Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

STAY © Mika Kim

Rate : T

Genre : Family, Romance

Warn : Gender-bender, [Female!Naruto, Female!Kyuubi, OC], OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD

DLDR!

Enjoy

Chapter 5 : The Reason

.

.

.

.


Kyuubi bersenandung. Memang kalau wanita sedang dimabuk cinta, bawaannya akan selalu bahagia. Si sulung Uzumaki ini sedang merapikan apartemen yang sudah ia tinggali dengan sang adik selama beberapa tahun. Profesi adiknya yang baru sebagai pengasuh seorang bocah kaya raya membuatnya harus bekerja ekstra merawat apartemen mereka. Kyuubi terkadang ingin protes mengapa Naru harus meninggalkan rumah pukul enam pagi menyisakan segudang pekerjaan untuknya. Oh, beginilah kalau sudah jadi pengangguran.

Kyuubi tidak menyalahkan sang adik. Kyuubi malah menganggap ini proses menuju keinsyafan yang hakiki [?], proses memantaskan diri untuk calon pendampingnya kelak, setidaknya begitulah bunyi ceramah yang pernah ia dengar.

"Ah, Itachi-san" racau si sulung uzumaki sambil mengorek-ngorek kolom tempat tidurnya dengan sapu sambil tersipu-sipu. Seketika...

"K-kecoaaaaa!"

Bugh!

Kyuubi tidak sengaja menyenggol nakas hingga membuat vas bunga yang berada diatasnya terjatuh dan mengenai jempol kakinya.

"Itaaaaaaaaaiii!"

Kyuubi menjerit sambil melompat-lompat tidak karuan. Jempolnya kakinya sudah membengkak. Kemudian lagi-lagi ia tidak sengaja menabrak lemari hingga kardus yang bertumpukan jatuh dan mengenai kepala merahnya.

Bugh! Bugh!

"Aw!"

Sial.

Pagi yang buruk.

...


Kyuubi kini tepar di atas sofa diruang tengah apartemennya. Jempol yang di balut perban dan kepala yang juga bernasib sama. Kyuubi meringis. Pagi ini ia berniat menjadi wanita sejati malah tertimpa sial.

Saat sedang sibuk mengutuk kesialannya, ponsel wanita itu bergetar. Dengan agak malas Kyuubi meraih ponsel tersebut dan mengernyit saat melihat nama si penelfon.

"Halo?"

"..."

"Iya, Yugao. ada apa?"

"..."

"Apa?"

"..."

"Baiklah, aku segera kesana"

Kyuubi menutup panggilan tersebut dan menatap layar ponselnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Helaan napas meluncur dari bibirnya sebelum akhirnya beranjak dari sofa dan bersiap-siap menuju suatu tempat.

Tidak sampai satu jam, Kyuubi sudah berada di halaman depan sebuah panti asuhan sederhana. Wanita bersurai merah itu menarik napas panjang sebelum melangkah memasuki bangunan panti.

Seorang wanita bersurai ungu cantik menyambutnya di depan pintu dengan senyum hangat.

"Yugao, bagaimana keadaannya?" Kyuubi tanpa basa-basi langsung menanyakan perihal yang membuatnya datang ke panti milik mendiang orang tuanya ini. Senyum Yugao menghilang sekejap digantikan oleh raut wajah sendu.

"Dia mulai membaik, Kyuu. Tapi.. Aku tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan" balas Yugao. "Mungkin sebaiknya kau menemuinya" ajaknya kemudian. Kyuubi mengangguk lalu mengikuti Yugao yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Yugao membuka perlahan pintu sebuah ruangan. Mata Kyuubi langsung tertuju pada sosok mungil yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Ketika kedua wanita dewasa itu masuk, kepala sosok itu menoleh lemah. Sebuah senyum bahagia terpatri di bibirnya.

"Kyuu-chan" lirihnya dengan suara serak. Kyuubi langsung mengambil tempat duduk di sisi kanan tempat tidur gadis kecil itu.

"Naru-chan tidak ikut?" tanya gadis kecil itu. Kepalanya bergerak pelan mencari sosok si pirang. Kyuubi menggeleng pelan. Bibirnya mengulas senyum tipis kemudian mengusap puncak kepala gadis itu. "Kau baik-baik saja kan, Shion-chan?" Kyuubi bertanya dengan nada lembut, seperti bukan Kyuubi saja.

"Pagi ini dadaku sakit sekali, tapi aku tidak apa-apa" balas si gadis kecil, Shion. Jawaban polos namun memilukan bagi Kyuubi. Wanita itu meringis dalam hati. Ia bahkan tidak percaya gadis kecil ini mampu menahan rasa sakit sedemikian rupa. Kyuubi beranjak dari duduknya dan langsung mengecup dahi Shion lembut.

"Kalau begitu istirahatlah, nanti aku akan menyuruh Naru-chan untuk menemuimu, Ok?"

Shion mengangguk semangat.

Kyuubi melambai lalu berjalan menuju pintu di susul Yugao setelah wanita bersurai ungu itu mengecup dahi si kecil Shion.

Kyuubi menghela napas berat sedetik setelah Yugao menutup pintu.

"Shion harus segera dioperasi, Kyuu. Sepertinya penyumbatan pada pembuluh jantungnya sudah semakin memburuk. Beberapa hari ini ia sering sekali merasa kesakitan" ujar Yugao serak seraya menundukkan kepala

Kyuubi menepuk pundak Yugao pelan.

"Tentu, Yugao. Mana mungkin kita diam saja melihat keadaan Shion"

"Tapi Kyuu.. Kau tahu kan, kita tidak memiliki donatur," tandas Yugao cepat. Fakta inilah yang benar-benar Yugao pahami. Sejak orang tua Uzumaki meninggal, donatur panti asuhan itu pun kian menghilang. Koneksi-koneksi besar Uzumaki menghilang begitu saja. Beberapa pengurus panti pun hanyalah para relawan yang memang memilik empati yang tinggi. Mereka bekerja tanpa dibayar. Selebihnya, seluruh kebutuhan anak-anak yang dirawat di panti ini dipenuhi oleh duo Namikaze.

Kyuubi mendesah pelan. Ia bahkan tidak bisa menampik fakta yang baru saja dikatakan oleh Yugao. Namun ia tidak akan tinggal diam.

"Aku akan membicarakannya dengan Naruto, Yugao. Aku pergi dulu"

...


"Syalalala, dududu, nanana, yeayy!"

Senandung demi senandung yang entah lagu apa meluncur bebas dari mulut seorang wanita pirang yang tengah menyibukkan diri di dapur megah milik majikannya. Ups, sebenarnya ia benci mengatakan bahwa si unggas kaya raya, tampan mempesona kelewat batas itu adalah majikannya. Oh, tentu saja. Mengakui Sasuke majikannya, sama saja secara tidak langsung ia mengakui bahwa dirinya adalah pembokat. Hell no!

"Berhentilah bersenandung, kau membuat telingaku sakit!"

Urat dahi Naruto terasa ngilu.

Si pirang menggengam erat pengangan teflon. Tanpa menoleh pun ia sudah tau bahwa pemilik suara seksi dan sialan itu adalah milik papanya Kou. Demi pancake dan karamel, kenapa siluman ini siang-siang sudah ada dirumah? Ringis Naruto, si wanita pirang aduhay dengan wajah yang tiba-tiba kusut.

"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mendengarkanku menyanyi.." cetus Naruto sinis, masih sibuk mengaduk adonan pancakenya. "...dasar sialan" sambungnya dalam hati. Oh, untung ia masih bisa mengontrol mulutnya.

Dengusan sinis terdengar dari si duda beranak satu. Dan itu sangat menyebalkan.

"Kau sebut itu nyanyian? Terdengar lebih mirip dengan cicitan monyet yang tersedak tulang gajah" Sasuke dengan cibiran pedasnya. Naruto menoleh dengan wajah masam. Sejak kapan Uchiha pandai melawak seperti ini.

"Diam kau, dan pergilah dari sini!" erang Naruto dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu keluar dari dapur. Sasuke menaikan sebelah alisnya sarkastik. Salah satu sudut bibirnya tersungging, mengernyit.

Hah?

"Sejak kapan rumah megah ku ini menjadi rumah seorang penculik bodoh, dan berusaha mengusirku?"

Cibiran yang cukup membuat si pirang tersinggung. Naruto mangap, hendak membalas perkataan sinis dari Sasuke namun tertahan di tenggorokannya sendiri. Sialan. Lelaki ini, kenapa mulutnya kotor sekali.

"Idiot!" Sasuke berlalu pergi menyisakan Naruto yang menganga lebar.

Ha?

Naruto melotot tidak terima. Telinganya masih sehat wal'afiat sehingga bisa mendengar penghinaan yang di tujukan untuk dirinya itu.

Hampir saja teflon panas yang ia gunakan untuk membuat pancake melayang. Persetan jika wajah tembok itu harus gepeng dengan luka bakar. Namun niat nista itu terhalang saat seorang bocah berusia enam tahun masuk dapur dengan wajah masam. Bibir mungilnya mengerucut dengan luka lebam pada pipinya.

Naruto panik dan langsung mematikan kompor. Ia kemudian melangkah lebar mendekati si bocah dan mensejajarkan tingginya.

"Kou, darling? Apa yang terjadi dengan wajahmu? Siapa yang mengantarmu pulang? Bukankah sekolahmu selesai satu jam lagi" tanya Naruto bertubi-tubi dalam satu tarikan napas. Tangan lembutnya lalu mengusap pipi lebam Kou hingga ringisan meluncur dari bibir mungilnya.

Kou hanya diam saja. Kepalanya menunduk, membiarkan poninya yang lepek akibat keringat menutupi sebagian wajahnya.

"Katakan padaku, siapa yang sudah berani memukulmu, Kou!" jerit si pirang emosi karena Kou tidak kunjung menjawab.

"Tadi di sekolah, aku.. berkelahi dengan.."

"Apa Kou?"

Naruto dan Kou menoleh bersamaan saat sebuah suara berat terdengar dari arah pintu dapur. Sasuke berjalan cepat menghampiri putranya dan langsung berkacak pinggang.

"Kau bilang apa tadi? Kau berkelahi di sekolah?" ulang Sasuke dengan nada yang lebih dingin. Naruto bahkan bersumpah, suara Sasuke kini terdengar lebih menakutkan di banding biasanya.

Kou beringsut mundur perlahan karena takut. Wajah papanya kini benar-benar terlihat marah. Aturan sang papa yang paling ketat baru saja ia langgar, yaitu tidak ada perkelahian di sekolah.

"Kou! Jawab Papa!" Suara Sasuke naik satu oktaf. Kou berjengit.

"Uchiha, kau tidak perlu meninggikan suaramu. Dia masih anak-"

"Diam kau! Tidak usah mencampuri urusan keluargaku!" sela Sasuke menatap Naruto dengan iris oniksnya yang berkilat. Naruto bungkam.

Pandangan Sasuke kembali tertuju kepada sang anak yang kian menunduk. Terlalu takut untuk memandang wajah papanya, seakan wajah papanya kini adalah wajah paling menakutkan di dunia.

"Iya, Pa. Tadi aku berkelahi.." gumam Kou hampir tidak terdengar. Namun beda ceritanya kalau itu adalah Sasuke. Suara desisan cicak pun tidak bisa terlewatkan dari indera pendengarannya. Dengan wajah garang, si duda itu meraung nista.

"Kou! Kau tahu, dari semua Uchiha kau adalah yang pertama melakukan perkelahian. Apa kau ingin membuat malu keluarga kita? Membuat malu Papa, hah?"

"Cukup, Sasuke! Kau ini keterlaluan sekali. Dia masih anak kecil, dan kau berteriak tentang sesuatu yang tidak dia pahami? Kau ini benar-benar orang tua yang kuno!"

Sasuke diam seketika. Napas Naruto sampai memburu akibat berteriak di depan Sasuke. Apa-apaan si brengsek ini. Meraung nista kepada anaknya sendiri hanya karena masalah sepele? Yang benar saja. Dengus si pirang dalam hati.

Kou lari meninggalkan kedua manusia berbeda gender yang tengah saling melempar tatapan sengit. Dan Narutolah yang pertama sadar.

"Kou!" panggilnya, namun tidak di gubris. Tubuh Kou menghilang setelah keluar dari pintu dapur.

Cih.

Naruto mendecih pelan. Berjalan menyusul Kou dan hampir menabrak bahu Sasuke.

"Dasar orang tua kolot!" cibir si pirang. Seharusnya si duda itu menanyakan dulu alasan kenapa Kou sampai berkelahi, bukan malah meraung dan menyudutkan Kou dengan dalih nama baik. Demi Tuhan, astaga. Kou masih enam tahun. Dia bahkan belum paham apa pentingnya nama baik. Dunia dan pikirannya masih terlalu sempit untuk memahami hal serumit itu.

Sasuke menghela napas kasar. Apa yang baru saja ia lakukan? Dengan gemas, ia menjambak surai hitamnya. Benci, namun ia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Naruto itu benar. Ia sudah berlebihan dan harus meminta maaf kepada anak kesayangannya itu.

Sialan.

Cuti seharinya benar-benar buruk. Seharusnya hari ini ia bisa bersantai. Tapi..

Saat Sasuke hendak menuju kamar putranya, bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Dengan sedikit kesal, ia berjalan ke arah pintu utama dengan kutukan-kutukan yang di tujukan kepada si tamu tidak tahu diri yang dengan lancangnya bertamu di jam kritis.

Pintu utama terbuka menampilkan dua orang dewasa dan satu orang anak kecil dengan wajah lebam dan mata sebelah kiri yang bengkak. Sasuke mengernyit heran. Wajah anak ini terlihat seperti bakpao gagal.

"Shikamaru?"

"Maaf menganggumu, Sasuke" ujar salah satu pria dewasa, yang ternyata adalah salah satu menteri yang memiliki pamor luar biasa di Konoha.

"Boleh kami masuk?" Salah satu dari rombongan keluarga ningrat itu mencetus saat tidak ada respon dari si tuan rumah, dia adalah ibu dari si bocah.

Sasuke mengangguk. Ia membuka pintunya lebar agar rombongan yang berjumlah tiga orang itu bisa masuk.

"Sasuke, sebenarnya kami kesini untuk meminta maaf" ujar Shikamaru terdengar menyesal. Namun Sasuke sedikit bingung, bagaimana bisa menteri ini meminta maaf dengan wajah tidak ikhlas begitu. Oke, Sasuke harusnya tahu bahwa wajah Shikamaru Nara, teman seperjuangannya dulu di SMA ini memang memiliki tampang seperti ini, jadi ia tidak perlu mempermasalahkannya.

"Maaf untuk apa, Shika? Aku tidak mengerti" tandas si duda. Suasana hatinya sedang buruk, guyonan Shikamaru benar-benar tidak dibutuhkan untuk saat ini.

"Begini.." Shikamaru memulai. Namun sejenak matanya melirik ke sang putra yang duduk di sebelah Ibunya dengan wajah kusut, terlihat kesal. Sang menteri menghela napas lelah "sepertinya putraku dan putramu berkelahi di sekolah" sambungnya dengan wajah malas. Oh, tidak. Shikamaru hanya lelah. Baru beberapa hari putranya pindah ke Tk. Sukidayo, ia sudah membuat masalah dengan seorang anak yang baru-baru ini ia ketahui ternyata putra salah satu temannya saat SMA dulu.

Sasuke akhirnya paham. Oh, jadi itulah sebabnya kenapa bocah yang mirip Shikamaru itu wajahnya terlihat seperti bakpao jamuran?

Tunggu?

"Apa? Jadi Kou berkelahi dengan putramu?" ujarnya tidak percaya. Shikamaru mengangguk. Sasuke menghembuskan napas kasar. Mengusap wajahnya dengan asal, membuang rasa kesalnya.

"Shikadai, jelaskan pada paman Sasuke apa yang sudah kau lakukan?" Shikamaru menatap anaknya dingin. Bocah bernama Shikadai itu mendongak dan melirik Ibunya. Sang Ibu mengangguk, memberikan dorongan kepada sang anak agar bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ah, terasa seperti kriminalitas saja, sungut Shikadai.

"Paman.." Suara Shikadai terdengar. Sasuke menfokuskan pandangan ke bocah yang seusia dengan putranya itu.

"Maaf karna aku sudah berkelahi dengan muka tembok"

Sasuke mengernyit. Muka tembok katanya?

"Shikadai.." Sang Ibu melotot, Shikadai memutar bola matanya.

Bocah itu menarik napas sebelum melanjutkan acara permintaan maafnya.

"Maksudku dengan.. dengan.. K-Kou" ujar sibocah. Nampak enggan untuk menyebut nama rivalnya itu. "Aku yang sudah mengejeknya, jadi sebenarnya ini salahku" akhirnya penyesalan itu benar-benar terlihat jelas.

Sasuke menghela napas. Ia memijit tengkuknya yang tiba-tiba terasa pegal.

"Kami benar-benar meminta maaf atas kelakuan buruk putra kami, Sasuke-san. Tolong sampaikan ke putramu bahwa Shikadai benar-benar menyesal" Kali ini sang Ibu, yang mewakili sang anak.

"Kalau begitu, kami permisi, Sas. Tolong maafkan putraku. Dan jangan marahi putramu"

Rombongan itu pun pulang, menyisakan Sasuke yang masih berdiri di ambang pintu melihat punggung tamunya menjauh.

Mengejek?

Apa yang membuat Kou sampai semarah itu? Kini ia sadar, putranya itu tidak mungkin melakukan tindakan kriminalitas jika hal tersebut tidak benar-benar melukai hatinya. Kini ia begitu menyesal, seharusnya seorang ayah melakukan pendekatan kepada sang anak. Bukan malah dengan seenak pantat ayam menghakiminya.

Sasuke menutup pintu rumahnya dan bergegas ke kamar Kou. Namun saat ia hendak masuk, tangannya terhenti saat hampir menyentuh gagang pintu yang tidak tertutup rapat. Ia mematung, melihat betapa mesranya sang anak dengan mantan penculiknya.

Naruto terlihat memeluk Kou sambil terus mengusap surai hitam si bocah dengan kasih sayang. Dan entah kenapa itu membuat Sasuke menjadi sesak. Sialan. Kenapa wanita itu bisa sedekat ini dengan putranya.

Sasuke berniat menguping. Well, ia kini terlihat seperti penguntit saja. Persetan. Ini rumahnya, ia yang berkuasa. Sasuke dan kesombongannya.

"Kou darling, ayo ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto berbisik lembut. Tangannya masih sibuk menikmati betapa halusnya rambut bocah ini.

Kou menenggelamkan wajahnya lebih dalam di perut Naruto. Jemari-jemarinya yang mungil meremas kedua sisi kemeja si pirang dengan erat. Seakan sedang meluapkan seluruh perasan kesalnya pada kemeja tak berdosa itu.

Naruto mengangkat kepala si bocah dengan kedua tanganya. Kini ia bisa melihat wajah manis Kou meskipun ada lebam di pipinya.

"Hei.." panggil si pirang lembut. Kou mengangkat pandangannya, menatap dalam kedua iris safir Naruto. Tanpa sadar, air mata bocah itu tumpah begitu saja. Melewati sepasang pipi tembem dalam satu lintasan. Naruto tercekat.

"Darling, tidak usah menangis"

Naruto menghapus air mata Kou dengan jempolnya. Kou malah makin terisak, namun tidak mengeluarkan suara. Aduh, bocah ini.

"Tidak usah pikirkan apa yang dikatakan papa jelekmu itu, oke?"

Ah, sepertinya wanita ini tidak sadar ada seorang di pintu yang sudah menatapnya seperti singa kelaparan. Mulutnya benar-benar tidak bisa berkata baik kalau mengenai Sasuke. Geh!

"Aku tidak marah dengan papa, tante. Aku tau aku salah karena sudah berkelahi" kata si bocah mengelap ingusnya yang keluar bersamaan dengan air matanya. "Aku hanya benci jika ada yang mengejekku.." Ucapannya tergantung. Naruto mengernyit bingung.

Kou kemudian menceritakan bahwa hari ini, di sekolah, ia mendapatkan pelajaran untuk menceritakan kenangan bersama orang tua. Saat gilirannya tiba, ia hanya menceritakan kenangan bersama papanya. Semua orang menunggu agar ia menceritakan tentang Ibunya. Namun Kou tetap diam hingga Shikadai yang merupakan murid baru tidak tahu diri [menurut Kou] itu mengejeknya hingga membuatnya naik darah.

"Heh, ternyata kau tidak punya mama? Tidak ku sangka orang sombong sepertimu kekurangan kasih sayang. Kau pasti sangat kesepian"

Kata-kata Shikadai itu yang memancing seluruh gelak tawa murid-murid yang lain. Kou merasa terhina dan saat itu juga ia berjalan tanpa mempedulikan Karin yang berusaha menenangkan kelas. Ia langsung menghampiri Shikadai dan melayangkan pukulan ke pelipis bocah itu. Anarkis memang, ia bahkan lupa di mana ia mempelajari tekhnik memukul seseorang.

Naruto termangu. Ia baru saja mengetahui fakta bahwa bocah yang sangat ia sayangi ini ternyata tidak memiliki mama. Sebelumnya ia memang pernah berpikir kemana Ibu Kou, namun pertanyaan itu hanya ia tujukan pada dirinya sendiri. Tidak mungkin kan ia bertanya kepada Sasuke, "mana Istrimu?" 'kan? Astaga, Naruto tidak peduli sama sekali mengenai kehidupan unggas sialan itu. Dia hanya peduli dengan Kou. Saat mendengar cerita ini pun rasa penasarannya terhadap eksistensi Ibu bocah ini kian membuncah.

"Memang mama mu kemana, Kou?" Naruto mengutuk mulutnya sendiri. Pertanyaan sesensitif ini bisa saja melukai perasaan bocah ini kan? Aduh, Nar. Kamu kok bego banget sih.

"Kata papa, mama pergi.." Kou berujar sangat pelan. "Mungkin karena mama memang tidak menyayangiku, makanya dia pergi meninggalkanku dan papa"

Naruto bahkan bisa merasakan betapa pilunya perasaan bocah enam tahun ini. Seharusnya di usia ini ia bisa merasakan kasih sayang orang tua yang utuh. Namun Naruto sendiri tidak bisa menyalahkan mamanya Kou. Mungkin saja dia memiliki alasan kenapa dia pergi, bukan? Mengingat suaminya seperti Sasuke. Wanita mana yang tahan dengan lelaki menyebalkan seperti unggas sialan itu. Oh, kini Naruto malah sibuk menyalahkan Sasuke atas kepergian mama Kou.

"Sudahlah sayang, kamu tidak perlu sedih. Kou masih punya papa, 'kan?" Naruto ingin muntah. Bagaimana pria yang selalu sibuk dengan lumbung Yennya dan terikat pada aturan-aturan kuno itu bisa ia andalkan untuk menjaga Kou setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana si kepala pantat ayam itu meraung seperti wanita sedang PMS kepada anaknya sendiri hanya karna perkelahian kecil?

"Dan, kau masih punya Auntie Naru, okey?"

Kou memeluk si pirang lagi. Kini ia menangis tersedu-sedu dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Naruto mengusap puncak kepala bocah itu, berusaha menyalurkan kepeduliannya.

Kepala Kou terangkat. Wajah Naruto mengernyit melihat lendir yang menempel di bagian depan kemejanya.

"Astaga, Kou. Ingusmu sampai menempel di bajuku, tahu. Kau harus tanggung jawab. Baju ini mahal" canda Naruto. Wajahnya pura-pura ia sedihkan. Kou tertawa pelan seraya mengusap ingusnya dengan tangan dan itu malah membuat wajahnya semakin berantakan.

Naruto mengambil tisu di nakas. Dengan lihai tangan wanita pirang itu membersihkan wajah si bocah hingga kini terlihat tampan lagi.

"Nah, wajahmu sudah bersih. Jangan menangis lagi" ujarnya. Kou mengangguk semangat.

Decitan pintu membuat kepala Naruto dan Kou menoleh secara bersamaan. Seketika mata Naruto memicing tajam dan berbalik, membiarkan Kou berada di balik punggungnya. Ia akan melakukan apa saja untuk melindungi si bocah jika papa kolot ini meraung nista lagi sekalipun harus menggunduli pria ini.

Sasuke bukannya tidak menyadari aura perlawanan Naruto, ia hanya mengabaikan wanita itu. Sekarang ini, ia hanya ingin memeluk anaknya.

"Kou.." panggilnya lembut. Sasuke semakin mendekati anaknya. Kepala Kou yang tadinya menunduk kini mendongak ke sang papa. "Papa minta maaf karna sudah memarahimu" sesalnya. Naruto menghela napas lega. Ia tersenyum tipis lalu beranjak berdiri dan memutuskan untuk tidak akan ikut campur. Ini urusan anak dan ayah. Setelah mengecup puncak kepala Kou, wanita itu pun berjalan keluar dari kamar. Memberikan waktu berharga kepada mereka untuk saling bicara dari hati ke hati.

Setelah pintu di tutup, keduanya saling berpandangan. Tangan kekar Sasuke menangkup pipi sang anak dengan lembut.

"Maafkan papa, Kou" ujarnya. Benar-benar menyesal.

Kou menggeleng pelan.

"Harusnya Kou yang minta maaf, pa" balas si bocah terdengar begitu polos. Mata bulatnya yang hitam menatap wajah sang papa. Sama, dengan tatapan penyesalan.

"Iya, sayang"

Sasuke kemudian merengkuh kepala sang anak dan membawanya kedalam pelukan hangat. Kou tidak menolak. Ia memeluk papanya erat. Menyalurkan penyesalan dan kasih sayangnya secara bersamaan. Bagaimanapun, ia sangat menyayangi pria dua puluh tujuh tahun itu.

"Pa.." panggil Kou pelan. "Hm?" Sasuke menyahut tanpa melepas pelukannya terhadap sang anak. "Belikan tante Naru baju baru, tadi aku mengotori pakaiannya dengan ingusku" cetus Kou. Sasuke antara ingin tergelak dan mendengus, ia mengangguk. Tidak masalah, sekalipun ia harus membelikan pakaian satu kodi untuk wanita itu, tidak akan mengurangi digit nominal uang di rekeningnya. Lagipula, si pirang idiot itu sudah menenangkan putranya.

...


Naruto melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda di dapur tadi. Layaknya koki profesional, ia menuang madu ke atas pancake. Terlihat menggiurkan. "Hm, Kou pasti suka" gumamnya bangga.

Getaran ponsel di sakunya membuat wanita pirang itu meletakkan piring berisi pancake di atas meja. Ia segera merogoh saku dan mengambil ponselnya. Kerutan di dahi wanita itu terlihat saat melihat nama penelfon.

"Kyuu-nee?" Naru membatin. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Kyuu-nee"

"..."

"Aku di kediaman Uchiha, ada apa?"

"..."

"Sekarang?"

"..."

"Baiklah. Aku akan bicara dengan Uchiha, kalau dia mengijinkanku, aku akan segera kesana"

Naruto menutup panggilan tersebut. Kenapa tiba-tiba kakaknya meminta agar ia segera menemuinya? Naruto merasa ada sesuatu yang sudah terjadi. Ia pun bergegas.

Tangannya menyambar jaket yang ia sampirkan di punggung kursi. Saat hendak keluar dari pintu dapur, hampir saja ia bertabrakan dengan Sasuke. Untung saja refleksnya bagus, kalau tidak piring berisi pancake yang ia pegang pasti sudah jatuh dan hancur berkeping-keping.

"Boleh aku pergi sebentar? Kakak perempuanku sepertinya sedang ada masalah?" tanya Naruto berusaha sesopan mungkin.

Sasuke diam dengan wajah datar. Naruto sudah bisa menebak bahwa pria ini akan menolak dan mencibirnya habis-habisan. Menghinanya, dan mengatakan kalau ia kan lari dari tanggung jaw-

"Pergilah"

Eh?

Mata Naruto melotot. Apa yang barus saja ia dengar?

"O-oi? Kau tidak sedang sakit kan?" tanya Naruto tercengang. Jawaban pria ini barusan sama sekali tidak terlintas dalam ekspektasinya. Apa baru saja kepala unggasnya ini terbentur pilar rumah? Astaga, kiamat sudah dekat.

"Ck,"

Sasuke mendengus menyadari pikiran-pikiran aneh si pirang terhadap dirinya. Naruto kembali dari keterkejutannya. Well, terserahlah.

"Berikan ini kepada Kou, pastikan ia menghabiskannya. Aku pergi dulu"

Naruto berlalu pergi tanpa menoleh lagi.

Sasuke menatap pancake yang diberikan wanita pirang gila itu. Terlihat menggiurkan membuatnya menelan ludah. Ia melirik kanan dan kiri memastikan si pirang itu benar-benar sudah pergi. Oke, dia sudah pergi, pikirnya.

Dengan pelan-pelan, ia memotong pinggiran pancake itu dan memasukannya kedalam mulut. Mata Sasuke membulat. Seumur-umur, mungkin inilah makanan manis pertama yang berhasil menggoyang/?/ lidahnya. Bahkan kue buatan Ibunya tidak seenak ini. Ia memasukkan potongan kedua kedalam mulutnya hingga suara cempreng terdengar dan membuatnya tersedak.

"Aku lupa ponselku!"

Si pirang tak tahu malu itu menyambar masuk kedalam dapur. Mengabaikan Sasuke yang masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri dengan wajah memerah karena tersedak.

Naruto menoleh.

"Oh, kau masih disini?" cetusnya. Kemudian mengernyit heran. "Oi, kenapa wajahmu merah sekali? Apa kau demam?" tanyanya lagi seraya berjalan mendekati Sasuke. Naruto kemudian memandangi wajah Sasuke yang kian memerah seperti menahan sesuatu. Urat lehernya pun terlihat menegang. Manik safir si pirang pun menangkap pancake yang sudah ternodai. Dan detik berikutnya ia sadar.

"Astaga, dasar bodoh!"

Naruto lari mengambilkan segelas air dan langsung memberikannya ke Sasuke. Pria itu menyambar dan langsung menimunnya hingga tandas.

"Uhuk! Uhuk! Ohoh!"

Sasuke terbatuk-batuk. Sialan. Hampir saja ia mati hanya karena pancake.

"Dasar idiot, kenapa kau tidak bilan kau itu tersedak?" erang si pirang kesal. Sasuke melotot.

"Kau pikir karena siapa aku tersedak, itu karena suara jelekmu" balas Sasuke sengit. Cih.

Gzz! Duda ini benar-benar menyebalkan. Bukannya berterima kasih, malah menyalahkan Naruto. Kemudian si pirang menyadari sesuatu.

"Hei! Ini untuk Kou, kenapa kau memakannya?"

Sasuke seperti pencuri yang sedang tertangkap basah. Ia mangap, tidak tahu harus membalas apa.

"Berikan kepada Kou, atau aku akan menggundulimu!" perintah Naruto mutlak. Matanya menatap tajam Sasuke, kemudian beranjak pergi menyisakan Sasuke yang mematung karena mati kutu.

Sialan!

Wanita idiot itu!

...

Kyuubi melambaikan tangannya kepada sosok Naruto saat adiknya itu baru saja melangkah memasuki sebuah cafe di dekat toko jemari Sally. Si bungsu uzumaki langsung saja mendudukkan diri di hadapan sang kakak.

"Kyuu-nee, ada apa kau tiba-tiba memanggilku kesini? Apa ada masalah? Jangan bilang kau nekat untuk mencari tahu dimana Itachi-san sekarang berada?" tanya Naruto sekenanya. Kyuubi hampir saja menyemburkan minuman yang sedang ia seruput mendengar nama Itachi di sebut dengan mata yang melotot.

"Oh, salah ya?" Naruto ngeles dengan tawa garing sambil menggaruk pipinya.

Kyuubi berdehem. Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

"Naru-chan, ada yang ingin aku bicarakan dengamu"

Melihat dari gelagatnya, sepertinya Kyuubi sedang tidak membicarakan Itachi, pikir Naruto nista. Ia mengangguk, sekedar memberi kode untuk kakaknya agar melanjutkan, ia siap mendengar semuanya.

"Tante Naru-hmmp!"

Naruto merasa baru saja Kou memanggilnya. Ia celingak-celinguk. Perasaannya berubah jadi tidak nyaman. Apa Kou baik-baik saja di rumah? Jangan bilang Sasuke tengah menganiaya anaknya.

"Naru-chan?" Kyuubi menegur sang adik yang dirundung kegelisahan.

"Ah, iya Kyuu-nee. Lanjutkan"

Ia kembali fokus. Mungkin suara Kou barusan hanyalah imajinasinya saja. Mungkin karena pagi ini ia menonton spongebob episode imajinasi, makanya ia juga tiba-tiba berimajinasi.

Di sudut lain di cafe itu, terdapat dua sosok manusia. Yang satunya seorang bocah yang mulutnya tengah dibekap, dan yang satunya seorang pria bertampang pedopil menggunakan mantel dan kacamata hitam.

"Mmphh!"

Si bocah menepuk-nepuk tangan besar yang membekap mulutnya. Si pemilik tangan kemudian mengisyaratkan agar bocah tersebut tidak mengeluarkan suara. Si bocah mengangguk.

"Hhh, papa kenapa membekap mulut Kou? Ayo kesana pa, disana ada tante Naru dan tante rambut merah" ujar Kou seraya menunjuk-nunjuk kearah meja Naruto.

"Ssst!" Sasuke menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Putranya ini terlalu berisik, bisa-bisa acara stalkingnya berujung pada kegagalan.

Oke, Sasuke saat ini sedang memata-matai si Naruto. Menurutnya, gelagat wanita itu beberapa waktu yang lalu di rumahnya terlihat cukup mencurigakan. Jadi ia mengikuti si pirang hingga kesini. Kenapa ada Kou? Karena ia tidak mungkin meninggalkan Kou sendirian di rumah. Tapi sepertinya, membawa Kou turut serta dalam acara menguntit ini sedikit merepotkan.

Kembali ke Kou dan Sasuke.

"Jangan berisik, kita harus tahu apa yang sedang si idiot itu rencanakan" bisik Sasuke kepada Kou. Kou mendengus kesal.

"Pa, jangan mengatai tante Naru idiot!" Kou berujar tidak terima. Sasuke balas mendengus.

"Kau kenal wanita berambut merah itu?" Sasuke kembali berbisik. Kou mengangguk. "Dia tante yang juga menemaniku di archade waktu itu, pa" balas Kou enteng. Sasuke memicingkan matanya. Oh, jadi wanita itu satu komplotan dengan si pirang rupanya, pikir Sasuke.

Mari kita lihat, apa yang mereka rencanakan. Desis Sasuke.

...

"Naru-chan.. Panti asuhan kita mengalami krisis moneter karena tidak adanya donatur" ujar Kyuubi pahit. Ah, Naruto sudah tahu akan hal itu.

"Dan lagi, keadaan Shion semakin memburuk, tadi aku sempat mengunjunginya karena Yugao menelfonku" sambungnya lagi dengan nada suara yang getir. Ia menelan ludah. "Shion menitipkan salam untukmu"

Mimik wajah Naruto berusah gusar.

"Lalu bagaimana, Kyuu-nee? Apa Shion baik-baik saja?"

"Dia harus segera di operasi, kalau tidak.." Kyuubi menjeda, ia bahkan tidak mampu mengutarakan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika gadis kecil itu tidak segera dioperasi.

"Lalu kenapa tidak segera dioperasi, Kyuu-nee?" desak Naruto tidak sabar. Manik safirnya menyiratkan kecemasan yang luar biasa akan keselamatan gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.

"Sudah ku bilang, Naru-chan. Panti saat ini tidak memiliki donatur. Kau tahu sendiri kan? Selama ini kitalah yang membiayai semua kebutuhan anak-anak di panti melalui penculikan yang kita lakukan. Tapi sekarang, kita sudah tidak melakukannya lagi"

Ah, apa yang dikatakan oleh Kyuubi benar. Alasan mengapa duo Uzumaki ini melakukan penculikan bukan hanya untuk kepuasaan mereka pribadi. Selama ini, mereka berdualah yang bertanggung jawab atas panti asuhan milik mendiang orang tua mereka.

"Apa kita harus menculik lagi, Kyuu-nee? Kita tidak bisa diam saja melihat kondisi Shion dan masa depan anak-anak yang lain" gumam Naruto getir.

"Tidak, Naru. Kita tidak bisa kembali lagi. Identitas kita sudah terbongkar oleh salah satu korban kita, kau tahu kan. Membuat pergerakan sedikit saja, bisa benar-benar menjebloskan kita ke penjara" Kyuubi mengingatkan. Dan memang, akan lebih merepotkan lagi jika mereka benar-benar di penjara.

"Aku tidak keberatan, Kyuu-nee. Asal Shion sembuh dan yang lain bisa hidup bahagia, aku tidak keberatan mengorbankan hidupku" ujar Naruto tanpa keraguan sama sekali. Baginya keselamatan Shion jauh lebih penting.

Kyuubi menatap adiknya. Watak sang adik benar benar mirip ibunya. Selalu saja mementingkan orang lain.

"Atau kita gunakan saja uang yang kita dapat dari papanya Kou, Kyuu-nee?"

Kyuubi menganga. "Tidak, Naru. Uang itu akan kita kembalikan" bantah Kyuubi cepat. Mereka sebelumnya sudah membahas tentang hal ini, bahwa uang itu akan ia kembalikan kepada Sasuke. Semua ini agar Naruto tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama menjadi pengasuh, dan bisa mencari pekerjaan lain. Tapi, sepertinya untuk saat ini mereka tidak punya pilihan lain.

"Tidak masalah, Kyuu-nee. Uang itu cukup untuk biaya operasi Shion untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dalam waktu beberapa bulan. Lagipulan, Uchiha sepertinya sudah tidak memikirkan uang itu. Dan aku akan menjadi pengasuh Kou, sampai mereka sendiri yang bosan"

Kyuubi menggenggam tangan sang adik.

"Naru-chan, ayah dan ibu pasti sangat bangga bisa memiliki putri seperti dirimu" ujar Kyuubi sendu. Naruto mengulas senyum tipis. "Dan putri sepertimu juga, Kyuu-nee" balas si pirang.

"Baiklah, aku akan segera menghubungi Yugao, dan memberitahukan hal ini-"

"Tante Naru!"

Kyuubi dan Naruto mendongak bersamaan saat suara imut menginterupsi percakapan mereka.

Mata Naruto membulat. Bukan Kou yang membuatnya kaget, tapi sosok Sasuke yang berdiri menjulang di belakang tubuh mungil Kou.

Kyuubi menatap Kou dan Sasuke secara bergantian. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Kyuubi untuk mengetahui bahwa pria itu adalah papanya Kou. Ia menelan ludahnya kasar.

"K-kou, apa yang kau lakukan disini?" Suara Naruto tercekat.

Kou mengerjap polos. "Memata-matai tante Naru bersama papa" balasnya terdengar enteng dengan wajah datar. Astaga, bocah ini.

"Aku sudah mendengar semuanya" Sasuke menyela. Naruto dan Kyuubi saling berpandangan.

"Tapi, bagaimanapun juga yang kalian lakukan sebelumnya itu adalah tindakan kriminal" sambungnya lagi dengan wajah sinis. Nampaknya sakit hatinya masih belum hilang karena anaknya adalah korban kedua penculik ini. Akan tetapi, ia tetaplah manusia. Sedingin-dinginnya darah Uchiha yang mengalir dalam tubuhnya, rasa empati yang ia miliki masih ada. Tersembunyi di balik tembok datarnya.

"Kau seharusnya bersyukur yang mengetahui identitas asli kalian itu aku" cetusnya kemudian, tersirat nada narsis dari kalimatnya barusan. Jika saja Naruto saat ini sedang tidak terpojok, ia pasti akan muntah.

"Ayo, Kou. Kita pergi" Sasuke berlalu. Meninggalkan Kyuubi dan Naruto yang masih mematung. Kou mendongak dan menarik ujung kemeja Naruto.

"Tante, jangan menculik lagi. Aku tidak mau kalian sampai dipenjara" celetuknya dengan wajah yang menggemaskan. Naruto mensejajarkan tingginya dan mengecup pipi tembem Kou hingga pipi itu bersemu merah.

"Ayay, Kapten!" Naruto berseru sambil hormat ala ajudan. Kou terkekeh pelan. Kyuubi mengusap puncap kepala Kou membuat bocah itu mendongak.

"Lama tidak berjumpa, Kou sayang" sapa Kyuubi ramah. Matanya kemudian menangkap rona biru di pipi bocah enam tahun itu. "Kou, pipimu kenapa? Apa papamu suka menganiaya dirimu?"

Kou tersenyum tipis. "Senang bisa bertemu lagi dengan tante rambut merah" tangan mungilnya kemudian mengusap lebam biru yang di maksud Kyuubi. "Papa tidak pernah memukulku, kok. Ini bekas perkelahian. Proses menuju ke laki-lakian" sambung Kou sok dewasa.

Kyuubi menganga. Astaga, bocah ini. Ia kemudian terkekeh pelan mendengar namanya disebutkan oleh si bocah.. "Namaku Kyuubi, Kou. Bukan tante rambut merah" ralatnya, kemudian ketiganya tertawa.

Dari jauh Sasuke memerhatikan putranya yang tertawa lepas bersama dua orang sinting yang baru saja dikenalnya. Kini ia mengerti mengapa Kou sama sekali tidak mengalami trauma setelah penculikan. Mereka benar-benar memperlakukan anaknya dengan sangat baik. Tidak heran jika Kou benar-benar menyukai kedua wanita itu, terutama si pirang.

Sasuke mendengus. Kemudian tanpa sadar ia mengulas senyum tipis yang samar-samar.

"Kou, ayo cepat. Yang lain sudah menunggu" panggil Sasuke. Kou mengangguk pelan.

"Kalau begitu, aku dan papa pergi dulu. Kami ingin pergi ke rumah grandma," seru Kou. Naruto dan Kyuubi mengangguk. "Tos!" Kyuubi dan Naruto tertawa pelan saat telapak tangan lembut Kou menepuk telapak tangan mereka. Kou berlari ke arah sang papa yang sudah lebih dulu melangkah sambil terus melambai. Bocah yang menggemaskan.

"Aku benar-benar jatuh cinta dengan bocah ajaib itu, Kyuu-nee" lirih Naruto. Kyuubi mendengus lalu menyentil dahi sang adik. "Kau terlihat seperti pedopil" ejek Kyuubi membuat Naruto merungut kesal karena dikatai pedopil. Huh!

...

Sasuke sesekali melirik putranya yang sedari tadi tersenyum tiada henti. Duda beranak satu itu lalu menghela napas maklum. Entah kenapa, putranya benar-benar kini terlihat seperti remaja yang sedang kena puber.

"Kau bahagia sekali, Kou. Apa sebegitunya kau menyukai kedua mahluk menyilaukan itu?" cibir Sasuke dibalas delikan menggemaskan sang anak. Sasuke terkekeh geli. Dasar bocah.

"Mereka itu menyenangkan, pa. Apalagi tante Kyuu. Boneka rubahku sebenarnya adalah miliknya, ia mendapatkannya saat di archade. Dia hebat" Kou memuji-muji Kyuubi. Sasuke memutar bola matanya bosan. Selanjutnya sepanjang jalan menuju kediaman utama Uchiha, Kou terus saja berceloteh tentang betapa hebatnya Kyuubi saat bermain di archade dan betapa baiknya Naruto yang selalu membelikannya es krim.

Entah kenapa, hati Sasuke menghangat.

Ah.. Sepertinya ia mulai menerima kehadiran wanita pirang itu dalam kehidupan anaknya.

Di tempat lain, Kyuubi tiba-tiba merasa merinding dan bersin-bersin sejak tadi. Sama halnya dengan Naruto.

"Sepertinya ada yang sedang bergosip tentang kita, Kyuu-nee"

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung ^^

Aloha, maaf updatenya lama. Bukan keinginan daku. Tapi beneran ga ada waktu buat nulis. Tugas kuliah numpuk :"" laporan pun kudu di selesein.

Ah ayolah, jangan marah-marah karena updatenya lama. Kesibukan itu bukan sesuatu yang di inginkan, bukan? Siapa sih yang pengen sibuk? Ya kan?

Aku ga sengaja nelantarin ficnya loh, jadi jangan mendesak plis. Aku kadang down kalo di desak :" aku menghargai seberapa kalian pengen membaca ff abal ini. But, ya moo gimana lagi? Kuliah lebih penting ya kan? Apalagi bentar lagi aku bakal KKN, jadi kudu fokus ngejar target kelulusan sks :"

[Maaf, jadi curhat. Intinya pengen dirimu mengerti lah ya]

Selanjutnya, saya pengen ngucapin terima kasih kepada:

[AySNfc3, Arum Junnie, Sondankh641, Deasy674, Leonardoparuntu, lutfiah369, Icha497, Vilan616, dohchoco, Azarya Senju, Saniwa satutigapuluh, Vipra69, 90, XxxMAMxxX, Diena Luna no azalea, Park RinHyun-uchiha, Fahzi Lucifer, Choho, Rini, Saera, Aokji159, Nina, Guest, Guest(2), Matarinegan, Vryheid, Jasmine Daisynoyuki, Mikachan45, Karlinakyutbingo, Askasufa, Akane Uzumaki faris, No name, Azyxbee]

Yang sudah dengan senang hati meninggalkan jejek di kolom review, mendukung, memberi masukan dan memberi kritik/saran:"" makasih, kalian luar biasa.

Dan kepada yang sudah menfollow, menfavoritkan, dan membaca [silent reader, kalo ada sih] ff ini, saya juga ucapkan terima kasih.

Dan permintaan maaf, karena chapter ini Humornya berkurang drastis. Chapter ini mengungkap beberapa fakta, jadi sulit membumbuhinya dengan humor, nanti feel ngilunya ga berasa, ya kan. Wkwk doain semoga next chp ga mengecewakan kayak chapter ini :"""

Pertanyaan:

1. Apa Naruko yang jadi mamanya Kou? Naruko? Bukan bukan :" Naruko tidak ada dalam cerita ini.

2. Kousuke manggil Naru mama, berarti Kou pengen Naru jadi mamanya? Absolutely, right xD

3. Mamanya Kou sakura ya? No.

4. Kapan cerita Itakyu? Sabar, masih di pikirin kapan wkwk xD

5. Apa Naruto nanti akan menikah dengan Sasuke? Kalo nikah, I actually don't know about this one xD doakan saja semoga jodoh :"

6. Apa ada konflik antara mama kandung Kou? Maybe yes, or no xD

7. Mamanya Kou, anko? BUKAN. Atau Shizuka Nadeshiko? SIAPA ITU?

8. Kapan romance Narusasu? Jangan buru-buru, kita buat semuanya mengalir seperti air. Biarkan Sasuke sadar dulu kalo dia butuh Naru wkwk

9. Ceritanya terinspirasi dari ff "Sakura kiddnaped" karya Monster Cookies kah? Sayangnya bukan xD aku bahkan belum pernah baca karya Monster Cookies sebelumnya alias ga kenal sama beliau /kicked/

Kalo di tanya ini terinspirasi dari mana, dari beberapa kejadian penculikan yang ada disekitar kota tempat tinggalku xD

10. Siapa emaknya Kou? Pertanyaan legend :" RAMBUTNYA GA WARNA WARNI. Jadi bukan Sakura, Ino, Naruko, dll :"""""

11. Siapa yang bakal dapetin Naru, Kou atau Shikadai? Sasuke? Wkwk

12. Kenapa NaruKyuu jadi penculik anak? Chapter ini jawabannya ^^

Oke, segitu aja dulu. Thank you so much.

I love ya, guys. /cipok atu-atu/

Mkim.