Halo haloo, kembali lagi dengan chapter baru. Kali ini aku benar-benar minta maaf kalau updatenya telat ya fanfic ini telah mengalami beberapa kali konsep gagal sehingga aku sedikit galau gimana alurnya. Oh ya karena FT sendiri telah tamat aku tidak yakin kalau masih banyak yang mau baca fanfic FT terutama pairing Natsu/Lucy.
Hope you enjoy this chapter ^^
AU, OOC, Typo
RnR!
‹•›‹•›‹•›‹•›‹•›‹•›
"Lucy, jelaskan padaku," Suara yang dalam itu terdengar mengerikan sekali bagi anak perempuan berumur 10 tahun, Lucy, yang sedari tadi hanya duduk dengan kedua tangan berada di pangkuannya. Kedua bola mata cokelatnya jarang sekali menunjukkan rasa takut, karena selama ini ia hidup selalu dalam kenyamanan. Oh tetapi anak mana yag tidak akan takut ketika ayahnya sedang duduk dihadapannya, dengan raut muka marah dan tatapan tajam, dan parahnya laki-laki paruh baya itu menuntut sebuah penjelasan. Penjelasan yang tidak akan mungkin Lucy ucapkan.
"Lucy!" Ayahnya berkata dengan nada tinggi, kedua bola mata cokelat tuanya yang dingin bersinar galak. Lucy selalu mendengar dari para pelayannya kalau kedua bola matanya menurun dari ibunya yang anggun dan lembut, biasanya saat para pelayan menceritakan hal tersebut akan menyusul cerita-cerita mengenai kebaikan ibunya dulu pada saat beliau masih hidup. Lucy yang merasa ratusan kali mendengarnya tidak pernah mengeluh, Karena ia sangat ingin mengetahui seperti apa wanita yang melahirkannya, dan berusaha merasakan kasih sayang ibu yang tidak pernah ia dapatkan melalui kisah-kisah tersebut.
Gadis kecil itu dengan takut-takut menatap ke arah ayahnya, dan saat menemukan mata ayahnya ia berfikir, 'Ya, beda sekali denganku. Memang tidak mungkin kedua mata ini diturunkan darinya.'
Mata cokelat hangat tersebut kemudian menyapu sekeliling ruangan, memperhatikan detail bahwa sekarang ia sedang disidang di ruang kerja ayahnya pada pagi buta dengan seorang penjaga baru bernama Lyon, Lucy ingat sekali anak di depannya hanya berbeda beberapa tahun darinya dan baru saja diperkerjakan oleh ayahnya beberapa minggu yang lalu. Seharusnya ia ingat betapa semangatnya laki-laki itu untuk mendapatkan kepercayaan ayahnya, dan Lucy melihat Lyon yang berdiri agak jauh di samping kirinya senang sekali telah mendapatkan sesuatu untuk membuat Jude Heartfilia mengapresiasi dirinya.
Lucy kemudian melihat ke arah tangan kanan Lyon yang masih memegang lentera yang memancarkan cahaya menerangi ruangan tersebut. 'Lentera sialan,' pikir Lucy geram. Gadis itu terkejut ketika ayahnya mengeluarkan suara terbatuk yang disengaja. Dengan enggan ia kembali menatap ke depan, ke arah dimana takdirnya akan ditentukan.
Jude menatap anaknya lurus-lurus dan berkata untuk yang kesekian kalinya malam itu, "Lucy, kau tahu kan mengendap-endap keluar rumah pada pagi buta adalah hal yang aneh dan gila bahkan menurut orang tua ini, apalagi jika pelakunya adalah anakku sendiri, aku jadi bertanya-tanya, apa yang kau lakukan di luar sana, pada jam 2 pagi?" Tanya pria itu.
Sedikit terkejut tapi ia mengendalikan reaksinya, Jude melihat gadis kecilnya tidak mengalihkan pandangan dan malah menjawab dengan pandangan lurus padanya. "Aku hanya sedang tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar," jawab Lucy.
Kebohongan tersebut meluncur lebih halus daripada yang Lucy rasakan, ia merasa sangat takut ayahnya mengetahui kebohongannya, terlebih setelah melihat reaksi ayahnya yang tidak percaya setelah mendengar jawabannya, Lucy menelan ludah. "Jadi kau jalan-jalan dalam gelap, sendirian, pada jam 2 pagi, dengan membawa keranjang makanan yang jika kulihat telah kosong?" Ayahnya bertanya lagi, kali ini dengan nada menantang Lucy alasan apa lagi yang akan ia katakan.
Dengan tegar Lucy menegaskan pandangannya, tidak ingin terlihat lemah meskipun di dalam otaknya ia sedang berteriak bagaimana menyusun alasan yang bagus, apapun yang ia katakan akan berpengaruh tidak hanya padanya, tapi juga hubungannya dengan satu-satunya temannya yang menunggunya di hutan, Natsu.
Mengingat Natsu membuat Lucy merasakan kekuatan baru dalam dirinya, dengan tegas Lucy berkata, "Aku tidak bisa tidur, dan aku juga lapar. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan sambal membawa makanan dari dapur, aku kira akan menyenangkan piknik di malam hari tanpa membawa penerangan, karena pasti penjaga tidak akan mengijinkan kalau mengetahuiku."
Jude Heartfilia mau tak mau mendengus, "Tentu saja, siapa yang mau mengijinkan permintaan konyol seperti itu, dari siapapun termasuk dirimu," jawabnya. Lucy merasakan perasaan sakit pada hatinya, tetapi tidak ingin membiarkan ayahnya mengintimidasi, ia berusaha mengingat Natsu dan akibatnya apabila seseorang mengetahui tentangnya maupun hubungan pertemanan mereka akhir-akhir ini.
Merasa anaknya tidak akan menjawab apapun lagi, Jude menghela nafas lelah. "Lucy, aku tidak akan menceramahimu tentang betapa bahaya nya berjalan di malam hari, apalagi dengan pemikiran sebuah 'piknik'. Tetapi aku harus mengingatkan posisimu sebagai penerus keluarga bangsawan Heartfilia, dan aku berharap kau dapat menggunakan pikiranmu dengan dewasa, tetapi aku kadang lupa bahwa aku berharap terlalu banyak, apalagi mengingat kau masih anak-anak," Jude berkata.
Kali ini Lucy menunduk, tak ingin mendengar perkataan kasar tersebut. Badannya mulai bergetar, tetapi Lucy menguatkan dirinya untuk tidak menangis, sudah ratusan kali ia menghadapi perkataan ayahnya yang tajam, seharusnya ia sudah terbiasa mendengarnya, meskipun tetap ada rasa sakit yang menjalar dari dalam hatinya.
Setelah Jude Heartfilia menyuruh Lucy berjanji agar tidak melakukan apapun yang dilakukannya tadi, dan Lucy dengan enggan setuju, Lucy pun dibawa kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya yang besar, Lucy segera merebahkan diri ke Kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
'Natsu…' pikir Lucy. Gadis itu merasa kebingungan sekarang, tentang bagaimana ia akan menyelinap ke hutan mulai dari sekarang, dan juga bagaimana reaksi Natsu tentang malam ini. Ia takut Natsu akan menyarankan bahwa mereka tidak usah bertemu lagi seperti yang dulu ia ajukan. Lucy tidak tahan harus berfikir menjalani hidupnya tanpa Natsu. Sekitar 2 minggu sejak ia bertemu Natsu pertama kali, dan sejak itulah hidupnya terasa berwarna, sebelumnya Lucy selalu melihat semuanya dengan hitam dan putih. Tidak ada hal yang membuatnya bersemangat, pujian orang-orang akan wajahnya yang cantik mirip dengan ibunya, celotehan pelayan saat memuji pakaian Lucy yang mewah saat mendandaninya, atau juga segala kursus dan pelajaran yang ia terima tentang cara menjadi bangsawan yang baik dan benar sejak ia dapat mengingat, semuanya terasa tidak penting bagi gadis kecil itu.
Ia hanya ingin bermain, bahagia, dan merasakan hangatnya kasih sayang ayah dan ibunya. Tetapi semua hal itu tidak dapat ia rasakan, dan sejak ada Natsu masuk ke dalam hidupnya, seluruh kegiatan mereka bercerita tentang hidup masing-masing, cerita Natsu tentang bagaimana cara bertahan hidup di hutan, atau juga bercandaan Natsu yang selalu membuatnya tertawa, Lucy merasakan momen-momen tersebut jauh lebih berharga baginya daripada seluruh kehidupan yang telah ia jalani. Meskipun belum juga sehari, Lucy merasa telah kangen dengan senyuman tulus yang Natsu keluarkan setiap mereka bertemu.
Dengan pikiran penuh dengan anak laki-laki berambut pink, Lucy pun tertidur.
Kediaman Heartfilia pada hari itu berlangsung seperti biasa, senja yang mulai turun membuat taman beserta dinding Puri Heartfilia tampak seperti bermandikan cahaya oranye-keemasan, kebanyakan orang akan berpendapat Puri ini sangat indah, tetapi bagi Lucy, tempat ini seperti penjara.
Lucy saat ini sedang duduk di kursi berwarna putih yang penuh dengan ukiran bunga, kedua iris cokelat hangatnya menatap ke pemandangan taman belakang kediaman Heartfilia dengan acuh tak acuh. Di depannya terdapat meja berwarna putih dengan ukiran sama seperti kursi yang ia duduki, meja itu penuh dengan berbagai macam kue dan peralatan minum teh.
Gadis itu tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di gazebo taman belakang ini, ia sebenarnya sudah merasakan tubuhnya pegal Karena terlalu lama duduk, tapi entah ia tak ingin beranjak dari situ, ia enggan masuk ke dalam bangunan di belakang yang ia sebut 'rumah.'
Seperti robot Lucy mengambil cangkir di depannya, tanpa melepaskan pandangan dari pemandangan taman yang sudah ia kenal sejak dulu, ia mengangkat cangkir mewah tersebut dan meminum tehnya. Cairan hangat dan manis tersebut membuat pikiran Lucy berputar kembali, mengingat tentang temannya yang sudah tidak ia temui beberapa hari, Natsu.
Ia takut membayangkan Natsu kecewa karena ia tidak bisa menyelinap keluar untuk bertemu dengannya. Sejak ia ketahuan, ayahnya menugaskan hampir semua penjaga dan pelayan untuk memantau gerak gerik Lucy, bahkan gadis kecil itu bersumpah kalau jendela kamarnya tidak pernah terbuka dan selalu terkunci rapat sekarang. Bahkan saat ini ia bisa merasakan pandangan pelayan yang berdiri di belakangnya, pelayan yang biasa mengasuh Lucy, Laki sekarang jadi jarang ditugaskan untuk mengurus Lucy, gadis itu berfikir mungkin ayahnya menganggap kelalaian Laki dalam mengasuh Lucy yang membuat anaknya itu bisa kabur.
Lucy sekarang harus menghadapi seorang wanita tua dengan badan gempal dan wajah masam sebagai pengasuh, Lucy bahkan tidak ingat siapa nama wanita tersebut. Menghela nafas, tangannya yang mungil meraih ke arah kue yang dihidangkan baginya. Macaroon, salah satu kue yang Lucy sukai, tetapi Lucy sendiri jarang memakan Macaroon karena kue tersebut didatangkan dari negeri seberang sehingga keberadaannya di Fiore bisa terbilang langka dan harganya juga mahal. Lucy merengut kesal karena menyadari Ayahnya sangat ingin ia tidak macam-macam sampai mendatangkan kue kesukaannya ini.
Lucy menggigit Macaroon berwarna cokelat, rasa cokelat almond dengan filling lembut di dalamnya tidak membuat gadis itu bahagia seperti biasanya. Pikiran Lucy melayang kembali ke arah Natsu, ia merasa kesepian dan rindu sekali dengan temannya itu, tetapi ia setiap hari telah merencanakan bagaimana agar dapat mengendap keluar Puri Heartfilia dan selalu kecewa karena di pintu kamar depannya ada seorang penjaga yang berdiri menjaga kamarnya. 'Pasti ada yang dapat kulakukan,' pikir Lucy.
Setelah Macaroon nya habis Lucy meminum tehnya dan kemudian bangkit dari duduknya. 'Mereka tidak akan bisa mengurungku selamanya, pasti akan ada jalan agar aku dapat keluar dari sini,' dengan pikiran tersebut Lucy melangkah keluar gazebo dan berjalan ke arah rumahnya, tidak peduli pelayannya mengikuti atau tidak.
Meskipun Lucy telah bertekad untuk menemukan celah agar ia dapat pergi keluar, tetapi gadis tersebut tidak dapat melakukannya karena keesokan harinya ia harus pergi ke daerah sebelah dengan ayahnya untuk bertamu menemui salah satu teman bangsawan kepala keluarga Heartfilia tersebut. Lucy sendiri tidak terlalu memperhatikan segala hal disekelilingnya saat bersiap siap maupun saat kereta kuda mulai berjalan membawa dirinya dan ayahnya menjauhi kediaman Heartfilia.
Begitu juga saat mereka sampai ke dalam mansion teman Jude Heartfilia. Tetapi Lucy tersadar saat teman ayahnya masuk ke dalam ruang tamu dan seorang gadis berambut biru muda mengikutinya dari belakang. "Hai Jude, sudah lama kita tidak bertemu ya," sapa pria yang Lucy tahu sebagai teman ayahnya. Jude mengeluarkan senyumnya yang langka dan menjabat tangan pria didepannya. "Tentu saja Yoshi, aku selalu menanti kapan aku dapat menemuimu lagi," jawab Jude. Pria bernama Yoshi tersebut tertawa pelan, dan berkata "Formal sekali, yah aku tidak dapat menyalahkanmu. Oh ya.." Yoshi kemudian memegang pundak gadis kecil di sebelahnya, membuat kedua tamunya mengarahkan perhatian kepada anak tersebut.
"Kenalkan ini anak keduaku, Yukino," Yoshi berkata. Merasa namanya disebut, gadis tersebut mengangkan roknya dan membungkuk dengan gerakan terlatih dan berkata "Yukino Agria, senang bertemu dengan anda." Lucy terkejut melihat tata karma anak didepannya jauh lebih anggun dan suaranya juga lebih lembut daripada dirinya, ingatan tentang dirinya yang selalu mengeluh dan tidak peduli saat pelajaran tata karma bangsawan muncul dan Lucy merasakan pipinya memerah karena malu.
"Senang bertemu denganmu Yukino, dan ini anak tunggalku, Lucy," Jude berkata sambil memandang ke arah anak gadisnya. Lucy pun meniru gerakan Yukino dengan lebih kaku dan mengeluarkan suara yang ia harap sebagus anak di depannya, "Saya Lucy Heartfilia, senang bertemu dengan anda."
Yoshi Agria tersenyum, dan berkata pada Jude, "Kau memiliki anak yang cantik sekali Jude." Lawan bicaranya tersenyum sopan dan berkata, "Anakmu juga Yoshi, dimana istri dan anakmu yang satu lagi?" Senyum Yoshi memudar sesaat sebelum kembali ke wajahnya, "Ah, sang nyonya sedang di kamarnya, akhir-akhir ini ia sedang tidak enak badan sedangkan Sorano…entah kemana anak itu, padahal aku sudah menyuruhnya untuk ikut menyambut tamu kita," jawab Yoshi sedikit kesal saat berbicara tentang anaknya yang lain, Sorano.
Lucy pun sedikit penasaran, anak di depannya Yukino terlihat kalem dan sopan, tetapi sepertinya anak bernama Sorano ini jauh berbeda dengan Yukino. Setelah berbasa basi singkat Jude dan Yoshi berjalan kearah ruang kerja kediaman Agria, sedangkan Lucy dan Yukino disuruh untuk bermain di kamar Yukino.
Dengan sedikit canggung Lucy menatap anak sebaya yang ada di depannya, Yukino sendiri juga tampak sedikit bingung, terlihat jelas bahwa ia jarang mendapat tamu, apalagi seorang anak-anak dan ia harus menghibur tamu tersebut. Setelah kedua ayah mereka hilang dari pandangan dan mereka diam beberapa saat, Yukino pun berkata, "Mari kuantar ke kamarku." Lucy mengangguk dan memperhatikan dengan sedikit kesal karena ternyata memang suara Yukino selembut itu.
Yukino mulai melangkah dan Lucy menghela nafas, gadis itu pun mengikuti Yukino dan mau tak mau berfikir bahwa gadis di depannya tidak akan semenarik Natsu.
‹•›‹•›‹•›‹•›‹•›‹•›
Yup cukup sekian chapter kali ini, singkat dan boring I know. Tapi chapter ini lebih ke arah transisi dimana Lucy dan Natsu menjalani hari mereka tanpa bertemu. Trust me I know what to do about their fate. Meski begitu aku belum tahu akan membuat Natsu dan Lucy menjadi lebih dark ataukah sama seperti canon, karena FT sendiri lebih ke arah semua umur jadinya sifat karakter utamanya tidak ada yang dark. Tetapi aku berniat membuat fanfic ini untuk pembaca remaja dan young adult, let me know about your opinion in review!
Terima kasih yang udah fav, follow dan review ya, semua usaha kalianlah yang tetap membuatku semangat untuk melanjutkan cerita ini! Sankyuu~
