Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
STAY © Mika Kim
Rate : T
Genre : Family, Romance
Warn : Gender-bender, [Female!Naruto, Female!Kyuubi, OC], OOC, garing, typo(s), kesalahan penulisan dan kesalahan lain yang tidak author sadari, makanya kasi tau plis kalo ada kesalahan wkwk XD
DLDR!
Enjoy
Chapter 7 : Pertemuan
.
.
.
.
Naruto menatap pintu masuk sebuah butik mahal yang berada di kawasan distrik pusat perbelanjaan Konoha dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya menganga lebar. Ia tidak pernah sekalipun berekspektasi akan masuk kedalam butik yang menjual produk best seller ini. Ia bahkan tidak bisa membayangkan wajah Kyuubi jika kakak semata wayangnya itu mengetahui bahwa seorang bocah kaya raya membawanya ke sini.
Kembali ke beberapa jam yang lalu. Naruto dibangunkan oleh deringan ponselnya sendiri. Sempat wanita pirang itu mengutuk si penelfon kurang ajar yang sudah merusak mimpi indahnya, namun setelah melihat username si penelfon, kutukan-kutukan yang keluar dari mulutnya hilang begitu saja.
Rupanya, si penelfon kurang ajar itu adalah Kousuke Uchiha, putra tunggal Uchiha-ayam- Sasuke, seorang duda yang tampan luar biasa, kaya raya dan tidak lupa berwajah tembok yang konon bahkan mengalahkan tampannya aktor yang bernama Sharukh khan yang merupakan idola Naruto. Bocah itu menyuruhnya untuk datang pagi-pagi ke kediamannya, padahal hari ini adalah hari sabtu, hari libur tentu saja, dengan alasan yang membuat Naruto tidak sempat untuk mandi, katanya ini keadaan yang begitu Emergency.
Ternyata keadaan darurat yang dimaksud oleh Kou adalah belanja busana untuk sebuah pesta malam ini. Dan di sinilah mereka berada, di depan butik milik perancang busana terkenal, Mr. Orochimaru meow-meow.
"aku tidak mengerti, kenapa Papa juga kau seret kemari, Kou." Uchiha Sasuke menggerutu sambil melepas kacamata hitamnya. "Ke butik mahal dengan wanita gila? Yang benar saja?" sambungnya dengan menghadiahkan lirikan tidak bersahabat untuk si pirang yang sudah membatu di tempat saking terpesonanya.
"Pa!" Kou dan deathglare polosnya.
Sasuke mendesah pasrah. Naruto masih tidak mengerti, ia terlalu sibuk memikirkan betapa mewahnya desain interior dan eksterior butik mewah tersebut. Saking mewahnya, ia sampai takut untuk melangkah, terlalu takut jika ia merusak lantai atau apapun yang ada di sekitar tempat itu.
"Ayo masuk," ajak Kou menarik manja tangan Naruto.
Wanita itu tersentak dan hampir saja terjatuh jika saja Sasuke tidak segera menahan tubuhnya. Untuk beberapa detik, baik Kou maupun Naruto, tidak ada yang bereaksi. Iris safir Naruto dan oniks Sasuke saling beradu.
"Berhentilah bersikap kampungan!" cibir Sasuke melepas pegangannya pada tubuh Naruto.
Naruto melotot. Tangannya begitu gatal untuk menjambak rambut Sasuke sampai botak. Kou diam-diam tersenyum geli. Melihat papa dan kandidat calon mamanya semakin hari semakin dekat membuatnya merasa geli-geli bahagia.
Pintu butik itu terbuka. Seorang lelaki yang lebih mirip perempuan menyambut kedatangan mereka. Senyum atau lebih tepatnya seringaian ia hadiahkan untuk Sasuke, membuat si duda beranak satu itu bergidik ngeri.
"Ah, Sasuke-kun, sudah lama sekali kau tidak mampir. Ada yang bisa Orochici bantu, say?" ujarnya dengan manja, salah satu tanganya sibuk memainkan anak rambutnya dengan genit.
"Tante, sebenarnya yang ada urusan di butik ini, itu aku!" Suara polos Kou menginterupsi.
"Siapa yang kau sebut tante, anak manis?"
"Tentu saja kau, tante!"
"Aku laki-laki, sayang."
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Eh?"
"Laki-laki?"
Naruto dan Kou berteriak bersamaan. Saat itu juga, mata mereka dengan liar memerhatikan orang itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan benar saja, mana ada perempuan dadanya rata seperti itu, pikir Kou. Naruto yang memiliki dada rata saja masih ada sesuatu yang menonjol di balik bajunya. Rupanya, diam-diam bocah ini mesum juga.
"Ma, ma! Tidak usah mempermasalahkan genderku, sebenarnya aku lebih suka dianggap wanita. Yaa, itung-itung itu mempermudah aku mendekati si tampan ini," Tangan kanan Orochimaru mencolek dagu Sasuke dengan gerakan erotis. Kou sampai melotot tidak terima melihat papanya dinistai oleh seorang bencong yang sudah bau tanah, sedangkan Naruto sudah mati-matian menahan tawa melihat ekspresi Sasuke yang seperti menahan muntah.
Dengan kasar, Sasuke menyingkirkan tangan Orochimaru dari wajahnya. Lama-lama disentuh oleh orang tua hasil operasi plastik ini, bisa membuatnya berlendir seperti ular.
"Berhenti menyentuhku!" geramnya dengan tatapan ganas, dan itu malah membuat Orochimaru semakin bernafsu karena Sasuke terlihat lebih hot.
"Haha, Sasuke-kun, kau ini terlau serius. Aku hanya bercanda. Sudah lama sejak kau tidak datang bersama 'dia' kau jadi semakin kaku." Orochimaru mengejek dengan wajah pongah. Aura Sasuke pun semakin tidak bersahabat, membuat Orochimaru berhenti mengoceh genit.
Naruto hanya menatap bingung, perubahan wajah Sasuke jelas terlihat saat Orochimaru menyinggung sesuatu yang mungkin tidak disukai oleh si duda.
"Jaa, anak manis, apa yang bisa ku bantu untukmu?" Orochimaru berseru. Kou yang tidak begitu mengerti pembicaraan orang dewasa nampaknya tidak begitu peduli. Ia lalu menunjuk Naruto yang ada di sampingnya.
"Carikan gaun yang paling cantik untuk tante ini!"
...
Sasuke duduk sambil membolak-balik halaman demi halaman sebuah majalah untuk mengusir rasa bosannya. Di sampingnya, Kou duduk dengan pantat yang bergerak gelisah. Ia sudah tidak sabar untuk melihat si pirang calon mamanya.
Orochimaru berlenggak-lenggok menghampiri Sasuke dan Kou. "Nah, sekarang berikan penilaian kalian," ujarnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Kini mata mereka tertuju kepada sosok Naruto yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wanita pirang itu berdiri dengan wajah yang memerah. Sebelah tangannya menarik-narik ujung gaunnya yang hanya sebatas paha. Gaun jenis sheath berwarna red maroon tanpa lengan yang dikenakan Naruto saat ini hanya mampu menutupi setengah tubuhnya. Bagian bahu terdedah dan pahanya terpampang dengan jelas, menampilkan kulit tannya yang terlihat begitu eksotis. Orochimaru tersenyum puas, wanita pirang di hadapannya ini meskipun kurus, ternyata punya tubuh yang cukup proporsional. Sangat cocok memakai gaun jenis ini karena paha dan pinggangnya yang tidak begitu besar.
"Bagaimana? Ini terlihat sangat cantik, bukan?" tanya Orochimaru, terselip rasa bangga dengan hasil rancangannya.
Sasuke sama sekali tidak merespon, seakan pertanyaan Orochimaru itu hanyalah cicitan kecoak yang melintas di atap. Iris oniksnya menatap Naruto dari ujung kaki sampai ujung kepala, membuat wanita pirang itu melotot geram karena tatapan tidak senonoh Uchiha Sasuke.
"TIDAK!"
Sasuke terlonjak, begitupun dengan Orochimaru dan Naruto. Wajah Kou memerah akibat menjerit.
"Mana mungkin Tante Naru memakai gaun nista super seksi itu? Aku tidak ingin dia menjadi incaran lelaki bermata belang!" Mata Kou berapi-api, seakan hendak membakar habis gaun nista itu.
"Darling, berhidung belang, bukan bermata belang." ralat Naruto membuat pipi Kou bersemu merah. Orochimaru sampai menahan tawa akibat ucapan polos anak si duda yang ia puja-puja.
Sasuke berdehem untuk mengembalikan imejnya. "Baju itu terlalu bagus untukmu. Kau tidak pantas menggunakannya." Satu tangan Sasuke mengisyaratkan Naruto untuk kembali ke ruang ganti dan mencoba gaun lain.
Naruto merasa tidak terima dengan komentar pedas Sasuke setelah pria bermulut cabe itu menatapnya sedemikian rupa. Saat hendak membalas perkataan Sasuke, sorang pelayan Orochimaru menyeretnya kembali masuk kedalam ruang ganti.
Sasuke memasang wajah datarnya. Namun, entah hanya perasaannya atau tidak, melihat Naruto berpakaian seksi seperti tadi membuat sesuatu dalam dadanya seperti meletup-letup bagaikan popcorn. Sialan, apa wanita itu sedang berusaha menggodanya? Kali ini Sasuke benar-benar menuduh Naruto.
Selanjutnya, Naruto keluar dengan gaun model mermaid. Sesuai dengan namanya, gaun ini adalah jenis gaun yang menyempit di bagian atas hingga lutut, dan bagian bawahnya melebar. Saat keluar dariruang ganti, mata mencemooh Sasuke sudah menantinya.
"Jelek! Kau terlihat seperti putri duyung yang terkena busung lapar," cibir si duda dengan mengarahkan jempolnya ke arah bawah. Kou melirik Papanya dengan tatapan tidak bersahabat. Ia tahu baju itu tidak cocok untuk Naruto-nya, tapi tidak usah menghinanya seperti itu juga.
Desahan napas lelah meluncur dari mulut si pirang. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia harus melakukan hal bodoh seperti ini. Ia kembali masuk kedalam ruang ganti dan mencoba gaun ketiga yang diberikan pegawai Orochimaru.
Ponsel Sasuke berdering. Ia segera bergerak sedikit menjauh dan menerima panggilan tersebut. Selang beberapa menit, ia kembali dan menghampiri putra semata wayangnya.
"Kou, papa ada urusan. Kau pulang bersama si dobe saja, bisa?" tanya Sasuke seraya memasukkan ponselnya ke saku jas. Kou berpikir sejenak, lalu mengangguk. Lagipula, tujuan ia mengajak papanya ikut serta adalah untuk membantu memilihkan gaun untuk Naruto, tapi sepertinya papanya tidak membantu sama sekali, malah asyik mencibir Naruto sedari tadi, cukup untuk membuatnya sakit hati.
Sasuke lalu mengusap puncak kepala putranya lalu menghampiri Orochimaru. "Kau tahu kemana harus mengirim tagihan gaun yang akan dipesan oleh wanita gila itu," Ia pun berlalu. Orochimaru hanya tersenyum genit mengiyakan ucapan Sasuke.
Naruto keluar, kedua safirnya sudah tidak menangkap sosok Sasuke. Persetan, bukannya lebih baik jika manusia bermulut kurang ajar itu tidak ada.
Kou dan Orochimaru menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya. Keduanya saling berpandangan lalu menjerit bersama-sama,
"Ini sempurna!"
...
Kyuubi mengeringkan rambutnya dengan handuk berwarna oranye sambil duduk santai di ruang tengah apartemennya. seperti hari-hari biasanya setelah Naruto bekerja sebagai pengasuh bocah kaya raya, ia hanya akan berdiam diri di apartemen meratapi dirinya sebagai seorang pengangguran. Hari ini pun, Yugao melarangnya untuk ke rumah sakit karena ia sudah menjaga Shion semalaman, jadi Yugao menyuruhnya untuk istirahat.
Setelah mengeringkan rambut merahnya, Kyuubi menyarungkan sebuah baju berkain satin dengan tali spageti ke tubuhnya dengan celana pendek. Lagipula ia hanya akan di rumah, tidak masalah berpakaian seksi seperti ini, pikirnya. Wanita berambut merah itupun mulai membersihkan apartemen untuk mengisi waktu kosongnya.
Kyuubi melakukan aktivitasnya sambil bersenandung. Saat sedang membersihkan lemari buku milik Naruto, bel apartemennya ditekan oleh seseorang. Alis wanita itu saling bertaut. Tidak biasanya Naruto pulang lebih awal. Tanpa pikir panjang, Kyuubi langsung membuka pintu tersebut. Alangkah terkejutnya wanita itu mendapati sosok yang sangat tidak asing di matanya berdiri dengan senyuman menawan yang berhasil membuatnya terjatuh di jurang terdalam hal gila yang bernama cinta/?/.
"K-Keriput?" Suaranya terdengar seperti tertahan di tenggorokan.
Eh?
Secepat kilat Kyuubi menutup mulut lancangnya dengan kedua tangannya. Senyuman mempesona sosok yang berada di hadapannya luntur seketika, digantikan aura suram yang menguar dari punggung kekarnya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, beginikah caramu menyambutku, Kyuu-chan?" ujar Itachi dramatis.
Eh?
Kyuu-chan?
HAH? Sejak kapan Itachi memanggilnya seperti itu?
"Maaf Itachi-san, sepertinya aku keracunan rujak apel." Kyuubi sekarang sudah tidak peduli jika alasan yang ia katakan barusan terdengar begitu konyol. Yang ingin ia ketahui saat ini, kenapa Itachi datang ke apartemennya? Apakah Itachi juga merasakan getaran-getaran cinta dan kerinduan sama seperti dirinya? Astaga, dada Kyuubi tiba-tiba terasa sesak menyenangkan memikirkan kemungkinan tersebut.
Sepertinya Itachi mempercayai alasan Kyuubi. ia langsung kembali ke imej keren. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, kedua iris oniksnya langsung menyadari pemandangan menyesakkan kini tersaji di depan matanya. Ia sudah lama tinggal di Australia, pemandangan seperti ini sudah bukan hal yang tabu lagi baginya, namun melihat sosok wanita Jepang dengan rambut merah menyala memakai pakaian sepanas ini. Demi celana dalam kakeknya, Kyuubi adalah yang terbaik.
Chotto, kenapa ia terdengar seperti pria berotak mesum? Astaga! Itachi menggeleng keras.
Kyuubi melotot saat menyadari arah pandangan Itachi beberapa saat yang lalu. Etika berpakaiannya yang sangat tidak cocok untuk menerima tamu. Ia menunduk karena merasa malu, namun matanya kemudian tertuju kepada seonggok mahluk mengerikan yang bersiap melintas di kakinya. Seluruh dunia tahu bahwa Kyuubi sangat anti dengan hewan yang bernama kecoa.
"KYAH!"
Kyuubi melompat kearah Itachi. Menerjang pria itu dengan sangat kuat hingga hampir saja jatuh terjerembab ke belakang jika saja ia tidak memiliki refleks yang bagus. Kyuubi mengalungkan kedua tanganya di leher Itachi, membungkus leher jenjang itu dengan sempurna.
"Singkirkan monster sialan itu dari hadapanku!" jerit Kyuubi dengan kaki yang terus menerus berjinjit. Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa ia sudah berada di pelukan Itachi.
Otak jenius yang ia sekolahkan di negara tetangga sepertinya kini tidak bisa ia fungsikan. Itachi mematung. Kehangatan lengan Kyuubi yang melingkar di lehernya, menghantarkan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, Kyuubi menyadari posisinya yang begitu tidak senonoh. Iris rubynya membulat dan dengan sekejap mata ia melepaskan pelukannya.
Sialan!
Itachi pasti berpikir bahwa ia wanita yang gatal.
"Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukan itu." Kyuubi dengan susah payah mengabaikan rasa malunya yang sudah menjalar sampai ke telinga.
"tidak apa-apa," balas Itachi dengan pipi yang bersemu samar.
Kedua insan itu terjebak suasana canggung. Baik Itachi maupun Kyuubi, keduanya begitu enggan untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Kyuubi yang merupakan jomblo karatan dan Itachi yang kekurangan belaian akibat terlalu sibuk dengan pekerjaannya, membuat keduanya merasa ini adalah pengalaman yang benar-benar spektakuler. Kyuubi bahkan sudah bisa membayangkan wajah mencemooh Naruto jika adiknya itu tahu bahwa baru saja ia bertingkah seperti remaja karbitan.
"Kyuu-chan," Suara Itachi memecah kesunyian. Entah kenapa, suara itu terdengar begitu romantis di telinga Kyuubi. Astaga, apa sekarang ia bena-benar jatuh cinta?
"I-iya?" balas Kyuubi.
Shit, bahkan kini cara bicaranya berubah drastis dari gaya bicara preman pasar menjadi gadis manja yang lemah menggoda. Demi mendiang ayah dan ibunya, racun yang bernama cinta sudah menjungkir balikkan dunianya.
"Apa kau ingin makan siang denganku?" ajak Itachi malu-malu. Keriputnya tersamarkan oleh semburat merah yang menghias pipi putihnya. "Em.. ini bentuk terima kasihku padamu," Ia memalingkan wajahnya ke samping. "..atau, kau bisa menganggap ini sebagai ajakan kencan.."
HA?
"Tunggu sebentar!" Dengan kecepatan cahaya, Kyuubi masuk ke dalam apartemennya dan membanting pintu yang bahkan hampir mencium ujung hidung Itachi. Itachi melongo, menatap pintu nista yang baru saja dibanting oleh Kyuubi. Jujur saja, ia begitu terkejut dengan reaksi Kyuubi.
Dalam pikirannya saat ini, Kyuubi sangat marah dan masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil pisau dapur. Membayangkannya saja membuat dirinya bergidik ngeri. Usaha modusnya akan berakhir dengan perutnya yang akan ditikam. Apa sebaiknya ia kabur saja sekarang? Bagaimana kalau wanita brambut merah itu benar-benar sedang mengambil senjata tajam? Itachi dan pikiran negatifnya.
Hanya sekitar beberapa menit, Kyuubi kembali. Pintu itu terbuka menampilkan sosok Kyuubi yang sudah tidak seksi lagi. Kemeja polos berwarna putih dan celana pensil sudah membungkus tubuh moleknya dengan sempurna.
Itachi berkedip. Eh? Ternyata...
"Ayo, Itachi-san.." seret Kyuubi dengan semangat luar biasa. Sempat terkejut, namun akhirnya Itachi tersenyum. Hatinya kemudian dipenuhi dengan bunga-bunga. Rambut merah Kyuubi yang di kuncir, berkibar indah. Ah, sepertinya benang takdir sudah mengikatnya dengan wanita unik itu. Sepertinya hari itu akan menjadi lebih berwarna, setidaknya baginya.
...
Sudah pukul lima lewat tiga puluh menit waktu Konoha. Pesta Nara akan berlangsung sekitar satu jam lagi. Sasuke keluar dari sebuah hotel tempat ia melakukan Meeting penting dengan kolega bisnisnya. Segera ia mengambil mobilnya di parkiran dan mengemudikan mobil mahal itu kembali ke kediamannya untuk bersiap-siap. Kou sudah mengirim pesan kepadanya bahwa ia akan menunggu papanya tersebut di butik Orochimaru.
Beberapa pelayan menyambut kedatangannya. Sasuke hanya mengangguk pelan dan berlalu menuju ke kamarnya. Tidak sampai tiga puluh menit, pria beranak satu itu keluar dari kamarnya. Penampilannya kini terlihat begitu fantastis dengan setelan serba hitam. Poni hitam yang biasanya menutupi sebagian wajahnya, kini disisir rapi ke belakang, terlihat begitu klimis bak Leonardo Dcaprio di film Titanic. Saat melewati sebuah cermin, pria itu berhenti sejenak untuk menatap refleksi dirinya. Bibirnya melengkung tipis, menampilkan sebuah senyuman menawan yang bisa membuat wanita bertelanjang di hadapannya.
"Well, Uchiha Sasuke dan ketampanannya." Sempat sekali ia bernarsis-ria di depan cermin sebelum berangkat untuk menjemput Kou-_-
...
Sasuke memarkir mobilnya di depan butik Orochimaru. Bersikap sok keren, duda beranak satu itu keluar dari kendaraan roda empatnya dan menghampiri putra semata wayangnya yang sudah menunggu di depan butik bersama salah satu pelayan Orochimaru. Kou yang juga sudah setampan papanya, tubuh mungilnya dibalut setelan hitam dengan kemeja berwarna Ivory. Mendapati putranya yang nampak lebih bersinar, Sasuke menilik wajah putranya tersebut dengan begitu teliti. Sasuke bahkan mempertanyakan kemana perginya darah dingin Uchiha yang ia wariskan ke bocah itu. Senyum Kou malah semakin mengembang. Bocah itu seakan mengatakan kepada papanya bahwa ia sudah menyediakan hadiah luar biasa yang akan membuatnya lupa daratan.
"Kou, kau keliahatan bahagia sekali. Apa yang banci genit itu lakukan padamu?" Kedua tangan Sasuke meneliti setiap inci tubuh putranya dengan begitu posesif.
Kou mendengus. Orochimaru bahkan tidak berani menyentuhnya.
"ehm!" Dari belakang Orochimaru berdehem, membuat dua kepala berambut hitam menoleh secara bersamaan. Mata Sasuke lansung tertuju ke tangan si designer yang di balut perban.
"Sasuke-kun, sepertinya kau harus tanggung jawab atas perlakuan putramu itu." Lirih Orochimaru dengan wajah menyedihkan. Matanya yang menyerupai mata ular hasil manipulasi kontak lensa itu melirik sinis ke arah Kou. Dan si bocah malah menjulurkan lidahnya.
Sasuke melirik putranya sekilas, lalu menatap Orochimaru.
"Memangnya apa yang putraku lakukan terhadapmu?"
"Ah, itu karena anakmu terlalu posesif. Aku hanya menyentuh rambut pirang calon istrimu, dia langsung menggigit tanganku seperti bocah kesetanan," Orochimaru mengadu, berusaha menarik simpati si duda keren.
Tunggu dulu,
Apa katanya tadi?
Rambut pirang calon istri?
Siapa?
"Ah, aku hampir lupa. Naru-chan, keluarlah!" panggil Orochimaru.
Kini perhatian tertuju kepada sosok bak malaikat yang berdiri menyilang tangan di depan tubuhnya. Wanita itu menunduk malu-malu. Wajah Kou sudah berbinar-binar melihat sosok Naruto yang terlihat sangat berbeda. Wanita pirang itu terlihat lebih tinggi dengan gaun jenis Empire tanpa lengan berwarna Ivory yang senada dengan kemeja Kou. Rambut pirangnya di kepang longgar menyisakan beberapa anak rambut di sekitar pelipis hingga membingkai wajah oval si pirang. Sederhana namun memikat. Bahu dan punggungnya terdedah, memamerkan kulit tan yang begitu menyerupai karamel.
Kou melirik papanya dan tersenyum geli. Bahkan papanya, Si Uchiha Sasuke, tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun setelah melihat Naruto.
"Pa, tunggu apalagi? Seret tante Naru ke rumah grandma." bisik Kou menyadarkan Sasuke dari keterpesonaannya. Duda beranak satu itu lalu mendelik geram ke anaknya. Astaga, siapa juga yang ingin membawa wanita pirang yang tiba-tiba terlihat begitu cantik itu ke hadapan keluarga besarnya? Jangan bercanda, wanita ini pioner kriminalitas.
"Hihi tunggu apalagi? Ayo kita pergi pa," Kou sudah lebih dulu menghampiri pintu mobil di samping kursi mengemudi dan membukakan pintu tersebut untuk Naruto. Sasuke memutar bola matanya bosan melihat anaknya bersikap sok gentle. Uhh!
"Tante Naru, ayo masuk!" panggil Kou.
Dengan malu-malu, Naruto melangkah dengan anggun. Sedikit kesulitan karena sepatu yang ia gunakan berhak tinggi. Saat ia hendak menuruni tangga, ia tersandung kakinya sendiri dan hampir jatuh terjerembab kalau saja Sasuke tidak segera meraih tubuhnya.
Sasuke bisa merasakan betapa halusnya kulit punggung si pirang. Astaga, apa sekarang ia sedang memuji kulit tan super eksotis itu? Sadarlah Sasuke, dia wanita yang sudah menculik anakmu dan menipu! Hati kecil Sasuke berusaha menendang jauh perasaan aneh yang tiba-tiba datang meracuni hatinya.
"Kenapa kau selalu saja menggunakan cara ini untuk menggodaku, hah?" Tuduhan Sasuke sukses membuat dahi Naruto berkedut.
Dengan kasar, wanita pirang itu mendorong tubuh Sasuke hingga berhasil menjauh darinya. Naruto melotot dan menunjuk Sasuke dengan nista.
"Astaga, demi Tuhan, Uchiha. Bagaimana bisa kau memiliki rasa percaya diri setinggi gunung everest? Menggodamu? Menggoda Orochichi-san lebih menyenangkan daripada menggoda siluman ayam sepertimu!" raung Naruto. Belum teratur napasnya, wanita itu langsung berjalan kearah Kou dan masuk kedalam mobil.
Sasuke menyusul masuk kedalam mobil. Entah kenapa, lidahnya sekarang begitu kelu untuk membalas penghinaan Naruto barusan. Ditambah tatapan intimidasi putranya yang ia lihat melalui kaca spion. Ia merasa dikhianati. Ia melirik wanita di sampingnya sekilas sebelum menyalakan mesin mobil dan melesat pergi menuju kediaman Nara.
...
Beberapa kali Shikadai melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Bocah berusia enam tahun itu terlihat sangat dewasa dengan balutan setelan berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hijau toska. Beberapa tamu orang tuanya yang datang, menyapanya dan sesekali mencubit gemas pipinya. Kegelisahan si Nara muda itu tidak bisa ia sembunyikan dengan baik. Pasalnya, orang yang sejak tadi ia tunggu, belum juga menampakkan batang hidungnya.
Panjang umur, sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya dengan gagah. Kemewahan mobil tersebut mencerminkan bahwa pemiliknya pasti salah satu tamu penting sang menteri. Dari dalam mobil tersebut, keluar seorang lelaki tampan yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Dengan hati-hati, lelaki itu membantuk seorang anak kecil untuk keluar dari dalam mobil. Decakan-decakan kagum dapat terdengar dengan jelas dari beberapa tamu yang juga baru tiba. Ketampanan lelaki itu memang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan jangan lupakan si bocah yang juga mewarisi wajah yang sama. Keduanya menjadi pusat perhatian.
Shikadai menghampiri tamu tersebut lalu menyambut dengan membungkuk sopan.
"Selamat datang, paman Uchiha."
Sasuke tersenyum tipis sebagai balasan. Kou yang berada disampingnya sudah menatap Shikadai sengit. Rupanya Kou tipe anak yang tidak mudah memaafkan orang lain. Buktinya ia masih saja tidak bisa menerima eksistensi si bocah nanas.
Setelah itu, ayah Shikadai, Nara Shikamaru, menghampiri Sasuke. Shikamaru langsung menghadiahkan sebuah pelukan hangat ke teman seperjuangan itu saat di masa sekolah dulu
"Halo, Kousuke-kun?" sapa Shikamaru ramah seraya merendahkan tubuhkan.
"Domo." Balas Kou singkat. Ia tidak begitu tertarik untuk beramah tamah dengan orang dewasa di pesta ini, pikirnya.
"Kou, kau harus menyapa orang dewasa dengan benar!"
Suara lembut mendayu-dayu itu membuat beberapa kepala menoleh. Tatapan-tatapan kagum langsung di hadiahkan ke wanita itu.
"Tanteee!" seru Shikadai terkejut.
Kou langsung berpindah ke sisi Naruto dan langsung menggandeng tangan wanita itu. Terlihat begitu mesra. Kou menyeringai tipis melihat ekspresi Shikadai yang langsung mencelos melihat keposesifan Kou yang langsung melancarkan aksi ekploitasinya. Tujuannya datang ke pesta ini memang untuk membuat si bocah nanas itu menyesal telah mengundangnya dengan memamerkan kemesraannya dengan Naruto.
"Selamat malam, Shikadai." Naruto menyempatkan menyapa Shikadai sebelum di tarik oleh Kou untuk masuk. Sasuke memijit pelipisnya yang berdenyut. Besok pasti akan beredar gosip yang bisa membuat telinganya panas.
"Shikadai, kau mengenal wanita itu?" tanya Shikamaru putranya yang hanya dibalas anggukan. Lalu Shikamaru menatap Sasuke seolah menuntut sebuah jawaban. "Sasuke, siapa wanita itu?" Kali ini ia melontarkan pertanyaan ke Sasuke.
"Pengasuh Kou," balas Sasuke malas. Ia sama sekali tidak ingin wanita itu tiba-tiba terkenal.
Dalam pikiran Shikamaru saat ini adalah, bagaimana mungkin ada pengasuh secantik bidadari seperti itu padahal bisa saja ia menjadi model atau artis?
"Sasuke, jangan-jangan..." Shikamaru menatap Sasuke jahil. Suatu kemajuan Sasuke bisa dekat dengan lawan jenisnya (lagi) setelah mengalami kegagalan pernikahan.
"Jangan bercanda, dia bukan tipeku!" tandas Sasuke dengan wajah geram. Ia berjalan masuk melewati Shikamaru.
"Ah, bukan tipemu? Oh, jadi maksudmu, tipemu hanya seseorang yang seperti..."
"Shikamaru!"
Langkah Sasuke terhenti. Begitupun Shikamaru yang mengekorinya. Shikamaru pun bisa merasakan perubahan atmosfir di sekitar tubuh Sasuke setelah ia membahas sesuatu yang begitu sensitif.
"Baiklah, aku tidak akan membahas hal itu lagi." Shikamaru menepuk bahu Sasuke dan berjalan mendahului sahabatnya itu. Ia sadar, mengungkit masalalu Sasuke adalah kesalahan fatal. Sasuke sangat tidak menyukai yang namanya flashback, jadi ia memilih untuk segera masuk karena pestanya akan segera di mulai.
...
Para tamu pesta ulang tahun pernikahan di kediaman Nara kini memusatkan perhatian mereka ke arah dua orang yang terlihat begitu mesra. Setelah menyambut para tamu, Shikamaru mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Setelah beberapa rangkaian acara seperti memotong kue tart tiga tingakt, pasangan suami istri itu kemudian dengan kompak mempersilahkan para tamu untuk menyantap hidangan yang telah di sediakan.
Suasana pesta tampak begitu meriah. Iringan musik klasik semakin memperhangat atmosfir di sekitar ruangan tersebut. Di salah satu sudut, Kou nampak menikmati hidangan di temani oleh Shikadai. Meskipun terlihat sinis, namun sudah bisa membiasakan diri dengan Shikadai. Kou sejenak lupa akan Naruto-nya karena terlalu sibuk beradu mulut dengan Shikadai.
"Ah, ini namanya surga!" Air liur Naruto menetes melihat berbagai jenis hidangan yang tersaji di meja. Tangannya dengan terampil mengambil satu persatu makanan tersebut dan mengumpulkannya dalam satu piring. Persetan dengan tamu lain yang memandangnya dengan tatapan tidak percaya, seolah wanita itu sudah tidak mempedulikan penampilannya yang bak putri konglomerat dari negeri Eropa.
Satu persatu makanan tersebut ia masukkan kedalam mulutnya. Wajah Naruto menampilkan berbagai macam ekspresi setelah lidahnya mengecap rasa. Ia pula kerap kali menjerit tertahan saking enaknya makanan itu.
"Aku harap kau tidak sakit perut setelah pulang dari tempat ini, Nona."
Sebuah suara seksi serak-serak basah menyapa indera pendengaran Naruto. Dengan mulut yang masih penuh, wanita pirang itu membalikkan tubuhnya.
"BRRRMPH!"
Remah kue yang sementara ia kunyah menyembur keluar dari mulutnya dan menyerbu wajah tampan seorang pria di hadapannya. Iris safir Naruto membulat dan segera meletakkan piring yang ia pegang dan segera menyerahkan serbet ke pria tersebut dengan penuh penyesalan.
"Tuan, maaf! Aku benar-benar tidak saja. Kau terlalu tampan, aku hampir saja tersedak kare— eh," Naruto menutup mulutnya sendiri. Astaga, kenapa ia blak-blakan sekali.
Dengan senyuman mempesona, pria itu meraih serbet dan membersihkan wajah dan dasinya. "Tidak masalah. Suatu kehormatan bisa mendapat pujian dari nona secantik anda," ujarnya. Senyum maut masih menghias bibir merahnya. Naruto sampai tidak sanggup berdiri akibat feedback pria itu.
"Paman Gaaraaa!" Shikadai menghampiri pria itu dengan berlari sambil membentang tangannya lebar. Pria itu, Gaara, menoleh dan langsung menyambut si bocah dan merengkuhnya dalam sebuah pelukan erat.
"Shika, kau sudah besar," ucap Gaara, menatap si bocah dengan tatapan kagum, Shikadai hanya tersenyum malu-malu.
Gaara kemudian menurunkan Shikadai dan mengusap puncak kepala keponakannya itu. Naruto hanya diam memperhatikan mantan calon korban penculikannya yang terlihat begitu bahagia dengan kehadiran pria yang ia akui memiliki wajah super tampan —setelah Sasuke tentu saja— hingga tidak menyadari Kou yang sudah berada di sisinya.
"Aku kira paman tidak akan datang," cetus Shikadai. Lalu bocah itu menarik tangan Gaara. "Paman, aku ingin mengenalkanmu kepadanya." tunjuknya kearah Naruto. Naruto menunjuk dirinya sendiri, bingung. Kenapa Shikadai ingin mengenalkan dirinya ke pria yang ia panggil paman itu.
"Tante Naru, kenalkan, ini Paman Gaara. Adik Kaa-sanku. Paman, ini tante Naru, temanku," ujar Shikadai begitu bersemangat.
Naruto mangap dengan mata yang berkedip beberapa kali. Astaga, demi tuhan, ia belum pernah sekalipun bermimpi akan berkenalan dengan pria bak malaikat pembawa cinta ini. Gaara semakin membuatnya lupa diri ketika pria itu mengulurkan tangan.
"Sabaku Gaara, salam kenal Nona teman dari keponakanku," ujar Gaara. Begitu sopan, begitu berkelas. Karisma pria ini meluluhlantakan setiap wanita, termasuk Naruto.
Naruto menyambut tangan pria itu lalu berjabat tangan. "Salam kenal, Gaara-san." balasnya dengan keanggunan yang ia jiplak dari aktris idolanya.
Kedua tangan itu sudah bersalaman sekitar dua puluh detik. Seseorang di sisi Naruto sudah naik pitam melihat kedua tangan yang saling bersentuhan.
"EHEM!" Tangan mungil Kou memisahkannya dengan paksa. Mata hitamnya melirik sengit pria dewasa tampan yang sudah berani-berani menggoda Naruto-nya, di hadapannya sendiri. Sangat tidak bisa ia maafkan. Meskipun ia baru berusia enam tahun, ia sangat tahu bahwa bersalaman itu tidak sampai dua puluh detik.
"Jangan dekati tante Naru!" tegasnya. Tubuh mungil bocah itu pun dengan gagah melindungi Naruto. Setelah puas menghadiahkan tatapan sengitnya, ia kemudian menarik tangan Naruto menjauh dari pria itu dan juga Shikadai.
"Darling, ada apa?" tanya Naruto tanpa menolak tarikan Kou. ia membiarkan bocah itu membawa dirinya menjauh dari kerumunan.
"Aku tidak suka paman itu." Bocah itu menyahut pelan.
"Loh? Kenapa? Bukannya ia terlihat baik?" balas Naruto yang sukses membuat si bocah berhenti. Ia menunduk, membiarkan poninya menutpi sebagian wajahnya.
"Kou sayang?"
"Aku tidak ingin melihat orang lain mendekatimu!"
Ah, Naruto tahu. Keposesifan Kou terhadapnya bukan hanya bocah tunjukan sekali saja. Hal yang sama juga pernah terjadi saat Shikadai menciumnya. Saat itu Kou terllihat sangat tidak senang. Dan hari inipun, bocah itu menampilkan ekspresi yang sama. Naruto hanya menghela napas, lalu merendahkan tubuhnya untuk bersejajar dengan bocah itu. Pelan tapi pasti, sebuah kecupan lembut mendarat di jidat Kou.
"Tidak usah khawatir, sayangku." ucap Naruto. Kou hanya bisa memalingkan wajahnya yang sudah memerah akibat malu dengan kecupan tersebut. Astaga, ia jadi semakin ingin segera menyeret wanita itu ke altar sebagai istri papanya.
Sekitar beberapa meter dari tempat Kou dan Naruto berada, Sasuke memerhatikan kedua manusia itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Melihat wajah anaknya yang cepat sekali berubah jika bersama dengan si pirang gila membuatnya tidak begitu mengerti, hal apa yang ada di wanita itu yang sudah mengikat hati putranya. Tanpa sadar, bibirnya melengkung tipis. Selain dengan orang tua dan kakaknya, hanya wanita itu yang bisa membuat putranya tersenyum begitu lebar. Tapi, kenapa harus Naruto? Wanita pirang gila yang sudah menculik putranya? Sial.. mengapa hatinya bisa sehangat ini melihat putranya dan wanita itu tertawa bersama?
"Sial.. Naruto, kau.."
"Selamat malam, Sasuke-kun. Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu."
Suara ini. suara yang sangat familiar di telinganya. Suara itu juga yang mampu membekukannya di tempat. Derap langkah sepatu high heels terdengar semakin mendekat. Kepala Sasuke menoleh ala slowmotion, hingga kini sosok pemilik suara indah itu sudah berada tepat di belakangnnya dengan senyuman bak malaikat.
"Kau!" desis Sasuke dengan gigi yang bergemelutuk. Sosok itu semakin melebarkan senyumannya lalu kembali menyapa Sasuke, kali ini tangannya terulur untuk menyentuh pipi duda beranak satu itu.
"Kau terlihat semakin tampan, senang bisa bertemu lagi denganmu.."
.
.
.
.
.
Bersambung!
.
.
.
Yohaaaa~
Updatenya udah cepet kan? /ditendang/ INI MALAH NGARET BANGET!
Maaf ya minna-san aku baru saja pulang mengabdi di masyarakat, menjalankan tugas sebagai seorang mahasiswa wkwk
KKN bener-bener menguras waktu dan tenaga, hoho maapkeun daku :*
Oia, Seperti yang aku katakan di chapter sebelumnya, humornya bakal berkurang :" please, do not blame me about that.
Nah, kayaknya udah ketebak yah siapa emaknya Kou muehehe.. well, ada dua karakter baru yang muncul, karakter yang mungkin bakalan bikin hubungan Sasuke dan Naruto makin rumit, atau malah bikin keduanya semakin dekat, entahlah /ea XD
Seperti biasanya, saya selalu ngucapin terima kasih untuk teman-teman yang dengan senang hati meninggalkan jejak di kolom review. Ada kebahagiaan tersendiri saat membaca review tersebut, saya merasa itu bentuk apresiasi manteman ke saya/fic saya. Untuk yang menfollow dan menfavoritekan juga, saya ucapkan terima kasih banyak.
Maaf kalau banyak kesalahan di sana sini, saya masih amatir, jadi sekiranya manteman jangan sungkan untuk memberi masukan terhadap tulisan saya. Jujur itu sangat membantu progres tulisan saya sendiri
Oke, ngocehnya cukup yaakk.. sampai jumpa di chapter berikutnya. Saya harap manteman ga pernah bosen.
Mmuach :*
Mkim
