Altschmerz
Disclaimer:
-Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.
- Eligor dan Flauros adalah demon yang namanya disebut dalam Lemegeton dan Pseudomonarchia Daemonum.
Ada sebuah pelesiran terkenal di kota. Orang-orang menyebut tempat itu sebagai Taman Eden. Entah sebutan itu adalah ungkapan untuk mengatakan bahwa tempat tersebut dihuni oleh para wanita cantik, yang siap menghibur untuk mengurangi penat setelah seharian sibuk dengan urusan kehidupan, ataukah sekadar sarkasme belaka – apapun itu, maknanya akan berbeda tergantung mata mana yang melihat dan pikiran mana yang menilai.
Tempat itu memang dihuni wanita cantik, dan bukan sembarang penghibur pula. Semua orang di kota tahu tempat mana saja yang jadi taman bermain para bangsawan yang bosan saat malam menjelang. Tempat itu ibarat harem para penguasa di Timur, hanya saja harem kerajaan terkesan jauh lebih bergengsi, tidak peduli semewah apapun pelesiran yang jadi pembandingnya itu.
Bagiku, sebutan indah bagi tempat itu adalah sebuah sarkasme, karena begitulah kesan yang kutangkap. Begitu dangkalnya pemikiran dan imajinasi manusia tentang tempat yang merupakan kebalikan dari Gehenna dalam segala hal, seolah hiburan badaniah itulah yang terpenting dan paling mereka dambakan dalam kehidupan. Sungguh ironis.
Ada seorang teman yang tinggal dalam pelesiran itu – dia seorang pramuria, tentu saja. Dengan segala macam kelebihan para wanita di sana dibandingkan dengan pelesiran lain, Corrina adalah yang paling kusukai. Dia seorang wanita yang cerdas.
Dalam kunjungan kali itu, aku membawakan serta untuknya seekor anak kucing yang kutemukan di sebuah gang. Anak kucing kumal itu seorang diri meraung-raung memanggil pertolongan dari siapapun.
"Jadi apa maksudmu membawa anak kucing itu kemari?" Corrina bertanya, nada menggoda dalam suaranya sudah hilang. Padaku, di sisa waktu kami menghabiskan malam, dia selalu jadi dirinya sendiri, dan bukan seorang penghibur.
"Untuk menemanimu di sini," jawabku sembari memeluknya dengan sebelah tangan selagi Corrina berbaring dan menempelkan pipinya di dadaku.
"Bohong," Corrina tertawa kecil.
"Hanya separuh bohong," sahutku.
"Lantas sisanya?"
"Aku tak bisa membawanya pulang. Itu bukan tempatku. Kalau dia ada bersamamu, mungkin bisa tumbuh dewasa dengan lebih baik."
Corrina bangkit dari ranjang, memungut chemise dan mengenakannya kembali. Setelah pakaian itu menutupi tubuhnya, dia meraih mangkuk berisi anggur yang ada di meja, membawanya ke tempat tidur lagi, dan menikmatinya sambil bersandar di ranjang.
"Kau sudah lama berada di sana. Bagaimana mungkin itu bukan tempatmu?"
Pada wanita ini, aku tidak menutupi apapun, bahkan pentagram di tanganku pun tidak. Dia tahu dengan siapa dirinya sesekali menghabiskan malam, dan bersedia menjaga rahasia itu. Selain karena cerdas, barangkali kehidupan yang keras telah membuatnya memiliki cara berpikir berbeda dari kebanyakan orang, Corrina memiliki kemampuan sangat baik untuk memahami orang lain – siapapun orang itu – dengan hati lapang dan pikiran terbuka.
"Sudah hampir lima belas tahun kau berada di tempat ini. Itu cukup lama untuk ukuran waktu manusia. Apa kau pernah merasa kalau di sini adalah rumahmu?" aku balik bertanya.
Corrina mengedikkan bahu. "Tidak," jawabnya, merenung, dan memainkan sebutir anggur dengan jemarinya yang lentik. "Jadi apa kau berencana pulang kembali ke tempat asalmu? Bukankah orang yang mempekerjakanmu sudah tidak ada."
"Sayangnya tidak bisa semudah itu. Pada keturunannya lah aku terikat. Selama keluarga Habsburg masih berada di tampuk kepemimpinan, aku tidak bisa pergi."
"Tak peduli betapapun sang Ratu menyimpan kebenciannya padamu?" timpal Corrina. Dia memasukkan sebutir anggur yang dimainkannya tadi ke mulut, lalu bergumam. "Terkadang aku berpikir kalau kau agak suka menyiksa diri. Terus-terusan meletakkan kesetiaanmu pada seseorang yang membencimu itu adalah sesuatu yang melelahkan, dan membikin jengkel."
Aku tertawa. "Dia tidak membenciku. Dia hanya tidak suka berada dekat denganku. Tapi dia memahami, kalau dia membutuhkan saranku untuk tetap berada di puncak dan mempertahankan warisan keluarganya." Sejenak pandanganku terarah pada kucing kecil berbulu kelabu, tertidur nyenyak di dalam sebuah keranjang yang disiapkan Corrina, sementara benakku mengembara pada saat Leopold I menyegel perjanjian kami dengan darah. "Dia sedikit berbeda dengan kakeknya."
"Kalau kelak Sang Ratu digantikan oleh salah satu anak-anaknya, bukankah itu berarti tugasmu di sini sudah selesai? Ini adalah masa terakhirmu di Austria. Setelah tugasmu selesai, kau akan pergi ke mana?"
Kurenungkan kata-kata Corrina. Jawaban dari pertanyaan itu mudah saja, aku selalu punya tempat untuk pulang. Bahkan meski aku belum pernah merasa benar-benar memiliki rumah.
"Benarkah para demon memiliki tempat tinggal di neraka? Kupikir kau takkan cocok di sana, karena kau cukup baik," kata Corrina setengah melamun.
Aku terkekeh. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar pendapat seperti itu. Tetap saja terdengar lucu. Lagipula, aku tidak pernah menganggap diriku baik. Aku memiliki banyak hal, tapi predikat baik tidak pernah jadi salah satunya.
Sejujurnya, aku seringkali bingung soal perbedaan baik dan buruk. Selama ribuan tahun, standar baik dan buruk tidak pernah jelas, terutama di mata manusia – itulah yang kutahu selama mengamati perilaku mereka. Begitu banyak manusia yang membenarkan sebuah tindakan buruk demi kebencian, demi sebuah cinta yang buta, atau kurangnya pemahaman pada sesuatu; asalkan tindakan itu disepakati banyak orang, yang buruk pun bisa menjadi sesuatu yang wajar – atau malah dengan picik dinilai sebagai suatu yang baik. Sedangkan suatu kebenaran, tidak peduli seberapa jujur dan benar, kalau memang dianggap tidak menguntungkan dan ditentang banyak orang, maka akan dinilai sebagai sesuatu yang buruk.
"Kami memiliki tempat, sebuah tempat yang disebut Pandemonium. Tempat itu terletak di antara dimensi manusia, tapi tidak terlihat bagi mata manusia biasa. Hanya beberapa orang yang diberkati mampu melihat menembus selubung kabut. Sedangkan untuk Gehenna, itu sesuatu yang lain bagi sebagian dari kami." Aku menerawang pola dekorasi pada kanopi tempat tidur, mengamati setiap lekuk ukiran di tiang ranjang, dan bagaimana berkas cahaya lilin mengintip di antara tirai, seolah aku membaca teks untuk menjawab pertanyaan Corrina dari sana. "Tempat itu seperti Istana Hofburg."
Kini Corrina yang meledak dalam tawa. "Oh, tuanku, apakah itu sebuah lelucon? Neraka tidak mungkin seperti Istana Hofburg."
"Banyak hal ada di sana, tapi dalam artian yang tidak menyenangkan. Kau pernah membaca karya Dante Alighieri? Judulnya Divina Commedia."
Corrina menggeleng di tengah tawanya yang masih berlanjut.
"Aku tahu para wanita di tempat ini bisa membaca, berbeda dengan pelesiran lain di kota," kataku. "Ini barangkali tidak ada kaitannya dengan karya Dante. Kubilang tempat itu kira-kira seperti Istana Hofburg. Barangkali juga seperti Istana Fontainebleau di Perancis, atau Hampton Court di Inggris. Intinya adalah tempat itu dikelola oleh para pemegang kekuasaan, yang memastikan tempat itu berjalan dengan semestinya." Tawa Corrina terhenti, dan kini dia menyimak penjelasanku dengan serius. "Tempat di mana semua orang menggodok rencana busuk dan bermain dengan intrik-intrik keji dibalik senyuman formal."
Corrina mengangguk-angguk, meletakkan mangkuk anggurnya di atas laci di sisi ranjang – mungkin mendadak kehilangan selera. "Politik. Pembicaraan yang sangat membosankan. Kau tahu, aku pernah jadi gundik salah satu bangsawan dan dia mendongengiku semalaman dengan omong kosong itu."
"Kau benar, politik memang seperti omong kosong. Seperti rum atau brandy yang akan membuatmu bertingkah gila tanpa kendali diri saat kebanyakan minum," sahutku.
Dalam hal itu, manusia dan demon bisa menyepakati perilaku yang sama, meski biasanya kedua pihak saling berseberangan; sama kontrasnya dengan perbedaan antara demon dan reaper. Namun politik bisa membuat yang paling berbeda sekalipun bisa menyetujui hal yang sama; ambisi. Dan di saat yang lain, politik juga mampu memperuncing perbedaan, mengacaukan persatuan macam apapun dengan lebih hebat dan lebih menghancurkan dari apapun, semua demi satu hal; kepentingan. Dua sisi dalam satu koin.
"Seni dalam memegang kekuasaan dibutuhkan di manapun. Semua membutuhkan keteraturan. Seluruh dunia berjalan dengan keteraturan tertentu – bahkan meski yang kau lihat adalah kekacauan," sambungku. Corrina masih menyimak dan diam. Bahkan meski yang dibicarakan bukan sesuatu yang disukainya, dia masih berusaha untuk mengerti. "Gehenna pun membutuhkan keteraturan. Politik adalah banyak hal, dan seperti sebuah koin yang memiliki dua sisi sekaligus. Saat kau menggunakannya dengan niat baik, maka baiklah hal itu. Tapi saat kau menggunakannya dengan niat yang buruk, bahkan meski niat itu hanya sebesar otak kupu-kupu, maka rusaklah segala yang kau lakukan."
Corrina meraih sebuah sisir di laci dekat ranjang, dan mulai berkutat mengurai keruwetan ikal-ikal rambutnya. Aku bangun dari posisiku berbaring, mengambil sisir itu dari tangannya dan menggantikan pekerjaannya menyisir. Kulakukan itu sekedar untuk mengalihkan pikiran yang sama kacaunya seperti rambut yang dibiarkan tidak disisir.
"Kau juga terlibat dalam politik di tempat asalmu?"
"Tidak. Kesibukanku lebih banyak ada di duniamu, menjawab panggilan orang-orang yang mengejar ambisi."
Aku tidak ingin membicarakan itu. Sementara rasa muak mulai mencengkeram perut. Seburuk-buruknya perilaku manusia, dan meski begitu banyak di antara mereka yang memiliki tingkat kebodohan menakjubkan – dan tetap begitu angkuh, bahkan meski itu juga mengakibatkan sejumlah kerusakan di bumi – tempat yang mereka tinggali ini tetaplah sebuah suaka bagi entitas sepertiku. Barangkali karena jumlah manusia lebih sedikit dibanding demon, jadi dimensi ini terasa lebih lapang dan cukup menenangkan.
"Mengapa kau mendadak jadi penasaran sekali dengan tempat asalku? Tidak ada hal menarik yang bisa diceritakan. Apa tadi kau baru saja melakukan pengakuan dosa karena sering tidur dengan seorang demon? Tenang saja, aku tidak pernah memaksudkanmu punya anak cambion dariku."
"Bukan itu. Kupikir kau gusar sekali malam ini." Corrina memutar tubuhnya ke belakang.
Kutahan bahunya. "Aku tidak gusar," sergahku sambil terus menyisir rambutnya. "Menghadaplah ke depan lagi."
Corrina tertawa kecil. "Berdusta bukan salah satu keahlianmu, meski kau bisa merayu dengan baik. Kau mungkin bisa menutupinya dengan kata-kata, hanya untuk menyembunyikan kebenaran di balik selubung tipis yang menyamarkannya, membuat orang lain teralihkan, sementara kau tersenyum lega karena tidak perlu susah payah berbohong untuk menyembunyikan sesuatu. Tapi mata adalah sebuah buku yang terbuka bagi siapapun yang bisa membaca. Ah, aku benar. Tanganmu bergerak lebih lambat sekarang. Ada masalah apa?"
"Tidak ada apapun," jawabku, tetap ngotot menampik kemenangan Corrina dalam interogasinya.
"Bagaimana kabar pelayan yang pernah menamparmu? Biasanya kau suka menceritakan apa yang sedang dikerjakannya. Kau bilang dia pandai memasak makanan manis."
Topik yang sensitif pun akhirnya dia singgung. Sebetulnya bukan hal yang mengejutkan. Corrina memang cukup sering menanyaiku soal si gadis pelayan, kira-kira sejak aku menceritakan soal tamparannya di koridor. Tapi aku tidak ingin membicarakannya sekarang, apalagi setelah apa yang kuperbuat tadi siang.
"Aku sudah selesai menyisir. Kau mau aku mengepangnya sekalian?" kataku sambil mencondongkan tubuh untuk meletakkan sisir di atas meja.
"Jangan mengalihkan perhatian. Katakan padaku apa yang terjadi," sahut Corrina, berbalik menghadapku. Sorot dari kedua matanya yang lebar saat ini membuatku tak ingin menatapnya langsung, sangat tidak nyaman.
Aku mengerang. Tidak ingin mengungkit kejadian tadi siang di Taman Belanda. Ada banyak hal yang berjubel di otakku, membelit satu sama lain seperti segumpal besar benang kusut. Corrina menarik-narik salah satu ujung benang yang kusut, proses yang tidak menyenangkan, menariknya semampu yang bisa dilakukan tangannya yang halus, dan saat upayanya mengalami jalan buntu, dia akan beralih ke ujung benang lain.
"Katakan padaku," desak Corrina. "Agar setidaknya saat kau keluar dari kamar ini, kegusaranmu sedikit berkurang. Saat kau mengatakan pikiran apa yang mengganggumu pada orang lain, itu bisa sedikit mengurangi rasa yang menyesakkan di dalam situ." Jarinya yang lentik menunjuk dadaku. "Katakan padaku. Atau kau katakan padanya soal perasaanmu, karena caramu melihatnya itu bukanlah sesuatu yang biasa saja."
Aku kembali berbaring, menghindari kejaran interogasi Corrina, memandang pola-pola ukiran lagi, mencoba mencari ketenangan di antara keteduhan kelambu yang memblokir sebagian cahaya dari kandil dan perapian. Corrina yang takut gelap, selalu membiarkan kamarnya tidak dalam keadaan gelap sepanjang malam. Bahkan keteduhan di balik tirai ranjangnya pun masih cukup terang untuk digunakan membaca buku, dan tirai itu hanya dekorasi semata yang tak pernah dia biarkan membuat ranjangnya berada dalam kegelapan pekat. Cara dia menyukai cahaya, barangkali mempengaruhi kecenderungannya untuk memastikan segalanya tidak berada dalam keremangan, meski kehidupan yang dijalaninya tidak bisa dikatakan terang.
"Kau tahu aku tidak bisa mengatakan hal seperti itu. Apa yang kurasakan padanya mungkin berbeda dengan apa yang kaupikirkan. Apa yang ada padanya memiliki banyak daya tarik, seringkali seperti itu saat kau menemukan seseorang yang sama sekali berbeda denganmu."
Perbedaan soal apa yang dimiliki dan tidak dimiliki memang menarik, malah seringkali memukau. Seperti apa yang kulihat pada si pelayan muda; kehidupan manusia yang rapuh, kemauan yang sekeras baja, keteguhan untuk berjuang dan melakukan apapun demi yang disayanginya, juga keberanian yang murni. Dia begitu rapuh dan indah, seperti sebuah pajangan porselen, sekaligus keras dan menyilaukan, seperti sebutir kelereng yang memantulkan cahaya sang surya.
"Jadi apa kau sudah pernah menciumnya? Atau barangkali kau sudah pernah mengajaknya ke kamarmu. Tidak perlu memandangku seperti itu. Kau tahu banyak orang melakukan itu. Diantara kita, yang paling tidak perlu repot-repot bersikap sok suci adalah kau." Satu lagi ucapan Corrina yang melesat bagai anak panah, yang dia tembakkan tanpa ampun. Terkadang aku berpikir kalau wanita ini akan cukup cocok bila disandingkan dengan Eligor – setidaknya dari cara mereka berkata-kata.
"Tidak," aku mengakui.
Bagi Corrina atau bagi siapapun mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku memang tidak pernah mencium pelayan itu. Kalau menciumnya saja tidak pernah, nyaris tidak mungkin aku akan melakukan sesuatu lebih dari itu.
"Yang benar?" Corrinya menyenggol bahuku dengan sikunya, melirik dengan senyuman skeptis yang terpampang jelas.
"Tidak pernah."
Bahkan tadi siang tidak terjadi apapun. Aku memberikan saputangan padanya sebelum pergi dari Taman Belanda dengan hati dan benak yang halai balai.
Corrina membelalak tak percaya. "Satu-satunya demon yang pernah kutemui seumur hidup hanya kau. Apakah hal seperti jatuh cinta adalah wajar bagi para demon? Kukira sesuatu yang tidak biasa telah terjadi, dan kau yang terlalu lama berada di antara manusia jadi memiliki perasaan yang tidak lazim bagi kaum demon. Tapi kalau kau sama sekali tidak pernah menyentuhnya – aku sangat yakin pada masa ini setiap pria selalu menyentuh orang yang dicintainya, setidaknya sebuah ciuman yang dicuri saat tak ada siapapun yang melihat. Kau yakin perasaanmu padanya bukan karena keinginan memangsa?"
"Jadi kau mau bilang kalau demon tidak mungkin punya perasaan seperti itu karena kami entitas yang tidak punya hati?" aku menukas. Pendapat Corrina tidak membuatku terpengaruh. Itu salah satu pendapat yang cukup sering kudengar. "Kau pasti pernah berpapasan dengan demon lain, hanya saja tidak menyadarinya."
Meskipun aku tidak merasa tersinggung, Corrina menyentuh lenganku dengan lembut, meminta maaf. "Bukan maksudku begitu."
"Tidak apa-apa," jawabku lirih.
Setelah itu kami sama-sama terdiam. Barangkali Corrina masih merasa tidak enak. Sedangkan aku sibuk memilah perasaan. Menimbang-menimbang apakah aku telah salah mengerti, apakah aku telah salah menterjemahkan kekaguman itu. Apakah aku menganggap si pelayan muda sama saja dengan Julian Fichter? Mereka berdua sama-sama pemberani.
Cukup lama kami tenggelam dalam kesunyian itu. Satu lilin di tatakan logam yang diletakkan dekat jendela padam, setelah membakar dirinya hingga meleleh habis. Kupikir Corrina telah tertidur sambil duduk bersandar di ranjang.
"Kau marah padaku?" tanyanya, mengisi kekosongan suara di antara kami.
"Tidak," jawabku, masih setengah melamun. "Kau mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik. Meski salah satunya bukan pertanyaan istimewa karena sudah begitu sering kudengar."
Corrina mengangkat sebelah alisnya. "Sungguh?"
"Ya. Kami bisa merasakan perasaan seperti itu, meski perasaan itu jarang sekali muncul. Dan soal gadis itu, aku tidak menganggapnya sebagai makanan. Barangkali aku hanya mengaguminya."
Entah sejak kapan aku telah kehilangan minat untuk tidak pilih-pilih mangsa. Meski aku nyaris selalu berpesta setelah perang. Namun selalu ada perasaan lelah dan hampa yang asing setelahnya. Jiwa manusia adalah godaan yang teramat besar untuk dihindari, menyakitkan untuk ditahan, tapi perlahan aku menjauhkan diri dari candu itu. Meskipun pada dasarnya kaum kami takkan bisa melepaskan diri dari godaan tersebut.
Corrina memberikan sebuah senyum favoritku. Bukan senyuman menggoda yang selalu ditunjukkannya saat memakai topeng seorang penghibur, tapi senyuman dirinya yang sejati. Dia adalah seorang wanita yang cerdas, percaya diri, dan punya senyuman yang lembut. Ditepuknya tanganku pelan. "Syukurlah."
"Untuk apa?"
"Karena kau tidak berniat memangsanya. Dan karena kau baru saja mematahkan pendapat umum kalau para demon itu selalu jahat. Kau membuktikan kalau demon pun masih punya hati." Senyuman itu lagi. "Kau juga tetap memanggilnya Catia Hofer meski tahu itu bukan namanya."
"Hanya pendapatmu saja. Pendapatmu melawan opini sejuta manusia di luar sana, tidak mengubah pendapat apapun soal kaum demon," timpalku. Lalu senyuman Corrina berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kusukai – sebuah senyum prihatin. Aku memalingkan muka, tak ingin melihat senyum itu. "Aku punya alasan sendiri. Kupanggil dia begitu demi untuk menghargai pengabdian yang sedang dijalaninya. Terkadang kita memang harus menyandang nama lain sebagai nama kita sendiri saat menunaikan tugas tertentu. Kau pun juga begitu, kan."
"Kau benar, Tuanku."
Kuhabiskan sepanjang malam itu di kamar Corrina. Di penghujung malam, aku tertidur, ini adalah sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya aku terjaga dengan mata nyalang semalaman tanpa merasa lelah, mengisi kekosongan dengan serangkaian senandika tentang waktu dan kehidupan.
Malam itu, seperti biasanya, aku selalu bisa mendengar kegaduhan yang ada di ruangan-ruangan lain; hanya suara-suara remeh dari segerombolan manusia yang menggunakan kenikmatan sesaat yang terlarang sebagai sebuah kesenangan. Meski di sini sedikit lebih ramai bila dibandingkan dengan Schönbrunn, segala suara remeh yang seolah tidak memiliki beban apapun, meninabobokanku, mengiringi lelah karena keruwetan benakku sendiri.
Satu hal yang membuatku enggan tidur, adalah ketika memimpikan masa lalu. Aku melihat tubuh-tubuh yang hancur berserakan, seorang pemuda dengan tubuh belepotan darah, berdiri di tengah kehancuran sambil memegang sebilah pedang – pedangku. Setelah aku mengenali mata biru dan riap-riap rambut gelapnya, dia menghilang. Sedetik kemudian, aku lah yang memegang pedang itu. Tanganku yang menggenggam gagang pedang lengket oleh cairan merah pekat. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu bertambah, berkali-kali lipat lebih banyak, seluruh padang rumput itu penuh dengan mayat. Bau anyir dan bau sisa kehidupan yang membusuk berpadu jadi satu, menjadi kombinasi yang sangat memualkan.
Di tengah aroma mengerikan itu, muncul bau lain, bau sesuatu yang terbakar. Saat aku menoleh, yang kulihat adalah tiang pancang yang terbakar. Di dalam api, seorang wanita tengah menjerit kesakitan.
Saat membuka mata, hal pertama yang kudengar adalah dengung kesibukan di luar sana dan suara seorang wanita menyenandungkan lagu Maiden in the Mor Lay. Sudah pagi, atau mungkin sudah siang.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu tidur. Sebelumnya aku mengira kau sama sekali tidak membutuhkan tidur."
"Tidur adalah sebuah kemewahan, bahkan bagi entitas sepertiku. Kalau saja tidur itu selalu sedamai dan setenang yang diharapkan," gumamku parau.
Serta merta aku merasa lega karena berhasil meloloskan diri dari mimpi buruk, mereguk dengan serakah segala pemandangan di depan mataku. Sepenggal langit biru pucat dibingkai jendela, cahaya keemasan hangat yang menerobos masuk, dan seorang wanita dengan ikal panjang sewarna kayu ebony duduk di dekat jendela – mengelus kucing kecil kelabu di pangkuannya, sembari menyenandungkan sebuah lagu lama yang pernah kuajarkan.
Aku kembali ke Schönbrunn dengan enggan dan sedikit linglung karena pengaruh mimpi buruk. Ternyata belum terlalu siang, sang surya sedang di tengah perjalanan mencapai tahtanya. Perjalanan itu berlangsung dengan santai. Lagipula, jalan kota cukup ramai dengan orang yang lalu-lalang untuk berjalan-jalan dan mendapatkan sedikit kehangatan matahari yang hari ini tidak tertutup mendung.
Sebuah sambutan yang meriah menyambut kedatanganku. Steward istana tergopoh-gopoh menghampiri saat aku baru saja turun dari kuda. Wajahnya yang dihiasi keriput terlihat sama garang seperti biasa. Rambutnya yang penuh uban tidak ditutupi wig, membuatnya terlihat jauh lebih tua, dan aku heran mengapa orang-orang membiarkan pria tua itu tidak bisa menikmati masa pensiun di masa senjanya.
"My lord," dia menyapa. Seperti sebagian besar para pengurus istana, pria tua ini mahir berbicara dalam beberapa bahasa yang paling banyak digunakan oleh monarki-monarki Eropa. "Saya mencari Anda kemana-mana. Ada pesan untuk Anda, dari Hofburg."
