Rewrite dari novel karya SANDRA BROWN dengan judul LONG TIME COMING. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Bahkan, nama tempat dalam cerita yang ber-setting di Houston, Texas pun sengaja tidak dirubah dengan alasan penyesuaian profesi tokoh cerita. Semoga itu tidak merubah kenikmatan intisari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.

Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.

Selamat menikmati…

.

.

.

.

.

LONG TIME COMING

(Rewrite story from Long Time Coming – Sandra Brown)

.

.

Sebelas

.

.

.

Luhan begitu gugup hingga ia nyaris membuat titik di atas huruf 'i' pada nama Haowen menggumpal. Tapi ia menangkap tetesan krim kue itu tepat pada waktunya dan akhirnya memberi titik pada huruf 'i' itu dengan sempurna. Ia ingin makan malam ini betul-betul sempurna.

"Kita bisa merayakannya di rumahku," usul Sehun beberapa hari sebelumnya.

"Tidak, aku ingin dia ada di rumah pada malam ulang tahunnya." Lalu, menyadari rumah Sehun lebih terasa sebagai rumah bagi Haowen daripada rumahnya sendiri, Luhan menambahkan, "Aku ingin merayakan ulang tahunnya dengan makan malam disini."

"Baiklah." Sehun mengiyakan sambil tersenyum. Belakangan ini pria itu bersikap santun. "Ada yang bisa kubantu?"

"Tidak, terima kasih," ujar Luhan, sama santunnya. "Pestanya tidak besar-besaran kok. Hanya kita bertiga. Tapi aku ingin memasakkan makanan-makanan kesukaannya dan menjadikannya acara yang sangat istimewa. Sudah lama Haowen menantikannya."

Lalu Haowen berlari menuruni tangga, membawa sekotak barang di bahunya. Kamarnya di rumah Luhan makin lama makin kosong sementara kamarnya di rumah Sehun terus dipenuhi. Luhan berusaha untuk tidak membiarkan perpindahan barang itu membuatnya panik dan terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa remaja senang dikelilingi barang-barangnya sendiri. Hal itu membuat mereka merasa mandiri.

"Siap, Dad?"

"Kalau kau sudah siap."

"Kami akan main golf mini malam ini," kata Haowen pada Luhan.

"Selamat bersenang-senang."

"Mau ikut?" ajak Sehun.

"Ya, Mom, ikut, ya? Tapi kuperingatkan, Dad, Mom suka merajuk kalau kalah."

"Aku tidak seperti itu!" Luhan memukul Haowen main-main. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak bisa. Ada yang harus kukerjakan malam."

"Oke. Bye. Sampai jumpa besok. Aku yang menyetir, ya Dad?"

"Boleh," jawab Sehun, melemparkan kunci mobilnya.

"Dia berhati-hati dengan mobil itu?" tanya Luhan, menatap cemas mobil Porsche milik Sehun.

"Sangat. Dia sudah sering latihan menyetir. Dia pasti lulus tes menyetirnya dengan nilai tinggi."

"Tinggal lima hari lagi. Aku tidak yakin aku sudah siap untuk melepaskannya di jalan."

"Dia pengemudi yang bertanggung jawab, Luhan."

"Aku tahu. Pengemudi lainnya yang suka ugal-ugalan itulah yang kukhawatirkan."

Itu lima hari yang lalu. Hari ini adalah hari H. Ia membuat kue ulang tahunnya pagi-pagi sekali supaya bisa menemani Haowen untuk menjalani tes menyetirnya sepulang sekolah.

Haowen sudah menanti-nanti hari ini sejak ia menginjak remaja. Luhan merasa khawatir memikirkan anaknya menyetir mobil sendiri tapi tidak sabar untuk berbagi jalan menuju ke kedewasaan itu dengannya.

Dua minggu terakhir merupakan saat yang paling sulit dalam hidupnya, sama seperti tujuh belas tahun lalu ketika ia cemas selama beberapa minggu, yaitu saat ia merasa takut Ji hyo akan menggugurkan anak Sehun meskipun dilarang ayahnya.

Sejak Haowen pergi, rumah tua ini terasa sunyi di siang hari dan menyeramkan di malam hari. Ia selalu terbangun setiap kali ranting-ranting berderak.

Ia sangat merindukan Haowen. Ketidakhadirannya terasa lama dan menyakitkan seperti sakit gigi. Yang membuatnya semakin buruk adalah ketidaktahuan kapan semua ini akan berakhir. Sejauh ini Haowen belum mengatakan akan pulang. Ketakutan akan kenyataan Haowen takkan pulang membuatnya tidak tenang.

Tapi Luhan sudah mengambil keputusan di malam Haowen mengetahui Sehun adalah ayahnya. Haowen akan membencinya seumur hidup jika ia menjauhkannya dari Sehun lebih lama lagi. Ia nyaris gila setelah menatap kepergian anak itu bersama Sehun, meninggalkannya seorang diri. Tapi jauh di lubuk hatinya ia tahu ia sudah melakukan hal yang benar.

Mereka sepakat Sehun yang mengantar Haowen ke sekolah tiap pagi, yang letaknya sangat jauh dari Johnson Space Center. Pria itu tidak pernah mengeluh. Siangnya Luhan yang menjemput Haowen dari sekolah. Mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam bersama sebelum Sehun menjemput Haowen sepulang kerja.

Luhan mencurahkan waktu itu untuk Haowen dan tidak membiarkan apa pun mengganggunya di jam itu, baik kunjungannya ke panti wreda untuk menengok ibunya ataupun pekerjaannya. Kehilangan kesempatan membuat sampul buku pariwisata itu merupakan kemunduran baik secara finansial maupun profesional. Kekecewaannya berlipat ganda karena rencananya untuk memberikan hadiah kejutan di hari ulang tahun Haowen gagal.

Tapi beberapa hari setelah biro iklan itu menolak Luhan atas pekerjaan itu, Mr. Howard menghubunginya untuk proyek lain. Luhan merasa tersanjung dan bahagia. Pekerjaannya menunjukkan tingkat kemajuan yang sangat baik dan kliennya sudah mulai membicarakan pekerjaan-pekerjaan untuknya di masa yang akan datang.

Ia merasa geli sendiri memikirkan hadiah kejutan untuk Haowen, yang berkat pekerjaan yang diperolehnya teryata kesampaian juga. Anak itu akan melonjak kegirangan. Senang rasanya mampu melakukan sesuatu yang istimewa baginya.

Bersaing dengan Sehun tidaklah mudah. Pria itu sudah mengajak Haowen terbang bersamanya beberapa kali, dan Haowen sangat menyukainya. Haowen bahkan sudah pernah pergi bersamanya ke Annapolis, tempat Sehun membawakan pidato pelepasan bagi para kadet yang diwisuda.

Wajar saja jika mata Haowen selalu berbinar-binar dan semangatnya meluap-luap atas segala hal indah yang telah dilakukan Sehun baginya. Luhan merasa turut senang bagi Haowen tapi tidak bisa menahan kecemburuannya. Malam ini dialah yang akan membuat mata Haowen berbinar-binar.

Menjelang tengah hari ia sudah membersihkan rumah, menghias ruang makan, dan menyiapkan makanan sehingga tinggal dimasukkan ke dalam oven. Ia mandi dan berdandan, memberi selamat pada dirinya sendiri atas pekerjaannya yang tepat sesuai jadwal, dan baru saja hendak menuruni tangga ketika telepon berdering.

"Hai, Mom."

"Hai, aku baru saja mau berangkat. Kau tunggu di pintu depan ruang olahraga, ya?"

"Untung saja. Dad sudah ada di sini. Dad yang akan mengantarku. Kami akan datang segera setelah aku selesai."

Kekecewaan Luhan begitu telak, ia tak sanggup berkata-kata.

"Mom? Mom masih di sana?"

"Te-tentu. Aku hanya—"

"Sedang sibuk. Aku tahu. Dad bilang Mom bakal sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam. Kalau Dad mengantarku mengambil SIM, tentunya akan sangat membantu, kan?"

"Ya," jawab Luhan muram.

"Makan malamnya tidak usah yang macam-macam. Ini kan cuma ulang tahunku."

"Aku akan menyiapkan makan malam yang macam-macam kalau aku mau, terima kasih hanyak." Luhan tidak mengatakan betapa ia sangat kecewa. Itu hanya akan merusak hari Haowen. "Hati-hati, Haowen. Selamat ujian. Lakukan dengan baik, ya. Dan aku akan menyambutmu di sini dengan sekaleng soda."

"Oke, bye."

Luhan menutup teleponnya, merasa tekanan menyelubunginya seperti selimut yang menyesakkan. Ia hanya menyerah pada tekanan itu sesaat, lalu dengan tegas menyingkirkannya jauh-jauh.

Hari ini adalah ulang tahun Haowen yang keenam belas. Baik Haowen maupun Sehun tidak mungkin tahu betapa ia sangat ingin mengantarkan Haowen menjalani tes menyetirnya. Mereka tidak sengaja mengucilkannya. Inisiatif Sehun untuk mengantar Haowen didasari niat baik, bukan niat jahat.

Ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukannya sebelum mereka datang. Kekecewaan ini takkan menahannya memberikan ulang tahun terindah bagi Haowen, hari yang takkan pernah dilupakannya.

.

*HunHan*

.

"Pantas saja kau selalu fit," ujar Sehun pada Haowen sambil mendorong piringnya. "Kau selalu disuguhi makanan seperti ini seumur hidupmu."

"Apa kubilang, Mom memang koki yang jempolan." Haowen tersenyum pada Luhan sebelum menyuap gulungan daging terakhir ke dalam mulutnya. "Tapi daging panggang Mom kali ini benar-benar hebat kok."

Luhan senang mendengar pujiannya. "Aku senang kau menyukainya. Kuharap kau masih menyisakan tempat untuk makanan penutup."

"Di sebelah sini." Haowen menunjuk celah di antara tulang rusuknya. Itu adalah permainan kanak-kanak yang biasa mereka mainkan.

"Kalau begitu aku tidak akan membuatmu menunggu lebih lama lagi. Makanan penutup akan segera dihidangkan segera setelah aku menyingkirkan semua ini." Luhan berdiri dan mulai menumpukkan piring-piring kotor ke atas nampan.

"Mari kubantu." Sehun memundurkan kursinya.

"Tidak usah."

"Aku tahu."

"Yah, ini kan ulang tahunku, jadi aku hanya akan duduk di sini dan melihat seberapa kerasnya aku bisa bersendawa."

"Haowen, kau—"

"Bercanda, Mom."

Luhan menyeringai pada Haowen dan membawa nampannya ke dapur.

"Yang ini ditaruh di mana?" tanya Sehun, mengacungkan sepasang tempat merica dan garam yang ter-buat dari kristal.

"Lemari terakhir di sebelah kanan. Rak kedua."

"Tatanan meja yang indah. Makan malam yang indah."

"Terima kasih."

"Tidak ada yang begitu membangkitkan gairah seperti makan malam yang indah, lengkap dengan bunga, cahaya lilin, dan..." Sehun berjalan ke belakang Luhan dan menyelipkan sebelah tangan untuk memeluknya. Ia menangkup payudaranya dan mengusapnya dengan lembut. "Seorang wanita cantik."

Luhan terenyak dan berbalik dalam pelukan pria itu. "Sehun! Apa yang kaulakukan?"

"Lebih bersenang-senang dari yang telah kualami sepanjang hari ini," bisiknya sambil tersenyum licik sebelum menempatkan bibirnya dengan hangat dan posesif di bibir Luhan. Tangannya menyelinap ke punggung Luhan dan menariknya ke dalam dekapan.

"Aku sudah bersikap baik. Aku sudah memberimu ruang. Aku sudah memberimu waktu. Aku tidak memaksa. Tapi aku sudah menunggu cukup lama. Aku menginginkanmu, Luhan." Ia menekan paha wanita itu dan mengawasi pupil mata Luhan membesar "Kau juga menginginkanku," ujarnya parau sebelum memberinya ciuman panjang, lembut, nikmat memabukkan.

"Sehun?" Perlu beberapa menit yang panjang dan tak tertahankan sebelum ia sempat menyebutkan namanya.

"Hmm? Ya ampun, kau benar-benar cantik." Matanya mengawasi wajah Luhan.

"Sehun?"

Ia nyaris tidak diberi kesempatan untuk membisikkan nama Sehun dengan lemah sebelum pria itu menciuminya lagi, yang dengan lembut namun mantap melumat bibirnya.

Akhirnya Sehun mengangkat wajahnya. "Anak kita sedang menunggu," ujarnya parau. "Kita lanjutkan nanti." Sehun mengusap payudaranya sekali lagi. "Lebih cepat lebih baik. Sementara itu, apa yang bisa kubantu?"

Sehun bisa mulai dengan menopangnya, karena Luhan tidak yakin ia mampu berdiri sendiri. Tapi ternyata ia mampu, dan dalam sekejap lilin-lilin kue ulang tahun Haowen sudah dinyalakan dan ia membawanya ke ruang makan, tempat Haowen menunggu.

"Kalian tidak akan melakukan sesuatu yang norak seperti menyanyikan lagu Happy Birthday, kan?"

Luhan menatap Sehun dan tersenyum bersekongkol. Lalu mereka berdua menyanyi keras-keras. Haowen langsung merosot di kursinya dan menutup telinga dengan kedua ujung jarinya. Mereka bertiga tertawa-tawa sebelum lagunya selesai.

"Ucapkan permintaanmu."

"Mom." Haowen mengerang, memutar-mutar bola matanya. Tapi ia menurut, dan meniup semua lilinnya dengan satu embusan napas. Luhan mengiris kue coklat tiga lapis yang dibuatnya dengan susah payah dan menyajikan potongan besar bagi mereka berdua, yang segera dihabiskan dengan lahap dalam sekejap mata.

"Sekarang waktunya untuk hadiah." Luhan keluar ruangan dan kembali dengan sebuah hadiah yang terbungkus rapi. "Pertama-tama, buka yang ini."

"Pertama-tama? Maksud Mom hadiahnya lebih dari satu?"

Ia tersenyum penuh rahasia pada Haowen dan berkata setengah bersenandung, "Aku takkan mengatakannya. Kau tahu bagaimana aku tentang kejutan ulang tahun."

Nyaris tidak dapat menahan kegembiraannya, Luhan berdiri di belakang kursi Haowen sementara anak itu membuka kotak hadiahnya yang berisi satu setel pakaian baru.

"Mom, keren!" serunya, mematut-matut celana dan kemeja di tubuhnya. "Setelan ini keren sekali."

"Kau suka?"

"Ya, ini keren sekali."

Mereka begitu tenggelam dalam perbincangan mereka tentang pakaian itu, yang merupakan merek terbaru, hingga mereka tidak melihat Sehun berjalan menuju jendela dan memandang ke luar.

Ketika kembali, Sehun memiringkan kepalanya ke halaman depan. "Kau harus pergi keluar untuk membuka hadiahku," ujarnya pada Haowen.

"Keluar?"

"Pergilah. Kau juga, Luhan."

Sehun menuntun mereka ke pintu depan. Haowen baru berjalan beberapa langkah ketika ia melihat mobil sport baru yang mengilap diparkir di tepi jalan. Ia langsung menghentikan langkahnya. Mata birunya melebar, mulutnya menganga, ia berbalik. "Dari mana datangnya mobil itu?"

"Dikirim. Untunglah tepat waktu."

"Maksudmu itu... itu hadiahku? Mobil? Ferrari?"

"Selamat ulang tahun." Sehun mengayun-ayun kunci mobil di depan hidung Haowen.

Haowen menatap kunci itu, menatap Sehun, menatap Luhan. Lalu ia berjungkir balik di rumput, mengambil kuncinya dari Sehun dan langsung berlari menuju mobil baru itu.

"Tunggu," ujar Sehun, tertawa saat ia berlari mengejarnya, "ada beberapa hal yang perlu kutunjukkan padamu sebelum kau mengendarainya."

Sehun dan Haowen masuk ke dalam mobil. Diam-diam Luhan menyelinap masuk ke rumah. Ia takut tidak dapat menahan jeritannya, sehingga ia membungkam mulut dengan kepalan tangannya.

Keceriaan meja pesta ulang tahun tampak mengejeknya. Dengan cepat, dengan marah, ia meniup semua lilin di tengah meja. Setelan baru yang diberikannya pada Haowen tergeletak begitu saja di antara kertas pembungkus yang tadi ditatanya dengan indah. Setelan itu juga kelihatan seperti menertawakannya. Dengan sentakan tangannya yang kasar dan penuh amarah, ia menyingkirkannya dari atas meja hingga jatuh ke lantai.

Ia mengambil kotak yang juga terbungkus rapi dari saku roknya dan berusaha menghancurkannya, merobek kertas dan pitanya dengan kukunya.

"Dia bilang dia mau memamerkan mobil barunya ke Jack tapi takkan lama," ujar Sehun, masuk kembali ke dalam rumah. "Kau tidak banyak bicara—" Ia langsung menghentikan kata-katanya ketika wanita itu berbalik, menghadangnya bagai seekor ular kobra yang siap menyerang.

"Apa yang harus kukatakan, Sehun? Apa? Mengatakan tidak, ia tidak boleh menerima mobil itu? Bahwa mobil itu terlalu mahal dan mencolok untuk seorang anak SMU yang baru menerima SIM-nya hari ini? Bahwa seharusnya kau membicarakannya dulu denganku? Bahwa bukan tempatmu untuk memberinya sesuatu yang sehebat itu? Kata-kata mana yang seharusnya kukatakan untuk mematahkan semangat Haowen?"

Sehun terdiam sesaat. Lalu, "Tidak pernah terpikir olehku untuk membicarakannya denganmu."

"Well, kau seharusnya memikirkan hal itu. Aku ibunya."

"Dan aku ayahnya."

"Kau Sinterklas!"

Air mata mulai membasahi pipinya yang memerah, tapi Luhan bahkan tidak menyadarinya. Ia juga tidak menyadari bahwa dirinya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya yang kecil dengan penuh amarah.

"Kau masuk dalam kehidupan Haowen membawa segala macam hadiah. Kau hebat, menakjubkan, seperti seorang dewa saja. Menjadi orangtua itu memang mudah selama bukan kau yang mengganti popoknya atau terjaga sepanjang malam karena telinga anakmu sakit. Kau tidak pernah harus memukulnya padahal hatimu hancur karena melakukannya. Tidak, kau tidak perlu melakukan semua itu, ya kan?"

"Kau yang memilih untuk membesarkan Haowen."

"Dan aku akan memilih untuk melakukannya lagi. Aku menyayanginya Aku akan menyusuinya sendiri seandainya aku bisa. Aku sudah berkorban banyak untuk memberinya kehidupan yang berkualitas."

Luhan mengangkat tangannya untuk mencegah komentar yang dilihatnya hendak diucapkan pria itu. "Segala yang telah kulakukan, kulakukan dengan senang hati. Aku tidak menginginkan ataupun mengharapkan penghargaan darinya. Aku tahu aku memiliki cintanya. Aku hanya ingin kau tahu betapa aku membenci kehadiranmu dalam hidupnya saat ini dan berusaha menjauhkan Haowen dariku."

"Aku tidak melakukannya, Luhan."

"Kau sudah melakukannya. Dia tinggal bersamamu, bukan denganku. Kau memberinya mobil impian setiap anak laki-laki, dan aku memberinya—"

Kata-katanya terputus dan ia berbalik memunggungi Sehun, mencengkeram kotak kecil dalam genggaman tangannya.

"Apa?"

"Pergilah. Tunggu Haowen di luar. Aku tidak mau kau ada di sini. Aku kesal padamu karena meremehkan aku."

"Apa yang ada di kotak itu? Hadiah lain?"

"Pergi, Sehun." Sehun merebut kotak yang dipegangnya. "Berikan padaku." Luhan berusaha merebutnya kembali, tapi Sehun memegangnya di atas kepala, jauh dari jangkauannya. Sehun membuka kotak itu. Sebuah kunci kontak jatuh ke tangannya.

"Sebuah mobil." Sumpah serapah meluncur dari bibirnya, ia memejamkan mata dan mencengkeram gigi kunci itu dengan ibu jari dan jari tengahnya.

Luhan mengusap air mata dari pipinya dan menantang pria itu. "Sebuah mobil bekas. Tidak baru, tidak mentereng. Hanya alat transportasi yang dapat diandalkan. Haowen akan melonjak kegirangan seandainya kau tidak membelikannya mobil hebat itu!" Ia menunjuk ke jalan.

"Luhan, aku—"

"Tidak!" seru Luhan parau, mengelak dari sentuhan pria itu. "Aku tidak butuh permintaan maaf mau pun belas kasihan darimu. Aku tidak mau apa-apa dari mu. Aku tidak pernah menginginkannya. Aku tidak bisa melarang Haowen untuk menikmati hal-hal yang kau berikan padanya. Tapi aku tidak mau menerima apa pun juga darimu secara pribadi."

"Aku tidak pernah berniat untuk ikut campur. Aku sama sekali tidak berniat melukaimu."

"Well, terlepas dari niat baikmu Sehun, itulah yang telah kaulakukan. Sekarang tolong pergi." Luhan dapat merasakan kontrolnya melemah. Untuk menahannya, ia memeluk pinggangnya sendiri. "Aku tidak mau kau datang ke sini lagi. Haowen boleh memilih untuk tinggal bersamamu selamanya. Kalau dia memilih begitu, aku dan Haowen akan mengusahakan waktu untuk bertemu, tapi aku tidak mau melihatmu lagi."

Ia menunjuk dada Sehun. "Jangan pernah, jangan pernah memberitahu Haowen tentang mobil yang kubeli untuknya. Itu hanya akan membuatnya merasa tidak enak dan diusik rasa bersalah."

Luhan membungkuk dan memungut setelan baju baru itu lalu melipatnya dengan hati-hati. "Nih, dia mungkin mau memakainya sebelum aku bertemu dengannya lagi." Ia mengulurkannya pada Sehun.

Luhan lari ke atas dan belum sempat menutup pintu kamarnya ketika air mata akhirnya membanjiri matanya.

.

*HunHan*

.

Keesokan paginya ketika Ia masuk ke dapur untuk membuat kopi, ia terkejut melihat dapurnya sudah rapi dan bersih. Ruang makannya juga sudah di-bersihkan dari sisa-sisa pesta ulang tahun, walaupun bunganya masih ada di atas meja. Tampaknya Sehun dan Haowen sudah membersihkan segalanya sebelum mereka pergi.

Luhan menghirup kopinya, lalu berpikir bagai-mana ia bisa menjual mobil yang baru saja dibelinya. Mungkin si penjual mobil mau mengambilnya kembali dan mengembalikan uangnya. Sementara merenungkan hal yang tampaknya tak mungkin itu, teleponnya berdering.

"Miss Lu?"

"Ya?"

Si penelepon memperkenalkan diri sebagai salah satu dokter staf panti wreda. "Ibu Anda terkena serangan stroke yang parah beberapa menit yang lalu. Beliau dibawa dengan ambulans dan sedang dalam penjalanan ke rumah sakit."

.

*HunHan*

.

Hari sudah senja ketika Luhan berbelok menuju rumah Sehun. Ia memarkir mobilnya di depan rumah itu dan untuk sesaat hanya duduk di balik kemudinya, terlalu letih dan sedih untuk bergerak.

Akhirnya ia mengumpulkan cukup energi untuk membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu depan. Ia mendengar denting bel pintu dan geraman curiga Vivi sebelum Sehun membuka pintu. Pria itu hanya mengenakan celana renang yang basah. Sehun tampak terkejut melihatnya.

"Halo, Sehun. Haowen ada?"

"Tidak."

"Oh." Satu-satunya yang ia pikirkan tadi hanyalah datang ke rumah ini dan bertemu dengan Haowen.

"Masuklah."

Energi yang dibutuhkan untuk melakukan apa yang diminta pria itu lebih sedikit daripada energi yang dibutuhkan untuk memikirkan alternatif lainnya. Ia melangkah masuk dan pria itu menutup pintunya. Vivi memandangnya lekat-lekat, lalu bergerak maju untuk menyurukkan kepala ke lutut Luhan. Ia langsung membungkuk dan menepuk-nepuk kepala anjing itu.

"Aku tidak habis pikir." Sehun mengomentari, tangannya mengusap rambutnya yang basah. "Anjing Labrador seharusnya bersikap jinak. Vivi nyaris menyantap hidup-hidup setiap wanita lain."

"Dia tahu aku bukan ancaman baginya." Lalu tanpa tedeng aling-aling, Luhan berkata, "Ibuku meninggal tadi siang."

Senyum Sehun langsung lenyap. Ia menurunkan tangannya. Luhan melihatnya berusaha menelan ludah. Pria itu mengalihkan pandangannya lalu kembali menatapnya. "Aku turut berduka, Luhan. Apa yang terjadi?"

"Mom mengalami serangan stroke lagi pagi tadi. Yang terparah. Aku sampai di rumah sakit hanya beberapa menit setelah Mom dibawa masuk. Aku bersamanya sepanjang hari di ICU."

"Sepanjang hari? Sendirian? Kenapa kau tidak menelepon kami?"

"Tidak ada gunanya. Mom tidak pernah sadarkan diri."

"Tapi kau sadar dan seharusnya tidak menjalani semua itu seorang diri."

Luhan menggelengkan kepalanya "Rumah sakit hanya akan membuat Haowen tidak nyaman. Dia takkan mampu mengucapkan selamat tinggal pada Mom, jadi kehadirannya di sana hanya semata merasa wajib dan tidak ada gunanya. Lebih baik begini. Mom meninggal dengan tenang. Kurasa kita semua berharap bisa meninggal seperti itu. Walaupun," ujarnya, merasa semakin sulit untuk berkata-kata, "Mom meninggal sebagai wanita yang tidak bahagia."

"Luhan."

Sehun meraihnya, memeluk bahu Luhan yang kecil dengan tangannya yang kuat. Luhan melawan, tapi Sehun terus menahannya, tidak mau melepaskannya. Akhirnya Luhan menyerah dan membiarkan dirinya dipeluk.

Ia menyandarkan pipinya di dada Sehun yang lembap. Sehun membenamkan jarinya di rambut Luhan. Tangannya yang lain mengusap-usap punggung Luhan memberi penghiburan.

"Aku minta maaf, Sehun. Maafkan aku."

"Maaf?" Sehun membiarkan Luhan terisak-isak selama beberapa menit, lalu berbisik, "Ceritakan pada ku."

Luhan terisak keras. Sehun membuat bagian depan tubuhnya basah semua. Celana renang yang dikenakan pria itu membuat bagian depan roknya basah, tapi ia bahkan tidak menyadarinya.

"Suatu hari di minggu ini waktu aku sedang menengoknya, aku bertanya mengapa Mom mengirim surat-surat itu."

"Apakah ibumu berusaha menyangkal?"

"Tidak. Seperti yang sudah kauduga, Mom memang ingin diketahui. Itu sebabnya dia mencantumkan alamatku di amplopnya. Mom bilang dia yakin kau akan menemukan kami."

"Dari mana ibumu tahu akulah ayah Haowen?"

"Mom sudah lama merasa curiga dan berkata bahwa dia pasti bodoh kalau sampai tidak menyadarinya. Secara matematis hubunganmu dengan Ji hyo pas dengan tanggal kelahiran Haowen. Lalu Haowen tumbuh semakin mirip denganmu."

Luhan menengadahkan kepalanya dan menatap pria itu. "Sehun, Mom tidak mengirim surat-surat itu atas nama Haowen. Mom sama sekali tidak memikirkannya. Mom melakukannya hanya karena dendam."

"Kau tidak perlu minta maaf padaku karena ibumu, Luhan."

"Kurasa aku perlu. Semakin banyak kami berbicara, dendam Mom semakin berkobar. Mom bertanya padaku mengapa kau dibiarkan menjalani hidup bahagia sementara keluarganya tercerai-berai karenamu." Luhan menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di dada Sehun. "Tampaknya Mom melupakan sifat Ji hyo yang suka memberontak dan penuh tipu daya. Aku merasa tidak ada gunanya berdebat lebih jauh dengannya. Lagi pula, aku takut melakukannya. Dokter sudah mernperingatkanku bahwa tekanan darahnya tinggi."

"Aku yakin kau menanganinya sebaik mungkin. Dan asal kau tahu, hidupku lebih bahagia sejak kehadiran Haowen." Sehun meletakkan dagunya di atas kepala Luhan. "Apa kau memberitahu ibumu bahwa Haowen sedang tinggal bersamaku?"

"Ya, dan Mom tertawa dengan dengki. Mom ingin percaya bahwa Haowen membuatmu susah. Menjadi beban." Luhan menengadahkan kepalanya. "Aku minta maaf atas setiap tekanan batin yang kaualami akibat surat-surat itu, Sehun."

"Bukan tekanan batin. Hanya terganggu saja. Dan itu hanya sesaat kok. Tidak usah mengkhawatirkannya lagi, Luhan. Semuanya sudah selesai. Kita semua bisa merasa lega."

Rasanya enak dipeluk oleh Sehun, lengan pria itu melingkari pinggangnya. Karena rasanya terlalu enak. Luhan memaksakan diri untuk melepaskan pelukannya.

"Haowen pergi ke mana? Apakah dia akan segera kembali? Aku harus memberitahu Haowen tentang neneknya."

"Dia pergi ke pesta di rumah seorang teman. Jangan khawatir," ujarnya melihat kecemasan Luhan, aku sudah menelepon orangtua temannya itu sebelum mengizinkannya pergi. Keluarga Moore."

"Oh, Jack Moore. Dia dan Haowen sudah berteman baik sejak lama. Keluarga yang menyenangkan."

"Begitulah yang kusimpulkan dan aku mengizinkan Haowen pergi dengan syarat begitu dia sampai di sana dia harus tinggal sampai pagi. Aku tidak mau dia keluyuran di malam minggu."

"Aku setuju. Well, kurasa aku bisa mencarinya di rumah keluarga Moore. Sampai nanti, Sehun. Terima kasih karena sudah mengizinkanku menangis di..."

Enggan mengatakan dadamu, Luhan menyelesaikan kalimatnya dengan tersenyum lemah dan berbalik menuju pintu.

"Hei, hei." Sehun meraih lengan Luhan dan membalikkan tubuhnya. "Boleh usul?" Luhan memiringkan kepalanya dengan bingung. "Bagaimana kalau kau membiarkan Haowen menikmati pestanya? Lagi pula tidak ada yang bisa dikerjakannya malam ini kan?"

"Tidak. Semuanya sudah diatur."

"Kalau begitu besok pagi sudah cukup cepat bagi Haowen untuk menerima kabar duka ini. Pesta ini adalah perayaan akhir tahun ajaran. Katanya mereka mau menikmati semua Pepsi, pizza, dan Playboy sebanyak-banyaknya."

"Well..." Luhan menyisiri rambut dengan jemari nya beberapa kali. "Kurasa kau benar. Buat apa merusak pestanya? Telepon aku begitu dia sampai di rumah dan aku akan datang lagi ke sini."

Ia meraih pegangan pintu. Sehun menahan pintu dengan tangannya dan menghalangi Luhan.

"Boleh aku mengajukan usul lain?" Sekali lagi Luhan menatapnya dengan bingung. "Tinggallah di sini malam ini."

Mulut Luhan menganga lebar. "Apa?"

"Mengingat keadaan emosionalmu, kau bisa kacau di jalanan. Lagi pula, aku tidak yakin kau punya tenaga untuk berjalan ke mobilmu. Di samping keterbatasan fisikmu, kupikir sebaiknya kau tidak sendirian malam ini."

"Aku bisa mengatasinya."

"Tapi buat apa repot-repot? Aku punya beberapa kamar tidur yang belum pernah ditempati."

"Walaupun tempat tidurnya jelas sudah pernah digunakan."

Sehun meringis. "Kok masih ingat sih? Aku janji malam ini takkan ada pasangan setengah telanjang yang akan mengganggumu. Semua temanku sudah tahu bahwa aku sekarang tinggal bersama seorang remaja dan perilaku seperti itu dilarang di sini."

"Apa yang kaukatakan pada mereka?"

"Mereka harus mencari tempat lain."

"Maksudku tentang Haowen."

"Aku belum memberitahu mereka."

"Karena kau tidak mau ada skandal."

"Karena aku tidak merasa wajib menjelaskan pada semua orang tentang ereksi yang kualami tujuh belas tahun yang lalu!" Sehun mengendalikan amarahnya dan melanjutkan dengan lebih tenang. "Menjelaskan Haowen berarti menjelaskan kau, wanita yang dipanggilnya Mom. Menjelaskan dirimu akan terlalu rumit. Jadi aku membiarkan orang-orang menarik kesimpulan sendiri."

"Dan?"

Sehun mengangkat bahu dengan penuh perasaan. "Aku tidak tahu. Tidak ada yang berani mengomentari asal-usul Haowen. Tapi dia disukai oleh semua orang. Dia sudah pergi bersamaku ke pusat kota beberapa kali. Aku kagum akan pengetahuannya yang luas tentang program luar angkasa itu."

"Dia sudah tertarik akan hal itu seumur hidupnya."

"Ketertarikan yang kau pupuk. Trims." Lengan Sehun yang kuat melingkari pinggang Luhan dan sedikit mengguncangnya. "Nah, sekarang kau mau ikut dengan damai?"

"Aku sama sekali tidak mau ikut."

Bibir Sehun terangkat, menyunggingkan senyum nakal. "Sampai kapan pun?"

Luhan berputar dan meraih pegangan pintu lagi.

"Oke, oke, maaf. Lelucon yang tidak lucu dan pemilihan waktu yang sama sekali tidak tepat. Begini, di kantor astronot, waktu kami tidak mengobrol tentang penerbangan, kami mengobrol tentang seks. Itulah sebabnya aku sering bersikap tolol seperti ini." Sehun menggenggam pergelangan tangan Luhan lebih erat. "Kamar mandi terdekat lewat sini."

"Sehun, aku tidak bisa," protes Luhan saat ia ditarik Sehun menuju sebuah kamar tidur di sayap rumah.

"Haowen tidak akan memaafkanku kalau aku meninggalkanmu sendirian malam ini. Dia pikir kau mengkhayalkan bulan."

"Tapi kau berjalan di atasnya."

Sehun menatapnya dengan tidak sabar. "Kau tertukar antara aku dan Neil Armstrong. Aku tidak pernah ke bulan. Di dalam sini." Sehun menariknya memasuki sebuah kamar tidur mewah yang begitu bersih dan tampaknya memang benar-benar belum pernah ditempati. "Kamar mandinya lewat sana. Mandilah. Aku akan menyiapkan makanan."

"Aku tidak lapar."

"Tapi aku lapar. Ayo, Vivi. Beri sedikit ruang untuk nona ini."

Sehun melangkah keluar, Vivi mengekor di belakang langkah kakinya yang tidak beralas. Luhan berputar pelan, menentukan posisinya. Mengembuskan napas kuat-kuat, ia menyadari dirinya, sebenarnya senang Sehun yang membuat keputusan untuknya. Ia terlalu lelah dan mandi kedengarannya enak juga.

Kamar mandinya didekor dengan indah seperti tiap ruangan lainnya di rumah itu dan desainnya mementingkan kenyamanan pemiliknya. Semburan air hangat yang memancar dari pancuran di keempat sisi dinding memijat sebagian tubuhnya yang lelah.

Ia mengeringkan diri, dengan cepat mengeringkan rambutnya dengan handuk tebal, lalu kembali mengenakan pakaiannya. Luhan bertelanjang kaki, dan melangkah menuju dapur tempat Sehun sedang berbicara pada Vivi.

Sehun melihat Luhan dari sudut matanya, dan memalingkan kepalanya. "Aku baru saja bertanya pada Vivi apakah kau kelihatan seperti cewek yang lebih suka mayonaise atau mustard."

"Cewek ini lebih suka mustard."

"Bagus."

"Yang pedas."

Alis Sehun melengkung naik. "Lebih bagus lagi." Dengan santai Sehun mengolesi setangkup roti Perancis dengan mustard pedas dan menumpukkan potongan ham dan keju. Sebelum selesai, ia sudah menyusun dua roti isi besar lengkap dengan semua isinya.

Ia duduk mengangkang di kursi dan menunjuk kursi yang lain bagi Luhan. Sehun sudah mengganti celana renangnya yang basah dengan celana pendek dan sebuah kaus Akademi Angkatan Laut. Pakaiannya yang santai membuat Luhan merasa tidak terlalu rikuh dengan rambutnya yang basah dan kakinya yang tidak beralas.

"Sana, Vivi. Kau akan mendapatkan remah-remahnya nanti." Dengan ekor turun, anjing itu menyelinap di pojok ruangan. "Haowen memanjakannya. Dia selalu memberinya makan dari meja."

Luhan langsung melahap makanannya, walaupun ia tidak menyadari dirinya sedang makan dengan lahap sampai ia melihat Sehun tersenyum padanya. "Kapan terakhir kali kau makan?"

"Kemarin malam. Rotinya enak," ujar Luhan, mengangguk ke arah piringnya. "Kelihatannya kau sangat cekatan di dapur. Kau membersihkan dapurku lebih bersih daripada aku."

"Dengan bantuan Haowen. Kami rasa hanya itulah yang bisa kami lakukan setelah semua kerja keras yang kaulakukan untuk makan malam itu."

Luhan menekuri es tehnya. "Apa, eh, yang kau katakan padanya tentang sikapku yang pergi begitu saja?" Sekarang ia merasa malu atas sikapnya itu. Marah-marah lalu lari ke atas kelihatannya seperti perbuatan kekanak-kanakan dan tidak masuk akal, walau pun saat itu ia tidak dapat menahan diri.

"Aku bilang padanya bahwa kau bekerja terlalu keras untuk makan malam itu dan lelah secara emosional, kau menangis dan meninggalkan ruangan serta minta tidak diganggu."

"Dan dia mempercayaimu?"

"Aku menyiratkan tentang 'penyakit bulanan.' Mengungkit-ungkit hal itu selalu membawa semacam pantangan, suasana misterius yang secara efektif mengintimidasi para pria untuk tidak bertanya lebih lanjut."

"Melecehkan sekali."

"Memang benar kok."

Luhan mengerutkan kening ke arah Sehun. "Aku tidak biasa uring-uringan bahkan saat penyakit bulananku datang."

"Well, aku menggariskan wewenang sebagai orangtua dan tidak memberinya kesempatan untuk mempertanyakan perkataanku. Aku mulai menyuruhnya membantu membersihkan. Sebelum kami pergi, dia ingin naik dan menengokmu, berterima kasih atas makan malam dan pakaian baru, dan sebagainya, tapi aku bilang padanya bahwa berdasarkan pengalamanku selama ini, jika seorang Wanita sedang uring-uringan seperti itu, lebih baik dibiarkan sendirian."

"Kalau itu kau benar. Kemarin malam aku lebih baik dibiarkan sendirian."

Sehun menjulurkan tangan di atas meja dan menaruh tangannya di atas tangan Luhan. "Tentang mobil sialan itu, Luhan."

"Sudahlah, Sehun."

"O-oh. Aku tidak akan membiarkan hal ini memburuk sampai membusuk. Seandainya aku tahu, aku tidak akan pernah membuyarkan hadiah kejutanmu."

"Aku pikir aku tidak perlu mengatakan padamu apa rencanaku."

"Aku tidak membeli mobil sport itu sebagai umpan pemikat. Aku berani sumpah. Aku bahkan berpikir kau akan turut senang bagi Haowen." Sehun tersenyum sinis. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang istimewa baginya."

"Aku juga!" seru Luhan sungguh-sungguh menunjuk dadanya.

"Aku mengerti dan aku minta maaf. Memang aku yang salah. Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini kecuali,"—ia berhenti dan memandang Luhan dengan tatapan memohon "kau memiliki Haowen seumur hidupnya. Kau merayakan lima belas ulang tahun bersamanya, yang tidak kualami. Mungkin aku memang terlalu berlebihan memberinya mobil itu. Tapi jangan menyalahkanku sebelum kau memikirkannya. Aku masih baru dalam hal ini. Aku pasti melakukan beberapa kesalahan. Sabarlah, oke?"

"Oke."

Luhan merasa begitu picik, dan sangat malu atas sikapnya kemarin malam, dan sangat mengantuk. Ia bahkan nyaris tidak dapat menegakkan kepalanya. Saat ia menatap Sehun dengan matanya yang mengantuk, pria itu sedang mengawasinya "Apa kau memberi ku sesuatu?" tanya Luhan ketika terpikirkan olehnya.

"Dalam tehmu."

"Kau memasukkan narkotik ke dalam tehku?"

"Bukan narkotik. Hanya sebuah kapsul kecil yang takkan menyakitimu dan menjamin kau tidur nyenyak malam ini."

"Sehun!" Luhan mengerahkan segenap tenaga yang dapat dikumpulkannya namun tetap saja protesnya terdengar seperti meongan seekor anak kucing.

Sehun berjalan mengelilingi meja dan mengangkat Luhan dari tempat duduknya, menggendongnya. "Waktunya untuk tidur."

"Aku tidak akan memaafkanmu untuk ini," gumam Luhan di dada Sehun. "Pantas saja kau sangat berhasil meniduri banyak wanita. Kau membius mereka dulu."

"Hanya dengan wanita yang melakukan perlawanan." Sehun menurunkan Luhan di depan pintu kamar mandi. "Tanggalkan pakaianmu."

"Tidak perlu."

"Tentu perlu, kecuali kau mau aku yang menanggalkannya untukmu."

Mustahil bagi Luhan untuk maju berperang saat ia bahkan tidak bisa melihat Sehun dengan mata yang awas. Ia menurut dan melangkah menuju kamar mandi.

"Ada jas kamar di balik pintu. Aku akan menyiapkan tempat tidurnya."

Setengah sadar Luhan menjatuhkan pakaiannya ke lantai saat ia menanggalkannya. Jas kamar katun yang ringan itu dibuat untuk seorang pria yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya sendiri, tapi rasanya sejuk dan lembut di kulitnya. Ia mengatupkan jas itu di bagian depannya dan menyimpulkan ikat di pinggangnya.

Saat ia kembali ke dalam kamar, Sehun sudah membuka penutup tempat tidurnya dan sedang menepuk-nepuk bantalnya. "Gadis pintar. Ayo naik."

Luhan berbaring dan Sehun menyelimutinya. Luhan menyurukkan kepala ke bantal dan memejamkan matanya. "Aku tidak mau meninggal sebagai wanita kesepian, tidak bahagia, dan pahit seperti ibuku, Sehun. Aku lebih berduka atas ketidakbahagiaannya daripada kematiannya."

"Aku tahu." Sehun membelai helai-helai rambut Luhan. Rambut Luhan masih setengah basah dan wa ngi sampo.

"Aku sudah tidak punya keluarga lagi."

"Kecuali Haowen."

"Dan aku akan kehilangan dia."

"Takkan pernah." Setetes air mata mengalir dari antara kelopak matanya yang terpejam. Sehun mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, lalu menjilatnya. "Mau dengar cerita pengantar tidur?"

"Asal berakhir bahagia."

"Kau yang menentukan akhirnya."

"Ceritanya tentang apa?"

"Tentang seorang pangeran—seorang pria yang sangat tampan—yang merasa memiliki semua yang bisa ditawarkan oleh dunia. Dia terbang tinggi, dalam arti kiasan maupun sebenarnya. Seorang pria hebat yang sombong. Lalu suatu hari dia menerima surat lewat pos, dan surat itu membawanya ke sebuah rumah sederhana yang dikelilingi bunga. Wanita yang tinggal di sana sedang bermain-main di rumpun bunganya seperti seorang petani. Lututnya kotor oleh tanah dan butir-butir keringat menghiasi bagian atas bibirnya. Tapi wanita itu bukanlah seorang petani. Sebenarnya dia seorang putri yang sedang menyamar. Wanita itu tidak tahu bahwa dirinya seorang putri, tapi semua orang di sekelilingnya tahu hal itu karena dia baik hati, penuh kasih sayang, dan cantik, dengan rambut hitam legam dan matanya yang besar penuh binar dan bibirnya... ya Tuhan, bibirnya." Sehun berhenti untuk merenungi bibir yang sedang ditelusurinya dengan lembut lewat ujung-ujung jarinya.

"Selanjutnya, begitu melihat mata indah yang besar itu untuk pertama kalinya dan mencium bibir yang sangat manis itu, sang pangeran berkata pada dirinya sendiri, O-oh, sobat, kau tergoda. Seperti biasa, pangeran itu langsung bersikap kasar, melakukan hal-hal jahat seperti melancarkan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar, mengeluarkan ancaman-ancaman tersirat, dan mengadakan pesta hura-hura yang dia sendiri bahkan tidak ingin menghadirinya. Sang putri membalas dengan mengutuknya. Sang putri membutakan mata pangeran dan semua wanita lainnya. Pangeran sudah sekarat karena kesombongannya dalam menaklukan wanita, tapi satu-satunya wanita yang dilihat dan diinginkannya hanyalah sang putri. Lalu pangeran pergi ke peramal dan bertanya, 'Apa yang harus kulakukan dengan putri ini?' Dan sang peramal berkata, "Sebagai seorang pangeran, kau benar-benar bodoh. Pikirkan satu cara untuk membawa sang putri ke tempat tidurmu."

Sehun membungkuk untuk melihat reaksi Luhan atas dongengnya yang mengada-ada itu. Luhan sama sekali tidak bereaksi. Ia sudah terlelap.

.

*HunHan*

.

Luhan mendesah dalam-dalam sebelum membuka matanya. Tubuhnya terasa lemas sekali seperti lemak susu kental. Setiap sel tubuhnya terasa tak berdaya. Jantungnya berdetak kuat dan lambat. Ia nyaris dapat merasakan aliran darah di pembuluhnya. Ia tidak ingat pernah merasa sesantai ini. Bersantai seperti ini rasanya nikmat sekali.

Luhan menguap dan meregangkan tubuhnya. Saat itulah kakinya menyapu kaki lain. Ia langsung ter kesiap. Lalu, pelan-pelan, ia menoleh ke samping.

Sehun sedang tidur di sisinya. Rambutnya yang hitam acak-acakan dan bagian bawah wajahnya dibayangi oleh jenggot yang baru tumbuh. Selimut hanya menyelimutinya sebatas pinggang. Dada pria itu telanjang.

Berbaring diam, nyaris tidak berani untuk bernapas, Luhan memandangi pria itu. Menit demi menit berlalu. Kesadarannya mengatakan untuk meninggalkan tempat tidur selagi masih aman. Jadi saat mereka bertatapan lagi, mereka bisa melakukannya dengan hati yang jernih dan berpura-pura mereka tidak tidur di ranjang yang sama. Tapi ia begitu bosan dengan kata "aman" dan tidak mampu memaksa dirinya untuk bergerak.

Kipas angin di langit-langit kamar berputar pelan di atas kepalanya. Suara mesinnya yang dalam terasa menghipnotis. Hari masih sangat pagi dan hanya secercah cahaya yang menerangi kamar.

Jadi Luhan membiarkan dirinya menikmati beberapa menit yang berharga ini untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya dan bukan apa yang diperintahkan kesadarannya. Ia memaksakan diri untuk menekan dalam-dalam semua pikiran menyedihkan tentang kematian ibunya atau masa depannya yang tidak jelas menyangkut Haowen ataupun cintanya yang tidak kesampaian pada pria yang kini berbaring di sisinya.

Betapa ia mencintainya! Dan cinta itu sudah ada sejak pria itu pertama kali menyunggingkan senyum mautnya yang berkilauan dan memanggilnya kuper.

"Selamat pagi."

Awalnya Luhan berpikir suara Sehun hanya khayalannya saja. Tapi ia lalu melihat bibir Sehun menyunggingkan senyum yang sudah dikenalnya. Mata pria itu terpejam.

"Apa yang kau lakukan di tempat tidur bersama ku, Sehun?"

"Membangkitkan gairah."

Luhan menelan ludah dengan susah payah hingga terdengar. "Sudah berapa lama kau di sini?"

"Sepanjang malam."

"Sepanjang malam? Tidur?"

"Tidur. Lalu bangun lalu tidur lagi. Mendengarkan suara napasmu. Memandangimu. Ingin bercinta denganmu." Sehun membuka matanya. Mata itu menatapnya tajam dalam kamar yang temaram. Ia tersenyum dan mengangkat bahu tanpa daya. "Membangkitkan gairah."

"Dari mana kau tahu aku sudah bangun?"

"Aku merasakannya. Napasmu mulai berbeda. Lebih cepat. Nyaris seperti sedang terangsang." Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bibir Luhan yang penuh. "Apakah kau terangsang?" bisik Sehun parau.

Luhan hanya balas menatapnya, terhanyut dalam api yang berkobar di mata Sehun yang kelam. Lidah Luhan secara otomatis membasahi bibirnya yang sedang ditatap dengan tajam oleh pria itu. Sehun mengerang pelan. "Apakah kau terangsang, Luhan? Jangan menjawab dengan apa yang kau pikir pantas atau benar. Katakan yang sejujurnya. Apakah kau terangsang?"

Luhan sudah mengangguk sebelum mengucapkan jawabannya. Tanpa menunggu sepatah kata lagi, Sehun langsung bersandar di atas bantalnya dan mencium Luhan perlahan. Awalnya ia mengusap bibir Luhan dengan bibirnya. Lalu lidahnya menggelitik bagian tengah bibir atas Luhan. Tubuh Wanita itu secara refleks maju ke depan.

Tangan Sehun menangkup bagian belakang leher Luhan dan menariknya mendekat. Ciuman yang diberikannya pada Luhan terasa lembut, dalam, dan basah. Lidahnya tenggelam dalam mulut Luhan. Secara naluriah Luhan mengangkat tangannya, meletakkannya di dada pria itu. Jari-jarinya menari dengan gerakan pelan, menyusuri dada Sehun yang kokoh.

Sehun mengecup sudut-sudut bibirnya seperti menahan diri, mensyukuri tiap ciumannya, lalu menarik diri untuk menatap mata Luhan lekat-lekat. Dengan malu Luhan menarik tangannya. "Apakah kau siap untuk berhenti, Luhan?" Luhan menggelengkan kepalanya. Sehun menatapnya dalam-dalam ketika ia pelan-pelan menyingkirkan selimut dengan kakinya.

Mata Luhan melirik gugup ke bawah dan memperlihatkan keterkejutan yang tak terucapkan.

"Aku tidak main-main, kan?" tanya Sehun.

"Tidak."

"Kalau begitu apa yang akan kaulakukan selanjutnya?"

"Aku tidak yakin."

"Pikirkanlah." Sehun meraih tangan Luhan, menciumi telapaknya dengan sungguh-sungguh. Lalu Luhan meletakkan tangan Sehun di atas tubuhnya. Dengan suara pelan Sehun menggeram nikmat. "Tidak usah buru-buru."

Matanya menjadi gelap dan ia menyeringai puas saat Luhan menyentuhnya lebih dalam. "Ah, Luhan." Beberapa saat berikutnya, dadanya naik turun dengan cepat, ia mengerang, "Kata siapa kau Nona Sok Alim?"

Sehun menggulingkan tubuh Luhan hingga telentang dan membungkuk di atasnya, berkutat dengan ikat pinggang jas kamar yang dikenakan wanita itu. Ketika berhasil membuka simpulnya, dengan tidak sabar Sehun menyingkirkan jas itu.

Ketergesaannya segera terjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu terpana. Matanya menelusuri tubuh telanjang di hadapannya dengan rakus, dengan lapar. Wajahnya seperti terheran-heran ketika akhirnya matanya memandang wajah Luhan. "Kau tumbuh dengan baik sekali, Kuper."

Mulai dari bahu, tangan Sehun menelusuri lengan Luhan, menyentuh tiap pembuluh darah di balik lengannya sebelum bergerak menuju dadanya, payudaranya, lalu pusarnya. Ia membelai-belai tubuh Luhan dengan lembut.

Sentuhan pria itu membangkitkan sejuta gelitik kenikmatan di sepanjang kulit Luhan. Ia terus menggeliat. Punggungnya melengkung sebagai reaksi atas usapan tangan Sehun di pusarnya; ia menekuk lututnya ketika tangan pria itu membelai pinggangnya. Baru ka li ini ia merasa bertanggung jawab terhadap tubuhnya dan reaksi erotisnya atas belaian Sehun.

"Kau cantik sekali," bisik Sehun. "Aku tidak tahu mana dulu yang harus kucium."

Sehun memutuskan untuk mencium bibirnya dulu sementara ibu jarinya mengusap-usap puncak payudaranya. Dengan bibir yang masih basah oleh gairah dan ciuman mereka yang membara, Sehun mengecup payudaranya. Luhan membenamkan jari-jarinya di rambut Sehun dan mendesahkan nama pria itu.

"Apakah itu berarti ya?"

"Ya," erang Luhan, "ya."

"Lagi?'

''Ya."

Belaian lidahnya membangkitkan ledakan erotis dalam diri Luhan. Baru saat itulah Luhan menyadari betapa bercinta dapat merasuki seluruh jiwa dan raganya. Ia menjadi rakus dan ingin memiliki Sehun seutuhnya.

Tubuh mereka belum bersatu sepenuhnya namun itu sudah lebih dari cukup. Seluruh cinta dan gairah yang dirasakan Luhan pada pria itu menyatu di sana dan muncul menjadi puncak yang menggetarkan.

Tubuh Luhan seperti dihantam gelombang badai topan. Luhan dapat merasakannya di perut dan payudaranya. Seluruh tubuhnya bergetar hingga ke ujung-ujung jarinya. Efeknya terus berpendar dan mendesis bahkan jauh setelah semuanya berlalu.

Akhirnya Luhan membuka matanya dan menatap Sehun, terpana oleh sensasi menggelora yang ditumbuhkan dari tubuh yang tak pernah disangkanya sebagai tubuh yang begitu bergairah. "Maafkan aku."

Sehun terenyak dan tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Karena menjadi salah satu wanita terseksi yang pernah diciptakan? Kau begitu mengagumkan," bisiknya ketika ia menyapu bibir Luhan dengan bibirnya. "Hebat dan sangat mengagumkan."

"Puncak payudaramu sensitif sekali." Sehun berbisik dengan heran dan kagum.

"Kau membuatku malu." Seluruh tubuh Luhan terasa panas dan bersemu merah oleh gelombang panas yang dialirkan oleh cara mata, tangan, dan bibir pria itu bergerak di atas tubuhnya, mengecap tubuhnya.

"Tadi kau memanggilku kuper. Kupikir kau sudah lupa."

"Memang, sampai aku mulai bercinta denganmu."

"Mengapa begitu?"

"Kurasa aku ingat memperhatikanmu di pantai suatu hari dan berpikir betapa kau akan menjadi gadis yang hebat dalam beberapa tahun." Ujung jarinya kembali membelai ringan ujung payudara wanita itu. "Aku ingat merasa menyesal karena aku takkan bisa melihatmu tumbuh menjadi seorang wanita. Terus terang aku senang bajingan tolol itu membuatmu patah hati."

"Bajingan tolol yang mana?"

"Yang kaucintai. Bajingan tolol yang membuatmu tergila-gila."

"Oh," ucap Luhan pelan.

"Kalau bukan karena dia, kau pasti sudah menikah." Sehun menundukkan kepala dan mengecupnya. "Aku pasti menjalani hidup dengan baik."

Ia terus menciumi tubuh Luhan, tanpa mengindahkan protes wanita itu yang nyaris tak bisa bernapas ketika mulut Sehun terus bergerak turun.

"Sehun," erang Luhan ketika pria itu mulai membuka pahanya.

Sehun mencumbunya dengan penuh kasih, terus menciuminya, dan menikmati tubuh Luhan. Lidahnya terus berputar dan membelai dan menggoda hingga sekali lagi Luhan serasa melayang-layang.

Saat tubuh mereka hampir bersatu, Sehun berkata, "Luhan, ini adalah penantian yang panjang. Buka matamu dan tataplah aku.

Luhan tidak hanya membuka matanya melainkan juga mengalungkan lengannya ke leher pria itu. Dengan erangan panjang dan dalam, Sehun mulai menyatukan tubuh mereka. Untuk sesaat Sehun terdiam, napasnya tidak teratur saat ia menatap wajah Luhan.

"Apakah kau tidak. . .?"

"Belum," jawabnya pelan di atas sudut bibir wanita itu. "Bibirmu begitu menggoda."

"Benarkah?"

"Hmm. Kapan-kapan aku akan menceritakan khayalan-khayalanku tentang bibirmu itu."

"Ceritakan sekarang."

"Tidak."

"Kenapa tidak."

"Kau akan merasa malu dan aku tidak mau itu terjadi."

Sehun memiringkan kepala Luhan ke belakang dan menciuminya. Lalu tangannya bergerak turun dan merangkum pinggang Luhan dengan erat, kemudian Sehun bergerak mengayun dan mulai menyatukan tubuh mereka lagi.

.

*HunHan*

.

Garukan Vivi di pintulah yang membangunkan Luhan untuk kedua kalinya. Energinya terkuras habis, hingga ia dan Sehun jatuh tertidur. Tungkai kakinya membelit kaki Sehun. Sebelah tangan Sehun menangkup payudaranya dengan posesif sementara tangannya yang lain dikaitkan ke rambutnya. Ketika ia berusaha untuk melepaskan diri, Sehun menggerutu pelan, "Jangan bergerak."

"Aku harus bangun. Lagi pula, Vivi harus keluar."

"Dasar anjing," umpat Sehun, menelentangkan tubuhnya dan menendang selimut. "Aku akan membawanya keluar dan membuat kopi." Ia memeluk leher Luhan dan menciumnya dengan suara keras. "Jangan ke mana-mana." Sehun melepaskan Luhan, lalu mengayunkan kakinya ke sisi tempat tidur dan berjalan ke pintu kamar tidur, tanpa memedulikan ketelanjangannya.

Luhan sangat memedulikannya. Ia berbaring di tengah-tengah selimut yang acak-acakan dan mengagumi pria itu hingga lenyap dari pandangan. Tubuhnya terasa berpendar-pendar oleh rasa bangga bahwa ia memiliki kekasih yang paling tampan di seluruh jagat raya.

Luhan berjalan menuju kamar mandi, dan melihat tubuhnya mengalami perubahan yang sangat drastis sejak malam sebelumnya. Ada lecet-lecet akibat jenggot di payudara dan perutnya. Rasa nyeri yang lebih dikarenakan rasa nikmat daripada sakit terasa di antara kedua pahanya. Ia menikmati rasa nyeri itu.

Setelah mandi dengan cepat, ia berpakaian. Luhan menenteng sepatunya, dan berjalan menyusuri rumah itu, menuju ke dapur. Tampak olehnya sebuah pintu yang setengah terbuka. Ia mendorongnya pelan dan membukanya.

Kamar Haowen. Hal itulah yang langsung terlihat olehnya. Pakaian-pakaiannya tergeletak di sana-sini, sebuah kebiasaan buruk yang dulu membuatnya marah namun kini dengan pedih dirindukannya. Berbagai poster bintang rock, pahlawan-pahlawan olahraga, dan sebuah poster Miranda Kerr berbaju bikini yang ceria memenuhi dinding-dindingnya. Sebuah miniatur pesawat Victory ada di meja bersama setumpuk buku sekolah.

Meskipun baru menempati kamar itu sebentar, Haowen sudah mengisi kamar itu dengan ciri khasnya. Selain barang-barang yang dari dulu sudah dimilikinya, Luhan juga melihat sebuah pesawat televisi baru lengkap dengan perlengkapan video, sesuatu yang memang diidam-idamkan Haowen sejak lama. Sebuah telepon yang tampaknya baru saja dipasang diletakkan di atas meja samping tempat tidurnya. Di samping compact disk player-nya terdapat setumpuk CD album baru.

Air mata menggenangi mata Luhan saat ia berbalik keluar dan menutup pintunya. Ia tidak menyadari seberapa besar kemurahan hati Sehun. Rumah ini pasti tampak bagai surga bagi Haowen, yang diajarkan bahwa barang-barang materi tidaklah penting.

Ia harus segera merebut Haowen kembali. Kalau tidak ia akan kehilangan Haowen selamanya. Segera setelah ia bertemu dengan anak itu, ia akan menyuruhnya untuk pindah kembali ke rumah, tempat Haowen seharusnya berada.

Sehun mengenakan celana olahraga. Ia sedang berada di dapur, mengocok botol berisi jus jeruk ketika Luhan masuk. "Kopinya hampir siap."

"Aku tidak mau minum kopi." Suara Luhan yang santun membuat guncangan botol itu langsung berhenti. "Satu-satunya yang aku mau darimu adalah penjelasan lengkap tentang mainan mewah yang kau limpahkan untuk Haowen. Kupikir kita sudah sepakat tentang kemewahanmu yang berlebihan itu semalam."

Dengan gerakan yang dikontrol hati-hati, Sehun meletakkan botolnya. "Apa aku harus mengambil kembali apa yang sudah kuberikan padanya? Pikirkan dong, Luhan. Apa yang kita sepakati semalam adalah bahwa aku orangtua yang berlebihan karena aku tidak memiliki anakku selama enam belas tahun dan bahwa kau akan bersabar terhadapku."

"Well, setelah melihat taman impian elektronik yang disamarkan sebagai kamar tidur itu, kesabaranku langsung habis."

Sehun bertolak pinggang. "Ada apa sih, kok tiba-tiba kau jadi begitu?"

"Kau melimpahi Haowen dengan barang-barang yang indah untuk mengambilnya dariku!" tuduh Luhan.

"Itu tidak benar."

"Kurasa itu benar."

"Buat apa aku melakukan itu?"

"Karena kau harus menjadi yang pertama dalam kamus setiap orang. Orang hebat. Sang pemenang. Nomor satu. Di posisi puncak."

"Kurang dari satu jam yang lalu," desis Sehun, "kau yang ada di posisi puncak. Dan menyukai setiap menitnya. Atau harus kusebut setiap incinya?"

Tubuh Luhan langsung terasa panas terbakar oleh amarah dan rasa malu. Ia membanting sepatunya ke lantai dan langsung memakainya. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan. Ia membukanya dan langsung berhadapan dengan Haowen dan Vivi yang baru masuk.

"Mom!" seru Haowen. "Aku tidak percaya waktu melihat mobil Mom di depan. Ada apa?"

Luhan terlalu kaget melihat Haowen, hingga tidak mampu berbicara. Ia juga merasa takut jika ada sesuatu dari penampilannya yang dapat mengungkap apa yang dilakukannya bersama Sehun beberapa jam yang lalu.

"Nenekmu, Haowen," ujar Sehun dari belakang Luhan.

Luhan akhirnya berhasil berbicara dan dengan pelan memberitahu Haowen, "Nenek meninggal kemarin siang."

"Kemarin?"

"Luhan dan aku mendiskusikannya dan memutuskan untuk tidak merusak pestamu. Aku akan meninggalkan kalian berdua. Ayo Vivi. Kita ke belakang."

Anjing itu mengikuti Sehun lewat lorong meninggalkan Luhan dan Haowen berdua. Haowen tampak sangat menyesal. "Mom, maaf aku tidak ada di sana waktu Nenek meninggal."

"Kau kan tidak tahu."

"Iya sih, tapi Mom kan jadi sendirian semalam."

"Aku—aku tidak apa-apa kok. Aku memang perlu waktu untuk berpikir."

Haowen melangkah maju dan memeluk ibunya. "Mom pasti sangat sedih. Aku tahu apa yang akan kurasakan jika ada sesuatu terjadi pada Mom."

Luhan balas memeluk Haowen erat-erat. Air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih, Sayang."

"Kapan pemakamannya?" tanya Haowen, melangkah mundur.

"Siang ini. Kurasa tidak perlu ditunda lagi. Mom sudah mengatur segalanya sebelumnya. Tentu saja kita sudah memiliki tempat untuk makamnya," tambah Luhan, membayangkan makam Ji hyo dan ayahnya.

"Dad dan aku akan datang. Jam berapa?" Luhan menyebutkan waktunya. "Upacaranya tidak akan lama." Haowen mengangguk, membuat beberapa helai rambut pirangnya jatuh di keningnya. Secara refleks Luhan mengulurkan tangan untuk merapikannya. "Bagaimana pestanya?"

"Asyik sekali. Kami bergadang sampai jam empat main poker."

"Poker?"

"Ya. Dad memberiku beberapa trik sebelum aku pergi dan akhirnya aku menang sepuluh dolar."

"Aku bahkan tidak tahu kalau ada pesta."

"Aku mencoba menelepon kemarin dan minta izin. Sekarang aku tahu kenapa Mom tidak ada di rumah. Tadinya aku sempat takut kalau Dad tidak mengizinkanku pergi."

"Kenapa tidak?"

"Dad ingin tahu apakah orangtua Jack bakal ada di rumah dan apakah bakal ada minuman keras atau obat terlarang atau hal-hal semacam itu. Aku harus meyakinkan Dad kalau Jack bukan pecandu narkoba dan begitu pula teman-teman lain yang diundang. Katanya Dad percaya padaku, tapi tetap saja Dad menelepon Mrs. Moore." Haowen menyeringai. "Sekarang aku punya dua orangtua yang keras!"

"Apakah Sehun keras padamu?"

"Di sini ada hal-hal yang disebut Dad sebagai peraturan rumah. Tidak boleh nonton TV sampai semua PR selesai dan Dad sudah memeriksanya. Hanya satu kaleng soda per hari, tapi aku boleh minum jus buah sebanyak yang aku mau. Telepon dibatasi tiga kali tiap malamnya, masing-masing cuma lima belas menit. Kalau suara musik-nya sampai bisa didengar Dad, berarti itu sudah terlalu keras. Dad sangat mirip dengan Mom. Dad bahkan mengatakan padaku bahwa aku tidak boleh bersantai-santai sepanjang musim panas, tapi harus mencari pekerjaan kalau aku memerlukan uang bensin. Tuh, kan? Dad sepakat dengan Mom tentang hal itu. Aku bilang aku memang sudah berencana untuk bekerja."

"Kau suka tinggal bersamanya, Haowen?" Luhan tahu ia bersikap tidak adil dengan menempatkan Haowen dalam posisi itu, tapi ekspresinya yang sungguh-sungguh menuntut jawaban yang jujur.

"Ya, tentu saja," jawab Haowen, salah tingkah. "Rumahnya bagus. Aku akan merasa sangat kesepian tanpa Vivi sekarang, setelah aku terbiasa ditemani olehnya. Setelah makan setiap malam, Dad dan aku akan mengobrol tentang banyak hal, sama seperti yang kita lakukan. Kadang kami bercanda dan tertawa-tawa, tapi Dad akan menjadi serius tentang topik-topik tentang Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan integritas, hal-hal yang penting, Mom tahu, kan?"

Haowen menguap lebar-lebar dan menutupnya. "Aduh, maaf, Mom. Sepertinya aku mengantuk berat setelah bergadang semalaman."

"Bagaimana kalau kau tidur dulu? Kita bertemu nanti siang."

"Mom yakin? Apa Mom tidak mau kutemani pulang ke rumah?"

"Tidak, aku baik-baik saja kok. Kau istirahat saja."

Luhan dapat melihat Haowen merasa lega, Walau pun anak itu sekali lagi memeluknya dengan tulus. Ia sudah keluar dari pintu depan ketika ia mendengar Haowen berseru, "Hei, Dad? Dad ada di mana?" sama seperti yang biasa diucapkan Haowen padanya.

Bagaimana ia bisa bersaing dengan ayah kandung Haowen, seorang astronot yang mampu memberinya sebuah mobil baru dan televisi baru, sementara ia sendiri harus menabung lebih dari setahun baru bisa membeli pelapis dinding kamar anak itu?

Ia tidak bisa. Ia tidak mau. Tidak lagi.

.

*HunHan*

.

Dengan langkah gontai Luhan menaiki anak tangga rumahnya. Ia tidak menyalakan lampu sama sekali, meskipun hari sudah senja dan semburat keunguan memenuhi tiap sudut rumahnya.

Di kamar tidurnya ia melepaskan sepatu kulitnya yang berwarna hitam dan meletakkan tasnya di atas lemari kecil. Luhan berjalan menuju jendela yang mengarah ke pekarangan belakang, ia menatap ke kejauhan untuk beberapa saat. Keputusasaan telah melumpuhkannya.

Ia baru saja hendak berbalik ketika ia melihat bola sepak Haowen tergeletak begitu saja di balik rumpun bunga azalea. Bola itu tampak kesepian, terbuang, dan telantar, dan tampaknya melukiskan segala kesedihan dalam hidup Luhan.

Ia mendesah kuat-kuat, dan mengulurkan tangan ke belakang punggung untuk membuka risleting gaun hitamnya.

"Mari kubantu."

Ia terlonjak kaget, lalu berbalik. Sehun berdiri di ambang pintu yang terbuka, masih mengenakan jas hitam dan kemeja putihnya. Ketika denyut jantungnya sudah kembali normal, ia menegur pria itu. "Kau membuatku kaget setengah mati. Bagaimana kau bisa masuk?"

"Kami mengikutimu pulang."

"Kami? Haowen mana?"

"Aku menyuruhnya pulang ke rumahku. Tadinya dia tidak mau pergi, tapi aku bilang padanya bahwa perbincangan kita hanya untuk orang dewasa dan dia tidak termasuk di dalamnya."

"Perbincangan apa?"

"Perbincangan yang baru akan kita mulai. Pertama-tama aku mau tahu dulu bagaimana kau mengatasinya."

"Maksudmu mengenai ibuku?" Sehun mengangguk. "Aku sudah merasa tenang karena aku tahu ibu pun sudah tenang. Pada akhirnya."

"Bagus. Sebelum kita lanjutkan, sebaiknya kita buka dulu gaun itu." Sehun melangkah masuk. "Berbaliklah."

"Aku tidak akan membuka gaunku, Sehun. Kalau kita mau berbicara, aku lebih suka tetap memakainya."

Sehun tampak segan untuk berdebat. "Terserah, tapi aku mau melepaskan beberapa hal." Ia membuka jas dan dasinya dan melempar keduanya ke ujung tempat tidur Luhan. Ia membuka kancing kerahnya dan menggulung lengan kemejanya. "Nah, sekarang lebih enak."

"Sebenarnya aku senang kau di sini," ujar Luhan. "Aku juga perlu bicara."

"Silakan."

"Kau duluan."

"Oke." Sehun bertolak pinggang, mengambil napas dalam-dalam, dan menatap lantai di antara kakinya untuk beberapa detik sebelum menengadahkan matanya untuk menatap Luhan. "Haowen dan aku sudah membicarakan hal ini, Luhan."

"Membicarakan apa?"

"Kami ingin pergi ke pengadilan dan secara resmi mengganti namanya menjadi Oh."

Kata-kata itu menghunjanmya bagai sebilah tombak. Ia nyaris meratap pedih. Mengubah nama Haowen akan mengkhiri segalanya. Nama itu akan memperkuat identitas Haowen. Dia akan menjadi anak Sehun. Bukan anaknya.

"Aku mengerti," ujarnya parau.

"Aku ingin mengakuinya di hadapan publik."

"Kau tidak perlu melakukan hal itu, Sehun. Ancaman ibuku untuk membeberkannya di hadapan publik tidak akan pernah terjadi."

"Aku tahu, tapi pengakuan di hadapan publik menjadi penting sekarang. Bahkan, aku ingin semua orang untuk tahu siapa Haowen dan betapa berartinya dia bagiku. Aku menelepon orangtuaku pagi ini dan memberitahu mereka tentang Haowen."

"Apa yang mereka katakan?"

Sehun menggelengkan kepalanya dengan rasa sesal. "Maksudmu setelah rasa kagetnya hilang? Mereka langsung mau terbang kemari akhir pekan depan untuk menemui cucu laki-laki mereka. Haowen berbicara pada mereka berdua dan kurasa akan membuat tagihan telepon interlokal melambung tinggi. Itulah yang disebut cinta."

Luhan merasa tercekat, dan langsung memunggungi Sehun lalu berjalan menuju jendela lagi "Baguslah. Aku turut bahagia bagi Haowen." Ia berhenti sebentar. "Sehubungan dengan berita itu, untungnya aku sendiri juga sudah membuat keputusan."

Bahunya yang kecil terangkat ketika ia menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan melawanmu untuk memperoleh hak perwalian, Sehun. Pertama, aku tidak bisa bersaing. Kau adalah ayah kandungnya. Kredibilitasmu sudah tidak perlu dibuktikan. Aku sudah menjadi orangtua yang hebat, tapi sejauh ini kelihatan nya kau juga melakukannya dengan baik, yang harus kuakui, mengejutkanku. Kedua, aku tidak akan menempatkan Haowen dalam posisi dia harus memilih salah satu di antara kita. Dia menyayangiku. Dia menyayangimu. Kurasa kita berdua menyayanginya dan menginginkan yang terbaik. Dia senang tinggal bersamamu. Dia menginginkan namamu. Kurasa membiarkannya tinggal bersamamu seterusnya adalah hal terbaik. Aku berencana untuk mengatakan hal itu padanya."

Tenggorokannya terasa perih dan tercekat oleh emosi. Ia nyaris tidak dapat mengeluarkan suaranya. "Lagi pula dalam dua tahun dia bakal pergi kuliah kok."

Luhan menundukkan kepalanya. "Aku tidak sepenuhnya egois, kau tahu. Sejak Ji hyo memberitahuku dia sedang hamil, aku menginginkan bayi itu karena aku menginginkan seseorang untuk dicintai, seseorang yang akan membalas cintaku. Seorang anak yang kubesarkan, dan akan mencintaiku dengan sendirinya.

"Ji hyo memonopoli perhatian orangtuaku walaupun itu perhatian negatif. Dia membuat orangtua-ku lelah. Mereka hanya memiliki sedikit energi untuk dicurahkan padaku. Jadi aku membutuhkan Haowen sebesar dia membutuhkanku."

Ia menengok ke belakang, menatap Sehun. "Tapi dia sudah tidak membutuhkanku untuk mengurusnya lagi. Dan aku tidak bisa membebaninya dengan tanggung jawab untuk membuatku bahagia, memenuhi kebutuhanku. Aku tidak akan melakukannya."

"Aku terpaksa harus menyela," ujar Sehun. "Apakah kau tidak terlalu keras pada dirimu sendiri?"

"Aku tidak berusaha terdengar seperti seorang martir. Jangan berpikir aku melihat diriku seperti itu. Seharian aku mempersiapkan pidato ini. Setiap kata yang kuucapkan adalah ungkapan hatiku. Tolong biar aku selesaikan. Masih ada yang lain." Sehun memiringkan kepalanya, menyuruhnya melanjutkan.

"Apa yang terjadi pagi ini..."

"Hmm?"

"Ada beberapa alasan mengapa hal itu sampai terjadi."

"Yang pasti pemanasannya bagus."

"Sehun, tolong."

"Maaf." Sehun melambaikan tangannya dengan tidak sabar.

"Aku merasa sangat sedih atas kematian ibuku. Tidak berdaya, kau tahu. Seperti bertanya-tanya apa gunanya hidup ini kalau harus berakhir dengan memelas seperti itu?"

"Aku mengerti. Kau membutuhkan kontak dengan manusia lain, dan penegasan bahwa hidup ini memang memiliki arti."

"Ya," ujar Luhan, diam-diam merasa terkejut karena Sehun dapat memahaminya dengan baik dan mampu menyuarakan apa yang dirasakannya. "Tepat. Dan—"

"Masih ada lagi?"

"Saat itu aku sangat emosional."

"Kau mencari suatu cara untuk menyalurkan emosimu. Dan penyaluran puncak kepedihan emosi dan fisik itu adalah seks."

"Benar," ucap Luhan pelan.

"Sudah selesai?" tanya Sehun, bergerak mendekatinya.

"Ya."

"Pembohong."

Kepala Luhan langsung terangkat. "Apa?"

"Kau berbohong. Ada alasan lain yang membuat mu bercinta denganku." Sehun mengangkat dagu Luhan dengan jari-jarinya. "Kau mencintaiku. Benar kan, Luhan?" Luhan menelan ludah, membasahi bibirnya, dan berkedip. "Ya, kan?" ulangnya.

Luhan memejamkan matanya dan menganggukan kepalanya.

"Akulah bajingan tolol yang membuatmu patah hati."

"Kau tidak melakukannya dengan sengaja," ujar Luhan, membuka matanya yang berair. "Kau hanya membuatku tidak bisa mencintai laki-laki lain. Bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa cinta monyet seorang remaja bisa bertahan sampai selama ini."

Luhan merasa bebannya selama tujuh belas tahun ini mulai terangkat dari hatinya. Kebebasan untuk menyatakan cintanya pada pria itu layak dibayar dengan sebagian harga dirinya.

"Aku selalu mencintaimu. Saat kau bergulingan di selimut pantai dengan kakakku. Saat kau terbang ke angkasa. Saat kau tiba-tiba menyerbu pekarangan rumahku, marah-marah karena surat-surat kaleng itu. Aku selalu mencintaimu, Oh Sehun."

Sehun menyelipkan lengannya di sekeliling tubuh Luhan dan menariknya mendekat. "Luhan, Luhan-ku sayang, perlu waktu lama untuk menyadarinya, tapi aku sangat mencintaimu." Ia menundukkan kepalanya dan mengecup kening Luhan di bawah poninya.

Namun saat Sehun menarik diri, keningnya berkerut. "Pidatomu hebat juga, tapi tiga perempatnya hanyalah omong kosong. Haowen tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanmu dan tinggal bersamaku selamanya. Dia mengatakan hal itu kepadaku berkali-kali dan tanpa kompromi. Bahkan aku tidak akan kaget kalau saat ini dia sedang berkemas untuk pulang."

"Selain itu aku tidak pernah menganggapmu seorang martir. Kau jelas tidak egois. Bahkan, bisa dibilang kau adalah orang paling tidak egois yang pernah kukenal. Kau memiliki kapasitas besar untuk mencintai, yang membuatku ingin meminta bagian." Ia menyapukan bibirnya ke bibir Luhan.

"Dan kalau kau membiarkan aku menyelesaikan pidatoku sebelum kau memulai pidatomu, kau akan tahu bahwa Haowen bukanlah satu-satunya orang yang namanya ingin kuganti menjadi Oh."

"Apa?"

"Kurasa perubahan nama dan pernikahan dapat ditangani oleh seorang hakim. Sambil menyelam minum air. Hanya dibutuhkan satu perjalanan ke pengadilan, dan karena parkir di pusat kota mahal—"

"Sehun!"

"Apa?"

"Kau mau menikah? Denganku?"

"Tentu saja denganmu. Kau akan menjadi ibu bagi semua anak-anak ku di masa mendatang." Sehun menumpangkan sebelah tangannya di atas perut Luhan dan menelusurinya ke bawah. "Bahkan, karena aku melanggar aturanku sendiri ketika bersamamu dan tidak menggunakan kondom, mungkin sudah ada seorang anak yang tumbuh di dalam sana."

Sehun menciumnya pelan dan menautkan bibirnya di bibir Luhan saat ia menambahkan, "Terakhir kali aku lupa memakai kondom aku kehilangan banyak, jadi aku mau menggiringmu ke altar secepat mungkin. Aku ingin bayiku yang lainnya mendapatkan haknya, seperti keabsahan yang tidak diperoleh Haowen."

Ia menangkup payudara Luhan, ibu jarinya mengusap puncaknya hingga menegang. "Aku ingin melihatmu menyusui anak-anak kita."

"Sehun." Luhan mengulurkan tangan ke pipi pria itu dan membisikkan nama pria itu dengan nada memuja.

Sehun memiringkan kepalanya dan mencium Luhan tanpa ditahan-tahan lagi. Luhan mengalungkan lengannya di leher Sehun saat lidahnya dengan aktif bertemu dengan lidah Luhan, menampakkan sensualitas yang ada dalam dirinya namun dipendam khusus bagi pria ini.

"Ada beberapa peraturan dalam rumah," ujar Sehun keras, selagi ia masih mampu berpikir jernih. "Kau terus menjadi dirimu sendiri yang hebat itu. Aku akan menjadi suami yang setia namun keras."

"Suzette dan cewek-cewek seperti dia harus menyingkir."

"Setuju. Lagi pula aku akan punya istri yang selalu siap melayaniku." Senyum Sehun pelan-pelan menghilang dan matanya menatap mata Luhan dengan sungguh-sungguh. "Satu-satunya yang tidak dapat kulepaskan, Luhan, adalah pekerjaanku. Kalau aku tidak menjadi penerbang, aku bukanlah Sehun. Kalau aku bukan Sehun, kau tidak akan mencintaiku. Oke?"

"Oke."

"Nantinya akan terasa menakutkan," lanjut Sehun masih dengan nada serius. "Pihak keluarga melewati waktu-waktu yang menegangkan saat program penjelajahan luar angkasa dimulai. Aku sudah melihat hal itu menimbulkan kecemasan yang luar biasa. Aku sudah melihat hal itu menghancurkan pernikahan."

"Pemikahan lain tidak memiliki aku," ujar Luhan dengan gerakan kepalanya yang penuh percaya diri "Aku kuat. Dan aku memiliki kesabaran yang tinggi. Lihat saja berapa lama aku menunggumu."

Mata Sehun menjadi gelap oleh gairah. "Aku tahu perasaan itu." la menyesuaikan tubuhnya dengan tubuh Luhan, meyakinkan Luhan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mengulurkan tangannya ke punggung Luhan, meraih ritsletingnya. "Bisakah kita melepaskan gaun ini sekarang?"

.

.

The End

.

HunHan

.

.

.

Jangan minta epilog ya, karena memang gak ada. Haha

.

Terima kasih sudah membaca