Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

STAY © Mika Kim

Rate : T

Genre : Family, Romance

Warn : Gender-bender, [Female!Naruto, Female!Kyuubi, OC], OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD

DLDR!

Enjoy

Chapter 6 : Awal Dari Masalah!

.

.

.

.

Wajah kusut Naruto berubah berbinar saat kedua manik safirnya mendapati sosok malaikat imut yang masih bergelung dalam selimut dengan memeluk boneka rubah berekor sembilannya. Rasa kesal akibat perdebatan pendek yang terjadi antara dirinya dengan seorang iblis berwujud manusia super tampan pagi itu menguap begitu saja karena pemandangan menyejukkan mata.

Kakinya melangkah pelan mendekati tempat tidur bocah malaikat itu dengan senyuman yang lebih mirip remaja karbitan yang sedang di mabuk asmara. Detik berikutnya, pantatnya yang tidak terlalu montok itu mendarat di kasur empuk milik si bocah.

"Kou, darling?"

Suara lembut dan mendayu-dayu bak penyanyi dangdut dari negeri tetangga itu menyapa indera pendengaran si bocah. Perlahan tapi pasti, kelopak mata yang dibalut kulit seputih porselen itu terbuka, menampilkan sepasang iris hitam cantik yang ia warisi dari Papanya. Kelopak itu mengerjap manja, berusaha menyesuaikan retinanya dengan cahaya menyilaukan yang terpancar dari rambut pirang seorang wanita yang sedang tersenyum bak bidadari, menurutnya.

"Uhm, Tante Naru," sapanya dengan suara serak-serak seksi seraya mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Mulut mungilnya terbuka lebar saat ia menguap hingga sudut matanya digenangi air mata suci yang sewaktu-waktu bisa berubah jadi mutiara(?).

"Selamat pagi, darling!" Seru si pirang. Deretan gigi putihnya yang berkilauan ia pamerkan begitu saja, Kou sampai mengernyit saking silaunya.

"Pagi, Tante Naru," balas si bocah.

Tanpa bocah berusia enam tahun itu duga, kecupan lembut mendarat di pipi gembulnya, menghantarkan getaran-getaran aneh melalui titik syaraf kulitnya. Pipi itu pun seketika berubah menjadi merah akibat serangan tiba-tiba si pirang. Dalam hati, ia merungut kesal. Kenapa ciumnya gak bilang-bilang? Kan sebelumnya ia bisa mempersiapkan mentalnya dari kejutan kecil itu, rungut Kou dalam lubuk hatinya.

"Uft, kamu bau ilel, loh." ledek Naruto sambil menjepit hidung dengan dua jemarinya. Kou mempoutkan bibirnya lucu. Dengan malu-malu, ia mengusap sudut bibirnya berniat membersihkan bekas ilernya sendiri.

Naruto terkekeh, acakan lembut penuh kasih sayang ia hadiahkan ke rambut Kou. Lalu wanita pirang itu menarik selimut yang menutupi tubuh bocah itu dalam satu sentakan pelan. "Nah, sekarang waktunya mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," ujarnya.

Kou mengangguk lalu menyeret tubuhnya sendiri dengan susah payah ke kamar mandi. Bocah itu bahkan hampir jatuh tersungkur akibat tersandung mainannya sendiri karena nyawanya belum terkumpul semua. Naruto sampai menggeleng kepala maklum.

Sembari menunggu Kou mandi, Naruto memanfaatkan waktu luangnya yang singkat itu untuk membersihkan kamar si bocah. Tidak sampai lima menit, pintu kamar mandi terbuka memaksa kepala pirang Naruto menoleh. Di ambang pintu, Kou berdiri dengan wajah memerah seperti menahan tangis.

"Ada apa, Kou?" tanya Naruto bingung. Matanya melirik kearah benda yang digenggam Kou di tangan sebelah kanannya. Sebuah sikat gigi berganggang hewan naga gendut seperti yang biasa ia lihat di iklan-iklan komersial. Apa yang salah? Pikirnya.

Naruto mendekat. Satu-satunya yang ada di pikirannya saat ini adalah Kou belum tahu cara menyikat gigi dengan benar dan Kou ingin untuk disikatkan giginya. Dasar kutu kupret, Ayah macam apa si unggas jejadian itu yang tidak becus mengajari anaknya sendiri tentang hal sekecil ini, Naruto menggerutu.

Bibir Kou melengkung kebawah dengan mata berkaca-kaca. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, ia menyodorkan tangan kirinya yang terkepal ke depan wajah Naruto. Kepalan tangan itu terbuka. Menampilkan sebuah benda kecil berwarna putih dengan salah satu ujungnya yang berdarah.

Eh?

Naruto menganga.

Well, sepertinya ia harus meminta maaf kepada Papanya Kou karena sudah suudzon.

"Astaga, My precious darling! Gigimu tanggal!" seru Naruto kencang. Benda kecil yang sudah di ketahui bahwa itu adalah gigi Kou yang tanggal langsung berpindah tangan. Naruto menatap gigi itu dengan tatapan lapar, seakan-akan ingin menelan bulat-bulat benda kecil tersebut saking gemasnya. Matanya kemudian melirik jahil kearah Kou yang nampaknya masih syok dengan peristiwa tanggalnya gigi susunya untuk pertama kali.

"Kou, coba kamu tersenyum," pinta Naruto dengan nada jahil. Kou meggeleng cepat hingga rambutnya yang basah bergoyang-goyang mengikuti arah gelengannya.

"Kalau kau tidak mau senyum, aku akan ngambek!" Naruto pura-pura merajuk. Ia memalingkan wajahnya dengan tangan yang dilipat di depan dada.

Kou tidak berkutik. Ia tidak ingin Naruto sampai ngambek dan mengabaikannya. Itu adalah neraka selain jatah kuotanya dipotong oleh sang Papa. Dan jika ingin memilih, ia lebih baik tidak memiliki kuota daripada wanita pirang kesanyangannya itu merajuk. Lalu dengan setengah terpaksa, Kou melengkungkan bibirnya hingga seulas senyum manis terpatri di wajah imutnya. Detik berikutnya, deretan gigi yang sebelumnya tertata rapi, kini terlihat saat kontras dengan hilangnya salah satu gigi seri itu.

Naruto tercengang. Selajutnya, gelak tawa wanita itu memenuhi kamar mewah Kou.

"Ya Tuhan, Kou! Kau benar-benar mirip dengan bocah kembar asal Malaysia yang sering makan di kedai uncle Murtu dengan gigi seperti itu, astaga! Kau lucu sekali.." ledek Naruto terus menerus mengabaikan wajah Kou yang semakin memerah akibat menahan malu.

"Mou! Tante Naruuuuu!"

...

Suasana sarapan di kediaman Uchiha Sasuke nampak lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Hanya ada gelak tawa yang terdengar. Mungkin karena sebelumnya keberadaan Sasukelah yang menjadi faktor utama terjadinya perang dingin di meja makan. Saat ini, hanya ada Kou dan Naruto yang sarapan. Salah satu pelayan mengatakan bahwa Tuan mereka sudah berangkat lebih awal karena akan melakukan meeting dengan relasi kerjanya. Naruto sepertinya tidak begitu peduli. Dan Kou? Selagi masih ada Naruto di depan matanya, eksistensi sang Papa tidak jadi masalah. Dasar anak durhaka.

"Kou, bisakah kau meminta salah satu keluargamu untuk menjemputmu siang nanti?" Naruto bertanya setelah memasukkan sepotong roti dalam mulutnya.

Kou mendongak. Mata bulat hitamnya menatap si pirang dengan tatapan menyelidik, curiga. "Tante tidak ingin menjemputku?" tanyanya seperti gadis yang sedang cemburu. Naruto jadi salah tingkah.

"Bukan begitu, Darling, hari ini aku akan ke rumah sakit untuk mengurus administrasi operasi Shion-chan, kau ingat tempo hari aku dan Kyuu-nee membahas hal ini, 'kan?" Naruto berusaha meyakinkan. Kou yang semula tidak terima akhirnya menyetujui. Lagipula, ia tidak ingin terlihat jahat dan egois. Meskipun ia tidak bisa menampik bahwa ia ingin menghabiskan waktunya setelah bersekolah dengan si pirang yang sudah ia lantik secara tidak resmi sebagai kandidat calon Mamanya.

'Baiklah, aku akan meminta uncle Tachi untuk menjemputku," ujar Kou disambut senyuman lebar oleh si pirang.

"Jaa, ayo berangkat!"

...

Kou melangkah ragu memasuki gerbang sekolahnya. Bibirnya terkatup rapat, berusaha melindungi imejnya yang keren di mata warga Tk. Sukidayo. Dengan sok keren, salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana pendeknya, dan berjalan begitu angkuh. Ia hanya mengangguk ketika beberapa guru menyapanya. Dasar bocah pongah.

Mata hitamnya langsung menenung tajam ke seorang bocah yang duduk tepat di sisi bangkunya. Kedua pasang mata itu saling beradu untuk beberapa detik hingga si bocah berambut nanas itulah yang pertama mengalihkan pandangan. Kou mendengus. Ia kemudian berjalan menuju bangkunya, berusaha mengabaikan eksistensi seseorang yang ia juluki si bocah nanas karena masih merasa sakit hati akibat perkelahian mereka beberapa waktu yang lalu.

Kou menopang dagu sambil melihat kearah luar jendela sambil membayangkan hari-hari indahnya dengan Naruto. Tentu saja posisinya membelakangi Shikadai. Namun saat ia tengah melambung tinggi dengan khayalan konyolnya, suara Shikadai memaksanya untuk menolehkan kepala.

"Ne, Kou!"

Kou melirik heran melalui ekor matanya. Mungkin hanya perasaannya saja atau memang itulah pertama kalinya si bocah nanas itu memanggil namanya dengan benar. Sedikit tidak terima karena nama kecilnya dipanggil dengan mudah oleh orang yang sudah membuat hatinya begitu terluka.

Bocah berambut hitam itu menoleh dengan tidak ikhlas. Kedua matanya langsung saling beradu dengan tatapan dari jade Shikadai.

"Apa?" balasnya ketus disertai dengan wajah yang ia sudah pastikan bahwa itu adalah ekspresi paling sinis yang bisa ia tampilkan.

Shikadai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa, ia merasa semakin canggung. Ia jadi ingat cerita Tou-sannya yang pernah bercerita sewaktu ingin menyatakan cinta ke Kaa-sannya, pria yang sudah tidak muda itu merasa seperti sedang demam. Sama seperti yang ia rasakan sekarang. Sungguh aneh, padahal ia sedang tidak ingin menyatakan perasaannya ke bocah kesepian maniak wanita pirang itu. Shikadai terus menggerutu dalam hati.

Kou mendengus dan memalingkan wajahnya kesal. Rasanya muak memandang wajah malas itu lama-lama.

"Aku minta maaf atas perkataan ku waktu itu."

Tiba-tiba, serentetan kalimat itu membuat kepala Kou kembali menoleh.

Ha?

"Aku tahu, aku sudah keterlaluan. Aku tidak seharusnya mengejekmu seperti itu,"

HA?

Bibir Kou masih terkatup rapat. Namun, ia sendiri sudah tidak bisa menerka bagaimana wajahnya saat ini. Permintaan maaf Shikadai benar-benar membuatnya terkejut. Mengingat betapa bocah nanas itu dengan tanpa berdosanya mengatai dirinya bocah kekurangan kasih sayang.

"S-sebagai permintaan maafku dan juga keluargaku, aku ingin mengundangmu ke rumahku besok malam," Shikadai menyodorkan sebuah undangan dengan pita berwarna hijau tua di salah satu sisinya itu ke arah Kou.

Kou memandang undangan tersebut dengan tatapan tidak percaya. Lalu kedua bola mata hitamnya berkilat.

"Tidak, terima kasih!" tolaknya dengan kejam. Tampak seperti gadis Tsundere.

Shikadai bergeming. Iris jadenya menatap wajah bocah sebayanya itu tanpa berkedip.

"Ppft!"

Detik berikutnya, Kou mendengar gelak tawa yang membuatnya menyadari satu hal. Mata hitamnya membulat lebar. Dengan cepat kedua tangan mungilnya menutup mulutnya dengan rapat. Wajahnya terlihat begitu panik. Hancur sudah imejnya sebagai pewaris darah Uchiha yang terkenal dengan pamor 'Manusia paling keren' hanya karena salah satu classmatenya mendapati dirinya yang sedang ompong.

"HAHAHA! Apa yang terjadi dengan gigimu?" teriak Shikadai yang masih tergelak dengan suara yang membuat beberapa kepala lain yang ada dalam kelas itu menoleh penasaran.

"Diamlah!" geram Kou.

Namun respon Shikadai malah semakin membuatnya sakit hati. Bocah itu malah melirik jahil dan menemukan kartu as untuk membujuk si bocah keras kepala itu untuk datang memenuhi undangannya.

"Aku akan diam, asal kau mengiyakan undangan ini." balas Shikadai dengan wajah penuh kemenangan.

"TIDAK AKAN!" Kou menolak keras. Ia masih tidak sudi untuk memperbaiki hubungannya dengann bocah itu.

"Yakin?" tanya Shikadai dengan tatapan meremehkan. Shikadai lalu menarik napas dan bersiap untuk berteriak.

"Semuanya, coba lihat kesini. Ada yang menarik pada Uchi—bbbpphh!"

Perkataan Shikadai terhenti saat kedua tangan kecil Kou sudah berhasil memblok kelancangan mulutnya. Wajah Kou terlihat sangat merah, antara malu dengan marah. Astaga, siapa yang mengajari bocah nanas ini untuk memanfaatkan kelemahan orang lain?

"Apa yang kau lakukan?" bisik Kou dengan geram. Shikadai hanya mengangkat bahunya acuh. Ia tidak bisa memberi oral respon karena mulutnya masih dibekap oleh Kou.

Kou melepaskan tangannya dari mulut Shikadai. Wajahnya terlihat begitu kesal.

"Dasar bocah! Berani sekali memanfaatkan kelemahan orang lain. Bersikap dewasalah!" cibir Kou seakan dirinya adalah orang dewasa padahal usiannya masih lebih muda dibandingkan Shikadai. Shikadai mendengus.

Shikadai mengabaikan perkataan Kou sebelumnya."Kau bisa mengajak Papamu juga. Oh, mungkin Tou-san juga sudah mengundangnya." ujarnya sambil memegang dagu, seperti sedang berpikir. Baru saja Kou ingin menolak, Karin sudah masuk untuk memulai pelajaran di kelas itu. Apa boleh buat. Seorang Uchiha tidak boleh menjadi pecundang, bukan?

Ah, Kou mendapat sebuah ide brilian.

Ia akan membuat Shikadai menyesal karena sudah mengundangnya. Dan sepertinya ia harus memecahkan salah satu celengan babinya untuk mempercantik calon Mamanya. Khukhukhu, Kou menyeringai.

...

Naruto menatap dengan gelisah pintu ruang operasi dan sesekali melirik ke arah lampu yang berada di atas bibir pintu tersebut. Sudah hampir dua jam sejak seorang gadis kecil bernama Shion dibawa masuk kedalam ruangan itu. Kaki jenjangnya yang terbungkus kain celana itu bergerak membawa dirinya bolak-balik di depan ruangan tersebut.

"Naru, tenanglah." Wanita lain yang berada di tempat itu menegur. Kegelisahan wanita pirang itu membuatnya merasa mual.

Kaki Naruto berhenti bergerak kemudian mengambil tempat duduk di sisi wanita yang baru saja menegurnya.

"Aku tidak bisa tenang, Yugao-neesan. Ini sudah dua jam tapi dokternya masih belum keluar." cetusnya frustasi. Kuku jempolnya hampir saja patah akibat gigitannya sendiri. Ia kemudian merasakan kepalanya di tepuk, memaksa kepalanya untuk mendongak.

"Shion-chan itu gadis kuat, Naru-chan. Dia akan baik-baik saja." Kali ini, seorang wanita berambut merah ikut menenangkan si pirang.

Naruto menghela napas. Memang bukan saatnya untuk merasa khawatir. Seharusnya ia berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.

Lampu ruang operasi kini berubah menjadi hijau. Sontak ketiga wanita yang sedari tadi menunggu langsung beranjak dari tempat mereka dan menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan berbau obat-obatan itu.

Setelah melepas masker yang ia guanakan, dokter tersebut lalu menampilkan senyuman yang membuat ketiga hati wanita itu sedikit merasa lebih tenang.

"Operasinya berhasil, gadis itu kuat," ujar sang dokter bernametag dr. Kabuto. "Kalian bisa menemuinya setelah dia dipindahkan ke kamar perawatan." sambungnya lagi. Setelah itu, sang dokter berlalu pergi untuk urusan lain.

Ketiga wanita itu saling melempar senyuman satu sama lain. Mereka berharap setelah ini, gadis yang selalu merasa kesakitan itu akan hidup layaknya gadis sehat lain.

...

"Hei," sapa Naruto saat kedua kelopak mata Shion terbuka. Bibir pucat gadis kecil itu lalu mengukir sebuah senyuman manis. Tangan mungilnya yang terpasangi infus bergerak pelan untuk meraih tangan Naruto. Tangan Naruto lalu menyambut tangan mungil itu dan menggenggamnya dengan lembut.

"Naru-chan, dadaku sepertinya tidak sakit lagi," ujar Shion lemah, namun terselip rasa bahagia di nada suara gadis itu membuat dada Naruto terasa sesak. Kyuubi dan Yugao hanya bisa tersenyum getir di belakang Naruto.

Iris ametyst gadis kecil itu lalu menatap Kyuubi dan Yugao secara bergantian. "Yugao-neesan, Kyuu-chan, aku sudah sembuh, 'kan?" tanya Shion polos. Yugao dan Kyuubi mengangguk secara bersamaan. Kyuubi lalu mendekat dan mengecup dahi gadis itu.

"Naru, jaga Shion sebentar. Aku akan mengurus beberapa hal mengenai perawatan pasca-operasi Shion." Ujar Yugao, dibalas anggukan singkat oleh Naruto dengan senyuman manisnya.

"Aku ikut." Kyuubi berujar pelan seraya mendekat ke Yugao. "Naru-chan, jaga Shion, ya!" Kyuubi kembali mengingatkan sebelum tubuhnya dan tubuh Yugao menghilang di balik pintu.

Di koridor kamar rawat rumah sakit, Kyuubi menangkap siluet seseorang yang tidak asing di matanya. Wanita berambut merah itu kemudian memicingkan matanya untuk menajamkan indera penglihatannya, berusaha memastikan siapa pemilik tubuh atletis yang terbalut setelan lengkap yang ia yakini pasti dirancang oleh designer terkenal. Sosok itu berjalan kearahnya. Kyuubi dapat menangkap ekspresi penasaran dari sosok tersebut.

"Ah, sudah kuduga." gumam Kyuubi. ia tidak akan bisa lupa dengan sosok yang satu ini. Mungkin karena cuma lelaki ini yang memiliki model rambut paling unik di dunia. Si pria ungggas yang hampir saja menjadi Shinigami bagi adik dan dirinya sendiri.

"Uchiha-san?" tegur Kyuubi saat sosok itu sudah berada sekitar satu meter di hadapannya. Yugao melirik wanita berambut merah disampingnya itu dengan wajah penasaran. Kyuubi mengenal orang berwajah angkuh ini? Yugao bertanya-tanya dalam hati.

"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Kyuubi kembali, mengabaikan tatapan penasaran Yugao.

"Di mana gadis itu dirawat?" balasnya dengan sebuah pertanyaan.

HE?

Kyuubi dan Yugao saling berpandangan. Gadis? Dirawat? Maksudnya Shion, 'kan? Terka Yugao.

"Gadis yang kau dan si pirang bodoh itu bicarakan tempo hari,"

TWICHT!

Urat dahi Kyuubi mendadak muncul mendengar betapa kurang ajarnya mulut lelaki jelmaan unggas ini. Beraninya dia mengatai adiknya 'si pirang bodoh', memangnya dia pikir dia ini siapa sih? Dasar siluman ayam.

Kyuubi menghela napas untuk menyembunyikan kekesalannya. Setelah itu, ia kemudian menyebutkan ruangan tempat Shion dirawat.

Tanpa mengucapkan sebarang kata perpisahan, lelaki berambut unggas itu melangkah pergi. Jangankan ucapan perpisahan, ucapan terima kasih pun tak keluar dari mulut kurang ajarnya. Seandainya Kyuubi tidak peduli dengan posisinya yang pernah menjadi tersangka, ia sudah bisa memastikan bahwa lelaki itu akan ia buat semakin mirip dengan unggas. Sialan!

"Siapa orang angkuh itu?" tanya Yugao. Ikut merasa pelik melihat sosok manusia berwajah malaikat tapi bersifat seperti iblis tersebut.

Kyuubi mendengus, "Orang angkuh itulah yang membiayai operasi Shion-chan." jawab Kyuubi malas.

Kedua wanita itu lalu melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda dengan Yugao yang terus menerus mempertanyakan bagaimana bisa siluman unggas itu bisa menjadi donatur untuk Shion. Kyuubi hanya bisa menjawab seadanya. Beberapa hal tidak ia jawab seperti kenyataan, mungkin karena alasan tertentu. Mungkin.

...

Sasuke menatap pintu yang bertuliskan ruang perawatan VIP, sekali lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah ruangan. Tangannya terulur untuk menyentuh knop pintu. Pintu tersebut terbuka dengan pelan, tidak menimbulkan cicitan suara sedikitpun. Dari celah pintu yang belum terbuka lebar tersbut, Sasuke bisa melihat sosok wanita berambut pirang yang tengah bercengkrama mesra dengan gadis kecil lain yang terbaring di atas tempat tidur, dan juga berambut pirang namun lebih pucat dari wanita itu. Sepertinya, kedua mahluk pirang itu masih belum menyadari kehadirannya, atau mungkin karena mereka terlalu asyik? Ia masih enggan untuk melangkah masuk. Sedikit menikmati interaksi si penculik pirang dengan gadis kecil itu.

Di sisi lan, baik Shion ataupun Naruto, keduanya belum menyadari kehadiran mahluk lain itu di ruangan tersebut.

"Naru-chan.." panggil shion pelan. Tangan kecilnya yang digenggam oleh Naruto, meremas pelan jemari wanita itu. "Terima kasih," Senyuman tulus terpatri di bibir pucatnya setelah ucapan terima kasih itu ia lontarkan. Hati Naruto pun rasanya seperti ditusuk-tusuk, perih.

Naruto memberi kecupan lembut di punggung tangan gadis itu. Kelopak matanya tertutup seperti menikmati aroma obat yang tercium dari punggung tangan Shion.

"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Aku akan jauh lebih bahagia jika kau bisa sehat."

Keduanya saling tersenyum. Lalu, kepala Shion menoleh dan mendapati sosok pria dewasa yang berdiri di ambang pintu.

"Naru-chan, siapa orang itu?" tanya Shion membuat kepala Naruto ikut menoleh untuk memastikan siapa 'orang' yang di maksud oleh si pirang kecil.

Kedua manik safir membulat saat dengan jelas inderanya berhasil mengidentifikasi siapa pemilik tubuh atletis itu.

"Uchiha?"

Sasuke menutup pintu dan berjalan pongah menghampiri Naruto dan Shion. Salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

Saat berada tepat di sisi Naruto, ia menoleh dan menatap Naruto dengan sinis.

"Kenapa kau menatapku seperti sedang menatap seorang 'PENCULIK', huh?" sindir Sasuke membuat hati Naruto berdenyut ngilu. Namun karena harus menjaga imej malaikatnya di depan Shion, ia terpaksa harus berusaha mengabaikan sindiran si duda beranak satu itu.

"Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau ada urusan yang lebih penting di kantormu yang megah itu?" tanya Naruto heran. Bukannya lelaki itu sendiri yang ber-ia-ia untuk berangkat lebih awal tadi pagi karena ada rapat penting?

"Aku yang memutuskan kapan aku sibuk atau tidak, aku adalah Bos!" balas Sasuke disertai dengan delikan sinis.

Naruto bersumpah, jika saja Shion tidak ada dalam ruangan itu, mungkin ia sudah menggunduli lelaki memalukan ini.

"Naru-chan, apa paman ini pacarmu?" Shion tiba-tiba melontarkan perntayaan polos yang berhasil membuat dunia Naruto dan Sasuke seketika berhenti berputar.

"HAH?"

Sasuke tersedak ludahnya sendiri.

Naruto seperti disambar petir siang bolong.

Sasuke dan Naruto saling berpandangan saat keduanya bersamaan meneriakkan kata 'hah?' setelah mendengar pertanyaan polos Shion, lalu menatap Shion bersamaan (lagi).

"No way!"

"Hell no!"

Eh?

Shion mengerjap polos. Kenapa dua orang dewasa ini terlihat kompak sekali, pikirnya.

"Paman, Naru-chan, jangan berbohong. Kalian tidak takut dosa?"

Astaga, Shion? Siapa yang mengajarimu mengintimidasi seseorang seperti ini? Naruto terus menggerutu dalam hati. Lagipula, ia tidak ingin membuat si kepala ayam ini menjadi besar kepala. Jelas sekali jelmaan unggas itu sama sekali tidak termasuk dalam tipenya. Huh!

"Dengar! Mahluk menyilaukan ini bukan pacarku. Jangan membuatnya besar kepala!" Telunjuk Sasuke menunjuk nista kearah wajah Naruto.

Hah?

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, sialan!" raung Naruto tidak terima. "Siapa juga yang mau jadi pacar siluman ayam sepertimu? Meskipun kau satu-satunya lelaki di dunia ini!"

"Hidupku akan kacau jika mahluk berwarna sepertimu berada dalam garis keluargaku!"

"gah! Dasar siluman ayam!"

"Durian runtuh!"

"Ano!"

"APA?"

Kyuubi terlonjak. Diserang oleh dua mahkluk yang sedang emosi membuat bulu tengkuknya merinding. Ia hanya berusaha melerai kedua manusia itu mengingat di ruangan ini baru saja ada gadis kecil yang selesai dioperasi, malah dirinya yang kena damprat.

"Shion baru saja menjalani operasi jantung. Apa kalian ingin membuat penyakitnya kumat sebelum pulih dari operasi dengan mempertontonkan adegan dewasa secara langsung padanya?" cetus Kyuubi kesal. Naruto menggigit bibirnya, merasa bersalah. Namun sedikit pelik mendengar redaksi bahasa yang digunakan kakaknya. Apanya yang adegan dewasa? Astaga.

Sasuke diam dengan wajah datar. Namun dalam hatinya ia juga tidak ingin hal itu terjadi. Ia kemudian mendekati Shion dan tanpa Naruto maupun Kyuubi duga, lelaki itu mengusap kepala pirang Shion dengan lembut.

"Berapa usiamu?" tanya Sasuke. Mengabaikan tatapan tidak percaya Kyuubi dan Naruto. Menurutnya tidak ada yang salah dengan tindakannya, menginga dirinya juga seorang ayah.

"Lima setengah tahun, sebentar lagi ulang tahunku yang ke enam, paman!" sahut Shion. Sasuke mengangguk.

"Cepat sembuh," ujar seraya menepuk kepala pirang Shion. Gadis kecil itu tersenyum lebar.

Naruto dan Kyuubi bergeming. Sosok Sasuke yang menyerupai iblis seperti menguap hilang entah kemana digantikan dengan sosok pria pembawa berkah. Inikah sosok Sasuke dalam mode seorang ayah?

Sasuke melangkah menjauh. Saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu, suara Naruto memaksanya untuk menoleh.

"Siapa yang menjemput Kou?"

"Kakakku."

Naruto menghela napas lega dan sosok Sasuke pun menghilang di balik pintu yang sudah tertutup rapat.

...

Di kediaman Nara. Temari, sang nyonya Nara, terlihat sedang sibuk mengurus persiapan pesta ulang tahun pernikahannya dengan Shikamaru Nara. Tangannya yang putih mulus, sibuk membuka lembar demi lembar kertas di mana nama para tamu undangannya tertera. Seorang pelayan menghampirinya dan menyerahkan ganggang telfon.

"Temari-sama, ada seseorang yang ingin bicara dengan anda," ujar sang pelayan dengan nada yang sangat sopan. Temari menerima telfon tersebut dengan senyuman ramah. Setelah pelayan itu kembali sibuk dengan tugasnya, Temari mulai menempelkan telfon tersebut ke telingannya.

"Halo?" sapanya.

Wajahnya kemudian nampak lebih bahagia dari sebelumnya setelah mendengar suara si penelfon.

"Astaga, sudah lama sekali aku tidak mendengar suaramu. Apa kabar?"

"..."

"Syukurlah. Ah, kebetulan sekali. Besok malam aku akan merayakan ulang tahun pernikahanku, ku harap kau bisa datang."

"..."

"Ah, untuk itu, sepertinya Shikamaru juga mengundangnya. Lagipula, sudah banyak hal yang terjadi,"

"..."

"Jangan terlalu memikirkannya. Aku harap bisa melihatmu besok malam."

"..."

"Baiklah, sampai jumpa!"

Temari menutup panggilan itu. Bibirnya tersenyum dan merasa tidak sabar menunggu hari esok.

.

.

.

.

.

.
Bersambung!

Minna-san T-T

Maaf atas keterlambatan updatenya :") di karenakan tugas kuliah yang tiada habisnya, jadi tidak punya waktu lirik-lirik folder fanfic di laptop. Apalagi puasa-puasa, pulang kampus langsung tepar nunggu adzan :')

Selain itu, aku juga mau minta maaf karena fanfic ini semakin jauh semakin ke mode serius, jadi mungkin bakal ngebosenin. MAAF banget pokoknya. Semoga masih tetep pada mau baca yaa T-T

Terima kasih untuk semua yang udah BACA, FOLLOW, FAVORITE, dan NINGGALIN JEJAK. Maaf ga bisa disebutin atu-atu. Pokoknya makasih :*

Ohiya, kayaknya pada penasaran ya siapa ya emaknya Kou XD

Sepertinya ada satu orang yang berhasil nebak siapa emaknya Kou, yay! Selamat. Kirim alamatnya biar aku kirimin takjil buat buka puasa sebagai Reward /GAK!

SELAMAT BERPUASA BAGI YANG MENJALANKANNYA.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI.

SELAMAT MAKAN-MAKAN.

Jan lupa bagi ampao ke aku, hoho :*

Lafyu gengs, see ya next chapter ^^

MKim.