Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Lima

.

.

.

"Satu diet soda."

"Dua sekalian."

Mendengar suara Sehun, Luhan memutar tubuhnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Beli soda," ujarnya sambil tersenyum santai. "Dan minta sekantong popcorn juga, ya."

Pria di balik stan makanan memberikan pesanan mereka sambil terus menatap Sehun. "Rasanya aku mengenalmu."

Sehun tersenyum lebar. "Mungkin kau memang mengenalku."

Pria itu memperhatikan wajah Sehun sambil menghitung uang kembalian Sehun. Luhan berusaha untuk membayar sendiri minumannya, tapi tangannya ditahan di balik konter.

"Oh, ya ampun, betul," ujar pria itu sambil ter-tawa terbahak-bahak. "Kau bekerja di Walmart, kan? Di bagian peralatan olahraga?"

Senyum Sehun memudar, tapi hanya separo. "Benar. Kau memegang tim yang mana?"

"Tim Tornadoes."

"Sama dong. Trims." Sehun lalu menuntun Luhan keluar antrean dan berjalan menuju landaian beton yang menuju ke gelanggang olahraga sekolah.

Tawa Luhan meledak.

"Diamlah," gerutu Sehun. "Hal itu cukup sering terjadi untuk membuatku tetap rendah hati."

Pria itu sama sekali tidak tampak rendah hati. Ia tampil sebagai seorang penguasa dunia. Ia mengenakan celana pendek, kaus biru AL yang membentuk tubuhnya yang bidang, topi NASA, dan kacamata pilot yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Berjalan di sisinya, Luhan melihat beberapa kepala menoleh ke arah Sehun baik karena mengenal maupun hanya mengagumi pria itu.

"Terima kasih atas minumannya."

"Sama-sama. Mau popcorn?"

"Tidak, terima kasih."

Karena kedua tangannya penuh, Sehun menggunakan mulutnya untuk langsung mengambil popcornnya. "Aku mendapat surat lagi," ujarnya tenang sambil mengunyah.

"Benarkah?"

"He-eh. Hari yang sama waktu aku bertemu denganmu. Mau duduk di mana?"

"Di bawah sana, yang penuh orang pakai baju biru dan hitam." Luhan menganggukkan kepalanya ke sebuah bagian di gelanggang tempat para pendukung bersorak-sorai dengan meriah.

Sehun menepi agar Luhan dapat menduluinya menuruni tangga. "Apa isi surat itu?" tanyanya sambil menengok ke belakang.

"Kurang-lebih sama. Nanti saja kita membahasnya. Setelah pertandingan selesai."

"Kupikir karena kau tidak menelepon atau datang keesokan harinya—"

"Kau takkan melihatku lagi?"

"Ya," jawab Luhan terus terang.

"Lalu, kau merasa senang atau sedih?"

"Aku tidak tahu."

Luhan merasa gamang ketika hari demi hari berlalu tanpa Sehun mencoba menghubunginya lagi. Di satu sisi ia merasa sangat lega. Di sisi lain ia tidak sanggup membayangkan tidak dapat bertemu dengan pria itu lagi.

Masih ditambah dengan kekecewaan Haowen yang harus diatasinya saat tokoh idola anak itu tidak meneleponnya untuk menindaklanjuti pertemuan pertama mereka.

"Bagaimana kalau kita duduk di sini?" tanya Sehun, mengarahkan Luhan ke sebuah deretan kursi.

"Boleh."

Luhan melambaikan tangan ke arah para orang tua teman satu tim Haowen, yang sebagian besar berhenti bersorak untuk memperhatikan Sehun dan dirinya dengan penuh rasa ingin tahu. Luhan memang belum pernah menghadiri acara olahraga di sekolah bersama seorang teman kencan. Musim semi tahun lalu ia dijodoh-jodohkan dengan pelatih sepakbola yang juga masih lajang. Luhan merasa kesal.

Sekarang pelatih itu sudah punya kekasih yang menyoraki tim dari balkon, sehingga Luhan selamat dari pertemuan yang dirancang untuk memaksa mereka berduaan.

Luhan tidak pernah menceritakan pada para makcomblang itu bahwa si pelatih pernah meneleponnya dua kali untuk mengajaknya kencan. Ia mengarang alasan yang terkesan dibuat-buat hingga si pelatih tampaknya menyerah mundur.

Sekarang ia merasa semua perhatian tertuju padanya ketika Sehun duduk di sampingnya. Semua yang duduk di sekeliling mereka terus mengamati mereka berdua.

"Sudah ada kabar dari perusahaan itu?" tanya Sehun.

"Belum. Aku masih terus berdoa." Luhan mengangkat tangannya, membuat gerakan orang berdoa. Sehun meraih pergelangan tangannya dan menaikkan kacamata hitamnya untuk melihat tangan Luhan.

"Bagaimana lukanya?"

"Kulitnya bahkan tidak sempat melepuh. Tampaknya menteganya cukup ampuh."

"Baguslah kalau begitu." Sehun masih menggenggam tangannya sesaat sebelum melepaskannya. "Kau kelihatan seperti maskot tim saja," komentarnya sambil melahap popcorn-nya. "Seharusnya kau ikut tim pemandu sorak saja sekalian."

Luhan mengenakan celana pendek hitam dan sebuah kaus loreng warna biru-hitam dengan sulaman "Haowen's Mom" di bagian dada kirinya. "Semua ibu berpakaian seperti ini."

"Tapi tidak seorang pun yang mirip denganmu." Luhan tidak dapat melihat mata Sehun di balik kacamata hitamnya, tapi ia tahu Sehun sedang mengamatinya. Tiba-tiba saja ia merasa tersipu. Luhan mengalihkan perhatiannya ke lapangan. "Itu Haowen."

"Nomor berapa—Oh, itu dia."

Haowen dan regunya sedang berlari di pinggir lapangan setelah melakukan pemanasan. Saat ia melihat mereka berdua duduk berdampingan di bangku penonton, dari jauh pun Luhan dapat melihat mata Haowen yang biru berbinar-binar. Senyum Haowen semakin lebar dan ia melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Sehun membalas lambaiannya dan mengacungkan kedua ibu jarinya.

"Regunya pasti menang," ujarnya.

"Kau tahu dari mana?"

"Anak itu seorang juara. Itu sudah kelihatan jelas."

Di akhir babak pertama Luhan merasa ramalan Sehun salah. Tim Tornadoes ketinggalan satu kosong. Babak itu merupakan babak yang berat bagi kedua regu, karena masing-masing sudah sering hampir mencetak angka, namun digagalkan oleh para penjaga gawang yang andal. Suasana histeris melanda penonton. Emosi semakin meningkat.

Karena itulah ketika paha mereka secara tak sengaja bersentuhan, Luhan langsung menarik pahanya. Tiap helai bulu di kakinya seperti tersengat listrik.

"Maaf," ujarnya menahan napas.

"Tidak apa-apa." Tanpa sadar Luhan menggosok-gosok pahanya yang tadi bersentuhan dengan paha Sehun. Melihat hal itu, Sehun menambahkan, "Tenang saja. Aku takkan bisa menularkan apa-apa lewat sentuhan ringan seperti itu."

Luhan berhenti menggosok kakinya dan mengerutkan dahi sambil memandang Sehun dengan kesal. "Kau senang melakukan itu, ya?"

"Apa? Sentuhan ringan?"

"Membuat wanita salah tingkah."

"Sebenarnya salah tingkah tidak membuatku bergairah. Aku lebih suka membuat hubungan intim sesederhana mungkin dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang perlu saja."

Luhan ingin menghapus senyum mengejek pria itu, dan mengalihkan pembicaraan ke masalah serius yang mempertemukan mereka. "Apa katanya? Surat itu, maksudku."

Matahari di balik sisi lain stadion mulai tenggelam, membuat bayangan besar di stadion terbuka tempat mereka duduk. Sehun melepaskan kacamata gelapnya. Luhan memperhatikan mata riang pria itu berubah sedih.

"Kurang-lebih sama."

"Lebih mengancam?" tanyanya, khawatir akan keselamatan Haowen.

"Tidak juga. Aku hanya diingatkan betapa pers akan berpesta pora kalau kisah tentang Haowen sampai bocor. Itu sih aku juga sudah tahu," ujarnya geram.

"Haowen juga pasti akan kena akibatnya."

"Aku tahu," tukas Sehun ketus. "Aku bukan bajingan egois seperti anggapanmu. Sekarang aku harus bisa berpikir logis dan praktis, bukan emosional. Satu-satunya cara kita bisa menangkap orang ini adalah dengan mulai berpikir seperti dia. Oke?"

Luhan mengangguk. Sesaat amarah Sehun tampak reda. "Aku memang sasaran empuk untuk dijadikan bulan-bulanan. Siapa pun yang menulis surat-surat itu cukup pandai untuk menyadarinya dan menggunakannya sebagai umpan. Dia sama sekali tidak bisa dianggap enteng. Ini adalah rencana yang sudah dirancang dengan matang untuk menghancurkan karierku."

"Aku bisa mengerti kalau hal ini bisa mengganggu hidup kita, tapi bagaimana pengungkapan kesalahan di masa muda bisa menghancurkan kariermu?"

"NASA sudah mendapatkan kembali kredibilitasnya yang sempat hilang setelah kecelakaan Challenger."

"Berkat kau."

Sehun mengangkat bahu rendah hati. "Tapi para pengelola tetap saja cemas. Mereka tidak mau membuat kesalahan lagi. Jelas mereka tidak mau ada skandal. Dan kalau sampai foto seorang anak tidak sah yang tidak pernah kuketahui keberadaannya muncul di tabloid-tabloid, apa kau kira aku masih punya kesempatan untuk dikirim ke misi luar angkasa lagi?"

"Memangnya kau masih ingin dikirim lagi?"

Ekspresi Sehun mengatakan itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah didengarnya. "Ya, jelas. Hanya ada sedikit misi luar angkasa dengan sedikit kru untuk masing-masing misi. Aku ingin terbang sebanyak yang bisa kulakukan sebelum aku dianggap terlalu tua atau sebelum ada masalah kesehatan menimpaku atau sebelum pilot-pilot muda menggantikanku. Ya, tentu saja aku masih ingin dikirim lagi."

"Kau benar-benar suka terbang, ya, Sehun?"

"Sama seperti aku menyukai steak yang enak, Ray Charles, dan seks."

"Kurasa baru sekarang aku mengerti betapa rapuhnya dirimu. Tidak pernah terpikir olehku kalau pengungkapan masalah ini ke publik bisa mempengaruhi kariermu."

"NASA tidak akan memecatku. Tapi ulasan yang buruk bisa menamatkan karierku sebagai astronot. Aku akan disuruh mengajar semua hal yang sebenarnya ingin kulakukan sendiri." Sehun cemberut. "Siapa pun yang mengancamku tahu betul betapa berartinya misi penjelajahan ruang angkasa bagiku."

"Bukan aku," tukas Luhan sungguh-sungguh, sambil menunjuk dadanya. "Akan lebih baik bagi Haowen maupun aku kalau semuanya tetap seperti dulu. Mengetahui kau adalah ayahnya hanya akan mengacaukan hidup Haowen."

Sehun tampak tersinggung. "Kenapa begitu?"

"Karena kau adalah kau. Apa yang akan kaulakukan dengan seorang anak yang beranjak remaja?"

"Lebih sering menghadiri pertandingan sepakbola."

"Dan lebih jarang pergi ke pesta."

"Kelihatannya kau terus memantau perkembanganku."

Luhan terdiam. Pria itu tidak perlu tahu kalau hal pertama yang dicarinya di koran pagi adalah berita apa pun tentang dirinya. Fotonya sering menghiasi kolom berita masyarakat.

"Peluitnya sudah ditiup," ujar Luhan, kembali memusatkan perhatian ke lapangan.

Tim Tornadoes berhasil menyarangkan gol di awal babak kedua, sehingga menyamakan kedudukan. Tapi ketegangan memuncak ketika waktu yang tersisa di babak kedua itu tinggal satu menit lagi. Tampaknya bakal ada perpanjangan waktu. Semua orang di stadion berdiri dan menjerit sampai serak menyemangati para pemain yang energi dan semangatnya mulai memudar.

"Sini, berdirilah di sini supaya kau bisa melihat lebih jelas," ujar Sehun pada Luhan. Tangannya memeluk pinggang wanita itu dan menaikkannya di atas kursi di depan tempat duduk mereka. "Lebih jelas?"

"Sangat." Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, Luhan dapat melihat lapangan tanpa terhalang.

"Oh, tidak!" Luhan, dan juga semua orang di bangku penonton mengerang ketika upaya tim Tornadoes untuk menjebol gawang lawannya gagal. "Ambil bolanya, Haowen! Ambil dan... ya, begitu!" pekiknya, menangkupkan kedua tangannya di pipi. Luhan melonjak-lonjak di atas bangkunya. Sehun memeluk pinggangnya, menjaganya agar tidak jatuh.

"Hati-hati, jangan sampai jatuh." Lalu ia mengumpat ketika seorang pemain lawan merebut bola dari Haowen, yang sedang menggiring bolanya dengan lihai ke arah gawang. "Rebut kembali, Haowen! Jaga dia, jaga—"

"Ayo Haowen, ayo!" Luhan menjerit-jerit ketika dengan cekatan Haowen merebut bolanya kembali dari sela-sela kaki pemain lain tanpa menjatuhkannya.

"Dua puluh detik lagi!" teriaknya. "Lima belas detik lagi, Haowen! Yang lain bantu dia dong! Hadang anak itu! Ya ampun, dia terus-menerus melakukan itu pada mereka sepanjang pertandingan dan mereka— Wasit, pelanggaran tuh!" jeritnya, menunjuk penuh tuduhan. "Mana kacamatamu? Sepuluh detik. Aduh, sialan. Haowen, lakukan sesuatu! Lima det—"

Kata-katanya yang terakhir tenggelam oleh sorak membahana ketika Haowen menendang bola melewati penjaga gawang dan mencetak angka kemenangan. Hiruk-pikuk terjadi di lapangan, di pinggir lapangan, di bangku penonton. Para pendukung tim bersorak-sorak kegirangan.

Yang paling heboh adalah Luhan dan Sehun. Hanyut dalam kegembiraan yang meluap-luap, Luhan berbalik dan mendarat dalam pelukan Sehun. Ia mengangkat Luhan tinggi-tinggi, memeluknya erat-erat, dan memutar-mutarnya di antara bangku penonton.

"Aku tak percaya. Aku tak percaya," seru Luhan, tertawa dan menangis sekaligus. Ia menunduk dan tersenyum menatap wajah Sehun. Sehun menengadah dan membalas senyumnya.

Lalu senyum mereka lenyap dan mereka berpandangan dengan aneh. Mata mereka saling menatap dengan perasaan yang berbeda, tapi sama bahagianya.

Mereka baru menyadari bahwa sebelah tangan Sehun menopang bagian bawah tubuh Luhan dan tangan Sehun yang lain menahan punggungnya. Lengan Luhan melingkari leher Sehun. Lututnya berada di pinggul Sehun dan payudaranya sejajar dengan mulut pria itu.

Sehun menurunkannya pelan-pelan, hingga posisi mereka berbalik dan Luhan-lah yang kini menengadah, memandang Sehun dengan mata melebar dan sukar dipahami. Pelan-pelan Luhan melepaskan pelukannya di leher Sehun, tapi tangannya malah memegang dada bidang pria itu.

Efeknya bagi indranya begitu mengejutkan hingga untuk beberapa saat Luhan hanya dapat menatap pria itu. Sehun tampak sama terkejutnya, tapi dialah yang pertama-tama memecah keheningan.

"Anakmu penjebol gawang yang hebat."

"Terima kasih," jawab Luhan parau. Tiba-tiba menyadari bahwa ia masih menyentuh pria itu, hingga ia langsung menarik tangannya. Walaupun Sehun sudah melepaskan pelukannya, Luhan masih dapat merasakan kehangatan tangan pria itu di bokongnya.

"Mau bergabung dengan keriuhan di sana?" Pertandingan sudah berakhir. Di lapangan para pemain melakukan upacara kemenangan. Masing-masing memegang minuman kaleng, yang dikocok kuat-kuat sebelum dibuka, lalu menyiramkannya pada teman-teman satu timnya.

"Pasti," jawab Luhan, dan tertawa. Bersama-sama mereka lari menuruni tangga stadion, melangkahi pembatasnya, dan lari memsuki lapangan. Haowen menyambut mereka. Dengan gembira ia menyambar Luhan ke dalam pelukannya yang basah oleh keringat dan memutar-mutar ibunya, sama seperti yang dilakukan Sehun sesaat sebelumnya.

"Kau benar-benar hebat, Haowen, hebat." Luhan menepuk-nepuk punggung anaknya dan memberinya ciuman yang tidak ditolak Haowen saking sedang girangnya.

"Selamat," ujar Sehun formal, menepuk keras bahu Haowen. Lalu mereka berdua saling berjabatan tangan.

"Terima kasih sudah mau datang, Kolonel Oh."

"Orang yang berhasil meraih angka kemenangan boleh memanggilku Sehun."

Haowen tersenyum malu. "Aku rasa aku akan memanggilmu paman. Oh ya, kami semua mau makan pizza. Semua anggota tim. Semua diundang. Anda bisa ikut?"

"Dengan senang hati."

Haowen mengangkat sebelah tangannya dan menjerit seperti orang Indian. "Oke, kalau begitu nanti kita ketemu di luar. Kami harus menerima pialanya."

Sebagai kapten, Haowen dan pelatihnya menerima piala dari para panitia di tengah lapangan. Sehun berdiri di samping Luhan dan lengannya melingkari bahu Luhan. Ia meremas bahu Luhan dengan lembut ketika Haowen melangkah maju untuk memberikan pidato.

"Aku hendak mengucapkan terima kasih pada para pimpinan sekolah yang senantiasa mendukung kami sepanjang musim ini. Teman-teman semua, terima kasih atas dukungannya!" Penonton bersorak riuh rendah. Haowen menunggu sampai sorakannya reda. "Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Pelatih. Kami takkan berhasil tanpanya." Kembali para pemain dan orangtua bertepuk tangan. "Aku menerima piala ini atas nama seluruh anggota tim. Hidup Tornadoes!" pekiknya.

Sehun membungkuk dan mendekatkan bibirnya di telinga Luhan. "Dia juga pandai berpidato."

"Terima kasih."

Untungnya gegap gempita kemenangan yang terjadi di sekeliling mereka membuat Sehun tidak melihat air matanya. Merasakan berat lengan pria itu di bahunya ditambah rasa cinta di hatinya bagi Sehun dan anaknya membuat Luhan nyaris jatuh.

Saat berjalan pelan menuju tempat parkir, mereka bertiga berdebat tentang kendaraan ke tempat pizza. Akhirnya Luhan kalah dua lawan satu. "Seperti skor pertandingannya saja," ujarnya, mengaku kalah.

"Jangan sinis begitu." Sehun tidak berniat menyembunyikan rasa senangnya atas hasil pemungutan suara itu.

Luhan dan Haowen dibawa menuju ke sebuah mobil sport yang keren. "Berapa banyak mobil yang kaumiliki?" seru Haowen dari kursi belakang mobil Land Rover convertible setelah mereka mulai meluncur di jalan.

"Cuma ini dan Porsche."

"Maaf tadi teman-temanku mengeroyokmu seperti itu. Mereka benar-benar norak. Mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan orang beken." Rasa terganggu Haowen yang dibuat-buat membuat dua orang dewasa di depannya senyum. "Tidak ada yang percaya kau datang hanya untuk melihatku bertanding."

"Aku tidak keberatan memberi tanda tangan kok."

"Biasanya sih mereka selalu mengerubungi Mom."

"Tidak ah!" protes Luhan.

"Oh, ya?" Tanya Sehun.

"Harusnya kau dengar apa kata mereka tentang Mom," lanjut Haowen. "Mereka naksir berat, atau mungkin bernafsu pada Mom."

"Haowen, bisakah kau tidak berbicara—"

"Tapi mereka kan memang begitu, Mom." Haowen memandang wajah Sehun lewat kaca spion. "Kau tahu, Mom kan tidak setua ibu teman-temanku. Dan Mom juga lebih cantik. Mom juga tidak kaku dan cerewet, tapi benar-benar enak diajak mengobrol."

"Benarkah?" tanya Sehun tak acuh.

"Iya, sungguh." Haowen mengerutkan dahi. "Aku senang mereka menyukainya, tapi ada satu orang yang mulai bicara macam-macam dan bilang bahwa dia mau, ehm, meniduri Mom segala. Aku terpaksa meninjunya."

"Haowen!" Luhan terkejut dan berbalik di kursinya untuk menatapnya. "Kau tidak pernah cerita pada ku."

"Tenang. Dia memang bajingan, bukan teman dekatku kok." Sambil rnemandang mata Sehun di kaca spion, ia berkata, "Biasanya sih aku tidak keberatan kalau teman-temanku mulai membicarakan Mom. Mereka menggodaku karena Mom lajang." Haowen terkekeh geli. "Pernah ada kakak kelasku yang bertanya padaku apakah dia boleh mengajak Mom ke pesta dansa sekolah. Kurasa dia hanya bergurau." Ia memandang Luhan. "Dia tidak benar-benar mengajak Mom, kan?"

"Tentu saja tidak."

Haowen mengangkat bahu dan kembali menatap Sehun lewat kaca spion. "Kurasa tidak apa-apa kalau mereka bercanda dengan Mom karena Mom bukan ibu kandungku. Mom sebenarnya bibiku. Ibu kandung ku meninggal waktu aku baru empat tahun."

"Bagaimana dengan ayahmu?"

Luhan berputar di kursinya lagi, kali ini untuk menatap wajah Sehun. Ia memberikan tatapan peringatan pada pria itu.

Tapi Haowen malah menjawab pertanyaan itu dengan mantap. Itu adalah pertanyaan yang pasti harus dijawabnya tiap kali ia mendapat teman baru. "Aku tidak pernah mengenal ayahku, tapi Mom bilang itu bukan masalah karena aku adalah aku dan yang penting adalah masa depanku, bukan masa laluku." Haowen menunjuk di antara bahu kedua orang di depannya. "Di sana, paman. Di sebelah kanan."

Kemeriahan dalam restoran memekakkan telinga. Wajah manajer yang tampak kesal langsung menjadi pucat ketika gerombolan tim Tornadoes menyerbu masuk memenuhi meja. Pesanan langsung dicatat dan soda langsung habis dengan cepat. Seluruh tim duduk di satu meja panjang di tengah-tengah ruangan sementara para orangtua dan para penggemar lainnya, di antaranya beberapa kelompok gadis yang cekikikan terus, duduk di meja sekitarnya.

Sehun dan Luhan duduk di salah satu meja di samping. Tempatnya memberi mereka sedikit keleluasaan. "Kurasa aku seharusnya merasa tersanjung."

Luhan mengusap mulutnya dengan tisu dan mengesampingkan piringnya yang sudah kosong. "Kenapa? Karena diundang ke perayaan ini?"

"Itu dan karena boleh duduk bersama gadis yang paling populer."

"Haowen cuma membesar-besarkan."

"Kurasa tidak. Sepanjang malam ini aku dipelototi tatapan-tatapan cemburu. Ada apa sih antara kau dan si pelatih?"

"Tidak ada apa-apa. Dia sudah punya pacar kok."

"Tapi kurasa wanita itu bukan pilihan pertamanya." Luhan menatap Sehun dengan tatapan menegur. Tanpa merasa gentar, Sehun mencondongkan tubuhnya di meja dan memperhatikan Luhan dalam cahaya lilin yang bergerak-gerak. "Senang juga mengetahui anak muda zaman sekarang punya selera yang bagus."

"Trims. Tapi bukan berarti kau bisa lobs begitu saja karena memancing Haowen dalam perjalanan tadi. Kalau kau mau tahu, tanya aku."

"Baik. Berapa banyak?"

"Berapa banyak apanya?"

"Pria."

"Bukan urusanmu."

"Belum pernah menikah?"

"Belum."

"Mengapa?"

"Memang apa urusannya denganmu? Aku takkan berani menanyakan berapa banyak wanita dalam hidupmu sejak kita bertemu di Galveston."

"Tak terhitung, saking banyaknya."

"Tepat."

"Tapi tidak demikian halnya denganmu, kan? Taruhan, pria yang pernah tidur denganmu paling-paling masih bisa dihitung dengan satu tangan."

Kata-katanya menyinggung harga diri Luhan. "Kok bisa seyakin itu?"

"Karena adanya Haowen bisa menjadi penghalang hubungan cinta. Iya, kan?"

"Benar sekali," ujar Luhan dengan nada sama dinginnya seperti ketika ia menegur pria itu beberapa malam sebelumnya. "Hubungan cinta bisa menjadi penghalang dalam hidupku dan Haowen. Aku jamin, Kolonel Oh, anakmu diasuh dalam lingkungan yang baik."

"Aku belum mengakui dia anakku."

"Oh," ujar Luhan terkejut. "Kupikir karena kau datang menonton pertandingannya, berusaha bertemu Haowen lagi, kupikir kau sudah yakin."

"Sebelum aku mengambil Iangkah selanjutnya—"

"Langkah selanjutnya?" tanya Luhan cemas. "Langkah selanjutnya apa?"

"Aku belum tahu. Pertama-tama aku harus yakin aku memang ayahnya. Kau bisa memahami itu, kan?"

"Kau tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menerima ceritaku dan melihat betapa miripnya kalian berdua."

"Setahuku ada tes darah," ujar Sehun pelan. "Tes itu tidak bisa membuktikan garis keturunan, tapi cukup efektif untuk mengesampingkan beberapa kemungkinan."

"Aku tahu. Aku sering mendengarnya."

"Aku ingin Haowen dan aku menjalani tes darah. Aku butuh kepastian."

"Haruskah kau melakukannya?"

"Ya, Luhan. Aku harus melakukannya. Agar aku bisa tenang."

Luhan menghela napas dan berkata, "Aku takkan bisa mencegahmu, ya?"

"Maukah kau membantuku?"

Luhan diam sejenak sebelum menjawab. "Haowen pasti menjalani tes kesehatan sebelum musim pertandingan dimulai. Mereka mengambil darahnya waktu itu. Pasti mereka masih menyimpan berkasnya."

"Aku akan menanganinya. Siapa yang harus kuhubungi?"

Luhan menuliskan nama klinik tempat Haowen menjalani tes kesehatannya dan menyerahkan kertasnya pada Sehun tepat saat Haowen menghampiri mereka.

Anak itu berlutut di samping meja mereka dan mulai memukul-mukul meja seperti tambur. "Aku siap pergi kapan pun kalian siap. Aku sudah mengalahkan semua orang di permainan video. Mereka mengusirku karena mereka semua berutang padaku."

Sehun tertawa terbahak-bahak dan membantu Luhan berdiri. Luhan berusaha keras untuk membayar sendiri makanannya, Sehun dengan keras menolaknya. Kepergian mereka diiringi sorakan, bagi sang kapten yang menjadi penentu kemenangan tim Tornadoes dan bagi tamunya yang terkenal.

Tak lama kemudian mereka sudah berada di jalan tol. "Hei, paman, kau melewati belokan menuju stadion," ujar Haowen dari bangku belakang.

"Tapi tidak melewati belokan menuju rumahku."

"Rumahmu?" tanya Luhan.

"Kupikir kalian mungkin mau berenang dan beristirahat."

"Sungguh, Paman? Kau punya kolam renang? Mom, dia punya kolam renang."

"Sudah larut."

"Besok kan libur. Boleh, ya?"

Karena Sehun yang menyetir mobil, keputusan jelas bukan di tangan Luhan, tapi ia sama sekali tidak menyukai gagasan untuk pergi ke rumah pria itu. Ia tidak mau Haowen menjadi terlalu akrab dengan orang terkenal yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan sewaktu-waktu bisa pergi begitu saja begitu kegembiraan memiliki seorang anak sudah luntur.

Dan kalau rasa tanggung jawab Sehun membuatnya merasa wajib untuk mengasuh Haowen, bagaimana rumah tuanya, yang ledengnya sangat perlu diperbaiki, dapat menandingi rumah modern yang indah dengan kolam renang di halaman belakang dan akuarium di dinding ruang makan?

Akuarium itu hanya salah satu dari ratusan benda lain yang disebut Haowen "Keren!" ketika ia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Anjing Labrador berbulu keemasan sedikit menggeram pada Luhan tapi langsung tertarik pada Haowen dan berjalan di samping anak itu, menggoyang-goyangkan ekornya dan menjilati lutut teman barunya.

"Gila, rumah ini benar-benar hebat, ya?" pekik Haowen saat melangkah keluar menuju teras untuk mengagumi kolam renangnya.

"Berenanglah," ujar Sehun padanya. "Tapi lepaskan dulu sepatunya."

Dengan cepat Haowen menanggalkan celananya dan langsung terjun tanpa ragu-ragu. "Gaya renang yang bagus," Sehun mengomentari.

"Belajar di klub pemuda selama sepuluh musim panas," ujar Luhan.

"Apakah dia selalu berhasil pada apa pun yang dilakukannya?"

"Ya." Luhan menatap Sehun dari samping. "Dan dia tidak mendapatkan dorongan seorang juara dari ibunya."

Mereka mengawasi Haowen berenang bolak-balik sebelum akhirnya berhenti untuk beristirahat. Vivi terus membuntutinya, berlari-lari di tepi, menyalak dengan girang. Saat Haowen muncul di permukaan untuk mengambil napas, anjing itu menjilati wajahnya.

"Anjing ini menyukaiku." Haowen tertawa dan mengelak dari jilatan anjing itu.

"Dia belum olahraga hari ini. Bagaimana kalau kau mengajaknya jalan-jalan?" usul Sehun. "Dua blok ke arah selatan ada orang yang memiliki Ferrari merah. Biasanya mobilnya diparkir di luar pada jam-jam seperti ini."

Haowen menghela dirinya keluar dari kolam dan mengambil handuk dan rantai anjing yang diulurkan Sehun padanya. "Ayo, Vivi. Aku pergi dulu, ya."

Si anak dan teman barunya yang setia keluar lewat gerbang pribadi yang langsung menutup di belakang mereka. "Kurasa Vivi mau saja pergi dengan Haowen kalau anak itu memintanya," ujar Sehun. "Dasar anjing tidak setia."

"Dari dulu Haowen selalu ingin punya anjing."

"Kenapa dia tidak pernah memeliharanya?" Alis Sehun bertaut.

"Ibuku. Hewan peliharaan membuatnya gugup. Sejak ibu masuk panti wreda aku belum sempat mencarikan anjing untuk Haowen."

Sehun mempertimbangkan hal itu sesaat, lalu mengedikkan kepala ke arah sebuah ruangan di seberang kolam renang. "Ruang ganti wanita ada di sebelah sana. Kau akan menemukan berbagai macam model baju renang di lemarinya, tapi aku tidak yakin ada yang ukurannya cukup kecil untukmu."

"Aku tidak butuh baju renang."

Sehun melangkah mendekat. Suaranya berat. Ia menyeringai lebar. "Itu lebih bagus lagi."

"Maksudku bukan seperti itu."

"Kau kan pernah berenang telanjang sebelumnya. Aku ingat kok."

"Kau salah ingatan kalau yang kau ingat adalah waktu kau dan Ji hyo berenang telanjang malam-malam di Teluk."

"Oh, ya. Kau tidak mau membuka bajumu. Kami berdua terus mengajakmu, tapi kau tetap tidak mau."

"Kau bisa ditangkap karena merusak moral anak di bawah umur."

"Kau tidak memberiku kesempatan untuk merusak moralmu. Kau menangis dan lari pulang. Kenapa?" Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa berkata apa-apa, terpesona oleh cahaya keperakan sinar bulan yang menimpa kepala Sehun. Persis seperti yang dilihatnya di pantai Galveston malam itu, ketika Ji hyo menyebutnya pengecut dan mengancam akan mencekiknya kalau ia memberitahu orangtuanya tentang apa yang dilakukan kakaknya itu.

Sehun, sedikit lebih sabar, membujuknya, "Ayolah, Kuper. Tidak berbahaya kok. Tidak bakal tersambar petir juga."

Saat itu Luhan sangat ingin bergabung dengannya dalam kehangatan air laut, tapi ia terlalu malu akan tubuhnya yang belum berkembang dan terlalu takut ketahuan.

"Kenapa kau tidak mau berenang bersamaku malam itu? Apakah kau takut padaku?"

"Tidak," bantah Luhan berbisik.

"Kenapa kau menangis waktu itu, Luhan? Apa kau malu?"

"Aku menangis karena marah."

"Marah? Padaku?"

"Padamu. Pada Ji hyo. Aku membencimu karena bisa menganggapnya begitu enteng sedangkan aku tidak. Tapi aku terutama marah pada diriku sendiri. Kau tahu, sebenarnya aku sangat ingin bergabung, tapi aku tidak berani."

Mata Sehun menyipit. "Sekarang kesempatanmu untuk mengganti kesempatan yang dulu hilang."

"Aku masih belum berani."

"Aku berani saja." Sehun melepaskan sepatu larinya dan membuka kaus kakinya. Dalam satu sentakan kaus polonya ditanggalkan lewat kepalanya. Kaus itu menyapu kaki Luhan ketika akhirnya jatuh di teras.

"Sehun?"

"Hmm?" Ia membuka celana pendeknya.

Mata Luhan dengan lapar menjelajahi dadanya. Dadanya yang bidang lebih kekar dibandingkan ketika pria itu masih berumur dua puluh dua tahun. Warna kulitnya kini lebih kecokelatan, membungkus lekuk-lekuk otot yang keras, yang meyakinkan seorang pengusaha yang baru-baru ini meminta izin untuk memasarkan sebuah poster Oh Sehun.

Pengusaha itu ingin membuat gambar Sehun yang mengenakan pakaian luar angkasa yang terbuka hingga ke pusar. Ia ingin menempatkan Sehun di muka sebuah roket, lambang yang tidak terlalu kentara. Pasti laku keras, janjinya. Tidak perlu lagi mengambil uang pajak untuk membiayai program luar angkasa NASA di masa mendatang. Dana cadangan NASA pasti akan penuh dengan uang dari dompet para wanita yang tergila-gila.

Tentu saja NASA sangat marah. Mereka tidak memberi tanggapan resmi atas ide gila itu. Pers memuat berita itu selama beberapa hari sebelum akhirnya berita itu menghilang begitu saja.

Tapi sekarang Luhan, dengan mulut kering, telapak tangan yang berkeringat, dan lutut yang lemas, berpikir bahwa gagasan pengusaha itu bagus juga.

Sehun menanggalkan celana pendeknya dan menendangnya ke samping, lalu mengaitkan kedua ibu jarinya di karet celana dalamnya. Otomatis Luhan mengulurkan tangan untuk mencegah tangan pria itu. Ketika bersentuhan dengan kulit yang hangat, Luhan segera menarik tangannya kembali.

"Aku tidak bisa membiarkan Haowen melihatku berenang telanjang di kolammu, Sehun," ujarnya. "Ini konyol dan kekanak-kanakan. Hentikan."

"Kalau begitu berhentilah menjadi perusak suasana dan pakai baju renangnya."

Mata berwarna kelam itu menantang mata Luhan. Luhan mungkin bisa bertahan lebih lama kalau Sehun tidak mengangkat alisnya penuh tanya dan kembali mengaitkan ibu jarinya ke celana dalamnya. Sehun menang.

Luhan berbalik dan berjalan dengan kaku menuju pintu sebuah ruangan dan membantingnya hingga menutup. Ada tiga baju renang dan sepuluh menit kemudian ia muncul mengenakan sebuah baju renang hitam. Bahannya cukup ketat untuk membalut tubuhnya yang ramping, walaupun kebesaran satu ukuran.

Dengan penuh percaya diri ia berjalan di papan loncat, melompat-lompat untuk mencoba pantulannya, lalu melompat dengan indah. Ketika ia muncul di permukaan, Sehun sedang bertepuk tangan untuknya sambil mengapung di punggungnya menuju sisi kolam, menendang-nendang kakinya untuk membuatnya tetap mengapung,

"Hebat."

"Trims."

Luhan berenang menuju tangga dan sudah setengah jalan menaikinya ketika tangan Sehun menangkap pergelangan kakinya. Sehun menariknya kembali ke air dan menekan punggungnya ke dinding kolam.

Saat kaki pria itu menyentuh kakinya, Luhan terperangah. "Sehun, kau—"

"Memang. Aku suka berenang telanjang. Rasanya enak."

"Dan itu prinsip hidupmu, kan? Kalau rasanya enak, lakukan saja."

"Dan prinsip hidupmu adalah kalau rasanya enak, pasti dosa." Ia mengisap air di cuping telinga Luhan dan mengecup leher wanita itu. "Sekali ini saja, Nona Sok Alim, bagaimana kalau kau bersikap tenang dan mengikuti arus? Ambil kesempatan yang ada. Lakukan sesuatu yang menantang, sesuatu—"

Luhan mendorong kedua bahu pria itu yang membuat Sehun terdorong dan mengakibatkan semburan air yang besar. "Jadi karena itu kau melakukannya?" tanyanya marah. "Karena menyenangkan, mendebarkan, menantang. seorang anak laki-laki yang memergoki ibunya dan seorang pria telanjang di kolam renang pasti tantangan yang belum pernah kaualami."

Luhan sudah sampai kembali di tangga dan sudah separo jalan menaikinya ketika Sehun sekali lagi menariknya kembali ke air, tapi tidak selembut tadi.

Kali ini ia menyelipkan tangannya di antara ketiak Luhan. Telapak tangannya menekan sisi payudara Luhan yang menyebabkan puncaknya menegang. Sehun melihat hal itu. Ia menekan Luhan cukup dekat untuk membuat wanita itu dapat merasakan tubuhnya.

"Alasanku melakukan ini," desisnya, "adalah karena aku pernah menyentuhmu sekali kemarin. Sejak saat itu yang ada di pikiranku hanyalah menyentuhmu lagi."

Matanya menatap bibir Luhan. Sepasang bibir yang basah oleh air kolam dan lidah yang bergerak-gerak gugup. Lipstiknya sudah luntur. Luhan tidak tahu betapa seksinya dirinya di mata Sehun.

"Seandainya aku punya cukup otak tujuh belas tahun yang lalu seperti saat ini," erangnya, "aku akan membuka bajumu dan menyeretmu ke ombak bersamaku malam itu. Mungkin kalau saat itu aku menolongmu mengatasi sikap kakumu, kalau aku saat itu memperkenalkan tubuh pria padamu, kau mungkin akan menjadi wanita yang sensual sekarang, bukannya cewek kaku dan pemalu seperti ini!"

HunHan

.

Luhan menatap wajahnya di kaca riasnya. Usianya baru saja menginjak kepala tiga, tapi wajahnya masih halus dan tidak berkerut, seperti wajah seorang remaja. Satu-satunya yang tampak dewasa adalah matanya. Sejak lahir matanya memandang dunia dengan serius.

Begitulah kira-kira.

Itulah sebabnya Sehun menganggapnya pemalu. Ia selalu memberi kesan seperti itu pada orang-orang. Sejak masa kanak-kanak hingga remaja ia selalu diolok-olok karena begitu lurus, begitu membosankan, begitu serius.

Memangnya mereka pikir ia suka memiliki nurani berlebihan seperti ini? Ia tidak menyukainya. Membosankan. Sepanjang hidupnya ia belum pernah menikmati rasanya menjadi pusat perhatian. Tapi harus ada yang melakukannya. Dan karena Ji hyo adalah si pembuat onar dalam keluarga, Luhan-lah yang harus menjadi penjaganya.

Luhan menghela napas panjang, mematikan lampu, lalu berjalan menuju ranjangnya yang kosong, dan menanggalkan jas kamarnya. Perlahan tangannya mengelus baju tidurnya. Tubuhnya kurus dan kecil. Sama sekali tidak bisa disebut menggiurkan. Ji hyo, yang tubuhnya lebih cepat matang, sudah menarik perhatian para pria sejak masih berusia empat belas tahun, yang membuat orangtuanya sangat khawatir.

Kalau sedang baik, sesuatu yang jarang dilakukannya, Ji hyo akan menghibur adiknya yang minder dengan menyuruhnya untuk bersabar, dengan mengatakan bahwa ia nanti akan memiliki belahan dada yang mengundang, dan pinggul yang indah.

Sambil tersenyum sinis, Luhan bergelung di ranjangnya. Lekuk-lekuk yang ditunggunya tidak pernah muncul. Sudah bertahun-tahun ia berhenti menunggu.

Ia tahu ia memiliki daya pikat tersendiri. Meskipun matanya tidak bersinar merayu dan menggoda, matanya tampak lebar dan dihiasi bulu mata yang hitam dan tebal. Tampaknya bentuk bibirnya yang membuat sejumlah pria terpesona.

Ia pernah berpose untuk seorang pematung— pasti Kolonel Oh akan terkejut kalau tahu semasa kuliah dulu ia pernah berpose telanjang untuk seorang pematung—yang menyatakan bibirnya seksi dan memikat.

Bibirnya yang membuat si pematung itu terpikat, hingga meninggalkan pekerjaannya, menyeberangi studionya, dan mengusap bibir Luhan dengan jemari yang lembap oleh tanah liat. Luhan terkejut saat mendapati tubuhnya bereaksi atas sentuhan itu.

Seniman itu mencumbunya lebih jauh. Ia mengecup bibir Luhan dan menyentuhnya lagi. Luhan menjawab sentuhannya. Si pematung memiliki ego yang besar, dan egonya pasti akan terluka kalau tahu bukan sentuhannya yang membangkitkan respons sensual dari tubuh Luhan.

Luhan teringat pada Sehun, yang menertawakannya di pantai ketika deretan giginya yang putih menjilati puncak es sirup sebelum mencair oleh matahari. Mereka membeli es sirup itu untuk merayakan istana pasir mereka yang memerlukan yaktu setengah hari baru selesai.

"Hei, Kuper, es sirupnya membuat bibirmu merah."

Jari-jari yang berpasir itu menelusuri bibirnya yang memerah oleh es sirup, dan untuk pertama kalinya Luhan kecil tergelitik.

Ia bahkan tidak tahu apa arti perasaan nikmat, hangat, berbunga-bunga yang dirasakan tubuhnya. Ia tidak mengaitkan tubuhnya yang menegang dengan sentuhan Sehun. Baru kelak di kemudian hari ia menyadari apa yang terjadi padanya sore itu.

Si pematung tanpa sengaja membangkitkan kenangan itu

Luhan tidak memiliki bakat alam untuk memikat pria, apalagi seorang petualang seperti Oh Sehun. Tapi pria itu pasti kaget kalau tahu gelombang ke rinduan yang melanda Luhan di balik penampilannya yang kaku itu.

Tuduhan Sehun bahwa Luhan wanita pemalu sangat menusuk hatinya, bukan karena hal itu benar, melainkan justru karena hal itu sangat salah. Seandainya saat itu Haowen tidak kembali, seandainya Sehun tidak meninggalkan kolam dan mengenakan celananya dengan tergesa-gesa, Luhan mungkin akan menunjukkan pada pria itu sesensual apa dirinya sebenarnya.

"Tidak, aku takkan melakukannya," ujar Luhan dalam kegelapan, tidak tahu apakah harus bersyukur karena mampu menahan diri atau memarahi dirinya karena bersikap begitu pengecut.

Karena ia telah menampik Sehun dengan kasar, paling-paling pria itu jera dan takkan menghubunginya lagi. Keputusan terbaik bagi semua pihak yang terkait. Gagasan memiliki seorang anak laki-laki mungkin menarik bagi pria itu karena dipikirnya ia akan mendapatkan Haowen sekaligus seorang Wanita lajang.

Biar saja Sehun yang mengurus surat-surat kaleng itu sendirian. Luhan sudah tidak mau berurusan lagi dengan pria itu.

Namun sebelum ia terlelap, sisi permisif dari Luhan mengkhayalkan tentang hal-hal yang ingin dilakukannya bersama Oh Sehun.

.

.

HunHan

.

.

.