Hai semua!
HikariNoMikan kembali dengan chapter baru :3
Sebelum itu saya mau berterima kasih kepada readers yang mereview, favs, dan juga follow cerita ini, saya tidak tahu ternyata ada yang suka pada cerita saya hehehe
Tapi kalian membuat saya terinspirasi dan terus maju memikirkan plot ceritanya, sekali lagi terima kasih.
Warning : OOC, Geje, AU, OC, Typo
RnR!
Chapter 2
Juni 767
"Pengumuman kepada seluruh penduduk Magnolia, sehubungan dengan bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi, Raja memutuskan untuk mengadakan sensus kepada seluruh penduduk Fiore, Semua orang wajib mendaftar termasuk bayi kelahiran antara Juni sampai dengan Juli 767 tanpa ada terkecuali. Penduduk dapat mendaftar ke Kepala desa atau Walikotanya masing-masing, untuk prosedur dan penjelasan lebih lengkap akan saya bacakan. Yang pertama...'
"Hei apakah kau sudah dengar?"
"Apa-apa?"
"Anak keluarga Ruby meninggal!"
"Apa? Lagi?"
"Ssst, jangan keras-keras. Aku curiga pemerintah terlibat dengan semua ini."
"Hei jangan menuduh seenaknya! Raja tidak mungkin seperti itu!"
"Sadarlah, baru beberapa hari sejak sensus sudah banyak kasus meninggalnya bayi dan anak balita di seluruh Fiore!"
"Ah kau ini bisa saja Mirajane! Sudah cepat pulang, ternyata terlalu banyak diluar membuatmu sinting!"
"Sudah berapa kali kukatakan, anakku lahir pada bulan Agustus!" Jude Heartfilia berkeringat dingin, sudah beberapa menit ini ia berusaha meyakinkan wanita tua didepannya, tapi Nenek sialan itu terlihat sekali tidak percaya.
Sinar matahari sore menembus kedalam ruang tamu megah di Puri Heartfilia, menimpa Jude dan tamunya yang merusak harinya, membuat mata mereka berdua seolah berkilat-kilat.
"Maaf harus kukatakan Tuan Jude, tapi terlihat sekali bahwa bayi yang ada dipelukanmu itu paling tidak sudah berumur beberapa minggu, tidak mungkin bayi yang baru lahir sudah sebesar itu," Wanita tua itu, Porlyusica berkata dengan tenang.
"Tidak bisakah kau melihatnya? Kau ini tabib tertinggi di Magnolia, aku berharap semakin bertambahnya usia mu tidak mulai menghambat pekerjaanmu." Jude berkata berusaha menyerangnya.
Porlyusica menghela napas, "Kau tahu aku tidak suka jika usia ku disinggung-singgung, terutama dengan kebecusan kerjaku. Tapi seharusnya kau tahu aku datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, kerajaan telah lama mencurigai kematian istrimu dan juga anakmu yang baru lahir, seharusnya kau berterima kasih karena hanya aku yang diutus kesini, bukan dengan tentara maupun anggota pengadilan kerajaan," jawabnya dengan pandangan seolah Jude adalah salah satu pasiennya yang rewel.
Jude Heartfilia berpikir keras agar bagaimana caranya meyakinkan nenek didepannya dan bagaimana caranya menyelamatkan putri satu-satunya, ia sudah kehilangan istrinya dan ia bersumpah tidak akan kehilangan putrinya juga.
Dan ia tahu tidak ada gunanya berusaha membohongi Porlyusica, ia memang terkenal dengan kepintaran dan pemikirannya yang tajam, karena itulah dia bisa menjadi tabib terbaik di Magnolia. Tapi apakah ia bisa membujuknya? Bahkan mungkin bisa menjadikannya sekutu?
Sebutir keringat turun mengaliri pipi pria itu.
"Porlyusica...aku... tidak tahu harus bagaimana, jika kau dapat melihat kebohonganku kau seharusnya dapat melihat penderitaanku juga. Bukan berarti aku ingin melawan Yang Mulia Raja, kau tahu aku dan Layla (hatinya terasa sakit sekali saat mengucapkan nama itu) selalu taat dan mendukung penuh kebijakannya, tapi mohon, aku mohon sekali tolonglah ku! Dan anakku Lucy!"
Jude berkata, dan pada saat mengucapkan nama Lucy ia menggerakkan tangannya yang menggendong anaknya sehingga pandangan Porlyusica beralih padanya.
Hening sejenak, Porlyusica masih memandang Lucy yang sedang tidur nyenyak dengan pandangan yang tidak bisa ditebak.
Ia kemudian berkata, "Sudah kubilang kau seharusnya bersyukur karena aku yang datang kemari, aku juga selalu mendukung titah Raja tapi untuk kali ini aku tidak bisa melihat satu anak yang tidak berdosa harus di musnahkan hanya karena ramalan konyol, aku sama sekali bukan orang yang percaya dengan yang namanya ramalan."
"Jadi kau?"
Untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu, pandangan Porlyusica melunak , tidak dingin seperti biasanya. "Lucy Heartfilia lahir pada tanggal 1 Agustus 767."
Mei 776
Masa kini
"Nona Lucy, Apa yang anda lakukan disana! Mohon segera turun!" Seorang pelayan berseru pada seorang gadis cilik berambut pirang, yang meski memakai gaun indah yang panjangnya sampai ke mata kaki, itu tidak menghalanginya untuk naik ke pembatas air mancur kebun belakang kediamannya dan berjalan dengan tangan terentang seolah untuk menyeimbangkannya supaya tidak tercebur.
Anak kecil itu tidak menghiraukan panggilannya dan terus berjalan memutari air mancur, "Kemarilah Laki, ini sangat menyenangkan!" Serunya riang.
Laki Olietta nama pelayan tersebut malah semakin panik. "Nona tolong hentikan, nanti anda terluka!" Ia berlari ke arah Lucy dan segera menurunkannya. "Saya mohon jangan lakukan itu lagi, nanti Tuan marah," ia berusaha menasehati Lucy, yang sekarang menggembungkan pipinya dengan sebal.
"Kenapa sih aku selalu tidak boleh melakukan apapun?" Tanya Lucy kesal sekaligus penasaran, sejak ia lahir ia merupakan anak yang dimanja oleh ayah dan juga seluruh Magnolia, saat melihatnya ia selalu dipuja soal betapa cantiknya rambutnya, betapa indahnya matanya, betapa lucu wajahnya, dan betapa menarik tingkah lakunya, tapi semua orang sama saja, selalu membuntutinya dan melarangya melakukan hal yang sedikit saja diluar kewajaran bangsawan Heartfilia.
Lucy, meskipun bangsawan, jugalah anak-anak.
Ia juga ingin bermain kejar-kejaran dengan anak lain, ia juga ingin bermain lumpur dan membuat mainan seperti anak lain, tapi selalu saja tidak boleh dan sebagai gantinya semua yang ia inginkan telah tersedia di hadapannya.
"Bukan begitu nona, tadi memang sangat berbahaya! Nanti anda bisa jatuh, lebih baik kita kedalam saja saya akan buatkan kue choco chip kesukaan nona. Bagaiamana?" Laki berusaha membujuk Lucy.
"Baiklah," jawab Lucy dengan terpaksa. Ia merasakan tangannya digandeng dan dibimbing oleh perempuan berumur 20 tahun itu,Lucy menoleh ke belakang, menatap kebun halaman kediamannya yang luas dan penuh dengan tumbuhan yang tumbuh rapi berkat tukang-tukang kebun yang tak kenal lelah merawatnya.
'Aku penasaran apa yang Natsu lakukan sekarang. Mungkin malam ini aku bisa mengendap-endap keluar lagi,' pikir Lucy.
Malam Hari
"Natsu, Natsu," bisikan lembut itu membuatnya terbangun. Seorang anak laki-laki berambut pink duduk sambil mengucek matanya dengan bingung, ia kemudian menoleh malas ke arah suara . "Lucy?" Tanyanya dengan suara serak.
Anak perempuan disampingnya tersenyum senang, entah karena berhasil mengendap-endap lagi atau karena bertemu dengan teman satu-satunya.
"Hai Natsu, aku membawakanmu makanan kau pasti lapar kan tinggal di hutan yang kejam seperti ini. Lihatlah! Hari ini aku berhasil membawa ayam dan juga roti!" Tanpa basa-basi Lucy duduk bersila dan mulai membuka bungkusan yang dibawanya.
Natsu yang sekarang indranya seratus persen berfungsi sejak Lucy mengucapkan kata "makanan" langsung menyambar hal pertama yang dapat ia pegang dari bungkusan teman pirangnya itu.
"Wah Russi, Mmmaakassh..." Ucap Natsu dengan mulut tak hentinya mengunyah makanan. Lucy hanya menatapnya dengan separuh jijik separuh lega ia tidak sia-sia merampok penyimpanan makanan rumahnya, dan ia pun menegur, "Makanlah pelan-pelan dan jangan bicara saat mulutmu penuh!"
"Hmm...mmh!" Hanya itu jawaban yang Lucy terima.
Sesaat hanya bunyi kunyahan Natsu yang berisik memenuhi ruangan itu.
Lucy masih duduk bersila namun kali ini matanya melihat kesekeliling tempat Natsu tinggal. Untuk anak seumurannya tidaklah pantas baginya untuk tinggal di gua yang lembab ini, Lucy sudah pernah bertanya kenapa Natsu tidak tinggal di kota Magnolia saja, mengingat jarak gua ini tidak begitu jauh dari Magnolia, tapi Natsu menjawab ini tempatnya tinggal dengan ayahnya sejak ia lahir dan ia tidak ingin jika ayahnya kembali ia tidak ada.
Ngomong-ngomong soal ayahnya...
Lucy menatap Natsu yang tidak mempedulikannya sambil berpikir saat pertama kali mereka bertemu. Ia ingat saat itu adalah kali pertamanya mengendap-endap keluar rumah, Lucy sangat bosan ikut ayahnya ke rumah temannya , salah satu dewan keadilan Magnolia, dan memutuskan untuk berputar-putar di kebun belakang dewan tersebut. Matanya tak sengaja melihat ada pagar jelek dengan kayu tua lapuk di pinggir kebun yang tidak terkunci, melihat adanya kesempatan kabur Lucy langsung melesat keluar rumah, ia terus berlari melewati gang-gang kecil, keluar menuju pasar Magnolia.
Gadis kecil itu menoleh ke kanan dan kekiri, tidak pernah melihat kerumunan orang sebanyak itu dalam hidupnya, nenek, kakek, pria, wanita, dalam berbagai pakaian dan juga status sosial bertemu dan terlibat dalam urusan jual beli yang Lucy rasa itu merupakan urusan orang dewasa.
Tapi ia juga sadar seseorang bisa saja melihatnya dan langsung mengadukannya pada ayahnya. Sambil menunduk berusaha menutupi wajahnya dengan rambutnya, Lucy mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk melindunginya. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah jubah seukuran dirinya teronggok di tanah, jubah itu kotor dan jelek sekali, tapi dapat menutupi tubuhnya dengan sempurna, Lucy beranggapan semua orang pasti tidak mengenalinya sebagai keluarga kaya, tapi hanya anak kecil miskin dan itu hal yang bagus sekali.
Dan ia memutuskan untuk lari, dan terus berlari tanpa tahu arah. Sampai ia tanpa sadar keluar gerbang dan menuju hutan di dekat kota, disitulah ia bertemu Natsu.
Natsu saat itu sama sekali tidak percaya dengannya, ia berusaha terlihat galak meskipun kentara sekali habis menangis. Akhirnya butuh waktu beberapa menit sampai ia mengijinkan Lucy mendekatinya (meskipun masih ada jarak diantara mereka). Lucy masih ingat ia bertanya kenapa Natsu menangis, dan pertanyaan itu membuat mata Natsu berkaca-kaca.
"Ayahku pergi... aku tidak tahu ia kemana dan kapan iamenghilang tapi saat aku bangun ia sudah tidak ada, aku sudah memanggil-manggilnya dan mencarinya kemanapun tapi aku tidak menemukannya," jawab Natsu saat itu.
Lucy langsung menawarinya supaya tinggal di rumahnya, tapi Natsu bersikeras menolak ia yakin suatu saat ayahnya pasti kembali dan ia berpendapat ayahnya hanya sedang sibuk mengurusi suatu hal yang biasa orang dewasa rahasiakan dari anak kecil. Akhirnya setelah dibujuk, Natsu mau pulang ke 'rumahnya' tetap dengan Lucy membuntutinya. Betapa kagetnya ia ternyata Natsu tinggal di gua tersembunyi tak jauh dari sana.
Temannya yang berambut pink sudah tidak galak lagi, malah terlihat sedih karena ditinggal ayahnya, ia duduk sambil menundukkan kepala. Lucy berusaha menghiburnya, sampai akhirnya Lucy berjanji akan terus mengunjungi dan menemaninya menunggu ayahnya, Natsu pun agak gembira.
Tanpa sadar beberapa hari sekali Lucy bolak-balik rumahnya ke gua Natsu, semakin hari semakin tidak takut dengan bahaya hutan yang biasa penduduk Magnolia ceritakan.
Dan sampai sekarang Lucy tidak tahu seperti apa rupa ayah Natsu karena setiap ia bertanya soal ayahnya Natsu mendadak diam dan menunduk sedih, membuat suasana tidak enak.
"Lucy? Apa yang kau lakukan?" Sebuah suara dan lambaian tangan tepat di depan muka Lucy membuatnya tersadar dari lamunannya. "Eh tidak, aku hanya melamun," Jawab Lucy kaget.
"Melamun? Apa itu?" Natsu bertanya heran, ia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
"Melamun itu... uh, seperti ... kau mengingat sesuatu atau memikirkan sesuatu lamaaa sekali sampai lupa waktu, hehehe," jawab Lucy sambil tertawa kaku.
"Hmmm..."
Hening sejenak.
"Oh ya Natsu...kap...maksudku apakah makanannya masih enak? Tidak basi kan?" Lucy hampir saja bertanya kapan ayahnya pulang, tapi tidak jadi karena mood Natsu akan memburuk seperti setiap kali ia bertanya, dan akhirnya ia ia memutuskan untuk mengganti topik yang tidak penting, yaitu soal makanan yang biasa ia curi dari dapur. Makanan dari dapur yang bisa Lucy dapatkan adalah makanan sisa miliknya dan ayahnya atau juga makanan simpanan yang akan dihidangkan besok atau saat ada acara penting.
Natsu, yang tidak sadar dengan perubahan topik tersebut nyengir puas. "Tentu saja enak! Masakan rumahmu selalu yang terbaik!" Jawabnya.
"Oh syukurlah..." Cuma itu yang bisa Lucy katakan karena ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Lucy..." Panggil Natsu. "Iya?"
"Kau seharusnya berhenti kesini lagi," Kata Natsu dengan nada serius. Lucy menatapnya tidak percaya, "Tidak! Aku tidak mau!" Jawabnya otomatis.
"Hutan semakin tidak aman sejak ayahku pergi, untung sekali kau tidak terdapat masalah selama ini, tapi sebaiknya kau tidak usah repot-repot menemuiku," Natsu berkata.
Lucy bangkit dan berseru, "Bicara apa kau ini! Kita kan teman, dan aku sudah berjanji akan menemuimu sampai kau bertemu dengan ayahmu kan? Teman tidak akan mengingkari janji!"
Natsu menatapnya kaget selama beberapa saat, kemudian tertawa. "Baguslah, aku juga tidak ingin kau meninggalkanku," katanya riang.
Lucy tersenyum cerah dan duduk kembali, mulai mengoceh tentang berbagai hal pada Natsu, sedangkan Natsu tidak peduli temannya mau cerita soal hal paling tidak penting pun ia akan tetap mendengarkan dan merespon, karena baginya Lucy adalah sesuatu yang berharga setelah ayahnya, Igneel.
Done!
Oh ya seharusnya harus saya berikan warning dulu ya diawal T_T
Fic ini dikatakan AU karena sihir bukanlah hal umum didunia ini, memang ada desus seperti tukang sihir dan peramal yang digambarkan sebagai nenek-nenek serem, tapi sekali lagi, sihir BUKAN hal umum di sini. Anggap saja Fiore seperti negara kerajaan pada umumnya.
Dan Naga BUKAN dianggap sebagai sesuatu yang nyata, hanya mitos dan legenda masyarakat jaman dulu, jadi mohon diperhatikan~
Saya mungkin juga akan menggunakan OC demi plot dan alur cerita, tapi tentu saja saya akan berusaha menggunakan karakter FT karena sebetulnya saya bukanlah orang yang suka pakai OC, tapi tentu saja jadinya, OOC, hehehe
Sekian Author's note dari saya, review so I'll know what you think guys!
