Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang be-rsetting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Dua

.

.

.

Dalam keheningan yang mencekam, Luhan mendengarkan detak jantungnya sendiri. Ia berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan putranya, meskipun sulit. Setelah beberapa detik diam-diam ia melirik Oh Sehun. Pria itu memandangi Haowen. Rasa tidak percaya jelas terpampang di wajah tampan pria itu.

Haowen-lah yang akhirnya mulai berbicara. "Gila, Anda Oh Sehun. Gila!"

"Haowen, sopan sedikit kalau bicara."

"Maaf, Mom, tapi ini Oh Sehun. Oh Sehun di rumahku."

Sang astronot menggantikan ekspresi kebingungan di wajahnya dengan senyumnya yang terkenal, kelihatannya ia sudah kembali tenang. "Haowen? Senang berkenalan denganmu." Sehun melangkah maju dan menjabat tangan remaja itu.

Di seberang ruangan, Luhan mencengkeram sisi meja gambarnya untuk menopang tubuhnya. Tinggi tubuh Haowen nyaris sama dengan Sehun. Rambut hitamnya persis sama, matanya pun sama kelamnya. Hanya saja Haowen masih terlalu kurus. Tulang-tulangnya mencuat seperti ujung anak panah di bahu, siku, dan pergelangan kakinya. Tapi pada akhirnya, ia pasti memiliki tubuh yang berisi. Rancangan genetisnya sudah tercetak saat Haowen masih dalam kandungan. Untuk melihat bagaimana rupanya dua puluh dua tahun mendatang, Haowen hanya perlu mengamati pria yang sedang menjabat tangannya.

Untungnya Haowen terlalu kagum melihat sang astronot di rumahnya hingga ia tidak menyadari kemiripan mereka. Dengan penuh semangat ia balas menjabat tangan Sehun.

"Aku punya banyak poster Victory di kamarku. Burger King membagikannya secara cuma-cuma kalau kita membeli enam paket Whoopers. Buat jaga-jaga, aku beli tujuh. Maukah Anda menandatanganinya untukku? Aku tidak percaya. Apa yang Anda lakukan di sini? Ulang tahunku masih beberapa minggu lagi."

Ia memandang Luhan dan tertawa. "Ini ya hadiah istimewa yang Mom bilang itu? Oh, sebentar, aku tahu. Mom sudah memintanya untuk berpose? Benar, kan?"

Sehun berbalik memunggungi remaja itu dan menghadap Luhan. Tatapannya tampak menyala-nyala seperti kobaran api. Walaupun ditatap seperti itu Luhan tetap berusaha menantang. Sehun tampak curiga sekaligus bingung. "Berpose?"

"Aku... aku... "

"O-oh, aku telanjur buka kartu sebelum Mom sempat meminta Anda, ya? Maaf, Mom." Haowen berkata kepada Sehun, "Mom mengajukan diri untuk membuat sampul depan buku Pariwisata. Kemarin malam Mom bilang dia ingin meminta Anda berpose sebagai astronot mewakili NASA."

"Hmm. Apa dia menceritakan alasannya?"

"Menurut Mom Anda astronot yang paling tampan," jawab Haowen menyeringai "Mom tahu Anda yang paling terkenal."

"Begitu, ya," ujar Sehun pelan. "Aku merasa tersanjung."

"Maukah Anda melakukannya?"

Sehun mengalihkan tatapannya dari Luhan dan kembali menatap Haowen. "Tentu saja aku mau. Kenapa tidak?"

"Wah, hebat."

"Tidak usah repot-repot," sela Luhan. "Aku sudah mengerjakan sketsa kasarnya." Dengan tak acuh, ia menunjuk tumpukan sketsa di belakangnya.

"Coba kita lihat."

"Sketsa-sketsa ini belum siap untuk diperlihatkan."

"Bukankah kau berencana untuk menunjukkannya pada orang dari periklanan itu?"

"Ya, tapi dia kan bergerak di bidang ini. Dia tahu perbedaan antara sketsa kasar dengan rancangan yang sudah jadi."

"Aku juga tahu. Dan aku ingin melihatnya." Sehun sedang menantangnya. Menyadari tatapan ingin tahu Haowen dan tahu betapa cerdiknya anak itu, Luhan tidak punya pilihan lain kecuali menurut.

"Baiklah." Berlawanan dengan suaranya yang terdengar riang, senyumnya terasa kering dan rapuh saat ia mengulurkan beberapa sketsa pada Sehun.

"Betul kan, itu Anda!" Pekik Haowen, menunjuk wajah seorang pria dalam gambar yang melukiskan Houston. "Mirip sekali dengan Anda, kan?"

"Sangat mirip," ujar Sehun, kembali menatap Luhan dengan tatapannya yang tajam dan menuntut. "Seolah-olah dia sudah sangat mengenal wajahku dengan baik."

"Mom memang lihai. Paling hebat," ujar Haowen bangga. "Mom bahkan bisa menggambar baju astronot nya dengan tepat."

Luhan menyambar gambar-gambar yang dibuatnya. "Karena gambar-gambarku sudah Anda setujui, tampaknya tidak ada alasan bagiku untuk menahan Anda lebih lama lagi, Kolonel Oh. Terima kasih banyak atas kunjungan—"

Dering bel pintu memotong kata-katanya.

"Biar aku yang buka," pekik Haowen, langsung lari ke depan. Namun sebelum beranjak dua langkah, Haowen berhenti dan berbalik. "Anda tidak akan pergi sebelum aku kembali, kan?"

"Tidak," ujar Sehun padanya. "Aku masih akan ada di sini untuk sementara waktu."

"Asyik!"

Anak itu berlari menyusuri lorong ke muka rumah, ketika bel kembali dibunyikan untuk kedua kalinya.

Sehun mendekati Luhan dan memegang kedua lengan wanita itu. Dengan suara pelan namun sarat oleh kemarahan ia mendesis, "Tadi kau bilang kau belum pernah punya anak."

"Memang belum."

"Lalu anak yang tadi kau sebut apa?" "Aku bukan ibunya."

"Dia memanggilmu Mom."

"Ya, tapi—"

"Dan dia mirip denganku."

"Dia—"

"Tapi aku tidak ingat pernah tidur denganmu."

"Memang tidak pernah! Begitu melihatku tadi

kau tidak langsung mengenaliku, kan?"

"Tidak langsung. Tapi beberapa hal tidak akan kulupakan."

Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya. Sebelum wanita itu sempat bereaksi, bibirnya sudah memaksa bibir Luhan untuk membuka. Lidahnya menerobos masuk dan mengecap kedalaman mulut wanita itu. Sehun menangkupkan tangannya di bokong Luhan dan menariknya semakin mendekat.

Gairah mengalir dalam tubuh Luhan.

Tampaknya Sehun juga sama terkejutnya.

Kepala Sehun tersentak dan ia menatap Luhan dengan keterkejutan yang tidak ditutup-tutupi sebelum mendorong wanita itu.

Untungnya semua terjadi dalam hitungan detik, karena Haowen sedang mengantarkan calon klien Luhan yang paling penting menyusuri lorong menuju studio.

Saat mereka berdua tiba di studio, Sehun langsung melompat dan bersandar ke meja kerja Luhan, memasang tampang polos. Luhan berdiri di tengah-tengah ruangan, merasa limbung seolah-olah sedang berada di tengah-tengah Samudra Pasifik tanpa memiliki perahu penyelamat.

"Mr. Howard," ujarnya menahan napas, jari-jari nya menyentuh bibirnya yang gemetar, "maafkan penampilan saya. Saya sedang berkebun waktu..." Ia menunjuk ke arah Sehun. "Waktu Kolonel Oh mampir."

Luhan tidak perlu khawatir Mr. Howard merisaukan penampilannya yang acak-acakan. Pria itu bahkan tidak memperhatikannya. "Wah, benar-benar kejutan yang menyenangkan," ujarnya bersemangat. Direktur biro periklanan itu melangkah maju untuk menjabat tangan astronot itu. "Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Sir."

"Terima kasih."

Setelah itu barulah ia menoleh ke arah Luhan. " , Anda tidak pernah bilang bahwa Anda mengenal pahlawan nasional kita ini." Sehun mengerutkan alisnya. Mr. Howard berdeham-deham salah tingkah lalu menambahkan, "Tentu saja tidak ada alasan bagi Anda untuk menceritakannya."

"Kolonel Oh adalah model sketsa yang dibuat Mom untuk sampul buku pariwisata itu."

"Kalau aku mendapatkan pekerjaannya, Haowen," ujar Luhan, dengan sengaja menjilati bibirnya. Ia mengecap ciuman Sehun di sana dan anehnya merasa takut kalau-kalau perbuatannya itu kelihatan. "Bagaimana kalau saya memperlihatkan gambar-gambar yang te-ah saya buat sejauh ini, Mr Howard?"

"Sementara kau melakukannya," sela Sehun, "aku akan mengajak Haowen jalan-jalan."

"Maksud Anda naik Porsche?" tanya Haowen berapi-api. Ia menjerit-jerit seperti orang Indian, melompat di udara, menepuk langit-langit, lalu melesat ke luar ruangan. "Beberapa minggu lagi aku akan memperoleh SIM lho."

"Haowen, awas ya kalau kau berani menyentuh mobil Kolonel Oh," pekik Luhan ngeri.

"Dia akan baik-baik saja."

"Tapi kalian mau ke mana?"

"Hanya berputar-putar di kompleks ini," jawab Sehun, mengangkat bahu dengan tak acuh. "Tidak ada tujuan tertentu."

"Berapa lama?"

"Tidak lama."

Luhan ingin memarahi pria itu karena memberi jawaban-jawaban yang tidak jelas begitu. Ia ingin bersikap tegas dan mengatakan tidak, pokoknya tidak boleh, Haowen tidak boleh pergi ke mana-mana dengan Sehun. Ia ingin mengejar Haowen dan mencengkeramnya kuat-kuat.

Tapi dengan adanya Mr. Howard di sana, ia tidak punya pilihan lain kecuali bersikap ramah. Ia sadar Sehun sengaja mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ia mengawasi pria itu berjalan dengan angkuh menyusuri lorong dan melewati pintu depan untuk bergabung dengan Haowen, yang sudah duduk di kursi penumpang mobilnya.

"Apakah Anda, eh, sudah kenal lama dengan Kolonel Oh?" Mr. Howard bertanya dengan ragu-ragu.

Luhan menoleh dan melihat tamunya itu sangat ingin tahu. Pria itu tidak berani bertanya terang-terangan tentang hubungan antara Sehun dan remaja yang memanggil Mom pada Luhan. Dengan dingin Luhan menjawab, "Saya belum lama mengenalnya."

Dua puluh menit kemudian Mr. Howard pergi. Luhan merasa yakin pria itu menyukai sketsa-sketsa awalnya. Tapi sambil memasukkan sketsa-sketsa itu ke dalam tas kerjanya, Mr. Howard juga mengingatkan Luhan bahwa ada dua orang ilustrator lainnya yang sedang dipertimbangkan dan hahwa keputusan akhir tergantung dari komite gabungan biro periklanan dengan para direktur perusahaan yang turut berinvestasi dalam proyek ini.

"Karya Anda lebih modern daripada dua ilustrator lainnya."

"Apakah itu berarti buruk?"

"Tidak," jawab Mr. Howard sambil tersenyum. "Mungkin sudah saatnya kita sedikit melanggar tatanan tradisional." Kalau dilanjutkan paling-paling ia hanya akan mengatakan "Kami akan segera mengabar kan hasilnya pada Anda dalam waktu satu atau dua minggu lagi."

Luhan mengantar tamunya sampai pintu depan. Dari balik jendela ia mengawasi kepergian pria itu, sambil mencari-cari mobil Porsche di sepanjang jaIan. Mobil itu sama sekali tidak kelihatan. Dengan cemas, ia meremas-remas tangannya. Kemana perginya mereka? Apa yang mereka bicarakan? Apakah Sehun menyerang Haowen dengan sederetan pertanyaan yang takkan dapat dijawab anak itu?

Sebelum kepalanya menjadi lebih pusing lagi, Luhan memutuskan untuk melaksanakan mandinya yang sudah lama tertunda. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar tidurnya di lantai dua, sudah berdandan, dan merasa lebih percaya diri daripada yang dirasakannya saat mengenakan celana pendek dan kausnya tadi.

Ia merasa lega saat mendengar suara-suara dari kamar tidur Haowen. Ia melangkah masuk lewat pintu yang terbuka lebar, dan melihat Haowen terpesona mendengar kisah Sehun yang berjalan di luar angkasa.

"Anda tidak takut?" tanya Haowen.

"Tidak. Saat kami tiba di sana, kami sudah melatih segalanya berulang kali, jadi aku sudah tahu apa yang akan kami hadapi."

"Tapi kan mungkin saja ada sesuatu yang melenceng dari perkiraan."

"Bisa jadi. Tapi aku sadar betul kalau aku memiliki kru di dalam pesawat itu dan kru lainnya di bumi yang dapat memastikan semuanya berjalan lancar."

"Bagaimana rasanya saat pesawat ulang-alikmu meluncur?"

Sehun memejamkan matanya rapat-rapat. "Menegangkan. Tidak ada yang dapat menandingi rasanya. Itulah puncak dari serangkaian kerja keras, belajar, latihan, penundaan, pengambilan keputusan yang semuanya terasa begitu membosankan. Tapi semua antisipasi dan frustrasinya sudah impas. Lebih, malah."

Haowen mendekat. "Apa yang Anda pikirkan waktu itu?"

"Sejujurnya?"

"Sejujurnya."

"Aku berdoa supaya aku jangan sampai terkencing-kencing."

Haowen tertawa. "Yang benar?"

"Ya, selain itu aku berpikir, 'Ini dia. Inilah yang memang kuimpiimpikan. Aku terlahir untuk ini. Kinilah saatnya. Aku sedang menjalaninya'."

"Wah."

Tatapan kagum di wajah Haowen membuat Luhan cemas. "Maaf mengganggu," ujarnya dari ambang pintu, "tapi aku harus pergi ke rumah perawatan sekarang. Dan, Haowen, kalau kau tidak cepat-cepat pergi, kau akan terlambat untuk latihan sepakbola."

Haowen berguling di atas kasurnya dan langsung berdiri. "Mom, Mom pasti tidak akan percaya! Kolonel mengizinkanku menyetir! Mobil itu lain dari yang lain, rasanya seperti berada dalam kokpit saja, ya kan, Kolonel?"

"Memang mirip kokpit. Itulah alasanku membelinya. Kalau aku tidak bisa terbang, aku ingin berpura-pura aku sedang terbang."

"Rasanya hebat, Mom. Seharusnya Mom tadi ikut dengan kami." Karena merasa bersalah terlalu asyik dengan kegembiraan dirinya sendiri, Haowen bertanya. "Bagaimana pertemuan Mom dengan Mr. Howard tadi?"

"Dia menyukai rancangan sketsaku tapi tidak menjanjikan apa-apa." Luhan mengalihkan perhatiannya ke arlojinya. "Sebaiknya kau segera berangkat, Haowen."

"Kau main sepakbola?" Sehun yang tadi duduk di tepi ranjang Haowen beranjak berdiri.

"Aku gelandang tengah tim Tornado, tim sekolahku. Kami pasti jadi juara di pertandingan daerah nanti."

"Penuh percaya diri, aku senang mendengarnya," ujar Sehun sambil tersenyum lebar.

"Pelatih menyuruh kami berlatih ekstra keras supaya kami benar-benar bisa menjadi juara."

"Kalau begitu kau sebaiknya tidak terlambat untuk latihan." Mereka berdua berjalan menuju pintu tempat Luhan menunggu.

"Apakah Anda masih di sini sampai aku pulang?"

"Tidak." Ketika Luhan dengan tegas menjawab pertanyaan yang ditujukan pada Sehun, dua pasang mata yang serupa berbalik menatapnya. Luhan tersenyum kikuk. "Aku yakin Kolonel Oh masih punya banyak pekerjaan, Haowen. Ayo, pergilah. Hati-hati naik sepedanya. Kau sudah bawa kunci rumah?"

"Sudah, Mom. Selamat tinggal, Kolonel Oh. Sulit dipercaya aku bisa bertemu dengan Anda. Terima kasih Anda mau menandatangani posterku."

"Sama-sama, Haowen." Mereka berjabatan tangan. Baru kali ini Luhan melihat Haowen enggan pergi latihan sepakbola.

Anak itu melangkah gontai menuruni tangga, sedikit-sedikit menoleh untuk memandang Sehun. Segera setelah Haowen keluar dari pintu depan, Luhan menatap tamunya.

"Aku benar-benar harus pergi ke rumah perawatan sekarang. Ibuku sedang tidak sehat, dan kalau aku tidak ada di sana pada waktunya, dia—"

Sehun menghalangi langkah Luhan dan memotong omongan basa-basinya. Pesona yang ditampilkannya untuk Haowen menghilang bersama kepergian anak itu. "Aku minta jawaban yang jujur darimu. Saat ini juga." Ia mengambil napas cepat. "Apakah dia anakku?"

Air mata mengambang di mata rusa Luhan. Ia menjilati bibirnya yang mengilat oleh pelembap bibir berwarna salem. Ia menundukkan kepala hingga helai rambutnya yang lembut nyaris menyentuh bagian tengah dadanya.

"Haowen anakku," bisiknya. "Milikku."

"Dia pasti punya ayah." Sehun mengangkat dagu Luhan dengan jarinya. "Apakah dia anakku?"

Luhan menatap langsung ke matanya dan menjawab, "Ya."

.

.

HunHan

.

.

.