Haiii semuuaaaa dengan Flowrindesu, maafkeun aku karena tidak mengupdate cerita ini, entah kenapa down lihat chap terakhir tidak ada feedback dari pembaca semua, memang fanfic abalku jelek banget ya T_T.

Tapi! Beberapa bulan kemudian ada yang following storyku, aku jadi feel bad karena sempet down, ternyata masih ada yang care sama fic abal ini! Akhirnya dengan semangat aku lanjutkan dan hadirlah chapter 7 ini! Di sini aku timeskip Lucy dan Natsu sudah dewasa! Horrayyyyy! Di sinilah plotnya mulai cepat, tanpa basa-basi lagi happy reading!

Warning : AU, OOC, Typo, Abal

Read and Review


Chapter 7

Oak Town, Fiore 784

"Agak ke timur sedikit….." Seorang gadis sedang sibuk menempelkan mata sebelah kanannya ke teleskop. "Sedikit lagi, yak…" ia bergumam sendiri, balkon marmer berwarna putih dan hembusan angin malam menjadi saksi monolognya. Alis saling bertaut dan wajah penuh konsentrasi tidak menurunkan kecantikan wajahnya. Tiba-tiba, gadis itu melonjak senang dan semakin memepetkan wajahnya ke arah teleskop. "Oh ketemu-ketemu! Akhirnya!" Gadis itu berseru. Setelah beberapa lama melihat ke satu arah ia menjauhkan wajahnya dari teleskop dengan wajah puas. "Rasi bintang Lyra, memang tidak salah malam ini memang baik," ia berkata senang.

Ia berbalik dan rambut pirang panjangnya berayun mengikuti gerakan tubuhnya (Bayangkan panjangnya seperti FT timeskip). Gadis itu adalah Lucy, hilang sudah keimutannya saat kecil, kini setelah beberapa tahun, kecantikannya telah terkenal di daerah tersebut dan beberapa daerah tetangga, ditambah lagi Lucy diberkahi dengan tubuh yang langsing dan kencang serta dada yang berisi, membuatnya menjadi dambaan para lelaki di daerahnya. Lucy berjalan ke dalam kamarnya sambil menenteng teleskopnya, meskipun cuaca cerah dan tidak mungkin hujan ia tak ingin meninggalkan teleskop berharganya begitu saja semalaman meskipun ia sudah mengantuk karena begadang mencari rasi bintang.

Setelah meletakkan teleskopnya di sudut kamarnya yang besar, ia berjalan ke tempat tidurnya dan langsung merebahkan diri. Lucy menghela nafas lelah, dengan gelisah ia bolak balik memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil menutup mata berharap ia tertidur, tapi tidak berhasil. Dengan kesal Lucy duduk dan meraih laci sebelah tempat tidurnya. Setelah mencari di tempat yang agak dalam, ia menemukan yang ia cari, dengan bersemangat ia mengeluarkan sebuah kunci berwarna silver dengan ukiran rumit yang membentuk sebuah jam.

"Gerbang waktu, aku memanggilmu, Horologium!" Lucy berseru dengan suara berbisik supaya tidak ada yang mendengarnya. Kunci yang ia pegang bercahaya dan menghilang, di depannya sebuah jam besar muncul, dengan tangan, kaki serta wajah dan kumis, "Uhu," kata jam tersebut. Lucy tersenyum menatapnya dan berkata, "Halo horologium." Jam bernama Horologium tersebut menatap Lucy dengan matanya yang segaris, "Apa yang bisa aku lakukan untuk nona Lucy?" tanyanya dengan santai dan mendayu-dayu, Lucy tersenyum kecut, sampai sekarang ia masih tidak terbiasa dengan gaya bicara jam tersebut. "Aku tidak bisa tidur, apakah kau mau bernyanyi untukku?" Lucy bertanya.

Horologium masih memandangnya dengan wajah datar, tapi mengangguk. "Apakah nona juga ingin masuk ke dalam jam seperti dulu?" tanyanya. Wajah Lucy memerah dan dengan cepat ia menggelengkan kepala, "Itu dulu saat aku masih kecil, sekarang aku sudah besar dan dapat tidur di ranjangku sendiri," jawabnya. Lucy kemudian kembali merebahkan diri dan menatap Horologium, menunggu jam tersebut bernyanyi. Sebuah suara gumaman yang berirama kemudian memenuhi ruangan tersebut, sebenarnya Horologium bukanlah seorang penyanyi, ia hanya bergumam dengan irama yang pas, meski begitu Lucy tidak masalah dan menganggap gumaman jam tersebut selalu membantunya tidur.

Lucy menatap langit-langit kamarnya dan melamun saat ia menemukan rahasia teman kecilnya Yukino beberapa tahun yang lalu. Gadis itu tidak menyangka bahwa dirinya berhadapan dengan satu hal yang tidak pernah ia akui, sihir. Yukino ternyata memiliki kekuatan sihir untuk memanggil Celestial Spirit, yaitu roh dari rasi bintang. Yukino saat itu panik dan berusaha membawa Lucy agar tidak kabur dan mengadu pada ayahnya, tapi hal itu dirasa tidak perlu saat ikan besar yang Yukino summon berkata "Apakah kau kerabat Layla Heartfilia?"

Selain kenyataan bahwa temannya adalah penyihir, hal paling mengejutkan Lucy adalah bahwa Celestial Spirit tersebut mengenal ibunya. Setelah itu kedua ikan besar tersebut memperkenalkan diri sebagai Pisces, dan merupakan Celestial Spirit yang telah mendampingi Yukino sejak dulu. Yukino dan Pisces menjelaskan padanya bahwa seorang Celestial Magician atau Penyihir Bintang, adalah seorang yang membuat kontrak dengan roh bintang supaya roh-roh tersebut mau membantu penyihir tersebut dalam berbagai hal, ada roh yang digunakan untuk menghibur, berberes rumah, bahkan membantu dalam bertempur. Saat tidak disummon, roh-roh tersebut akan hadir dalam perwujudan kunci, kunci-kunci tersebut dimaksudkan sebagai pembuka pintu antara dunia roh bintang dan bumi. Ada berbagai macam kunci dengan berbagai macam fungsi tersebar di dunia.

Dan ibu Lucy adalah salah seorang dari penyihir bintang. Lucy pada awalnya menolak semua penjelasan tersebut, terlebih tidak percaya apabila ibunya adalah penyihir. Tetapi Pisces menerangkan bahwa stigma terhadap penyihir di dunia ini tidaklah benar, dan penyihir sama seperti manusia biasa, hanya memiliki kekuatan khusus dan seharusnya tidak perlu ditakuti. Sejak saat itu Lucy dan Yukino sering berbicara mengenai Celestial Magic, dan Lucy kemudian teringat bahwa ibunya meninggalkan 3 kunci padanya saat meninggal, Lucy yang tidak mengetahui kegunaan kunci tersebut hanya menentengnya kemana-mana karena hal itu merupakan satu-satunya hal berharga milik ibunya. Para pelayan juga tidak berani memegang kunci tersebut karena kabarnya ibu Lucy sangat melindungi kunci-kunci tersebut apapun itu fungsinya.

Lucy kemudian mengambil kuncinya yang ia bawa di tas kopernya, kemudian bertanya apakah ini adalah kunci Celestial, dan ternyata jawabannya lebih dari perkiraannya. Tidak hanya itu adalah kunci Celestial Spirit, tapi diantara kunci-kunci tersebut ada sebuah kunci berlapis emas yang menandakan kunci tersebut adalah kunci untuk mensummon salah satu bintang dari 12 rasi bintang utama. Tanpa pikir panjang, Lucy memohon pada Yukino dan Pisces untuk mengajarinya Celestial Magic, ia seolah menemukan tujuan hidup terutama saat tahu ia dapat menapaki jejak ibunya.

Dan sejak saat itu Lucy belajar dan belajar untuk menjadi penyihir bintang, meskipun tanpa sepengetahuan ayahnya maupun semua orang di kediaman Heartfilia.

Lucy menutup matanya, kali ini melayangkan pikiran kepada Celestial Spiritnya. Saat ini ia memiliki 3 spirit warisan ibunya, Horologium yang sekarang ia summon, Plue, sebuah makhluk berbentuk snowman yang penakut, serta Aquarius, salah satu dari 12 Celestial Spirit utama. Diantara semuanya, yang masih tidak bisa ia kendalikan adalah Aquarius, Celestial Spirit tersebut tampaknya membenci Lucy, meskipun mengakui bahwa ibunya dulu pernah menitipkan Lucy padanya apabila ia telah tiada. Pertamanya Lucy merasa sakit hati dan sedih dengan sikap Aquarius, tapi setelah itu ia tetap berusaha agar spirit tersebut mau mengakuinya dan bekerja sama dengannya, meskipun sampai sekarang hal itu masih tidak sepenuhnya berhasil.

Lucy merasakan kelopak matanya mulai berat, dengan mengantuk ia berkata, "Jika aku sudah tidur, kau boleh pergi." Horologium membalas dengan gumaman tanda mengerti dan melanjutkan lantunannya sampai lelap menghampiri gadis tersebut.


Di pegunungan dekat Magnolia, Fiore

"Natsu awas!" Seorang gadis berambut merah bernama Erza berseru pada salah satu partnernya yang berambut salmon. Yang diteriaki melompat menghindar dari serangan yang ditujukan padanya. "Tenang saja Erza, serahkan padaku!" Natsu berkata dengan penuh percaya diri.

Di depan pemuda yang sekarang sudah mulai dewasa ada beberapa bandit yang berdiri ketakukan, seorang diantaranya berdiri paling depan dengan mengeluarkan sihirnya berusaha menyerang Natsu. "Cih tak kusangka kalian memiliki penyihir juga ya!" Seru Natsu kepada bandit-bandit tersebut. Kemudian pemuda itu menyeringai menunjukkan gigi-giginya yang putih, "Tapi tetap saja kalian bukan tandinganku! Sekarang rasakan sihirku, Dragon's Claw!" Seru Natsu sambil mengeluarkan sihir api yang ia kuasai, dengan cepat ia berlari menuju bandit pengguna sihir di depannya dan meninju wajahnya dengan keras, membuat lawannya jatuh terpelanting beberapa meter.

Natsu berhenti dan berdiri di tengah-tengah bandit yang sekarang semakin gemetar, dan berkata, "Ayo siapa lagi yang mau merasakan bogem mentahku?!"

"Ampuni kamiii…" para bandit itu berlutut lemas sambil memohon ampun, Natsu yang melihat tidak ada lagi yang menantangnya memandang mereka dengan kesal. "Kalian ini segitu saja sudah keok," gumamnya. "Natsu!" Erza berlari ke arahnya, saat sudah dekat wanita itu berkata, " Apa kau tidak apa-apa?"

Natsu menunjukkan jempolnya dan berkata dengan percaya diri, "Lihat saja, mana mungkin penjahat kacangan seperti ini bisa mengalahkanku!"

"Meski begitu kau jangan seenaknya duluan lari mengejar, kita seharusnya meringkus mereka dengan diam dan cepat!" Kata Erza sambil menjewer telinga Natsu dengan wajah galak. Natsu meringis kesakitan dan berkata, "Aduuududuh, lepaskaan,iyaa ampuunn Erzaa…"

"Kau ini tetap saja ya tidak pernah belajar," Seorang laki-laki berambut biru tua datang mendekati mereka dengan santai. "Apa kau bilang Gray? Kau sendiri malah lemot, kalau mereka kabur gimana?!" Natsu berseru padanya. Erza kembali menjewer Natsu dan berkata, "Kau tidak seharusnya memarahi partnermu yang sudah menjalankan prosedur, dasar tidak kapok-kapok ya!"

"Ampuuuunnn Erzaaaa!" Saat Erza sedang "menghukum" Natsu, dan Natsu memohon ampun pada gadis galak itu, Gray dengan sigap segera mengikat para bandit yang sedari tadi melongo menyaksikan kelakuan gadis menyeramkan dan seorang pemuda hiperaktif berinteraksi, kaget dengan sikap para penangkapnya yang tadi seram malah kekanak-kanakan.

Setelah selesai mengikat mereka, Gray menatap partner-partnernya dan berkata, "Sudah, ayo kita segera bawa mereka ke balai desa, kepala desa sudah menanti." Perkataan Gray membuat Natsu dan Erza menghentikan kegiatan mereka dan serius kembali. Tanpa bicara mereka berjalan menuruni gunung.

Beberapa saat kemudian, Erza, Gray, dan Natsu (serta para bandit) melihat desa yang mereka tuju, beberapa orang telah menanti kedatangan mereka dan bersorak senang saat melihat ketiga penyihir itu berhasil menangkap penjahat yang selama ini meresahkan warga desa. Sorakan-sorakan tetap mengiringi mereka bertiga sampai mereka tiba di balai desa dimana kepala desa telah menanti .

"Kerja bagus anak-anak," kata kepala desa yang sudah beruban sambil mengelus jenggotnya yang juga putih. "Saya selaku kepala desa Coconut mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena telah menangkap bandit gunung yang telah menjarah desa kami. Untuk itu terimalah upah atas jasa kalian," kata kepala desa. Seorang laki-laki menyerahkan sekantung koin emas kepada mereka, Erza dengan penuh wibawa maju dan menerimanya. "Kami juga berterima kasih karena desa ini telah percaya dengan Guild Fairy Tail untuk menangkap para bandit ini, semoga kedepannya desa ini akan tetap menggunakan Guild Fairy Tail apabila ada kesulitan," kata Erza.

Setelah itu Erza, Gray, dan Natsu mengucapkan selamat tinggal dan mereka bertiga pulang ke guild yang mereka sebut sebagai rumah.


Magnolia, Fiore

"KAMIII KEMBALIIIII!" Natsu berseru sambil membanting pintu masuk bangunan yang sangat berarti baginya. Semua orang yang ada di dalam memandang sekilas ke arahnya lalu kemudian melanjutkan aktifitas kembali, sudah terbiasa dengan sikap pemuda tersebut. "Oii tidak perlu berteriak juga kan," kata Gray sambil menggaruk kupingnya.

"Selamat datang Natsu, Gray, Erza," seorang gadis cantik berambut putih adalah satu-satunya yang mau menyambut kedatangan mereka. "Hai Mirajane, master ada?" Tanya Erza. Mirajane mengangguk, "Tapi ia sekarang masih menerima tamu, bagaimana kalau kalian santai dulu?" kata Mirajane.

"Baiklah, biasanya ya," Erza menjawab, dengan santai ia duduk di salah satu kursi bar yang ada di bangunan guild tersebut. "Ok, bagaimana misinya? Kelihatannya berjalan lancar," Mirajane berkata sambil menyiapkan pesanan Erza yang biasanya. Natsu dan Gray duduk di depan meja panjang dekat bar, mereka disambut oleh beberapa anggota guild laki-laki dan mulai menceritakan petualangan mereka.

Erza menatap kedua pertnernya sejenak dan kemudian menghadap ke Mirajane. "Seperti biasa Natsu langsung maju dan mengacaukan semuanya," jawab Erza. Mirajane tertawa dengan suaranya yang merdu. "Hahaha, tapi kau harus mengakui ia berhasil menyelesaikan misinya kan?" Ujar gadis bermata biru tersebut. Erza menghela nafas dan tersenyum kecil, "Ya tentu saja, seandainya ia mau menggunakan otaknya sedikit sebelum bertindak, pasti ia sudah menjadi salah satu S-class," jawab Erza. Mirajane membawa satu slice Strawberry cake dan memberikannya pada Erza. "Terima kasih," kata Erza senang. Mirajane kemudian memandang Erza yang sedang menikmati kue kesukaannya. "Jalan Natsu masih panjang, aku yakin suatu saat ia akan sekuat dirimu, bahkan melebihiku," katanya.

Erza menelan kuenya sesaat dan menjawab, "Ya aku tau."

"Oh iya, tamu Master Makarov agak aneh," Mirajane tiba-tiba mengalihkan topic. "Hmm?" Erza menjawab dengan tidak tertarik, karena master guildnya memang sering menerima tamu untuk misi, kadang penampilan mereka memang unik.

"Kalau aku bilang aneh itu sangat aneh, menurutku ia datang untuk urusan lain, meskipun tidak ada seorangpun yang tahu apa itu…"Gadis berambut putih di depannya melanjutkan. Erza tidak menjawab, tetapi kedua iris cokelatnya yang tajam menatap ke arah ruangan guild masternya berada.


Ruangan Guild Master Fairy Tail

"Jadi, dia sudah bergerak?" Seorang pria tua duduk di meja tinggi dengan melipat kedua lengannya. Wajahnya yang penuh kerutan semakin terlihat kusut karena ia sedang berfikir keras. Seseorang dengan tudung panjang berwarna hitam di depannya mengangguk, membuat pria tua bernama Makarov tersebut menutup mata sejenak.

"Baiklah, maka Fairy Tail juga akan memainkan permainannya sendiri," Master Makarov menjawab sambil membuka matanya. Ia memandang figure bertudung tersebut lurus-lurus, "Kurasa ini saatnya kita tidak seharusnya menjaganya dalam gelap, Natsu harus kita beritahukan," katanya dengan nada final.


Oak Town, Fiore

Kesibukan Lucy sebagai keluarga bangsawan sekarang bertambah seiring dengan usianya. Setelah penuh perjuangan untuk mendapat izin, Lucy akhirnya dapat melanjutkan pendidikan dan ia memilih untuk belajar Astronomi dan Sastra.

Meskipun pilihan tersebut pada awalnya membuat heboh sampai tersebar keluarga bangsawan lain di daerah tersebut Lucy membuktikan bahwa dirinya tak hanya cantik, ia sangat pintar dan kedua subyek tersebut merupakan favoritnya sehingga Lucy tidak kesulitan dalam mengerti segala pelajaran yang seharusnya dikhususkan untuk laki-laki dalam sistem di Fiore. Meskipun bayarannya ia sekarang dikucilkan dalam lingkaran bangsawan, dan tak seorang gadis bangsawan mau berteman dengannya kecuali Yukino yang sesekali mengirim surat untuknya.

Tapi hal itu tidak membuat Lucy terpuruk, ia sedikit senang karena dengan itu ia tidak perlu capek-capek berusaha bersikap baik pada para bangsawan, memelihara tali pertemanan dengan berkunjung ke kediamannya, ataupun menghadiri pesta-pesta yang melelahkan. Lucy telah bahagia menjalani hari-harinya yang tenang dengan belajar dan tentu saja, diam-diam mengasah kemampuannya sebagai Penyihir Bintang.

Sampai pada hari itu…

Di hari yang cerah pada pertengahan bulan pertama musim panas ini, Lucy seperti biasa sedang duduk di perpustakaan dengan berbagai macam buku di sekelilingnya. Kedua bola mata dengan iris cokelat tersebut focus kepada sebuah buku yang sedang ia pegang di tangannya, dari sampulnya Lucy sedang belajar astronomi sekarang. "Phew…" beberapa saat kemudian ia meletakkan buku tersebut, kedua matanya terasa berkedut karena lelah membaca.

Lucy berjalan ke arah jendela di dekat sofa yang ia duduki, berusaha mencari kesegaran setelah sumpek menghafalkan berbagai macam teori gravitasi, meskipun ia sendiri sangat tertarik dengan teori baru tersebut, siapa sangka ternyata segala benda di bumi dapat terus di daratan hanya karena hal yang sederhana.

Setelah memandang ke luar jendela yang menampilkan keindahan taman kediaman Heartfilia, pandangan Lucy tak sengaja menangkap sesuatu di rak buku. 'Apa itu?' Pikir Lucy heran. Dengan cepat ia melangkah ke arah hal mencurigakan tersebut, dan ternyata sebuah buku yang agak sedikit mencuat dari buku-buku lainnya di rak tersebut. Tetapi bukan hanya hal itu yang membuat Lucy tertarik, tetapi karena dari sampul buku tersebut berwarna ungu tua dengan sebuah batu berwarna senada menempel. Lucy mengambil buku tersebut dengan jarinya yang panjang dan mulai membaca. 'Kurasa aku tidak pernah melihat buku ini di sini? Aku yakin telah membaca semua buku di bagian rak ini.' Pikir Lucy.

Isi buku tersebut membuat Lucy terkejut :

Anak manusia akan lahir...

Dan seorang anak naga juga akan lahir...

Dalam purnama bulan kedua musim panas

Takdir kehancuran kita telah dimulai...

Jangan biarkan para bintang menyatukannya

Api dan bintang, hanya akan saling membakar...

Mereka atau kita, Kita atau mereka...

Akan mati...

'Ah ternyata cuma buku fiksi atau semacam ramalan…' pikir Lucy kecewa. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya terus menatap kalimat-kalimat dari halaman pertama buku tersebut. 'Purnama bulan kedua musim panas…' pikir Lucy. Ia merasa ada sesuatu yang familiar dengan hal tersebut, tapi ia mencela saat melihat istilah 'anak naga', 'Sihir mungkin memang ada tapi naga? Kalau memang ada seharusnya kami semua sudah bisa melihatnya setiap hari,' pikir gadis pirang itu.

Lucy membolak balik halaman buku tersebut dengan kurang tertarik, tetapi tangannya terhenti saat melihat sebuah ilustrasi seorang gadis dengan seorang pria saling berhadapan. Gadis dan pria tersebut mengingatkannya pada dirinya dan Natsu. Lucy membaca bagian tersebut :

Apabila Anak Manusia dan Anak Naga tidak dapat dipisahkan, maka kehancuran seluruh dunia sudah dapat dipastikan. Saat keduanya mengucap sumpah saling menyerahkan kehidupannya, tiada raja ataupun ksatria yang dapat melihat matahari terbit keesokan harinya….

Raja hitam akan bangkit dengan ksatria naganya, mereka kemudian akan menutupi seluruh dunia dengan kegelapan.

Lucy cepat-cepat menutup buku tersebut, "Apa-apaan buku ini, mengerikan sekali isinya," kata Lucy dengan terkejut. Ia kemudian cepat-cepat mengembalikan buku itu ke dalam rak. Gadis itu sudah akan berbalik dan duduk ke sofanya kembali saat tiba-tiba pintu perpustakaan dibanting terbuka.

"Lucy!" Ayahnya, Jude Heartfilia masuk dengan tergopoh-gopoh. Lucy yang tidak pernah melihat ayahnya yang biasanya selalu mengutamakan etiket bangsawan masuk dengan berlari panik jadi tegang.

"Ada apa ayah?" Tanya Lucy. Jude memegang kedua tangan Lucy dan berkata, "Kau harus pergi dari sini, ayah telah menyiapkan sebuah tempat tinggal jauh dari sini, sudah ayah siapkan semuanya, ayo cepat berangkat!"

"Tunggu!" Lucy yang telah didorong untuk berjalan menghentikan langkah dan memegang lengan ayahnya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba begini, ceritakan padaku ayah," Kata Lucy panik, sekujur tubuhnya gemetar. Tapi Jude tetap mendorong anaknya supaya segera bergerak, "Tidak ada waktu untuk menjelaskan ayo cepat pergi dari sini, disini tidak aman!" Kata Jude.

Lucy yang enggan bergerak terpaksa mengikuti ayahnya untuk setengah berlari, banyak sekali pertanyaan dan spekulasi tentang apa yang sedang terjadi padanya, 'Mungkinkan kastil diserang? Tidak mungkin, daerah ini telah lama aman, apa mungkin liburan? Tidak mungkin ayah akan sepanik ini!'

Lucy dibawa keluar melewati pintu belakang, saat mata Lucy telah beradaptasi dengan teriknya matahari sore musim panas, ia melihat sebuah kereta kuda telah siap menunggu, gadis itu juga tidak melewatkan barang-barangnya yang telah ada di dalam. "Ayah, apa ayah tidak ikut?" Lucy tersadar, ia tidak melihat bahwa kereta kuda tersebut cukup megah ataupun besar seperti kereta kuda yang biasa ia dan ayahnya naiki saat pergi, kebalikannya, kereta kuda tersebut sederhana dengan kayu biasa dan tanpa pelitur ataupun ukiran, yang membedakan dari kereta kuda rakyat jelata hanyalah sebuah kelambu dengan bahan beludru berwarna gelap dan terlihat berat.

Seseorang yang Lucy kenal sebagai kusir kepercayaan ayahnya datang kepada mereka dan berkata, "Semuanya telah siap Tuan, Nona Lucy, silakan naik."

Kedua bola mata Lucy menatap bergantian ke arah ayahnya maupun kusir tersebut, tidak mengerti tentang situasi yang sangat tiba-tiba ini. "Lucy, aku tahu pasti ini sangat membingungkan untukmu, tapi percayalah pada ayah, ini semua demi kebaikanmu. Saat kondisi telah aman ayah berjanji akan membawamu pulang." Jude menatap lurus ke arah anaknya dengan pandangan meminta. Ia kemudian menyerahkan sebuah amplop kepada anaknya. "Saat perjalanan atau setelah sampai bacalah surat ini, jangan pernah kau beritahukan isinya kepada siapapun. Berjanjilah pada ayah nak," kata Jude.

Manik cokelat tua yang keras bertemu dengan manik cokelat hangat, Lucy kemudian mengambil amplop tersebut, kemudian memeluk ayahnya, membuat ayahnya terkejut dan agak mundur. "Sampai jumpa ayah, janji bahwa kita akan bertemu lagi," kata Lucy dengan suara parau, entah mengapa gadis itu mendapat perasaan bahwa ia tidak akan bertemu ayahnya dalam waktu yang lama. Dan hal ini menjadi perpisahan mereka, kedua mata Lucy berkaca-kaca tapi ia bertahan supaya tidak menangis, tidak di depan ayahnya yang ia tahu juga pasti menahan sedih.

Lucy melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya, ia tidak akan melupakan wajah ayahnya yang biasanya dingin dan sempurna tampah serapuh sekarang. "Ayah janji," Jude menjawab. Ayah-dan anak itu bertatapan beberapa saat sampai akhirnya Lucy mundur dan berjalan ke arah kereta kuda. Pandangannya tak lepas dari ayahnya ataupun kediaman Heartfilia yang telah ia ketahui seumur hidupnya, meskipun kedua hal tersebut semakin menjauh dan mengecil saat kereta kuda mulai bergerak dan berjalan membawanya menuju tempat asing yang sekarang akan menjadi "rumah"-nya.


A/n : That's chapter 7 everybody! Thank you udah baca jangan lupa review, fav, dan follow ya. Semakin besar dukungan kalian semakin semangat aku menulis. See you next chapter~