Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.
Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.
Selamat menikmati…
.
.
.
.
.
LONG TIME COMING
(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)
.
.
Tiga
.
.
.
Sehun mencengkeram lengan atas Luhan. "Aku akan mengantarmu ke mana pun juga."
"Kau tidak perlu melakukannya."
"Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Enak saja," sergah Sehun, mendekatkan wajahnya hingga hanya terpaut beberapa senti dari wajah Luhan. "Kau baru saja memberitahuku bahwa aku punya seorang anak remaja. Aku akan menempel terus padamu sampai aku mendapatkan jawaban. Sekarang, untuk terakhir kalinya, aku akan mengantarmu," putusnya sopan.
Luhan bisa saja berontak, tapi pria itu mencengkeramnya kuat-kuat saat mereka menuruni tangga. Konyol rasanya untuk terus berdebat tanpa ada kemungkinan untuk menang. Selain itu, Luhan juga merasa bahwa sudah saatnya Sehun diberi penjelasan. Meski harga dirinya sedikit tersinggung, Luhan ikut dengan patuh.
"Kunci rumahmu," ujar Sehun padanya. "Kau tidak punya sistem alarm untuk mencegah pencuri?"
"Tidak."
"Seharusnya kau memasangnya. Rumah ini besar, mudah didobrak pencuri dari mana saja."
Sehun mengantar Luhan hingga pintu depan dan menuju trotoar tempatnya memarkir mobil Porsche-nya. Begitu Luhan sudah duduk di kursi penumpang, Sehun mengitari kap mobilnya yang rendah dan panjang, lalu duduk di belakang kemudi.
"Lewat mana?"
Luhan memberinya nama-nama jalan serta jalan tol yang harus diambil pria itu. Tidak lama kemudian mereka sudah berada di jalan tol. Luhan mencengkeram ujung kursinya kuat-kuat. Pria itu menyetir mobilnya bagai roket. Mata Sehun yang lebih sering memperhatikannya daripada memperhatikan jalanan tidak membuat Luhan merasa lebih lega.
Luhan akhirnya berkomentar setelah merasa sudah cukup lama menahan diri dari tatapan tajam Sehun, "Kau sedang melihat apa sih?"
"Kau. Kau begitu mungil. Kau tidak kelihatan bisa mengandung seorang anak. Dan"—Sehun menggelengkan kepalanya dengan bingung—"rasanya aneh karena aku tidak ingat pernah tidur denganmu."
Mata pria itu tertuju ke mulutnya, kemudian ke tulang ramping lehernya, lalu ke dadanya, hingga ke pangkuannya. Tatapannya yang begitu intens membuat Luhan merasa telanjang. Ingin rasanya ia menutupi dirinya dengan kedua tangannya.
"Aku pasti sedang mabuk berat,"ujar Sehun parau. "Kalau tidak, kurasa aku akan ingat pernah berhubungan intim denganmu."
"Aku tidak pernah... aku tidak pernah tidur denganmu." Luhan menegakkan kepalanya dan memandang ke kaca jendela yang gelap, merasa terlalu lemah untuk bertatapan mata dengan pria itu dan berpikir minimal salah satu dari mereka harus memperhatikan jalan. "Haowen bukan anakku."
"Kalau begitu—"
"Haowen anak kakakku. Kau dan dia..." Luhan mengangkat bahu dengan kikuk dan melirik pria itu sekilas sambil tersenyum datar. "Kita keluar di jalur keluar berikutnya. Sebaiknya kau bersiap memasuki jalurnya."
Sehun melakukannya, menyalip sebuah mobil roti. Pengemudinya langsung menekan klaksonnya sekuat tenaga dan mengumpat dengan kasar. Sehun tidak mengindahkan tanda berhenti di ujung jalur yang melandai dan langsung berbelok dengan gigi tiga.
"Jadi ceritanya kakakmu itu hamil olehku, begitu?"
"Bukan ceritanya. Dia memang hamil olehmu. Kisah cinta di musim panas."
"Musim panas yang mana?"
"Kau baru saja lulus dari Akademi Angkatan Laut dan akan mulai bertugas."
Tiba-tiba Sehun menjadi defensif dan berang. "Dari mana kau tahu bahwa Haowen anakku?"
Luhan menatapnya dengan tajam. "Oke, oke, aku mengakui bahwa dia memang sedikit mirip denganku. Tapi itu tidak membuktikan apa-apa."
"Aku tidak perlu membuktikannya," tukas Luhan. "Kau mau percaya atau tidak, sama sekali bukan masalah bagiku. Belok kanan di pojok itu."
Dengan tidak sabar Sehun menunggu lampu hijau, lalu memacu mobilnya bagai kuda liar yang baru dilepaskan dari jeratnya. "Itu panti wredanya," ujar Luhan dengan lega saat mereka tinggal terpaut satu blok. Tampaknya Sehun perlu satu blok untuk dapat memelankan mobilnya dan memasuki halaman rumah perawatan.
"Kau bisa menurunkanku di pintu samping. Aku punya kuncinya supaya aku bisa menjenguk ibuku kapan pun aku mau."
Panti wreda itu merupakan bangunan sederhana yang didanai oleh sebuah gereja, pemandangannya indah dan stafnya sangat berkualitas. Stroke yang diderita ibu Luhan tidak membuatnya lumpuh total namun cukup lemah hingga membutuhkan pengawasan sepanjang hari. Menitipkan ibunya di rumah perawatan merupakan keputusan berat bagi Luhan, apalagi menyadari umur ibunya takkan panjang.
Ketika Sehun menghentikan mobilnya di pintu samping, Luhan membuka pintu mobil dan menjejakkan sebelah kakinya di tanah. Ia menengok ke belakang dan berbicara pada Sehun. "Aku tidak tahu siapa yang mengirimimu semua surat tentang Haowen, tapi yang pasti bukan aku. Aku tidak pernah berpikir untuk memberitahumu tentang Haowen maupun sebaliknya. Aku tidak butuh apa-apa darimu, apalagi uang. Jadi kerjakan saja apa yang harus kaukerjakan dan biarkan aku mengerjakan pekerjaanku dan anggap saja hari ini tidak pernah terjadi. Terima kasih atas tumpangannya."
Ia melangkah keluar. Di pintu rumah perawatan sementara ia bergumul dengan kunci yang biasanya dapat dibukanya dengan mudah, Luhan ingin menoleh dan berlama-lama memandangi pria itu untuk yang terakhir kalinya.
Sudah tujuh belas tahun ia tidak bertemu dengan Sehun. Pada pertemuan terakhir, pria itu melambaikan tangannya pada mereka, lalu berbalik dan berlari menyusuri pantai, tampak seperti seorang putra dewa matahari yang muda dan bersemangat, tampak keemasan dan tampan dan ditakdirkan untuk meraih ketenaran.
Saat itu hatinya yang hancur diam-diam mengucapkan selamat tinggal pada pria itu. Kali ini ia tidak melakukannya. Ia tidak mengizinkan dirinya menoleh ke belakang sebelum memasuki bangunan yang steril itu.
Luhan tinggal di kamar ibunya sampai satu jam lebih. Selama itu ibu Luhan lebih sering tidur, hanya sesekali menggumamkan kata-kata yang tidak jelas pada Luhan.
Dengan sedih Luhan meninggalkannya. Ketika ia keluar dari kamar, Sehun sedang berjalan mondar-mandir di lorong. Para perawat di meja perawat di ujung lorong memperhatikannya dengan penuh minat, tapi lantai yang mengilap adalah satu-satunya yang dilihat oleh Sehun, yang terus berjalan mondar-mandir seperti seekor singa dalam kurungan.
"Kau masih di sini?" tanya Luhan. Emosinya terkuras setelah menunggui ibunya. Melihat Sehun semakin membuatnya marah.
"Kau mau pulang naik apa?"
"Naik taksi."
Sehun menggelengkan kepalanya dan menuntun Luhan ke pintu keluar terdekat. "Di kota ini taksi tidak dapat diandalkan. Kau seharusnya tahu itu." Beberapa menit kemudian mereka sudah kembali berada di dalam Porsche, termenung dan merenungi tujuh belas tahun yang berlalu di antara mereka.
"Bagaimana keadaan ibumu?"
"Tidak baik."
Setelah terdiam beberapa saat Sehun berkata, "Aku ikut prihatin."
"Mereka terus memberinya obat untuk meminimalkan akibat dari stroke-stroke ringan yang terus-menerus dideritanya. Ibuku sering sekali merasa pusing. Saat ibuku bisa berpikir jernih, dia selalu membicarakan ayahku dan Ji hyo. Ibuku juga sering menangis."
"Di Galveston, kan?"
"Maksudmu tempat kita bertemu dulu?"
"Di pantai, kan?"
"Ya," ujar Luhan, bertanya-tanya seberapa banyak yang dapat diingat pria itu. "Pondok yang disewa keluargaku saat itu dekat dengan pondok yang disewa keluargamu."
Sehun menyipitkan matanya ke arah jendela lalu bergumam, "Kalian berdua, Kakak-beradik."
"Kakakku, Ji hyo, dan aku, Luhan."
"Ji hyo dan Luhan. Ya, aku ingat sekarang. Kakakmu sangat cantik."
Luhan menganggukkkan kepalanya sedikit. "Betul."
"Saat itu kau masih kecil."
"Empat belas tahun."
"Dan ayahmu seorang pendeta, kan? Aku ingat kita harus mengendap-endap untuk minum bir."
"Kau membujuk Ji hyo untuk ikut minum."
Sehun tertawa. "Tapi kau tidak mau. Dia selalu menyebutmu sok alim."
"Aku memang tidak suka bertualang seperti Ji hyo."
Sehun merenungkan kata-katanya beberapa saat, lalu berkata, "Kalau Ji hyo tidur denganku, dia mungkin tidur juga dengan banyak pria lainnya."
"Dia baru berumur enam belas tahun saat itu. Kau adalah pria pertama."
"Enam belas? Enam belas?" ulang Sehun, wajahnya berubah kelabu. "Aku kira umurnya sudah Iebih dari enam belas."
"Dia memang tampak lebih tua dari usianya," ujar Luhan pelan.
"Memang. Tingkah Iakunya juga. Jauh sebelum aku bertemu dengannya tingkah laku Ji hyo sudah tidak seperti anak umur enam belas tahun lagi. Aku ingat busungan dada di balik bikininya. Yang pasti tubuhnya sama sekali bukan tubuh anak remaja lagi."
"Aku tidak memperdebatkan hal itu," sergah Luhan. Entah mengapa ia merasa kesal karena Sehun ingat tubuh Ji hyo yang padat berisi. Tentu saja hal itu tidak membuatnya terkejut, hanya saja ia berharap pria itu berhenti membahasnya.
"Tapi itulah usianya yang sebenarnya, enam belas tahun. Dan hamil di minggu pertama kelas 1 SMU bisa berakibat fatal, apalagi kalau ayahmu seorang pendeta ternama dalam masyarakat."
Sehun berbelok ketempat parkir sebuah kafe yang terang-benderang. "Tampaknya kau perlu minum."
"Aku lebih suka kau mengantarku pulang."
"Dengar," tukas Sehun dengan kesabaran yang mulai menipis, "kau terguncang dan sedih. Apa kau tidak merasa minum Coke atau secangkir kopi dapat membuatmu merasa lebih enak? Demi Tuhan, aku kan tidak mengajakmu mabuk-mabukan dan tidur denganku. Apa kau masih sok alim seperti dulu sampai tidak mau minum kopi dengan seorang pria?"
Tanpa menunggu jawabannya, Sehun melangkah keluar, membanting pintu mobilnya, Pria itu memutar mobilnya ke pintu penumpang. Ia melihat para pelayan langsung mengenali Sehun ketika mengantar mereka ke kursi pojok. Bisikan dan pekik-pekik kecil mengi kuti mereka seperti gelombang. Luhan langsung duduk di kursinya.
"Apakah ini selalu terjadi ke mana pun kau pergi?"
"Apa?" Sehun menatapnya dengan bingung. "Oh, maksudmu tingkah laku orang-orang itu? Acuhkan saja."
Luhan berusaha melakukannya, tapi hal itu bukanlah sesuatu yang mudah karena ia sendiri juga sedang diperhatikan dengan cermat seperti halnya Sehun. Ketika pelayan mendekati meja mereka sambil memberikan daftar menu dan meminta tanda tangan Sehun, pria itu memberikannya sambil memesan dua cangkir kopi.
"Jadi, apa yang dilakukannya?" Sehun bertanya segera setelah pelayan yang kegirangan itu pergi.
"Siapa?"
"Kakakmu. Ji hyo. Apa yang dilakukannya saat dia tahu dia hamil?"
"Oh, dia, eh..." Luhan menundukkan kepalanya. "Dia ingin menggugurkannya."
Dari seberang meja ia dapat merasakan reaksi Sehun. Tubuh pria itu menegang. Ia melihat tangan Sehun mengepal. Ia merasa senang melihat pilihan pertama Ji hyo sama mengerikannya bagi Sehun seperti yang dirasakannya dulu. Minimal Sehun tidak bersikap sok tangguh menanggapi ceritanya.
"Kenapa dia tidak melakukannya?"
Luhan merasa sulit membicarakan hal ini. Saat itu merupakan saat paling menggemparkan dalam keluarganya. Saat itulah mereka mulai tercerai-berai. Setelah itu mereka tak lagi menjadi orang yang sama.
"Ji hyo menceritakan rencananya padaku" ujar Luhan pada pria itu setengah berbisik. "Suatu malam setelah makan malam Ji hyo bilang dia perlu bicara denganku. Dia bilang padaku bahwa dia hamil. Dia takut. Hal itu membuatku takut karena aku belum pernah melihatnya begitu kacau karena apa pun juga. Kami terjaga sepanjang malam, menangis bersama, memikirkan apa yang harus kami lakukan. Kami tidak mungkin mencarimu. Kau bergabung dengan Angkatan Laut, dan kami pikir kau juga takkan peduli. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Tapi aku tidak menyangka dia mau menggugurkannya, membuang bayinya seperti sampah. Bagaimanapun juga, itu kan seorang bayi, bayimu." Luhan terdiam, menatap mata Sehun, lalu kembali melanjutkan.
"Aku tidak tahan memikirkannya. Dan aku tahu Mom dan Dad Iebih suka memiliki anak tidak sah itu daripada menggugurkannya begitu saja."
"Jadi kau membeberkan rencana Ji hyo pada mereka," ujar Sehun.
"Ya. Mereka melarangnya. Ji hyo sangat marah pada kami semua. Kehamilannya yang berlangsung selama sembilan bulan sama sekali tidak menyenangkan. Kemudian, lahirlah Haowen" tambah Luhan sambil tersenyum sayu, "dan kami semua menyayanginya."
"Bahkan Ji hyo juga?"
Senyumnya mengambang. "Dia akhirnya menyayangi Haowen. Anak itu begitu menggemaskan dan tampan, tidak mungkin tidak menyayanginya."
Sehun menatap Luhan, merasa masih ada yang belum diceritakan wanita itu, tapi kopi yang mereka pesan sudah datang, membuat Luhan menghentikan ceritanya. Saat pelayannya pergi, Sehun bertanya, "Mengapa Haowen tidak bersama Ji hyo sekarang?"
"Ji hyo sudah meninggal." Sehun terpana saat menatap Luhan "Waktu Haowen masih umur empat tahun."
Sehun menghirup kopinya. "Apa yang terjadi?"
"Kecelakaan mobil. Orangtuaku sangat berduka. Dad terkena serangan jantung dan meninggal di tahun yang sama. Sejak saat itu tinggal Mom, Haowen dan aku."
"Musim panas itu mengubah seluruh hidup kalian."
"Kurasa begitu, memang," Luhan mengiyakan dengan sedih.
"Saat itu merupakan musim panas yang menyenangkan bagiku. Orangtuaku ingin aku menikmati liburanku."
"Aku ingat mereka. Jelas sekali betapa mereka sangat bangga padamu. Kau lulusan terbaik di angkatanmu. Omong-omong, selamat ya, karena berhasil mewujudkan cita-citamu dan menjadi astronot."
"Dari mana kau tahu itu cita-citaku?"
"Kau yang mengatakannya padaku. Suatu sore ketika Ji hyo sedang berjemur, kau dan aku sedang berselancar di laut. Waktu itu kau bilang padaku bahwa kau ingin melanjutkan ke sekolah penerbangan Angkatan Laut untuk menjadi pilot penguji, lalu kau ingin melamar program astronot. Aku begitu bangga waktu membaca surat kabar dan melihat kau telah diterima. Aku merasa... yah, aku merasa mengenalmu."
Sehun tersenyum, namun tiba-tiba senyumnya lenyap. "Aku tidak pernah memikirkan musim panas di Galveston itu selama bertahun-tahun. Cara yang hebat untuk ingat lagi," gerutunya, memberi tanda pada pelayan untuk mengisi kembali cangkir kopi mereka.
Luhan menghirup kopinya dengan pelan, masih merasa rikuh oleh tatapan mata para tamu lain di sekeliling mereka.
"Aku selalu pakai kondom."
Kopi panas tumpah di atas tangan Luhan, membuatnya melepuh dan membanjiri tatakan cangkirnya. Ia terenyak. "Apa?"
Dengan tenang Sehun mengambil dua lembar serbet dari wadahnya di meja dan menggunakan keduanya untuk menyerap tumpahan kopi di tatakan cangkir Luhan. "Tanganmu melepuh?"
"Tidak apa-apa," Luhan berdusta, bertanya-tanya apakah ia berani meminta mentega pada pelayan. Ia tidak perlu melakukannya. Sehun memanggil pelayan itu dan meminta mentega padanya.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa kok, sungguh," elak Luhan ketika pelayan dengan cepat kembali dengan piring berisi bongkahan mentega besar bagi teman kencan Oh Sehun yang dengan ceroboh telah menumpahkan kopi di tangannya sendiri.
"Terima kasih," ujar Sehun pada pelayan sambil tersenyum mengusir.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Luhan. "Sungguh, untuk apa ribut-ribut soal— "
"Kemarikan tanganmu."
Luhan menjulurkan tangannya yang melepuh merah. Dengan dua jari Sehun mencolek mentega dan mengusapkannya ke luka yang melepuh itu.
"Setiap kali aku tidur dengan seorang wanita, aku pakai kondom," ujarnya pelan. "Selalu."
Jari-jari Sehun meluncur di sela jari Luhan, mengolesi mentega ke lekuk yang sangat sensitif. Luhan nyaris terlonjak dari kursinya.
"Pemerintah harusnya memberimu penghargaan."
Suara Luhan sama sekali tidak terdengar normal. Luka itu membuat suaranya serak dan parau. Atau mungkin sentuhan Sehun yang membuatnya begitu. Saat jari-jari pria itu terus meluncur di antara jari-jarinya, Luhan bergerak-gerak di tempat duduknya dan menggigit bibirnya supaya tidak mengerang nikmat. Sentuhan Sehun juga membuat bagian bawah tubuhnya bergetar dan menggelitik payudaranya.
"Aku selalu pakai kondom untuk mencegah kehamilan. Aku takkan berhubungan intim dengan seorang gadis yang kutemui di pantai Galveston tanpa pakai kondom."
Pijatan tangan Sehun begitu memabukkan hingga bisa membuat Luhan meleleh akibat rasa nikmat. Panas tubuh mereka berdua tampaknya dapat mencairkan mentega di kulitnya. Dengan enggan Luhan menarik tangannya dari pria itu.
"Berarti kau masih belum percaya Haowen adalah anakmu."
"Coba kaupikir," tukas Sehun, mencondongkan tubuhnya ke meja. "Sebelum hari ini, aku bahkan tidak tahu bahwa dia ada. Apa kau mengharapkan aku langsung menerima penjelasanmu mentah-mentah?"
"Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, Kolonel Oh," ujar Luhan dingin. "Aku sudah mengatakannya di pintu panti tadi."
"Tapi aku bukan tipe pria yang bisa begitu saja bersikap tidak peduli saat mendengar bahwa aku mungkin punya seorang anak. Wajar saja kalau aku jadi emosi, karena hal ini benar-benar mengejutkan. Begini saja. Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan, jawablah dengan jujur."
Luhan mendorong cangkir dan tatakannya ke samping dan menaruh lengannya di atas meja, memberi udara pada tangannya yang luka. "Tanya saja. Apa yang ingin kauketahui?"
"Mana mungkin Haowen anakku kalau aku sudah berhati-hati seperti itu?"
"Kau tidak menggunakannya."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya, alisnya berkerut tajam. "Apakah itu semacam permainan? Si angkuh Ji hyo yang main sementara adik kecilnya boleh menonton?"
Luhan merenggut tasnya dan langsung bergeser ke ujung bangku. Sehun meraih lengannya. "Maaf. Ucapanku tidak pantas. Ayolah" Luhan berusaha merenggut lengannya tapi mata pria itu menahannya. "Ayolah, Luhan."
Mungkin karena mendengar pria itu menyebut namanya untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun, atau mungkin karena Luhan merasa perlu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya setelah sekian lama. Entah untuk alasan yang mana, ia kembali duduk di kursinya.
"Aku bisa mengerti kalau kau menganggap rendah Ji hyo," ujarnya kaku. "Bagaimanapun juga, dia memang gampangan. Tapi tidak sepantasnya kau menghinaku."
"Aku kan sudah minta maaf, dan aku benar-benar menyesal. Oke?" Luhan mengangguk lemah. "Jadi bagaimana kau tahu apa yang terjadi?"
"Ji hyo bilang padaku kalau kau tidak punya... bahwa kau... tidak punya persediaan suatu malam. Menurutnya, keadaan sudah Iumayan, eh, panas." Luhan menatap Sehun dengan tatapan bertanya.
"Aku mengerti. Teruskan."
"Dia tidak mau kau berhenti, jadi dia berbohong padamu. Dia bilang padamu kalau dia minum pil KB."
Sehun menerawang sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat."
"Kau minum bir sepanjang hari."
"Kalau begitu mungkin kejadiannya memang seperti itu."
"Kolonel Oh, aku—"
"Kenapa sih kau tidak memanggilku Sehun saja?" tanyanya kesal. "Aku ingat bergulat denganmu dipasir dan mengoleskan losion untuk berjemur di punggungmu. Makanya panggil aku Sehun, oke?"
Pria itu ingat. Meskipun hanya sedikit. Mengetahui hal itu membuat Luhan sangat gembira. Sehun mungkin cuma bisa mengingatnya secara samar, tapi minimal kenangan itu masih ada.
"Tidak penting apakah Haowen anakmu atau bukan," bisik Luhan. "Hidup kita bisa terus berlanjut
seperti biasa."
"Kau melupakan satu hal yang penting, Luhan."
"Apa?"
"Surat-surat itu."
Luhan mengangkat tangannya dengan pasrah. "Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa bukan aku yang menulisnya?"
"Kalau benar begitu berarti masalahnya lebih besar."
"Aku tidak melihat—"
"Kalau bukan kau, berarti orang lain yang menulisnya."
Memikirkannya dari sudut itu membuat alis Luhan berkerut prihatin. "Aku mulai mengerti maksudmu."
"Kau bilang kau tidak meminta apa pun dariku."
"Memang tidak."
"Tapi siapa pun yang menulis surat itu meminta sesuatu dariku. Dan itu berarti Haowen berada dalam bahaya yang sama seperti aku."
"Kau tidak berpikir seseorang. berniat mencelakainya, kan?"
"Aku tidak tahu. Mungkin tidak. Tapi mungkin ya."
Luhan menggigiti bibir bawahnya. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Hanya saja kau perlu waspada sementara kita mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini. Menurutmu siapa?"
"Entahlah. Haowen mirip sekali denganmu, tapi orang baru akan menyadarinya kalau kalian berdiri berdampingan."
"Bagaimana dengan dokter yang membantu kelahirannya? Mungkinkah dia memerasku?"
"Aku tidak tahu. Kami pindah jauh dari pemukiman itu dan sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar kabarnya. Lagi pula, dia tidak tahu siapa ayah bayi Ji hyo."
"Mungkinkah Ji hyo menceritakan pada sahabatnya?"
"Kurasa tidak, tapi siapa tahu. Menurutmu ada orang yang tahu dan begitu kau menjadi terkenal, mereka ingat dan memutuskan untuk memerasmu?"
"Teoriku sih begitu." Sehun memperhatikan kopinya sesaat, berdeham, lalu tanpa tedeng aling-aling berkata, "Panti wreda tempat ibumu tinggal tampaknya mewah."
"Panti itu dijalankan oleh gereja tempat Dad bergabung. Mereka memberi potongan harga bagi janda pendeta... jadi sebaiknya hentikan pikiran burukmu saat ini juga." Sehun langsung menegakkan kepalanya. Luhan memelototinya dengan tajam.
"Keadaan tidak selalu mudah," ujar Luhan dengan kemarahan yang ditahan, "tapi aku bisa memenuhi kebutuhanku maupun Haowen. Kami sama sekali tidak kaya. Dia tidak bisa mendapatkan semua yang diinginkannya, dan karena itu saat melihat benda-benda mewah dia lebih heboh dari teman-teman sebayanya. Tapi kami bukan orang melarat. Dia tidak pernah kekurangan makan, rumah, ataupun pakaian, dan yang terpenting, dia tidak kurang kasih sayang."
"Aku hanya—"
"Diam dan dengarkan aku," perintah Luhan, mengejutkan mereka berdua dengan kegarangannya. "Aku menyayangi Haowen. Haowen menyayangiku. Sejauh ini yang kaupikirkan hanyalah bagaimana akibatnya terhadapmu kalau hal ini sampai terungkap. Seandainya memungkinkan, mengingat egomu yang begitu besar, coba pikirkan bagaimana akibatnya terhadap Haowen. Dia sedang berada dalam usia yang peka, sangat mudah terpengaruh. Dia anak yang hebat. Aku tidak mau terjadi apa pun yang dapat merusak cara pandangnya terhadap kehidupan. Dan itu termasuk mengetahui bahwa ayahnya adalah astoronot hebat yang hanya tidur dengan wanita kalau dirinya sudah memakai kondom dan yang menyetir seperti orang gila. Kalau kau melakukan atau mengatakan apa pun juga yang kelihatannya bisa mencelakai Haowen, kau akan berharap kau masih di luar angkasa, Kolonel Oh." Luhan mendengus. "Tolong antar aku pulang sekarang!"
.
.
HunHan
.
.
.
