Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.
Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.
Selamat menikmati…
.
.
.
.
.
LONG TIME COMING
(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)
.
.
Sembilan
.
.
.
Melalui kaca spion Porsche-nya Sehun melihat mobil Luhan mendekat. Sehun keluar dari balik kemudinya dan menemui Luhan yang sedang keluar dari mobilnya. Dari balik kacamata hitamnya, wajah muram Luhan tampak mungil dan pucat. Ia sangat ingin membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
Tapi ia tidak melakukannya. Hampir setiap kali ia melihat Luhan, wanita itu selalu membangun pagar pelindung di sekelilingnya. Ia seharusnya menyadari hal itu sekarang, apalagi setelah Luhan berani membubarkan pesta semalam, bahwa keberanian wanita itu jauh melebihi ukuran tubuhnya.
"Apa yang kauinginkan, Sehun?"
"Mana keramahanmu?" Hening. "Aku sudah menunggumu selama lebih dari setengah jam. Apa aku tidak layak mendapat sapaan ramah?"
"Apa yang kauinginkan?"
Pendekatan bersahabat teryata tidak mempan. Mungkin ketulusan bisa. "Aku ingin kita bisa berteman. Punya pipa perdamaian?"
"Tidak lucu."
Sehun menggigit sudut bibirnya dengan jengkel, menyadari kehilangan kesabaran akan berakibat fatal bagi alasan di balik kunjungan mendadak ini. Ia sama sekali tidak ingin bertengkar.
Wanita ini pasti tidak punya hormon, pikirnya kesal. Itu sebabnya taktik yang biasanya berhasil pada wanita lain selalu tidak mempan pada Luhan.
"Perlu bantuan membawa barang-barang itu?"
Kursi belakang mobilnya dipenuhi oleh kantong belanjaan dan perlengkapan gambar. Luhan berpikir sejenak sebelum akhirnya menyerah dengan sebal. "Berhubung kau sudah ada di sini, aku bisa memanfaatkan bantuanmu. Kelihatannya jam kerjamu cukup fleksibel," ujarnya ketika mereka berjalan menuju pintu belakang.
"Mereka masih memperbaiki simulator itu. Aku memberitahu atasanku bahwa aku perlu mengurus beberapa kepentingan pribadi. Mana kuncimu?"
Sehun meletakkan sekantong belanjaan di lututnya saat membuka pintu. Luhan masuk menduluinya. "Taruh saja di meja. Akan kubereskan nanti."
"Kita akan membereskannya sekarang. Kalau tidak es krim-mu bisa lumer," ujarnya, melepaskan kacamata gelapnya untuk mengintip isi kantong itu. "Almond Swiss? Aku paling suka rasa ini."
"Haowen—" Menyadari dirinya tersenyum, Luhan menarik senyumnya kembali dan memunggungi Sehun. "Haowen juga."
Wanita itu menghilang ke arah ruang kerjanya dan meletakkan perlengkapan gambarnya. Begitu ia kembali ke dapur, Sehun sudah mengeluarkan isi beberapa kantong dan meletakkannya di atas meja.
"Sehun, aku akan melakukannya nanti."
Sehun bertekad tidak akan marah pada Luhan kali ini. Dengan tenang ia mengacungkan sebuah botol penyegar mulut. "Taruh di mana?"
"Di atas," desah Luhan menyerah. "Taruh semua barang di atas sini." Ia menepuk-nepuk pojok meja.
"Baik."
Mereka bekerja tanpa berbicara. Luhan diam karena marah.
Sehun terus mengeluarkan isi belanjaannya; Luhan meletakkannya di berbagai lemari. Sehun menyukai cara wanita itu bergerak anggun dan cekatan, gerakan yang hanya dimiliki kaum wanita di dapurnya. Wanita itu membungkuk dan meregang, berjongkok dan berbalik, membuka pintu dan menutup laci dengan pinggangnya, bagai tarian yang memikat Sehun.
Roknya terangkat memperlihatkan lututnya. Ketika wanita itu membungkuk atau berjingkat untuk mencapai rak, sekilas Sehun dapat melihat pahanya yang mulus. Wanita itu mengenakan kemeja yang kebesaran dengan sebuah ikat pinggang. Di balik kemejanya itu, Luhan mengenakan kaus tanpa lengan. Dan di balik itu kelihatannya Luhan tidak mengenakan apa-apa. Membayangkan bahan kaus yang halus menyentuh payudara wanita itu membuat Sehun gerah.
Ia mengangguk ke arah air soda yang sedang ditaruh Luhan di kulkas. "Boleh minta satu?"
Ia tahu ia mengambil risiko. Wanita itu tidak bersikap ramah sedikit pun. Dia pasti masih marah gara-gara semalam, pikir Sehun. Luhan nyaris melemparkan potongan es ke dalam sebuah gelas sebelum membuka kaleng soda dan menuangkan minuman itu untuknya. Ketika Luhan menyodorkan gelas itu padanya, isinya tumpah mengenai tangannya. Ia menjilatnya. "Trims."
Luhan bersedekap lalu menatapnya. "Sekarang setelah semua belanjaan sudah ditaruh, setelah kau mendapatkan minumanmu, tolong katakan tujuanmu kemari supaya aku bisa segera kembali bekerja."
Sehun menyesap minumannya. Menatap wanita itu lekat-lekat, lalu berkata, "Aku menelepon pengacaraku tadi pagi."
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa, tidak bergerak, tapi keterkejutannya terlihat jelas. Matanya, yang sudah terlihat lebar dan ketakutan, lebih melebar lagi. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Ia membasahi bibir dengan lidahnya, lalu menggigiti bibir bawahnya.
Ia ingin menyentuh Luhan tapi tidak berani. Ia takut wanita itu akan mencakar atau menjadi histeris. Kelihatannya dua-duanya mungkin.
"Duduklah, Luhan. Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin," usulnya pelan. "Please."
Luhan mengangguk dan langsung mendudukkan dirinya di kursi terdekat di ruang makan itu.
Seandainya kursi itu penuh paku sekalipun, Sehun ragu Luhan melihatnya. Sehun sendiri tetap berdiri dan berjalan menuju pintu. Lewat jendela ia dapat melihat halaman belakang dan untuk pertama kalinya melihat garasi yang terpisah. Ada ring basket dipasang di atas jalan masuk.
Luhan telah menyediakan keperluan Haowen sejauh yang dapat diberikannya. Namun keberuntungan rasanya tak pernah menaungi Luhan. Wanita itu sudah sering disakiti dan tidak layak disakiti lagi. Sehun berharap ada jalan yang tidak menyakitkan untuk melakukan ini. Sayangnya setelah terjaga semalaman ia tidak menemukan jalan lain.
"Aku bertanya pada pengacaraku apa yang bisa kulakukan untuk memperoleh hak asuh bersama atas Haowen."
Ia mendengar suara kecil, tapi ketika ia berbalik, tangan wanita itu sedang menutupi bibirnya. "Dia bilang hal itu akan sulit dilakukan kalau kau menentang, tapi bukannya mustahil. Aku harap kau tidak menentang."
Mata wanita itu tidak lagi ketakutan, melainkan panik. "Pernahkah kau memikirkan orang lain selain dirimu, Sehun?"
Sehun menatap ujung sepatunya. "Tuduhan yang adil, kurasa. Meskipun sedikit keterlaluan."
"Aku tidak bisa bersikap baik. Kau akan merusak hidup Haowen, kecuali aku melawanmu dengan menggunakan cara kotor."
Sehun langsung menyeberangi dapur dengan cepat dan duduk di hadapan Luhan. "Bagaimana aku bisa merusaknya dengan menjadi bagian dalam hidup Haowen? Seorang anak membutuhkan ayahnya."
"Dia tidak membutuhkannya sampai sekarang."
"Dari mana kau tahu? Mungkin ia berhenti mengungkapkan harapannya karena ia peka terhadap perasaanmu."
Sehun tahu ia menyatakannya dengan tepat karena Luhan langsung terdiam. "Aku tahu apa yang kau lihat semalam membuatku tampak buruk, tapi aku ingin menjelaskan."
Luhan tidak mengatakan apa-apa. namun hanya membalas tatapannya. Sehun berusaha tidak mengacuhkan tuntutan tanpa kata-kata di mata itu. "Aku marah atas apa yang terjadi di sini kemarin." Ia merasa senang karena hal itu membuat Luhan tidak tenang. Wanita itu bergerak rikuh di kursinya dan mengatupkan tangannya. "Aku tidak mau herhenti, Luhan. Aku tidak ingin dihentikan. Aku ingin hal itu berlanjut sampai—"
"Sehun, jangan."
"Sampai aku menyatu denganmu."
Luhan melompat dari kursinya dan berjalan ke belakang. Ia mengikutinya. Ketika ia tiba di sana, Luhan sudah bersandar di papan gambarnya, menggenggam ujung-ujungnya dan berayun pelan.
Mendengar langkah kaki Sehun, Luhan berbalik menghadapnya. "Jadi secara tidak langsung, pesta itu adalah salahku?" tanyanya, menekankan tangannya di dada.
"Secara tidak langsung." Luhan mendengus kesal. "Dengarkan aku, oke?" tuntut Sehun, merasa kesabarannya mulai menipis. "Tingkat kekesalanku sangat tinggi. Aku merasa sangat marah. Aku merasa ingin mabuk-mabukan sedikit, dan ya, bercinta sebelum malam itu berakhir."
"Tapi setelah semua orang hadir di sana aku mulai memandang berkeliling dan berpikir betapa dangkalnya beberapa orang di antara mereka. Kebanyakan mereka hanyalah para pemula yang sok pahlawan. Lalu aku baru sadar kalau akulah yang paling parah di antara mereka. Keinginanku untuk berpesta sudah hilang sebelum kau datang. Aku ingin sendirian supaya bisa memikirkan prioritasku, tapi seperti yang kaulihat, tidak ada kesempatan untuk itu. Aku memutuskan untuk ikut berpesta, menikmatinya sebisa mungkin. Lalu kau muncul, bagai hati nurani yang terus mengusikku. Waktu kau bertanya padaku apa yang ku ketahui tentang hubungan, rasanya seperti ditembak tepat pada sasaran. Aku tahu aku tidak tahu banyak. Aku tidak pernah diminta untuk mengetahuinya." Sehun terdiam sejenak. "Aku ingin mengubah hal itu."
"Kau mau menggunakan Haowen untuk mengasah kepandaianmu, menggunakannya sebagai hewan percobaan untuk membentuk dirimu yang baru ini." Luhan bertolak pinggang. "Memangnya kau anggap aku sebodoh itu untuk terjebak pada bualanmu tentang pengembangan pribadi ini? Kau sangat bangga menjadi Kolonel Oh Sehun, pahlawan NASA."
"Baik, aku mengakuinya. Ya, aku memang bangga. Aku bekerja keras untuk itu. Aku bangga atas apa yang kulakukan di atas sana."
"Jadi apa yang akan kaukatakan kalau orang mulai bertanya-tanya siapa Haowen? Bagaimana kau akan memperkenalkannya?"
Pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakannya pada dirinya sendiri. Sekarang ia menjawab Luhan sejujurnya. "Aku masih belum tahu. Hal itu tergantung Haowen."
"Haowen tidak akan mendapat kesempatan untuk memilih. Pidatomu sangat mengesankan, Kolonel, tapi kau takkan pernah bisa berubah. Seandainya aku bisa menduga kau akan berpikir menjadikan Haowen sebagai bagian dari hidupmu, aku akan berbohong waktu kau bertanya apakah dia anakmu atau bukan."
"Sebenarnya siapa yang egois di sini, Luhan? Kurasa kau takut kalau dia mengenalku, dia akan lebih menyukaiku daripada kau."
"Itu tidak benar! Haowen menyayangiku dan tahu betapa aku sangat menyayanginya."
"Kalau begitu bagaimanapun hubungan antara dia dan aku kelak tidak mungkin mempengaruhi hal itu, kan?"
Ia berhasil menjebak Luhan, tapi kemenangan yang diraihnya begitu dangkal, hanya sedikit kepuasan yang diperolehnya. Mungkin karena tubuh rapuh wanita itu kelihatannya bergetar. Namun bukannya takluk, Luhan malah menegakkan tubuhnya.
"Silakan mengancam dengan semua pengacara yang kaumiliki. Haowen adalah anakku, secara hukum maupun moral," ujarnya, menepuk dadanya dengan genggaman tangannya yang kecil. "Aku akan melawan mu sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankannya, Sehun."
"Tadinya aku harap kau bisa diajak bicara baik-baik. Seharusnya aku sudah bisa menduganya."
"Benar. Seharusnya. Mulai sekarang, anggap aku musuhmu. Apa kau pikir aku akan menurut padamu waktu kau mengancam satu-satunya hal terpenting dalam hidupku?"
Sehun menyeberangi ruangan dan menyudutkan wanita itu ke ujung meja gambarnya. Ia mencondongkan tubuh ke arah Luhan, dengan kepala nyaris bersentuhan, Sehun berbisik, "Kurasa itulah pokok masalahnya. Hidupmu tidak seimbang. Seharusnya Haowen tidak menjadi satu-satunya hal yang terpenting dalam hidupmu."
"Maksudku bukan satu-satunya. Masih ada ibu-ku yang perlu dirawat. Pekerjaanku."
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kau tidak layak mendapat perhatian? Bagaimana dengan kesenangan hidup? Dan seks?"
"Itu kan prioritasmu, bukan prioritasku."
"Bukan masalah prioritas. Aku yakin kau tidak mengalaminya akhir-akhir ini."
"Kenapa kau berpikir begitu? Karena aku tidak tergila-gila padamu, menggesekkan tubuhku padamu seperti seekor kucing yang sedang birahi dan menjilati telingamu?"
"Cobalah. Siapa tahu kau suka."
"Kau memuakkan."
"Bukan memuakkan, Luhan, normal. Oh, kau sebenarnya punya perlengkapan yang tepat," ujar Sehun, matanya menelusuri payudara wanita itu. "Dan semua nya bekerja dengan baik. Aku sudah pernah mencobanya, ingat?"
Luhan mencoba mendorongnya dan melewatinya. Sehun kembali menyudutkannya ke meja. "Kau tidak mau membuka diri dan membiarkan tubuhmu melayang sepenuhnya. Kenapa? Karena seorang pria pernah membuatmu kecewa sampai kau tidak berminat pada pria lainnya?"
"Hentikan."
"Apa yang dilakukannya, Luhan, meninggalkanmu untuk gadis lain, yang tidak sekaku dirimu? Meninggalkanmu di altar? Atau dia tidak bisa menerima kehadiran Haowen? Apa yang dilakukannya sehingga membuatmu beku setiap kali seorang pria menyentuh mu?"
Melihat ia berhasil membuat Luhan diam menahan marah, Sehun melanjutkan serangannya. "Aku yakin dan kurasa setiap pengadilan di Texas akan setuju, bahwa hidup bersama seorang ayah yang menikmati hidup sedikit berlebihan lebih baik untuk Haowen daripada hidup bersama seorang bibi yang tidak menikah dan terlalu takut untuk menjalani hidup."
Ia menarik Luhan ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan marah, lalu berjalan keluar. Ketika sampai di mobilnya, Sehun bersandar di sisi mobilnya dan mengumpat-umpat selama semenit penuh. Kenapa sih wanita itu selalu membangkitkan sisi terburuknya?
.
HunHan
.
Luhan seperti baru saja dihantam. Ia memeluk erat perutnya dan sedikit membungkuk seolah merasakan nyeri yang amat sangat.
Sehun tidak bisa mengambil Haowen darinya. Tidak bisa.
Dari sisi hukum, pria itu tidak memiliki dasar yang kuat. Semua orang bisa melihat bahwa Haowen sudah tumbuh menjadi pemuda sehat yang berkelakuan baik. Haowen tidak pernah ditelantarkan atau diperlakukan dengan sewenang-wenang, baik secara fisik maupun emosional. Haowen akan menjadi orang pertama yang bersaksi bagi ibunya, walaupun baru membayangkannya saja Luhan sudah merasa pedih.
Tentu Sehun akan berpikir jernih pada akhirnya, dan menyadari bahwa yang terbaik adalah membiarkan segalanya sebagaimana adanya. Ia tidak akan membiarkan Haowen melewati siksaan seperti perebutan hak asuh, kan? Pria itu mungkin angkuh dan sombong, tapi tidak kejam.
Mungkin juga pertempuran di meja hijau ini tak kan terjadi. Seandainya Haowen mengetahui siapa Sehun sebenarnya, ia mungkin akan memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan Luhan untuk mencegah hal itu. Ia tidak akan pernah memaksakan hak asuhnya dengan mengorbankan kebahagiaan Haowen.
Pertanyaan yang paling dibencinya dan yang terus-menerus menghantuinya adalah, apakah ia harus memberitahu Haowen tentang Sehun?
Luhan begitu tenggelam dalam pikirannya hingga ia tidak mendengar dering telepon. Baru pada dering kelima ia mengangkatnya.
"Halo? Oh ya, Mr. Howard. Apa kabar?"
"Baik. Dan Anda?"
"Baik."
"Miss Lu, perusahaan kami sangat terkesan dengan proposal Anda."
"Terima kasih. Senang mendengarnya." Ia menunggu bom dijatuhkan.
"Tapi kami memutuskan untuk memilih orang lain untuk mengerjakan sampul buku pariwisata itu."
"Saya mengerti." Sebuah tirai gelap serasa menghalangi pandangannya, menutup semua cahaya semua harapan.
"Saya tidak dapat mengatakan betapa sulitnya kami mengambil keputusan ini."
"Saya menghargai hal itu."
"Mungkin di masa yang akan datang—"
"Terima kasih, Mr. Howard, atas pemberitahuannya. Sampai jumpa."
Luhan menutup teleponnya, sehingga penolakan atas dirinya tidak terasa menyakitkan bagi mereka berdua. Ia duduk menerawang selama beberapa menit, lalu melakukan sesuatu yang jarang dilakukannya.
Ia menangis tersedu-sedu.
"Mom? Mom ada di mana?"
Matanya masih merah dan sembap sehabis menangis ketika Haowen pulang. Anak itu pulang terlambat karena mampir ke rumah temannya sepulang sekolah. Luhan sedang memasak makan malam di dapur saat Haowen masuk dan meletakkan buku serta tas olahraganya ke kursi.
"Hai ."
"Hai." Luhan berusaha untuk terdengar riang. Keriangannya terdengar palsu. "Bagaimana sekolahmu?"
"Ulangan sejarahku dapat 98."
"Hebat. Tolong gunakan gelas," ujar Luhan saat Haowen hendak meminum air dingin langsung dari botolnya, mengingatkan Luhan pada kebiasaan ayahnya.
"Namanya juga usaha." Senyum maut Haowen juga merupakan faktor keturunan lainnya. Namun senyum itu langsung lenyap begitu Luhan memalingkan wajahnya.
"Ada apa, Mom?"
"Tidak ada apa-apa."
"Mom habis menangis, ya? Apa terjadi sesuatu pada Nenek?"
"Tidak. Tadi pagi aku berbicara dengannya dan Nenek tampak pusing akibat obatnya, tapi selebihnya Nenek baik-baik saja," kala Luhan sambil membalik daging di panggangan dengan sebuah garpu panjang. "Tolong tata mejanya. Malam ini kita makan steak ayam goreng. Hampir selesai kok. Begitu aku membuat sausnya—"
"Mom, berhenti memperlakukanku seolah aku ini anak bodoh, oke?"
Haowen memang pantas merasa jengkel. Terakhir kali ia melihat ibunya menangis adalah ketika mereka menonton ledakan Challenger di siaran berita. Luhan tidak terkejut ketika Haowen melihat wajahnya yang sembap, dan merasa jengkel karenanya.
Haowen sudah bukan anak-anak yang keprihatinannya bisa dialihkan tanpa penjelasan. Ketika ada sesuatu yang mengganggu Luhan, hal itu juga mengganggu Haowen. Luhan akan merasa kesal, bahkan panik, jika Haowen tidak menyadari ada sesuatu yang mengganggunya.
Menyadari dirinya bersikap tidak adil, Luhan mengecilkan api kompor supaya dagingnya tidak gosong. "Mr. Howard tadi menelepon. Aku tidak mendapatkan pekerjaan sampul depan buku pariwasata itu."
"Sialan!"
"Itulah yang tadi kukatakan," timpalnya tersenyum masam. "Tapi sudahlah. Keputusan mereka sudah bulat dan tidak ada gunanya terus-menerus menyesali hal itu. Aku harus bekerja lebih keras lagi lain waktu."
"Dasar tidak punya selera!" seru Haowen menun-jukkan kesetiaannya. "Mom yang terhebat."
"Terima kasih," jawab Luhan, mengulurkan tangan untuk mengelus pipi anaknya. "Senang rasanya mengetahui aku mendapat dukunganmu."
"Apakah akan terjadi hal yang buruk? Apa ini berarti kita akan jatuh miskin?"
"Tidak, Sayang," jawab Luhan, tertawa lembut. "Tidak lebih miskin dari biasanya. Hanya saja aku berencana melakukan hal yang sangat istimewa untuk ulang tahunmu yang keenam belas, sekarang sudah tidak bisa lagi."
"Tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan hal itu. Mom membuatku takut saja. Kupikir ada sesuatu yang sangat buruk."
Luhan tersenyum sayang padanya. "Kau anak yang hebat, tahu tidak?" Air mata kembali menggenangi matanya, lalu ia kembali berbalik ke kompor.
"Paman Sehun tadi datang, ya?"
Luhan langsung memutar tubuhnya.
Haowen duduk di meja, memutar-mutar kacamata hitam pada gagangnya. Luhan tadi tidak melihatnya.
Berbohong tampaknya tidak ada gunanya. Lagi pula, ia sudah mulai sering berbohong pada Haowen akhir-akhir ini, dan ia tidak menyukainya. "Ya, dia, eh, mampir."
"Buat apa?"
"Buat apa?" Luhan mengangkat bahu dan tersenyum lemah. "Hanya sekadar mampir. Dia membantuku membawakan belanjaan dari mobil, minum soda, lalu pergi. Hanya kunjungan singkat kok." Ia menyibukkan diri di tempat cuci piring, mencuci selada. "Kau mau pakai saus apa untuk seladamu malam ini?"
"Mom pacaran dengannya?"
"Apa?" Kali ini Luhan nyaris jatuh oleh pertanyaan yang tak terduga itu. Ia tidak mau menghina Haowen dengan menjawab asal-asalan. Ekspresi anak itu terlalu serius untuk diremehkan begitu saja.
Ia mematikan keran air, mengeringkan tangannya, dan memindahkan panggangan dari kompor. Makan malam bisa ditunda. Kebutuhan emosional Haowen selalu didahulukan daripada hal-hal seperti makan malam.
"Tentu saja aku tidak berpacaran dengan Sehun, Haowen."
"Aku tidak keberatan kok."
"Aku tahu. Dia memberitahuku apa yang kau katakan padanya di malam kami pergi ke jamuan makan malam itu. Terus terang aku sangat terkejut."
"Aku sudah cukup besar untuk mengerti dorongan seksual dan semacamnya. Mom dan Sehun adalah dua orang dewasa yang sudah cukup umur."
"Aku menghargai keterbukaanmu mengenai kehidupan seksualku, tapi kita tidak sedang membicarakan hal itu. Sehun dan aku bukan sepasang kekasih."
"Kalau begitu apakah kalian berteman?"
"Aku takkan menyebutnya teman. Kami hanya sekadar kenalan biasa."
"Kalau begitu kenapa dia mampir di siang bolong? Kenapa Mom tiba-tiba pergi mengerjakan hal yang misterius di malam hari? Mom belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Dan setiap kali kita berkumpul, kalian berdua bertatapan dengan aneh. Mom begitu... kaku, seolah Mom takut akan mengatakan sesuatu yang salah."
"Kurasa aku menjadi gugup di dekatnya karena dia seorang selebriti."
"Mom tidak pernah gugup di dekat siapa pun juga."
"Dia selebriti pertama yang pernah kutemui." Kata-kata itu bergaung begitu kosong hingga Luhan tidak dapat menyalahkan Haowen yang menyiratkan rasa tak percaya.
"Dari mana Mom mendapatkan tanda merah itu?"
"Apa?" tanya Luhan, dengan salah tingkah langsung mengulurkan tangan ke bekas samar di lehernya. "Ini gigitan serangga kok."
"Itu bekas ciuman, Mom," ulang Haowen tidak sabar.
Dengan rasa bersalah Luhan menatap ke bawah. "Baiklah, dia memang menciumku. Tapi hanya itu, Haowen."
"Aku tidak marah soal itu. Aku sudah bilang aku tidak keberatan. Aku hanya minta Mom berterus-terang padaku."
"Dan sekarang aku melakukannya." Haowen menatap mata ibunya dalam-dalam dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Luhan tahu anak itu masih belum ingin menghentikan percakapan ini. "Apa lagi, Haowen? Kau sedang memikirkan sesuatu."
Haowen mulai gelisah. Ia berdeham dan menggaruk-garuk kepalanya. "Apa Paman Sehun... apakah dia... you know, dia ayahku?"
Gelombang keterkejutan dan penyesalan melanda Luhan. Tidak sampai membuatnya jatuh, tapi nyaris. Sedikit limbung, ia memejamkan matanya dan mencengkeram punggung sebuah kursi.
"Dia memang ayahku, ya?"
Ketika Luhan membuka matanya, Haowen masih menatapnya dalam-dalam. Ia berjalan mengitari kursi tempatnya bersandar dan pelan-pelan duduk di atasnya, seolah jika ia bergerak terlalu cepat ia akan langsung roboh.
Luhan menatap Haowen, yang sekarang berada di ambang kedewasaan, bocah yang dirawatnya dan dicintainya sejak dibawa keluar dari ruang persalinan rumah sakit.
Episode-episode dalam kehidupan Haowen berkelebatan di benaknya sejelas foto-foto di album. Dalam hitungan detik, ingatannya menyusun kembali kehidu pan mereka bersama, saat-saat penuh tawa, saat-saat yang menyedihkan, saat-saat mereka bertingkah konyol, saat-saat mereka merenungi misteri kehidupan, saat-saat mereka berpelukan dan beberapa saat yang jarang terjadi ketika mereka marah satu sama lain.
Haowen harus dihibur setelah menonton film Bambi dan dimarahi karena terkekeh-kekeh di gereja ketika permen karetnya secara tidak sengaja jatuh ke kotak kolekte. Luhan mengenang rasa cemas yang menekannya saat Haowen untuk pertama kalinya pergi selama seminggu mengikuti kemping Pramuka dan rasa bangga yang menyesakkan dadanya ketika Haowen dinobatkan sebagai anak paling berprestasi di upacara kelulusan SMP-nya.
Mungkin ia bisa mendapat sedikit pujian atas pertumbuhan Haowen hingga menjadi dirinya yang sekarang ini. Tapi pujian yang sebenarnya menjadi milik orang lain: seorang yang pirang, tinggi, atletis, yang memang punya sifat bersaing untuk menang.
"Ya, Haowen. Oh Sehun adalah ayahmu."
Haowen mengembuskan napas panjang dan berat, menandakan betapa tegang dirinya. Ia membiarkan dirinya menyerap kebenaran itu selama beberapa saat sebelum ia berbicara kembali. "Apakah Mom ibuku? Ibu kandungku, maksudku."
"Bukan," tukas Luhan, menggelengkan kepala dengan lembut. "Aku hanya lebih tua lima belas tahun darimu, ingat?"
"Salah seorang teman sekelasku hamil tahun lalu."
"Yah, aku tidak. Sehun..." Luhan terdiam untuk menelan ludah, yang dilakukannya dengan susah payah. "Sehun lebih memilih Ji hyo daripada aku. Ji hyo lebih tua, lebih matang. Di matanya aku masih kanak-kanak."
"Ceritakan padaku."
"Kau hampir mengetahui semuanya. Ji hyo mengandungmu saat musim panas. Kami bertemu Sehun di pantai." Luhan mempersingkat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Galveston hampir tujuh belas tahun yang lalu.
Ketika ia selesai, Haowen bertanya, "Apa yang membuatnya tiba-tiba ingin bertemu denganku setelah sekian lama?"
Melihat kemarahan yang menumpuk di mata anaknya, Luhan mengulurkan tangannya ke seberang meja, menggenggam tangan Haowen. "Sehun tidak pernah tahu tentang dirimu. Tidak pernah, Haowen. Kau harus percaya itu. Dia bahkan tidak ingat ibumu sampai akhir-akhir ini." Dengan cepat Luhan memberitahunya tentang surat-surat itu.
"Nenek yang memberitahunya?"
''Ya.
"Mengapa?"
"Baru kemarin aku tahu bahwa Nenek yang mengirim surat-surat itu. Aku belum sempat membicarakan hal itu dengannya. Itu sudah tidak penting lagi, kan? Sehun tahu tentangmu. Itu yang penting."
"Kenapa Mom tidak pernah memberitahunya?" Luhan menyandarkan punggungnya dan menarik napas dalam-dalam. "Banyak alasannya, Haowen. Dia memiliki kehidupannya sendiri. Kita memiliki kehidupan sendiri. Aku tidak melihat cara yang mudah untuk mempersatukan keduanya." Ia menatap anaknya lekat-lekat. "Apakah kau menyalahkan aku karena tidak menghubunginya? Apakah kau berharap aku melakukannya?"
"Ya, semacam itulah,"
Jawaban Haowen yang jujur membuatnya salah tingkah. Ia bergerak gelisah di kursinya. Hati Luhan pedih melihatnya.
"Aku mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas keputusanku," ujarnya. "Nenek hanya menduga Sehun adalah ayahmu, tapi aku adalah satu-satunya orang selain Ji hyo yang tahu hal itu."
Matanya menatap Haowen memohon pengertian. "Dia masih lajang. Dia memiliki masa depan yang gemilang. Aku segan padanya. Terlebih lagi, aku takut dia akan menolakmu, Haowen."
"Apakah dia menolakku?"
Walaupun suaranya sudah berubah sejak setahun sebelumnya, tiba-tiba saja Haowen terdengar sangat muda dan rapuh. Hati Luhan menjangkaunya. "Menurutmu bagaimana?"
Sudut-sudut bibir Haowen sedikit tertekuk sebelum akhirnya menyunggingkan senyum lebar. "Kurasa dia menyukaiku. Meskipun sedikit."
"Dia sangat menyukaimu."
Haowen bangkit dari kursinya dan mulai berjalan mondar-mandir mengelilingi dapur tanpa tujuan, menyentuh benda-benda yang sudah dikenalnya seolah-olah benda-benda itu adalah hal baru baginya.
"Sulit dipercaya rasanya. Aku selalu bertanya-tanya siapa ayahku, tapi... Oh Sehun. Astaga," bisiknya, tangannya disisirkan ke rambutnya, "aku, aku...rasanya terlalu hebat untuk dipercaya." Ia tersenyum malu pada ibunya. "Tunggu sampai teman-teman di sekolah tahu. Kemarin setelah pertandingan sepakbola itu semua orang bilang kami mirip. Menurut Mom, dia dan aku mirip, tidak?" Ia menunggu jawaban Luhan dengan cemas dan tersenyum lebar ketika Luhan ber kata, "Bagai pinang dibelah dua."
"Bolehkah aku meneleponnya? Bolehkah aku memberitahunya bahwa aku sudah tahu?"
"Aku—"
"Please? Mom juga sebenarnya sudah mau memberitahuku, kan? Atau dia yang akan melakukannya?"
"Pada akhirnya sih, tapi—"
"Kalau begitu aku akan meneleponnya sekarang dan mengatakan padanya bahwa dia tidak usah memberitahuku. Aku sudah menebaknya sendiri. Boleh ya, Mom? Ya?"
Segalanya berlangsung terlalu cepat bagi Luhan. Ia tidak dapat meraih pegangan. Pegangan itu menghindar darinya dan tidak ada yang dapat dilakukannya. Tapi Haowen menatapnya dengan begitu gembira dan berapi-api, ia tidak sampai hati untuk menolaknya.
"Boleh-boleh saja, kurasa."
Haowen melompat dan langsung meraih telepon. "Berapa nomornya?"
"Aku tidak tahu. Kau harus mencarinya di buku telepon."
Senyumnya melemah. "Pasti tidak tercantum." Ia meraih buku telepon. "Di sini ada Mom."
Luhan mengangguk, takut suaranya akan pecah jika ia berusaha untuk bicara.
"Hai, eh, Paman Sehun," ujar Haowen di telepon, "Ini Haowen. Tahu kan, Haowen?" Sesaat ia terdiam. "Tidak,
Mom baik-baik saja. Mom sedang berdiri di sini. Dia bilang hai," ujarnya pada Luhan.
"Katakan hai padanya."
"Mom bilang hai juga. Alasan aku menelepon adalah, eh, begini..." Haowen menggerak-gerakkan kakinya serta berbicara tergagap-gagap, dua hal yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. "Aku tahu bahwa kau... bahwa kau dan ibuku... bukan ibuku yang sekarang, tapi Ji hyo... bahwa kau dan dia.."
Ia mendengarkan untuk beberapa saat, lalu secercah senyum sepolos dan secerah matahari yang baru terbit menghiasi wajahnya. "Yeah. Aku sudah mengetahuinya. Hai, Dad."
.
.
HunHan
.
.
