Author of Discord


Disclaimer: Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.


Vienna, awal abad ke-14 Masehi.

Julian Fichter adalah anak asuh mandor perkebunan anggur di Katterburg. Sejak masih berusia sepuluh tahun, ia telah berada dalam asuhan Tobias Sandmeier, pamannya. Julian adalah putra mendiang kakak laki-laki dari istri si mandor.

Usianya sudah delapan belas tahun, sudah jadi pekerjaan tetapnya untuk mengais rejeki bersama para petani lainnya di perkebunan. Bukan hal yang sulit bagi Julian. Ia pemuda yang rajin, dan sudah terbiasa membantu pekerjaan paman dan bibinya sejak masih berusia sepuluh tahun.

Tobias Sandmeier mempunyai dua putra. Daniel, putra pertamanya yang tiga tahun lebih tua dari Julian, mengabdikan diri di biara Klosterneuburg. Sedangkan Bernard, putra keduanya, meninggal di usia yang masih sangat muda karena wabah. Maka saat Daniel tidak berada dekat dengan orang tuanya, Julian lah yang menjadi tumpuan harapan suami istri tersebut.

Siang itu Julian baru selesai mengangkat tong-tong berisi anggur ke gerobak. Tong-tong itu akan diantar ke kediaman wali kota Vienna. Setelah gerobak itu mulai meniti jalan yang membelah area perkebunan menuju kota, membawa serta pamannya yang turut mengantar kiriman itu, tugas Julian hari itu sudah separuh selesai. Setelah mengisi perutnya yang keroncongan, ia harus bergegas memperbaiki atap rumahnya yang bocor.

Separuh jalan ke rumah, di dekat semak mahaleb cherry, beberapa ekor anak kucing meringkuk dan mengeong.

"Wah, anak kucing," seru Julian, lalu menghitung mereka, "satu, dua, tiga, empat, lima."

Sekejap saja ia tenggelam dalam keasyikan bersama kelima anak kucing itu, berjongkok di dekat semak-semak. Julian sangat menyukai kucing.

Dua tahun lalu ia merawat seekor kucing jantan yang ditemukannya dengan tubuh basah dan kurus di sebuah sudut kota saat sedang ikut pamannya mengantar anggur. Dibawanya pulang kucing berbulu jingga itu, merawatnya hingga mencapai usia dewasa, sebelum kemudian kucing yang diberinya nama Jäger itu meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali.

"Disini kau rupanya."

Julian berjengit mendadak mendengar suara bibinya di belakang punggung.

"Iya, Bibi Farahilde. Aku akan segera menambal atapnya," ucap Julian, bergegas berdiri, tapi masih sambil memegang salah satu anak kucing. Empat anak kucing lainnya berkutat di sekeliling kakinya. Seekor diantaranya menggosokkan kepala ke sepatu bot Julian. Seekor lainnya menyelinap di sela kaki Julian dan mengeong meminta perhatian.

"Kucing lagi," Farahilde menyipitkan mata.

"Sepertinya mereka lapar. Ijinkan aku memberi mereka sedikit susu pada mereka. Sudah berbulan-bulan aku tidak bermain dengan kucing, sejak Jäger menghilang," Julian memohon.
"Jäger bukan menghilang. Dia mungkin sudah menemukan kucing betina untuk dia kawini. Dia berpetualang dan menemukan cintanya," kata Farahilde sembari menyerahkan sepotong roti gandum dan segelas susu pada Julian.

Julian menerima makan siangnya dengan wajah bersemu merah.

"Lalu kau sendiri bagaimana?"

Sepotong roti gandum di tangan Julian masih separuh jalan dari mulutnya. "Apanya?"

Farahilde menghela napas. Seringkali dia sedikit merasa cemas, karena Julian tidak pernah bercerita soal siapa gadis yang menarik hatinya. Tobias berkata Julian sesekali mengobrol dengan salah satu pelayan di kediaman walikota saat mereka mengantar anggur. Hanya itu saja, Farahilde tak pernah mendengar apapun langsung dari mulut keponakannya. "Dasar anak bodoh." Lalu wanita paruh baya itu berlalu.

Aku mengamati percakapan wanita gemuk dan keponakannya dari keteduhan pepohonan di tepi perkebunan. Saat itu aku sedang membuang sedikit waktu luang yang tak terbatas dengan menikmati bayangan keteduhan pohon oak, sembari menunggu kedatangan seorang rekan di wilayah kerajaan ini, kami berencana pergi ke Balkan.

Sekarang pemuda itu tengah menunduk kembali sambil berjongkok, wajahnya tidak terlihat karena tertutup helaian gelap poni yang panjang, ia sedang sibuk memberikan susu jatah makan siangnya pada anak-anak kucing.

Syukurlah mereka ditemukan oleh orang yang tepat. Aku lah yang meletakkan mereka di sana. Induknya tewas saat aku memporak-porandakan sebuah rumah besar di mana sekelompok orang berjubah hitam mendengungkan serangkaian mantera untuk memanggilku. Mereka semua tewas, sesuai perjanjian yang kuterima sebelumnya. Seseorang dari mereka memberikan kejutan yang menarik bagi rekan-rekannya, karena mereka telah mengorbankan putranya yang masih berusia beberapa bulan dalam sebuah ritual.

Mereka memanggilku, tanpa tahu bahwa seseorang di antara mereka telah lebih dulu mengajukan penawaran. Demikianlah, dendam wanita itu terbalaskan, dan aku mendapatkan upah. Kebetulan saja si induk kucing ada di lokasi kejadian, dan kucing malang itu tewas terhimpit bangunan saat separuh bagian dari rumah besar itu runtuh.

Tidak ada yang istimewa dalam jiwa wanita itu. Bahkan ternyata rasa cinta pada putranya juga tidak sebesar yang kuperkirakan sebelumnya. Jiwanya lebih banyak dipenuhi kedengkian, bukan kombinasi rasa yang paling kusukai untuk dinikmati. Kalau saja dia punya amarah yang lebih besar, pasti akan terasa lebih baik, karena amarah selalu punya banyak kombinasi rasa di dalamnya. Setelah mendapatkan upah yang biasa-biasa saja, aku malah terjebak kerepotan dengan anak-anak kucing itu, untuk memindahkannya ke tempat lain yang aman.

Aku mulai beranjak dari tempat itu, namun satu suara tidak terduga menghentikanku.

"Hei, kau sudah mau pergi, Tuan?"

Terperangah. Aku memandang ke arah si pemuda yang menggendong seekor kucing belang tiga sambil mengelus dagu hewan itu. Pemuda itu memandang ke arahku.

Dia bisa melihatku.

"Kau bicara padaku?" aku berteriak padanya, memastikan.

"Tentu. Pada siapa lagi?" Julian nyengir.

Aku menoleh ke sekeliling. Di pinggir perkebunan itu, hanya ada kami berdua. Ini menarik. Ia bisa melihatku. Tidak setiap hari aku bertemu dengan manusia yang bisa melihatku tanpa kukehendaki.

"Mengapa kau bisa melihatku?" tanyaku saat menghampirinya.

"Pertanyaanmu aneh." Ia tergelak.

"Sungguh. Kau seharusnya tidak bisa melihatku," tukasku. "Aku tidak terlihat."

Julian Fichter menatapku skeptis. "Apa kau semacam pesulap?"

"Bukan."

Meskipun ia bisa melihatku, pemuda itu sama bodohnya dengan manusia lain.

"Apa kau yang membawa mereka kemari?"

"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Tadi pagi mereka tidak ada di sini. Mereka tidak mungkin bersama-sama berjalan sampai kemari. Dan kulihat kau mengawasiku sejak tadi, sejak saat aku menemukan mereka."

"Pengamatan yang menarik. Kau punya mata yang bagus, Nak."

Julian masih sibuk mengelus anak kucing dalam gendongannya. "Aku tidak mengerti yang kau katakan. Tapi aku bersyukur kau membawa anak-anak kucing ini kemari. Aku bisa merawat mereka kalau kau tidak mau."

"Aku tak mungkin memelihara kucing. Aku ini demon. Kau pasti tahu artinya, kan? Dan aku punya serigala besar yang pasti takkan akur dengan bayi-bayi berbulu itu."

Julian tergelak lagi. "Itu mustahil. Kata sepupuku yang tinggal di Klosterneuburg, para demon itu jahat dan menyesatkan. Orang jahat tidak akan menyelamatkan kucing."

"Aku bukan orang. Dan sepupumu perlu lebih banyak belajar agar tidak punya penilaian yang terlalu dangkal. Aku juga bukan salah satu dari yang baik."

"Lalu kemana serigalamu? Kaubilang punya serigala."

"Kupulangkan, ke tempat asalku. Karena aku tak mau ada keributan konyol saat membawa mereka kemari."

Julian menyeringai. "Terserah apa katamu, Tuan." Ia mengulurkan separuh roti gandum jatah makan siangnya.

Aku menatapnya tak percaya. "Yang benar saja. Aku sudah makan. Kemarin malam aku baru saja makan besar, menyantap jiwa manusia."

"Mungkin ini tidak seberapa dibandingkan dengan menu makan besarmu, Tuan. Tapi aku yakin kau belum makan seharian ini."

Satu kepedulian yang sederhana. Satu kebaikan yang remeh. Barangkali itu yang membuatku tergerak. Meskipun aku tidak membutuhkan apa yang diberikannya.

Menarik sekali.

"Dasar bocah bodoh," kataku sembari menerima pemberiannya.

"Aku sudah sering mendengarnya," sahut Julian dengan nada bosan, nyengir lebar dengan riang.

Seorang bocah yang menarik, memiliki mata yang bagus pula. Sepertinya memang tidak menyadari dengan siapa dia bicara. "Siapa namamu?"

"Julian Fichter. Aku hanya keponakan petani perkebunan ini, Sire."

Sesuatu terlintas di benakku, bertanya-tanya, apa pemuda ini sudah pernah melihat makhluk lain, selain demon.

"Kau belum memberitakuku namamu, Tuan."

"Dan mengapa aku harus mengobral namaku pada sembarang manusia?" timpalku.

"Karena begitulah seharusnya saat berkenalan." Julian menggigit separuh lagi jatah roti di tangannya.

Aku mengerjap, takjub. Entah sebelumnya dia memang beruntung tidak pernah melihat makhluk yang mestinya tak kasat mata – menganggap apapun yang tampak seperti orang di hadapannya, sebagai manusia – atau dia tidak pernah menyadari kalau punya penglihatan bagus – saking bodohnya.

"Aku adalah demon yang mendaraskan kekacauan, salah satu lord dari Gehenna. Manusia menyebutku sebagai Sang Pencipta Perpecahan. Aku adalah dewa perang yang mampu menyingkirkan semua penghalang dalam jalanmu mencapai tujuan."

Pemuda itu tidak tertawa, meski barangkali dia tak percaya apapun yang kukatakan. "Daniel, sepupuku, pernah bilang kalau Gehenna itu adalah – "

"Dengar, patuhi kata sepupumu dari Klosterneuburg. Dia benar soal apapun tentang Gehenna, itu tempat yang buruk. Rawat mereka dengan baik," aku mengerling pada anak-anak kucing yang asyik bercengkerama, merasa senang setelah mendapatkan sesuatu untuk mengisi perut mereka, "dan jauhi aku."


Aku tidak pernah memberikan identitasku seperti sebuah barang dagangan murah. Sebuah nama adalah sesuatu yang melekat pada jati diri, terutama bagi demon. Gara-gara sebuah nama, seorang demon bisa kerepotan dengan serentetan pemanggilan yang melibatkan namanya, apalagi bila yang memanggil ternyata hanya buang-buang waktu saja.

Julian Fichter bukanlah seseorang yang memahami apa itu ritual pemanggilan demon. Dia terlalu alim untuk membuat perjanjian. Siapapun dirinya, aku tetap tidak ingin mempertaruhkan namaku, siapa yang akan mengira kalau kelak Julian Fichter akan jadi salah satu manusia yang mencatat pengetahuan tentang demon dan menyebarkan namaku ke seluruh penjuru bumi.

Kami beberapa kali berpapasan di kota. Ia menyapaku dengan anggukan singkat, sebelum berlalu dengan diiringi serangkaian omelan dan ocehan dari bibinya yang gemuk.

Hanya sebatas itu saja interaksi di antara kami. Tidak ada privasi yang terganggu. Aku tetap berkutat dengan urusan sendiri, demikian juga dengan pemuda itu, setidaknya itu lah yang kupikir.

Namun, satu perubahan besar terjadi. Suatu malam, aku mendengar kabar tentang para bandit yang membunuh banyak orang di perkebunan. Rumah-rumah mereka dibakar, itu yang kudengar. Terlintas pertanyaan di benakku, bagaimana nasib Julian Fichter? Itu hanya pertanyaan selintas. Kalau penyerangan itu separah yang diceritakan, barangkali tak ada yang selamat, termasuk dia. Ini masa-masa yang sulit bagi rakyat kecil seperti Julian Fichter, kematian bisa menjadi sebuah solusi – selama kematian itu bukan datang dari tangannya sendiri.

Aku tak punya kepedulian cukup banyak untuk acuh pada kabar itu.

Di satu sudut kota, seorang wanita berbadan sintal yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah, menawarkan sebuah hiburan. Kuterima tawaran itu dengan senang hati.

Saat jariku mulai meluncur menelusuri tubuh si pirang molek dalam keremangan lorong kota, menarik tali korsetnya, sosok orang ketiga muncul di ujung lorong. Berdiri diam di sana. Aku tidak mengacuhkannya. Bibirku tengah sibuk dengan penjelajahan di leher si pirang, sembari salah satu tanganku yang bebas menelusup di balik chemise-nya.

Dengan semua ketidakpedulian yang kutunjukkan, dia tetap tidak pergi dari ambang gang gelap, menatap kami berdua seperti seorang penonton yang mencari hiburan murahan.

Sambil mengumpat pelan, aku menoleh pada Julian. "Apa maumu?"

Meski dalam keremangan, aku bisa melihatnya berlumur lumpur dan darah. Ia memang terluka. Goresan di lengan kanannya. Dan satu luka kecil di pelipis kirinya. Darah yang membuat noda di tunik dan jubahnya yang lusuh adalah darah orang lain.

Aku menjejalkan beberapa keping perak di tangan wanita pirang itu. "Pergilah," kataku pada si pirang.

Wanita itu berlalu sembari sibuk membenahi tali korset dan membetulkan kembali posisi chemise-nya, menghilang di ujung jalan untuk mencari pria senggang lain.

"Keluargaku tewas," Julian menahan isakan.

"Lantas? Kau mau aku menghidupkan mereka kembali? Itu mustahil. Asal kau tahu saja, aku tak punya kuasa sebesar itu. Kalau pun mereka bisa kembali, kujamin mereka takkan sama seperti sebelumnya, dalam artian yang buruk."

"Bukan itu," tukas Julian, raut wajahnya seperti seorang yang baru saja dipaksa menelan empedu.

"Jangan bertele-tele. Kalau kau ingin mendapatkan kembali apa yang sudah direnggut darimu, kau menemui demon yang salah." Aku bersandar pada tembok, menunggunya pergi dan menerima nasib.

"Aku ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal, dengan tanganku." Amarah berkobar di mata pemuda itu. Tekadnya sudah mengeras, takkan terpatahkan oleh apapun. Kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya bergetar oleh kemurkaan.

"Kalau kau ingin menghabisi mereka dengan tanganmu sendiri, mengapa kau mencariku? Apa kau tahu, aku punya reputasi buruk di kalangan para pemanggil. Ratusan penyihir tewas saat memanggilku." Aku berdiri menghadapnya. Rasa penasaran mengembangkan senyuman sinis di bibirku, seperti biasa. "Dan di sini lah kau berada. Berdiri menghadapku dengan tangan kosong, dan kalung religius yang melingkar di lehermu. Tanpa satu pun perlindungan dari lingkaran ritual. Tanpa satu pun persembahan. Kau bahkan tak tahu namaku."

"Aku butuh bantuanmu," jawabnya. "Aku memang tak tahu apapun soal pemanggilan demon. Tapi kumohon pinjamkan aku kekuatanmu."

"Apa yang akan kau berikan padaku sebagai gantinya?"

Julian terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya dengan telak, mengguncang prinsipnya di bagian yang paling dalam. Ia menggenggam rosario yang melingkari lehernya.

Aku menunggu dengan sabar, untuk melihat sejauh mana ia akan bertindak demi dendam yang tengah membakarnya saat ini.

Julian menarik kalung rosario itu hingga terlepas, lalu mencampakkannya. Benda itu jatuh ke tanah yang becek dan berlumpur.

"Jiwaku," jawab Julian. "Itu adalah harga yang akan kubayar kalau kau mau membantuku."

Demikianlah perjanjian itu dibuat. Baru kali ini aku membuat sebuah perjanjian tanpa ritual apapun, dan tanpa ada yang terbunuh. Kuakui, pemuda itu punya nyali yang lebih besar daripada apa yang ditunjukkannya. Namun lebih dari itu, dengan segala pertentangan yang dilaluinya, rasa jiwa Julian Fichter pasti sangatlah lezat. Satu kenikmatan yang takkan dilepas oleh demon mana pun, meski dengan harus mempertaruhkan keseimbangan diri.

Kupinjamkan pedangku pada Julian Fichter, memberinya dukungan untuk membalaskan dendam, demi memuaskan hasrat yang dituntut oleh amarahnya untuk dipenuhi.

"Pedang itu akan menuntunmu pada tujuan. Meski seumur hidup kau belum pernah memegang pedang, dan ini akan jadi yang pertama, sekaligus terakhir kalinya bagimu, kau akan tahu apa yang mesti dilakukan."

Julian menggenggam pedang itu dan berlalu. Meninggalkanku terdiam untuk tenggelam dalam keheranan tentang apa yang baru saja terjadi. Apa yang kukatakan padanya tidak sepenuhnya benar. Pedang itu mungkin akan membantunya menemukan apa yang dicari, sesuai dengan kehendak amarahnya. Namun yang menentukan hasil akhirnya tetap sang pemegang senjata itu sendiri. Aku hanya memberikan sedikit dorongan dari ambang batas yang sudah dilaluinya, selangkah lebih jauh, agar keputusan yang diambil tidak berakhir sia-sia.

Bulan yang bersinar kemerahan di langit malam ini akan menjadi saksi sebuah pembalasan dendam. Aku akan ada di sana juga untuk turut menyaksikan.

Tanpa mengulur waktu lagi, kubentangkan sayap hitamku, melesat ke langit tak berbintang, mengikuti jejak bau darah.

Di penghujung malam itu, di tepi sungai Wien, aku menyaksikan bagaimana seorang pemuda lugu berhati lurus menodai tangannya dengan darah atas nama dendam. Amarah dan dorongan untuk menumpahkan darah itu terlampau berat untuk diabaikan. Dan di sana lah Julian Fichter, melampiaskan segenap kegetirannya.

Kebencian, kekecewaan, ketakutan, sesal, dan murka berpadu menjadi sebuah orkestra harmonis dalam pembantaian malam itu. Satu lawan sembilan. Julian Fichter menunjukkan kebolehan yang mungkin takkan pernah diperlihatkannya pada orang lain. Sangat menarik melihat apa yang mampu dilakukan seseorang saat terdesak.

Denting logam yang beradu – sia-sia saja, senjata hasil tempahan murah di bumi takkan bisa menandingi ketajaman kriya dari Gehenna. Jeritan demi jeritan, diiringi dengan bunyi daging yang terbelah, dan derak tulang yang patah.

Saat semua tubuh telah tumbang ke bumi, kecuali satu, tanah ternoda dengan warna merah gelap, begitu juga dengan air sungai Wien. Udara dipenuhi oleh bau anyir yang pekat.

Julian Fichter berdiri diam di tengah kekacauan itu, tercenung. Aku turun menghampirinya, mengambil kembali pedangku dari tangannya yang lengket oleh darah para bandit itu.

Aku sengaja tidak melipat sayap, agar bisa melayang beberapa senti di atas tanah, untuk menghindari potongan tubuh dan isi perut yang berserakan.

"Semua sudah selesai. Mereka yang merenggut semua yang kau miliki sudah mendapatkan hukumannya," kataku.

Julian masih tertunduk dan membisu, poni panjangnya menyembunyikan tangis. Apapun arti tangisannya.

"Pergilah. Fajar sudah hampir menyingsing. Kau takkan mau ada di sini saat semua orang terbangun. Manusia lain takkan peduli kau melakukan ini semua demi apa, mereka takkan mengerti. Kabarkan berita duka pada sepupumu, jangan lupa ucapkan selamat tinggal padanya. Karena saat rembulan mencapai tahtanya esok malam, kau akan memenuhi janji padaku, di tempat pertama kali kita bertemu."

Itu adalah satu kemurahan hati. Biasanya aku takkan memberikan siapa pun kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukan karena aku mengasihani Julian Fichter, tapi karena keberaniannya membuat janji dengan demon tanpa persiapan apapun layak diberikan sedikit penghargaan.

Keberanian, atau kecerobohannya. Aku tidak peduli yang mana dari dua kata itu yang cocok untuk menyebut tindakannya.

Sesuai janji, kami bertemu lagi di Katterburg. Sebagian lahan perkebunan itu porak-poranda. Rumah-rumah para petani di pinggir perkebunan itu tinggal reruntuhan hangus. Datang kembali ke tempat itu adalah ujian tersendiri bagi Julian. Namun ia tetap datang, untuk menyerahkan jiwanya, sebagai bayaran atas kesepakatan kami.

Kubuat semua berakhir cepat untuknya, satu lagi penghargaan terakhir yang kuberikan karena ia telah menepati janji dan tidak mencoba tindakan konyol seperti kabur. Dia mungkin bodoh, seperti yang seringkali diucapkan bibinya, tapi Julian Fichter bukan seorang pengecut yang akan ingkar janji.

Rasa jiwanya, seperti yang sudah kuperkirakan, sebuah kombinasi yang menarik dan nikmat, penuh rasa kehidupan itu sendiri. Seluruh ingatan dan perasaannya menenggelamkanku. Seorang bocah kecil harus memutuskan hidup dan mati orang-orang yang disayanginya. Ibunya seorang yang masih memegang kepercayaan lama. Sedangkan kakak perempuan Julian tumbuh dewasa dengan pengetahuan pada kepercayaan lama selagi merengkuh keyakinan ayah mereka.

Suatu hari, orang-orang datang dengan marah, menuduh ibunya sebagai seorang penyihir. Julian bersumpah itu adalah sebuah fitnah. Ibunya wanita yang berbakti pada keluarga, tidak pernah mengutuk ataupun membunuh orang. Namun mereka tak pernah menganggap serius omongan bocah kecil. Ayahnya yang berusaha menolong, diseret ke halaman, dan digantung hingga tewas. Selanjutnya, Julian diminta memilih siapa diantara ibu dan kakaknya yang harus menebus dosa dan dihukum sebagai sebuah peringatan.

Bocah kecil itu menatap kedua wanita yang amat disayanginya, terisak dan menimbang. Dia tak boleh menawarkan dirinya sendiri sebagai pengganti keselamatan keduanya. Nyawa seorang bocah ingusan tak ada artinya, itu yang mereka katakan. Kakak sulungnya adalah seorang ibu muda dari keponakannya yang masih bayi. Kalau dia tewas, putra kecil yang menangis meraung-raung dalam pelukan kakak Julian akan kehilangan kasih sayang satu-satunya orang tua yang dimilikinya, karena ayah anak itu pun tidak pernah kembali pulang sejak mendaftarkan diri untuk ikut berperang. Jadi Julian kecil memilih ibunya, dengan berat hati dan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Wanita itu menangis. Namun dia mengangguk pada putranya, dan untuk pertama kali dalam hidup bocah itu, Julian melihat bibir ibunya bergerak untuk mengucapkan kata sayang padanya. Sepanjang yang diingat Julian, ibunya selalu merasa sedih berkepanjangan, dan itu terjadi setelah wanita itu melahirkannya – itu yang pernah dikatakan sang kakak. Julian masih terpaku sambil menangis, ingin mengucapkan kata maaf atas pilihannya. Namun sebelum kata itu terucap, Julian menyaksikan leher ibunya digorok.

Semua mimpi buruk itu tidak berhenti sampai di sana, selanjutnya dia harus melihat tubuh ibunya ditelanjangi dan diukir dengan kata 'penyihir', sebelum akhirnya ditumpuk di atas kayu bersama jasad ayahnya untuk dibakar.

Kakaknya membenci Julian karena pilihannya. Tak ingin mendengar pembelaan apapun dari adiknya dan menganggap kalau Julian semata memilih ibunya untuk dikorbankan karena merasa tidak disayangi. Tak mengerti betapa hancur hati sang adik karena kehilangan ibu. Air mata ibu mereka dan kata terakhir yang diucapkannya menghantui Julian setiap malam. Penyesalan dan rasa bersalah itu begitu besar untuk ditanggung tubuh kecil Julian. Bagaimanapun, Julian juga sangat menyayangi ibunya.

Selama beberapa bulan, dia menanggung sikap sinis kakaknya dan bungkam soal kepahitannya sendiri. Kakaknya menikah lagi dengan seorang saudagar kaya, dan mengirim Julian untuk tinggal bersama bibi mereka. Di tengah pergolakan dengan kenangan masa kecilnya, Julian mempertahankan rasa percaya pada kaumnya – bahwa manusia itu pada dasarnya baik – maka dia berusaha tetap menjadi baik, demi mengingat wejangan yang disematkan oleh orang tuanya.

Ketika semuanya telah habis, kutatap rembulan dengan air mata yang menggenang mengaburkan penglihatanku. Susah payah kutelan manis-pahit rasa jiwanya yang tersisa di mulut, sementara perasaan asing menyesakkan dada. Aku pun menyadari telah kalah dalam taruhan itu.

Kulalui dua dekade setelahnya dengan melanglang buana ke kepulauan Britannia dan Perancis, berusaha mengenyahkan perasaan asing yang merasuk dalam setiap jengkal intisari keberadaanku. Puluhan pertempuran dan sebanyak apapun jiwa yang kunikmati dalam pesta pora sehabis peperangan, tidak mampu mengembalikan keseimbanganku yang dulu.