Metanoia


Disclaimer: Semua tokoh dan setting yang tercantum dalam manga Black Butler adalah milik Yana Toboso.


Malam itu, satu pengkhianatan berakhir, tetapi harus berujung pada pengkhianatanku sendiri. Itulah yang dikatakan oleh Maria Theresa saat aku menemuinya pagi itu. Tiada satu pun kebohongan. Satu tamparan yang kukira akan kudapatkan dari Lilly karena membunuh Johann Hofer, kudapatkan dari Maria Theresa karena tidak melakukan apa yang diperintahkan sampai tuntas.

"Bukan hakmu untuk memberikan pengampunan!" Kedua tangan Maria Theresa mengepal oleh amarah. Dia menarik napas panjang beberapa kali, berusaha mengendalikan emosi yang meluap. "Pergilah! Aku tidak punya ikatan apapun lagi denganmu, Demon. Pergilah ke tempat gelap mana pun yang kau kehendaki."

Seandainya semudah itu. Sayangnya ikatanku bukan ada padanya, tapi kesepakatan dengan Leopold I. Ikatan itu takkan terputus selama seorang Habsburg berada di tampuk kekuasaan Kekaisaran Romawi Suci.

Setelah itu, aku tidak kembali ke Schönbrunn. Sesuai yang diperintahkan, aku memang pergi. Tapi aku tidak melepaskan tanggungjawab yang sudah disepakati oleh generasi sebelumnya. Austria terlibat peperangan selama tujuh tahun, beberapa wilayah kekaisaran terlepas, itu adalah pukulan yang sangat berat bagi Maria Theresa.

Namun dia wanita yang tegar dan kuat, juga keras kepala. Tahun-tahun yang berlalu membuatnya terbiasa menanggung beban yang demikian berat, sebagai seorang penguasa, sekaligus sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sikapnya yang tidak pernah merasa puas, dan sedikit pemarah, menyembunyikan dengan rapi segala kesedihan yang harus dihadapinya seorang diri. Saat sedang berada di dekatnya, aku menggunakan wujud seekor kucing hitam atau gagak hitam, mengawasinya merenung – menerawang menatap ke kejauhan, pada segala yang tampak dari jendela ruang kerjanya. Bahkan saat udara begitu dingin, jendela itu seringkali terbuka, menampakkan sosok sang Kaisarina yang tangguh.

Beberapa kali aku datang ke Schönbrunn, Kaisar Joseph II yang mengundangku datang ke pesta dansa di sana. Delapan tahun setelah aku keluar dari istana itu, Kaisar Franz I mangkat. Posisi Franz digantikan oleh putranya. Meski demikian, selama Maria Theresa masih ada, wangsa Habsburg masih berkuasa, sementara Kaisar Joseph II hanyalah penguasa pendamping bagi ibunya.

Suatu hari, aku menghadiri pesta dansa di Schönbrunn. Maria Theresa tidak tampak di mana pun. Meskipun satu setengah tahun telah berlalu, duka kehilangan suami masih merundungnya. Kaisarina menarik diri dari publik, dan mewarnai dunianya dengan warna hitam. Sementara di luar lingkaran dukanya yang kelam, kehidupan puteranya pun juga tidak bahagia. Mereka berdua telah menanggung pedihnya kehilangan orang terkasih dan pasangan yang telah saling berbagi hati. Namun Joseph tidak menenggelamkan sekelilingnya dengan warna hitam dan memamerkan dukanya pada dunia, kewajiban yang menyertai posisinya sekarang tidak mengijinkannya berbuat demikian. Alih-alih meratapi Puteri Isabella, situasi memaksanya untuk menikah lagi, dengan Maria Josepha, puteri dari sepupu ibunya, Archduchess Maria Amalia.

Pernikahan politik itu pun berujung pada sebuah kondisi yang sangat lazim; tiadanya kebahagiaan. Jelas sekali kaisar yang baru itu mengabaikan istrinya. Terdorong oleh pemandangan yang membuat iba, ketika kaisarina baru menatap suaminya yang berdansa dengan wanita lain, bahkan senyum yang terpasang sempurna tidak mampu menutup kesedihan di matanya, aku mengulurkan tangan mengajaknya berdansa.

"Anda memang selalu menarik perhatian, seorang pasangan dansa yang elegan," puji Maria Josepha di akhir putaran dansa kami.

"Begitu juga dengan Anda." Aku meraih dua gelas anggur dari nampan seorang pelayan yang lewat, memberikan salah satunya pada Maria Josepha.

Penampilan Isabella memang lebih menarik daripada Maria Josepha. Namun soal ketulusan dan pengabdian pada suaminya, keduanya punya nilai yang sama. Selain itu, Maria Josepha wanita yang lebih tegar. Sejak Kaisar Franz wafat, dia kehilangan teman yang mengajaknya ngobrol. Meskipun suaminya bersikap dingin, dan ibu mertuanya yang kaku bersikap nyaris tak acuh, dia melawan kesepian itu dengan tegar.

Setelah beberapa saat, salah satu dayang menghampirinya. Kubiarkan mereka berdua mengobrol, sementara aku undur diri untuk menemui kaisar.

"Jadi, kali ini apa yang diinginkan Kaisar Romawi Suci dari seorang demon? Anda pasti masih ingat kalau hak mengeluarkan perintah dalam perjanjian itu hanya milik keluarga Habsburg" Aku memulai saat kami berdua berhasil menjauh dari keriuhan. Tidak ada yang mendengar kami di balkon.

"Tentu aku ingat kalau perjanjian itu tidak berlaku bagiku. Lagipula sudah banyak yang kaulakukan untuk kami." Joseph tersenyum. Sifatnya yang terbuka diwarisi dari Franz, kontras dengan kekakuan ibunya. "Berada dalam situasi yang tidak dikehendaki, dan tidak diberikan pilihan selain tunduk, pastilah sangat tidak menyenangkan."

"Mereka yang masih merasa memiliki kesempatan takkan membuat kesepakatan dengan demon. Sudah cukup semua cekcok ibu-anak yang membebani Anda, tidak perlu ditambah lagi. Penyesalan yang ditanggung ibu Anda karena kesepakatan yang tidak dilakukannya pun juga berat."

Terdengar suara para wanita yang sedang asyik berbagi gosip skandal terbaru. Aib orang lain tampaknya adalah topik pembicaraan yang menarik bagi mereka. Joseph mengerutkan kening mendengar nama salah satu anggota legislatifnya menjadi bagian dari kabar heboh yang beredar. Kemampuan para wanita mendapatkan berita sungguh luar biasa.

"Kebebasan adalah sesuatu yang relatif, karena kebebasan yang mutlak hanya akan berujung pada kekacauan. Tidak perlu mencemaskan kebebasan saya, Yang Mulia. Dalam beberapa hal, posisi saya tidak sepelik apa yang harus Anda hadapi," aku menambahkan. "Bagaimanapun, saya sependapat dengan Anda. Namun saya hanya akan mengatakan satu hal untuk situasi yang Anda hadapi, terkadang manusia sulit melihat berkah yang sudah diterimanya, hanya karena sulit berdamai dengan masa lalu."

Memang itu adalah ucapan yang lancang. Tapi Joseph tipe orang yang lebih mudah diajak bicara.

Sang kaisar tersenyum dan mengangguk. "Ini yang kusuka darimu, kau selalu mengucapkan opini apa adanya, meskipun perlu waktu untuk memahami makna dari ucapanmu – seolah kau menyuruh kami meluangkan sedikit waktu untuk merenung."

"Sulitkah bagi kalian untuk merenung dan memahami?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur keluar dari mulutku. Bahkan dengan abad, atau bahkan millennium panjang yang telah berlalu, dengan semua wawasan yang telah kumiliki, manusia tetap entitas yang penuh dengan paradoks.

Joseph menatap ke kejauhan, pada kebun yang terselimuti cahaya bulan purnama, seolah mencari jawaban dari pertanyaanku dari pucuk pepohonan yang gelap. Namun sesungguhnya aku tidak menuntut jawaban. Pertanyaan itu tidak lebih daripada sebuah tanya yang telah lama kusimpan dalam benak – yang tidak sengaja terpeleset keluar. Sebuah pertanyaan yang lebih bisa disebut sebagai retorika.

Tetapi Joseph tetap menjawabnya. "Terkadang iya. Tergantung seberapa tunduk seseorang pada ego dalam dirinya."

Sebuah jawaban yang bagus.

"Masalah ego itu juga yang ingin kubicarakan denganmu," sambungnya. "Aku mengundangmu kemari bukan untuk sekedar menikmati pesta dansa, memberikan para gadis lajang seorang pasangan dansa yang bisa melengkapi kenangan indah mereka – dan aku juga berterima kasih untuk keramahanmu pada Maria Josepha. Aku tahu selama satu dekade ini hubunganmu dengan ibunda sedang buruk. Keputusanmu saat itu tidak sepenuhnya salah. Tapi aku ingin kau menemui ibunda dan bicara padanya."

Aku memang tidak pernah mengatakan detail lengkap soal pelanggaran perintah itu, tentang permintaan terakhir si tukang kebun, dan tentang Lilly yang memakai nama sepupunya demi untuk membantu menghidupi keluarga yang masih dimilikinya, juga segala kebenaran tentang alasan mereka memberikan informasi pada Prussia. Menuntaskan seluruh perintah yang kuterima adalah sebuah solusi yang sia-sia dan sekaligus tidak adil. Namun siapakah aku. Demon sepertiku tak punya hak apapun untuk bicara soal ketidakadilan. Kubiarkan mereka berpikir pelanggaran itu semata kulakukan karena sesuatu yang disebut dengan cinta buta.

Itu anggapan yang tidak sepenuhnya benar. Aku takkan menampik soal ketertarikan pada si gadis pelayan. Tapi itu bukanlah cinta buta. Mereka perlu mengkaji ulang sejauh mana makna cinta buta itu. Apapun keputusan sepihak yang diambil malam itu telah kupertimbangkan dengan nalar dan kesadaran penuh. Toh, aku tidak memikirkan soal gadis tersebut secara berlebihan, mengetahui dia baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup.

"Ada masalah apa?" tanyaku.

"Seperti yang sudah kau tahu, ibunda adalah orang yang keras kepala. Tapi dia tidak bisa terus begitu. Zaman sudah banyak berubah dari masa mudanya. Beberapa hal harus diubah. Kau benar, kami harus meluangkan waktu untuk merenung dan memahami. Bantulah dia memahami untuk sedikit mengalah pada egonya sendiri."

Aku tahu apa yang dimaksudnya. Lahir dan dibesarkan di akhir era Baroque dan awal era Rococo. Maria Theresa merasa asing dengan segala semangat masa Pencerahan. Segala minat tentang perkembangan ilmu pengetahuan, seni, dan segala fenomena sosial terbaru adalah hal-hal yang lebih dekat pada suami dan putranya, Franz dan Joseph. Toleransinya sangat terbatas pada hal-hal itu, hanya sebatas agar keduanya mampu memenuhi tugas mereka sebagai seorang aristokrat dan pendampingnya memimpin negeri.

Dengan kepribadiannya yang keras dan kaku, semua anak-anaknya tidak ada yang lolos dari kritik Maria Theresa. Hanya Maria Christina yang lolos dari kritik tajam sang kaisarina, meskipun dia gagal memuaskan ibunya dalam satu hal; ketidakmampuannya memberikan satu pun cucu yang hidup hingga usia dewasa.

Terkait dengan kurangnya perhatian pada bidang seni dan para seniman, Maria Theresa pernah mencaci putranya yang lain, Archduke Ferdinand, karena pergaulannya dengan seorang pemusik muda bernama Mozart, dan menolak usul putranya untuk memberikan pemuda itu posisi di istana di Milan – tidak lupa dia menambahkan kritik tentang kurangnya kemampuan Ferdinand untuk berorganisasi dan malah membuang waktunya dengan orang-orang yang tidak berguna – bahkan meski sang kaisarina terpukau dengan permainan piano pemuda itu.

Tidak hanya anak-anaknya yang jadi sasaran sikapnya yang keras, negeri yang dipimpinnya pun demikian. Meski bukan seorang pemimpin yang lalim, terlepas dari betapa baik kemampuannya menjalankan negeri ini dan betapa cerdas solusinya untuk menghindarkan kerajaan dari kebangkrutan dengan menetapkan pajak bagi para rohaniwan dan bangsawan, Maria Theresa tetap seorang yang memiliki sedikit toleransi bagi pihak-pihak yang tidak sejalan dengannya. Bagi sang kaisarina, apa yang jadi tujuan dirinya otomatis akan menjadi tujuan bagi rakyatnya, bukan sebaliknya.

Bicara dengan seseorang yang sekeras itu nyaris selalu jadi hal yang membuang-buang waktu dan tenaga. Ibarat logam yang sangat keras, sulit dibentuk – kecuali dibentuk ulang dan ditempa oleh tangan Sang Pandai Besi sendiri. Semua upaya berhadapan dan bicara dengan orang semacam itu akan menghantam tembok ego yang teramat keras, sebuah jalan buntu belaka.

"Kondisi ibu Anda sedang tidak stabil, Yang Mulia. Duka itu masih terlalu dekat dengannya. Apakah bijaksana bila meminta saya menemui beliau? Pertemuan terakhir saya dengannya saat pesta pernikahan pertama Anda tidak berlangsung baik."

"Aku tahu. Tapi cobalah bicara padanya. Kalau kata-kata siapapun, bahkan anak-anaknya, tidak mampu mencapai hatinya," Joseph berhenti sejenak untuk menghela napas panjang, "kurasa kau yang bisa."

Kalau orang seperti dia sudah ngotot begitu, aku bisa apa. Kalau ucapan anak-anak ibunya saja tidak didengar, ucapanku takkan lebih dari kotoran yang membuat telinganya tersumbat dan sakit. Ingin rasanya mengatakan kalau sebaiknya dia mencari pertolongan pada pemuka agama setempat saja, barangkali akan lebih mendapatkan perhatian. Tapi keputusasaan dalam suara Joseph membungkamku.

Kini aku yang menghela napas panjang. "Baiklah, Yang Mulia."

Seperti yang sudah diminta, malam itu – dengan berat hati – kuketuk pintu kamar kaisarina. Seorang dayang mengabarkan kedatanganku padanya. Setelah cukup lama berdiri di depan pintu, mengira bakal mendapatkan penolakan, dayang itu mempersilakanku masuk.

Duka telah memperdalam kerut-kerut di wajahnya. Meskipun aku punya penglihatan yang bagus dibandingkan manusia dan tidak pernah ada masalah selagi mengawasinya dari jauh dengan samaran tertentu, melihatnya dalam jarak yang cukup dekat setelah sekian lama tetap membuatku sedikit pangling. Seperti semua wanita yang telah menyandang status sebagai janda, Maria Theresa mengenakan gaun berwarna hitam sebagai simbol duka. Rambutnya dipotong pendek – yang makin mempertegas raut wajah merengutnya.

Kaisarina menyuruh dayangnya pergi. Saat suara pintu tertutup yang menyusul kepergian wanita bergaun kelabu itu, menandakan kami hanya berdua saja di ruangan tersebut, kaisarina mulai melancarkan kata-kata sinisnya yang biasa.

"Jadi, kali ini putraku menyuruh seorang demon untuk menghasut ibunya sendiri. Kuharap dia belum melakukan tindakan bodoh yang kelewatan dengan membuat perjanjian terkutuk," ucapnya. Sorot mata yang diberikan padaku sangat selaras dengan ucapannya yang tajam.

"Sayangnya saya tidak bisa melakukan itu. Meskipun untuk hadir dalam sebuah pemanggilan masih bisa dilakukan, sebuah perjanjian seperti kontrak faustian memiliki peraturan yang berbeda. Saya tidak membuat perjanjian apapun dengan putra Anda, Yang Mulia," kataku sebelum menghampiri kaisarina dan mengecup tangannya. "Saya kemari untuk mengucapkan selamat atas terselesaikannya Codex Theresianus. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa, yang menambah deretan prestasi Anda."

Maria Theresa mendengus sinis. "Aku tahu kedatanganmu bukan untuk itu. Lagipula, meski empat belas tahun lalu kau mengoceh padaku soal pentingnya kebijakan abolisi penyiksaan dan pembakaran penyihir – sungguh kau tidak perlu repot melakukannya, kami akan tetap lebih baik tanpa semua usulmu."

Aku tak pernah meminta penghargaan apapun atas keberhasilan dari andil yang kulakukan di belakang layar. Usul soal abolisi itu semata kukeluarkan agar mereka mempertimbangkan soal eksekusi tertuduh penyihir – yang mana sebagian besar dari mereka hanyalah korban fitnah, bukan sungguh-sungguh penyihir. Meskipun saat itu aku tidak yakin kaisarina akan betul-betul mewujudkannya. Berpuluh-puluh abad menyaksikan banyak perilaku manusia membuatku apatis pada sebagian dari mereka yang beruntung memiliki kuasa besar di antara kaumnya tapi tidak memiliki kepedulian.

"Nah, ucapan selamatnya sudah tersampaikan. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan," kataku, tidak mempedulikan ucapan kaisarina yang angkuh. "Banyak yang mengharapkan Anda mendengar permohonan orang-orang. Sebagai seorang yang memiliki kekuasaan, saya rasa Anda pasti mengerti kalau mendengar dan mempertimbangkan harapan rakyat adalah salah satu kewajiban, bukan sebaliknya. Anda bukan hanya ibu bagi putra dan putrimu sendiri, tapi juga seluruh negeri. Dengarlah mereka, pahami dan berikan apa yang mereka butuhkan, jangan membedakan mereka."

Cangkir teh bergetar, isinya terancam tumpah ke taplak berenda, saat Maria Theresa menggebrak meja cukup keras. "Sudah cukup kelancanganmu, Demon!" ia menudingku dengan murka, "kau tidak perlu mengajariku bagaimana cara menjadi seorang pemimpin. Lakukan itu sendiri pada bawahanmu di neraka!"

Bahkan mereka yang memiliki kuasa di Gehenna tidak seegois ini, ingin rasanya aku berkata demikian. Sayangnya aku kemari untuk sekedar membantu menyampaikan pesan, bukan untuk memberikan opini pribadi.

Bicara dengan wanita ini adalah sebuah jalan buntu tanpa solusi. Bahkan tahun-tahun yang berlalu pun tidak bisa melunakkan hatinya. Masa senja kehidupan justru membuatnya semakin keras kepala. Kalau saja permintaan Joseph tidak terdengar terlalu menyedihkan, aku pasti sudah angkat kaki, pergi meninggalkan wanita tua itu dan kebebalannya.

Aku mengeluarkan kalung rosario yang telah lama kusimpan – milik seorang pemuda dari Katterburg, yang kupungut dari tanah berlumpur, dibuang setelah dia menyetujui perjanjian. Maria Theresa mengawasi benda yang kuletakkan di atas meja, tampak sangat ingin melanjutkan cercaannya, tapi juga susah payah menahan lidahnya karena penasaran.

"Dulu sekali, sebelum istana megah ini berdiri, seorang petani muda mengabdikan diri pada keluarganya yang masih tersisa. Hingga sebuah tragedi merenggut semua yang dimilikinya; keluarga, kekasih, juga masa depan. Nasib baik tak pernah mengulurkan tangan pada seorang yang kecil seperti dia. Tidak ada yang menyambut uluran tangannya saat meminta pertolongan."

"Apa maksudmu?" sela Maria Theresa.

"Jaman sudah banyak berubah dari masa saat Anda kecil, terimalah perubahan itu dengan kelapangan hati menerima perbedaan. Dunia ini tidak terbagi atas hitam dan putih saja, Anda tidak bisa dengan mudah menilai seseorang dari asal-usul kelahiran atau keyakinan yang dimilikinya. Lihatlah mereka sebagai manusia, kaum Anda sendiri. Karena kalau yang diberikan wewenang dan kuasa untuk memimpin tidak mengayomi, maka mereka akan berpaling pada tindakan yang tidak seharusnya – atau malah lebih buruk, mereka akan berpaling pada sesuatu yang paling Anda benci selama ini, kekuatan dari dalam kegelapan."

Kesunyian menjelang. Keriuhan pesta dansa istana itu memudar seiring malam yang semakin larut. Kaisarina terdiam, seolah cercaannya habis terserap oleh putaran waktu yang berselimut kegelapan malam. Untuk sejenak, mungkin Maria Theresa melupakan keberadaanku, dia membisu dengan ekspresi batunya hingga aku memutuskan untuk menyuarakan pamit.

Dalam sekejap saja, sikap sinisnya kembali lagi. Barangkali apa yang sudah kukatakan tadi hanyalah angin lalu. Tidak mengejutkan, dan tidak pula terlalu mengecewakan – aku sudah memperkirakan bagaimana pembicaraan ini akan menghantam tembok batu tebal dengan sia-sia belaka.

Setelah itu, aku kembali pada keseharianku yang biasa. Joseph memberiku sebuah rumah di pinggir kota – meskipun aku tidak membutuhkannya. Rumah itu nyaris selalu sunyi, aku banyak melewatkan waktu di rumah minum, Taman Eden, dan tentu saja sesekali mengawasi Maria Theresa – tidak banyak yang bisa kulakukan dengan ikatan rantai kontrak.

Tahun demi tahun berlalu. Dekade lain menjelang. Pada akhirnya aku mengetahui apa yang sudah kusampaikan tidak berakhir begitu saja jadi kotoran di telinga kaisarina. Barangkali perlu sentilan dari entitas yang paling dibencinya, untuk menyodok keangkuhan dan kebebalan wanita itu. Tentu saja dalam hal ini aku hanya sebatas memberikan penekanan akhir pada upaya yang sudah dilakukan anak-anaknya untuk membuat hati Maria Theresa tergerak.

Perubahan-perubahan terjadi, pencapaian-pencapaian baru yang dilakukan pemimpin terakhir wangsa Habsburg yang memerintah negeri ini. Mulai dari didirikannya sebuah rumah sakit di Vienna, upayanya melawan wabah cacar dengan memberikan inokulasi pada anak-anak, reformasi pendidikan bagi semua anak-anak yang berusia enam hingga dua belas tahun, juga memberikan toleransi yang lebih baik bagi para warga di Ghetto. Pribadi yang keras itu pun melunak, seperti es yang perlahan mencair.