Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Enam

.

.

.

Ternyata pria itu menghubunginya lagi, dengan alasan yang sama sekali tidak disangka-sangka Luhan.

"Maaf?" tanyanya lewat pesawat telepon.

"Kau bisa pergi atau tidak?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Pertama, karena sekarang sudah jam dua siang. Dan kau bilang acara makan malamnya jam—"

"Delapan. Memangnya kau perlu enam jam untuk berdandan?"

"Aku tidak punya baju untuk pergi ke acara semacam itu, Sehun. Lagi pula, kenapa kau mengajakku sih? Kau kan pasti punya buku alamat kecil yang isinya penuh nama-nama wanita yang cocok."

"Aku meneleponmu karena gara-gara kau, aku jadi tidak punya teman kencan."

"Gara-gara aku?"

"Aku sulit berkonsentrasi sejak bertemu Haowen. Aku sama sekali tidak ingat acara makan malam ini sampai teman-temanku mengungkitnya beberapa menit yang lalu."

"Maaf. Kau bisa mengajak orang lain, atau kau bisa pergi sendirian, atau kau tidak usah datang saja sekalian. Tapi kalau kau sampai tidak punya teman kencan, itu sama sekah bukan urusanku."

"Aku harus menghadirinya, dan aku bisa habis diolok-olok teman-temanku kalau datang tanpa membawa teman kencan."

"Tidak baik untuk reputasimu, ya?"

"Ya. Begitu juga kehadiran seorang anak laki-laki yang keberadaannya sama sekali tidak kuketahui," tambahnya dengan suara pelan. Ia menelepon Luhan dari kantornya di NASA. "Aku sudah menjalani tes darah dan hasilnya cocok dengan darah Haowen. Kita harus bicara, Luhan. Ikutlah denganku malam ini, please."

Luhan menggigit bibirnya dan melihat pekerjaan yang harus diselesaikannya akhir minggu ini. Ia melihat bayangannya di cermin. Ia memerlukan perubahan total sebelum layak menghadiri acara jamuan makan malam resmi.

Ia menyebutkan semua alasan itu pada Sehun, lalu menambahkan dengan suram, "Dan aku juga harus menjenguk ibuku sore ini."

"Kau kan wanita yang cekatan. Aku akan menjemputmu jam delapan seperempat."

"Lho, tadi kaubilang acaranya jam delapan?"

"Kau pikir aku bakal datang tepat waktu?"

.

HunHan

.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Luhan cemas. "Mom kelihatan sangat cantik!" seru Haowen dari belakang Luhan. Bersama-sama mereka mengawasi pantulan Luhan di cermin pintu lemarinya.

Luhan berbalik ke kanan, lalu ke kiri. "Bajunya berlebihan tidak?"

"Berlebihan? Kekecilan, mungkin lebih tepat."

"Haowen," pekik Luhan kesal, "tadi kau bilang potongan baju ini tidak serendah itu."

Haowen tertawa. "Memang tidak kok. Aku cuma bercanda."

Setelah mampir ke salon tempat rambutnya ditata dan kukunya dimanikur dan menengok ibunya di panti wreda, berlawanan dengan kehendak hatinya, Luhan memutuskan untuk mampir ke sebuah butik. Hampir semua gaun malam yang dilihatnya tidak disukainya, baik karena tidak cocok untuknya, ataupun karena alasan lainnya.

Ia sudah mulai putus asa ketika melihat gaun yang satu ini. Korsetnya terbuat dari kain satin berwarna biru cerah, tanpa tali, dan ketat membalut tubuhnya. Di baliknya terdapat sebuah rok satin pendek berwarna hitam yang seksi.

"Sayang, kalau Anda keluar dari toko ini tanpa membeli gaun itu, aku akan menangis," ujar pemilik butik padanya.

"Menurut Anda gaun ini terlalu... terlalu... tidak untukku?"

"Gaun itu sempurna! Sungguh."

Ketika wanita itu pergi melayani pembeli lain, Luhan diam-diam memeriksa label harga di gaun itu dan nyaris menjerit membacanya. Setelah melirik sedih untuk terakhir kalinya di cermin tiga sisi, Luhan kembali ke ruang ganti dan mulai menanggalkan gaun itu.

Si pemilik butik kembali menghampirinya. "Pakai MasterCard atau Visa?"

"Tidak dua-duanya. Aku tidak bisa membelinya."

"Mengapa? Anda sangat menawan dalam gaun itu."

"Aku tidak sanggup membelinya. Aku bahkan tidak sanggup membayar gaun ini dengan kartu kredit," jawab Luhan, mengembalikan gaun itu pada si pemilik butik dan mengenakan kembali pakaiannya.

Si pemilik butik meraih bolpoin dari balik telinganya, mencoret harganya dan menuliskan harga baru. "Nah, sekarang Anda sanggup membelinya, kan?"

Luhan melihat harga baru itu. "Ini tinggal separo harga!"

"Baru saja diobral."

"Tapi aku tidak bisa—"

"Begini, Sayang, harga gaun ini kan sebenarnya sudah dinaikkan seratus persen. Bahkan dengan separo harga begini aku masih mendapat laba. Kelihatannya hampir semua orang sudah membeli baju musim semi. Lagi pula, tidak banyak pelangganku yang mengenakan ukuran ini. Aku salah karena membeli gaun sekecil ini. Dengan senang hati aku menjualnya, berapa pun harganya."

Begitulah, akhirnya Luhan membeli gaun itu dan sekarang memeragakannya di hadapan anaknya sebelum teman kencannya tiba. Ia merasa gugup seperti seorang gadis remaja yang hendak pergi ke pesta dansa sekolah.

"Seandainya aku lebih berisi, ini lho, di atas sini" sesalnya sambil menunjuk bagian depan dadanya.

"Ya ampun, Mom, zaman sekarang laki-laki kan sudah tidak mempermasalahkan ukuran dada lagi."

Luhan menatap mata Haowen lewat cermin. "Coba kauulangi ucapanmu tanpa tertawa."

Haowen menyeringai malu-malu ketika bel pintu depan berbunyi. "Benar kok, Mom kelihatan hebat!" jeritnya sambil berlari keluar kamar dan segera menuru ni tangga.

Haowen memang mengagumi penampilannya, tapi apa anggapan Sehun, yang sudah biasa berkencan dengan wanita yang lebih muda, yang tubuhnya lebih berisi, tentang si cewek pemalu malam ini?

Pria itu tampak sangat mewah. Lebih mengiurkan daripada Death by Chocolate, makanan penutup kesukaannya. Sehun mengenakan tuksedo militer. Tanda pangkatnya menonjolkan bahunya yang hidang. Jas putihnya yang pendek menampakkan pinggangnya yang sempit. Dan celananya yang hitam tampak begitu menggoda. Pria itu bersiul-siul ketika Luhan menuruni tangga.

"Mom kelihatan sangat cantik, kan?" tanya Haowen.

"Lumayan," ujar Sehun dengan suara yang membuat lutut Luhan gemetaran dan bajunya ikut bergetar.

"Kami akan pulang sekitar... jam berapa, Sehun?"

"Tidak usah menunggu kami," ujar Sehun pada Haowen sambil mengedipkan mata.

"Aku juga tidak akan menyalakan lampu terasnya," ujar Haowen.

"Nyalakan lampunya!" perintah Luhan tegas. "Nyalakan semua lampu luar dan kunci semua pintu. Jangan membuka pintu kecuali—"

"Mom!" jerit Haowen, memutar bola matanya "Aku kan bukan anak kecil lagi."

"Aku tahu." Luhan menggenggam lengan anak itu dan meremasnya dengan sayang. "Aku pergi dulu, ya."

"Kami pergi dulu, Haowen." Sehun menuntun Luhan keluar.

"Eh, Paman?"

"Ya?" Sehun berhenti, berbalik. Haowen memintanya kembali. Mereka berbisik-bisik sebentar sebelum Haowen melangkah masuk dan mengunci pintu seperti yang diminta Luhan.

Sehun menyeringai sambil membantu Luhan masuk mobil Porsche-nya. "Apa yang kalian bisikkan tadi?" tanya Luhan ketika pria itu sudah duduk di balik kemudi.

"Pembicaraan antar pria."

"Aku ingin tahu."

"Tidak kau tidak bakal ingin tahu," tukas Sehun, terkekeh-kekeh.

"Ya, aku ingin tahu."

"Yakin?"

Sehun berhenti di lampu merah di ujung jalan dan memandang Luhan dari tempat duduknya. "Haowen bilang dia memberiku izin untuk mengajakmu tidur. Dia janji tidak akan menghajarku."

HunHan

.

"Ayo, cobalah." Sehun menyemangati Luhan untuk memakan tiram mentah.

"Tidak, terima kasih. Melihatnya saja sudah geli."

Sehun membuka cangkangnya dengan bibirnya dan menelan benda licin itu bulat-bulat. Luhan bergidik. Sehun tertawa. "Ini bagus untukmu, katanya bisa meningkatkan kejantananmu."

"Berarti tidak cocok untukku, karena dari awalnya aku kan sudah tidak jantan."

"Jelas dong," ujar Sehun, matanya menatap gaun Luhan yang berpotongan rendah.

Luhan tersipu malu dan berusaha mengalihkan perhatian Sehun. "Hati-hati, nanti Suzette cemburu Iho."

"Siapa?"

Luhan menganggukkan kepalanya ke arah seorang wanita berambut pirang yang menggairahkan. Wanita itu mengenakan baju kulit mini berwarna merah dan menggandeng lengan seorang pejabat NASA yang baru saja bercerai.

"Oh, dia," ujar Sehun tak acuh, kembali mengarahkan pandangannya ke Luhan. "Hanya seorang penggemar."

"Tadi aku sempat mengobrol dengannya. Dia bilang kau membatalkan kencan dengannya minggu lalu."

"Memang."

"Dasar tidak berperasaan."

"Gara-gara kau."

"Kenapa sih semua kegagalanmu dengan wanita belakangan ini gara-gara aku?" tanya Luhan.

"Aku akan berkencan dengannya di hari aku ber temu Haowen. Aku jadi tidak ingin pergi malam harinya."

"Oh, begitu."

"Tidak usah senyum-senyum," gerutu Sehun, melihat bibir Luhan tersenyum. Sebenarnya, sejak menjemput Luhan, ia terus-menerus memperhatikan bibir dan lehernya, yang membuat perut Luhan bergolak.

"Kami orang-orang biasa ini sangat senang melihat orang hebat tumbang," goda Luhan.

"Bagaimana kau dan Suzette bisa berkenalan?"

"Kami berkenalan waktu kau dan teman-temanmu sedang membicarakan A-3."

"A-4, maksudmu?"

"Maksudku A-4. Suzette bilang... sebenarnya apa sih A-4 itu?"

"Pesawat latihan Angkatan Laut. Kadang-kadang aku menerbangkan pesawat itu dan berputar-pu tar sebentar."

"Kau menerbangkan pesawat militer untuk berputar-putar?" Cara bersenang-senang seperti itu tak dapat dibayangkannya.

"Aku kan harus terus mengasah keterampilanku sebagai pilot penguji," tukas Sehun membela diri.

Luhan memperhatikan pria itu sambil termenung. "Kenapa sih kau sangat suka terbang?"

Mereka diam-diam memilih tempat sepi di teras dengan pemandangan danau buatan sebagai tempat untuk menikmati hidangan mereka. Aliran airnya dipagari bunga azalea yang sedang bermekaran, membuat tepi sungainya tampak seperti ulat bulu bunga fuchsia raksasa. Tanaman anggur wisteria merambat di sepanjang pegangan di teras, kuncup-kuncup lavender-nya mengarah ke permukaan air.

Malam itu terasa menyejukkan. Sementara Sebagian besar tamu memenuhi seluruh ruangan di kediaman tuan rumah yang sangat besar, tertawa dan mengobrol satu sama lain diimbuhi iringan musik dan band yang memainkan lima alat musik, Luhan dan Sehun duduk berdua di bangku luar.

"Aku menyukai kegembiraan yang kurasakan di atas sana. Semakin tinggi dan semakin cepat aku terbang, aku semakin menyukainya."

"Apakah ibumu masih mengkhawatirkanmu?" Sehun memiringkan kepalanya.

"Dari mana kau tahu?"

"Kau pernah menceritakannya di Galveston dulu. Aku masih ingat. Sore itu hujan, jadi kita main monopoli. Ji hyo merasa bosan dan pergi tidur siang."

"Orangtuamu juga sedang tidur siang," ujar Sehun. "Kita hanya berduaan di teras berkaca dengan pemandangan ke pantai."

Luhan merasa senang karena Sehun mengingatnya. "Kau menceritakan semua rencanamu untuk melamar ke program astronot setelah kau menjalani tugasmu di Angkatan Laut. Saat itulah kau mengatakan padaku bahwa ibumu cemas membayangkan kau menerbangkan pesawat tempur dan pesawat ujicoba."

"Yah, Mom masih merasa cemas. Setiap kali aku ikut pesawat ulang-alik, Dad bilang ingin membius Mom, tapi Mom malah terus menonton televisi dan mendengarkan radio."

"Aku tahu perasaannya," bisik Luhan pelan.

Ia melakukan hal yang persis sama. Sepanjang minggu itu ia hanya mampu menyelesaikan sedikit pekerjaan dan hanya sempat tidur sebentar. Cemas setengah mati, ia mondar-mandir di setiap ruangan dalam rumahnya, pikirannya terus-menerus membayangkan ledakan pesawat Challenger. Ia ingat menangis lega ketika Sehun mendaratkan pesawat ulang-aliknya di Pangkalan Udara Militer Edwards, mengakhiri misi ruang angkasanya dengan sukses.

"Kekhawatiran ibuku terhadap ruang angkasa sama besarnya dengan kekhawatirannya bahwa aku tidak akan pernah menikah dan—" Sehun herhenti berbicara dan mengalihkan pandangannya ke air di kejauhan.

"Punya anak?"

Mata Sehun kembali menatap Luhan. "Tes darahnya tidak membuktikan bahwa aku ayah Haowen. Tapi tes itu membuktikan bahwa aku mungkin ayahnya." Dengan suara yang lebih pelan Sehun menambahkan, "Kurasa aku memang ayahnya."

"Memang. Ji hyo waktu itu masih perawan."

"Kau yakin?" Alis Sehun bertaut karena tegang dan keinginan untuk bisa merasa yakin.

"Oh, ya," jawab Luhan, tertawa sedih. "Ji hyo selalu menceritakan segalanya padaku. Kalau dia sudah pernah memiliki kekasih sebelum kau, aku pasti tahu. Dia merasa senang karena kekasihnya yang pertama adalah seorang pria yang lebih tua dan berpengalaman."

"Aku tidak terlalu mengingatnya," aku Sehun. "Dia hanya merupakan bayangan samar dalam ingatanku. Tubuh yang indah. Rambut pirang yang panjang. Cewek gampangan." Ia memperhatikan wajah Luhan dalam cahaya yang berkedip-kedip yang memantul dari air. "Aku lebih ingat kau daripada Ji hyo."

"Yang benar saja, Sehun."

"Benar kok. Saat itu kita sering mengobrol, kan?"

"Kau yang bicara. Aku mendengarkan." Sehun menggelengkan kepalanya sambil menertawakan dirinya sendiri. "Kurasa waktu itu aku sangat bangga pada diriku sendiri."

"Dan aku begitu terpana. Saat itu aku hanyalah seorang anak kurus kering yang selalu menguntit dan diusir pergi setiap kali kau dan Ji hyo ingin bercinta. Nona Sok Alim, ingat?"

Sehun menyeringai lambat-lambat saat mengingat hal itu. Matanya menelusuri bagian atas gaun Luhan yang memperlihatkan sebagian buah dadanya. "Dan sekarang Nona Sok Alim mulai membuka dirinya. Secara harfiah."

Luhan tersipu malu dan mengangguk ke arah ruangan yang terang-benderang. "Mereka memanggil semua orang untuk makan malam." Sehun mengangkat tangan kirinya, Luhan melirik arloji pria itu. "Memang sudah saatnya. Setengah sebelas! Ini sih bukan waktu makan malam lagi. Lebih tepat waktu tidur."

Sehun memutar tangannya hingga telapak tangannya menyelinap ke telapak tangan Luhan dan ia menggenggam jari-jari wanita itu dengan hangat. Lengannya yang lain menyelip ke pinggang Luhan. "Itu bisa diatur."

Luhan mengambil napas yang membuat dadanya bergetar. "Jangan bercanda, Sehun."

"Aku tidak bercanda kok. Para pria selalu ingat para wanita yang lolos darinya, lho. Aku penasaran ingin tahu, apa sih yang membuat Nona Sok Alim begitu hebatnya."

Luhan tidak ingin memikirkan hal lain selain Sehun, saat pria itu memeluknya begitu dekat. Tapi otaknya yang jernih tidak mengizinkannya untuk menikmati pelukan pria itu. Pikirannya masih berkutat dengan hasil tes darah itu dan bisikan Sehun yang meyakini Haowen sebagai anaknya.

"Apakah kau akan memberitahu orangtuamu bahwa mereka memiliki seorang cucu?" Ia merasakan otot-otot Sehun langsung menegang. Dan walaupun pria itu masih tersenyum, senyum itu tampak dibuat-buat.

"Aku tidak tahu."

"Sekarang setelah kau tahu Haowen anakmu, apa yang akan kaulakukan, Sehun?"

Sehun melepaskan pelukannya dan berdiri, membantu Luhan untuk berdiri. "Kau benar, mereka memanggil semua orang untuk menyantap makan malam. Sebaiknya kita tidak membiarkan mereka menunggu."

Saat menuntun Luhan melewati pintu teras, Sehun membungkuk dan berbisik, "Kalau aku boleh terus terang, Luhan, kau benar-benar tahu bagaimana memadamkan gairah yang baru saja hendak bangkit."

.

.

HunHan

.

.