Paradox of War


Disclaimer:
-Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.
- Eligor dan Flauros adalah demon yang namanya disebut dalam Lemegeton dan Pseudomonarchia Daemonum.


Sang steward menyerahkan sebuah surat yang diikat dan disegel dengan stempel resmi. Aku membuka surat itu dan membacanya dengan cepat. Surat dari sang Kaisarina sendiri, yang mengharapkanku segera datang menghadap.

"Kapan surat ini diantar?" tanyaku. Barangkali saja seorang utusan datang semalam saat aku sedang tidak berada di sini.

Berbeda dengan pemegang kontrak sesungguhnya yang bisa langsung memanggil tanpa repot-repot mengirimkan surat. Keturunan Leopold I tidak memiliki hak istimewa itu, karena mereka bukanlah orang yang membuat perjanjian. Aku dan sang Kaisarina tidak memiliki ikatan seperti itu, hanya perjanjianku dengan kakeknya yang memberikan hak baginya untuk memberikan perintah, hanya sebatas itu saja.

"Tadi malam, my lord."

"Kau tidak menyerahkannya langsung padaku?"

Sang steward sama sekali tidak gentar dengan intimidasi apapun. "Saya sudah mencari Anda. Kalau Anda tidak ada di istana, saya tidak tahu di mana tepatnya Anda berada."

Aku mengusap rambut dengan frustrasi. Tidak mungkin kukatakan ke mana aku pergi. Bukan rahasia lagi kalau aku sesekali berkeliaran di kota dan mampir ke pelesiran, meskipun kehidupan gelap para bangsawan dan fakta mereka punya anak-anak tidak sah nyaris jadi hal yang umum, aku tetap tak mungkin mengatakan pelesiran mana yang kukunjungi. Mereka pernah mengutus seseorang untuk menguntitku, dan aku harus mengecohnya sampai pemuda itu kehilangan jejak. Tidak perlu repot-repot membuntuti, aku punya komitmen dan loyalitas yang lebih baik dari manusia – itu adalah estetika demon dalam sebuah kontrak.

"Baiklah. Tidak apa-apa." Kuserahkan tali kekang kudaku pada si steward.

"My lord," protesnya saat menyaksikan sayap hitamku muncul dan membentang. Dia adalah salah satu orang dari sedikit manusia yang tahu identitas asliku.

"Tidak perlu cemas. Tak ada yang melihat selain kau," kataku tak acuh, sebelum melesat ke langit, meninggalkan Schönbrunn dan omelan stewardnya.

Tidak butuh banyak waktu untuk ke istana Hofburg kalau perjalanan itu ditempuh dengan terbang. Aku harus terbang cukup tinggi agar tidak tertangkap pandangan manusia, mengandalkan awan yang mengambang seperti krim kue di udara untuk menyembunyikan sosokku. Seperti yang dikatakan Eligor, rantai dari sebuah kontrak membuat wujud materialku terikat di bumi, dan aku pun menjadi sepenuhnya kasatmata bagi manusia, baik itu dengan kehendakku atau tidak.

Aku mendarat di halaman, di antara dekorasi tanaman boxwood yang membosankan, mengamati jendela di mana ruangan sang Kaisarina berada pada jam-jam seperti ini. Jendelanya terbuka. Untuk beberapa saat aku menunggu dan menanti saat yang tepat. Aku sudah sangat terlambat, tidak ada waktu untuk melenggang melalui Schweizertor. Setelah memperkirakan sang Kaisarina sedang tidak menemui siapapun, kudekati jendela itu dan melompat ke dalamnya.

"Oh, Tuhan," pekik Maria Theresa. Dia sedang berkutat dengan setumpuk dokumen yang harus ditandatangani.

"Sayangnya bukan. Ini hanya saya, seorang demon, Yang Mulia." Aku membungkuk hormat padanya.

Sang Kaisarina mengangguk sembari mengatur ekspresinya kembali, lepas dari keterkejutan. "Masuk melalui jendela ke ruangan tempat seorang wanita berada itu bukan cara yang sopan, my lord," dia memulai omelannya.

"Begini, Yang Mulia, karena masuk dari pintu depan akan lebih bertele-tele, tidak efisien, sama seperti kekurangan dalam ikatan kita di mana Anda tidak bisa memanggil saya secara langsung. Dan di beberapa kisah, seorang pria masuk ke balkon sang wanita, itu bisa jadi sesuatu yang romantis, saya yakin Anda pasti sudah pernah menikmati beberapa karya Shakespeare."

Maria Theresa berdecak sebal. "Aku bukan orang yang tertarik pada kisah picisan. Dan sebaiknya kau jaga baik-baik lidah iblismu dan sikap lancang itu, aku masih belum lupa kau menahan jiwa kakekku yang malang di neraka. Aku takkan memaafkanmu soal itu." Ia menengadah padaku, menghujamkan tatapan penuh kebencian. Sebelum akhirnya kembali menatap lembar-lembar perkamen di mejanya. "Lagipula ke mana kau semalam? Aku memanggilmu dan kau tidak datang."

Aku tidak peduli dia memaafkanku atau tidak. Kakeknya tahu betul apa harga yang harus dibayarnya, dan aku harus menunda menerima pembayaran janjinya sampai kewajiban yang jadi bagianku terpenuhi.

"Semalam saya sedang tidak berada di Schönbrunn," jawabku.

"Pria di mana-mana sama saja." Maria Theresa mendengus jengkel.

Pendapat itu memang berhak dikatakannya, karena kebanyakan pria bangsawan pada masa ini atau masa-masa sebelumnya, di manapun, cenderung berlaku tercela sebagaimana yang dikatakan Maria Theresa. Dia sendiri merupakan korban dari kebiasaan itu. Suami tercintanya, Kaisar Franz I dari Haus Lothringen, cukup terkenal dengan petualangan cinta. Bahkan, sudah jadi rahasia umum di kalangan bangsawan kalau sang Kaisar punya hubungan dengan Countess Maria Wilhelmina von Neipperg, segera setelah pertemuan pertama mereka dua tahun lalu saat Putri dari Auersperg itu pertama kali datang ke istana. Meskipun tahun lalu sang putri sudah menikah dengan Pangeran Johann Adam Joseph von Auersperg, tetapi perselingkuhan itu masih tetap berlangsung hingga sekarang.

Maria Theresa meletakkan pena bulu, menautkan jemarinya satu sama lain, menengadah padaku lagi. "Aku senang dengan hasil pekerjaanmu pada peperangan Kolin bulan Juni lalu. Kau memberikan bantuan yang besar pada Reichsgraf von Daun." Dia hanya menyebut nama komandan perangnya. Keangkuhan masih membuatnya enggan mengakui kalau sebab utama keberadaanku di sini adalah untuk dinasti Habsburg. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk Austria."

"Anda ingin berperang lagi?"

"Bukan. Kali ini bukan tugas sulit seperti itu yang akan kuberikan padamu. Aku mendapatkan laporan tentang seorang pelayan dan seorang tukang kebun di Schönbrunn." Maria Theresa menatapku lekat-lekat, sementara perutku serasa diremas. "Yang menjadi sumber informasi bagi duta besar Prussia, dengan kata lain, mata-mata mereka."

"Saya rasa predikat mata-mata terlalu berlebihan, Yang Mulia. Mereka hanya pelayan."

"Berlebihan? Apapun akan kulakukan untuk keamanan negeri ini. Aku memerintahkan kau membereskan mereka berdua. Membunuh atau menjadikan mereka menu makan malam, itu terserah padamu."

Hatiku mencelos mendengar perintah itu. Bagaimana mungkin mereka berdua adalah mata-mata?

"Dengan hormat, Yang Mulia, Anda takkan bisa menghentikan peperangan dan mendapatkan kembali Silesia dengan menyingkirkan mereka."

Silesia telah terlepas dari tangan Dinasti Habsburg. Satu provinsi yang penting bagi Kerajaan Bohemia yang berada di bawah naungan Kekaisaran Romawi Suci. Lima belas tahun lalu, Prussia telah merebutnya dalam Perang Suksesi Austria. Atas kehilangan itu, Kaisarina sangat terpukul, dan kesedihannya pun menumbuhkan kebencian pada Frederick Yang Agung, raja dari Prussia.

"Kau tidak perlu mengajariku paradoks sebuah peperangan, Demon. Aku adalah putri dari Charles VI. Aku punya legitimasi untuk mempertahankan teritorialku, apapun caranya." Maria Theresa bangkit dari kursi, mengangkat tinggi-tinggi dagunya dan menatap tajam padaku. "Selesaikan tugasmu malam ini."

Aku membalas tatapan tajamnya. Yang benar saja, aku takkan mempan dengan intimidasi begitu. Bicara soal kekuasaan, mestinya dia ingat tentang Pragmatic Sanction yang diperjuangkan ayahnya – untuk menggantikan hak keturunan Joseph I naik tahta – dan itulah yang memicu perang suksesi tersebut. Ingin rasanya mengungkit soal kebijakan itu, mengingatkannya kalau aku ada di sana saat dekrit itu ditandatangani, betapa Charles sangat berambisi untuk memberikan warisan itu pada keturunannya sendiri, meski itu harus melangkahi hak dari keturunan kakak laki-lakinya. Namun sejenak kemudian aku menghela napas panjang, mengalah, memahami posisiku di sini. Dengan berat hati, aku membungkuk hormat pada sang kaisarina, bungkam dengan kecamuk kecemasan yang mendesak dari dalam.

Setelah itu, aku meninggalkan ruangan, dan serentetan peristiwa yang berlangsung terasa seperti sebuah mimpi; mengalir begitu saja, dan aku menanggapi semuanya seperti orang bingung yang terjebak dalam lamunan.

Alih-alih keluar lagi dari jendela yang sama, aku berjalan menyusuri koridor-koridor mewah dengan gaya baroque, hasil karya dari tujuh arsitek ternama; penuh dengan kombinasi warna putih, emas, dan merah yang elegan – sebuah upaya mengulur waktu yang dengan sia-sia kulakukan. Mata para anggota keluarga kerajaan dan para pemimpin Habsburg terdahulu mengawasi setiap langkahku dari dalam lukisan mereka yang dipajang di dinding berpanel, begitu juga puluhan figur di mural yang ada di dinding dan langit-langit istana.

Aku berpapasan dengan Kaisar Franz I, suami dari Maria Theresa. Gundik kesayangannya mengekor sang kaisar di siang bolong begini, di Leopoldinischer Trakt – sayap istana tempatnya tinggal bersama kaisarina. Aku mengangguk pada mereka berdua, sambil berharap pasangan penebar skandal itu akan lewat begitu saja. Tapi sang kaisar mengundangku dalam percakapan singkat di koridor itu, sejenak mengacuhkan Countess von Neipperg yang menyembunyikan wajah tersipunya dibalik kipas. Kaisar Franz yang memiliki minat pada botani dan zoologi, mengatakan sebuah ide tentang membuka Taman Belanda di Schönbrunn untuk umum, agar orang-orang bisa menikmati keindahan bunga-bunga di sana, juga menyaksikan koleksi satwa yang sudah dipindahkan dari Istana Neugebäude dan Belvedere – meski tentu saja definisi dibuka untuk umum dalam maksudnya adalah hanya terbatas dinikmati oleh para bangsawan yang berkunjung. Aku mengatakan padanya itu ide yang bagus, dan dengan sopan memberikan usul sebaiknya sang kaisar membicarakan lebih lanjut dengan istrinya.

Semua orang tahu gelar kaisar yang melekat padanya hanyalah gelar semata. Penguasa absolut yang sesungguhnya dari Kekaisaran Romawi Suci adalah Maria Theresa. Gelar itu melekat pada Franz Stephan demi untuk mengesahkan posisi istrinya sebagai kaisarina, karena seorang wanita dianggap tidak bisa dipilih untuk menjadi pemimpin dari Kekaisaran Romawi Suci. Sementara di sisi lain, Franz Stephan dianggap tidak memenuhi syarat sebagai seorang kaisar yang berkuasa karena tidak memiliki banyak lahan dalam kekuasaannya.

Setelah itu, dia berlalu dengan gundik mudanya yang hanya lebih tua tiga tahun dari putra yang kelak menggantikan posisinya sebagai kaisar – itu kalau Joseph terpilih sebagai kaisar berikutnya. Aku menyewa sebuah kereta kuda untuk kembali ke Schönbrunn, alih-alih terbang pulang dengan sayapku sendiri. Meskipun jaraknya tidak jauh, terbang memang akan jauh lebih cepat sampai. Tapi saat aku sampai di sana, tugas dari kaisarina harus segera dilaksanakan, itu yang membuatku enggan.

Sesampainya di Schönbrunn, aku mondar-mandir di kebun dan di dalam istana seperti orang linglung. Aku berkeliaran di labirin, palmenhaus, dan rosengarten seperti hantu gentayangan yang terjebak di kebun. Saat matahari mulai tergelincir ke barat dan langit merona oleh mega, aku kembali ke dalam istana. Steward istana mengabarkan kalau makan malam segera disiapkan, sehingga aku pun harus segera bersiap-siap berganti pakaian. Meskipun makan makanan manusia secara rutin bukanlah bagian dari kebutuhan – dan bagiku, rasanya tidak enak, berbeda sekali dengan aromanya yang cukup menggugah selera – tapi aku harus menjaga kerahasiaan identitasku dari begitu banyaknya orang di istana, menjaga agar jangan sampai ada rumor negatif yang tersebar dan berdampak pada nama baik keluarga kerajaan.

Saat perjalanan ke ruang makan, aku menabrak seorang gadis pelayan di depan Ruang Cermin – beruntung dia sedang tidak membawa apapun.

"Maafkan aku. Kau tidak apa-apa?" kataku, mendahului gadis itu. Biasanya selalu para pelayan yang meminta maaf dulu, bahkan meski yang tidak berhati-hati saat berjalan bukan mereka.

Mata gadis itu melebar, dan sekejap saja rona yang sama seperti mega di langit yang kulihat tadi sore menyebar dengan cepat di pipinya. "Saya tidak apa-apa, Tuan. Ah, maksudnya, mohon maaf atas kecerobohan saya." Si pelayan tampak bingung dengan tanggapan apa yang mestinya diberikan padaku.

Si steward yang mendadak muncul di depan ruang makan, berdeham, dan langsung membuat si gadis pelayan berjengit ngeri. Dia buru-buru membungkuk hormat padaku, dan ngeloyor pergi. Steward itu memperhatikanku selama makan malam berlangsung, seperti sebuah patung hidup yang mengintai dari sudut mata. Memang tugasnya untuk mengawasi setiap kegiatan yang berlangsung di istana, hanya saja malam ini sedikit berbeda. Barangkali ada sesuatu yang tidak benar, yang tak sengaja kulakukan selama bengong.

Biarlah. Benakku sangat sibuk. Ada pertanyaan yang harus dijawab; bagaimana menyelesaikan tugas itu dengan cara yang tidak menyakitkan? Ah, itu mudah saja bagiku. Namun pertanyaan yang paling sulit dijawab adalah, sanggupkah aku melakukannya?

Terbayang di benakku tawa sarkastis Eligor dan raut kecewa Flauros; demon yang sudah menghabisi nyawa ribuan manusia tidak mungkin gentar, tidak mungkin bimbang. Kalau saja aku tidak merasa tertarik pada gadis itu, mungkin tugas ini akan lebih mudah dilakukan. Dan seandainya saja demon adalah entitas yang berhati batu, semua akan jauh lebih mudah untuk dilakukan.

Malam menjelang semakin larut, mau tidak mau aku harus segera mengambil keputusan. Di landasan undakan biru, nyaris satu jam aku duduk, termenung memandang lukisan Maria Theresa dan Franz I, tersesat dalam benak yang porak-poranda. Memang bukan tempat yang pantas untuk duduk, itu sebabnya steward istana ini terkejut saat mendapatiku duduk di sana.

"Mr. Schmidt." aku bangkit dari tempatku duduk yang tidak bermartabat, menyapa sang steward dalam bahasa Inggris. "Panggil tukang kebun kita. Suruh dia menghadapku di mata air."

"Saya yakin beberapa tukang kebun kita belum pulang, Sire, tapi yang mana yang Anda maksud?"

Aku lupa kalau istana dengan pekarangan seluas ini punya banyak tukang kebun.

"Anda tidak apa-apa, my lord? Saya tahu kecil kemungkinan Anda akan merasa demikian. Tapi sepertinya Anda terlihat lelah."

"Aku tidak apa-apa," sergahku. Memang tidak apa-apa, aku hanya kerepotan dengan kontradiksi antara tugas dan – dengan berat hati kuakui – perasaanku sendiri. "Panggil Mr. Hofer."

"Baik, Tuanku."

Saat steward itu hendak berbalik menuruni tangga, sebelum dia berlalu, aku memberikan satu perintah lagi. "Oh ya, Mr. Schmidt, kalau beberapa hari mendatang istana ini kekurangan pegawai, rekrutlah beberapa orang yang terbaik."

Steward itu terdiam menatapku, sorot matanya menyiratkan dia tahu tentang sesuatu dan ingin menanyakan kebenarannya. "Baik, Tuanku." Sebuah jawaban singkat. Memang tidak perlu ditanyakannya, nanti dia akan tahu.

"Kurasa kau pasti tahu. Pasti ada kabar angin di antara para pelayan. Dan Kaisarina sendiri sudah memberikan perintah soal itu. Kira-kira satu jam setelah kau memanggilnya, temui aku di mata air."

Steward itu mengangguk hormat dan pergi mencari tukang kebun yang kumaksud. Bagaimanapun tugas ini harus selesai.