Halo haloo, ketemu lagi dengan kisah Celestial's Dragon dengan saya Flowrindesu (aka HikariNoMikan). Author's note kali ini nggak panjang-panjang kecuali ucapan terima kasih kepada reviewer chapter lalu yaitu mihawk607, hikanee, dan Nashi Dragneel23 (Love ur username!) dan semua yang telah pernah mereview, fav, atau follow. Seperti janji saya, saya tidak meninggalkan fic ini, dan akhirnya belum juga seminggu udah hadir lagi kan updatenya! *Horrayy* mumpun kuliah libur dan ide masih kenceng ;).
Sekian A/n dari saya, ini adalah chap 6 selamat membaca
AU,OOC,Typo
Sudah beberapa hari sejak Lucy tinggal di kediaman keluarga Agria, dan pendapat Lucy tentang kesehariannya yang membosankan tentulah benar. Setiap hari kegiatan Lucy hanya terdiri dari bangun pagi, mandi, berganti pakaian yang layak untuk ditunjukkan kepada keluarga Agria tetapi juga kesannya tidak terlalu formal, kemudian sarapan bersama ayahnya dan seluruh keluarga Agria, kemudian disuruh bermain dengan Yukino.
Saat ini pun Lucy sedang berada di veranda Mansion keluarga Agria, duduk manis sambil menunggu teman sebayanya datang. Di hadapannya terdapat meja yang lumayan besar untuk gadis kecil tersebut dan diisi dengan hidangan dan peralatan untuk jamuan minum teh. Lucy menatap ke arah kursi yang berhadapan dengannya, saat pertama mengenal Yukino Lucy kira anak itu tidak menyukai hal-hal girly, tetapi ternyata Yukino suka mengkoleksi boneka-boneka bulu seperti beruang, kelinci, kucing, dan sebagainya. Dan saat ini pun kursi di hadapan Lucy yang seharusnya tempat Yukino duduk sedang dipenuhi oleh boneka gadis itu.
Omong-omong soal temannya itu… seharusnya Yukino telah tiba 10 menit yang lalu untuk minum teh dengan Lucy, tetapi masih tidak ada tanda-tanda seseorang berambut biru muda mendatanginya. Lucy menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, merasa canggung duduk sendirian dengan seorang pelayan yang berjaga di belakang. 'Bukan berarti aku senang bermain dengannya….'pikir Lucy.
Meskipun kesibukan mereka terlihat monoton, Lucy harus mengakui bahwa Yukino bukanlah seorang anak bangsawan sombong dan manja seperti kebanyakan orang, ia lembut dan halus tutur katanya, tetapi pemalu, meskipun mereka telah bermain bersama selama beberapa hari, masih banyak hal yang Lucy tidak ketahui tentang temannya tersebut, ia merasa anak berambut biru muda itu masih tidak mempercayainya, bukannya Lucy sakit hati, ia sendiri juga masih memiliki banyak cerita yang tidak pernah ia ungkit pada Yukino. Tetapi beberapa hal mau tak mau membuat Lucy penasaran, terutama kebiasaannya menghilang saat selesai makan siang sampai pada jam minum teh,
Gadis berambut pirang itu menghela nafas, memikirkan kebiasaan Yukino yang sedikit aneh baginya, pernah ia bertanya apa yang Yukino lakukan pada jam-jam tersebut dan Yukino hanya menjawab lirih bahwa ia ada pelajaran yang harus diikuti. Di Fiore semua anak bangsawan tidak meraih pendidikan di sekolah tetapi melalui homeschooling dengan guru-guru paling berkualitas, biasanya seorang anak homeschooling mulai dari umur 6 tahun sampai dengan 15 tahun apabila bagi laki-laki dan 12 tahun bagi perempuan. Pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran dasar beserta pelajaran tata karma, sedangkan bagi anak perempuan ada pelajaran keterampilan seperti merajut, menyanyi, dan melukis, sedangkan yang laki-laki diperbolehkan belajar alat music, melukis, astronomi, fisika, kimia, dan matematika lanjutan.
Tetapi Lucy ingat sekali bahwa sejak awal Juni sampai dengan Agustus, pelajaran tersebut diliburkan karena liburan musim panas. Bagi para keluarga bangsawan liburan musim panas bukanlah waktu untuk bersantai, karena saat musim panas akan ada banyak undangan pesta untuk bersosialisasi dengan sesama keluarga bangsawan dari seluruh negeri Fiore, perkenalan keluarga yang ingin menjodohkan anaknya dengan keluarga lain, acara menginap antar teman seperti yang ayahnya dan Lucy lakukan sekarang, acara amal, serta festival terbesar di negeri Fiore, Festival Raja Naga. 'Aku baru tahu ada guru yang berani mengurangi waktu musim panas muridnya, terlebih lagi pada saat keluarganya mendapatkan tamu teman bangsawan,' pikir Lucy. 'Yah asalkan bukan aku yang harus belajar.'
Semakin bosan Lucy pun duduk bersandar pada kursinya, dan merasa bahwa bahwa Yukino telat terlambat lebih dari 20 menit sekarang. Perasaan kesal pun mulai menjalar dan Lucy berdiri hendak pergi ke kamar tamu yang telah disediakan untuknya, saat ia menoleh ke arah pintu untuk pergi, muncullah seorang gadis berambut biru muda pendek berjalan tergesa-gesa ke arahnya dengan nafas tersengal-sengal, Yukino.
"Ah maafkan aku!" Yukino berseru dengan nada memelas. Mata cokelatnya yang sedikit lebih tua daripada warna mata Lucy terlihat lelah tetapi juga penuh penyesalan, tak perlu menjadi jenius bagi Lucy untuk tahu bahwa Yukino tadi berusaha secepatnya untuk memenuhi acara minum teh mereka. Perasaan kesalpun hilang dan Lucy tersenyum canggung, tak ingin anak di depannya sedih, "Tidak apa-apa… uh pelajarannya sulit ya?" Tanya Lucy berusaha mengalihkan perasaan bersalah Yukino.
Tak disangka pandangan Yukino berubah menjadi kaget dan termenung, 'Oke ini aneh,' pikir Lucy. Beberapa detik kemudian seolah tak terjadi apa-apa Yukino tersenyum dan kemudian menjawab, "Ah iya, sulit sekali. Guruku juga bukanlah guru paling baik sedunia." Lucy ingin sekali bertanya apakah benar begitu tetapi memutuskan untuk mengikuti jawaban Yukino, apapun hal yang disembunyikan anak di depannya pastilah bukan hal untuk Lucy ketahui, dan sejujurnya Lucy tidak begitu tertarik dengan kehidupan Yukino.
Lucy pun melikir ke arah kursi tempat Yukino seharusnya duduk dan berkata, "Karena kau sudah disini, ayo sekarang kita minum teh." Yukino mengangguk, mereka berdua pun duduk saling berhadapan dan saat isapan teh pertama menyentuh kerongkongan mereka, insiden yang barusan terjadi pun hampir terlupakan.
"Hufftt…" seorang anak laki-laki menghembuskan nafas lelah. Musim panas di Fiore memang terkenal sangat panas tetapi lebih terasa lagi apabila hidup di kota bernama Magnolia. Entah telah berapa kali pemuda itu mengeluh tentang cuaca, jikalau pada musim lainnya dia sangat bersyukur tentang suhu badannya yang secara natural telah hangat, tapi sekarang ia merasa suhu tubuhnya berkomplot dengan cuaca untuk membakarnya hidup-hidup.
Anak itu berhenti sebentar dari pekerjaannya, membajak sawah di pagi yang panas ini bukanlah hal yang sebenarnya ia ingin lakukan, tetapi ia harus melakukan hal ini apabila ingin mendapatkan makan malam. Ia menyeka keringat dari dahi dan menjauhkan rambut pinknya agar dirinya tidak merasa gerah, betapa inginnya anak itu agar jam makan siang segera tiba. "Natsu!" seorang pria tua berdiri di pematang sawah tak jauh dari pemuda bernama Natsu tersebut. Yang dipanggil menoleh dan menunjukkan senyum lebar khasnya.
"Yo pak tua!" Seru Natsu. Pria tua tersebut menunjukkan wajah sedikit tidak suka disebut "Pak tua" tapi tidak memprotes, ia berkata, "Bagaimana pekerjaanmu? Kau terlihat sedikit kesulitan." Natsu pun menunjukkan wajah sebal dan menyilangkan kedua tangannya di dada, "Aku pasti sudah selesai kalau cuacanya tidak sepanas ini," jawabnya.
"Yah mungkin kau sebaiknya mencopot scarfmu," bapak tersebut menjawab sambil menunjuk ke arah scarf yang selalu Natsu pakai. Anak laki-laki tersebut langsung memegang scarfnya dengan protektif dan menjawab, "Tidak akan! Ini hal yang sangat berharga bagiku." Kakek tersebut mengeluarkan dengungan "Hmm.." dan kemudian berjalan menjauhi Natsu. "Baiklah, pokoknya jangan lupa kau harus selesai membajak semua sawahku sebelum sore," Katanya.
"Tentu saja serahkan padaku Pak Tua!" Natsu berseru dengan penuh percaya diri, setelah bapak tersebut tidak nampak ia menundukkan wajah, "Semoga saja aku masih hidup nanti," gumamnya dengan nada suram. Dengan enggan Natsu kembali melakukan aktifitasnya, sambil melamun mengenang hal apa saja yang telah ia lewati sejak pergi dari gua.
Tak terasa sudah hampir dua minggu sejak ia pergi dari gua yang disebut rumahnya dan mengembara ke arah barat, ia sendiri sebenarnya tidak memiliki peta dan tidak tahu dimana tempat yang menjadi tujuannya, tetapi perintah ayahnya agar pergi ke "Lembah hitam" lah yang terus membuatnya melangkah. Natsu sendiri tahu dirinya tidak mengetahui apapun soal menempatkan diri di masyarakat, terlebih ia hanya anak kecil tanpa keahlian kecuali kekuatan dan tenaga yang ia latih setiap hari di hutan. Akhirnya setelah bekalnya habis (Natsu bukanlah orang yang suka berjaga-jaga sehingga hanya membawa sedikit makanan) Natsu mendapati dirinya berjalan di desa dengan perut keroncongan, ia memperhatikan orang-orang memberikan logam berbentuk bulat dan juga potongan seperti kertas dengan gambar khas untuk mendapatkan makanan. Ia sendiri tidak memiliki keduanya sehingga akhirnya hanya duduk terdiam di sudut desa sambil memegangi perutnya.
Entah berapa lama ia duduk disitu kehilangan tenaga, hingga seorang kakek tua yang melewatinya berhenti, dan kemudian membawanya kerumah. Sama seperti saat bertemu dengan Lucy pertama kali, ia bertingkah kasar dan berusaha terlihat berbahaya dengan kakek itu, tetapi ia tidak takut sama sekali dan malah tertawa kecil. Setelah penuh kesulitan akhirnya kakek tersebut bisa membuat Natsu berbicara, ia juga mengajarkan bahwa logam dan kertas tersebut adalah uang, dan untuk membeli makanan ia harus mendapat uang.
Natsu terlihat sangat tertarik dan akhirnya menyuruh kakek tersebut bercerita tentang apa saja yang dilakukan masyarakat normal, meskipun sedikit merasa aneh, kakek itu pun menceritakan semua yang ia dapat katakan bahkan akhirnya menawari Natsu tidur di rumahnya dan sempat menawarkannya makanan gratis, tetapi Natsu tidak mau dan ingin diberi hal yang disebut dengan uang. Pria tua tersebut berkata apabila seseorang ingin uang, maka ia harus bekerja, Natsu pun berkata "Kalau begitu pekerjakan aku!" sehingga disinilah ia sekarang, setiap hari membantu pria tua tersebut untuk beberapa koin dan satu uang kertas. Untungnya kakek tersebut tinggal di pinggiran desa dan beliaulah yang mengurusi segala hal yang berhubungan dengan sosialisasi kepada masyarakat desa, sehingga Natsu tidak perlu menggunakan tenaganya untuk mengerti tentang hubungan sosial yang membingungkan.
Natsu membajak sawah sambil berusaha bersiul, mengingat ketika ayahnya melakukannya saat bosan. Ia sendiri tidak pernah protes tentang pekerjaannya, karena pria tua tersebut hanya membutuhkan tenaga dan otot, dua hal yang Natsu handal lakukan. 'Tetapi sialan, cuacanya terik sekali,' pikir Natsu. Berusaha memikirkan sesuatu agar perhatiannya tidak tertuju pada cuaca, mau tak mau Natsu memikirkan seseorang yang akhir-akhir ini selalu masuk ke dalam pikirannya. Lucy… saat akan pergi, malam harinya Natsu menunggu temannya itu seperti biasa tetapi ia tidak pernah menampakkan diri.
Merasa bingung dan sedih Natsu memutuskan untuk menunda keberangkatannya sehari lagi, tetapi sama seperti sebelumnya, tidak ada gadis berambut pirang muncul. Natsu tidak pernah mengira akan merasakan perasaan seperti saat dirinya ditinggalkan oleh ayahnya, tetapi saat ia merebahkan diri di kasur buatannya perasaan sedih dan ditinggalkan mulai menimpanya bertubi-tubi, pertama ayahnya sekarang Lucy… Natsu sendiri telah berjanji pada dirinya kalau tidak akan menangis lagi karena menurutku menangis membuatnya lemah, tetapi mau tak mau beberapa bulir air mata jauh ke pipinya, dengan marah ia berusaha menghapusnya dan memejamkan mata supaya tertidur.
Tanpa ia sadari Lucy telah menjadi hal penting yang masuk dalam kehidupan Natsu, dan gadis kecil itulah yang menghiburnya saat ia merasa kehilangan ayahnya. Saat ia tak menghilang Natsu tak tahu apa yang harus ia lakukan, tidak mungkin ia pergi ke kota dan mengunjungi rumah Lucy, karena setahu Natsu Lucy adalah anak salah satu orang penting, dan Lucy bercerita bahwa untuk mengendap-endap ke gua saja butuh perjuangan ekstra. 'Mungkin Lucy hanya tidak bisa menemuiku,' pikir Natsu berusaha menghibur dirinya, dengan alasan yang ia pikirkan tersebut, Natsu pun mulai tertidur. Keesokan harinya ia memutuskan untuk menulis pesan pada Lucy sebelum berangkat. 'Semoga ia melihatnya.'
Natsu sendiri tidak memiliki pikiran untuk meninggalkan temannya itu untuk selamanya, tidak, ia berfikir bahwa ia akan segera tiba di tempat yang dimaksud ayahnya, bereuni kembali dengan ayahnya, dan mereka akan pulang ke gua dan bertemu dengan Lucy kembali, kemudian mereka akan bahagia bertiga selamanya. Natsu pun tersenyum.
"BRUAKK!" Sebuah suara serta getaran di tanah yang dipijak oleh Natsu membuat anak itu terloncat kaget dan memasang posisi siaga. Dengan matanya yang tajam ia melihat ke sekeliling, di kejauhan ia melihat asap, "Apa itu?" ucap Natsu pada dirinya sendiri. Ia menopangkan tangannya ke atas dahinya dan kedua matanya sedikit menyipit agar dapat melihat dengan jelas, tidak puas, ia melihat ke kanan dan ke kiri berusaha menemukan kakek yang telah menampungnya.
'Hmmm, melihat sebentar tidak apa-apa mungkin,' pikir Natsu. Jiwa pemberontaknya bangkit dan ia mulai keluar dari tanah berlumpur yang sedari tadi ia tapak, awal mula pelan, ia kemudian semakin cepat berjalan dan akhirnya berlari menuju tempat dimana asap tadi terlihat. Tak terasa ia sudah berada jauh ke dalam hutan yang tak jauh dari sawah.
Tak sampai 50 meter dari tempat tersebut Natsu merasakan ada hawa mengerikan yang lari dengan cepat ke arahnya, dengan sigap Natsu melompat ke samping dan tak sampai sedetik kemudian sesuatu menubruk tempatnya tadi berdiri. 'Apa itu?'Pikir Natsu. Ia melayangkan pandangannya ke arah benda di dekatnya tersebut, benda itu besar, dan berbulu belang berwarna putih dan hitam, Natsu dapat melihat tekanan naik turun yang berarti itu bukan benda, tapi sesuatu yang hidup. 'Hewan?' pikir anak berambut pink tersebut.
Tidak perlu waktu lama bagi Natsu saat melihat hewan tersebut menoleh ke arahnya dengan pandangan haus darah, untuk tahu ia memiliki dua pilihan untuk keluar dari situasi ini, berusaha lari atau diam dan bertarung. Dan Natsu selalu lebih suka memilih yang kedua, 'Yosh, seharusnya hewan ini tidak ada bedanya dengan semua hewan dan monster di hutan!' Pikir Natsu bersemangat. Sesaat kemudian dengan kecepatan yang sulit dipercaya, hewan tersebut berlari ke arahnya dengan taring dan cakar yang siap mencabik.
"Maju!" Seru Natsu, adrenalin mulai merasuk ke seluruh tubuhnya, sudah lama ia tidak menghadapi situasi ini sejak ia meninggalkan gua. Saat cakar hewan tersebut tinggal beberapa senti dari wajah anak laki-laki tersebut, dengan siap Natsu meloncat menghindar dan menarik bagian bulu yang ada di atas cakar hewan tersebut dan menghempaskan tubuhnya sehingga ia mendarat di bagian tengkuk hewan buas tersebut. Tanpa menunggu lawannyamengetahui keberadaannya, Natsu mengangkat kepalan tangannya dan menghajar hewan tersebut tepat di kepala.
Lolongan kesakitan keluar dari mulut hewan tersebut, dengan marah menggoyangkan kepalanya sehingga Natsu kehilangan keseimbangan dan jatuh. 'Dia lebih tangguh dari yang kukira..' pikir Natsu sambil menyeka keringat yang menetes di dahinya. 'Baiklah, aku akan menggunakan itu!'
Pandangan hewan buas itu tertuju pada Natsu, dan anak itu sadar bahwa lawannya sekarang sudah sangat marah, apabila ia terkena serangan sekali saja bisa-bisa itu akan mengakhiri hidupnya. Kali ini dengan tenaga dan kecepatan melebih yang pertama hewan buas tersebut maju ke arah Natsu dari depan, Natsu memasang kuda-kuda dan ia mulai memanggil tenaga dalamnya, sebuah kilatan api mulai muncul dari kedua tangannya, mula-mula hanya seperti cahaya lilin namun kemudian semakin membara seperti api unggun. Saat jarak lawannya sudah dekat ia menghindar ke samping, dan dengan gerakan gesit melayangkan tinju ke arah perut hewan buas tersebut dari samping.
"Rasakan ini!" Seru Natsu, hewan tersebut melolong lebih keras dari sebelumnya sebelum kemudian suasana menjadi hening. Natsu berdiri menatap lawannya selama beberapa saat sebelum memutuskan bahwa setidaknya hewan buas itu telah pingsan, ia kemudian menatap tangannya yang ia gunakan untuk meninju. Kobaran api samar masih muncul dari kedua tangannya, dan Natsu memperhatikan bahwa tenaga pukulan sedikit lebih lemah dari biasanya, 'Aku butuh berlatih lagi,' pikir Natsu sedikit kesal.
"Wah lumayan juga," sebuah suara membuat Natsu menoleh dan waspada kembali, seketika itu juga berkonsentrasi agar api di kedua tangannya padam. Irisnya menangkap siluet seseorang berdiri tak jauh darinya, Natsu menyipitkan matanya berusaha melihat orang tersebut lebih jelas tetapi tidak berhasil karena pepohonan yang cukup lebat menutupi identitas orang tersebut. Tapi anak berambut pink itu tidak perlu penasaran lebih lama karena seseorang tersebut melangkah mendekati Natsu dengan langkah tegas tetapi siaga.
Kedua mata Natsu semakin membulat seiring orang tersebut melangkah mendekatinya, hal pertama yang Natsu perhatikan adalah rambutnya yang berwarna merah membara, kemudian tubuhnya yang ramping seperti Lucy yang menunjukkan ia perempuan, dan kemudian terlihat bahwa ternyata ia juga masih muda hanya berbeda mungkin 2 tahun dari Natsu. Tetapi berbeda dengan kawannya Lucy yang terlihat lemah dan lembut, anak perempuan tersebut lebih tinggi dari Lucy bahkan Natsu dan memiliki aura kuat, ditambah ia memakai baju zirah yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali kakinya yang dibiarkan terbuka dengan rok pendek berwarna biru, membuat siapapun yang melihatnya langsung tahu bahwa seharusnya jangan macam-macam dengan anak ini.
Kedua anak tersebut saling menatap dengan sisi Natsu yang menggunakan sikap mengancam sedangkan anak tersebut mendekap kedua tangannya di dada, terlihat tidak ingin menyerang tetapi pandangannya terfokus pada Natsu. Risih dengan keheningan yang menyesakkan tersebut Natsu membuka pertanyaan, "Siapa kau?"
Anak perempuan di depannya tersenyum seolah senang Natsu berbicara. "Aku Erza, pengguna Armor Magic, bagaimana denganmu?" Jawab anak bernama Erza. Natsu menekuk kedua alisnya dengan pandangan bingung, "Armor Magic?" tanya Natsu berusaha mengerti apa yang Erza katakan.
"Aku adalah penyihir sama sepertimu, dan berbeda denganmu aku menggunakan sihir baju besi sehingga aku dapat mengganti baju besi dengan berbagai macam model dan elemen. Jurus yang kau gunakan tadi sihir api bukan?" Erza menjelaskan sambil menaikkan sebelah alisnya, menunggu Natsu untuk ganti menjelaskan. Tetapi Natsu hanya menatapnya bingung.
Gadis berambut merah tersebut menghela nafas, "Dengar, api yang keluar dari kedua tanganmu untuk mengalahkan Panda raksasa disana… itu adalah sihir, sama sepertimu aku juga dapat menggunakan sihir hanya dalam bentuk lain," ia berusaha menjelaskan. 'Satu lagi anak yang tidak tahu kekuatannya, ia harus dibawa ke master Makarov,' pikir Erza.
Natsu sekarang menatap ke arah hewan yang ternyata bernama Panda tersebut kemudian menunduk memandang tangannya, terlihat berfikir keras. "Aku diajarkan jurus ini oleh ayahku, tetapi aku tidak tahu bahwa ini sihir…" gumam Natsu lebih kepada dirinya sendiri. Ia kemudian menatap Erza, "Lagipula apa itu sihir? Aku belum pernah dengar hal seperti itu," tanyanya.
Erza menggelengkan kepala dan berusaha menjawab sebelum seseorang mendekatinya dari belakang. "Hoi," sapa orang tersebut pada Erza. Syaraf Natsu kembali menegang saat tahu ada orang lain yang mendekat, siaga apabila kedua orang di depannya ternyata bekerja sama untuk mengalahkannya. Orang yang mendekati Natsu dan Erza adalah anak laki-laki dengan tinggi sama seperti Natsu, dengan rambut berwarna hitam dan mata hampir segelap rambutnya, tetapi berbeda dengan kedua anak di dekatnya laki-laki ini tidak memakai baju dan hanya memakai celana panjang tipis.
"Oh kau Gray," gumam Erza tidak tertarik. Kedua iris cokelatnya yang sekilas menatap Gray kembali terfokus pada Natsu, "Ini Gray, ia juga bisa menggunakan sihir, tetapi kebalikannya denganmu ia menggunakan elemen es," kata Erza. Natsu kembali berfokus pada Erza meskipun masih waspada. Gray yang merasakan aura tidak enak dari laki-laki di depanny mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Woa, tenanglah kami bukan musuh. Justru kami senang menemukan seseorang seperti kami."
"Apa yang membuat kalian berfikir aku percaya dengan omong kosong ini?" Natsu bertanya. Tiba-tiba sedetik kemudian ia telah terjungkal dan terseret beberapa meter sebelum menubruk pohon di belakangnya, nafas Natsu tersengal-sengal, meskipun pipinya terasa sakit dan kepalanya terasa pusing ia berusaha bangkit dan menatap kedua orang di depannya. "Hei apa-apaan?!" Serunya marah.
Tetapi pemandangan di depannya membuatnya lupa akan kemarahannya dan berganti dengan kekaguman. Sebuah jalur es telah terbuat tepat di depannya dan terus lurus sampai akhirnya berhenti di depan Gray yang telah maju ke tempat Natsu tadi berada, anak berambut pink tersebut menatap tangan kanan Gray yang masih dalam pose memukul terbungkus sebagian oleh es. "Sekarang kau percaya?" Tanya Gray dengan nada sedikit menantang dan senyuman sinis.
'Kenapa sih dengan orang ini?' Pikir Natsu, ia memutuskan bahwa dirinya tidak begitu menyukai Gray, sedangkan Erza ia tidak tahu bagaimana pendapatnya tentang gadis itu, ia menatap Erza di belakang Gray yang masih mendekap kedua tangannya di dada, menatap mereka berdua dengan sedikit penasaran. "Atau kau ingin merasakannya lagi?" Ucapan Gray membawa pandangan Natsu kembali pada laki-laki berambut hitam di depannya.
"Ugh tak usah," kata Natsu sambil berdiri. 'Ow, sakit sekali…' pikirnya. "Baiklah anggap saja aku percaya, lalu apa yang kalian inginkan dariku?" Tanya anak berambut pink tersebut, kedua iris onyxnya menatap dua 'penyihir' di depannya dengan kesal.
Erza melangkah maju dan berhenti di samping Gray yang sekarang berdiri dengan tangan bebas es. "Maukah kau bergabung dengan Guild kami?"
Sementara itu di di Mansion Keluarga Agria
"Yu, Yukino!" Seru Lucy dengan kedua iris cokelatnya membelalak menatap kawan musim panasnya. Gadis berambut biru muda tersebut, Yukino juga menatap Lucy dengan pandangan kaget dan takut, "Lucy!" Serunya.
Lucy kemudian menatap sekelilingnya, ia tidak tahu mana yang membuatnya paling kaget, wajah Yukino yang terlihat ketakutan, tangannya yang memegang kunci besar berwarna emas dengan ukiran yang akan membuat Lucy kagum kalau saja dalam situasi lain, dan hal yang membuatnya paling takut, dua buah ikan dengan ukuran raksasa berwarna hitam dan putih berada di samping Yukino, dengan kedua pasang mata besarnya menatap Lucy dengan pandangan yang gadis itu rasa mengerikan.
Baik Lucy maupun Yukino hanya membeku dan tidak berkata apapun, saat Lucy berfikir bahwa situasi ini tidak lebih aneh lagi, salah satu dari kedua ikan raksasa tersebut membuka mulutnya dan mengeluarkan kata-kata, "Apakah kau kerabat dari Layla Heartfilia?"
Oho the plot's thickening, saya ngasih bocoran bahwa kisah ini TIDAK berpusat pada masa kecil Natsu dan Lucy, saya rasa perlu sekali memberi beberapa chap untuk masa kecil karena hal-hal disinilah yang menjadi fondasi dari kisah mereka nantinya. Jadi tenang aja, sekarang memang terlihat seperti adventure dan fantasy tapi nanti bumbu romancenya ada saat mereka dewasa, meskipun menurutku sekarang mereka juga udah kena puppy love (Kyaa so cute~~).
See you next chap! Please review!
