Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.
Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.
Selamat menikmati…
.
.
.
.
.
LONG TIME COMING
(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)
.
.
Sepuluh
.
.
.
Kurang dari setengah jam Sehun sudah tiba di pintu depan.
Selama itu Luhan membuang makan malam yang sudah setengah matang ke tempat sampah. Haowen pergi ke atas untuk mandi dan berganti pakaian. Segera setelahnya, ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, menunggu suara mobil yang mendekat, jauh sebelum mobil Land Rover Sehun berhenti di belokan.
"Dia sudah datang!" pekik Haowen sambil menengok ke belakang sebelum berlari menuju pintu.
Dari kaca ruang tamu Luhan memperhatikan Sehun berlari mengelilingi kap mobilnya. Keduanya bergegas untuk bertemu, berhenti, ragu-ragu, dengan sopan berjabatan tangan, lalu detik berikutnya berpelukan erat.
Mata Luhan basah oleh air mata, tapi ia menghapusnya. Ia turut bahagia bagi Haowen karena Sehun cukup baik untuk menganggap anaknya sebagai berkah dan bukan malapetaka. Tapi melihat mereka berjalan ke rumah sambil berangkulan, dirinya disayat rasa cemas.
Namun demikian, ia tetap tampil tenang ketika mereka bergabung dengannya di ruang tamu. "Terima kasih karena mengizinkanku datang mendadak begini," ujar Sehun sopan.
"Kurasa Haowen takkan mengizinkanku untuk mengatakan tidak."
"Aku hanya senang karena Dad tidak punya acara," timpal Haowen.
Suasana canggung mewarnai pembicaraan mereka. Akhirnya Sehun dan Haowen bertukar pandang dan mulai tertawa terbahak-bahak, dengan kebahagiaan yang tumpah ruah. Sehun mengatupkan kedua belah tangannya dan menggosokkannya dengan bersemangat. "Jadi, bagaimana kalau kita makan malam sekarang?"
"Asyik, aku sudah kelaparan nih," ujar Haowen, melesat keluar.
"Luhan?"
Suara Sehun terdengar lembut, bertanya, sensitif pada apa yang ia tahu pasti sedang dirasakan oleh Luhan. Ia mencintai pria itu karena tidak bersikap mencemooh, dan membencinya karena alasan yang sama. Menghadapi pencemooh akan lebih mudah daripada menghadapi pria yang kaucintai yang sedang mencoba merampas pusat kehidupanmu.
"Malam ini aku tidak ikut."
"Apa? Kenapa? Memangnya Haowen tidak memberitahumu bahwa undangan makan malam ini berlaku bagi kalian berdua? Kupikir aku sudah mengatakannya dengan jelas."
"Memang. Kau baik sekali mengajakku ikut, tapi kurasa kau dan Haowen lebih baik menikmati malam ini berdua saja."
"Kurasa kita bertiga perlu menikmati malam ini," protesnya pelan.
"Hei, ada apa?" tanya Haowen, kepalanya menyembul dari balik pintu. "Kok lama sih?"
"Aku tidak ikut."
"Kenapa tidak, Mom? Kenapa Mom tidak mau ikut?" Tampaknya Haowen tidak bisa percaya ada orang yang mau melewatkan kesempatan untuk makan malam bersama Sehun.
"Aku sangat lelah."
"Apa gara-gara masalah buku pariwisata itu?" tanya Haowen, kembali memasuki ruangan.
"Memangnya kenapa?" tanya Sehun ingin tahu.
"Tidak apa-apa."
"Mom tidak berhasil mendapatkannya." Mereka menjawab bersamaan, tapi jawaban Haowen-lah yang didengar Sehun. Ia langsung menatap Luhan, lalu menatap lantai, lalu kembali menatap wanita itu. "Aku turut prihatin. Aku tahu kau sangat bergantung pada pekerjaan itu."
"Bukan sangat bergantung," ujarnya membela diri. "Hanya saja pekerjaannya lumayan. Karyaku bisa dikenal, belum lagi honor dan yang lainnya. Tapi begitulah hidup," ujarnya tersenyum palsu.
"Mom kan salah satu dari tiga finalis" ujar Haowen berusaha menghibur. "Itu bagus sekali."
Tapi bukan yang terbaik. Dan apa pun selain yang pertama tidak masuk hitungan. Walaupun begitu, ia tersenyum demi Haowen. "Aku akan terus-menerus mengulang kata-kata itu selama kalian berdua pergi makan malam. Selamat bersenang-senang."
"Mom yakin tidak mau ikut?"
"Yakin. Pergilah. Kalau Sehun sudah memesan tempat, sebaiknya kau tidak terlambat."
"Nih, Haowen," ujar Sehun, melemparkan kunci mobilnya, "hidupkan mobilnya."
"Asyik!" Haowen menangkap kuncinya dan langsung melesat keluar.
Sehun tidak mengalihkan tatapannya dari Luhan. Ia merasa tidak nyaman ditatap tajam oleh mata itu sementara Sehun berjalan menyeberangi ruangan menghampirinya. "Kau kecewa?"
"Karena tidak berhasil mendapatkan kontrak-nya? Tidak."
"Omong kosong, Luhan. Kau kecewa. Jangan menahan kemarahan itu di dalam. Lepaskanlah. Silakan marah, menjerit, atau meninju sesuatu. Jangan pasrah seperti itu setelah kehilangan kesempatan kerja yang bagus."
"Apa gunanya berbuat itu?"
"Tidak ada gunanya sama sekali, tapi kau akan merasa lebih baik."
"Tidak akan. Aku malah akan merasa tolol"
"Minimal kami bisa tahu bahwa kau masih manusia, bahwa kau masih punya perasaan." Sehun mendekat maju dan menyapukan ibu jarinya di atas tulang pipi Luhan. "Tapi aku tahu kau punya perasaan. Kelihatan di matamu. Dan saat ini matamu seperti mataku seandainya aku tersedot kelubang hitam saat aku di luar angkasa sana. Aku tidak pernah melihat sepasang mata yang tampak begitu suram. Apakah karena Haowen tahu tentang aku?"
Luhan mengangguk, berharap ia dapat menyerah pada godaan untuk menempelkan pipinya di telapak tangan pria itu. Yang perlu dilakukannya hanyalah memalingkan wajahnya sedikit. Ia melarang dirinya untuk bersikap seintim itu dengan Sehun. Sebaliknya, ia menjauhkan wajahnya dari sentuhan pria itu.
"Hal itu tak dapat dihindari" ujarnya "Aku sudah mengetahuinya sejak kau pertama kali datang ke sini. Anak itu terlalu pintar." Napas Luhan bergetar. "Yah, sekarang semuanya sudah terjadi dan aku tidak perlu takut akan hal itu lagi."
"Kau melihatnya sebagai tragedi? Haowen tidak."
"Dia sangat senang," ujarnya tertawa pahit.
"Bocah mana yang tidak akan kegirangan mengetahui ayahnya adalah pahlawan nasional?"
"Oh, begitu. Tapi yang membuatnya senang bukan semata-mata siapa aku. Bisa saja ayahnya bukan orang terkenal."
"Sehun, jangan." Luhan mengerang. "Jangan cari gara-gara. Aku terlalu letih untuk bertengkar denganmu malam ini."
"Bagaimana dia bisa tahu?"
"Dia menebaknya. Dia melihat kacamata hitammu di sini dan bertanya padaku mengapa kau mampir di siang bolong." Luhan memalingkan wajahnya. "Dia langsung menyimpulkan bahwa kita berpacaran."
"Apa yang kaukatakan padanya?"
"Aku bilang tidak!"
"Maksudku bagaimana dia tahu aku ayahnya."
"Semuanya. Dia juga salah menyimpulkan bahwa aku adalah ibu kandungnya."
Sehun menyentuhnya lagi, kali ini menyelipkan jari-jarinya ke belakang leher Luhan, melingkarinya. "Kau memang ibunya. Aku tidak akan melupakan itu. Haowen pasti tidak akan melupakannya. Saat ini dia sedang girang tentang aku. Tapi itu tidak akan menghapus rasa cintanya padamu."
Sehun semakin mendekat, hingga Luhan dapat merasakan embusan napas pria itu di wajahnya. "lni acara keluarga. Mari kita merayakannya bersama. Ikut lah makan malam dengan kami."
Untuk beberapa detik lamanya Luhan seakan tersihir oleh tatapan mata pria itu dan suaranya yang membujuk. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sehun. Setelah enam belas tahun, kurasa kau dan Haowen pantas menikmati saat ini berdua saja."
"Ada yang pernah mengatakan padamu bahwa kau keras kepala?"
"Hampir semua orang yang pernah kutemui."
Sehun tersenyum sinis dan menurunkan tangannya. "Baiklah, tapi kami takkan pergi lama."
"Tidak usah buru-buru."
Luhan mengantarnya hingga ke pintu. Haowen melambai padanya dari kursi pengemudi mobil Land Rover "Cepat Dad, aku kelaparan nih" serunya dengan gayanya yang khas.
Luhan menutup pintu depan dan bersandar di sana. Rasa nyeri di tenggorokannya karena menahan tangis nyaris tak tertahankan. Lega rasanya ketika ia menyerah. Isak tangisnya mengguncang tubuhnya yang kecil. Air mata mengalir menuruni wajahnya. Ia kembali ke ruang tamu sambil meraba-raba dan menjatuhkan diri ke salah satu kursi... kursi tempatnya nyaris bercinta dengan Sehun.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk bergelung di kursi itu, menangis terisak-isak. Akhirnya tangisannya berhenti. Ia pergi ke atas dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Pipa-pipa ledengnya berderak, mengingatkannya pada nasihat tukang ledeng terakhir kali ia memanggilnya. Tukang ledeng itu menyarankannya untuk mengganti semua pipanya.
Rumah ini sudah tua dan semakin reyot. Luhan berusaha membuatnya menarik sejauh kemampuannya, tapi jelas rumah ini sama sekali bukan tandingan rumah Sehun yang didekor dengan sempurna. Di sini tidak ada kolam renang, tidak ada akuarium yang dibangun di dinding, tidak ada anjing ramah yang menanti kedatangan tuannya.
Luhan keluar dari kamar mandi dan berjalan menyusuri lorong menuju kamar Haowen. Lama ia berhenti di muka pintu. Akhirnya ia melangkah masuk, melihat pakaian kotor yang ditinggalkan Haowen sebelum mandi. Pakaian itu tergeletak sembarangan di lantai.
Dimulai dari pakaian kotor itu ia mulai mengumpulkan barang-barang dan pakaian-pakaian lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Ia berharap punya cukup waktu untuk menyelesaikannya sebelum mereka kembali.
.
HunHan
.
"Menurut Dad, kenapa Mom melakukannya?" tanya Haowen pada ayahnya beberapa jam kemudian saat mereka berbelok di tikungan.
Sehun yang menyetir, tapi matanya menatap kaca spion, di mana ia bisa melihat Luhan berdiri di ambang pintu yang terbuka, sebuah bayangan kecil yang kelihatannya bakal ditelan rumah itu.
"Kurasa seperti yang dikatakannya tadi," jawab Sehun. "Dia merasa kita perlu menghabiskan waktu bersama." Ia melirik Haowen di kursi sebelahnya. "Apakah gagasan tinggal bersamaku untuk sementara waktu membuatmu senang?"
"Ya, tentu saja," jawab Haowen, kegembiraan tampak jelas di matanya yang berbinar-binar. "Kurasa semuanya bakal menyenangkan." Pelan-pelan senyumnya memudar. "Aku hanya terus memikirkan Mom yang tinggal sendirian. Memang cuma sebentar sih. Aku tidak mau Dad merasa terikat denganku selamanya," tambahnya cepat.
"Kau boleh tinggal selama yang kau mau, Haowen. Sungguh."
Senyum Haowen meninggalkan kesan mendalam di hati Sehun. Orang-orang di kantor bisa mengejeknya habis-habisan kalau mereka tahu bahwa beberapa kali sepanjang malam ini, Oh Sehun yang penuh percaya diri harus menahan air matanya atau berisiko membuat dirinya menjadi tontonan umum.
Ia dan Haowen telah menghabiskan beberapa jam menikmati makan malam yang menyenangkan. Semakin ia mengenal anaknya, semakin ia menyukainya, dan ia semakin bangga karena bibitnya telah menghasilkan pemuda yang hebat. Rasanya ia ingin memberitahu semua orang, "Hei, ini anakku."
Haowen anak yang ramah, sopan, dan tahu bagaimana bersikap dengan pantas. Atas sikap anak itu, Luhan layak mendapatkan penghargaan. Wanita itu sangat hebat dalam mendidik anak seorang diri. Zaman sekarang orangtua yang lengkap saja sudah jarang berhasil, renung Sehun. Ia mengetahui hal itu dari cerita-cerita mengerikan yang dikisahkan para rekan kerjanya tentang anak-anak mereka.
"Seandainya Mom tidak kelihatan begitu sedih waktu kita pergi," ujar Haowen, mengembalikan perhatian Sehun padanya lagi. "Tapi Mom sendiri yang mengusulkanku untuk tinggal bersama Dad. Mom sudah mengemas segalanya waktu kita sampai di rumah."
Mereka nyaris tersandung koper-koper di jalan masuk ketika mereka melewati ambang pintu depan setelah makan malam tadi. "Siapa mau pergi ke mana?" tanya Haowen, merasa dirinya sedang melontarkan gurauan.
Dengan serius Luhan mengatakan pada mereka bahwa menurutnya lebih baik jika Haowen tinggal bersama Sehun untuk sementara waktu. Awalnya mereka terlalu terkejut untuk berkata-kata. Tapi setelah memikirkan gagasan itu, mereka sangat menyukainya dan langsung setuju.
"Menurut Dad, Mom bersungguh-sungguh tidak waktu dia bilang dia tidak keberatan, bahwa dia memang menginginkanku pergi?" tanya Haowen ragu.
"Kita cuma bisa mempercayai kata-katanya, Haowen. Dia mengulanginya beberapa kali." Sehun terdengar jauh lebih yakin daripada yang dirasakannya. Luhan tampak seperti nyaris tersungkur ke jurang emosional sewaktu memeluk Haowen, Walaupun wanita itu tampak tabah.
"Dia tahu kalau ini hanya untuk sementara, kan?"
"Tentu," jawab Sehun.
"Dia tahu kalau aku akan pulang di hari ulang tahunku. Aku sudah janji."
"Janji yang akan kita tepati bersama."
"Kalau begitu kurasa Mom akan baik-baik saja."
"Kurasa begitu." Luhan sama sekali tidak tampak baik-baik saja sewaktu mereka pergi. Tapi ia menegaskan bahwa Haowen harus segera pergi. Malam ini. Seolah-olah ia tidak mau ada waktu untuk memikirkannya kembali.
Sehun mengaku pada dirinya sendiri bahwa ia senang dengan gagasan ini. Begitu juga dengan Haowen. Lalu kenapa masing-masing merasa dirinya, entah bagaimana, menelantarkan Luhan?
Vivi melonjak-lonjak kegirangan bertemu Haowen lagi. Anjing itu mengejar ekornya sendiri, berputar-putar dengan heboh sebelum akhirnya menyudahi aksinya dan kembali tenang.
"Aku boleh berenang?" tanya Haowen segera setelah ia menaruh koper-kopernya di salah satu kamar tamu yang kosong.
"Silakan saja. Tapi ada beberapa peraturan di rumah ini. Tidak boleh meninggalkan handuk atau pakaian basah di tepi kolam. Letakkan di ruang cuci."
"Sama seperti di rumah."
"Pastikan juga pintu gerbangnya terkunci dan matikan lampunya sebelum kau masuk."
"Ya, Sir."
Hampir satu jam setelahnya Haowen memasuki ruangan kecil yang dipakai Sehun sebagai ruang kerjanya di rumah. Dinding-dindingnya dipenuhi foto-fotonya sebagai pilot pesawat jet Angkatan Laut yang diambil di atas pesawat di berbagai pangkalan udara di seluruh dunia. Foto-foto lainnya merekam kariernya sebagai astronot. Melihat pesawat ulang-alik Victory, Haowen mengomentarinya.
"Mom membangunkanku pagi itu untuk menonton peluncurannya. Aku nyaris takut untuk menontonnya setelah melihat Challenger. Kami bersorak ketika semuanya berjalan lancar."
"Aku juga," ujar Sehun tersenyum menertawakan dirinya sendiri. "Aku akan memberimu salah satu foto itu dan meminta semua awak pesawat untuk menandatanganinya supaya bisa kaupajang di kamar."
"Trims. Pasti keren."
"Apa Vivi ikut masuk denganmu tadi?"
''Ya."
"Aku belum melihatnya. Biasanya dia berusaha naik ke pangkuanku di saat seperti ini."
"Dia, eh, ada di tempat tidurku."
Sehun mengangkat kedua tangannya ke atas. "Dasar wanita!"
Haowen tertawa, tapi seperti dipaksakan. "Kurasa kau sudah banyak berhubungan dengan mereka."
"Apa, wanita?"
Haowen berdeham. "Ya."
Sehun berusaha untuk menatap matanya, tapi Haowen tidak mau membalas tatapannya. "Ada yang mau kautanyakan padaku, Haowen?"
Anak itu mengangkat bahu, membuat bahunya yang kurus terangkat naik, lalu turun. "Mom dan aku sering membicarakannya. Tentang seks, maksudku."
"Dan?"
"Well, aku kan bukan anak kecil lagi. Aku tahu semuanya."
"Hmm."
"Aku belum pernah melakukannya, tentu saja, tapi aku sudah bertahun-tahun melakukan french kiss."
Sehun berusaha untuk menahan wajahnya agar tetap datar. Bersandar di kursi kulitnya yang berwarna krem, ia menautkan jari-jarinya di atas perutnya yang rata dan berkata, "Tentu saja."
"Dan ada beberapa gadis yang membiarkanmu, Dad tahu kan, menyentuh mereka... di tempat-tempat tertentu."
"Hmm."
"Mom tidak bodoh. Dia bilang dia tahu bahwa aku ingin, Dad tahu kan... tidur dengan gadis."
"Ya."
"Mom bilang aku tidak normal kalau tidak menginginkannya. Ya ampun!" Haowen mengerang. "Aku kedengaran seperti orang brengsek saja."
"Kebanyakan dari kita merasa seperti itu kalau kita membicarakan masalah ini, Haowen. Lupakan kau kedengaran seperti apa. Lanjutkan dan keluarkan apa yang ada di pikiranmu."
"Well, Mom bilang aku seharusnya tidak melihat wanita hanya dari tubuhnya saja, tapi aku juga harus mengagumi pikiran dan kepandaian serta hal-hal lainnya, Dad tahu kan, segala hal yang membuatnya menjadi manusia. Bahwa aku harus menghargai wanita dan tidak melakukan apa pun untuk mengeksploit... eksplo—"
"Eksploitasi?"
"Iya, itu. Aku tahu artinya, aku hanya tidak bisa mengucapkannya."
"Ibumu benar, Haowen."
Haowen menatapnya dengan tatapan yang persis sama dengan tatapannya sendiri. "Dad tidak melakukannya. Tidak dengan ibuku."
Sehun-lah yang pertama kali mengalihkan pandangannya setelah mereka lama bertatapan. Biasanya ia tidak suka ditegur dan akan marah mendengarnya. Ia mengkritik dirinya sendiri dengan keras dan jarang mau menerima kritikan dari orang lain. Apalagi dibuat merasa bersalah. Tapi di bawah tatapan tajam anaknya, ia merasa tidak nyaman dan sangat berdosa.
"Tidak, aku tidak melakukannya, Haowen. Aku berharap kau lebih bertanggung jawab dalam menjalin hubungan daripada yang kulakukan dengan Jihyo."
"Dad tidak marah karena aku mengatakan hal itu, kan?"
"Tidak. Justru sebaliknya, aku menghargaimu karena menegurku mengenai hal itu. Ibumu tidak jujur padaku, tapi seharusnya aku sendiri berjaga-jaga supaya dia tidak sampai hamil."
"Aku bahkan tidak mengingatnya, kurasa karena itulah aku tidak terlalu marah mengenai hal itu. Seandainya Dad menyakiti Mom, Luhan maksudku, itu lain masalah." Ia tersenyum lebar. "Lagi pula, kalau Dad memakai kondom, aku tidak akan ada di sini."
"Untuk alasan itu, dan hanya karena alasan itulah, aku senang aku tidak memakainya."
Haowen menundukkan kepalanya dan bergumam malu. "Yah, sekali lagi, selamat malam."
"Kita harus berangkat pagi supaya kau tidak terlambat sekolah."
"Aku pasti bangun. Mom sudah membawakan jam bekerku."
Anak itu bersandar di sisi pintu, menelusuni serat kayu dengan ujung jarinya. "Ada lagi Haowen?" tanya Sehun, melihat keengganannya untuk pergi. "Peraturan lain di rumah ini adalah siapa pun yang memikirkan sesuatu harus mengungkapkannya."
"Aku hanya bertanya-tanya mengapa Dad sering menemui Mom akhir-akhir ini. Apakah karena aku?"
"Kami banyak menghabiskan waktu membicara kan tentang dirimu," Sehun mencoba mengelak.
"Oh," ujar Haowen, tampak kecewa. "Aku pikir karena Dad menganggapnya cantik."
"Aku menganggapnya cantik."
"Benarkah?" Wajah Haowen berseri-seri.
"Sangat cantik."
"Ah, yah, baguslah kalau begitu. Aku harus tidur sekarang. Selamat malam. Senang berada di sini, Dad."
"Aku juga senang kau ada di sini."
Selama beberapa menit setelah Haowen meninggalkan ruangan, Sehun masih terus tersenyum. Tiap kali ia mengingat beberapa bagian khusus dari perbincangan mereka, ia tersenyum lagi. Ia terkejut mendapati dirinya begitu puas dengan percakapan dari hati ke hati itu.
Ia mematikan lampu di ruang kerjanya dan pergi ke kamar tidurnya, menanggalkan pakaian dan naik ke tempat tidur. Sehun melipat tangan di bawah kepalanya, lalu menatap kipas angin yang berputar perlahan di langit-langit dan merenungkan betapa akhir-akhir ini segi-segi lain dan kehidupannya, terutama kehidupan seksnya, begitu tidak memuaskan.
Dipikir-pikir lagi, ia tidak memiliki kehidupan seks setelah bertemu kembali dengan Luhan.
Sudah berapa lama, satu, dua minggu? Oh Sehun menjalani dua minggu tanpa bercinta? Keterlaluan! Mana ada yang seperti itu! Kalau sampai orang-orang kantor tahu, ia akan menjadi bulan-bulanan. Tapi anehnya, ia tidak merasa terdorong untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Ia lebih suka menunggu. Ia lebih suka menunggu wanita itu. Gairahnya begitu kuat hingga sering terasa menyakitkan, tapi pada saat-saat tertentu begitu manis hingga gairah itu sendiri sudah terasa memuaskan.
Baling-baling kipas angin membentuk bayangan berputar di dinding. Bayangan itu sama indahnya dengan warna mata Luhan. Dari matanya, angan Sehun melayang ke bibirnya, bentuknya yang menggoda, rasanya yang manis, responsnya yang tanpa paksaan, bahkan gairah Luhan yang ditahan terhadap ciuman-ciumannya.
Ia membayangkan payudara wanita itu, kecil, namun sangat sensitif akan sentuhannya. Dan rasa kulitnya. Membayangkan pusarnya. Pekik kecil dan seksi yang disuarakan Luhan ketika bibir Sehun...
Ketika ia mulai terlelap, angan-angan itu mengikutinya hingga ke alam mimpi.
.
.
HunHan
.
.
.
