Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Empat

.

.

.

Sudah ada yang menunggu Sehun saat ia tiba di rumahnya. Dua-duanya perempuan. Dua-duanya pirang. Dua-duanya bermata cokelat. Yang satu berkaki dua, yang lainnya berkaki empat. Yang satu tampak marah. Yang satu tampak girang.

Si pirang berkaki empat, seekor anjing Labrador bernama Vivi, berlari menyeberangi pekarangan yang ditata rapi oleh tukang kebun profesional yang belum pernah dilihat Sehun. Mereka datang saat ia sedang bekerja, menyelesaikan pekerjaannya, dan meninggalkan tagihan di kotak surat. Seorang pengurus rumah membereskan rumahnya dengan cara yang sama. Tempat tinggalnya tidak seperti tempat tinggal pria lajang pada umumnya.

Vivi nyaris membuatnya jatuh ketika anjing itu melompat dengan kaki belakangnya dan mulai menjilati tulang selangka Sehun karena anjing itu hanya mampu menjangkau sejauh itu.

"Hei," ujar Sehun, mendorong anjing itu dengan penuh sayang. Sehun membungkuk lalu memungut koran sore dan menggaruk belakang telinga anjing itu. Ia melemparkan koran itu ke pekarangan. Dengan patuh Vivi melompat mengejarnya, dengan lidah yang terjulur di sudut mulutnya.

Sehun tidak yakin bisa menenangkan si pirang satunya dengan cara yang sama. Untuk kesekian kalinya, ia berharap semua perempuan dalam hidupnya tidak rumit dan mudah diajak bergaul seperti Vivi.

"Hai." sapanya. menyunggingkan senyumnya yang paling menawan.

"Kau hanya terlambat satu jam," ujar gadis itu kesal. "Anjing itu nyaris menelanku hidup-hidup waktu aku masuk tadi."

"Dia memang cemburu pada perempuan lain." Sehun mengeluarkan surat dari kotak posnya dan memilah-milahnya. Hanya satu surat yang menarik perhatiannya. Amplop putihnya yang polos ditulisi dengan tulisan yang sudah mulai dikenalnya. Ia menyelipkannya ke saku kemeja dan meletakkan surat-surat lainnya di meja yang dipernis sambil melangkah masuk.

"Cuma itu yang bisa kaukatakan?" Vivi menyerbu masuk dengan korannya. Wanita pirang itu menunjuk Vivi dengan pandangan menuduh. "Dia nyaris merobek stockingku waktu dia mencakari kakiku."

"Dia hanya melindungi rumahku dari penyusup"

"Penyusup? Kau sendiri yang memberiku kunci rumah, nomor kode sistem pengamanmu, dan menyuruhku untuk langsung masuk."

"Benarkah? Kapan aku melakukannya?"

"Waktu kau mengajakku berkencan malam ini."

"Kita ada janji kencan?"

Gadis itu lebih muda lima belas tahun darinya, memiliki wajah yang biasa-biasa saja, kaki yang sangat panjang, dan kulit keemasan yang biasanya membuat Sehun bergairah. Semua pria yang dikenalnya pasti akan sangat iri kalau ia dapat tidur bersama gadis itu.

Tapi hari ini sangat menyebalkan. Sehun sedang tidak ingin bersusah payah menenangkan seorang cewek pirang yang sedang marah.

"Kau tidak ingat kita ada janji kencan?" rengek gadis itu dengan marah.

"Tidak."

"Kita bertemu minggu lalu di pesta yang banyak dihadiri astronot."

Sehun tidak ingat pesta yang mana. Setelah begitu banyak pesta yang didatanginya, semuanya bercampur aduk menjadi satu, begitu pula cewek-ceweknya. Sehun bahkan tidak ingat apa yang telah terjadi padanya sebelum Luhan menatapnya dengan matanya yang serius, berkabut, dan dengan tegas mengatakan, ya, anak muda tegap yang berperawakan seperti Oh Sehun dengan raut wajah Oh Sehun memang anak Oh Sehun.

"Dengar, eh. . .?"

"Suzette."

"Suzette, aku minta maaf," ujar Sehun, menyisir rambut dengan tangannya. "Aku, eh, hari ini ada masalah di kantor sehingga aku tertahan. Kami harus berlatih di ruang hampa udara, dan aku sangat lelah sekarang. Bagaimana kalau kita kencan lain waktu saja?"

Gadis itu tidak percaya pada senyumnya yang manis maupun alasannya yang dibuat-buat. "Kau mau mengusirku?"

Sehun memperhatikan bibir Suzette yang merah basah dan matanya yang menuduh untuk sesaat, lalu berkata, "Yah, begitulah. Mana kunciku?"

Suzette mencoba memancing Sehun namun tidak mendapatkan reaksi, lalu meletakkan kunci pintu ke tangan pria itu, nyaris melukai telapak tangan Sehun dengan ujungnya yang bergerigi.

Vivi menggeram dan mengertakkan giginya mendengar detak sepatu hak tinggi Suzette yang bergema menuju pintu depan. Setelah pintu dibanting di belakangnya, anjing itu menatap Sehun dengan ekspresi puas.

"Dasar anjing pencemburu. Mau biskuit enak?" Vivi mengikuti pemiliknya menyusuri rumah yang dulunya didekorasi dan ditempati oleh pasangan homoseksual sebelum mereka berpisah dan menjual hasil kreativitas mereka pada Sehun.

Sehun menyukai penataannya yang modern dan ruangan-ruangannya yang luas dan teratur. Sambil melamun ia memberi makan ikan tropis yang beraneka warna dalam akuarium yang dibangun di dinding yang memisahkan ruang makan dan dapur.

Sehun mengambil amplop dari sakunya dan membaca surat terbarunya. Ancaman untuk membeberkan hal ini lebih tajam dari sebelumnya. Ia membaca suratnya berulang-ulang dan tenggelam dalam teka-teki siapa yang mengiriminya surat-surat ini sampai Vivi harus menjilati tangannya untuk mengingatkan atas tawarannya tadi.

Sehun memberinya biskuit, dan mengambil bir untuk untuk dirinya sendiri, lalu membuka pintu kaca menuju tepi pelataran kayu. Di sana ia menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi berisi air hangat yang terbuat dari keramik italia yang mahal, yang membuat iri teman-temannya, bahkan yang kaya sekalipun.

Sehun hidup dari gaji perwira militer, tidak banyak bila dibandingkan dengan kebanyakan eksekutif muda. Tapi ia hanya perlu membiayai dirinya sendiri. Ia hidup berkecukupan dan bersedia menghambur-hamburkan uangnya demi menikmati hidup.

Ia sudah melupakan si pirang. Ia bahkan tidak akan mengenalinya bila bertemu di jalan. Pikirannya terpusat pada anak yang ditemuinya siang tadi.

"Anak yang sangat tampan," ujarnya pada Vivi, yang senang karena boleh bergabung dalam lamunan pribadi pemiliknya hingga berani menyurukkan moncongnya ke dalam air hangat yang berbusa untuk menjilati bahu Sehun.

Pria mana pun akan bangga memiliki anak seperti Haowen... Oh Haowen.

Anak itu dididik dengan baik. Haowen sopan pada ibunya. Biarpun ia girang setengah mati karena boleh menyetir Porsche, ia tetap ingat untuk berterima kasih sesudahnya. Ia langsung mengenakan sabuk pengamannya tanpa perlu disuruh. Anak itu menyetir dengan hati-hati. Sehun merasa puas dengan cara Luhan mendidik anaknya.

Anaknya?

Apakah ia sudah siap untuk mengakuinya? Sampai hari ini musim panas itu hanyalah kenangan yang indah namun samar. Apa yang diketahuinya tentang Luhan dan keluarganya? Bisa saja wanita itu hanya seorang penipu lihai yang berpura-pura menjadi orang baik kalau memang hal itu bisa mencapai tujuannya. Siapa tahu Luhan aktris ulung yang dengan meyakinkan pura-pura tersinggung waktu dituduh mengirim surat ancaman padanya.

Wanita itu pasti akan meraup banyak keuntungan jika Sehun mengakui Haowen sebagai anaknya. Membesarkan anak zaman sekarang tidaklah murah. Sebagai satu-satunya bujangan di kantor astronot, ia sering mendengar rekan kerjanya terus-menerus mengeluhkan besarnya biaya untuk membesarkan anak usia remaja.

Bekerja paro waktu sebagai ilustrator mungkin menguntungkan pada waktu-waktu tertentu, tapi

penghasilannya tidak tetap atau dapat diandalkan. Mungkin ada waktu-waktu kosong di antara pekerjaan berhonor tinggi. Mungkin si cewek ini sedang kehabisan uang akibat biaya perawatan ibunya dan menyusun rencana keji sebagai cara cepat untuk mendapat uang.

Tapi wanita itu benar-benar marah ketika Sehun terang-terangan menuduhnya mengalami kesulitan keuangan. Tubuhnya sih kecil, tapi dia bisa meledak seperti dinamit saat merasa tergangggu. Dan benar-benar menggairahkan.

Sehun mengumpat lalu bangun dari bak air panas-nya dan kembali berjalan ke dapur untuk mengambil bir. Sewaktu ia meminum birnya, Vivi duduk dengan patuh di kakinya yang basah, ia memikirkan semua kemungkinan yang dapat diakibatkan masuknya seorang remaja laki-laki ke dalam hidupnya. Tidak ada lagi cewek-cewek pirang. Dan waktu ia ditugaskan ke misi luar angkasa lainnya, siapa yang akan—

"Ini gila!" jeritnya pada diri sendiri. "Anak itu kan belum tentu anakku."

Tapi ketika ia berjalan menuju pancuran di kamar mandi utama, ia tersenyum mengingat bagaimana heboh dan girangnya Haowen, dan mengerutkan kening mengingat bagaimana ia mencium wanita yang dipanggil Mom oleh Haowen—mengerutkan kening karena ciuman itu begitu singkat namun bergelora. Ciuman itu nyaris membuat kepalanya meledak. Ciuman itulah satu-satunya alasan mengapa cewek pirang tadi sama sekali tidak membangkitkan seleranya malam ini.

HunHan

.

"Malam, Mom." Haowen berdiri di ambang pintu, berpamitan sebelum ia tidur. Hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala di atas meja gambar Luhan tempatnya mencorat-coret, berusaha menelurkan ide untuk iklan toko perhiasan.

"Kok tidur cepat?"

"Pelatih memberikan latihan gila-gilaan tadi sore. Aku capek."

Luhan tidak memarahi cara bicaranya. Malam ini ia memilih untuk tidak mengacuhkannya karena ia tahu Haowen berbicara seperti itu untuk menguji reaksinya. Kadang cara yang paling baik adalah dengan tidak bereaksi.

"Tidurlah yang nyenyak. Ingat, kau harus memotong rumput besok."

"Lima dolar?"

"Tujuh, kalau kau merapikannya dan menyapu sekalian."

"Boleh." Haowen tidak pergi. Ia memegang-megang kayu di kusen pintu, tanda ia bakal memulai pembicaraan yang sensitif. "Sebenarnya apa yang dilakukan Oh Sehun di sini tadi siang?"

Pensil Luhan terjatuh dan langsung menggelinding ke lantai. "Apa yang dilakukannya di sini?" ulangnya lemah. "Kau tahu kenapa dia ada di sin."

"Kenapa Mom tidak memberitahuku kalau Mom sudah menghubunginya? Maksudku, Mom biasanya kan cerita."

"Yah, aku tidak benar-benar menghubunginya. Aku, eh, menelepon NASA dan bertanya apakah aku boleh menggunakan wajah Kolonel Oh dalam gambarku. Kurasa mereka ingin melihatku dulu sebelum memberiku izin dan langsung mengirim Kolonel Oh sendiri. Aku sama kagetnya denganmu waktu dia muncul di sini."

Luhan belum pernah berbohong pada Haowen sepanjang hidupnya... kecuali kalau saat-saat Haowen bertanya tentang ayahnya termasuk dalam hitungan. Semua itu adalah kebohongan yang sah-sah saja, kebohongan demi kebaikan yang bermaksud untuk melindungi, bukan kebohongan mutlak seperti bohong besar yang baru saja dituturkannya.

"Oh. Yah, aku senang bertemu dengannya. Menu rut Mom dia keren, tidak?" tanyanya bersemangat.

"Sangat keren."

"Tadinya aku pikir dia mungkin sombong sekali, tapi ternyata dia seperti orang betulan."

"Dia kan memang orang betulan."

"Yah, Mom tahu kan maksudku."

"Ya, aku tahu."

"Menurut Mom, dia bakal ingat padaku tidak? Mungkinkah dia akan kembali lagi?"

Luhan berjalan ke arah Haowen dan menyibakkan rambut yang jatuh di atas alis anaknya itu, yang membuatnya harus mengangkat lengannya tinggi-tinggi. Hal ini menyadarkanya betapa Haowen tumbuh dengan pesat, satu hal yang tidak disukainya. Waktu berlalu sangat cepat. Sangat cepat.

"Aku tidak yakin kita akan bertemu dengannya lagi, Haowen," ujarnya lembut.

Pikirannya kembali melayang ke perjalanan pulang dari kafe ke rumahnya, yang dilewati dalam keheningan. Ia mengucapkan selamat tinggal dengan sopan pada Sehun di tikungan. Pria itu tidak berlambat-lambat tapi dengan marah langsung keluar, marah atas teguran keras yang diberikan Luhan padanya. Luhan sama sekali tidak menyesali ucapannya. Pria itu pantas menerimanya karena menuduh Luhan seorang pembohong dan pemeras.

"Aku tidak akan terlalu berharap dapat bertemu dengannya lagi. Dia kan sangat sibuk dan harus bertemu dengan banyak orang."

"Aku tahu," ujar Haowen, "tapi kurasa dia menyukaiku. Seandainya kita bisa berteman dengannya, kan asyik ya, Mom?"

Tenggorokkan Luhan tercekat, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum dan berlama-lama memeluk Haowen. "Sebaiknya kau cepat tidur. Kau perlu istirahat. Pertandingannya kan tinggal beberapa hari lagi."

"Okeee." Seperti yang selalu dilakukannya jika keluar ruangan, ia melompat untuk menyentuh langit-langit, lalu berlari keluar.

Luhan mendengarkan langkah kaki Haowen yang berdebam di tangga ketika anak itu melompati dua anak tangga sekaligus. Bukannya tersenyum sayang seperti yang biasa dilakukannya, air matanya malah menetes.

Surat. Surat-surat kaleng. Sejak Ji hyo memberitahunya bahwa dia mengandung anak Oh Sehun, Luhan sering mengkhayalkan bagaimana si anak akan. membawa pria itu kembali dalam hidupnya. Dalam khayalannya hal itu selalu untuk alasan yang sangat mendesak seperti Haowen membutuhkan transplantasi ginjal, atau transfusi darah, bukan sesuatu yang sepele seperti selembar surat.

Tapi Sehun sudah masuk kembali dalam kehidupannya. Dan pria itu sangat menawan, jauh lebih tampan. Mata birunya yang jernih tidak memudar, bahkan semakin jernih. Senyumnya yang penuh percaya diri, cara berdirinya yang santai, gaya jalan yang angkuh seorang pilot pesawat tempur, bagaimana sinar matahari menyinari rambutnya, semuanya dikenang Luhan dengan pedih, karena semuanya terpendam di hati Luhan selama tujuh belas tahun.

Kenangan-kenangan itu tidak hilang oleh kesedihan yang dideritanya setelah itu: kematian kakak dan ayahnya dan kesehatan ibunya yang semakin memburuk. Semua kenangan tentang Sehun telah bertahan dalam perjuangannya untuk meraih gelar sarjana, bekerja, dan sekaligus mengurus Haowen. Semua kenangan itu mematikan semua hubungan cinta yang belum sempat berkembang.

Kini satu-satunya pria yang pernah dicintainya hadir kembali dalam hidupnya. Untuk kedua kalinya masa depan Luhan terletak di tangan pria itu. Hanya saja sekarang pria itu menyadarinya.

Luhan setengah menyalahkan dirinya sendiri atas kecemasan yang dirasakannya. Ia bisa saja menertawakan tuduhan atas surat-surat itu padanya, langsung menyangkalnya dan memberitahu Sehun bahwa seseorang sedang mengerjainya, paling-paling orang yang ingin mencari uang dengan mudah yang pernah melihat Haowen dan menyadari kemiripan antara mereka berdua.

Tapi hati nurani Luhan tidak membiarkannya mengambil jalan pintas. Ketika ia ditanya, hati nuraninya tidak memberinya pilihan lain kecuali mengatakan hal yang sebenarnya pada Sehun.

Celakanya, reaksi Sehun atas jawaban yang jujur itu akan berpengaruh besar pada hidup mereka semua. Seandainya Haowen akhirnya menyadari bahwa Sehun adalah ayah yang selalu dicarinya, dan Sehun menolaknya, bagaimana Haowen dapat mengatasi penolakan itu?

Atau seandainya Sehun memutuskan untuk menerima anaknya, bagaimana Luhan dapat menjalani hidup tanpa Haowen? Anak itu adalah satu-satunya sisi baik dan positif dalam hidupnya. Sehun telah memberikan Haowen baginya. Kini Sehun dapat mengambilnya.

Luhan menunduk menatap tangannya yang tersiram kopi. Warna merahnya sudah mulai hilang, tapi masih ada kilatan mentega di kulitnya. Ia memejamkan matanya dan mengenang kembali bagaimana jari-jari Sehun mengusap-usap tangannya. Tanpa sadar ia mengerang.

Ia mencintai Oh Sehun dengan gairah tak terbalas yang membuatnya pedih. Ia menyayangi putra pria itu dengan rasa cinta yang sama besarnya. Sehun tidak pernah menjadi miliknya. Dan mulai hari ini, ia terancam kehilangan Haowen.

.

.

HunHan

.

.

.

Note:

Untuk cast anjing, anggap saja Vivi berwarna pirang dan jenis Labrador ya... :p

Dan kalau disini ada fans-nya teteh Song Jihyo, mohon untuk tidak tersinggung. Saya juga penggemar Song Jihyo.

Alasan kenapa Jihyo yang saya pilih, karena karakter Jihyo yang kuat, temperamen dan pemberani. Menurut saya sesuai dengan gambaran si "kakak" di cerita ini. Selain itu, Jihyo mirip banget sama Luhan. wkwk