schooling lagi, tapi kamu ingin sekolah di TK asli" perintah Naruto sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Shikadai. Bocah itu mengangguk semangat.
"Kalau mau, aku saranin kamu sekolah di TK sukidayo, di sana kamu akan bertemu dengan banyaaaak sekali anak seusia kamu" cetus Naruto dengan semangat. Tiba-tiba wanita pirang itu ingat dengan Kou saat menyebut nama sekolah tempat bocah raven itu bersekolah. Ah, mungkin saja nanti mereka akan bertemu jika Shikadai benar-benar pindah. Naruto senyam-senyum.
"Umm, nanti aku akan bilang ke Tou-san" seru Shikadai sambil merentangkan tangannya lebar saking bahagianya. "Arigatou, Tante pirang" sambung bocah itu dengan wajah merona. Naruto membalasnya dengan senyuman. Yes, inilah saatnya.
"Kalau begitu, untuk merayakan pertemanan kita, bagaimana kalau kita main ke Taman?" ajak Naruto mulai melangkah ke tahap inti penculikannya. Shikadai yang terlalu senang layaknya remaja ababil yang tengah dilanda cinta tanpa berpikir panjang mengiyakan ajakan Naruto.
Baru saja kedua mahluk berbeda jenis kelamin dan usia itu berjalan beberapa meter sambil berpegangan tangan bak anak-ibu, tiba-tiba langkah mereka terhenti.
"Tante?"
Wajah Naruto menegang saat mendapati seorang bocah berdiri di hadapannya. Serius, Naruto kini terlihat seperti wanita yang tertangkap basah sedang selingkuh oleh kekasihnya. Shikadai yang berada di sisi Naruto mendongak karena Naruto tak kunjung bergerak, sepertinya arwah tante pirang itu sudah tidak berada lagi di dalam raganya.
"Tante, daijoubu?" Shikadai bertanya sambil menggoyangkan tangan wanita pirang itu. Sedangkan mata si pirang masih terpaku ke sosok bocah di hadapannya.
"Kou?" Naruto bergumam. Ia tidak percaya bisa bertemu dengan anak ini lagi. Kenapa Konoha bisa sesempit ini?
"Kou? Kau kenal dengan wanita ini?" tanya sosok yang berdiri di samping si bocah yang bernama Kou. Naruto sembuh dari keterkejutannya dan perhatiannya teralih ke sosok yang berdiri menjulang di samping Kou dengan tampang super datar kayak tembok. Naruto mengernyit, kenapa wajah orang itu tidak asing?
"Papa, dia orang yang telah menemaniku di archade beberapa hari yang lalu" cetus Kou, membuat mata sang Papa membulat dan tubuh Naruto menegang.
"Papa?" batin Naruto berusaha meyakinkan dirinya sedang salah dengar. Siapa tau saja kan, tadi yang diucapkan Kou itu bukan Papa?
"Jangan-jangan kau.." Mata kelam Papa Kou menatap tajam kearah Naruto. Sedangkan otak Naruto kini sudah membunyikan alarm tanda bahaya. Wanita itu lalu menunduk ke arah Shikadai.
"Shikadai-kun, aku tiba-tiba ada urusan. Kamu telfon seseorang untuk menjemputmu, lain kali kita akan bertemu lagi" bisik Naruto sambil mengusap kepala Shikadai dan bocah itu mengangguk patuh. Naruto tersenyum kecut, karena misinya sudah dipastikan gagal total. Dengan kecepatan cahaya [?] Naruto berbalik dan berlari meninggalkan ketiga onggok manusia yang salah satunya sudah menatapnya dengan mata berapi-api.
"Sialan! Mau lari kemana kau?" teriak Sasuke, papanya Kou, hingga membuat Kou dan Shikadai berjengit saking terkejutnya. Sasuke pun langsung mengejar Naruto yang berlari sekuat tenaga. Kou yang tersadar dari keterkejutannya langsung menyusul sang papa, namun saat melewati Shikadai, Kou menunjuk matanya sendiri dengan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk tanda V kemudian mengarahkan kedua jemari kecilnya itu kearah Shikadai posesif, seolah mengisyaratkan bahwa ia sedang mengawasi bocah berambut nanas itu. Shikadai mengernyit. Apa-apaan itu?
...
Naruto berlari sambil mengutak-atik ponselnya. Alat walkie talkienya sudah tidak berfungsi, jadi ia memutuskan untuk menghubungi Kyuubi melalui ponsel. Dengan napas yang sudah terputus-putus, Naruto merungut karena Kyuubi tidak kunjung mengangkat panggilan darinya. Apa kakaknya sebegitu menikmati kencannya dengan pria berbadan kekar itu hingga tidak punya waktu menerima panggilan?
"Kyuu-nee, angkat plissss" desah Naruto hampir mati gara-gara kehabisan napas. Ia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah setan berambut pantat ayam itu masih mengejarnya atau tidak.
"Berhenti kau, dasar penjahaaaat!" raung Sasuke dengan wajah memerah antara marah dan kepanasan. Sial, wanita itu larinya cepat juga, gerutu Sasuke mengutuk kelincahan Naruto.
Naruto menyesal karena sudah menoleh. Ia tidak pernah bermimpi seumur hidupnya akan dikejar layaknya tukang nyolong sendal seperti ini. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah, Kyuubi tidak kunjung mengangkat telfonnya.
"Halo, Naru-chan?"
Oh, akhirnya diangkat juga.
"Kyuu-nee, astaga kau kemana saja?" jerit Naruto gemas. "Naru? Kau sedang lari?" tanya Kyuubi di seberang telfon. Naruto menarik napas, kepalanya sudah pusing karena sudah berlari cukup jauh tanpa istirahat. Namun jika ia berhenti sekarang, ia pasti akan membusuk di penjara.
"Kyuu-nee! Gawat!" teriak Naruto membuat Kyuubi menjauhkan ponselnya dari telinga. "Apanya yang gawat, Naru-chan?" balas Kyuubi tidak mengerti.
"Abort the mission, abort!" ujar Naruto dengan napas tersenggal. "Ha? Aborst? Kau menyuruhku aborsi? Aku tidak hamil, Naru-chan!" tanya Kyuubi lagi. Jelas ia kebingungan. Pacaran saja tidak pernah, adiknya malah dengan kurang ajar menyuruhnya aborsi, apa-apaan itu? "Abort, Kyuu-nee. Maksudnya batalkan!" geram si pirang frustasai. Astaga, kenapa kedunguan Kyuubi harus kumat di waktu genting seperti ini? Naruto semakin gila, mana suara Sasuke yang meneriakinya semakin dekat. Naruto mengutuk jalanan yang seperti di setting untuk sepi hari ini. Sialan!
Akhirnya Kyuubi mengerti. Lagian Naruto sok pake bahasa inggris, ia kan agak buntu kalau bahasa inggris. Ringis Kyuubi.
"Berhenti kau!" Samar-samar Kyuubi bisa mendengar suara teriakan seorang laki-laki di seberang telfon. Kini ia mengerti bahwa adiknya sedang berada di posisi terpojok. Kyuubi beranjak meninggalkan kedai tempat ia sedang ngopi dengan bodyguard Nara tanpa mempedulikan teriakan-teriakan kedua penjaga itu.
"Naru-chan, siapa yang mengejarmu?" Kyuubi menggigit kukunya saking khawatir dengan keadaan sang adik.
"Kyuu-nee.." Napas Naruto terdengar terputus. "Kita bertemu di titik X. Jangan kesini" ujar Naruto. Kyuubi bergumam sambil berlari menuju ke tempat yang dimaksud oleh Naruto. "Kyuu-nee, tapi jika terjadi apa-apa, berjanjilah kau akan merawat Kurama dengan baik, dan jangan memberinya ikan Teri, kau bisa membuatnya tersedak" Naruto mengingatkan dengan suara yang hampir tidak terdengar. Disaat seperti ini Naruto masih mengingat kucing kesayangannya. Kyuubi mengutuk sang adik yang tiba-tiba berbicara seakan ia sedang sakaratul maut.
"Kampret, jangan bicara seolah kau akan mati" Kyuubi sok tegar, padahal hatinya sudah mencelos mendengar pesan adiknya. Bagaimana kalau Naruto sampai tertangkap? Tidak! Ya Tuhan, ia berjanji akan insyaf dan pensiun jadi penjahat kalau adiknya bisa lolos.
"Kyuu-nee, sayonara!"
Tut! Tut! Tut!
"Halo? Naru-chan? Haloooo, Narrrr?" Sambungan terputus. Kyuubi berhenti berlari, ia menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar. "Naruto?"
Air mata Kyuubi tumpah. Lututnya terasa lemas, seluruh tulangnya terasa berubah menjadi agar-agar. Wanita itu jatuh terduduk.
"Naruuuuuu!"
...
"Sialaaaan, kenapa pulsanya habis sih?" gerutu Naruto seperti ingin membanting ponselnya yang tidak berguna sekarang. Kakinya sudah sangat lelah dan rasanya mau patah karena telah berlari selama sekitar lima belas menit tanpa berhenti, dan si pantat ayam itu masih mengejarnya. Astaga, tidak bisa kah orang itu memaafkannya dan mengikhlaskan uang seratus juta yennya yang sudah ia dapatkan? Kou kan tidak apa-apa, kenapa pria itu begitu bernafsu ingin menangkapnya, sih?
"Papaaa!"
Samar-samar Naruto mendengar teriakan anak kecil. Itu suara Kou. Ia menoleh dan mendapati Kou yang rupanya sedari tadi ikut kedalam lomba adu kecepatan yang dilakukan Naruto dengan papanya Kou. Sasuke yang notabene adalah papanya Kou malah menulikan telinga, mengabaikan teriakan sang anak gara-gara kabut amarahnya terhadap seorang wanita pirang.
Mata Naruto membulat saat bocah itu terhuyung dan jatuh tersungkur di atas aspal. Naruto berhenti tiba-tiba dan langsung mengubah arah larinya menjadi berlawan dengan Sasuke.
"Kou!"
Wanita itu segera menghampiri Kou yang tersungkur. Sasuke berhenti tiba-tiba dengan mulut yang menganga dengan sangat OOC. Apa yang sedang terjadi? Anaknya jatuh. Mantan penculik anaknya menolong sang anak.
Tunggu..
"Astaga Kousuke?!"
Dan akhirnya Sasuke pun berhasil mencerna bahwa anaknya sedang sekarat gara-gara kelelahan.
"Kou.." panggil Naruto sambil menepuk-nepuk pipi bocah berusia enam tahun itu. Namun si bocah tak kunjung membuka mata. Ia memangku tubuh Kou yang terasa dingin. Napas bocah itu pun terdengar terputus-putus. Nampaknya sejak tadi Kou juga berlari.
"Kou, bangunlah.. Ku mohon.." bisik Naruto sambil menyibak pony bocah enam tahun yang lepek karena keringat. Wajah Kou pun pucat seakan tidak ada setetes darahpun di sana.
"Jangan sentuh putraku, penjahat!" desis Sasuke tajam berusaha merebut Kou dari pangkuan Naruto. Naruto mendelik tidak suka. "Bisakah kau sejenak melupakan dendammu? Putramu sedang sekarat, dan kau masih memikirkan dendammu? Orang tua macam apa kau ini?" balas Naruto sinis tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Sasuke sampai harus menahan amarahnya yang hampir meledak melalui kepalan tangannya. Memangnya siapa penyebab acara lari-larian ini! Dasar idiot.
Mengabaikan intensitas Sasuke sebagai papanya Kou, Naruto kembali mencoba membangunkan bocah itu. "Kou.." panggil Naruto lagi sambil menggosok telapak tangan mungil milik Kou. Sasuke mengusap pipi sang anak. "Kou, bangunlah. Papa di sini"
Naruto menatap Sasuke tidak percaya. Benarkah yang baru saja bicara selembut itu adalah pria di hadapannya ini? Ia ingat betul bagaimana pria itu meraung seperti orang kesetanan karena amarah yang meletup-letup ketika meneriaki dirinya, sangat kasar. Tapi beda sekali kalau bicara dengan Kou. Dasar diskriminasi. Apakah orang ini tidak pernah diajarkan untuk memperlakukan semua orang dengan sama?
Hei.. Memang lu siapa Nar? Kamu lupa siapa yang sudah menculik anaknya? Inner setan Naruto mengingatkan.
"Bagaimana ini? Kou tidak mau bangun" rutuk Naruto sambil terus menggosok telapak tangan Kou yang mulai mendingin. Bocah mungil itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun. "Sepertinya kau harus memberinya napas buatan" ujar Sasuke sinting. Mata Naruto sampai membola. "Kau gila?" semprot Naruto. "Dia kelelahan, bukan habis tenggelam" sambung wanita pirang itu lagi. Sasuke dengan wajah temboknya malah menatap Naruto seakan mengajak wanita itu berkelahi
Tanpa diduga, kelopak mata Kou perlahan terbuka. Wajah pertama yang bocah itu lihat adalah wajah cantik yang sangat ia kenali. Wajah yang dibingkai rambut pirang cerah. Ah, apa ia sedang di surga?
"Kou?" tegur sosok wanita pirang itu. "Tante? Apa aku sudah ada di surga?" Naruto dan Sasuke sweatdrop berjamaah. Naruto menggeleng. "Kamu masih di Konoha, Kou. Syukurlah kau sudah bangun" desah Naruto lega. Namun tanpa ia duga bocah enam tahun itu malah bangun dan memeluknya. Mata biru Naruto sampai membulat dan Sasuke bahkan tidak percaya Kou memeluk mantan penculiknya.
"K-kou?"
"Aku merindukanmu, Tante.."
Ha?
Ha?
"Dobe! Pelet apa yang sudah kau pakaikan ke putrakuuuuuu?"
...
Kyuubi berjalan tak tentu arah. Kini ia merasa seperti butiran debu yang berjalan tak tau arah jalan pulang. Kenapa? Setelah orang tuanya, kenapa sekarang adiknya yang harus gugur? Bagaimana bisa ia akan hidup di dunia ini dengan sebatang kara?
"Nar.. Kamu kok tega banget sih ninggalin Onee-chan?" Kyuubi sesegukan. Sesekali ia menarik ujung kerah bajunya untuk mengelap ingus yang meler dari kedua lubang hidungnya karena menangisi gugurnya sang adik di medan pertempuran. Padahal adiknya cuma dikejar, kenapa ia harus selebay ini? /inner author/
Saking asyik meratapi nasibnya, wanita berambut merah yang sudah acak-acakan itu tidak sengaja menabrak sesuatu yang keras.
Tidak. Bukan tiang. Tiang tidak akan sebesar dan sewangi ini kan? Meskipun hidungnya sedang dipenuhi ingus, akan tetapi indera penciuman wanita itu masih bisa difungsikan. Ia masih bisa membedakan mana aroma parfum limaribuan dan mana aroma parfum jutaan. Dan ini adalah aroma parfum jutaan.
Kyuubi mendongak. Oh, dia menabrak seorang pria yang sedang menyeret sebuah koper besar.
"Nona? Kau baik-baik saja?" tanya pria itu lembut. Nada suaranya terdengar khawatir, melihat betapa serampangannya penampilan wanita berambut merah di hadapannya ini. Kyuubi menganga, saking terpesona akan ketampanan pria yang mengalahkan aktor bollywood idola adiknya, Syakhrukh khan.
"Hei?" Orang itu mengibaskan tangan di wajah Kyuubi.
"Ikemen.." Kyuubi bergumam tanpa sadar. "Tapi.." Kyuubi menyadari sesuatu yang janggal di wajah tanpan pria itu. Ah.. "Keriput.."
Senyum di wajah pria tampan itu luntur dan berakhir dengan mojoknya si pria tampan di sudut trotoar sambil mengorek tanah menggunakan lidi. Sungguh, dikatai keriput adalah hal yang paling membuat hidupnya seakan berakhir. Kenapa? Kenapa Tanda lahir ini harus berbentuk garis didekat hidung, ya rabb? Pria itu meratapi ketidakberuntungannya dengan perasaan gondok setengah mati.
Kyuubi melongo.
"Kek? Apa aku menyakiti perasaanmu?" Kyuubi merasa bersalah.
Namun aura kesuraman semakin menguar dari punggung pria itu saat mendengar panggilan 'Kakek' yang ditujukan untuk dirinya. Dari sekian banyak nama panggilan, kenapa harus kakek? Dunia sungguh tidak adil.
"Aku baru dua puluh sembilan tahun. Kenapa harus kakek?"
Hehhhhh? Kyuubi menganga lebar.
"Dua puluh sembilan tahun? usooooo?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung xD
Ucapan terima kasih untuk:
Narura aihara | Nejia | Kokoro Nagawa | Daku kage | Leonardoparuntu9 | Moku-chan | Saniwa satutigapulah | Arum Junnie | Kuraublackpearl | Melani Lii | Amelia455 | Khioneizys | Park RinHyun-Uchiha | Lady Spain | Vilan616 | Rini | Lisabluebeery544 | Cho | Hannysha | Hamura | Black Campaign | Fatan | Trisnawati | My | The B1gBoy | Neot | Elferani | Diena Luna no Azaka | Indra223 | Guest | XxxM. | Eushifujoshi | Kid-4y | Master SOLOMON.
Dan semua yang sudah membaca, menfollow, dan menfavoritkan cerita ini.
Pertanyaan:
1. Kenapa duo ujumaki jadi penculik anak?
Jawab: Karena mereka ga punya profesi lain /ha?
2. Siapa ibunya Kou?
Jawab: ibu Kou adalah.. Author /kicked/
Belum tau sih. Nanti kita sama-sama cari tau siapa mamanya Kou /kickedagain/
Yang jelas, mamanya kou rambutnya gelap, ga warna warni kek Naruto, apalagi Kyuubi. Ada yang bisa nebak?
Dah yaa..
Saya mohon maaf kalau chapter ini tidak sesuai ekspektasi dan mengecewakan manteman semua ^^)v
Maaf ga bisa balas review, tapi saya baca kok semuanya. Makasih yaa~
Salam.
