Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
STAY © Mika Kim
Rate : T
Genre : Family, Romance
Warn : Gender-bender, [Female!Naruto, Female!Kyuubi, OC], OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD
DLDR!
Enjoy
Chapter 4 : New Job, New Friend, New Challenge
.
.
.
.
.
Pagi yang menyebalkan adalah ketika tidurmu yang kurang nyenyak sejak semalam di bangunkan dengan deringan pesan beruntun. Pesan yang dikirim oleh seorang duda laknat yang sudah berhasil menghancurkan mimpi indah seorang wanita bernama Uzumaki Naruto. Isi pesan itupun bukanlah ucapan selamat pagi ataupun kata-kata sayang yang biasanya seorang pria kirimkan ke wanita idaman mereka, melainkan isinya hanya meliputi hinaan, makian, serta sumpah serapah yang bahkan Naruto sendiri tidak yakin itu bahasa jepang. Kampret! Si duda bulukan itu benar-benar membakar lemaknya pagi-pagi.
Naruto hampir saja menggigit ponsel pintarnya kalau saja ia ingat bahwa ponsel itu cicilannya belum lunas. Sial! Ia bahkan menyesal telah membagi nomor ponsel keramatnya ke pria sialan bernama Uchiha Sasuke pantat ayam.
Naruto mandi ala kadarnya. Prinsipnya, yang penting basah, kelar. Ia tidak perlu berdandan cantik, toh ujung-ujungnya ia hanya akan menjadi pengasuh Kou. Fuh! Naruto menatap pantulan dirinya di cermin.
You know what? Gaya Naruto malah terlihat lebih mirip preman yang akan memalak di pasar, serampangan. Dengan kaos oblong warna putih, celana jins ketat warna biru yang membungkus kaki jenjangnya yang indah serta jaket kulit warna hitam. Rambut pirangnya ia ikat layaknya ekor kuda kelas atas.
"Welcome to hell" Naruto bergumam getir.
Saat melewati kamar Kyuubi, Naruto menganga lebar ketika mendengar Kyuubi mengigaukan nama Itachi. Astaga, kakaknya itu benar-benar sedang sinting. Terkutuklah benda yang bernama CINTA! Naruto bahkan mau muntah saat itu juga.
Gerutuan demi gerutuan keluar dari mulut wanita pirang itu. Sesekali matanya melirik kesal kearah layar ponselnya, membaca sekali lagi alamat rumah yang dikirimkan Si setan pantat ayam kepadanya. Sudah hampir lima belas menit ia mengelilingi kompleks perumah super elit, konoha residence, namun ia tak kunjung menemukan rumah siluman ayam itu.
"Jangan-jangan ia mengerjaiku dengan memberi alamat palsu?" tukas Naruto mengusap wajahnya kasar. "Kampret! Siluman ayam sialan itu benar-benar minta dikuliti" geram Naruto kesal. Lagian mana ada orang mencari alamat jam enam pagi? Hanya Naruto seorang yang melakukannya. Berterima kasihlah kepada Sasuke Uchiha si pria narsis sok tampan, biadab dan tak tahu hak asasi manusia.
Saat asyik mengutuk Sasuke dengan ribuan kutukan yang entah ia pelajari darimana, ponsel wanita itu berbunyi. Dengan kasar si pirang mengangkat dan memaki si penelfon.
"Dimana rumahmu, sialan?"
"Tante, ini aku.." Suara imut ini. Ah, ini suara malaikatnya. Naruto ingin merobek mulutnya saat itu juga.
"Kou darling, maaf. ku kira kamu penagih hutangnya Kyuu-nee" kilah Naruto ngarang. Kou terkekeh pelan di seberang telfon. Uhh, imut.
"Tante, sebenarnya papa sedang mengibulimu." adu Kou, dasar penghianat kecil. "Papa sedang mandi, aku tidak sengaja membaca pesan di ponsel papa, dia memberikan alamat palsu"
Bedebah sialan.
Benarkan yang Naruto pikirkan? Siluman ayam jejadian itu mengerjainya. Dasar kutu air! Maki Naruto dalam hati.
"Papamu benar-benar brengsek, Kou!" pekik wanita itu kesal. Kou bergumam tidak jelas. "Jangan menghina papa, aku tau dia brengsek, tapi aku sayang padanya" tukas Kou datar. Sial. Naruto sepertinya salah bicara. Wanita itu merotasikan matanya bosan.
"Dengar, tante.. Alamat rumahku sebenarnya di.."
...
Naruto menatap bangunan layaknya istana-istana yang sering ia lihat di film-film disney, yang biasa ia tonton ketika masih kecil. Ia meneguk ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba dilanda musim kemarau. Sekarang ia malah berpikir untuk menjadi perampok. Bagaimana bisa siluman itu punya rumah segede ini?
"Pergilah, disini tidak menerima sumbangan," usir si penjaga songong. Naruto menganga lebar. Penghinaan macam apa itu?
"Dengar ya, aku ini asisten pribadi Kou, jadi jangan macam-macam denganku!" balas Naruto sinis mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah, sengaja ia gunakan kata asisten, agar terdengar lebih berkelas. Ogah banget kan bilang kalau dia itu pengasuh barunya Kou. Gengsi dong.
Wanita itu melenggang pongah. Mengabaikan cibiran si penjaga gerbang. Dari dalam pintu utama, Kou berlari menerjang si pirang dengan keras. Naruto sampai hampir terjungkal akibat bocah kelewat hormon itu.
"Tanteeeee!"
"Selamat pagi, darling. Seperti biasa, kamu terlihat tampan" goda Naruto genit, mengusap rambut hitam Kou yang super halus. Naruto harus tahu merek sampo bocah ini, ia juga ingin rambutnya yang lepek bisa sehalus rambut Kou. Kou bersemu malu-malu, dipuji tante pirang membuat kepalanya membesar.
"Ayo masuk" Kou menautkan jemari kecilnya di ruas jemari si pirang dan menyeret wanita itu masuk ke rumah megahnya.
Saat kaki Naruto menapak di ambang pintu, mata birunya membulat seakan-akan ingin melompat dari tempatnya. Apa-apaan rumah ini? Ia bahkan takut melangkahkan kakinya lebih dalam ke rumah ini saking takutnya menyentuh barang-barang mengkilat yang tertata rapi di tiap sudut. Kou menoleh menyadari si tante pirang terdiam di tempatnya.
"Kou, ini rumah mu atau rumah presiden, sih? Kok gede banget?"
Kou memutar bola matanya bosan. "Tante, jangan alay, please. Rumah ini bahkan tidak ada apa-apanya dibanding rumah grandma dan grandpa" tukas Kou datar dan malah di sambut delikan tidak percaya dari si pirang.
Sekaya apa sih keluarga Uchiha? Batin Naruto gila.
"Oh? Kau datang? Ku kira kau sudah kabur ke luar negeri berkat uang seratus juta yenku"
Suara sialan itu.
Darah Naruto yang sebelumnya adem ayem karena pagi-pagi melihat malaikat imutnya, kini terbakar api emosi saat melihat sosok siluman unggas yang sangat berjasa memerangkapnya dalam situasi ini. Dan bisakah orang ini berhenti membahas uang seratus juta yen itu? Kalau Naruto mau, ia bisa saja melempar uang itu ke wajah lelaki menyebalkan Uchiha Sasuke sekarang juga. Tch, bukannya kemarin ia sudah bilang mengikhlaskan uang itu sebagai sedekah? Naruto yakin, uang itu sudah tidak bernilai ibadah karena ketidakikhlasan si siluman kaya raya ini.
"Apa lihat-lihat?" Sasuke berujar sinis saat kaki jenjangnya menapaki dasar tangga. Wajahnya yang angkuh terpahat sempurna, semakin membuat Naruto geram.
Baru saja Naruto membuka mulut untuk memaki, Kou sudah menyela. Bocah itu berkacak pinggang di depannya, menatap sang papa dengan wajah yang tak kalah angkuh.
"Papa, bersikap baiklah. Tante pirang adalah tamuku, sekaligus asisten pribadiku. Papa tidak berhak lagi menghinanya"
Sasuke menganga. Entah ia harus bangga atas kecerdasan retorika sang putra yang melebihi bocah seusianya, atau sedih karena anaknya itu jelas-jelas sedang memihak ke penjahat. Di seberang, Naruto menyeringai penuh kemenangan. Dengan tatapan mengejek, wanita itu memeletkan lidah, mengolok ketidakberdayaan pria sok keren itu di depan putranya sendiri. "Syukurin, siapa suruh mengerjaiku pagi-pagi. Dasar setan unggas" batin Naruto menertawakan Sasuke.
"Tapi, Kou.."
"No nego, Pa" potong Kou cepat, menduplikasi ucapan sang papa kemarin. Dengan gerakan elegan, bocah itu menggandeng tangan Naruto menuju dapur. Jempol Naruto menunjuk ke bawah sambil menggerakkan bibirnya mengucapkan "You Loose!" tanpa suara dan senyuman kemenangan. Seketika lagu 'we are the champion' berkumandang mengiringi langkah kemenangan si wanita pirang. Huhu, hari ini tidak terlalu buruk.
"Dasar, wanita penyihir sialan!" Sasuke menggeram kesal. Lihat saja, Kou tidak akan selalu membelamu! Janji Sasuke dalam hati.
...
"Buku?"
"Cek!"
"Pensil?"
"Cek!"
"Bento?"
"Cek!"
"Pewarna?"
"Cek!"
"Botol air?"
"Cek!"
"Ponsel?"
"Cek!"
"Kuota?"
"As always, plus fourji!"
"Pakai celana dalam?"
"..."
"Kou?"
"..c-cek!"
"Hontou?"
Kou mengangguk pelan. Mata Naruto menyipit tidak percaya. "Kou.." panggil si pirang dengan nada berat. "Pakai celana dalam?" ulang wanita itu sekali lagi. Kou menggeleng, malu.
Mulut Naruto ternganga. Sangat lebar. Ia kemudian menyeret bocah tampan itu ke kamar dan memaksanya memakai celana dalam. Sekitar sepuluh menit berdebat tentang motif celana dalam yang akan di pakai Kou, akhirnya yang terpilih adalah motif pikachu yang sedang mengeluarkan listrik seratus ribu volt.
"Kou, kenapa kamu tidak suka pake celana dalam?" tanya Naruto ketika mengantar si bocah menuju mobil, dimana papa ayamnya sudah menunggu sok keren dengan kacamata hitam bertengger di hidung, alay.
Kou terdiam sebentar. Bingung ingin menjawab apa. "Kou, jawab dong!" Naruto kepo. "Menyusahkan" balas Kou singkat. Naruto mengernyit bingung. "Aku kesulitan pipis di sekolah kalau memakai celana dalam" sambung bocah itu menunduk malu. Naruto terkekeh pelan, sambil menepuk kepala si bocah kesayangannya. "Kamu terlihat seperti kakek-kakek mesum kalau tidak pake celana dalam tahu" olok wanita itu, Kou mendengus dengan bibir yang mengerucut lucu. "Aku tahu"
Naruto menutup pintu mobil Sasuke. Kepala Kou menyembul di jendela saat Naruto memanggilnya pelan. "Ada apa tante?" tanya Kou penasaran. Sasuke sudah sinis-sinisnya memandang Naruto di balik kacamata hitamnya.
Cup!
Naruto mencium pipi Kou lembut. Pipi gembul Kou bersemu merah dengan mata yang membulat imut. "Semoga harimu menyenangkan, darling" sembari mencubit pipi gembul Kou. Kou mengangguk malu-malu. "Jaa, tante.." Kou menjeda perkataannya. "Naruto" balas wanita itu, mengerti. "Tante Naru" lanjut Kou tersenyum bahagia. "Sampai jumpa siang nanti, darling" Naruto melambai saat mobil yang di kemudikan Sasuke perlahan menjauh pergi.
Cih, Sok mesra! Cibir Sasuke dalam hati. Sialan, wanita itu benar-benar mengguna-gunai anaknya.
"Yosh, mungkin aku bisa mulai bersih-bersih sambil menunggu Kou pulang" gumam si pirang seraya melenggang masuk ke rumah megah si Uchiha, seketika langkahnya terhenti "eh, ngapain? Aku kan cuma jadi pengasuh kou, bukan asisten rumah tangga" Naruto mengangkat bahunya ringan. Mungkin bersantai di rumah bak istana ini lebih bagus ketimbang bekerja, hoho.
...
Kou menatap tajam ke arah seorang bocah dengan rambut yangh diikat seperti kepala nanas. Kou tidak mungkin lupa dengan bocah ini. Bocah yang ia anggap rival secara sepihak, bocah yang sudah berselingkuh dengan tante pirang kesayangannya.
"Anak-anak, kita punya teman baru"
Ucapan si guru berkacamata dengan rambut dicat merah marun menyita perhatian Kou. Apa? Teman baru katanya? Pikir Kou gemas dengan mata melotot lucu.
"Ayo, sayang. Perkenalkan dirimu" ucap si guru berkacamata, Karin, kepada bocah bertampang malas yang berdiri sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana, angkuh.
"Shikadai Nara, salam kenal semuanya"
Gz!
Kou mendelik sebal.
Kenapa bocah itu harus sekelas dengannya sih? Lagian kenapa dia bisa tiba-tiba jadi murid baru?
"Shikadai-kun, bisa kamu jelaskan kepada kami semua kenapa kamu pindah ke sekolah ini?" Si guru berkacamata ini kepo juga ternyata.
Shikadai diam sebentar. Semua menanti jawaban si bocah nanas, kecuali Kou tentu saja. Ia terlalu malas, bahkan untuk menatap bocah itu ia enggan. Sakit hatinya masih membekas, mengingat bagaimana ia berjalan dengan tante Narunya.
"Karna aku ingin punya teman"
Geh, dasar bocah kesepian. Cibir Kou sebal. Alasan macam apa itu?
"Nah, Shikadai-kun, kamu bisa duduk di sebelah Kousuke-kun" ujar Karin seraya mengarahkan telunjuk putihnya ke bangku kosong di sisi seorang bocah raven tampan.
Ha?
Kou melotot tidak terima.
Shikadai baru menyadari siapa bocah yang duduk di sebelah tempat duduknya, itu adalah bocah yang ia temui kemarin. Bocah yang dengan lancang menunjuknya dengan nista.
"TIDAK!"
Keduanya memekik keras.
He?
"Aku tidak mau duduk bersebelahan dengannya!" cetus keduanya secara bersamaan [lagi] sambil saling menunjuk satu sama lain. Kou bahkan tidak ingat sejak kapan ia berdiri.
"Tunggu, tunggu, ada apa ini?" tanya Karin tidak mengerti. Perseteruan apa yang sudah terjadi dengan kedua bocah ini? Aduh, kenapa anak muda jaman sekarang susah sekali dikendalikan? Batin Karin frustasi.
"Pokoknya aku tidak mau duduk dengan si nanas itu!" Kou berkata mutlak, dengan telunjuk yang masih menunjuk nista ke arah Shikadai.
"Aku juga tidak mau duduk dengan muka tembok sepertimu!" balas Shikadai sengit, dikatai nanas benar-benar membuatnya tersinggung.
"Apa kau bilang?"
"Muka tembok!"
"Nanas!"
"Muka tembok!"
"Nanas!"
"Muk-"
"Cukuuuupppp!"
Keduanya berhenti memaki satu sama lain setelah Karin melengkingkan suara cemprengnya. Si guru berkacamata itu jengah.
"Shikadai-kun, duduk. Dan Kousuke-kun, jangan buat masalah!" Karin melotot. Kou mendengus sambil membuang muka. Shikadai membanting tasnya di meja, sepertinya ia menyesal mengikuti saran teman pirangnya yang menyuruhnya untuk masuk ke TK sukidayo.
Keduanya saling melempar tatapan tajam. Aura perseteruan mereka pun terasa sangat kental. Karin yang sedang menulis di papan berdehem keras.
Cih.
Keduanya mendecih lalu saling membuang muka. Tanpa kedua bocah itu sadari, ada seseorang yang memerhatikan mereka ditempat duduk paling pojok. Uh!
...
Naruto sedang bersantai ala nyonya besar dihalaman belakang kediaman Uchiha Sasuke. Kemudian ponsel wanita itu bergetar. Dengan rasa sebal bercampur malas, tangan gadis itu meraih ponselnya dan melihat si penelfon tak tau malu yang sudah merusak ketenangannya.
"Siluman Unggas?" gumam Naruto saat melihat nama si penelfon terpapar di layar ponselnya. "Apa?" ketus si pirang tanpa basa-basi. Suara geraman dari lawan bicaranya di seberang sana dapat ia dengar jelas, namun ia tidak peduli.
"Jaga bicaramu!" Nada dingin Sasuke seakan menusuk-nusuk telinga Naruto. Wanita itu hanya memutar bola matanya bosan.
"Jemput Kou!" perintah Sasuke datar. "Kalau sampai Kou tidak ada di rumah jam satu siang, aku akan mengirim polisi untuk menyeretmu ke penjara" ujar Sasuke setelah itu memutus sambungan telfonnya.
Naruto menatap layar ponselnya dengan mata berapi-api. Napas wanita itu sudah putus-putus saking emosi.
"Dasar kutu air sialan, siluman unggas brengsek!" Naruto meraung keras, suaranya sampai bergema hingga membuat beberap guci mahal di rumah itu pecah menjadi debu/?
Naruto menunggu dengan sabar. Sebenarnya, Kou akan pulang tiga puluh menit lagi. Tapi berkat ancaman si Sasuke sialan, ia jadi datang lebih awal. Naruto menghabiskan tiga puluh menit itu dengan melihat-lihat timeline akun social medianya. Mata wanita itu sampai melotot saat mendapati timelinenya kini di penuhi dengan status alay Kyuubi.
"Matamu indah, menusuk hati. Keriputmu itu mempesona, aku jatuh cinta pada garis istimewamu"
200 suka | suka | react | komentar | bagikan
"Aku sungguh kangen sama keriputmu:*"
420 suka | suka | react | komentar | bagikan
Naruto menepuk jidatnya sendiri. Sepertinya kakaknya benar-benar kehilangan akal sehat hanya karena seorang laki-laki keriputan, tapi tampan, yang baru ditemuinya kemarin. Demi apapun, Naruto saat ini malu mengakui kalau si pemilik akun Kyuu Si Princess Apel itu adalah kakaknya.
Saat sedang asyik mengutuk kealay'an Kyuubi gara-gara baru kena puber pertamanya, Naruto tidak sadar bel tanda pelajaran di TK sukidayo telah usai.
"Tante?"
Naruto menolehkan kepala pirangnya saat mendengar seseorang menyapanya. Oh? Mata wanita itu kemudian membulat.
"Shikadai-kun?" Naruto berseru girang. Shikadai sumringah menghampiri si tante pirang yang tengah memasang wajah bahagia.
"Ano.."
"Shikadai-kun? Kamu beneran pindah ke TK sukidayo?" pekik Naruto menyela Shikadai dengan cepat. Wanita itu mensejajarkan tinggi badannya dengan si bocah, dan mengguncang pelan bahu kecilnya. "Aku sangat bahagia, akhirnya kau bisa merasakan kehidupan masa muda" Naruto menyeka air mata yang tergenang di pelupuk matanya, saking terharu akhirnya bocah ini benar-benar berhadapan dengan lingkungan sosial yang nyata.
"Um, ini semua karna saran dari tante" Wajah Shikadai jadi terlihat muram. "Tapi ternyata sekolah sangat buruk. Aku duduk sebangku dengan manusia menyebalkan" Shikadai curhat.
Naruto tersenyum tulus seraya mengusap puncak kepala Shikadai. "Tenang saja. Biasanya hari pertama memang sedikit menjengkelkan, tapi hari kedua pasti lebih baik" Naruto berujar sok bijak.
Shikadai memainkan jemarinya dengan wajah menunduk. Bibirnya mengerucut lucu, namun mungkin saja perkataan si tante pirang benar, ini baru hari pertama.
Mata bocah itu kemudian sesekali melirik kearah tante pirang yang sedang menatapnya dengan senyum indah. Entah kenapa, jantung Shikadai saat ini berdetak tidak karuan dan panas pada kedua pipinya.
"A-a" bibirnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Naruto mengernyitkan dahi bingung.
"Ada apa, Shikadai-kun?"
"B-boleh.. Boleh kah aku memeluk tante sebentar?"
He?
Naruto tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu mengiyakan. Kan tidak mungkin ia menolak permintaan mantan calon korbannya. Naruto itu penculik yang selalu mengutamakan kesejahteraan korbannya.
"Tentu saja, manis"
Shikadai tersenyum malu-malu dan langsung menghamburkan pelukan ketika Naruto sudah berlutut di hadapan bocah itu. Kedua lengannya yang hangat melingkar dan di leher jenjang si tante.
Naruto mengusap kepala si bocah, lalu pelukan itupun terlepas.
Seorang berjas hitam lalu memanggil Shikadai. Bocah itu lalu pamit kepada Naruto dan segera masuk ke mobil. Naruto melambaikan tangannya hingga mobil itu menghilang, tanpa menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang sudah menatapnya kesal.
Senyum si pirang luntur seketika saat melihat Kou dengan kobaran api kemarahan yang melatarbelakangi punggung kecil bocah cilik itu. Naruto sampai menelan ludahnya susah payah karena Kou saat ini menatapnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Duh, kenapa Kou terlihat mirip Si unggas itu sih? Yaiyalah, Kou kan putranya, dasar tolol. Naruto memaki dirinya sendiri.
Idih, kepergok lagi. Akward banget. Si bocah bernama Kou tanduknya udah keluar.
"Kou? Sudah pulang?"
Naruto bertanya bodoh. Kou masih betah berdiri sambil memasang wajah super flatnya. Ia kemudian mendekati Kou dan menatap kedua netra hitam bocah itu langsung. "Kou? Kamu marah?" tanya Naruto pelan. Melihat sorot amarah dalam kedua mata hitam indah bocah itu sedikit membuatnya bingung.
"Tidak"
Singkat dan tidak padat. Kou menjawab dengan sangat datar. Entah kenapa, Naruto sekarang melihat Sasuke dalam bentuk mini.
"Hee.. Lalu kenapa wajahmu tertekuk begitu, kamu jadi tidak tampan, lho?" Naruto genit sambil menoel pipi tembem Kou.
"Tante Naru selingkuh"
Hening.
Krik krik krik.
Ya ampun, demi Tuhan, kenapa pikiran bocah ini terlalu sinting? Selingkuh? Darimana bocah ini mempelajari kosakata itu? Astaga.
Naruto bahkan tidak habis pikir. Memangnya dia selingkuh dengan siapa? Siapa yang ia selingkuhi? Seumur hidupnya, selama dua puluh lima tahun ini, jangankan selingkuh punya pacar saja tidak pernah. Mungkin jika ada Jones Award, mungkin dirinyalah yang akan mendapat penghargaan jomblo karatan.
"Kou darling, apa maksudmu?" tanya Naruto tidak mengerti. Jalan pikiran bocah ini mungkin lebih dewasa daripada pikirannya, itulah terkadang ia tidak bisa memahami bahasa bocah.
"Kau selingkuh dengan si nanas itu?" Kou posesif. Pipi gembulnya bersemu merah. Entah malu atau marah, hanya ia yang tahu.
"Nanas? Maksudmu Shikadai-kun?" beo Naruto. Kou mengerucutkan bibirnya lucu. Kekehan Naruto pun menggema disambut delikan sebal dari Si bocah yang malah membuatnya semakin imut. Duh.
"Aku membencinya, aku tidak suka ia caper di depanmu" balas Kou datar, dengan wajah yang menoleh menghindari tatapan mengolok tante pirang. Dengan gemas Naruto malah mencubit kedua pipi gembul putra siluman unggas itu.
"Aduh duh, sakit tanteee!" rintihnya dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.
"Itu untuk tukang posesif sepertimu" cibir Naruto disertai tawa renyah yang membuat pipi Kou semakin menggembung.
"Tapi dia memelukmu, aku tidak suka!" rajuk Kou, terlihat menggemaskan.
"Jadi ceritanya kamu mau di peluk juga?"
"Tent-" Kou berdehem. "Maksudku.."
"Ayo kita jalan-jalan sebelum pulang, kau pasti lapar 'kan?" Wanita itu menyela. Naruto mengalihkan topik. Berbicara tentang perselingkuhan membuat otak sebesar biji kenarinya sedikit pusing.
"Tante mau menyogok ku agar berhenti marah, ya?" tebak Kou sinting. Naruto tersenyum watados. "Kok tau sih, dukun ya?" Naruto terkekeh. "Jangan marah lagi, darling. Tante Naru hanya milik Kou seorang, oke?" Naruto mengedipkan matanya bak tante-tante pedo. Mungkin ia sudah gila, tapi wanita itu tidak peduli sama sekali. Asal Kou bahagia, mengklaim dirinya seperti itu bukanlah masalah besar.
"Um.." Kou mengangguk semangat. "Aku mau es krim jumbo!" Kou memekik sambil melompat kegirangan, membuat pony halusnya ikut bergoyang-goyang.
Di dekat pagar, lagi-lagi seseorang mengamati kedua orang berbeda gender itu. Dasar penguntit. Sayangnya Naruto menyadari kehadiran penguntit itu. Beberapa tahun ia habiskan hidupnya dengan menjadi penculik, membuat wanita itu jeli dengan keadaan. Termasuk menyadari kehadiran si penguntit amatir, bukanlah hal yang sulit bagi Naruto. Wanita itu tersenyum samar sebelum akhirnya menggandeng tangan mungil si bocah kesayangan.
...
Sasuke memijit tengkuknya yang pegal karena terlalu lama menatap layar komputernya tanpa gerakan. Punggungnya terlihat sangat lelah. Sesekali pria tampan itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, mungkin akibat radiasi layar biru komputer yang juga membuat matanya sedikit perih.
Dengan rasa malas ia membuka ponselnya. Mungkin hanya sekedar memantau aktivitas putranya. Hari ini ia tidak perlu repot-repot untuk menjemput Kou, karena sudah ada si wanita gila idiot yang merangkap jabatan sebagai asisten anaknya.
Tch. Entah ia harus senang atau kesal dengan kehadiran wanita sinting itu.
Jemari putih Sasuke menggeser pelan layar ponselnya. Namun, satu foto yang baru saja di upload anaknya di akun instagram membuatnya cukup terpana. Foto itu menampilkan Kou yang sedang makan es krim dengan wajah belepotan, terlihat kesal namun pipinya merona. Sasuke tersenyum geli.
Sasuke lalu menscroll ke bawah, kali ini ia menemukan Kou dan seorang wanita pirang yang berfoto bersama. Kou terlihat tersenyum bahagia hingga matanya menyipit, dan si wanita pirang yang juga tersenyum sambil menggigit sendok es krim. Sasuke sampai menahan napas, belum pernah ia lihat anaknya sebahagia ini. Namun yang membuatnya gondok setengah mati adalah si pirang yang sedang bersama dengan anaknya itu. Melihatnya saja membuat kepalanya mendidih.
Kemudian foto terakhir yang diupload oleh Kou dengan caption 'myangelauntienaru' yang Sasuke sendiri tidak menyangka anaknya bisa mengetik frase dewasa seperti caption ini, foto tersebut adalah foto Naruto yang sedang menoleh dengan wajah serius. Dari samping hidung wanita pirang itu terlihat mancung dan bibir tipis yang terlihat berwarna merah muda meskipun tanpa polesan lipstik. Sasuke menatap foto si pirang cukup lama. Entah terpesona atau apa, yang jelas Sasuke merasa betah memandangi figura natural Naruto.
Tunggu dulu.
Apa baru saja ia memuji wanita sinting itu? Oh, yang benar saja? Kakeknya mungkin saja akan bangkit dari kubur dan mencekiknya jika ia berpikir demikian. Sialan, dengan sangat berat hati, Sasuke harus mengakui bahwa si pirang idiot dan mata duitan ini memang memiliki pesona yang entah terpancar dari sisi mana.
Damn!
Jambakan frustasi dihadiahkan untuk surai pantat ayamnya. Sungguh, ia sangat benci pikirannya barusan. Cukup Kou saja yang terkena tipu daya si idiot pirang. Dirinya tidak perlu. Bahkan ia berniat untuk mencari dokter yang bisa melepas pelet untuk sang anak.
Dengan kasar, Sasuke meletakkan ponselnya dan mengutuk kebodohannya yang sudah kepo untuk melihat-lihat timeline instagramnya. Sepertinya ia sudah ketularan gila.
Ponsel Sasuke yang baru saja ia letakkan dengan tidak elit bergetar. Ia pun meraih ponselnya dengan malas. Setelah melihat nama si penelfon, dahi Sasuke berkerut.
"Hn?"
"..."
"Siapa pun wanita itu, aku rasa itu bukan urusanmu"
"..."
"Kenapa sekarang kau peduli padanya?"
"..."
"Putramu? Apa aku tidak salah dengar?"
Sasuke membeo dengan cibiran mengejek. Sungguh, kata-kata si lawan bicaranya di telfon benar-benar menggelitik perutnya.
"Nikmati saja kehidupan sendiri, jangan khawatirkan putraku, dia baik-baik saja!"
Sasuke memutus sambungan telfon secara sepihak. Bahkan ia sudah tidak ingin mendengar suara si penelfon lebih lama. Suara itu membuatnya muak serta membuatnya seakan kembali menggali luka yang telah ia kubur selama hampir lima tahun.
Hembusan napas kasar terdengar dari pria dewasa itu. Kenapa akhir-akhir ini ia sering kali dibuat kesal oleh orang-orang idiot? Sasuke bahkan heran kenapa ia kesal pada semua hal. Entah itu masalah besar, maupun masalah sepele. Ia merasa seperti gadis yang sedang PMS dan sedang berhormon tinggi. Sialan.
Akhirnya pria itu memilih untuk kembali berjibaku dengan pekerjaannya. Lebih baik stress tapi menghasilkan uang, dari pada stress tapi tidak menghasilkan uang, pikir Sasuke sinting.
Satu email yang masuk di ponsel lelaki tampan dan super seksi itu kembali menyita perhatiannya. Siapa lagi sih, kesal Sasuke.
From: Kousuke anak Papa Ganteng
"Papa, cepat pulang. Hari ini aku dan tante Naru akan masak untuk makan malam kita"
Untuk kesekian kalinya Sasuke menghela napas kasar. Dunia ini benar-benar sudah gila karena berisi dengan orang-orang gila pula. Seharusnya wanita itu di penjara, bukan memasakan makan malam untuknya dan sang anak.
...
"Papaaa"
Kou menghamburkan pelukannya ke sang papa yang baru saja masuk dengan wajah lelah. Seulas senyum tipis nampak di bibir pria dewasa itu. Kou melingkarkan tangan mungilnya hingga membungkus leher sang papa dengan sempurna tanpa cela. Usapan lembut jemari Sasuke membuat bocah kesayangannya itu mengeratkan pelukannya, nyaman.
Pelukan itu terlepas. Kou menatap sang papa dengan mata berkedip.
"Pa.." panggil Kou pelan. "Hm?" Sasuke menyahut penasaran. Mungkin anaknya ini ingin minta mainan baru, atau minta nambahin uang jajan. No problem, Sasuke bisa menyanggupi semua keinginan sang putra, kecuali kalau tiba-tiba minta mama baru mungkin Sasuke harus berpikir dua kali. Lol
"Papa jelek deh" ejek Kou dengan kernyitan mencemooh. Sasuke cemberut. "Kalau papa jelek, mana mungkin kamu bisa setampan ini, Kou?" balas Sasuke tidak terima dibilang jelek. Wajah mirip aktor Leonardo decaprio versi rambut unggas gini dibilang jelek. Sepertinya ia harus memeriksakan mata Kou ke dokter spesialis mata.
"Beneran pa" Kou mengerjap imut. Bersikeras bahwa papanya memang terlihat sangat jelek malam ini. "Kamu punya bukti papa jelek?" cetus Sasuke sarkastis. Kou mengangguk.
"Papa beleknya meler, bulu hidungnya kepanjangan, upilnya nongol, dan kumis papa juga mulai tumbuh, sama sekali tidak Uchiha"
Sasuke ingin mati seketika. Memang benar, akhir-akhir ini ia tidak sempat perawatan gara-gara banyak kerjaan, di tambah pengusik pirang yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu dapur memakai apron dan menertawainya. Sasuke mendelik sinis, Naruto tertawa nista seraya berlalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat interaksi unik anak-papa itu.
"Makanan akan siap satu jam lagi" teriak Naruto ala chef handal. Kou bersemangat.
"Papa sebaiknya mandi, Kou tidak mau melihat papa bertampang gembel seperti ini" Kou dengan mulut kurang ajarnya. Sasuke hanya bisa maklum. Ia mengangguk, ia memang butuh air hangat untuk menyegarkan kepalanya.
"Jangan lupa dandan ya pa, papa harus tampil mempesona di depan Tante Naru"
Kou berlalu menyisakan Sasuke dengan mulut menganga lebar.
"Berdandan?"
Terkutuklah engkau wanita pirang sialan yang sudah meracuni pikiran Kou. Anaknya yang malang, batin Sasuke getir. Dengan langkah gontai, ia pun berjalan menapaki tangga satu persatu menuju kamarnya.
Suasana makan malam terasa berbeda. Kou asyik berceloteh tentang betapa bencinya ia dengan si murid baru dengan mulut penuh. Naruto menanggapi celotehan bocah itu dengan berbagai ekspresi. Sedangkan Sasuke hanya diam menikmati makan malamnya, sesekali melirik ke sang anak yang terlalu bersemangat.
Ponsel Naruto berdering. Wanita itu mengangkat panggilan yang ternyata dari Kyuubi.
"Maaf Kyuu-nee, aku tidak bisa makan malam denganmu, aku sedang menemani Kou makan disini" ujar Naruto merasa bersalah karena menikmati makan malam indahnya dengan Kou sendangkan Kyuubi seorang diri.
"..."
"Iya, aku pulang sebentar lagi. Jangan tidur sebelum aku pulang"
"..."
"Jaa"
Naruto meletakan kembali ponselnya. Menyadari tatapan Kou, wanita itu menoleh. "Ada apa, darling?" tanya Naruto manis, Sasuke memutar bola matanya kesal, cukup muak mendengar bagaimana si pirang itu memanggil putranya dengan panggilan alay itu.
"Kau tidak tinggal disini?" Wajah bocah enam tahun itu merungut kecewa.
"Tidak Kou" balas Naruto singkat. Jemarinya menyusup ke helaian rambut halus Kou. "Tenang saja, besok pagi-pagi aku akan datang lagi, aku asistenmu, ingat?" lanjut Naruto dengan ekspresi semangat, berniat memancing pengertian Kou. Kou mengangguk lesu. Jika boleh jujur, ia ingin Tante pirang tinggal disini, bersamanya.
"Jaa.. Jika kamu sudah selesai, aku akan mengantarmu ke kamar" tawar Naruto di sambut anggukan antusias si bocah.
Sasuke melirik melalui ekor mata ke sang anak yang berjalan bergandengan dengan si wanita pirang. Helaan napas meluncur dari bibir pria itu.
"Kou.." gumam pria itu getir.
Setelah mencuci kaki dan menggosok gigi, Kou memposisikan dirinya diatas tempat tidur. Dengan lincah, Naruto menarik selimut bermotif pikachu hingga sebatas dada Kou. Naruto melirik bonek rubah berekor sembilan pemberiannya waktu itu yang dipeluk Kou erat, wanita itu tertawa pelan.
Cuu!
Wanita pirang itu mengecup dahi Kou dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kou memandangnya dengan mata yang mulai sayu karna mengantuk. Seulas senyum tipis nampak di bibir bocah itu.
"Oyasuminasai, darling" Naruto mengusap kepala Kou lembut dan berjalan ke arah pintu. Tubuh wanita itu menghilang disusul suara debaman pelan. Kou tersenyum sendu seraya memejamkan mata akibat rasa kantuk yang menyerang kedua matanya.
"Oyasumi.."
"... Mama"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung :"
Hello.
Anoo.. Maaf ya, humornya makin kesini makin berkurang :"
Ya emang ga bakat kali ya ngelawak. Bakatnya ke drama doang, jadinya gini deh. Garing kan :"
Maaf banget kalo makin ngebosenin, apalah daya aku manusia biasa yang kekurangan bahan lawakan :"
Mungkin ada yang mau saranin adegan kocak? /kicked/ XD
As always, I want to say thanks to people who's had left some words on review box.
[ Arum Junnie, Fahzi Luchifer, Deasy674, Demian-Sev15, Narura aihara, Leonardoparuntu9, Askasufa, Eushifujoshi. Diena luna no azalea, Vilan616, Ceei sanaRier, .39, wiwipratiwi, TheB1gboy, Hanazawa Kay, dohchoco, scatterredglass, D, nina, Tdwimbwbnrn, Your fan, Guest, AYsnfc3, Rini, Master solomon, Aldina ]
And also thanks for all of who's favorite, follow and read this boring story:"
Pertanyaan:
1. Apa mamanya Kou masih hidup? Kayaknya sudah terjawab di chapter ini ya. Yups, emaknya kou masih hidup, sehat walafiat pula tuh xD
2. Maksudnya persaingan Kou dengan Shikadai dalam hal apa? Persaingan buat dapetin cinta someone /eh xD
3. Seharusnya Sasuke tinggal sama Itachi biar bisa ketemu sama Naruto. Kasihan Kyuunya :" jadi mending di pisahin aja XD
Additional:
For 'Your fan' or should I call you My Fan? XD
Thanks for reading my boring story and left some words to say you are reader from negeri jiran ^^
I'm so happy, thanks so much. Nice to know you, sist/bro.
Keep reading my boring story, don't be shy /lol/ XD
Sorry, ma english is so bad hoho.
If you want to know me more, you can pm me, and being friend wkwkwk X
Okee. Segitu aja :)
Salam:"
Sampai jumpa di chp berikutnya.
