New chapter is up!

Warning : OOC, AU, OC


Chapter 1

Wahai Dewi Mavis tunjukkan pada kami

Berilah kami petunjuk tentang apa yang harus kami lakukan

Anak manusia akan lahir...

Dan seorang anak naga juga akan lahir...

Dalam purnama bulan kedua musim panas

Takdir kehancuran kita telah dimulai...

Jangan biarkan para bintang menyatukannya

Api dan bintang, hanyak akan saling membakar...

Mereka atau kita, Kita atau mereka...

Akan mati...


Lady Layla sedang mengerang kesakitan, ia sedang tertidur sambil memegangi perutnya yang terlalu besar, matanya yang berwarna cokelat bergerak ke kanan dan kekiri sedangkan pikirannya sedang menekan rasa sakit yang menyiksanya.

Ia mendengar pintu kamarnya terbuka, dan seseorang mendekatinya. "Istriku, apakah kau akan melahirkan?" Tanya orang itu, ternyata suaminya, Jude Heartfilia.

Wanita itu, Layla Heartfilia hanya dapat mengerang untuk jawabannya, ia merasa perutnya seperti dicabik dari dalam, air mata keluar dari kedua mata indahnya.

"Akan segera aku panggilkan pelayan dan juga dokter! Tunggulah disini sebentar lagi!" Jude berusaha menenangkan istrinya, ia kemudian berteriak "Pelayan! Pelayaan!"

"AAHHH, Eeegghh.." Istrinya mulai berteriak dan mengerang sangat keras.

Ia harus memanggil beberapa kali supaya pelayannya datang berbondong-bondong. "Ada apa tuan?" "Astaga apa yang terjadi?" "Apakah nyonya...?"

Jude tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan mereka, "Diam, segera siapkan handuk dan juga air hangat! Serta harus ada yang mendampingi nyonya disini! Dan kau segera bawa dokter kesini!"

"TIDAK! JANGAN PANGGIL DOKTER!" Istrinya tiba-tiba berteriak histeris. "Jangan panggil dokter, aku tidak mau!"

Suaranya sangat putus asa dan mengerikan, membuat semua orang terkaget. "Kenapa istriku? Kau akan melahirkan! Kita butuh pertolongan secepatnya!" Jude protes, keringat dingin semakin membasahi wajahnya.

Istrinya yang lembut bagaikan bunga yang baru mekar di musim semi, sekarang terpuruk kesakitan dengan wajah pucat dan erangan yang memilukan, hampir tidak seperti suara manusia.

Layla Heartfilia memegang tangan suaminya seerat mungkin, seolah ia adalah nyawanya sendiri dan menatap mata suaminya bulat-bulat. "Aku tidak ingin mereka mengambilnya, aku tidak ngin bayi kesayanganku dibunuh."

Suaminya menegang, dan beberapa pembantu yang masih berdiri di pintu maupun yang sekarang ada di dekatnya memekik kaget, mereka semua tahu apa maksudnya.

"HUAAGHH! AAHHH!"

"Tapi tidak ada jalan lain, kau bisa celaka jika tidak mendapatkan persalinan yang pantas," Jude berusaha meyakinkan istrinya, meskipun ia tahu resikonya jika memanggil bantuan ia tidak tahan melihat istrinya menderita, ia ingin sekali menangis tapi ia tahu ia harus kuat terutama saat ini wanita di depannya begitu membutuhkannya.

"Tidak! Aghh! Tidak! Begini saja, aku.. aku tidak ingin anakku dibunuh!"

"Layla..."

"Nyonya, anda berdarah!" Seorang pelayannya berkata histeris, memang, bukan hanya air ketuban yang mengalir dari kakinya, tapi juga darah, banyak sekali darah.

"Nyonya anda harus dibantu dokter!" Pelayannya yang lain berusaha membujuk sambil menangis, Lady Layla bukan hanya wanita yang cantik, tapi juga sangat baik pada semua orang, membuat para pelayannya sangat sedih atas keadaannya sekarang.

"Aku mohon Layla," Jude berbisik pilu, ia mendekap tangan istrinya dengan erat.

Meski dalam kesakitan, Layla tersenyum lemah, "Tidak apa-apa, aku mencintai mu Jude."

Malam itu di Puri Heartfilia, teriakan-teriakan mengerikan dan menyayat hati terdengar sepanjang malam, Lady Layla Heartfilia berjuang untuk membawa anaknya ke dunia.

Teriakan-teriakan itu akhirnya berhenti.

Dan tangisan bayi memecah kesunyian.

Beberapa pelayan menangis sambil berusaha membersihkan tempat tidur bekas perjuangan Nyonya mereka, dan seorang lagi sedang membersihkan Nyonya mereka yang sekarang diam dan pucat.

Sedangkan Jude Heartfilia dengan sebelah tangannya memegang sebuah bundelan kecil berwarna biru, yang didalamnya berisikan seorang bayi mungil yang masih menangis kecil, sedangkan sebelah tangannya lagi masih menggenggam tangan istrinya, menolak melepaskannya.

Pada tanggal 16 Juli 767, Lady Layla Heartfilia, istri dari Lord Jude Heartfilia, penguasa wilayah Magnolia meninggal dunia.

Dan pada tanggal 16 Juli 767, Lucy Heartfilia, keturunan terakhir dan pewaris tahta keluarga Heartfilia lahir kedunia.


"Hwaaaaaa!" Suara tangis seorang bayi membangunkannya.

Dengan kesal ia terpaksa membuka matanya yang besar dan bangun dari posisinya yang sudah ia atur senyaman mungkin. 'Bayi manusia sejak kapan ada disini?' Ia berpikir heran.

Siapapun orang tuanya pastilah mereka sangat bodoh,mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi, ia tersenyum sadis.

Dengan hati-hati ia merangkak keluar dari sarangya, dan berusaha mengendus bau bayi tersebut ataupun orang tuanya.

"Hwaaaaa!"

'Aneh, aku hanya dapat mencium bau satu manusia, jika orang tuanya mati juga aku pasti dapat menciumnya, masa mereka sengaja meninggalkan bocah itu sendirian disini?'

Ia mulai merangkak dengan waspada, tapi juga tidak dapat menutupi rasa penasarannya, mendengar tangisan bayi manusia bukanlah hal yang sering ia dengar, terutama di tempat seperti ini.

"Hwaaaaaa!"

Ia terus mengikuti suara dan bau bayi tersebut, sadar bahwa ia menuju padang rumput yang tak jauh dari sarangnya. Mungkin mata manusia tidak akan dapat menangkap siluet selimut yang bergerak-gerak di tengahnya tapi syukurlah ia memiliki penglihatan tajam sehingga dengan mudah dapat mengetahui bahwa disanalah sumber gangguannya.

Sepelan kaki besarnya mengijinkan ia mulai mendekati onggokan selimut itu, sampai cukup dekat untuk melihat wajah manusia terbungkus di dalamnya.

Mereka saling menatap.

Bayi itu berhenti menangis.

Dan Ia malah tersenyum dan tertawa seolah melihat boneka teddy paling lucu dihadapannya.

'Anak manusia... aneh sekali...' Ia berpikir sambil menggaruk dagunya yang bersisik.
'Apa sebaiknya aku tinggalkan saja? Aku sama sekali tidak tertarik untuk berurusan dengan mereka.'

Ia melirik ke arah bayi itu lagi, berusaha menemukan alasan kenapa ia tidak membunuhnya atau meninggalkannya mati disana. Dan ia terpaku saat melihat kedalam mata onyx bayi itu.

Api, api yang membara ada dalam matanya, seolah menggedor-gedor agar meledak dan berkobar membakar dunia.

"Baiklah nak, kurasa aku akan merawatmu untuk sementara."

"Sudah dimulai," Seorang laki-laki tampak berdiri di sebuah tebing yang curam, meskipun dibawahnya terdapat sungai dan batu-batu besar yang tidak salah lagi bakal meremukkannya sampai mati jika ia tergelincir, laki-laki itu tidak peduli.

Mata hitam obsidiannya terpaku memandang langit malam yang penuh dengan bintang.

"Indahnya."

Ia memandang pemandangan langit selama beberapa saat, kemudian berbalik dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu, jubah hitamnya berkibar-kibar mengikutinya.

To be continued


Chapter 1 done! Stay tuned for next chapter, Please leave review!