Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, Bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[i – obrolan dan pertemuan pertama (i)]
.
.
.
Setelah beberapa hari bertanya-tanya tidak jelas di grup sembari mendekatkan diri satu sama lain, akhirnya yang kami semua—kami semua dalam artian mahasiswa baru—tunggu-tunggu datang juga.
Tugas OSPEK.
Bukan OSPEK-nya kok, yang kami tunggu. Setidaknya bagiku, sih.
Yowane Haku: Tugas buat OSPEK udah ada, nih. Cek coba di Tuiter sama Layn.
Menuruti perkataan manusia dengan display name Yowane Haku itu, aku akhirnya membuka kedua aplikasi yang dimaksud. Layn, untungnya, memang selalu kubuka hampir setiap saat, jadi tidak ada masalah saat harus melakukannya untuk mengerjakan tugas yang dipinta. Lain halnya dengan Tuiter.
Tuiter sudah kuhapus dari ponselku. Terpaksa harus kuunduh ulang.
"Ck, memori gak cukup, lagi!" keluhku sambil membuka daftar aplikasi ponsel dan menghapus beberapa yang tidak diperlukan. Masalah utamanya, kalau memori ponselku saja tidak cukup untuk menampung Tuiter, bagaimana aku bisa mulai mengerjakan tugas-tugasnya?
Demi. Mengerjakan. Tugas.
Aku merasa jadi manusia paling rajin sedunia, entah mengapa.
Dengan mengandalkan sisa memori bekas penghapusan data, akhirnya aku berhasil mengunduh Tuiter yang kemudian memunculkan notifikasi "storage space running out" pada ponselku tercinta.
Tidak apa, aku sudah terbiasa.
Menyesuaikan dengan perkataan Haku, aku membuka akun resmi panitia yang menyediakan daftar barang yang harus dibawa dan dibuat untuk OSPEK nanti. OSPEK di Universitas Voca terbagi menjadi tiga tahap, mulai dari OSPEK Universitas, OSPEK Fakultas, lalu OSPEK Jurusan atau Program Studi—setiap universitas punya nama sendiri untuk menamai ini. Kebetulan di Universitas Voca disebut sebagai jurusan.
Untuk OSPEK Universitas, sebenarnya tidak ada sangsi bagi mereka yang tidak mengikuti. Begini, ada kurang lebih tujuh ribu mahasiswa baru yang di-OSPEK secara serentak di sana. Mana mau panitia melakukan pemeriksaan massa satu demi satu? Hilang seratus orang pun mereka belum tentu tahu, 'kan?
"Botol minum satu liter, alat tulis, buku merah-putih, bekal makan siang..." Aku terus menggeser layar ke bawah, membaca daftar berikutnya yang terpotong akibat keterbatasan layar. Malangnya ponselku yang mungil. "Karton putih dibungkus plastik, tas warna gelap, sepatu hitam dengan tali putih, seragam putih-abu... ini kenapa ribet banget, deh?"
Walau kesal, aku tetap menggeser layar. Masalahnya, mau sekesal apapun aku pada aturan menyulitkan yang sama sekali tidak menyenangkan ini, aku harus tetap melaksanakannya. Sebagai pribadi yang baik dan akan berguna bagi bangsa dan negara, dong.
Ea.
Oke, skip pameran absurd mengenai diriku sendiri ini.
Omong-omong, kembali ke masalah barang yang harus dibawa untuk OSPEK, aku baru melihat daftar bawaan wajib untuk OSPEK Universitas.
"Jurusan, jurusan, jurusan," gumamku sambil menutup aplikasi Tuiter yang warnanya bernuansa biru-putih, lalu membuka Layn yang didominasi warna hijau. Aku terus menggeser layar hingga menemukan apa yang kucari—untung saja obrolannya belum kuhapus dari daftar.
"Atribut wajib untuk OSPEK..." Aku mengerutkan dahi kala membacanya. Kalian juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau jadi aku. Yah, mungkin. "Buku bentuk sigma, name tag bentuk gamma, buku kumpulan biodata bentuk rho, terus... oh, alas duduk bentuk segi empat belas."
Kujauhkan ponsel dari pandanganku. Pegal juga lama-lama melihat layar terus. Sepertinya mataku sudah terkontaminasi oleh radiasi.
Lalu aku berpikir. Menerawang lebih tepatnya.
Segi... empat belas..
Bagaimana cara membuat segi empat belas yang baik dan benar untuk alas duduk? Belum lagi setiap sisi dihiasi oleh segitiga-segitiga menyebalkan yang membuat alas duduk tersebut, kalau dari jauh, terlihat seperti matahari yang sering ada di buku anak TK.
Omong-omong, warna alas duduknya memang kuning dan merah.
"Ukuran!" Seolah disambar petir di siang bolong, aku kembali memfokuskan pandangan terhadap layar ponselku. Apa yang kulihat tadi hanyalah bentuk atribut secara umum, belum ukurannya. Bagaimana kalau ukurannya dibuat seperti...
Ting-tong.
Untuk mendapatkan ukurannya, kita harus mengerjakan soal Matematika terlebih dahulu.
Oh, soal Statistika juga ada, tetapi hanya terbatas pada modus, median, mean, dan pembuatan tabel.
Yah, mana mungkin juga kami disodorkan soal tingkat atas hanya untuk mengerjakan ukuran atribut OSPEK. Panitia juga tidak mau ambil pusing, 'kan?
Coba kerjakan soalnya, ah.
.
Soal pertama:
180 150 155 160 158 170 167 167 163 155 173 155 155 155 160 160 165 163 170 171
Berdasarkan data di atas, buatlah tabel distribusi frekuensi sesuai Aturan Sturgest. Pertanyaannya, berapakah frekuensi kelas kedua?
.
Mataku harus mengerjap beberapa kali dulu saat melihat soal tersebut.
Tidak susah sih, tetapi menyusahkan...
Ke laut aja sono, batinku kesal sambil kembali menekan tombol lock pada ponselku. Nanti saja kukerjakan, kalau mood belajarku sudah kembali ke dunia nyata.
Layn~
Tiba-tiba, ponselku berbunyi tanda notifikasi Layn masuk. Kembali kugeser layar untuk sekedar melihat siapa yang mengirim pesan padaku pada siang hari begini.
Tumben, maksudnya. Selain Gakupo, biasanya tidak ada yang suka mengirim pesan kepadaku—kecuali kalau ada butuhnya, sih.
Rin.
"Loh? Siapa, ya?" Sebelum membuka pesan tersebut, aku mengerutkan dahi terlebih dulu. Yaaah, benar-benar mengerutkan dahi—secara harfiah. Aku berusaha mengingat dulu manusia dengan display name bernama Rin ini asal-muasalnya dari grup mana.
Barulah aku ingat bahwa dia adalah calon teman satu jurusanku nanti.
Rin: Lukaa~
Luka: Iyaa?
Rin: Kamu udah mulai ngerjain soal osjur?
Luka: Ngerjain mah belum, tapi udah liat. Kenapaa? Kamu udaah?
Rin: Belum juga sih, tadinya mau ngajak ngerjain bareng-bareng biar nggak mager...
Oh? Ada yang malas juga rupanya.
Luka: Oh... kebetulan, aku juga mager.
Rin: Sama aja, ya... (dad)
Aku tergelak pelan. Mengapa aku bisa mengobrol sebegini random-nya dengan orang yang baru kukenal, ya? Dikenalnya tidak elit—lewat dunia maya pula! Untung nantinya akan jadi teman dunia nyata.
Luka: Iya nih, kayaknya nggak bakat ngerjain sekarang, deh... (dad)
Luka: Omong-omong, nama kamu Rin aja?
Dalam hati, setelah bertanya seperti itu, aku berharap dia tidak akan menjawabnya dengan jawaban klise seperti "Nggak kok, namaku Rin bukan Rin aja". Jawaban tipikal ini bisa membuatku seketika banting ponsel ke Palung Mariana.
Serius.
Rin: Nggaaak, itu nama pendek.
Luka: Hoo... emang nama lengkapmu apa?
Rin: Kagamine Rinasyalalasyalili.
Luka: ... oke, aku panggil Rin aja kalo gitu.
Rin: Kalo Luka nama lengkapnya apa?
Rin: Btw, Luka-nya bukan luka secara harfiah, 'kan?
Luka: Bukan, bukan! Bukan hatiku terluka, bukan!
Rin: Kenapa contohnya harus itu...
Luka: Wkwkwk.
Luka: Oh ya, ngejawab yang tadi, nama lengkapku Megurine Luka.
Rin: Hoo... oke, oke. Salam kenal, Luka~
Luka: Yap, salam kenal juga, Rin...
Luka: ...asyalalasyalili.
Rin: LOL.
Rin: Salam kenal juga, Luka~
Selesai mengobrol dengan Rinasyalalasyalili itu, iseng kubuka foto profilnya dan kuperhatikan baik-baik. Hmm... ada dua manusia di sana, yang satunya berkacamata dan bertudung merah, yang satunya tidak. Entah mengapa, walau belum pernah bertemu dan aku tidak berniat menanyakan perihal ini kepada Rin, si tudung merah ini adalah Rin.
Mungkin ini hanya firasatku yang ngawur seperti biasanya.
Ya, sudahlah.
Aku menutup obrolanku dengan Rin, lalu kembali membaca soal ukuran atribut OSPEK. Mungkin aku harus mencoba soal lain, siapa tahu jawabannya lebih mudah.
.
Soal kedua:
(144 + 50 x 2 – 12 : 3) : (3 x 2) = ?
.
Bisa-bisanya aku tidak melihat soal semudah ini tadi.
"Dasar Luka gak teliti," makiku gemas sambil mengambil secarik kertas dan sebuah pensil mekanik yang berada di dekatku. Langsung saja kukerjakan soal itu tanpa pikir panjang.
Layn~
Lagi, notifikasi Layn di ponselku berbunyi. Grup angkatan rupanya.
Utatane Piko: Ada yang udah mulai ngerjain soal-soal atribut? Gue mau nyamain jawaban.
Senyumku mengembang melihat kalimat itu. Baguslah, ada teman seperjuangan yang, siapa tahu, nanti bisa membantuku mengoreksi jawaban-jawaban yang kudapat.
Yah, walau baru satu soal sih, yang berhasil kukerjakan barusan.
K. Lenka: Belum.
HL: Rajin amat, daah.
Meito: Blm.
Kokone: Beluuum~ kalo ada yang udah mulai, kirim sini, ya. Hehehe~
Luka: Aku udah mulai.
Utatane Piko: Sip. Samain jawaban ya, Luk.
Luka: Oke.
.
.
.
Dua minggu setelah ajang bagi-bagi ukuran itu adalah waktunya pertemuan pertama kami.
Pertemuan pertama kami—secara langsung, kalau secara maya 'kan, sudah lewat—juga bisa dibilang tidak mengesankan-mengesankan amat. Tentu saja hal yang mempertemukan kami semua adalah satu-satunya hal yang pasti dialami mahasiswa baru sebelum menjadi penguasa kampus.
OSPEK.
Lebih tepatnya, OSPEK Jurusan.
HL: Pokoknya besok kita kumpul di basement balai utama kampus jam 10, ya. Kita bagiin biodata masing-masing.
Sebenarnya aku tidak kenal siapa manusia yang hidup dengan display name HL—yang kuketahui ternyata bernama lengkap Hibiki Lui—ini. Hanya saja, melihat namanya yang begitu mendominasi ruang obrolan hampir setiap hari, rasanya tidak salah juga kalau aku menuruti omongannya. Toh, omongannya juga tidak mengandung kesesatan berarti.
Singkat cerita, kalimat itulah yang membuatku kini berada di depan gedung balai utama kampus.
Luka: Kalian dimana?
...
Hening.
Belum ada yang membuka obrolan grup rupanya.
Mengapa di saat mendesak seperti ini malah tidak ada yang membaca sama sekali, sih?!
Read by 1.
Mataku spontan membelalak. Ayo jawab, ayo jawaaab...
Yowane Haku: Udah di basement, koook. Masuk aja, kita agak di ujung dekat tangga.
Setelah memantapkan hati, aku berjalan perlahan memasuki gedung. Untuk ukuran balai yang seharusnya jarang dipakai kecuali pada jam-jam tertentu, gedung ini termasuk ramai. Hampir aku tidak menuruni tangga menuju basement kalau saja rombongan orang yang melintas di dekatku tidak berpindah tempat.
Aku menuruni tangga, lalu menyadari kejanggalan lain.
Tangga di basement ada...
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
...
Sweatdropped.
"Ini tangga yang manaaa?" gumamku setengah gemas setengah panik sambil kembali mengakses ponsel. Duh, rasanya tidak enak kalau banyak bertanya di grup hanya untuk urusan sepele seperti ini, tapi...
Luka: Kalian dimananya? Tangganya ada empat...
Luka: Aku pakai blus warna peach.
Sedetik setelah mengirim pesan itu, aku segera merasa tolol sebab saat kupalingkan wajah, dua atau tiga orang dari sebuah lingkaran berisi belasan orang melambaikan tangannya ke arahku. Oh, itukah...?
Kuhampiri lingkaran itu sambil menggumamkan kata-kata, "Statistika Voca?"
Mereka mengangguk. "Luka, ya?"
... aku merasa bersalah telah memberi ciri-ciri pakaianku pada mereka.
"Iya, hehe," jawabku canggung sambil memosisikan diri di sela dua orang perempuan yang tidak kukenali. Aku menatap orang yang duduk di samping kananku. "Kamu siapa?"
"Haku," jawabnya sambil mengulurkan tangan. Tentunya kubalas uluran tangan itu dengan uluran tanganku pula.
"Luka." Aku mengulang namaku sebelum menatap orang yang duduk di sebelah kiriku. "Kalo kamu siapa?"
"Miku," jawabnya dengan senyum. "Hatsune, bukan Zatsune. Hehehe."
"Ooh." Aku menganggukkan kepala sembari membulatkan mulut. "Miku, ya. Aku Luka."
Basa-basi sedikit, sebelum kami membahas alasan utama kami semua berkumpul di tempat ini. Namanya teman baru, pasti butuh berkenalan, bukan?
"Oh." Aku mengalihkan pandang, bermaksud mengedarkannya kepada mereka semua yang ada dalam lingkaran ini. Duh, aku merasa menyesal karena tidak pandai menghapal wajah orang. Aku jadi sedih. "Kalian udah bagi-bagi biodata?"
Semuanya spontan menggeleng.
Lah?
"Ya udah, kita bagi-bagi aja sekarang," usulku sambil menghitung jumlah manusia di dalam lingkaran ini. Ada... sebelas orang.
Sebelas lembar, batinku sambil mengambil setumpuk biodata yang telah kusiapkan dengan sedemikian rupa—kutulis dengan rapi, kutempeli foto dengan indah, bahkan tanda tanganku saja kugarisi dengan niat penuh—lalu memisahkan sebelas lembar teratas. Kuoper kertas-kertas itu kepada Haku. Dia juga melakukan hal yang sama ke orang di sebelah kanannya sampai akhirnya, aku kembali mendapat sebelas lembar kertas dengan isi yang berbeda-beda.
"Udah semua, 'kan?" tanyaku setelah menghitung jumlah biodata yang kudapat dengan benar. "Aku... balik duluan, ya? Ditungguin soalnya."
"Hati-hati, Luk," balas mereka setengah serempak. Beberapa di antaranya melambaikan tangan, sedangkan beberapa masih sibuk membuat atribut OSPEK yang masih setengah jadi.
Atributku sih, sudah kuselesaikan semua di rumah. Hehe.
Kembali aku berjalan menyusuri tangga basement—kali ini ke atas—sambil menatap ke depan. Kalau sedang berjalan, tatapanku memang biasa fokus ke depan sehingga seringkali aku tidak melihat batu, jalan menanjak, anak tangga, atau benda-benda sejenis yang dapat membuat kaki terantuk.
Untungnya, saat ini kakiku berhasil melakukan negosiasi dengan anak tangga untuk tidak membuatku terjerembap.
Sesampainya di lantai pertama balai utama kampus, aku berbelok ke arah jalan keluar. Setengah panik karena khawatir tidak dapat mengingat jalan keluar, aku berjalan. Dalam hati merapal berbagai macam doa yang bisa kuingat agar tidak tersesat.
"Permisi."
Tiba-tiba aku dihadang oleh seorang perempuan berkacamata dan berjaket merah.
Kagamine Rinasyalalasyalili?
"I-iya?" balasku terbata-bata. Bukan karena takut, aku hanya terkejut karena tadi sedang fokus menghapal jalan keluar dari balai utama.
"Statistika Voca, bukan?" tanyanya padaku.
"Iya..." Lalu kepalaku menunduk sedikit—si tudung merah ini lebih pendek dariku soalnya. "Kamu siapa?"
"Rin..." balasnya. "Luka, 'kan?"
Ternyata firasat kami satu sama lain benar. Hahaha.
"Iya," anggukku. "Ada apa?"
"Tadi yang kumpul Statistika Voca dimana, ya?" tanyanya lagi padaku. Matanya lalu mendelik ke arah perempuan di sebelahnya, yang sepertinya mencari lingkaran Statistika Voca juga sepertiku tadi.
"Oh, ada di situ." Aku membalikkan badan lalu menunjuk ke arah tangga basement. "Turun aja, terus lurus. Mereka ada di pojok, agak dekat tangga ujung."
"Tuh, di sana," kata Rin pada perempuan yang sejak tadi tidak bersuara.
"Makasih," respon si perempuan itu sebelum buru-buru berlari menuju tempat yang kumaksud tadi.
"Iya, makasih!" Rin juga mengucapkan itu padaku sebelum berlari menyusul temannya yang tadi.
Siapa ya, perempuan yang tadi itu? Teman angkatanku juga, bukan? Display name-nya di Layn apa, ya? Atau... perempuan yang tadi itu adalah orang yang ada di foto profil Rin? Mereka teman SMA, mungkin?
Memutuskan untuk tidak berpikir lebih panjang lagi demi kesehatan otakku, akhirnya aku pergi.
Dan itulah kisah pertemuan pertamaku dengan Kagamine Rinasyalalasyalili yang kalau dipikir lagi, sama sekali garing dan tidak berkesan. Entah apa yang membuatku bisa tertarik untuk berteman dengannya—dan entah apa yang membuatnya betah berteman denganku.
Omong-omong, ternyata nama Kagamine Rinasyalalasyalili itu ia buat untuk mengerjaiku saja. Nama lengkapnya hanya Kagamine Rin, kok.
.
.
.
TBC
A/N.
Halo! Ketemu lagi dengan saya di chapter pertama Bukan Sekadar Wacana! \(*w*)/
Untuk chapter-chapter awal (mungkin sampai chapter tiga), saya akan menjelaskan dulu pertemuan awal antara Luka dengan tiga karakter utama lainnya. Satu per satu ya, kalau digabung dalam satu chapter gak akan nyambung masalahnya... secara timeline, waktu pertemuan dengan mereka gak ada yang sama alias kagak ada irisannya. ;v;
Oh ya, karya ini kemungkinan akan di-update setiap hari Minggu. Kemungkinan loh, ya. Bisa jadi maju, bisa jadi mundur. /heh
Akhir kata, ditunggu komentarnya! /o/
