Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Delapan

.

.

.

Suara tawa langsung lenyap. Begitu pula suasana pestanya. Bahkan Ed Sharen berhenti bernyanyi di tengah-tengah refrain, meskipun Luhan tidak habis mengerti bagaimana seseorang bisa mematikan tombolnya dengan begitu cepat.

Mata Sehun bergerak bagai mata pisau yang memotong lengan yang mengikat Luhan. Segera setelah pilot itu melepaskannya, Luhan langsung berdiri dan menjauh.

Secara bertahap ketegangan di dapur menyebar ke tepi kolam renang dan menyebar seperti gelombang kegelapan. Semua keceriaan berhenti. Para tamu pesta mulai berjalan melewati pagar menuju mobil mereka.

"Sehun?" Si rambut merah sudah bangun sendiri dan kembali merapatkan dirinya di sisi kanan Sehun.

Dengan tidak sabar Sehun mendorongnya menjauh. "Pesta sudah selesai juga bagimu, sweetheart."

Dengan tersinggung gadis itu berjalan pergi. Sebelum sampai di pintu, ia sudah langsung jatuh kedalam pelukan pilot yang tanpa sengaja telah menghina tuan rumahnya.

"Bagaimana aku tahu cewek itu sebegitu istimewanya buat dia, hah?" gumamnya saat teman-temannya yang tidak semabuk dia menuntunnya keluar. Tampaknya tidak ada yang berani melawan Sehun.

Sehun melotot tajam pada Luhan, lalu keluar menuju tepi kolam seorang diri, Luhan memandang sekeliling dapur. Sama sekali tidak seperti ruangan tanpa noda yang dilihatnya terakhir kali ia berada di sini. Kali ini tidak ada permukaan yang bersih. Semuanya dikotori oleh piring kertas bekas dan serbet, botol-botol dan kaleng-kaleng kosong. Sebuah kaleng bir kosong tenggelam di dasar akuarium.

Mendengar suara menggaruk, Luhan berjalan menuju sebuah pintu dan membukanya. Vivi melompat keluar dari ruang perlengkapan. Anjing itu membungkukkan tubuhnya dan menatap curiga pada Luhan, lalu, menyadari bahwa Luhan adalah orang yang membebaskannya. Vivi lalu merangkak maju dan mengendusi tangan Luhan.

"Hai." Luhan menepuk-nepuk kepala anjing itu. Dalam sekejap mereka menjadi teman. Kenapa mereka tidak bersekutu saja, renung Luhan. Mereka memiliki kecemburuan yang sama menyangkut Sehun. Setiap kali Luhan membayangkan si rambut merah yang merapatkan diri dan Sehun yang tersenyum senang setiap kali wanita itu bermanja-manja padanya, Luhan ingin menjerit.

Sehun kembali masuk ke dapur dan menutup pintu kaca di belakangnya. "Semua orang sudah pulang. Kau puas sekarang?"

"Aku tidak berniat membubarkan pestamu. Seandainya tadi kau mau menjauh sebentar dari si rambut merah supaya aku bisa mengatakan apa yang perlu kukatakan, pestamu mungkin bisa berlanjut sepanjang malam."

"Sudah terlambat sekarang. Kau memadamkan pestanya dan hampir menimbulkan keributan."

"Pemabuk bermulut kotor itu yang cari gara-gara, bukan aku. Seharusnya kau tidak usah menghiraukannya."

Sehun meletakkan kedua tangan di atas pahanya dan memandang Luhan dengan marah. "Maaf. Tadinya kupikir aku membela kehormatanmu. Lain kali seorang bajingan melontarkan lelucon kotor padamu, aku akan menutup mulut dan membiarkanmu menikmatinya."

Luhan membenamkan kepalanya ke tangannya dan memijat-mijat keningnya. Dalam keadaan apa pun juga, ini bukanlah pertemuan yang mudah. Tapi keadaan ini terlalu parah untuk bisa memulai pembicaraan yang tenang dengan topik yang ringan.

Sehun meletakkan semangkuk jalapeno di lantai untuk Vivi. Anjing itu menjilatinya dengan lahap. Ketika berdiri kembali, ia menatap Luhan dengan tatapan marah. "Bicaralah. Apa sih yang sebegitu pentingnya sampai kau harus menemuiku malam ini?"

Dengan gugup Luhan memandang sekeliling dapur. "Kau mau kubantu membereskan ini semua?"

"Kau merusak pestaku untuk menanyakan itu?"

"Tidak," tukas Luhan tajam. "Berhentilah membuat lelucon yang tidak lucu."

"Kalau begitu tidak usah mengulur-ulur waktu. Pembantu dibayar dengan layak untuk membereskan semua ini besok. Jadi apa yang mau kaubicarakan?"

"Surat-surat itu."

Sehun menggerakkan kepalanya. "Mau kauapakan?"

"Boleh aku lihat surat-surat itu?"

"Apa perlunya? Kau tidak percaya padaku? Apa kau pikir aku mengarang-ngarang soal surat itu?"

"Boleh aku melihat surat-surat itu?" tanya Luhan marah.

"Buat apa?"

"Karena kurasa aku tahu siapa yang mengirimnya."

"Ada apa sih? Ke mana perginya semua orang?" Mendengar suara gangguan itu Luhan berbalik.

Sepasang pria dan wanita berdiri di pintu penyambung, dengan tampang bingung dan penutup tubuh ala kadarnya.

Suzette membelitkan sebuah handuk di dadanya dan hanya mengenakan celana bikini. Minimal misteri bra bikini yang tadi diinjaknya sudah terungkap. Pria di sampingnya membelit pinggangnya dengan sebuah handuk.

Luhan memunggungi mereka dan berlutut di sisi Vivi. Ia mengambil mangkuk saus itu dan menukarnya dengan sepotong daging sapi panggang dari pinggan isi roti sandwich.

"Apa yang terjadi, Sehun?" tanya pria itu. "Kami baru saja masuk ke salah satu kamar tidur waktu—"

"Tidak apa-apa. Pestanya tiba-tiba selesai. Semua orang sudah pergi."

"Mana Krystal?"

"Dia pergi bersama salah satu pilot F-16."

"Apa? Dan kau membiarkannya?"

"Dengar, aku kan bukan penasihat perkawinan." ujar Sehun dengan kesabaran yang mulai menipis. "Karena kau pergi ke kamar tidur dengan Suzy Q, kurasa sah-sah saja kalau Krystal pergi dengan pria lain. Nah, bisakah kalian pergi sekarang? Aku sendiri juga masih punya urusan yang harus diselesaikan."

Pasangan itu saling berbisik mengomentari betapa beberapa orang bisa begitu kasar sambil mencari-cari pakaian mereka di tepi kolam.

Sehun mengabaikan mereka, menyisir rambut dengan tangannya. "Aku lapar. Kau mau sereal?"

Luhan menggelengkan kepalanya. Sehun melewati sisa makanan pesta dan memilih semangkuk sereal Cheerios dan susu. Karena mejanya berantakan, ia berdiri dan makan, menyandarkan pahanya di meja.

"Siapa yang mengirim surat-surat itu?" tanyanya dengan mulut penuh.

"Ibuku, kurasa."

Sehun langsung berhenti mengunyah, menelan makanannya, dan terpana menatap Luhan. "Ibumu?"

Luhan menceritakan tentang peralatan tulis yang ditemukannya di laci itu. "Ibuku tidak memiliki saudara untuk dikirimi surat. Selain itu, akibat stroke yang dideritanya, dia jadi sulit menulis." Luhan terdiam, lalu membuka kedua tangannya. "Kalau aku boleh melihat surat-surat itu, aku mungkin bisa memastikan apakah benar ibuku yang menulisnya atau bukan."

Sehun meletakkan mangkuk serealnya dan berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Surat-suratnya terdapat di laci tengah. Semuanya ada enam surat, yang diikat dengan karet gelang. Ia menyerahkan ikatan itu pada Luhan, yang langsung membuka ikatannya dan mengamati tulisan pada tiap amplopnya, lalu membaca isi dari dua surat.

"Bagaimana?" tanya Sehun, setelah selesai menyuap sesendok sereal.

"Tidak seperti tulisan tangannya yang biasa, tapi kelihatannya ini memang tulisan tangannya sejak terserang stroke. Dan alat tulis yang dipakainya sama dengan yang kutemukan. Aku yakin surat-surat ini berasal dari ibuku. Kata-kata ini adalah kata-kata yang biasa diucapkannya."

Energi Luhan terkuras habis, lalu ia duduk di salah satu kursi di meja dapur itu. Setelah membaca seluruh surat itu, ia menengadah menatap Sehun. Pria itu sedang menenggak jus jeruk langsung dan botolnya.

"Aku tidak tahu harus berkata apa, Sehun." Seumur hidup belum pernah Luhan merasa semalu ini. "Sulit dipercaya ibuku melakukan hal sekeji ini."

Sehun duduk di seberang Luhan. "Waktu itu kau bilang ibumu tidak tahu bahwa aku ayah Haowen."

"Memang tidak."

"Sudah jelas dia tahu."

"Sudah jelas," ulang Luhan putus asa. "Ibu pasti sudah mengetahuinya sejak lama. Mungkin ibuku selama ini sudah mencurigaimu, lalu waktu Haowen makin lama makin mirip denganmu... Wajahmu sering menjadi berita sejak peluncuran roket itu.."

Keadaan begitu memalukan Luhan nyaris tidak berani menatap mata Sehun. Tapi ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan melakukannya. "Aku minta maaf, Sehun," ujarnya, suaranya terdengar sendu.

Sehun bersandar di kursinya dan menggaruk belakang telinga Vivi. Anjing itu menyandarkan dagu di paha majikannya, seolah menyadari topik pembicaraan ini suram. Sepasang matanya yang cokelat menatap Luhan dengan sedih.

"Ini bukan salahmu, Luhan," ujar Sehun. "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu."

"Aku akan segera menanyakan hal ini pada ibuku."

"Jangan. Ibumu sedang sakit. Bagaimana dia bisa melukaiku? Dia sama sekali bukan pemeras. Aku malah merasa lega karena aku tidak diikuti oleh pemeras betulan."

"Aku lega karena tidak ada bahaya yang mengancam Haowen."

Setengah merenung, Sehun terus menggaruk telinga Vivi. "Kau tahu, secara tidak langsung sepertinya ibumu memang ingin diketahui. Kalau tidak beliau tidak akan menuliskan alamatmu di amplopnya."

"Tapi apa alasan ibuku melakukan hal itu?" tanya Luhan tanpa mengharapkan jawaban. "Mom menjadi sinis setelah kematian Ji hyo dan Dad. Kau tidak tahu betapa dalam kesedihannya. Tapi ibu tidak pernah mendendam."

"Aku yakin ibumu merasa sudah saatnya aku menerima ganjaranku."

"Pertanggungjawaban yang pernah kita bicarakan dulu," ujar Luhan.

"Benar." Mereka berdua diam dan merenung untuk beberapa saat. Akhirnya Sehun berkata, "Ini memang hal yang buruk, Luhan, tapi aku senang ibumu melakukannya."

"Mengapa?"

"Karena Haowen."

Bibir Luhan terasa kering. "Ada apa dengan Haowen?"

"Aku tidak suka memikirkan menjalani sisa hidupku tanpa mengenalnya."

Sehun mengawasinya dan Luhan punya perasaan yang kuat bahwa ia takkan suka kelanjutannya.

Ia benar.

"Kurasa aku berutang padanya, dan padaku juga, untuk melewatkan beberapa waktu bersama Haowen."

Luhan membasahi bibirnya. "Yang kau maksud dengan waktu adalah—"

"Maksudku kami harus bertemu sewaktu-waktu, sesering mungkin. Untuk bisa saling mengenal. Menghabiskan waktu yang berkualitas bersama. Mungkin dia bahkan bisa tinggal di sini sesekali."

Mimpinya yang terburuk menjadi kenyataan. Mimpi buruk itu mulai terungkap di dapur yang berantakan ini, di tengah-tengah puing dan tumpahan makanan. Sejak Oh Sehun kembali dalam kehidupannya, Luhan sudah takut akan datangnya saat ini.

"Waktu yang berkualitas?" ejeknya. "Kau pasti menonton acara Mario Teguh suatu hari dan mengutip ungkapan hebat itu, karena aku yakin kau sama sekali tidak tahu apa sebenarnya arti waktu yang berkualitas antara orangtua dan anak."

"Sebentar—"

"Menurutmu apa waktu yang berkualitas itu, Kolonel Oh?" tanya Luhan. beranjak dari kursinya. "Sebuah pesta liar? Berbagi Suzette atau salah satu penggemar yang selalu mengerumunimu? Sebuah pesta hingar-bingar setiap malam, dan Haowen juga boleh mengundang teman-temannya?"

"Aku tahu apa yang terjadi malam ini kelihatan buruk, Luhan, tapi—"

"Memang!"

"Baik, aku memang berpesta," Sehun balas membentak. "Dan menurut moralmu yang kaku, pesta ini jadi sedikit keterlaluan."

"Moral adalah kata lain yang tidak kau ketahui artinya. Dan aku pikir, mengisap ganja, mabuk-mabukkan, wanita bertelanjang dada, dan perselingkuhan yang dilakukan terang-terangan, terdengar lebih dari sekadar 'sedikit keterlaluan'."

"Mengisap ganja? Siapa yang mengisap ganja?"

"Hippie dari zaman batu yang berambut putih."

"Aku bahkan tidak mengenal orang semacam itu."

"Berarti dia diundang oleh orang lain atau menyelinap masuk. Yang pasti, dia bukan hanya sekadar khayalanku belaka."

"Aku tidak tahu apa-apa tentang ganja."

"Baiklah, lupakan saja. Yang lainnya sudah cukup buruk. Aku tidak mau Haowen berada di antara orang-orang biadab yang berbicara kotor pada Wanita seperti yang dilakukan temanmu—"

"Pilot itu bukan temanku. Aku bahkan tidak pernah melihatnya sampai siang tadi. Kami bermain kejar-kejaran."

"Dengan pesawat uji coba?"

"Ya, lalu?"

"Akrobat di udara? Hal-hal berbahaya, kan?"

Sehun bergerak dengan tidak tenang. "Aku kan pilot. Aku terbang."

"Kau selalu mencari tantangan, Sehun," pekik Luhan. "Saat aku bertemu denganmu musim panas itu, tantanganmu adalah menguasai papan seluncur, kau terus-menerus mengambil risiko dengan barang sialan itu, aku sampai tidak berani melihat. Dan kau masih suka mengambil risiko, setiap kali kau bermain kucing-kucingan dengan pesawat pengebom, dan di jalan tol setiap kali kau menyetir. Kau tidak lebih dari sekadar petualang nekat yang terlatih baik."

"Sialan kau!" Sehun bangkit dari kursinya dengan begitu cepat, Vivi langsung menyingkir dan merapat ke dinding. "Aku bukan sekadar pilot, tapi ilmuwan."

"Kau masih belum menyadari kefanaanmu. Kau melanggar setiap batas bahaya yang ada di hadapanmu dan mencari bahaya selanjutnya."

"Sebenarnya apa hubungan semua ini dengan ke inginanku untuk melewatkan waktu bersama anakku?"

"Aku tak mau Haowen menyayangimu lalu patah hati saat kau bermain-main di udara sana dengan teman-temanmu dan tidak kembali. Aku tidak mau dia kehilangan dirimu seperti—"

"Seperti apa?"

Napas Luhan tergetar dan dengan cepat menahan apa yang nyaris diucapkannya. Seperti yang kualami. "Haowen adalah pemuda sensitif yang memiliki masa depan yang cerah. Bagimu menjadi orangtua hanyalah tantanganmu yang terbaru."

"Kau salah," sergah Sehun kaku.

"Kau mungkin bersenang-senang dengan Haowen Sampai rasanya tidak seru lagi, tapi kau pasti langsung mencari mainan baru dan teman bermain yang baru. Lalu bagaimana nasib Haowen?"

Luhan menunjuk dada pria itu. "Dan kalau kau pikir aku akan mengizinkan anakku tinggal di bawah atap rumah ini setelah apa yang kulihat malam ini, kau harus berpikir lagi, Kolonel Oh. Kau bahkan tidak bisa memberi makan anjingmu dengan benar, apalagi mengasuh seorang anak. Dan orang sinting itu membunuh salah satu ikanmu yang paling cantik!"

Luhan sudah hampir sampai ke pintu kaca sebelum Sehun mengejarnya. Ia mencengkeram lengan atas wanita itu, dan menariknya mendekat. "Siapa yang kau cintai dan akhirnya pergi, Luhan?"

"Apa?" tanya Luhan dengan napas tercekat.

"Siapa yang kaucintai dan akhirnya pergi?"

"Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan."

"Kau pasti mengerti. Seseorang membuatmu patah hati. Seorang pria. ltukah sebabnya kau jadi takut mengikuti perasaanmu? Apakah cinta yang hilang itu membuatmu menolak semua hubungan dengan orang lain?"

Takut Sehun dapat membaca kebenaran di mata-nya, Luhan melepaskan diri dari cengkeramannya dan menjauh. "Apa yang kau tahu tentang hubungan dengan orang lain?"

"Terus terang, tidak banyak," jawab Sehun. "Tapi aku ingin belajar. Segera. Dan dengan seseorang yang terus-menerus kausebut 'anakmu,' padahal dalam kenyatannya adalah anakku."

Genderang perang sudah dipukul saat Sehun mengucapkan kata-kata itu. Apa yang diucapkan Sehun membuat Luhan ngeri, tapi ia tidak menunjukkannya pada pria itu. Dengan kepala ditegakkan tinggi-tinggi, Luhan meninggalkan Sehun berdiri di tengah-tengah dapurnya yang berantakan.

.

.

HunHan

.

.

Note:

Kalau ada yang shock lihat nama Mario Teguh disitu, sengaja saya ganti menjadi Mario Teguh karena tanpa dijelaskan pun hampir semua warga Indonesia tahu siapa itu Mario Teguh. So, kesinambungan ceritanya bisa langsung dipahami tapa perlu bingung dengan nama yang kurang familiar. Ya...walaupun waktu ngetiknya dan ngebayanginnya jadi agak ngikik juga sih :p

Di novel, karakter yang tertulis itu Phil Donahue. Di Amerika, acara talk show yang dipandu Phil Donahue sangat terkenal pada tahun 90-an. Ya...hampir sama dengan acaranya Oprah Winfrey pada awal tahun 2000. Nah kalau di Indonesia, seperti Kick Andy. Memberikan inspirasi dan motivasi hidup dari cerita-cerita nyata di sekitar kita.

Tapi karena khawatir tidak banyak yang tahu acara Kick Andy, jadi saya ambil Mario Teguh saja, dengan alasan dia sudah terkenal sebagai motivator. Terlepas dari kasus yang belakangan bikin dia malah tenggelam. So...mudah-mudahan tetap bisa dinikmati ya walau nyelip nama "asing" disitu.