Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

STAY © Mika Kim

Rate : T

Genre : Family, Romance

Warn : Gender-bender, Female!Naruto, Female!Kyuubi, OC, OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD

DLDR!

Enjoy

Chapter 3 : Unexpected Condition

.

.

.

.

.

Dunia sudah gila. Begitupun dengan orang-orangnya. Setidaknya hal inilah yang sekarang dipikirkan oleh seorang pria tampan luar binasa, kaya raya, duren alias duda keren bernama Uchiha Sasuke.

Mata pria beranak satu itu menatap sinis ke arah wanita yang dengan tidak tahu malu sedang bermesraan dengan putra semata wayangnya di depan matanya sendiri. Yang membuat Sasuke kesal bukanlah fakta bahwa wanita pirang cantik imut dan penjahat kelas atas itu tidak meliriknya sama sekali dan terlihat lebih antusias tertawa bersama sang anak, namun kenyataan bahwa wanita pirang kurang ajar ini adalah mantan penculik yang sudah menipu dirinya mentah-mentah. Sialan! Kalau boleh jujur, Sasuke sudah muak mendengar wanita itu tertawa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Jangan bilang Sasuke itu kejam, demi Tuhan ia sudah sangat ingin menjambak rambut pirang hasil manipulasi pewarna tekstil dan menjejalkan kepala berotak dungu itu ke bak cuci piring.

"Cukup!"

Sasuke menggebrak meja restoran hingga menarik perhatian kedua insan yang sedang dimabuk asmara. Napasnya naik turun dengan keras. Ingatkan ia setelah ini untuk minum larutan penurun hipertensi agar ia tidak mati karena kena serangan jantung.

"Papa?"

Suara imut Kou memanggil sang papa. Mata bulatnya menatap tidak mengerti melihat betapa cemburunya Sasuke sampai menggebrak meja tanpa tahu malu.

"Cukup, Kou! Papa sudah tidak bisa menahan hasrat papa!"

What the hell!

Naruto sampai menyemburkan jus jeruk yang ia sedot melalui sedotan mendengar kalimat yang baru saja pria bermuka tembok itu luncurkan dari bibirnya yang seksi. Ia tidak menyangka mulut setan pantat ayam ini benar-benar laknat. Tidak ada kah kosakata lain yang bisa ia gunakan selain kata itu? Astaga! Naruto menutupi wajahnya dengan tas jinjingnya sendiri saking malunya karena datang dengan orang sinting seperti papanya Kou.

Beberapa wanita yang sedang makan tidak jauh dari meja keluarga super unik itu, sudah menampilkan semburat merah. Aduduh, si pria tampan ini rupanya sedang kelebihan hormon sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara vulgar di depan umum. Uhuk, dasar mesum.

Sasuke menyadari tatapan-tatapan anu dari wanita-wanita dalam restoran itu. Sialan! Apa ia salah bicara? Batinya frustasi.

"Pa? Papa kalau sudah tidak bisa untuk menahan boker kan bisa ke toilet, aku nungguin papa disini. Kan ada tante pirang yang temenin" ujar Kou salah paham. Ppptt, Naruto menahan tawa.

Sasuke mendelik sinis ke arah Naruto dan langsung saja wanita itu berdehem dan menghentikan tawanya. Ya ampun, bisa kah orang ini menatapnya biasa saja. Tatapannya itu seakan ingin menggunduli Naruto.

"Cukup Kou! Maksud papa, papa sudah sangat gatal-"

"Papa kalau gatal sini aku garukin" potong Kou cepat sambil mengeluarkan sebuah tangan palsu dari dalam tas maskotnya dan menatap sang papa bersemangat. Lagi-lagi para wanita menjerit tertahan. Aduh, benar-benar sudah tidak tahan ya? Lirikan genit sekarang ini mengarah ke Naruto.

Apa, sih? Balas Naruto menatap mereka tidak mengerti.

Sasuke ingin sekali membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Mantra cuci otak apa yang sudah penjahat sialan tapi cantik itu berikan kepada anaknya? Kenapa sekarang Kou sangat tidak uchiha?

Gzz!

"Enough!"

Oke. Papanya Kou sudah tidak bisa menahan amarahnya yang sudah memuncak di ubun-ubun. Dengan sekali tarikan, ia menyeret Naruto keluar dari restoran dengan sangat tidak berperikepenculikan. Naruto sampai meringis beberapa kali karena tarikan pria ini benar-benar menyakiti pergelangan tangannya.

"Apa yang papa lakukan?" pekik bocah itu langsung lompat dan mengikuti sang papa yang menyeret si tante kesayangan.

"Uhhh.. Selamat bersenang-senang" teriak para pengunjung restoran lainnya yang sudah terlena dengan drama delusi yang mereka saksikan sejak tadi, padahal kenyataannya jauh dari ekspektasi.

Di luar restoran, Sasuke menghempaskan Naruto dengan keras hingga wanita itu terhuyung dan jatuh bak cinderella yang sedang disiksa bapak tirinya. Dengan wajah yang memerah, Sasuke mengambil ponselnya di saku celana panjang yang membalut kaki jenjangnya dengan sempurna.

"Sekarang juga aku akan menjebloskanmu ke penjara" ujar Sasuke dengan sorot mata dingin. Wajah Naruto memucat. Berakhir sudah nasibnya sebagai seorang pelopor penculik elit. Ia benar-benar akan membusuk di penjara. Bahkan untuk melawan saja rasanya Naruto sudah tidak punya kekuatan.

"Ya tuhan, ini kah karma yang harus hamba terima akibat kenistaan hamba di masa lalu?" batin Naruto pilu. Otak jeniusnya sebagai seorang penculik kelas atas benar-benar tidak bisa ia fungsikan sekarang. Kemana perginya akal-akal bulus yang selalu bermunculan di saat ia sedang terpojok? Uh!

Tapi tidak apa-apa, setidaknya ia sudah menyuruh Kyuubi mengurus Kurama dengan baik sepeninggalnya, pikir wanita itu dramatis.

"Halo, kantor polisi konoha?"

"..."

"Ya, saya ingin melaporkan bahwa siang ini saya sudah berhasil menangkap seorang penculik tidak tahu malu, idiot, dan gila"

Naruto mendelik mendengar serentetan hinaan yang ditujukan untuk dirinya. Hei! Dirinya tidak sehina itu, dasar pantat ayam siyalan! Cih.

"Anda bisa datang sekarang di-"

Perkataan Sasuke terpotong. Ia menoleh saat merasakan ujung kemejanya ditarik pelan. Wajah Kou yang memelas adalah hal pertama yang pria super seksi itu dapati.

"Papa.." panggil Kou pelan. Suaranya terdengar menyedihkan. "Jangan laporkan tante pirang ke polisi" sambung bocah itu lagi. Kali ia mendongak dengan mata hitam bulat yang berkaca-kaca. Naruto sampai menutup mulut dengan tangan kanan saking terharu karena pembelaan Kou pada dirinya. Uhh, Kou you are my angel, pekik Naruto dalam hati.

"Tidak bisa, Kou! Dia itu sudah menculikmu dan menipu papa dengan meminta uang tebusan!" tegas Sasuke tidak terpengaruh dengan jurus andalan Kou. Ia tidak akan hidup tenang sebelum wanita itu tidak di narapidanakan.

"Tapi aku kan tidak apa-apa Pa, buktinya aku sehat walafiat. Dan lagi, hari itu ia menyelamatkan Kou dari PHP papa yang bilang akan menjemputku, tapi tidak" rajuk Kou sambil menggembungkan pipinya. Teringat akan hal itu membuatnya sedikit kesal ke sang Papa. Sasuke gondok setengah mati. Demi apapun, ia benar-benar mengutuk wanita pirang yang sudah meracuni pikiran putranya.

"Pa, ku mohon.. Demi putramu" rayu bocah itu lagi. Naruto sampai menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak menjerit girang karena sang malaikat yang imut mempesona sedang berusaha menyelamatkannya dari kubangan kenistaan jeruji besi.

"Bagus Kou, teruslah merengek. Teruslah bela tante pirangmu, dan buat Papa pantat ayam siyalanmu itu tunduk pada keimutanmu" batin Naruto sinting, khukhu.

"TIDAK!"

KRAK!

Naruto mendengar suara kokoronya yang hancur berkeping-keping. Hell, kenapa orang ini keras kepala sekali, sih?

"Papa.."

"Sekali tidak, tetap tidak Kou! Titik. Itu keputusan Papa" putus Sasuke tegas dan tidak main-main. Jemarinya yang putih itu kembali menari-nari di layar ponsel pintarnya, berniat menghubungi kantor polisi lagi.

Kou berjalan menghentakkan kaki dengan keras ke arah Naruto. Kini bocah itu berdiri sambil merentangkan tangannya lebar seolah melindungi wanita pirang itu. "Kalau Papa bersikeras, aku juga akan ikut tante pirang ke penjara. Aku tidak main-main!" ujar Kou sengit. Kini ia tampak seperti Uchiha pada umumnya. Angkuh, keras kepala, sok berkuasa. Sasuke sampai menganga melihat putranya menjadi pembangkang karena seorang wanita penculik idiot dan sinting. Apa putranya ini sedang memasuki masa puber? Umurnya saja baru enam tahun, kenapa ia begitu cepat jatuh cinta, pikir Sasuke tidak percaya.

"Jadi kau mau Papa mengikhlaskan uang seratus juta yen Papa untuknya?" raung Sasuke kesal sambil menjambak rambutnya frustasi. Bukannya pelit, Sasuke hanya berpikir bisa memakai uang itu buat cari mama baru untuk Kou /eh?

Kou mengangguk polos. "Anggap saja sedekah pa, uang kita kan banyak. Kita Uchiha, ingat?" jawab Kou enteng. Lu pikir ngumpulin duit seratus juta yen kayak mungut batu dijalanan, Kou? Bocah ini benar-benar sinting sama kayak bapaknya, pekik Naruto dalam hati.

Sasuke menghela napas kasar. Ia menyerah, berdebat dengan Kou tidak akan ada habisnya. "Baiklah.." Kou dan Naruto berpelukan dengan tawa bahagia seakan sedang memenangkan undian berhadiah. "Terima kasih, Kou sayang" bisik Naruto pelan. Kou mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Duh, bolehkah ia kembali menculik anak ini, habisnya gemesin sih ya.

"TAPI.." Suara Sasuke terdengar lebih dingin dan mencekam. Naruto dan Kou melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke arah Sasuke. Serius, Naruto seakan melihat kobaran api sebagai background di punggung Sasuke. Wanita pirang itu merasakan firasat buruk.

"Tapi apa, papa?" tanya Kou terlihat bingung. Dalam hati ia sudah berharap Papanya tidak berubah pikiran.

"Papa punya syarat, dan tidak ada nego" mutlak Sasuke. Naruto sampai meneguk ludahnya dengan sangat susah payah. Well, sepertinya penderitaan yang melebihi terkunci di balik jeruji besi sudah menantinya.

"Dia akan menjadi pengasuhmu sampai hutang seratus juta yennya papa anggap lunas!" Sasuke melipat tangan di depan dada, menatap Naruto dengan tatapan intimidasi ala Uchiha yang pernah kakek Madara ajarkan.

"Cho.. Cho.. Chotto mat-!" Naruto berusaha mengeluarkan aspirasi. Namun terhenti saat Kou memekik di depannya sambil mengangkat tangan ke udara.

"Aku setuju!" potong Kou. Dilihat dari sudut manapun, Koulah yang paling bahagia atas syarat yang diajukan papanya.

"Kou!" pekik Naruto tidak terima. Iris birunya membulat tak percaya.

"Ada apa, tante? Bukannya dengan begitu kita akan terus bersama?" tanya Kou dengan mata berbinar. Sasuke mendengus sinis. Anaknya ini kenapa, sih?

"Tapi.. Tapi Aku tidak terima dengan syarat itu!" protes Naruto keras. Entah sejak kapan ia sudah berdiri dan memasang tampang angkuh. "Mengenai uangmu, aku bisa kembalikan" sambungnya lagi dengan telunjuk yang menunjuk tepat di ujung hidung Sasuke.

Hello? Kau bercanda? Demi mendiang kedua orang tuanya, ia tidak akan pernah terima disuruh menjadi kacung. Never! Ia masih punya segudang harga diri.

Sasuke melirik ke arah Kou yang murung. Bocah itu menunduk membiarkan ponynya menutupi sebagian wajahnya. Sasuke tidak menyangka putranya sangat menyukai si pirang jelek ini sampai sebegitunya. Sasuke menatap tajam kearah Naruto. Keduanya saling bertatapan seolah ada petir yang menyambar.

"Kau lupa? No nego, dasar jelek!" Maki Sasuke.

"Apa kau bilang?"

"Selain jelek, ternyata kau juga tuli."

"Brengsek! Kau pikir aku mau jadi kacung putramu, hah?"

"Atau kau lebih senang menua dan mati di penjara?"

Sialaaaaaaan!

Maki Naruto dalam hati. Giginya sampai ngilu gara-gara menahan amarah untuk tidak menjotos wajah tembok pria ini.

"Sudah ku bilang, aku bisa mengembalikan uangmu!" geram Naruto dengan kedua tangan terkepal. "Boleh, kau bisa kembalikan uangku. Tapi kau akan tetap membusuk di penjara. Jangan sebut aku Uchiha Sasuke jika aku tidak melakukannya" balas Sasuke sengit. Tidak akan pernah mengalah untuk wanita jelmaan iblis pirang di hadapannya ini.

Dasar bedebah!

Baru saja Naruto ingin memaki pria sialan di hadapannya itu, ia merasakan tarikan di ujung kaosnya. Kou menangis.

Astaga, apa yang sudah wanita pirang itu perbuat? Demi apapun, tolong siapa saja, selamatkan hati si pirang yang berkeping-keping melihat sorot luka di mata bocah imut ini.

"K-kou?"

"Tante.. Aku tidak pernah berniat menjadikanmu kacungku" isak Kou terdengar pilu. Tangan kanannya terkepal, mengusap air mata yang melintas di pipinya. Naruto merasa bersalah karena membiarkan mulutnya berbicara laknat. Wanita itu kemudian berlutut di hadapan si bocah untuk menyamakan tinggi badan mereka. Tangannya tergerak untuk membantu Kou membersihkan air mata di pipi bocah tersebut.

"Kou.. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu" sesal Naruto. Sungguh, ia tidak berniat menyakiti hati polos bocah ini. Kou menggeleng.

"Aku senang bukan karena tante akan menjadi pengasuhku, tapi karena aku akan bertemu dengan tante tiap saat.." cicit Kou pelan membuat hati Naruto kian mencelos sedih. Ya ampun, anak ini. Naruto kemudian memeluk tubuh bocah itu. Membawa kepala si bocah ke ceruk lehernya dan mengusap rambut lembut itu dengan penuh sayang.

"Baiklah Kou, aku akan menjadi pengasuhmu" bisik Naruto di telinga bocah itu. Kou mengangguk senang dan mengeratkan pelukannya di leher si tante pirang.

Astaga, Bagaimana bisa hati Naruto luluh dengan mudah? Entah siapa yang dipelet sekarang. Kou atau Naruto?

Sasuke sejak tadi hanya diam mengamati interaksi keduanya. Jujur saja, ia muak dengan akting wanita berambut pirang palsu yang ia yakini hasil manipulasi pewarna tekstil murahan itu. Ia mendengus dan berikrar dalam hati bahwa akan merencanakan aksi balas dendam untuk wanita pirang sialan itu. Lihat saja. Batin Sasuke nista bin laknat.

...

Naruto melambai saat mobil Sasuke pria setan sialan tapi seksi itu kian menjauh dari gedung apartemennya. Kou masih melambai dengan senyuman di jendela. Setelah Kou memasukan kepalanya, tangan wanita itu diturunkan lemah dan ia biarkan menggantung di sisi tubuhnya. Senyum yang sedari tadi ia tarik untuk Kou kini luntur bergantikan wajah suram. Belum pernah sekalipun ia bermimpi akan terjebak di situasi menggelikan ini. Menjadi pengasuh? Yasalam, demi apapun, ia dilahirkan kedunia ini untuk menjadi penculik, bukan sebagai baby sitter.

Dengan langkah gontai wanita itu memasuki gedung apartemennya. Ia bahkan tidak meminta maaf atau sekedar melirik saat menabrak beberapa orang di lobi. Ia menekan tombol lift dan meratapi nasib buruk yang menimpanya. Well, apa benar karirnya akan berakhir dengan profesi ini?

Gah!

Wanita itu menjambak rambut frustasi. Ia masih ingin menjadi penculik. Ia sangat mencintai profesinya itu.

Ting tong!

Naruto menekan bel apartemennya. Drama hari ini membuat jiwa dan raganya begitu lelah. Kasur empuk adalah penawar terbaik untuk lelahnya, sebelum memulai kehidupan baru esok hari, tentu saja sebagai pengasuh Kou. Sial!

Pintu apartemen Naruto di buka oleh seseorang. "Tadai-" he? Naruto mengerjapkan mata beberapa kali. Apa ia salah menekan bel apartemen? Kedua netranya lalu melirik ke arah familytag yang di gantung dekat pintu. Ah, sudah benar, apartemen ini milik Uzumaki. Berarti ia tidak salah menekan bel, kan? Wanita itu mengernyit hingga tercipta beberapa garis halus di dahinya,

Astaganaga, tapi siapa pria tampan ini?

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di apartemenku?" pekik Naruto dengan keras. Pria itu sampai beringsut mundur, bukan karena pekikan wanita pirang itu melainkan takut kena semprotan air liur Naruto yang sangat deras.

"Naruuuu-chaaan!" Kyuubi muncul dari dalam dan langsung menghambur pelukan hangat ke sang adik yang beberapa waktu lalu sudah ia ikhlaskan kepergiannya. "Aku kira kau sudah tertangkap" cicit Kyuubi. "Aku selamat, tentu saja dengan beberapa negosiasi" balas Naruto malas.

Tunggu!

Sekarang bukan saatnya untuk melepas rindu. Naruto lepas pelukan sang kakak dengan kasar. Mata biru wanita pirang itu menjejaki tiap jengkal wajah Kyuubi seolah menuntut penjelasan.

Naruto menarik tangan Kyuubi untuk mojok agar sedikit menjauh dari si pria tampan yang kini menatap kedua wanita itu dengan tatapan bingung.

"Kyuu-nee, siapa pria tampan itu? Apa yang dia lakukan di apartemen kita?" bisik Naruto sambil sesekali melirik ke arah si pria tampan. Bukannya menjawab, Kyuubi malah merona sambil tersenyum malu-malu. Apa-apaan kakaknya ini, gelagatnya sangat mencurigakan. "Jawab Kyuu-nee!" desak si pirang lagi karena sang kakak tak kunjung menjawab, malah asyik berblushing ria.

"Namanya Itachi-san, dia baru datang dari Australia. Tadi aku bertemu dengannya di jalanan, jadi ku bawa saja kesini" ujar Kyuubi seolah-olah pria tampan yang bernama Itachi itu adalah kucing yang baru saja ia pungut dari jalanan. Naruto mendengus.

"Tapi kenapa Kyuu-nee bawa kesini? Apa kata tetangga nantinya?" tanya Naruto masih tidak mengerti jalan pikiran sang kakak. Kyuubi sampai memalingkan wajah sambil memainkan jarinya. "C-ceritanya panjang, Naru-chan.." Sepertinya Kyuubi sedang sakit. Sejak kapan wanita sangar ini berubah jadi wanita malu-malu Tsundere minta dicipok kayak gini?

"Jangan bilang.." Naruto menganga tidak percaya. Kyuubi mengangguk malu-malu. "Astaga Kyuu-nee, bagaimana bisa kau suka dengan orang yang baru kau temui sehari?" jerit Naruto sambil melotot. Kyuubi bahkan harus menbekap mulut adik tololnya itu karena berbicara terlalu keras. Memangnya apa salahnya kalau ia ingin mengenal seseorang yang ia sukai lebih dekat? Kyuubi menggerutu sebal dalam hati.

Naruto mendelik dan mengisyaratkan Kyuubi untuk melepaskan bekapannya di mulut Naruto.

"Kau kan tahu, Naru-chan.. Ini pertama kalinya Onee-chan j-j-ja-jatuh cinta" Kyuubi malu-malu. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasakan perasaan seaneh ini saat berdekatan dengan pria. Bahkan saat menggoda pria untuk melancarkan aksi penculikannya pun, ia tidak pernah memandang pria itu sebagai lawan jenis. Terkadang Kyuubi memandang mereka seperti apel, buah kesukaannya. Namun berbeda dengan Itachi, pria keriputan itu memiliki pesona lain yang meluluhlantahkan hatinya yang sudah beku selama dua puluh delapan tahun.

Naruto menghela napas kasar. Apa yang bisa ia lakukan? "Baiklah, aku akan mendukungmu" ujar Naruto tulus. Kyuubi berbinar lalu menggenggam tangan adiknya. "Hontou?" tanya Kyuubi antusias. Naruto mengangguk. Keduanya saling berpelukan, hingga tidak sadar si pria tampan itu mengamati mereka dengan senyum tipis.

"Jaa.. Kalau begitu, selamat pdkt. Tapi ingat, jangan terlalu murahan, oke?" Naruto mengingatkan. Kyuubi mengangguk sambil mengacungkan jempolnya "oke"

Keduanya pun masuk ke dalam apartemen. Naruto membungkuk minta maaf kepada Itachi karena sudah menyebabkan ketidaknyamanan. Itachi tersenyum maklum.

"Anggap saja rumah sendiri, Itachi-san. Anda tidak perlu sungkan" ujar Naruto lembut. "Terima kasih" balas Itachi kalem. Uhh, Kyuubi jadi klepek-klepek. Naruto tersenyum seraya meninggalkan kedua insan itu. Ia butuh istirahat. Tujuannya adalah kamar. Lagipula, ia tidak akan mengganggu acara pdkt kakaknya.

Sesampainya di kamar, pikiran wanita itu kembali berkecamuk. Sialan. Kenapa wajah tembok pria itu yang terlintas di benaknya. "Dasar siyalan! Brengsek! Setan pantat ayam!" Naruto mengumpat, ia meredam suaranya dengan bantal agar tidak terdengar. Gaaaah!

...

Selepas makan malam, Naruto duduk sambil memainkan Kurama, kucing kesayangannya. Itachi sudah pergi dari tadi karena jemputannya sudah datang. Ia bisa mendengar Kyuubi bersenandung senang di dapur sambil mencuci piring. Sepertinya kakaknya itu sedang bahagia. Naruto menghela napas. Bagaimana ini? Bagaimana ia harus mengatakan ke sang kakak mengenai penanggalan profesinya sebagai penculik dan berubah jadi pengasuh? Kyuubi pasti akan memakinya habis-habisan dan kemungkinan terburuknya adalah, Kyuubi akan menendangnya dari silsilah keluarga. Naruto semakin gila

Kyuubi berjalan mendekati sang adik yang terlihat frustasi sambil membawa sepiring apel yang telah dikupas.

"Naru-chan? Kau kenapa?" tanya Kyuubi sambil menyuapi Kurama dengan apel. Kucing persia itu malah dengan senang hati menyomot apel tersebut. Naruto menoleh. Mata birunya menatap sendu sang kakak. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Pokoknya ia akan memberitahu Kyuubi sekarang.

"Kyuu-nee, sebenarnya ada yang ingin aku katakan" Naruto berujar ragu. Raut penasaran di wajah Kyuubi malah membuatnya semakin gugup. "Ah, kebetulan. Aku juga ingin memberitahumu sesuatu" balas Kyuubi. Naruto menelan ludahnya kasar. Perasan gusar ini benar-benar membuat jantungnya seakan terbelah dua. Damn! Kenapa sekaran ia terlihat seperti cewe yang mau Kuuhaku[1]

"Kyuu-nee.. Sebenarnya.. Anoo.." Naruto tergagap, gigitan Kurama di jemari bahkan tidak berefek. "S-sebenarnya, aku akan berhenti jadi penculik"

Hening..

Meong! Meong! Meong!

Hening lagi..

Nyaaaaaawwn! Ohook!

Naruto berkedip dan melirik Kurama yang tersedak kulit apel. "Astaga! Kuramaaa!" Naruto memberi pertolongan pertama dengan membaringkan kucing itu menekan dadanya. Beberapa detik kemudian, nyawa Kurama pun terselamatkan.

Fiuh! Nih bocah bandel sih, pake sok ngemil apel juga, gerutu Naruto sambil memangku Kurama yang masih pucat /ha?

Naruto melirik Kyuubi yang masih tidak memberi respon apapun mengenai pernyataan pengunduran dirinya. Wajah Kyuubi malah terlihat tegang. Naruto makin khawatir. Well, sepertinya malam ini ia harus bersiap mengepak barang-barangnya dan minggat dari apartemen.

"Kyuu-nee, aku tahu kau akan marah. Tapi.. Sungguh, aku tidak punya pili-"

"Naru-chan.."

Kyuubi menyela. Naruto menunduk. Ia siap jika Kyuubi akan mengamuk dan menggundulinya. Memori tentang Ikrar yang pernah mereka ucapkan beberapa tahun yang lalu bahwa mereka hidup menjadi penculik dan mati sebagai penculik pun seakan pecah berhamburan bak cermin yang dipukul dengan tongkat baseball.

"Sebenarnya.." Kyuubi mengantung ucapannya. Naruto terlihat penasaran. "Aku juga berniat hal yang sama" sambung Kyuubi pelan.

Heee?

"Kenapa?" gumam Naruto tidak percaya. Kyuubi bersemu dan memalingkan wajahnya. "Selain karena aku sudah berjanji untuk insyaf kalau kau selamat, aku ingin berubah jadi wanita baik.."

Naruto seakan tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut Kyuubi. Apa dunia sudah mau kiamat? Tuhan, benarkah kakaknya yang lebih mirip preman wanita ini benar-benar berniat untuk insyaf? Finally, Kyuubi diberikan hidayah.

"Kyuu-nee.." Naruto memeluk sang kakak terharu. Kyuubi membalas. Ingatkan Naruto untuk menulis sebuah naskah 'Insyafnya si preman berambut merah' untuk ia kirim, siapa tahu bisa jadi ftv di konoha.

"Dan semoga Itachi-san tidak pernah tahu kalau aku ini mantan penculik kelas atas" gumam wanita berambut merah itu, terdengar sendu. Naruto mengusap punggung sang kakak.

Kyuubi melepas pelukannya. Ia menatap Naruto. "Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu memutuskan untuk berhenti menculik, Naru-chan?"

Naruto terdiam sebentar. Ia lalu menarik napas panjang dan membuangnya kasar.

"Kau ingin tahu siapa yang sudah mengejarku hari ini?" Raut wajah Naruto berubah jadi muram, mengingat betapa bengisnya si uchiha setan ayam itu mengejarnya layaknya maling jemuran. "Siapa?" Kyuubi antusias.

"Papanya Kou" balas Naruto singkat. Alis Kyuubi terangkat, bingung. "Kou?" beonya tidak mengerti. Naruto menghela napas keras [lagi]. "Bocah yang kita culik beberapa hari yang lalu di TK sukidayo"

Kyuubi mengangguk. Kilas bayangan bocah berusia enam tahun, tampan, kaya raya, sudah tergambar dalam otaknya.

"Lalu?"

"Saat aku mencoba membawa Shikadai- maksudku putra menteri Nara, aku bertemu dengannya di jalanan. Dia bersama papanya yang brengsek dan bermuka tembok"

Kyuubi dengan setia mendengar curhatan sang adik. Hanya saja, makian sang adik untuk papanya Kou terdengar sangat mengelitik perut.

"Dia begitu bernafsu untu-"

"Apa? Bernafsu apa?" raung Kyuubi menyela cerita Naruto sambil menyinsingkan lengan piyama. Tua bangka itu sudah berani melecehkan adiknya. Oke, pikiran Kyuubi mengenai papanya Kou adalah, Jiji berkumis dan bau tanah. "Kyuu-nee, aku belum selesai bicara" geram Naruto, kesal karena sang kakak termakan emosi sebelum ceritanya klimaks.

"Maksudnya, dia begitu bernafsu untuk menjebloskan ku ke penjara" desah Naruto, Kyuubi ber-oh-ria.

"Tapi kau lolos?"

"Ya, dengan beberapa pertolongan Kou, perdebatan dan persyaratan gila"

"Ha?"

Kyuubi makin penasaran. Jangan bilang, si tua bangka alias papanya Kou memanfaatkan kondisi adiknya yang berstatus sebagai tersangka dan berniat untuk menjual adiknya di prostitusi online seperti yang sedang marak terjadi?

Hell!

"Syaratnya, aku menjadi pengasuh Kou"

Hening.

"Ppffft! Hahahahahahahaha" tawa Kyuubi pecah. Kurama yang sedang tidur pulas di pangkuan Naruto sampai kena stroke gara-gara suara Kyuubi. "Maksudmu kau jadi kacung bocah muka tembok itu?" cibir Kyuubi di sela-sela tawanya membuat Naruto jadi kesal.

"Jangan hina Kou seperti itu"

Oh, Oh, ada yang marah. Kyuubi mengolok sang adik yang nampak begitu tidak terima ia mengatai si korban kesayangan itu.

"Selamat jadi pengasuh, Naruto sayang.." Kyuubi beranjak setelah mencium pipi adiknya diiringi tawa olokan si rambut merah. Naruto benar-benar di buat kesal. Tapi setidaknya kakanya itu tidak marah. Ia bisa bernapas lega.

"Well, welcome my new job" gumam Naruto getir. Hari-harinya benar-benar akan menjadi luar biasa jika bertemu dengan Kou. Namun yang membuat darahnya mendidih seketika adalah jika ia membayangkan juga akan bertemu dengan Si muka tembok sialan itu. Shit! Ringis si pirang sebelum akhirnya ia memilih untuk beranjak ke kamarnya.

...

"Papa, kenapa kita malam-malam ke rumah grandma? Aku mengantuk" keluh Kou menatap sang Papa yang sedang menyetir dengan wajah kusut. Sasuke menoleh dan mengusap kepala sang anak dengan sayang. "Papa juga tidak tau, Kou. Grandma tiba-tiba menghubungi papa" balas si papa, berusaha kalem. Padahal inner setannya sudah mengutuk si Mami yang seenak jidat menyuruhnya datang ke kediaman utama membawa Kou. Hari ini sudah sangat melelahkan.

Kou sesekali menguap hingga air matanya tergenang di sudut mata si bocah. Sasuke kasihan melihat anaknya. "Tidur saja, Kou. Nanti papa bangunin kalau sudah sampai" Kou mengangguk. Bocah itu pun memposisikan diri senyaman mungkin, dan akhirnya tertidur pulas.

Beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang ditumpangi Sasuke dan Kou memasuki kediaman megah Uchiha.

Sasuke membangunkan sang anak yang terlihat tidur dengan sangat lelap. Iler Kou sampai membasahi jok mobil membuat Sasuke menghela napas pelan. Sejak kapan anaknya sangat tidak Uchiha seperti ini, astaga.

Sasuke akhirnya memilih menggendong Kou yang masih mengantuk untuk masuk ke rumah. Pelayan membukan kan pintu dan saat pintu terbuka mata Sasuke sedikit membulat.

"Surprise!" teriak seorang wanita glamor. Di sampingnya kanan kirinya berdiri dua orang pria tampan dengan senyum bahagia.

"Uncle Tachiiiii" pekik Kou melompat dari gendongan Sasuke dan menghambur pelukan ke pria berwajah super tampan, Itachi, paman alias kakaknya Sasuke. Itachi langsung membentang tangan dengan lebar. Uhh, ia sangat merindukan ponakan kiyutnya yang satu ini.

"Aniki, kapan kau kembali dari australia?" tanya Sasuke datar. Padahal lumayan senang karena kakak semata wayangnya akhirnya kembali dari negeri kangguru itu. "Aku baru sampai di konoha tadi siang" balas Itachi kalem. Fokusnya kini berada pada tangan Kou yang mengelus wajahnya.

"Uncle.. Kenapa keriput uncle Tachi makin keliatan"

Krik Krik Krik!

Baik Sasuke, maupun Grandma dan Grandpanya Kou alias Mikoto dan Fugaku Uchiha, hanya bisa menahan tawa melihat betapa polosnya Kou menyinggung tentang tanda lahir keramat Itachi. Itachi kalau saja tidak menjaga imej di depan sang ponakan, mungkin ia sudah menggaruk tembok, mengingat sehari ini sudah dua orang yang menyinggung pasal tanda lahirnya. Sial! Kenapa hidup ini benar-benar tidak adil?

Kou menadahkan tangan, mengabaikan aura suram sang paman. "Oleh-oleh?" Itachi tersenyum bahagia. "Tunggu sebentar" Itachi pergi mengambil banyak sekali bingkisan dan menyerahkannya kepada Kou. "Semua ini untukmu" ujarnya sambil mengusap kepala si bocah. Dengan semangat Kou membuka satu persatu bingkisn berwarna pink bergambar love itu.

Namun isinya sangat mengecewakan. Bahkan Sasuke dengan wajah tolol menganga tidak percaya atas apa yang tersaji di hadapannya.

"Uncle.. Kenapa?" Kou terbata. Sungguh hadiah-hadiah ini diluar jangkauan akal sehatnya.

"Um? Kenapa, kau tidak suka?" tanya Itachi tidak mengerti.

"Kenapa kau membelikan seperangkat alat masak, boneka barbie, boneka susan, jepitan rambut, dan seperangkat tas make up, Uncle? Kenapaaaa? Aku ini laki-lakiiii"

Dan yang terjadi setelahnya adalah Kou yang merajuk dan minta pulang.

...

Kediaman Nara

"Shikadai, kenapa kau tidak memakan makan malammu?" tanya seorang wanita cantik dengan rambut yang di sanggul ala wanita bangsawan jepang. Kimono yang di gunakan terlihat elegan dan semakin menonjolkan identitasnya sebagai istri menteri.

Shikadai, putra semata wayangnya itu tidak menggubris pertanyaan sang Ibu. Otaknya sibuk memikirkan seorang wanita berambut pirang yang sudah menjadi teman pertamanya.

"Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi?" Bocah enam tahun itu membatin, mengabaikan eksistensi sang Ibu yang masih setia mengoceh tentang makan malam.

"Okaa-san" panggil Shikadai pelan. Ibunya menoleh "ada apa, sayang?" balas sang Ibu kalem. "Bilang ke Tou-san, mulai besok aku ingin sekolah di TK sukidayo. Titik!"

He?

"Tapi Shikadai.."

"Tidak ada tapi-tapian.. Pokoknya aku mau sekolah di TK sukidayo, atau aku tidak mau sekolah"

Bahkan Shikadai yang penurut itupun berubah bengis sejak bertemu dengan Naruto.

Well, ternyata Naruto itu benar-benar punya pelet yang bisa mempengaruhi anak kecil.

Besok mungkin adalah hari yang luar biasa. Batin Kou, Shikadai dan Naruto bersamaan meskipun mereka di tempat yang berbeda.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

[ = pernyataan perasaan (nembak orang yang di suka) /pasti sudah pada tau lah ya. Tolong koreksi kalau salah xxD]

...

[Note: Chapter ini, humornya berkurang ya, maaf. Otak author lagi melodramatik, jadi dibuat drama dulu /kicked/ sejujurnya, daku sudah lupa bagaimana caranya ngelawak. Ampuni daku T-T]

Ucapan Terima Kasih yang sebesar-besarnya untuk yang bermurah hati meninggalkan jejak di box review;

[ Arum Junnie, Saniwasatugipuluh, Little Akuma225, Park Rinhyun-Uchiha, Megumichan, Askasufa, Choikim1310, Deasy674, Leonardoparuntu9, NH Lover, Eushifujoshi, Dwi618, Kuraublackpearl, Vilan616, Nina, Trisnawati, D, Sondankh641, Hamura, Anindita616, N.S Lover, Kupret, Guest, Rini, Oxygenic, Harunatsu Asuka, Kutoka mekuto, Diena Luna no Azalea, Itaizu's Lover, dohchoco, Jasmine DaisynoYuki, AySNfc3 ]

Dan semua yang membaca, menfavoritkan, menfollow cerita gaje bin sinting ini.

Jangan bosan yaa ^^

Intermezzo:

Wah, banyak yah nebak kalau emaknya Kou itu Hinata. Tapi maaf sekali, jawabannya... Bukan Hinata XD

Pertanyaanya, siapa emaknya Kou?

Ayo siapa? Masih hidup atau udah wafat? Kira-kira ada yang bisa jawab XD

Ada juga yang jawab Shizune, shion juga xD tapi bukaaaan :"

Ada pertanyaan yang masuk [lagi]

- apakah mereka tetep jadi penculik setelahnya?

Jawab: sebenarnya masih pengen, tapi apalah daya, cinta telah mengubah si preman andalan kita, dan Naru-chan emang dari dulu pengen insyaf sih wkwk.

- apa Itachi duda?

Jawab: NOOOOOO! Itachi itu bujang karatan ga laku-laku /diamaterasu/

- shikamaru duda?

Jawab: iya duda, kalo temari udah wafat xD jawabannya udah ada yaa, Shika masih punya bini. Tapi persaingan Kou dan Shikadai akan di mulai di chapter depan hoho

Dari tadi pertanyaan duda duda mulu yaa xD

Ga mau tanya tentang status author kah? Author masih jomblo loh /nanges

Segitu aja dulu, maaf kalau mengecewakan :"

Salam, see ya next chap /kissu/

Mkim