A Night of Betrayal


Disclaimer: Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.


Gemericik air mengalir dari vas yang dipegang patung Egeria, nymph Romawi kuno, mengisi senyap dengan irama yang menenangkan. Sebuah tiruan dari sosok nymph yang tubuhnya berubah menjadi mata air di Porta Capena, konon dia meleleh setelah menangisi wafatnya Numa Pompilius sang Raja Roma. Kebenaran dari kisah itu tidak bisa kupastikan, saat peristiwa itu terjadi beberapa abad sebelum masehi, aku tidak berada di Roma. Di sini dia duduk dengan elegan di atas tahta batu, mengawasi air dalam kendinya mengalir memenuhi jambangan besar, seolah memastikan air di jambangan itu takkan pernah habis. Obor di pintu masuk bangunan yang melingkupi mata air tertiup angin, menciptakan sebuah ilusi pada wajah Egeria. Bayangan dan cahaya yang bergerak dalam ruangan itu karena hembusan angin malam, membuat sosok Egeria seolah terbebas dari kebekuan penjara waktu yang menyekap dirinya dalam duka mendalam selama lebih dari seribu tahun.

"Tuanku, Anda memanggil saya?" Ada getaran rasa takut dalam suara itu.

Aku memutar tubuh menghadap si pemilik suara yang berdiri di dekat pintu masuk. Pria paruh baya dengan rambut ikal kelabu, yang selalu mengangguk dan mengulas senyum saat kami berpapasan di kebun, menatapku dengan mata sayu. Aku menggenggam erat pedangku, demi untuk menguatkan tekad dan mengingatkan diri kalau ini adalah tugas.

"Putrimu sudah pulang?"

Si tukang kebun menatap cemas pada pedang di tanganku. "Sudah, Tuan."

"Bagus," aku mengangguk. "Jawablah dengan jujur apa yang kutanyakan, karena bagaimanapun caranya aku pasti akan menarik keluar kejujuran itu darimu. Kau tahu apa yang membuatmu dipanggil kemari malam-malam begini?"

Tukang kebun itu terdiam. Barangkali dia sedang mengira-ngira kesalahan mana yang membawanya kemari, kesalahan kecil dengan pekerjaannya di kebun, atau sesuatu yang lain.

"Kesalahan fatal macam apa yang kau lakukan? Sebuah laporan sampai ke tangan Kaisarina. Dan beliau sangat tidak senang."

Pria itu mundur selangkah. Bahkan dalam cahaya terbatas di ruangan itu, siapapun bisa melihat perubahan raut wajahnya yang memucat. "Kalau yang Anda maksud adalah pekerjaan di Taman Belanda, saya mohon maaf – ."

Pagar besi di pintu masuk berdentang keras saat terbanting menutup. Api obor bergerak panik meski tidak ada angin kencang yang bertiup. Sulur-sulur hitam merambat di dinding dan lantai, menyelubungi patung Egeria dan membungkam gemericik air yang tadinya memberikan sedikit ketenangan. Kini bayangan nyaris menelan seluruh ruangan dalam kegelapan pekat.

Pria itu jatuh berlutut dan gemetar, sementara aku menjulang di depannya, menatapnya dalam sosok yang hanya kutunjukkan pada saat-saat tertentu di Gehenna, sesuai dengan yang digambarkan oleh beberapa penulis yang menyimpan pengetahuan kaum demon dalam lembar-lembar perkamen kusam – meski tentu saja aku hanya bisa mempertahankan wujud ini selama beberapa saat saja dalam kontrak yang mengikat wujud materialku di dimensi ini.

"Sudah kubilang aku ingin jawaban jujur. Berdusta takkan membantumu. Katakan padaku apa yang sudah kaulakukan, Johann Hofer?"

Johann Hofer menggumamkan doa dengan suara bergetar.

"Jawab aku! Pengkhianatan macam apa yang sudah kaulakukan?"

Dengan sedikit paksaan dalam interogasi singkat itu, Johann Hofer mengatakan semuanya. Tentang putrinya yang terlibat skandal dengan kerabat sang duta besar Prussia, dan melahirkan seorang putra diluar ikatan pernikahan. Kemudian demi mencari nafkah tambahan, putri dari mendiang adik laki-lakinya yang sudah lama tinggal bersama mereka bekerja sebagai pelayan dengan meminjam nama putri Johann Hofer.

Tidak sampai di situ saja, mereka harus memberikan informasi tertentu tentang apapun yang mereka dengar di istana dengan iming-iming kalau putra hasil dari skandal itu akan dijamin kecukupan hidupnya. Tukang kebun naïf ini telah membuat kesepakatan itu, demi keluarganya.

"Sungguh naïf," dengusku. Meskipun wujud nemesis itu sulit dipertahankan lebih lama lagi, Johann Hofer masih gemetar. "Janji itu takkan dipenuhi. Kalian tidak juga memahami bagaimana nilai diri kalian di mata segelintir bangsawan dan para birokrat."

"Ambillah nyawa saya, Tuan. Tapi ampunilah nyawa kedua gadisku," ratap Johann Hofer.

Permohonan yang begitu menggoda untuk dikabulkan. Yang membuat kesepakatan dengan duta besar adalah pria ini, apapun alasan yang mendorongnya, meski itu demi rasa sayangnya pada keluarga.

Itulah yang sejak awal kupikirkan. Menyelesaikan separuh dari tugas ini. Tapi aku perlu memastikan dulu siapa yang membuat kesepakatan. Sedangkan sisanya, mereka akan keluar dari Vienna, dengan cara apapun.

"Saya mohon," ratapnya.

Suara gesekan lembut pedang yang ditarik keluar dari sarungnya membungkam ratapan pria paruh baya itu. Mata sayunya yang basah menatap lekat pada pedang di tanganku. "Akan kubuat semuanya mudah bagimu. Kau tidak akan terlalu lama merasakan sakit. Sedangkan untuk kedua gadis itu," Johann Hofer menatapku penuh harap, "aku akan memastikan mereka keluar dari Vienna malam ini."

"Terima kasih, Tuan," ucapnya penuh syukur, sesuatu yang sangat tidak lazim kudengar dari seseorang yang akan mati. Biasanya, manusia yang akan mati akan berusaha keras untuk menghindari nasib itu. Tetapi yang satu ini malah berterima kasih.

"Kau punya pesan untuk mereka?"

"Tolong sampaikan permintaan maaf saya, dan katakan kalau saya sangat menyayangi mereka, juga si kecil Nicholas."

Aku mengangguk. "Berdirilah. Aku takkan memenggalmu seperti eksekusi formal, itu terlalu berantakan, dan kedua gadis itu takkan bisa menerimanya. Ucapkan doa yang kau anggap perlu."

Johann Hofer bangkit, menangkupkan kedua tangannya, sementara bibirnya menggumamkan serangkaian doa dengan mata terpejam. Walaupun suaranya bergetar, tidak banyak rasa takut yang terselip dalam doa terakhirnya. Aku menunggu hingga selesai. Saat bibirnya berhenti bergumam, saat satu helaan napas berlalu, aku mengakhiri hidupnya dengan satu tusukan fatal.

Api infernal dari pedangku membakar tubuh Johann Hofer hingga hanya menyisakan arang dan abu. Berbeda dengan saat digunakan Julian Fichter, senjata itu nyaris sebuah pedang biasa di tangannya. Hanya saat berada di tangan seorang demon, api pada bilahnya bisa berkobar.

Saat api itu padam, dalam senyap yang kemudian menjelang, aku menyadari kehadiran lain. Sekejap saja, dari onggokan arang dan abu muncul pita cahaya yang berpendar, seperti sulur-sulur tanaman rambat yang mendesak keluar dari tanah dan berusaha menggapai langit. Pita cahaya itu menerobos keluar pagar ke arah kegelapan taman, di mana seorang pria mengacungkan sabit besarnya. Pita yang berpendar keperakan itu lenyap, seolah sabit itu adalah monster pemakan ingatan.

Ini bukan kali pertama aku melihat proses reaper yang mengumpulkan ingatan seseorang yang telah meninggal.

"Tadinya kupikir kau akan memangsanya, Demon." Reaper itu menutup sebuah buku di tangan kirinya dengan dramatis, lalu menyimpannya dalam jubah hitamnya yang segelap malam itu sendiri. Rambutnya gelap dan panjang, dengan mata sewarna zamrud yang ternoda emas cair, bersinar seperti mata kucing. Dengan tampilan seperti itu, lengkap dengan sabit besarnya yang tampak mengancam, manusia manapun yang mampu melihat pastilah salah mengiranya sebagai iblis.

"Mendadak saja aku kehilangan selera," sahutku.

Kugenggam erat pedang di tangan, mengantisipasi pertempuran yang mungkin saja terjadi. Takkan kubiarkan Eligor berkomentar dan menuduhku ceroboh karena berurusan dengan seorang reaper di saat begini.

Reaper itu menatap tajam ke arahku. "Ternyata kabar tentang demon piaraan Habsburg bukanlah sekedar bualan."

Saat dia mengayunkan sabit besar itu, pagar besi ataupun tembok tebal yang mengelilingi mata air ini takkan mampu menghalangi serangannya. Aku bergeming, tak ingin memulai pertempuran – bukan karena takut, tapi semata tidak ingin membuat kacau tanpa perintah yang jelas – tapi aku akan melawannya kalau memang dia yang memulai.

Namun reaper itu pun bergeming, tampak tak ingin memulai lebih dulu.

"Sepertinya reaper negeri ini sangat tanggap dengan segala kabar yang beredar. Begitu juga dengan para wanita, mereka juga sangat tanggap pada segala berita," sahutku sembari mengulas senyum.

Ekspresi reaper itu tidak terbaca, barangkali dia sedang menimbang akan menjawab provokasi itu atau tidak.

Sesaat kemudian dia mendengus, dan memamerkan seringai bengis. "Sayangnya aku sedang terburu-buru. Lain kali, Demon." Setelah itu dia menghilang tercerap malam.

Tepat setelah keberadaan reaper itu tak bisa kurasakan lagi, seorang pria tua tergopoh-gopoh menghampiri.

"Tuan?" si steward muncul di depan pintu masuk, membuka kembali pagar besinya, dan berjengit. "Mengapa pagarnya panas? Dan di sini juga udaranya hangat. Bau hangus apa ini?" Rentetan pertanyaannya terhenti saat dia membelalak menatap onggokan benda hitam dan kelabu di lantai.

Aku menyarungkan pedang. "Mr. Schmidt, tolong bereskan kekacauan di sini. Kumpulkan arang dan abu itu, sebarkan di kebun, mungkin itu bisa membantu tanaman dan pohon di sini tumbuh."

"My lord, itu – ."

"Adalah sisa-sisa dari Johann Hofer. Lakukan yang kuminta, bagaimanapun dia tetap layak diberikan kesempatan terakhir untuk mendedikasikan dirinya pada taman-taman istana ini. Dan setelah itu, mungkin kau perlu sedikit membersihkan tempat ini."

Aku berlalu melewati steward yang masih terperangah. Memang tidak patut menyuruh pria tua sepertinya untuk membereskan kekacauan, tapi aku tidak punya pilihan lain. Di antara para pelayan, yang tahu jati diriku hanya steward itu. Setibanya di luar bangunan itu, sayap hitam mengembang keluar dari punggungku, sehitam langit malam yang kuhampiri saat sepasang sayap itu membawaku melesat tinggi.


Urusanku masih separuh selesai. Karena selama terikat kontrak aku akan selalu kasat mata bagi manusia, saat harus mendatangi sebuah rumah di tengah pemukiman kumuh yang padat di kota, aku tidak bisa muncul di depan rumah itu dengan sayap terbentang. Jadi aku mendarat di atap, menyembunyikan sayapku lagi, dan melompat turun.

Saat mengetuk pintu rumah si tukang kebun, perasaanku mulai kalut. Apa yang harus dikatakan untuk menjelaskan semuanya? Saat aku sibuk mengurutkan apa yang terjadi di dalam benak, menata kata-kata yang akan kugunakan, pintu terbuka. Seorang wanita muda dengan mata berwarna zamrud berdiri di ambang pintu, menatapku dengan raut penuh tanda tanya.

"Selamat malam, Nona," aku menyapanya sesopan mungkin.

Saat wanita itu sudah mulai membuka mulut, satu lagi penghuni rumah itu menampakkan diri. Seorang gadis yang sedikit lebih muda, dengan wajah yang mirip dengan si wanita satunya – dan warna rambut yang sama – tetapi dengan warna mata yang berbeda.

"Markgraf?" gadis itu tertegun.

Si wanita muda tampak bingung, terlebih karena gadis yang serumah dengannya menyebutku dengan sebuah gelar dari salah satu strata bangsawan, menatap bergantian padaku dan pada si gadis. Berlawanan dengan sapaan yang cukup mulus sebelumnya, aku mengangguk dengan canggung dan suaraku rasanya tersumbat sesuatu – barangkali secuil rasa bersalah mendadak berubah jadi batu.

"Ini salah satu Tuan yang ada di tempatku bekerja," ujar si gadis. "Dia orang yang baik."

Kata terakhirnya membuatku seperti baru saja tersambar petir sekaligus menelan empedu.

Serta merta si wanita muda mempersilakanku masuk. Memang bukan waktu yang tepat untuk bertamu, tapi aku kemari bukan untuk bermain sebagai seorang pria bangsawan yang melakukan pelanggaran norma dengan datang ke rumah seorang wanita lajang. Malam bergulir semakin larut, sementara mereka harus segera pergi dari Vienna, karena kalau tidak, aku tak bisa menjamin keselamatannya.

Kukatakan apa yang terjadi, begitu juga dengan kabar duka tentang ayah mereka, dan pesan terakhirnya. Mereka menangis tanpa bersuara, hanya air mata mereka yang menetes, tercekat oleh duka dan kecemasan yang mendesak. Kupikir aku akan mendapatkan satu tamparan lagi. Tapi mata yang mengingatkanku pada dedaunan musim gugur itu hanya terdiam dengan pipi yang basah, menatapku lekat, dengan sorot mata yang penuh dengan sejuta emosi. Sementara wanita muda lainnya mundur dengan defensif ke arah ruangan sebelah, pasti putra kecilnya tidur di sana.

"Aku datang untuk mengabulkan permohonan Johann Hofer. Kalian harus keluar dari Vienna, malam ini juga. Atau kalian terpaksa harus menghadapi ketajaman pedangku. Hidup atau mati. Mana yang akan kalian pilih?"

Aku tidak mengatakan perintah sesungguhnya dari Kaisarina kepada mereka berdua. Cukup menyimpannya bagi diriku sendiri saja.

Namun keduanya memilih dengan bijak. Kehidupan, sesusah apapun, masih menawarkan banyak kesempatan. Meski dengan amarah dan dendam yang bercokol dalam hati, mengijinkan pembunuh sosok ayah dalam hidup mereka untuk mengawal sampai pinggir kota.

Malam itu aku cukup beruntung mendapatkan kesepakatan dari seorang pembuat mainan yang kutemui di rumah minum di pinggir kota. Sebuah keberuntungan yang seribu-satu kudapatkan dalam situasi mendesak. Pria tua itu hendak kembali ke Schröcken saat fajar menjelang. Setelah melakukan sedikit keahlianku untuk mendapatkan kepastian kalau dia orang baik, aku meminta pertolongan padanya untuk memberikan tumpangan bagi Lilly dan Catia Hofer, serta putranya.

Aku menyerahkan beberapa koin emas pada pria tua itu, dan menjejalkan sekantung koin lagi di tangan Lilly, sebagai bekal bagi mereka. Barangkali bisa membantu memberikan kesempatan yang lebih baik.

Di saat seperti ini, aku nyaris melupakan jati diriku sebagai seorang demon. Ketika aku harus melindungi identitas asliku dari mereka, melakukan kesepakatan dengan seseorang sebagaimana manusia pada umumnya.

Lilly menerima kantung penuh koin itu sambil membisu. Diamnya terasa seperti sebuah hukuman tersendiri bagiku. Banyak sekali yang ingin kukatakan, tapi tak tahu kalimat mana yang layak diucapkan. Bahkan permohonan maaf pun takkan ada artinya.

Sementara itu, Catia Hofer, yang asli, menatap tajam dari atas gerobak. "Mengapa kau melakukan ini? Mengapa kau mau bersusah payah demi keluarga dari pria yang sudah kau bunuh?"

Aku terdiam sejenak, menimbang jawaban, menelaah di antara sejuta rasa yang terserak. "Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan, meski itu bukan pilihanku sendiri. Begitu juga dengan ayahmu. Dia melakukan sesuatu bukan demi alasan yang egois. Masing-masing dari kami punya kewajiban yang harus ditanggung, dan memahami masing-masing resikonya."

"Kau pasti punya kepentingan tertentu dengan mengabulkan keinginan ayahku," sahut Catia ketus.

Aku melirik Lilly yang masih terdiam. "Tidak ada," kataku. Ada begitu banyak alasan, dan mungkin puluhan alasan itu cukup bisa dirangkum dengan satu kata; moral. Aku tidak ingin didera perasaan bersalah karena terus bersembunyi di balik dalih 'karena aku diperintahkan', atau mengesampingkan perasaan tak menyenangkan itu dibalik predikat sebagai dewa perang. "Dalam situasi perang, jatuhnya korban takkan terhindarkan. Setiap orang yang melibatkan diri di dalamnya, harus menanggung resiko yang kurang lebih sama; untuk jadi korban atau sebaliknya. Namun terlepas dari konsekuensi dalam sebuah peperangan, kalau kita memiliki pilihan untuk menekan jatuhnya korban lebih banyak, pasti itu yang jadi pilihan. Iya kan, Nona."

Catia memberengut, membuang muka, dan bertanya pada si pria tua kapan mereka akan berangkat.

Gadis satunya tetap bergeming. Ini saat terakhirku memutuskan perasaan mana yang kumiliki untuknya. Namun waktu memang teramat perkasa, bahkan bagi demon sekalipun. Tidak cukup waktu untuk mengambil kesimpulan. Pada akhirnya aku tetap tidak memahaminya, barangkali memang hanyalah kekaguman singkat, seperti seekor serangga yang tertarik pada cahaya.

"Terima kasih," ucap Lilly untuk pertama kalinya padaku sejak dia memberikan keputusan pada dua pilihan yang kutawarkan. Dia menyentuh tanganku sekilas, sebelum menyusul gerobak yang mulai berjalan dan melompat ke atasnya.

Tidak ada apapun yang terucap. Apapun yang pernah ada di antara kami mengambang di antara ingatan, tidak memudar, namun juga dipenuhi pertanyaan tak terjawab. Bahkan sekilas pandang terakhir dari matanya tidak mampu membantuku mencari jawaban. Begitu banyak emosi di dalamnya, menodai sorot mata yang biasanya diberikan padaku setiap kali pandangan kami bersirobok.

Di ufuk timur, fajar merekah, mewarnai langit dengan semburat kemerahan dan jingga, mengusir gelap. Namun aku berharap sedikit bayangan yang masih tersisa fajar itu melindungi mereka sampai tujuan, selagi gerobak itu menyusuri jalan, membelakangi sang surya.