Liberosis


Disclaimer:
-Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.
- Eligor dan Flauros adalah demon yang namanya disebut dalam Lemegeton dan Pseudomonarchia Daemonum.
- Sébastien Michaëlis yang disebut di sini bukan butlernya Ciel Phantomhive/demon tokoh utama yang sudut pandangnya digunakan dalam kisah ini.


Musim gugur, 1757.

Beberapa abad berlalu sejak saat itu. Aku kembali ke tempat di mana seorang pemuda menyerahkan segala yang dimilikinya untuk memenuhi sebuah perjanjian faustian. Julian Fichter memang menyimpan rasa muaknya pada kehidupan, namun dia mungkin masih memiliki masa depan, bahkan tanpa didampingi keluarga Sandmeier. Cintanya yang tak tersampaikan pada Sophia, si gadis pelayan di rumah wali kota, karena lebih baik gadis itu mengiranya tewas bersama para petani di Katterburg, daripada mengetahui kalau ia telah menjadi seorang pembunuh, sebelum akhirnya mengantarkan nyawa pada seorang demon.

Selama berabad-abad aku telah menyaksikan puluhan orang yang berhati lurus terkadang harus berkompromi dengan kegelapan. Sebagian dari mereka terang-terangan membelot, entah karena keserakahan, ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, atau semata demi membalas dendam. Manusia tetaplah manusia, tak ada satu pun di antara mereka yang benar-benar suci, atau benar-benar keji.

Beberapa dekade sebelum dipanggil kemari, aku tengah sibuk di Perancis. Bukan lagi sibuk dengan pertikaian para penguasa Inggris dan Perancis, sejak wabah hitam merebak di Eropa – dan aku pun memiliki andil dalam penyebaran wabah itu di Inggris – aku banyak mengasingkan diri dari peperangan, merenungi idealismeku sendiri sembari hanyut dalam aliran sejuta manusia dan takdir-takdir mereka yang saling terkait satu sama lain.

Seperti abad sebelumnya, abad ke enam belas berlalu dengan ratusan peristiwa pengadilan penyihir. Ratusan wanita dan pria tewas terpanggang api, disaksikan oleh puluhan orang yang memandang itu sebagai sebuah keadilan mutlak, terlepas apakah sang tertuduh benar-benar bersalah ataukah hanya semata korban fitnah dari kedengkian orang lain.

Di tengah kubangan rasa muak, seorang pria berhati lurus kembali menghampiri, kali ini meminta bantuan berupa informasi dari pengetahuanku. Sébastien Michaëlis adalah inquisitor sekaligus kepala Ordo Dominican. Dia meminta bantuan untuk mencari solusi pada kasus kerasukan besar-besaran di Aix-en-Provence, yang membuatku sempat berdebat dengan Beelzebub, meski akhirnya sang Lord of the Flies itu setuju untuk mundur beserta legion yang ikut bersamanya dalam kasus itu.

Setelah kasus itu selesai, inquisitor itu berkata akan melanjutkan menulis buku. Sebuah buku berisi catatan tentang kasus itu dan informasi tentang kaum demon. Dia bilang kelak buku itu akan menjadi satu panduan sejarah bagi manusia di masa mendatang, agar mereka tidak terjerumus dalam masalah yang sama. Satu lagi manusia yang bergabung dalam persaudaraan penulis yang membuat sebagian kaum demon kerepotan karena identitas mereka tersebar.

Jauh di masa lalu, seorang raja bijak mengawali gagasan itu dengan menulis testamen yang berisi informasi tentang kaum demon beserta sigil dan lingkaran-lingkaran ritual untuk suatu pemanggilan. Namaku tercatat dalam manuskrip itu. Beberapa abad setelahnya, seorang manusia bernama Michael Psellus mengikuti jejaknya. Kemudian dua manusia lagi ikut serta; Alfonso de Spina yang dengan bangga mempersembahkan buah pikirannya tentang para makhluk kegelapan pada tahun 1467, dan Peter Binsfeld yang membuat catatan klasifikasi pada tahun 1589.

Pada inquisitor dari Perancis itu, kubilang jangan memasukkan namaku pada catatannya. Entah dia memang mengindahkan permintaan itu atau tidak, aku belum sempat menengok Michaelis lagi sejak pertemuan terakhir kami setelah masalah Aix-en-Provence usai, kudengar dia sudah lama masuk ke liang kubur.

Keberadaanku di sini pun, tidak lepas dari peran seorang yang berhati lurus. Aku dipanggil kemari oleh beberapa orang pemanggil, atas perintah Kaisar Leopold I, demi untuk membantu peperangannya dengan Ottoman. Leopold Ignaz Joseph Balthasar Felician dari wangsa Habsburg memang adalah seorang yang saleh, tetapi bukan orang yang awam dalam pengetahuan mengenai kaum demon, dan sejak awal tidak pernah berniat jadi penguasa, kalau saja kakak lelakinya tidak meninggal karena cacar.

Di mataku, Leopold bukanlah seorang raja pejuang. Dia berbeda dengan rivalnya dari Perancis, Louis XIV, namun Leopold tetap seorang penguasa yang gigih dalam situasi perang. Entah bagian mana yang lebih besar dari alasannya berjuang, mempertahankan kekuasaan yang dipegang wangsa Habsburg selama beberapa generasi, ataukah demi melindungi rakyatnya saat Vienna terkepung oleh pasukan Turki, dia telah berperang dengan idealismenya sendiri saat memutuskan untuk memanggilku.

Setelah pertikaian itu berakhir dengan sebuah Perjanjian Perdamaian Vasvár, sang Kaisar memperpanjang masa tugasku, untuk membantu para penguasa Habsburg mengamankan tampuk kekuasaan mereka. Masa pemerintahan dua penguasa telah berlalu sejak saat itu, tugasku di sini belum usai. Selama ada seorang Habsburg yang memimpin kekaisaran ini, aku akan tetap ada, mengawasi dan melaksanakan apapun yang diperintahkan para penguasa dari generasi ke generasi.

Tidak hanya mengamankan kekuasaan, aku juga diperintahkan untuk menjaga salah satu warisan besar dari dinasti ini, Istana Schönbrunn. Ini tugas yang sangat tidak biasa di masa karirku yang demikian panjang. Aku adalah salah satu dewa perang dari Gehenna. Peperangan dan pertikaian, membasmi musuh, adalah bidang keahlianku. Menjaga sebuah istana adalah tugas yang sangat tidak lazim, apalagi tugas ini seringkali menjauhkanku dari peperangan, di mana sajian utama medan pertempuran adalah jiwa-jiwa manusia yang lezat.

Aku memberikan persetujuan, meski tugas ini cenderung menyiksa dengan puasa berkepanjangan dari hasrat pada jiwa manusia. Namun aku membutuhkan waktu untuk melepaskan diri dari segala keruwetan dunia ini. Mengasingkan diri di dunia manusia lebih mudah daripada mencari waktu dan tempat untuk merenung di Gehenna yang riuh. Saat ini, aku tak lagi peduli ke mana nasib akan membawaku, entah ke medan pertempuran, ataukah ke dalam pengasingan sempurna seperti sekarang.


Pantulan bayangan di kolam menunjukkan wajah seorang pria dengan rambut gelap yang pendek-pendek dan sedikit mencuat di bagian atas, poni yang agak panjang menggantung sampai nyaris ke dagu – menyembunyikan seraut wajah murung. Namun yang balas menatapku di sana bukanlah sepasang mata berwarna biru keabuan, tapi sepasang mata sewarna batu garnet merah.

"Kau tahu, kau tidak terlihat seperti bangsawan dengan rambut seperti itu," ucap sebuah suara.

Suara kepakan sayap. Aku melihat kelebatan sayap hitam besar, seperti sepasang sayap kelelawar, dengan berkas keperakan yang membuat seolah sayap itu memerangkap cahaya. Sosok Grand Duke Eligor yang elegan menghampiri dengan senyum yang akan membuat matahari menyimpan dengki.

"Aku ingin sekali bilang begitu sejak pertemuan terakhir kita beberapa abad lalu di Inggris. Meski aku tidak ingin ikut campur soal alasan mengapa kau memotong rambut panjangmu – dan aku berani bertaruh kau langsung memotongnya dengan pedang begitu saja tanpa berpikir untuk merapikannya lagi. Kurasa lebih baik kau menutupinya dengan wig seperti kebanyakan orang yang berkeliaran di istana."

"Dan membiarkan kutu merayapi kepalaku? Tidak mau," timpalku.

Eligor menghampiri rimbunan tanaman mawar putih, membelainya, dan bergerak perlahan sambil mengamati – dengan cara nyaris sama persis seperti Kaisar Franz, yang menggagas pembangunan Taman Belanda di istana ini. "Jadi, sampai kapan kau akan merajuk seperti seorang bocah remaja? Kau bukan bocah remaja," ucapnya santai, tanpa menoleh padaku sama sekali.

"Aku tidak sedang merajuk," sergahku. Merajuk adalah sebuah istilah yang sangat tidak tepat, terutama saat dia membandingkanku dengan remaja labil.

"Omong kosong!" dengus Eligor. Dia berbalik, jubah beledunya berdesir anggun saat pemakainya berputar, memandangku sambil bersedekap, "Lantas apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau mau jadi seorang pertapa?"

"Aku sedang menjaga istana ini, barangkali pasukan Ottoman bergabung dalam peperangan menyerbu Vienna lagi. Atau barangkali Prussia ingin melanjutkan pertempuran Kolin di sini," kataku asal-asalan, nyaris tanpa minat.

Eligor tertawa terpingkal-pingkal. Tubuhnya bergetar selagi ia tergelak sampai terbungkuk-bungkuk. Dia tertawa cukup lama, sampai membuatku mengira ia bakal mati tersedak tawanya sendiri, seandainya demon memang bisa mati semudah itu.

Saat tawanya sudah berhenti, Eligor berbicara sembari berkacak pinggang, barangkali tertawa cukup lama membuat perutnya kram. "Orang bilang kau adalah salah satu dewa perang. Kita berdua menanggung predikat yang sama. Lantas apa yang dilakukan seorang dewa perang di sebuah pondok berburu seperti ini? Jasad Leopold I sudah lama menyusut, aku yakin hal yang sama juga terjadi pada dua penguasa setelahnya, dan kau masih di sini, bermain-main jadi salah satu kerabat kerajaan. Bagaimana mereka memanggilmu di sini? Ingatkan aku lagi soal namamu sekarang. Kepura-puraan yang mengharuskanmu sesekali sibuk menghapus ingatan beberapa orang, dan membuat ingatan baru soal keberadaanmu di sini demi agar membuat mereka percaya kau adalah manusia. Sementara medan peperangan nun jauh di sana."

Aku menatap tajam pada Eligor sambil memberengut. "Tempat ini bukan lagi pondok berburu. Dan aku masih menggunakan nama asliku."

"Oh, jadi mereka mempertaruhkan identitas aslimu juga?" Sepasang permata garnet lain bergerak dalam lirikan penuh arti, sekilas tampak tertarik, tapi hal seperti ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Aku bukan satu-satunya demon yang pernah terikat kontrak tanpa memakai nama alias – bagi sebagian besar demon, ini dianggap sebagai tindakan yang sembrono. Nama adalah sesuatu yang berharga.

Eligor mengibaskan tangannya dengan sikap bosan. "Terserah. Saat kau tetap berada di sini selama dua atau tiga masa pemerintahan lagi, kau mungkin bisa dapat predikat sebagai penunggu famose parco di Scheenbrunn. Setidaknya gelar itu terdengar jauh lebih bergengsi daripada jin penunggu botol. Kalau ada seorang pencatat yang baru, pastikan dia mencatat pencapaian terbarumu sebagai demon di sini."

Kebenaran dalam kata-kata Eligor terasa seperti tusukan sebilah pisau yang membeku. Tetapi aku takkan pernah bisa mengatakan alasan keberadaanku di sini, semua kontradiksi yang merundung selama berabad-abad, dan keinginan untuk menjauh dari apapun yang membuatku semakin kehilangan arah.

Karena tak ada tanggapan apapun dariku, Eligor menghela napas panjang seolah kehidupan sebagai demon membuatnya lelah – tapi aku sangat tahu selama ini keabadian tidak membuatnya lelah, hanya sesekali bosan. "Baiklah kalau itu maumu. Tapi kau tidak mungkin selamanya jadi pertapa. Flauros mengirimkan salamnya untukmu. Kau tidak mungkin terus-terusan menitipkan peliharaanmu padanya. Lagipula, jangan lupa, berada dalam ikatan kontrak membuat wujud materialmu terikat di bumi, kau akan lebih rentan pada serangan para reaper."

"Tolong sampaikan permintaan maafku pada Flauros. Aku tidak bisa membawa Ragnel."

"Karena kau sibuk mengelus setiap kucing yang kau temui dalam perjalanan?" Eligor memutar matanya. Ekspresi bosan itu lagi, dan aku ingin sekali memukulnya untuk membuat raut menyebalkan itu terhapus. "Katakan itu sendiri pada Flauros saat kau pulang, aku ini bukan burung hantu pengirim pesan yang selalu senggang saat pulang ke sarang. Puaskan keinginanmu mengelus kucing selama berada di antara manusia, setidaknya saat itu kau tidak menunjukkan raut wajah murung seperti seseorang yang sudah bosan hidup."

"Aku tidak selalu seperti itu!" protesku.

"Maksudmu raut wajah bengis yang kau tunjukkan saat berhadapan dengan para pemanggil? Atau ekspresi menggoda yang kaugunakan untuk merayu? Ayolah, kita semua begitu. Cobalah sesekali memasang wajah yang ramah, tersenyumlah."

"Beramah-tamah dan sering tersenyum tidak disebut dalam kontrakku, jadi buat apa? Aku tidak berada di sini untuk bekerja sebagai seorang pelayan," tukasku.

"Terserah padamu mau menerima saranku atau tidak. Pokoknya, berhati-hatilah. Kau takkan mau tertusuk sabit reaper saat darahmu punya warna yang sama dengan manusia, Rasanya berkali lipat lebih mengerikan daripada saat kau menghadapinya tanpa ikatan rantai kontrak." Eligor menunjuk pada tangan kiriku. Meski tanda perjanjianku dengan Leopold I terlindung di balik sarung tangan, secara naluriah tangan kananku meraihnya, seolah jari Eligor mengancam untuk menembakkan panah. "Aku serius dengan apapun yang kukatakan tadi."

Setelah mengatakan itu, dia bersiul memanggil kudanya. Sekejap saja yang dipanggil datang, seekor kuda jantan hitam dengan sayap yang kuat, kuda yang diambil Eligor dari taman Elysium. Sekilas kuda itu tampak sama persis seperti pegasus yang ditunggangi oleh Perseus, namun milik Eligor memiliki sesuatu berbeda, ada lidah api yang membara di keempat kakinya.

Eligor menaiki kudanya, dan sekejap saja menghilang, secepat kuda itu muncul. Sementara aku masih menatap tempatnya berdiri dengan tatapan maut, meski sekarang tak ada siapapun di sana kecuali rimbunan dekorasi tanaman boxwood dan semak-semak mawar putih.

Bunyi suara langkah kaki membuatku menoleh dengan waspada. Alih-alih Eligor yang muncul lagi untuk melanjutkan omelannya, yang muncul dari ujung rumah kaca adalah Catia Hofer, putri salah satu tukang kebun di sini, sekaligus salah satu pelayan yang bertugas di dapur.

"Fräulein Hofer?"

Gadis itu menunduk dengan canggung. "Saya tadi mendengar seseorang berbicara."

"Kau mendengar seseorang bicara dalam bahasa Inggris dan bahasa lain," sahutku dalam bahasa Jerman. Lalu melanjutkan dengan bahasa Inggris dengan sengaja menyisipkan nada yang mengintimidasi, "Apa saja yang kau dengar?"

"Tidak banyak," Catia mencicit dan mengkerut ketakutan. "Saya hanya mendengar sesuatu tentang peliharaan Anda. Saya tidak bisa bahasa lain selain apa yang diajarkan ibu dan ayah saya, Sire."

Aku sedikit lega Eligor tadi lebih banyak bicara dalam bahasa Aramaik, sebagai antisipasi kalau ada orang lain yang mendengar. Bahasa Inggris adalah sesuatu yang cukup sensitif untuk digunakan belakangan ini, terkait karena posisi kekaisaran ini yang berseberangan dengan koalisi Inggris. Di sisi lain, Catia Hofer bukanlah seorang pengadu atau tukang gosip di kalangan pengurus rumah tangga kerajaan. Seandainya dia mengadu pun, takkan ada pengaruhnya bagiku, tuan rumah tempat ini sudah tahu siapa aku sebenarnya. Tidak ada salahnya menghindari kehebohan yang tidak diperlukan.

Sejenak, ada sedikit dorongan untuk mengatakan pada gadis itu soal ucapan Eligor, mengapa ada yang mengatakan bahasa asing tersebut di masa sekarang, sesuatu yang terkait dengan identitasku. Tapi aku lebih suka tidak menodai kepolosan gadis itu dengan hal-hal kelam yang takkan dipahaminya.

"Maafkan kelancangan saya." Catia Hofer menunduk dan mencengkeram celemeknya.

"Tidak apa-apa." Aku mengangguk. Lalu bersandar santai pada birai kolam teratai dengan dekorasi air mancur di bagian tengah. Saat Catia Hofer sudah terlihat lebih tenang, tidak lagi menunduk dengan bahu yang kaku, aku melanjutkan, "Percakapan tadi, antara aku dan seorang kenalan yang datang kemari untuk menyapa, tidak ada kaitan apapun dengan peperangan antara koalisi Perancis dan Inggris."

Aku mengetahui sesuatu tentang gadis ini. Catia Hofer tidak sepolos yang terlihat. Dia punya rahasia-rahasia yang akan membuat orang lain meragukannya. Bukan berarti dia jahat – baik dan jahat tidak pernah bisa dinilai dengan mudah, dunia tidak terbagi atas hitam dan putih, selalu ada yang berada di antaranya – Catia Hofer hanya menyentuhkan ujung kakinya ke sisi yang tidak diterangi cahaya, demi sesuatu yang disebut umat manusia sebagai cinta. Meski demikian, sebagian besar dari dirinya tetaplah cemerlang.

"Untuk seorang yang katanya tumbuh besar di negeri seberang, kau sama sekali tidak memiliki aksen dari tempat asal ibumu. Dan kau tidak seperti tikus-tikus pengadu yang mencari remah-remah informasi untuk menjilat. Jaga baik-baik dirimu, Fräulein Lilly Hofer."

Catia Hofer mengangkat mukanya, menatapku dengan ngeri saat nama itu disebut.

"Aku yakin itu namamu yang sebenarnya, kan."

"Sire, saya – "

"Aku juga bukan tikus pengadu," aku menyela. "Kau punya alasan sendiri untuk mempertahankan pekerjaan ini, demi agar dapur di rumah keluargamu tetap mengepul. Dan aku yakin kau menerima pelajaran terbaik dari seorang ahli di bidangnya, sebagai mantan pelayan salah satu keluarga bangsawan terkemuka di Austria. Catia Hofer memiliki reputasi yang cukup baik, itu yang kudengar, setidaknya sebelum satu skandal terjadi."

Gadis itu menatapku waspada. Kuharap ia tidak berpikir aku menguntitnya, hanya karena alasan sepele di awal pertemuan kami musim panas tahun lalu.

Saat itu pagi hari setelah sebuah pesta yang meriah. Aku terbangun karena bunyi porselen pecah, di kamar tidur salah satu wanita bangsawan yang jadi dayang sang Kaisarina. Tanpa susah payah memungut tunik dan mengenakannya, kukejar si pembuat keributan kecil itu, sementara dayang cantik sang Kaisarina masih terlelap di atas tempat tidur.

Kutemukan pelayan yang menjatuhkan cangkir tadi di koridor di depan pintu kamar. Tidak ada siapapun di sana. Gadis itu tengah mengatur napas sembari menutup mukanya dengan kedua tangan. Kutepuk pelan pundaknya. Gadis itu berjengit dan perlahan menurunkan tangan.

Di balik tangan itu, ada seraut wajah manis yang merona. Bisa dikatakan dia cukup muda untuk bereaksi terkejut saat mendapati seorang wanita dan pria tanpa busana di satu ranjang. Itu pemandangan yang tidak terduga akan disaksikan mata polosnya di hari pertama menerima pekerjaan – yang belakangan kuketahui dia mengambil pekerjaan ini atas nama kerabatnya.

Demi untuk menenangkannya, aku mengulas senyum dan menyapa. Namun karena situasinya sangat tidak tepat – saat itu aku bertelanjang dada di koridor, di depan seorang gadis, tanggapan yang kudapatkan adalah sebuah tamparan. Lalu kuhabiskan beberapa menit selanjutnya untuk membuat si gadis berhenti menangis ketakutan karena menyesal telah melayangkan tamparan pada seorang bangsawan – setidaknya itulah yang dipikirkan pelayan baru itu.

Dayang sang Kaisarina yang sudah terbangun, buru-buru memakai chemise-nya yang semalam dicampakkan begitu saja di karpet,ikut sibuk menenangkan si gadis pelayan dan memintanya bersumpah untuk melupakan apa yang dilihatnya tadi. Pelayan itu memang tidak mengatakan apapun soal apa yang dilihatnya. Dia pandai menyimpan rahasia, atau barangkali kami hanya beruntung karena Countess von Fuchs-Mollard, governess sang Kaisarina, tidak mengendus kabar itu karena sudah wafat lebih dari tiga tahun lalu. Tapi aku yakin gadis itu tidak akan bisa melupakan pemandangan yang dilihat di pagi itu.

Gadis pelayan tersebut masih tetap naïf dan pemalu, yang memaksakan diri untuk tetap terlihat tenang saat berhadapan dengan orang lain, menyimpan sendiri keceriaannya untuk disaksikan kesunyian. Namun secercah keberanian yang tidak terlalu tampak pada awalnya, perlahan mulai tumbuh dipupuk oleh tekadnya yang kuat.

"Bagaimana Anda tahu?" tanya Catia.

"Bagaimana aku tahu kalau kau menerima pekerjaan ini atas nama kerabatmu?" sahutku santai. Gadis itu masih menatapku dengan waswas. "Anggaplah takdir yang membuatku tahu. Kebetulan saja saat itu aku berjalan-jalan di kota, dan melihatmu masuk ke salah satu rumah. Ada seorang wanita muda lain di sana, kira-kira sebayamu, dengan warna rambut gelap yang sama denganmu, dia menggendong bayi."

Catia terkesiap, menunjukkan seraut wajah orang yang merasa dikhianati – terkhianati takdir. Butuh beberapa saat baginya untuk menggenggam keteguhannya lagi.

Namun aku tidak berhenti sampai di situ. Gadis itu bisa saja menyangkalnya demi untuk mempertahankan kerahasiaan dengan upaya yang sia-sia. "Aku punya pendengaran yang cukup baik, dan kau tahu apa yang kudengar dari bibir wanita muda itu? Sebuah senandung dari negeri yang jauh, salah satu syair tentang ratapan seorang gadis. Dia menyanyikannya dengan nada yang sempurna."

Catia mematung. Aku hampir saja mengira dia mati karena terguncang atau betul-betul membatu seperti baru saja diserang Medusa. Tapi bahunya yang naik turun seiring napasnya sudah cukup membuktikan kalau dia takkan berubah kelabu dan mengeras seperti dekorasi makam.

"'Datanglah wahai gadis-gadis cantik, yang berhias keindahan di masa terbaikmu. Jaga baik-baik kebunmu. Jangan biarkan seorang pria pun mencuri tanaman thyme milikmu. Jangan biarkan seorang pria pun mencuri tanaman thyme milikmu.''" Aku menyenandungkan syair itu dalam bahasa aslinya, membuat Catia kembali memandangku dengan tatapan ngeri. "Sebuah lagu yang memiliki banyak nasihat baik. Mungkin juga lagu itu ungkapan penyesalan kerabatmu. Tenang saja tak ada seorang pun selain kita di Taman Belanda ini yang mendengar lagu itu."

Untuk sesaat, aku mengira bakal mendapat tamparan kedua darinya. Sepertinya aku cukup layak menerima perlakuan itu. Tapi tidak. Alih-alih sebuah tamparan, setetes air mata yang malah jatuh di pipinya. Reaksi yang jauh lebih buruk. Tidak ada sanggahan apapun, hanya isakan, seolah aku baru saja menyiksanya – dan memang demikianlah adanya. Hal apa yang bisa diharapkannya dari seorang demon selain kata-kata beracun, mereka bilang aku adalah seorang iblis, seolah aku adalah entitas yang sama sekali tidak punya hati dan mengisi millennium-millenium panjang kehidupanku dengan kejahatan semata.

Catia masih terisak. Melihatnya mengusap tangis, membuat hatiku mencelos. Sikapku sudah keterlaluan. Barangkali ucapan Eligor masih mempengaruhiku, karena dia tidak ingin aku mengabaikan gelar dan reputasi selagi perang masih berkecamuk di mana-mana. Bagi Eligor, mengatur strategi di balik layar saja tidak cukup, semua takkan berarti kalau tidak hadir secara fisik di medan pertempuran, meskipun demon seperti kami hanya mengawasi saja.

Aku menghampiri Catia, cukup dekat untuk mengusapkan jariku yang berlapis sarung tangan di pipinya yang basah.

"Tuanku – " Kedua bola mata berwarna batu ambar menengadah membalas tatapanku.

"Maaf," ucapku nyaris canggung, sesuatu yang juga tidak biasa dari kepribadianku. Seraut keindahan yang rapuh, serapuh kehidupan kaum manusia, kubingkai dengan kedua tangan. "Maafkan aku."

Dalam saat yang singkat itu, kulepaskan segalanya dan menyerah pada ketertarikan. Setidaknya dalam pengasingan ini, aku tidak akan peduli soal gelar atau predikat yang terikat pada rantai asal usulku. Maka biarlah jati diri itu kulupakan sejenak.