Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.
Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.
Selamat menikmati…
.
.
.
.
.
LONG TIME COMING
(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)
.
.
Tujuh
.
.
.
Keesokan harinya Sehun muncul di muka pintunya jam sebelas siang. Luhan terkejut melihat pria itu. Sejak percakapan mereka di teras malam sebelumnya, sikap Sehun terasa kaku dan menjaga jarak.
Ketika Sehun mengantarnya hingga ke muka pintu semalam, pria itu mengucapkan selamat malam dengan sopan dan menciumnya sekilas yang menandakan ia senang karena malam itu sudah berakhir. Itu sebabnya kunjungan ini sama sekali tidak disangka-sangka.
"Kau sibuk?" tanya Sehun dari balik pintu kasa.
"Aku sedang bekerja." Tubuh Luhan bau cat dan penampilannya berantakan. Rambutnya yang semalam tertata rapi sekarang sudah kusut. Rambutnya sudah kembali menjadi ikal-ikal pendek dan tipis yang membingkai wajahnya yang mungil. Gaun malamnya sudah digantung di dalam lemari kayu cedar. Pagi ini Luhan hanya mengenakan celana pendek dan atasan yang sama sekali tidak menarik. Pakaiannya ini sudah masuk ke dalam laci baju kerjanya musim panas lalu. Keduanya tercoreng-moreng oleh cat. Ia tidak mengenakan alas kaki.
"Boleh aku masuk?"
Sejenak Luhan ragu, lalu membuka pintu kasa. "Kau tidak bekerja?" tanyanya ketika mereka berjalan menyusuri lorong menuju bagian belakang rumah.
Sehun langsung duduk di atas salah satu kursi rotan dan melepaskan kacamata hitamnya. "Tadinya sih kerja, tapi simulator yang harus kami ujicoba mengalami masalah. Tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali mengobrol tanpa tujuan sambil menunggu para teknisi menemukan masalahnya. Akhirnya mereka mengumumkan bahwa mungkin baru besok mereka selesai. Oleh karena itu aku mengambil libur setengah hari. Apa itu?" Dengan kacamata hitamnya Sehun menunjuk ke gambar yang sedang dikerjakan Luhan.
"Sampul katalog toko perhiasan. Kau suka?" Luhan mengangkat gambarnya, menunggu komentar Sehun. Gambar itu menunjukkan bunga teratai yang besar dengan latar belakang hitam yang kontras. Di tengah-tengah kuntum bunga yang berwarna putih susu tampak sepasang anting-anting yang berkilauan.
"Unik."
"Diplomatis sekali," ujar Luhan datar. "Untung biro iklannya sudah menyetujui sketsaku, kalau tidak aku bisa cemas." Sehun tersenyum samar, Seolah hanya mendengarkan sepintas lalu. "Apa yang sedang kaupikirkan, Sehun?"
"Makan siang."
"Makan siang?"
"Aku mau mengajakmu makan siang di luar," ujarnya cepat.
"Aku tidak mau, tampangku sedang lusuh begini."
"Kau cantik kok."
"Lupakan. Aku tidak mau keluar dengan penampilan seperti ini."
"Baiklah kalau begitu, kita makan siang di sini saja. Kau punya apa?"
Sebelum Luhan sempat menjawab, Sehun sudah berjalan melewati pintu menuju dapur. Ketika Luhan sampai di sana, pria itu sedang membungkuk, melihat-lihat isi kulkas.
Luhan berjalan menyeberangi ruangan dan de-ngan kasar menutup pintu kulkas. "Kau tidak datang ke sini untuk makan."
Sehun bersandar di kulkas dan menatap langit-langit. "Kau benar. Memang bukan itu alasanku."
"Kalau begitu kenapa kau datang ke sini?"
"Aku terus-menerus memikirkan pertanyaanmu semalam. Apa yang akan aku lakukan dengan Haowen?" Luhan merasa tekanan yang meremas jantungnya, tekanan yang selalu dirasakannya setiap kali ia memikirkan apa yang akan dilakukan Sehun dengan Haowen.
Perlahan, nyaris takut, ia bertanya, "Kau sudah memutuskan?"
"Belum," jawab Sehun, menatap mata Luhan. "Sebelum aku melakukan sesuatu tentang masa depannya, aku ingin tahu masa lalunya."
Luhan menggelengkan kepalanya bingung "Aku tidak mengerti."
"Aku suka melihat Haowen yang sekarang. Dipandang dari segala sudut, Haowen adalah anak yang hebat, anak idaman setiap ayah. Aku ingin tahu bagaimana dia bisa menjadi seperti itu. Bayangkan, betapa banyak yang tidak kuketahui. Satu-satunya yang kuketahui dari enam belas tahun kehidupannya hanyalah bahwa dia tidak boleh memelihara anjing karena neneknya uring-uringan melihat binatang peliharaan dan bahwa dia belajar berenang di klub pemuda."
Ekspresi Sehun begitu muram dan tatapannya memohon. "Ceritakan padaku, Luhan. Ceritakan padaku segalanya."
Luhan memandang sekilas ruang kerjanya, bermaksud memberi isyarat, tapi berpikir ia bisa bergadang semalam suntuk kalau memang diperlukan untuk menepati tenggat waktu pekerjaannya.
"Ikutlah denganku." Ia mengantar Sehun dari dapur menuju ruang tamu, tempat ia menyimpan album-album foto yang penuh dengan foto Haowen.
Perasaan Luhan bercampur aduk. Walaupun sulit untuk mengakuinya, ia menghargai Sehun karena memperhatikan Haowen. Sehun bisa saja menjadi marah waktu ia mengetahui keberadaan Haowen. Bahkan setelah menyadari bahwa ia mungkin ayah kandung Haowen, Sehun bisa saja menolak anak itu sebagai kesalahan biologis seperti yang dilakukan kebanyakan pria yang mengencani wanita semacam Suzette.
Tapi Sehun bukan sembarang pria. Ia ditunjuk oleh Kongres untuk menempati posisi di Akademi Ang katan Laut. Hidupnya dipenuhi segudang prestasi dan penghargaan. Ia memiliki integritas yang mendukung kesuksesannya.
Kepribadiannya yang kuat itulah yang membuat Luhan semakin mencintainya, namun juga membuat pria itu menjadi musuhnya. Meskipun diancam surat-surat kaleng, Sehun bukanlah pria yang tega tidak mengacuhkan keberadaan seorang anak laki-laki. Keinginan egois Luhan-lah yang menginginkan Sehun berbuat itu.
Sebelum Sehun menjelaskan rencananya, Luhan hanya bisa menebak-nebak rencana masa depan Sehun, itu pun seandainya pria itu punya rencana. Untuk sementara waktu, bekerja sama dengan Sehun adalah stra tegi terbaik.
Luhan duduk bersila di lantai dan menarik sebuah album foto yang besar ke atas pangkuannya. Sehun duduk di sampingnya. Luhan membuka sampul album foto itu dan mengusapkan tangannya di atas kertas yang ditempelkan di halaman pertama.
"Cap kakinya yang pertama, diambil tak lama setelah ia lahir."
Mata Sehun bersinar. "Mungil sekali!"
"Memang tidak sebesar kakinya sekarang," ujar Luhan, tertawa. "Kakinya memang kelihatan manis di sini, tapi setiap kali aku membuka keranjang baju kotornya, kaus kakinya sama sekali tidak beraroma manis. Aneh juga, padahal dulu aku suka menciumi kakinya."
Di halaman berikutnya tampak foto-foto ketika keluarga Luhan membawa pulang Haowen dari rumah sakit. Sehun mengamati foto Ji hyo yang menggendong anaknya. "Dia tidak tampak senang melihat anaknya."
"Dia kan baru saja melahirkan," tukas Luhan. "Dia masih kurang sehat."
Sehun langsung bicara tanpa basa-basi. "Dia tidak menginginkan Haowen, kan?"
"Yah, dia—"
"Luhan."
"Tidak, dia tidak menginginkan Haowen," aku Luhan sambil menghela napas.
"Karena kau sudah menggagalkan rencana aborsinya, kenapa dia tidak menyerahkan Haowen untuk diadopsi saja?"
"Begitulah rencananya, tapi orangtuaku menentang gagasan itu."
"Kenapa?"
"Kurasa Dad ingin menegaskan, bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya."
"Orang menuai apa yang ditanamnya. Aku tidak menyangka masih ada orang yang beranggapan seperti itu."
"Dad masih. Dad ingin Ji hyo bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Kurasa kau dan keluargamu sama menderitanya dengan Ji hyo, malah lebih."
"Dad berhenti menjadi pendeta tidak lama setelah tersebar berita bahwa anak gadisnya hamil di luar nikah. Dia langsung kehilangan pengaruh di kalangan jemaatnya."
"Apakah itu membuatnya menolak Haowen?"
"Tentu saja tidak. Haowen bukan merupakan pelanggaran, tapi hasil dari itu. Mom dan Dad sangat menyayangi Haowen. Anak itu tidak akan menjadi sebaik sekarang kalau bukan karena kasih sayang kakek-neneknya."
"Lalu, apa pekerjaan ayahmu setelah itu?" tanya Sehun sambil membalik halaman album, mengamati setiap foto Haowen dengan saksama.
"Dad bekerja pada sebuah penerbitan buku rohani."
"Dan meninggal akibat serangan jantung."
"Hmm. Mom sangat berduka. Apalagi kematian Dad begitu dekat dengan kecelakaan Ji hyo."
"Apa yang terjadi, Luhan?"
"Aku sudah memberitahumu. Kecelakaan. Kecelakaan mobil, tepatnya."
Sehun menangkup dagu Luhan dengan jarinya dan menengadahkan wajah wanita itu ke arahnya. Mereka duduk berdampingan. dengan bahu saling menyentuh. Lutut Luhan bersandar di paha Sehun. Tiba-tiba saja Luhan menyadari hal itu, walaupun ia tidak ingat bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Bisa lebih tepat lagi?"
"Sudah tidak penting lagi sekarang. Haowen tidak ingat kok," elak Luhan.
"Aku masih menunggu."
Luhan memejamkan matanya dan berbisik, "Ji hyo sedang mabuk. Mobilnya melanggar jalur pemisah jalan dan menabrak mobil di jalur itu. Ada dua orang dalam mobil itu. Mereka bertiga tewas seketika."
Sehun mengumpat dengan keras, merasa marah sekaligus menyesal. Luhan langsung menyadari apa yang sedang dipikirkannya, dan berusaha menghiburnya sambil meletakkan tangan di atas paha pria itu.
"Itu bukan salahmu, Sehun. Kau bahkan tidak tahu Ji hyo hamil. Jangan menyalahkan dirimu karena merasa meninggalkan seorang gadis dalam masalah. Ji hyo sendiri yang menjerumuskan dirinya dalam masalah itu, dan kalau bukan denganmu, pasti dengan orang lain. Ji hyo adalah seorang pemberontak begitu dia menyadari Dad seorang pendeta dan karenanya dia harus menjadi seorang teladan. Dia membenci hal itu dan itu sebabnya dia selalu membuat ulah. Dia selalu menjadi sumber keretakan keluarga kami. Kelakuan-nya membuat orangtuaku sedih. Walaupun mereka merasa terpukul, kurasa mereka tidak terlalu kaget mengetahui kakakku itu mengandung."
"Kenapa orangtuamu tidak menghubungiku atau orangtuaku?"
"Ji hyo bilang pada orangtuaku bahwa dia tidak tahu siapa ayah bayinya. Dia sesumbar dengan mengatakan sudah tidur dengan banyak pria. Kurasa tidak ada gunanya menyebut-nyebut namamu. Sudah banyak kehidupan yang terpengaruh, buat apa menghancurkan hidupmu juga?"
"Setelah Haowen lahir," lanjut Luhan, "Ji hyo tidak mau melanjutkan sekolahnya, katanya sekolah itu konyol dan dia sudah muak. Dad bilang kalau dia tidak mau meneruskan sekolahnya, dia harus bekerja, tapi Ji hyo tidak memiliki kemampuan dan kerjanya pun ogah-ogahan, serta bolak-balik dipecat."
"Bagaimana dengan pria?"
"Seperti biasa, Ji hyo menarik perhatian pria. Melahirkan anak semakin mematangkan bentuk tubuhnya." Luhan memandangi tangannya, membuka dan menutup kepalan tangannya. "Sayangnya mereka semua jenis pria yang salah. Orangtuaku sangat sedih melihat Ji hyo menyia-nyiakan hidupnya, tapi upaya mereka untuk mengontrol kakakku itu sama sekali tidak ada gunanya. Kadang-kadang Ji hyo pergi dan tidak pulang selama berhari-hari ."
"Dia sama sekali tidak memedulikan Haowen, kan?"
"Tidak," jawab Luhan, menggeleng sedih. "Dia tidak memedulikan apa pun juga kecuali terus-menerus berbuat onar."
"Apa yang diketahui Haowen tentang aku?"
"Tidak ada!" pekik Luhan waspada.
"Maksudku tentang ayahnya secara umum. Dia kan anak yang cerdas. Pasti dia pernah menanyakannya."
"Tidak lama setelah dia bisa berbicara. Seperti yang dikatakannya padamu malam itu, kami menerangkan padanya bahwa ayahnya tidak bisa menikah dengan ibunya. Bahwa hal itu tidak mungkin."
"Apa dia tidak memaksamu untuk menyebutkan setidaknya sebuah nama?"
"Kami mengatakan padanya bahwa hal itu juga tidak mungkin."
"Apa dia tidak mendesakmu untuk mencari tahu alasannya?"
"Kami memberi alasan yang tidak jelas dan menekankan bahwa ia akan dilimpahi kasih sayang sehingga ia tidak akan merasa sedih karena tidak punya ayah."
"Memangnya dia percaya?"
"Mungkin tidak. Tapi pada akhirnya dia bisa menerimanya."
"Karena dia memang tidak punya pilihan lain, kan?" Sehun tersenyum pahit. "Dia tidak memiliki ayah. Dan bisa dibilang tidak memiliki ibu. Siapa yang menjaganya saat Ji hyo mabuk-mabukan?"
"Kami, orangtuaku dan aku, yang menjaganya."
Sehun menatap Luhan cukup lama sebelum meneruskan membolak-balik halaman album. "Oh, begitu," ujarnya beberapa saat kemudian, "Maksudmu kau yang menjaganya, ya kan?"
"Aku kan sudah bilang, kami—"
"Tidak usah mencari-cari alasan untuk mereka," tukas Sehun ketus. "Lihat saja foto-foto ini. Kau dan Haowen sedang piknik di taman. Kau dan Haowen naik komidi putar, bermain layang-layang, bermain Frisbee, di Astroworld. Ini sepeda pertamanya?"
"Hari Natal, waktu dia masih umur lima," ujar Luhan, tersenyum mengamati sekelompok foto. Foto-foto tersebut menampilkan Haowen kecil mengenakan piama Smurf dan mendorong sebuah sepeda mengilat melewati setumpuk kertas kado.
"Sebenarnya aku tidak ingin melepaskan roda tambahannya, tapi Haowen memaksaku untuk melepaskannya. Dia ingin belajar tanpa roda tambahan itu."
Sehun mengira-ngira. "Waktu itu aku melewati hari Natal di Filipina. Aku dan beberapa teman merasa sedih karena tidak bisa merayakan Natal di rumah. Kami pergi ke kota terdekat dan mabuk-mabukan. Berarti waktu aku sedang sempoyongan di bawah pohon banyan mencari tempat untuk memuntahkan vodka murahan di belahan dunia lain, anakku yang baru berusia lima tahun sedang belajar mengendarai sepeda roda dua." Sehun mengelus-elus salah satu foto itu dengan jarinya. "Bocah yang tangguh."
"Dan keras kepala. Dan sangat keras pada dirinya sendiri," ujar Luhan. "Dia selalu ingin langsung melakukan segala sesuatunya dengan benar, dan menjadi sangat kesal kalau dia tidak berhasil. Tapi dia tetap mencoba. Dia sudah berhasil mengendarai sepeda itu sebelum tengah hari."
"Benarkah?" tanya Sehun, tersenyum bangga. Ada sebuah foto close-up Haowen nyengir ke arah kamera, menunjukkan dua gigi depannya yang tanggal, dan sebuah foto lain yang menunjukkan Haowen yang muram, berpakaian rapi, rambutnya dibelah tengah, memegang sebuah kitab suci di tangannya. "Hari pembaptisannya," ujar Luhan pada sang ayah.
"Dia dulu ikut sekolah Minggu?"
"Sekarang pun masih. Dia ketua kelompok pemuda di gereja kami." Luhan membalik halaman berikutnya. "Yang ini tim Liga Kecil-nya yang pertama. The Pirates."
"Dia main di posisi apa?"
"Semua posisi, tapi dia kurang suka bisbol. Kurang menempa fisik, katanya."
"Aku juga tidak terlalu menyukai bisbol."
"Dan ini semua adalah foto kelasnya secara kronologis. Aku tidak tahu bahwa hari itu hari pemotretan sampai fotonya sudah jadi," ujar Luhan jengkel sambil menunjuk ke salah satu foto. "Haowen lupa membawa surat pemberitahuannya. Seharusnya dia kumarahi karena berani memakai kaus butut seperti itu untuk difoto."
"Ups, ada yang jatuh." Sehun membungkuk dan memungut foto yang lepas itu. "Pasti foto di bagian pembaptisan tadi. Haowen rapi sekali. Tapi orang itu lebih mirip hakim daripada pendeta."
"Itu memang hakim. Ini hari—"
Sehun menatap Luhan dengan rasa ingin tahu ketika wanita itu tiba-tiba menghentikan kata-katanya. "Hari apa?"
"Bukan apa-apa."
"Apa?" Sehun menggenggam kedua tangan Luhan di atas album yang terbuka supaya Luhan tidak bisa mengalihkan perhatiannya. "Hari apa?"
Luhan tidak sanggup menatap mata Sehun. "Hari ketika pengadilan memberiku hak perwalian penuh atas Haowen."
Suasana menjadi hening, yang terdengar hanyalah desah napas mereka berdua. Akhirnya Sehun berkata, "Kedengarannya seperti sebuah prestasi saja."
"Butuh waktu bertahun-tahun. Aku sudah mengajukan diri begitu Ji hyo meninggal."
"Tapi waktu itu kau baru berumur delapan belas, kan?" Luhan mengangguk. Sehun mendengus dan menggumamkan serentetan kata-kata penyesalan. "Kau yang mengasuh anakku, kan? Nyaris Seorang diri. Kau melakukan tugas kakakmu yang pelacur itu—"
"Sehun, jangan!"
"Aku tidak sebaik kau, Luhan. Dia memang seorang pelacur, pertama kali bertemu dengannya pun aku sudah tahu itu. Aku melakukan apa yang akan dilakukan setiap pemuda dengan seorang gadis cantik dan matang yang gampangan begitu. Dia yang memintanya dan dia mendapatkannya. Tapi kaulah yang membayar perbuatan kami."
"Aku tidak membayar," protes Luhan dengan keras. "Aku menyayangi Haowen begitu aku tahu Ji hyo sedang mengandungnya."
"Orangtuamu terlalu sibuk berkutat dengan kesedihan mereka sendiri atau terlalu sibuk menyalahkan diri mereka sendiri atas kelakuan Ji hyo, jadi mereka menyerahkan tanggung jawab untuk mengurus Haowen padamu."
"Mereka tidak melakukannya secara sengaja. Hal itu terjadi begitu saja. Dan aku tidak menganggap Haowen sebagai suatu kewajiban. Aku memang ingin merawatnya."
"Dan kau melakukannya sejak awal, kan?"
"Keluarga kami terus-menerus diguncang prahara. Begitu banyak kebencian di antara orangtuaku dan Ji hyo, begitu banyak—"
"Siapa yang bangun tengah malam bersama Haowen?"
"Aku," ujar Luhan pelan.
"Kau yang mengganti popoknya, memberinya susu?"
"Ya."
"Ya ampun, padahal kau sendiri masih kecil."
"Haowen tidak tahu itu." Senyum Luhan tampak berseri-seri namun matanya basah oleh air mata. "Dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi bayi sama seperti aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Kami saling menerima dan sama-sama belajar."
"Kau menyuapinya segala tetek bengek yang harus dimakan bayi."
"Dan apa yang tidak disukainya, ia muntahkan."
"Kau mengobati lututnya yang luka."
"Lututnya sih tidak seberapa, sikunya itu yang mengerikan."
"Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Aku lulus kok. Aku bahkan berhasil meraih gelar sarjana. Hanya waktunya lebih lama, itu saja."
"Karena kau hanya bisa mengambil kelas yang tidak banyak tugas karena kau tidak mau meninggalkan Haowen terlalu lama dengan ibumu di siang hari," tebak Sehun tepat pada sasaran.
"Ya, tapi—"
"Dan saat kau memperoleh gelarmu, kau bahkan tidak mencoba melamar pekerjaan yang mapan di biro periklanan. Kau memilih untuk bekerja di rumah supaya bisa menjaga Haowen, kan?"
"Ada banyak pertimbangan lain."
"Kurasa tidak." Sehun memejamkan matanya dan mencondongkan tubuhnya ke depan hingga kening-nya bersandar ke kening Luhan. "Kau yang menjalani semua tugas orangtua. Kaulah ibunya, Luhan. Kau."
"Seandainya aku dan bukan Ji hyo yang berada bersamamu saat itu, Haowen menjadi anakku seutuhnya."
Sehun langsung menarik diri. Luhan sama terkejutnya mendengar ucapannya namun tidak bergerak. la bahkan tidak berkedip, melainkan membalas tatapan Sehun dengan mata kelabunya yang tajam. Saat Sehun memandangnya, setetes air mata jatuh membasahi pipi Luhan.
Sehun mengusapnya, lalu menggosokkan ibu jarinya yang basah ke bibir Luhan. "Seandainya aku bisa membalik waktu, aku akan memilihmu. Kau wanita yang jauh lebih baik daripada Ji hyo."
Jari-jari Sehun menangkup kepala Luhan dan menariknya mendekat. Ia mengecup tulang pipi Luhan yang basah bekas air mata, lalu mengecup sudut bibir wanita itu.
"Aku begitu ingin menciummu semalam hingga nyeri rasanya," bisiknya parau. Ia mengecup sudut bibir Luhan yang satu lagi. "Kau ingin tahu kenapa aku kemari hari ini. Inilah sebabnya. Setiap kali kau tersenyum pada orang yang kuperkenalkan padamu semalam, setiap kali kau menyesap anggurmu, setiap kali kau menggigit makananmu, aku ingin mengecap bibirmu yang indah dan seksi ini. Dan ciuman selamat malam yang kaku di depan pintu rumahmu kemarin itu hanya membuatku semakin menginginkanmu."
Selama ucapannya yang menyentuh itu, bibir Sehun bersentuhan dengan bibir Luhan. Kali ini ia menyusuri bibir itu dengan lidahnya. Tanpa sadar Luhan mengerang. Sehun semakin menekannya dan mendorong bibirnya hingga terbuka. Lidahnya, ramping dan gesit dan bergerak cepat, bertemu dengan lidah Luhan. Gadis itu tidak menolak, bahkan merespons dengan bergairah.
"Sialan," erang Sehun saat ia akhirnya menarik diri. "Seharusnya aku menciummu sejak dulu."
Luhan kembali menyambut bibir pria itu beserta ciumannya yang manis dan hangat. Menuruti gerak cepat dan gairah Sehun serta sarafnya sendiri yang mendamba, Luhan merangkulkan tangannya di sekeliling pinggang Sehun dan memeluknya lebih erat. Sehun berlutut dan menariknya, hingga mereka kini berlutut dan berhadapan.
Bibir Sehun menjelajahi mulut Luhan dengan kecupan-kecupan yang membara. Ia menepiskan kerah kemeja Luhan, lalu menciumi lekuk-lekuk lehernya. Luhan menengadahkan kepalanya ke belakang dan mendesahkan nama Sehun.
"Sentuh aku, Luhan." Sehun menggenggam tangan Luhan, dan menyelipkannya ke balik kemejanya sendiri dan menekannya di atas dadanya yang hangat. Dengan cepat Sehun mulai membuka kancing-kancing kemeja Luhan, jatuh terduduk ketika dilihatnya wanita itu tidak mengenakan bra. Dengan hati-hati Luhan berusaha untuk mengatupkan kemejanya, tapi Sehun menepiskan tangan Luhan dan menatapnya dengan penuh gairah.
Rasa waswas melanda Luhan. Semuanya langsung lenyap begitu Sehun menundukkan kepalanya dan mulai mencumbu payudaranya, membisikkan namanya dengan suara parau sebagaimana yang sering didengar Luhan dalam mimpi-mimpinya.
Tanpa disadarinya, ia membelai rusuk-rusuk Sehun. Pria itu langsung mengumpat pelan dan terus mencumbunya dengan lembut.
"Aku tak percaya semua ini terjadi." Luhan tidak sadar telah mengucapkan isi pikirannya dengan lantang sampai Sehun mendekapnya makin erat dan ber gumam di tubuhnya. "Ini nyata. Aku dapat merasakanmu, mengecapmu."
Tubuh pria itu adalah karya seni terbaik yang pernah dilihat Luhan. Ia ingin mengecapnya, untuk terus menyatakan kekagumannya, tapi bibir pria itu terus mencumbunya hingga ia kehilangan kata-kata.
"Sehun." Luhan mendesahkan nama pria itu.
"Aku tahu. Aku tahu. Aku juga merasa nyeri." Sehun mulai membuka kancing celananya dan membuka ritsletingnya. Merasakan sentuhan ritsleting di kulitnya, Luhan langsung bangun dari mimpinya dan menyadari apa yang tengah dihadapinya.
"Jangan, Sehun" ujarnya tiba-tiba, mendorong pria itu. Ia berjuang untuk berdiri, tersandung sebuah album foto, dan jatuh menimpa lengan sofa.
Sehun, yang sedang kebingungan, tidak sempat berdiri, tapi langsung jatuh telentang ke kursi yang ditimpa Luhan. Ia menatap Luhan dengan tidak percaya saat wanita itu berkutat dengan kancing-kancing kemejanya.
"Ini gila," ujar Luhan dengan suara bergetar. "Bercumbu di lantai ruang tamu seperti—"
Luhan berhenti berkutat dengan kancing-kan cingnya. Jari-jarinya tidak bisa bergerak dengan benar sementara pria itu duduk di sana dan menatap dadanya yang terbuka. Satu-satunya jalan baginya adalah keluar dari ruangan dengan harga dirinya yang masih tersisa.
Ia nyaris berhasil melewati kursinya. Tapi lengan Sehun terulur dan jari-jari pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke pangkuan.
"Sehun, kita tidak bisa melakukan ini."
"Siapa bilang kita tidak bisa," tukas Sehun, kembali membuka kemeja Luhan dan mulai mencumbunya lagi.
Luhan nyaris pingsan akibat sentuhan Sehun. Ia memegang kepala pria itu dengan maksud untuk menjaga keseimbangannya, namun ketika jari-jarinya mengait di rambut Sehun, sentuhannya berubah menjadi belaian.
Bibir pria itu terasa hangat, basah, dan menyenangkan. Dan aktif. Dengan santai Sehun memeluk pinggangnya dan terus mencumbu perutnya. Lidah Sehun menelusuri pusarnya sementara tangan pria itu terus mengelus punggungnya.
Janggut Sehun yang belum dicukur membuat dagu Luhan lecet. Napas pria itu terasa lembap. Giginya terasa tajam, lidahnya lembut. Sensasi yang memabukkan itu datang bertubi-tubi. Sensasi yang baru, menegangkan, dan tiap sensasi terasa lebih indah dari yang sebelumnya. Luhan tercekat, semuanya terasa terlalu indah.
"Sehun, apa yang sedang kaulakukan?"
"Bagaimana rasanya?"
Rasanya terlalu indah untuk diucapkan dan terlalu liar untuk dilanjutkan. Lemah oleh gairah dan pedih oleh rasa cinta, Luhan memaksa dirinya untuk mendorong pria itu lagi. Kali ini ia langsung menjauh dari jangkauan pria itu.
Luhan sudah menunggunya di muka pintu ketika Sehun keluar dari ruang tamu. Meskipun belum merasa tenang, minimal ia sudah merapikan bajunya. "Ku rasa lebih baik kau pergi," ujarnya dingin.
"Kurasa lebih baik kau dewasa sedikit."
Luhan menahan amarahnya. Pertengkaran bukanlah hal yang disukai maupun mudah bagi Luhan. "Hanya karena aku tidak mau bercinta dengan pria di lantai ruang tamu sama sekali bukan berarti kau boleh menghinaku seenaknya."
"Apa yang paling mengganggumu? Bercintanya?" Sehun mengaitkan ibu jarinya di ikat pinggangnya dan menunjukkan sikap angkuh. "Atau prianya?"
Mulut Luhan menganga "Apa maksudmu Sehun?"
"Tidak ada," ujar Sehun sambil mengangkat bahu dengan tak acuh. "Sampai jumpa."
Pria itu hendak berjalan melewatinya, tapi Luhan langsung menahan lengannya. "Kurasa kau punya maksud tertentu. Dan itu sama sekali tidak berdasar."
"Tidak berdasar?" Mata Sehun, yang berkabut pe-nuh gairah beberapa menit sebelumnya, kini tampak rapuh dan meremehkan. "Kenapa kau selalu dingin setiap kali seorang pria menyentuhmu?"
"Aku tidak seperti itu!"
"Yang jelas kau tidak membuktikannya padaku!" bentak Sehun. "Kenapa kau belum pernah menikah?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku. Kau memegang hak asuh atas anakku, jadi aku berhak untuk mengetahui segalanya tentang dirimu, bahkan rahasiamu yang paling dalam." Ia melangkah maju, sengaja membuat Luhan waspada. "Kenapa kau tidak menikah?"
"Tidak ada yang pernah melamarku."
"Kurasa tidak. Kau membuat laki-laki mati kaku begitu dia berani memikirkan kata seks. Kalau kau menyayangi Haowen seperti yang kau bilang—"
"Aku menyanyanginya."
"Kalau begitu kenapa kau tidak menikah demi dia, supaya ada pria dalam hidupnya? Kecuali, tentu saja, membayangkan tidur dengan seorang pria begitu menjijikkan bagimu hingga kesejahteraan Haowen sekali pun tidak dapat mengubah pikiranmu." Mata biru Sehun menyipit. "Aku tidak yakin kau memberikan lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan anakku, Nona Lu."
"Oh, dan istana maksiat yang kausebut rumah itu, tempat cewek-cewek seperti Suzette bisa keluar-masuk seenaknya menjadi lingkungan yang lebih sehat, begitu? Seberapa sehat sih kalau sampai seorang anak tahu ayahnya sudah menyiapkan baju renang untuk semua wanita dalam segala ukuran?"
"Setidaknya aku menjalani hidup yang normal."
"Normal untuk orang sakit, Kolonel Oh. Sama normalnya dengan tuduhanmu bahwa ada sesuatu yang tidak beres denganku karena aku menolak bersenang-senang di siang bolong di lantai ruang tamu, sesuatu yang menyenangkan untuk mengisi waktu luangmu di siang hari."
Luhan berhenti untuk menarik napas dalam-dalam. "Nah, asal kau tahu saja, aku sibuk. Jadi bawa pergi rasa bosanmu itu, yang aku yakin menjadi alasan kedatanganmu kemari, dan tuduhan kotormu tentang kehidupan seksku, dan tinggalkan rumahku."
Pria itu beranjak pergi, namun sebelumnya ia sempat berbalik dan melontarkan ancaman halus. "Ini belum selesai. Masih jauh dari selesai."
.
HunHan
.
"Bagus sekali, Nek. Trims."
Dengan sopan Haowen menerima gantungan kunci yang dibuat Hye kyo, neneknya selama beberapa minggu di kelas prakaryanya. Panti wreda ini memiliki jadwal aktivitas harian. Luhan merasa senang mengetahui ibunya cukup sehat untuk mengikuti beberapa kegiatan tersebut, walaupun peran para pendampingnya lebih banyak dalam membuat gantungan kunci itu.
"Aku tahu sebentar lagi kau ulang tahun." Ucapannya lambat namun dapat dimengerti. "Mungkin kau bisa memakainya."
"Ya. Gantungan ini bagus," ujar Haowen. Piringan plastiknya bertuliskan namanya yang tampak menonjol. Ia mempermainkan gantungan itu di telapak tangannya. "Sekali lagi, trims."
"Kau harus hati-hati kalau kau mulai menyetir, ya," kata neneknya cemas. "Aku ingat Ji hyo."
Luhan menyampirkan tangan di bahu ibunya untuk membuatnya tenang. "Haowen sangat berhati-hati kok, Mom."
"Aku akan berhati-hati, Nek. Kalau tidak Mom pasti panik. Dan aku tahu akibat menyetir dalam keadaan mabuk."
Hye kyo tampak tenang. Ia beristirahat di sisi tempat tidurnya, di kursi yang dibawanya dari rumah. Kursi itu memberi sentuhan pribadi serta kenangan akan rumah dalam ruangan panti itu.
"Mom sudah lelah?" tanya Luhan. Hye kyo selalu senang bertemu dengan Haowen, tapi kehadirannya di kamar yang kecil itu membuatnya letih. Semangatnya yang menggebu-gebu itu tampaknya menyedot seluruh oksigen.
"Sedikit. Tapi jangan pergi dulu."
"Bagaimana kalau kau menunggu di luar saja, Haowen, sementara aku membantu Nenek untuk bersiap-siap tidur? Setelah itu kau bisa kembali untuk ber-pamitan."
"Baiklah," ujar Haowen cepat. Ia tidak pernah menolak untuk mengunjungi neneknya, tapi Luhan tahu anak itu tidak suka datang ke panti wreda ini. Haowen tidak bisa menerima usia lanjut dan kerapuhan, serta merasa tertekan oleh kenyataan yang pahit itu.
Selama lima belas menit berikutnya Luhan membantu ibunya untuk bersiap-siap tidur. Seorang perawat masuk membawa obat. Dalam sekejap pil tidur itu mulai bekerja dan Hye kyo langsung tertidur.
Luhan membuka laci ibunya untuk menukar beberapa pakaian. Saat itulah ia menemukan kotak peralatan menulis, sebuah bolpoin dan tempat perangko. Untuk sesaat ia hanya terpaku memandang semua itu, ingin tahu siapa yang disurati ibunya. Ibunya belum pernah meminta peralatan tulis darinya. Dan beliau juga belum pernah meminta bantuannya untuk menulis surat.
Lalu kenyataan yang mengerikan itu menghantamnya.
Hye kyo mendengkur pelan, dadanya naik turun dengan teratur. Tapi bahkan dalam tidurnya ia tidak tampak tenang. Ada lekukan ketidakpuasan di antara alisnya, dan bibirnya melengkung ke bawah. Ia menjalani akhir hidupnya sebagai seorang wanita yang sama sekali tidak bahagia.
Luhan meninggalkan kamar dan langsung menuju tempat perawat. "Maaf," ujarnya, bertanya pada perawat yang sedang tugas jaga, "apakah ibuku akhir-akhir ini sering mengirim surat?"
Perawat itu tersenyum. "Kami sangat bangga padanya. Anda tahu betapa sulit baginya untuk menulis. Kadang-kadang untuk menulis sepucuk surat saja dia perlu beberapa hari, tapi dia sudah mengirim satu surat tiap minggunya selama beberapa minggu ini." Lalu, melihat kecemasan di wajah Luhan, ia bertanya, "Ada masalah?"
"Kurasa Anda tidak tahu kepada siapa dia mengirimkan surat-surat itu?"
"Tidak, maaf. Tapi itu memang bukan urusan saya."
"Tentu saja. Tidak apa-apa. Terima kasih." Luhan berbalik dan dengan perlahan berjalan kembali ke lorong. "Hei, Mom, kau ke mana?" tanya Haowen saat ia berlari di belokan dan nyaris menabrak ibu nya. "Aku masuk untuk berpamitan, tapi Nenek—ada apa, Mom?"
Luhan menggelengkan kepalanya samar. "Tidak apa-apa, aku... eh, tidak apa-apa. Mari kita pergi."
Setibanya di rumah, ia berusaha untuk menyelesaikan sampul katalog perhiasan itu, tapi tidak mampu berkonsentrasi. Pikirannya terlalu sibuk. Ia tidak terlalu yakin, tapi kemungkinan besar ibunyalah yang mengirimi surat-surat itu pada Sehun. Meskipun merasa berat bertemu lagi dengan Sehun, Luhan tahu ia harus segera memberitahu pria itu. Ia harus mengatakannya langsung pada Sehun.
Setelah melemparkan kuasnya dan menutup cat-catnya, Luhan naik ke atas, mencuci mukanya, lalu pergi ke kamar Haowen. Anak itu sedang bersandar di kepala ranjangnya, dengan sebuah buku sejarah yang terbuka di pangkuannya, mendengarkan musik. Ia melepaskan eraphonenya ketika melihat ibunya berdiri di ambang pintu.
"Hah?"
"Aku harus pergi."
Haowen melirik jam bekernya. "Sekarang sudah hampir jam sepuluh."
"Aku tahu. Aku takkan lama."
"Mom mau ke mana? Ke toko? Aku ikut, ya? Aku yang menyetir."
"Tidak, aku tidak pergi ke toko."
"Lalu ke mana? Ada apa, Mom? Apa terjadi sesuatu pada Nenek?"
"Tidak, bukan apa-apa kok. Belajar untuk ujian?"
"Ya, tapi—"
"Kalau aku belum pulang sebelum kau ingin tidur, pastikan semua pintunya sudah terkunci."
"Oke." Haowen mengerutkan dahi. "Kenapa Mom tidak mau berterus terang apa sebenarnya yang terjadi?"
"Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan." Luhan meniupkan cium jauh dan pergi sebelum Haowen dapat mengajukan pertanyaan yang harus dijawabnya dengan dusta.
Dalam perjalanan ke rumah Sehun, Luhan melatih apa yang akan dikatakannya. Ia ingin semuanya singkat dan tidak berbelit-belit. Setelah apa yang terjadi pagi harinya, ia merasa tidak nyaman berduaan dengan pria itu.
Tapi tampaknya ia tidak mungkin berduaan dengan Sehun. Begitu berbelok di jalan menuju rumah Sehun, Luhan melihat deretan mobil diparkir di kedua sisi jalan. Musik yang keras terdengar dari rumah pria itu. Jelas Sehun sedang mengadakan pesta. Luhan langsung berpikir untuk pulang. Berita itu bisa menunggu. Tapi sebelum ia bisa memutar balik, ia berubah pikiran.
Ia menjalani siang hari itu dengan perasaan tak menentu berusaha untuk memutuskan apakah ia merasa senang karena sudah menghentikan percintaan mereka atau menyesalinya. Ia tidak bisa bekerja. Ia merasa tidak tenang dan uring-uringan. Hari itu sama sekali tidak menyenangkan. Ia merasa jengkel melihat Sehun begitu saja berhasil melupakan pertengkaran mereka dan langsung berpesta.
Jadi, setelah memarkir mobilnya, Luhan berjalan melewati jalan yang dibatasi oleh bunga petunia menuju pagar pribadi yang dikenal Luhan sebagai jalan menuju halaman belakang. Beberapa tamu sedang bersenang-senang di kolam renang dan berendam di kolam air panas. Pinggir kolam penuh oleh orang. Kerumunan orang yang terpilih. Berjalan melewati kerumunan itu, Luhan dilirik oleh dua orang koboi, yang masing-masing sedang mencumbu kembaran Suzette di tangan yang satu sementara tangan lainnya mengangkat kaleng bir ke bibirnya.
Kehadirannya tidak diacuhkan oleh sekelompok tipe eksekutif yang minum wiski dan mengeluhkan jatuhnya harga minyak Texas. Ia mendengar akhir cerita konyol tentang seorang salesman dan seorang wanita pegulat.
Ketika ia menginjak sesuatu yang basah, Luhan menunduk dan melihat sebuah bra bikini yang basah kuyup. Ia tidak tahu dari mana asalnya. "Ma' am?"
Luhan berbalik dan melihat seorang pria duduk bersila di atas bunga periwinkles. Rambut putihnya yang panjang diikat dengan sebuah ikat rambut yang norak, dan matanya merah. Jelas pria itu sedang mabuk oleh apa pun yang sedang diisapnya. "Anda menghalangi pandanganku," ujarnya tenang.
"Oh, maaf." Luhan kembali berjalan, melangkah dengan mantap menuju rumah karena Sehun tidak kelihatan di luar.
Dapur adalah satu-satunya ruangan yang terang. Sekelompok wanita terhormat sedang menebak-nebak bumbu saus berwarna merah muda dan mengeluhkan betapa panjangnya waktu yang digunakan mereka untuk mengantarkan anak-anak mengikuti segudang kegiatan. Luhan mengenali mereka sebagai istri para astronot. Kebanyakan ditemuinya saat menghadiri acara jamuan makan malam bersama Sehun.
Seorang pria gemuk dengan potongan rambut seperti Mohawk dan anting-anting swastika sedang mengganggu ikan-ikan di akuarium dengan kaleng bir kosong sambil menyenandungkan lagu tema film Jaws. Di sekeliling meja, sekelompok pria ramai membicarakan penerbangan. Luhan mengenali suami dari para wanita yang mengganti topik pembicaraannya dari saus merah muda ke manikur. Malam ini seluruh anggota NASA bergabung dengan beberapa perwira muda. Semuanya sedang mendengarkan cerita seorang astronot dengan penuh perhatian.
"...melayang rendah seperti ini," ujarnya, sambil menunjukkan dengan gerakan tangannya. "Dia sudah mau mendarat, tapi menara memaksanya menjauh."
"Menara itu tidak hanya memaksãku menjauh." Itu suara Sehun, yang sedang duduk di atas kursi yang terbalik, dengan tangannya memeluk punggung kursi itu. Seorang wanita duduk di belakangnya, memijati punggungnya dan menjilati telinganya.
Luhan ingin berjalan menyeberangi ruangan dan menampar mereka berdua dengan keras, dorongan yang membuatnya terkejut, karena sebelumnya ia pikir ia tidak punya sifat kasar dalam dirinya. Ia hanya pernah memukul Haowen sekali seumur hidupnya, dan tangisannya lebih keras daripada tangisan anak itu.
"Sedikit asap saja sudah membuat para pengecut itu ketakutan," ujar Sehun geli.
"Sedikit asap? Gumpalan awan hitam," tambah pembicara pertama. Sehun mengangkat bahu dan meraih sekaleng bir di atas meja di hadapannya. "Lalu, bandit sialan ini berputar lagi, tidak mengacuhkan perintah untuk meninggalkan pesawat—kelak dia bilang headsetnya pasti rusak—dan mendaratkan benda itu di atas sekeping uang logam. Uang logam."
Ia menggelengkan kepalanya kagum. "Selama tahun-tahun penerbanganku, belum pernah aku melihat yang seperti itu. Dan apa yang dilakukan para pejabat itu? Menghukumnya karena tidak mengacuhkan perintah? Tidak! Tidak pada manusia Apollo yang satu ini. Mereka bahkan memberinya medali!"
"Kau sendiri juga pernah gila-gilaan," ujar Sehun di sela-seja suara tawa.
"Memang." Istri astronot itu muncul dari belakang dan menutupkan topi NASA yang dikenakan suaminya hingga ke mata. "Itu sebelum aku bilang padanya kalau dia tidak berhenti ugal-ugalan dengan pesawat T-38S itu, aku akan berhenti ugal-ugalan dengannya di tempat tidur."
Ucapan itu mengundang tawa, sorakan dan raungan, serta komentar-komentar cabul dari semua orang yang mendengarnya.
"Omong-omong, honey," lanjutnya, membungkuk dan mencium pipi suaminya, "bagaimana kalau kita pulang dan membiarkan orang-orang muda yang masih lajang ini melanjutkan pestanya. Dua pesta berturut-turut terlalu melelahkan bagi wanita tua sepertiku."
Beberapa pasangan yang setuju dengan wanita itu mulai bergerak bersamaan dan berjalan menuju pintu.
Salah satu dari para istri itu melihat Luhan dan tersenyum. "Hai." Senyumnya bersahabat. "Aku tidak sempat berkenalan dengan Anda semalam. Aku Xiumin. Ini suamiku, Chen."
"Luhan" Dari sela-sela bahu pasangan itu ia melihat Sehun langsung menoleh begitu mendengar namanya. "Senang berkenalan dengan Anda."
"Kalau tidak salah dengar, Anda seniman, ya?"
"Benar."
"Aku akan senang mengobrol dengan Anda, tapi kami sudah mau pulang. Mungkin lain waktu."
"Dengan senang hati," ujar Luhan, membalas keramahan wanita itu.
"Aku senang melihat Sehun bersama wanita sepertimu semalam. Baru malam itu ia berkencan dengan wanita yang tingkat IQ-nya lebih tinggi daripada ukuran dadanya. Aku mulai percaya bahwa Sehun masih punya otak dan bukan hanya—"
"Ayo, honey," sela si astronot dengan sopan, menuntun istrinya melewati pintu patio. "Sampai jumpa lagi, Luhan."
Setelah mereka pergi, Sehun memanggilnya, "Luhan, masuklah. Kau mau minum apa? Bisakah salah satu dari kalian memberikan kursinya pada nona ini?"
"Tidak, terima kasih untuk kedua tawarannya."
Pipi Luhan terbakar marah, tapi ia menguatkan diri untuk tetap tenang. Pria itu sengaja berpura-pura, berusaha melihat apa yang bisa membuatnya marah. Luhan tidak mau membuatnya senang dengan bersikap uring-uringan atau marah. "Aku perlu bicara denganmu, Sehun."
Gadis yang duduk di belakangnya merapatkan diri dan melingkarkan lengannya ke dada Sehun dengan posesif. Pria itu pura-pura mengangkat bahu tanpa daya. "Kau lihat sendiri, aku sedikit terikat saat ini. Bagaimana kalau kau bersantai dan bersenang-senang? Semua di sini adalah teman. Semuanya," ujar Sehun keras, "Ini Luhan. Luhan, ini—" Sehun mencari-cari nama dalam ingatannya. "Ini adalah beberapa pilot temanku terbang hari ini."
"Sehun bilang dia perlu bersenang-senang kalau tidak dia bisa mati," salah satu dari tamu itu memberitahu Luhan. Ia duduk di atas meja, menatap Luhan dengan mata mabuknya. "Dia bilang menerbangkan pesawat jet hampir sama enaknya dengan meniduri wanita."
"Kalian penerbang tidak tahu menutup mulut, ya?" gerutu Sehun.
Pilot lainnya tidak menyimak. Sebelum Luhan menyadari apa yang bakal terjadi, pria itu melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Luhan dan menariknya ke pangkuan.
"Kau bilang bakal banyak cewek di sini, Sehun, tapi kau tidak bilang bahwa ada yang berkelas seperti yang satu ini."
Pilot itu menekankan tangannya di perut Luhan dan menarik tubuh Luhan sambil menciumi lehernya. "Aku senang kalau kecil begini. Makin kecil makin bagus. Biasanya kalau tampak luarnya sekecil ini dalamnya pun pasti kecil." ucapnya kurang ajar, dengan nada yang cabul.
Sehun langsung melonjak dari kursinya, membuat si rambut merah di belakangnya terjatuh ke lantai. Ia memandang tajam pada si pilot dan berkata dengan suara yang sama dinginnya, "Pestanya sudah selesai."
.
.
HunHan
.
.
.
