Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[ii – obrolan dan pertemuan pertama (ii)]
.
.
.
Pertemuanku dengan Meiko tidaklah se-absurd pertemuanku dengan Rin. Kami belum pernah mengobrol lewat Layn sebelumnya—aku memang tidak pernah memulai obrolan lebih dulu dengan siapapun, biasanya mereka yang mulai duluan—baik melalui obrolan pribadi maupun grup. Akan tetapi, karena memang pernah beberapa kali melihat namanya muncul di grup, jadilah kurang-lebih namanya sudah familiar dengan telingaku.
Kisah pertemuan pertama kami dimulai saat open house fakultas dan jurusan yang diadakan satu minggu sebelum OSPEK Jurusan dimulai. Pada hari itu, kami semua—mahasiswa baru—beserta orang tua masing-masing diundang oleh universitas untuk menghadiri acara tersebut. Yah, mungkin semacam transparansi kurikulum, kegiatan internal, dan sebagainya. Aku juga kurang paham esensi dari acara itu sih, sebenarnya.
Selama acara berlangsung, yang dilakukan oleh teman-teman satu angkatanku—dan aku juga—adalah mengobrol di obrolan grup. Semuanya saling tumpang-tindih berbicara mengenai duduk di barisan belakang, kumpul setelah acara selesai, mengantuk lah, ini lah, itu lah, dan segala-galanya yang bisa dibahas di dalam obrolan grup. Kasarnya sih, mereka tidak begitu menyimak apa yang disampaikan selama open house—aku lebih parah sih, sempat tertidur di tengah penjelasan.
Setelah penyampaian materi open house dari para dosen selesai, para mahasiswa baru diboyong mengelilingi gedung. Kami dikenalkan dengan ruangan-ruangan di dalam gedung kuliah yang akan kami tempati selama kurang lebih tujuh semester ke depan, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, laboratorium komputer, hingga ruangan pribadi dosen—yang tentu saja tidak kami masuki semuanya. Secara umum, karena gedungnya memang tidak begitu besar, informasi yang diberikan dapat kuserap dengan cepat. Lagipula, kalau memang lupa, di atas setiap pintu terdapat nama ruangannya, kok.
Sambil berlaku sok sibuk mendengarkan penjelasan dari seseorang yang tidak kuketahui siapa di depan itu, aku memeriksa ponselku kembali.
HL: Habis ini kumpul lagi di basement balai utama kampus buat bagi-bagi biodata, ya.
Masih... saja?
Aku menghela napas lelah sambil kembali meletakkan ponselku di saku. Sebenarnya aku ingin langsung pulang ke rumah untuk mengistirahatkan badan dan menyiapkan diri untuk OSPEK Universitas yang akan dimulai dua hari lagi. Yah, walau aku sudah menyediakan waktu untuk berkumpul dan meminta ibuku untuk pulang lebih dulu, tetap saja rasa kesal itu terbit.
Luka: Oke.
Bersamaan dengan terkirimnya pesan satu kata dariku itu, berakhir pula tur singkat pengenalan gedung yang tengah kami jalani.
Segera kami keluar dari gedung, berkumpul sebentar di depan gedung hanya untuk sekadar menyetor nama dan wajah, lalu berjalan bersama ke balai utama kampus. Sedikit informasi, jarak antara gedung kuliah Statistika dengan balai utama itu sekitar satu kilometer—yang sebenarnya tidak begitu membuatmu kelelahan karena kontur jalannya menurun.
Aku berjalan bersama seorang teman yang baru kukenal. Namanya Yuzuki, dan kami mengobrol ala kadarnya seperti kebanyakan manusia yang baru bertemu untuk pertama kali.
"Atribut kamu udah selesai?" tanyaku pada Yuzuki sembari kami berjalan ke bawah.
"Masih ada yang belum, sih," jawabnya diiringi kekehan pelan malu-malu ala maba. "Kalau kamu?"
"Udah, tinggal biodata ini aja," tawaku ringan. Kemudian aku teringat sesuatu yang belum aku tanyakan kepada teman-teman satu angkatanku ini. "Kamu ngekos?"
"Iya, di Vocaladah," jawab Yuzuki sambil menganggukkan kepalanya. "Dekat sih, kalau lewat belakang kampus."
Sambil ia berkata begitu, aku sibuk berpikir bagian mana yang pantas disebut bagian belakang kampus. Sepertinya persepsiku dengan Yuzuki mengenai bagian belakang ini agak berbeda. Atau hanya aku yang berbeda?
"Ooh, gitu," responku seadanya sambil menganggukkan kepala. Aku tidak tahu lagi harus memberi respon apa, atau memperpanjang obrolan dengan pertanyaan apa.
"Kalau Luka, ngekos dimana?" Ia balik bertanya. Syukurlah, perjalananku ke balai utama bersama Yuzuki tidak berakhir dengan keheningan mencekam bak suasana di film horor saat makhluk paling menyeramkan hendak muncul di layar.
"Aku gak ngekos," jawabku sambil menggeleng. "Pulang-pergi. Nggak begitu jauh, kok."
Yuzuki hanya menanggapi dengan anggukan. Yah, aku juga baru sadar setelah kuliah dua semester, bahwa jarak tujuh belas kilometer itu jauhnya luar biasa. Belum dihitung dengan bonus macet, hujan, banjir, dan tidak ada kendaraan umum saat jam malam telah tiba.
Miris, miris.
Setelah berjalan sekitar sepuluh hingga lima belas menit, kami akhirnya tiba juga di balai utama. Seperti pertemuan pertama waktu itu, kami menggunakan kembali tempat yang persis sama—di pojokan dekat tangga yang tangganya ada empat itu, loh.
Berhubung aku adalah salah satu bagian dari kloter terakhir yang berangkat menuju balai utama, aku harus berdesak-desakkan—dengan Yuzuki tentunya—untuk mencari tempat duduk di dalam lingkaran. Masalahnya, balai utama sedang ramai hari ini. Biasa, maba berkumpul untuk membuat tugas—sama saja seperti kami sih, sebenarnya.
Belum berhasil menemukan tempat duduk yang dirasa nyaman, akhirnya aku terpaksa berdiri untuk sementara waktu. Aku berjalan lebih ke pojok, ke tempat dimana banyak perempuan teman seangkatanku berkumpul. Di sana, rupanya mereka sedang mengerubungi seseorang.
Seseorang... siapa? Teman seangkatanku—kami maksudnya—juga?
Tidak berhasil membunuh rasa penasaran tanpa melihat, akhirnya kuhampiri juga kerumunan itu.
"Ada apa, sih?" tanyaku penasaran. Yah, walau tentu saja dalam kerumunan yang berisik seperti ini, aku yakin sembilan puluh sembilan persen pertanyaanku tadi tidak akan disadari siapapun.
Akhirnya kutemukan pusat kerumunan ini setelah berdesak-desakkan sedikit. Perjalanan dari luar kerumunan hingga pusat kerumunan kurang lebih... yah, satu meter, lah.
Di sana dia duduk, seorang gadis berambut coklat pendek dengan kemeja merah. Ia tengah sibuk memegang beberapa lembar kertas merah jambu di satu tangan—yang langsung kuketahui sebagai biodata OSPEK jurusanku—dan selembar foto ukura cm di tangan yang satunya lagi. Anehnya, dia tidak hanya memegang satu lembar foto, tetapi seplastik kecil foto.
Isi plastik tersebut juga tidak satu atau dua lembar foto, tetapi sembilan puluh lembar foto—kurang lebih jumlahnya segitu, sebab aku juga mencetak sembilan puluh foto untuk sembilan puluh lembar biodata. Satu lembar biodata untuk satu orang anak.
"Hehe, aku belum pasang-pasangin foto buat biodata, nih." Tiba-tiba gadis bersurai coklat itu berbicara. Kata-katanya dihiasi kekehan malu campur kode bantuin-aku-pasangin-foto-dong yang sangat kentara. "Boleh minta tolong pasangin? Nanti langsung ambil buat kalian juga boleh."
... ternyata dia tidak berniat menjadikan permintaan tolong itu sebagai kode.
Memutuskan untuk melaksanakan permintaan tolong yang agak memaksa itu, akhirnya kuambil selembar kertas dan selembar foto. Teman-teman satu angkatanku yang tadi ikut mengerumuni gadis itupun melakukan hal yang sama.
Selesai menempelkan satu foto pada selembar biodata, yang aku yakin tidak memakan waktu hingga satu jam, aku berniat mengambil lembaran lain. Akan tetapi, entah kecepatanku kurang tinggi atau bagaimana, tahu-tahu lembaran biodata gadis itu sudah ditempeli foto semua.
Kuulangi, sudah ditempeli foto semua.
Tanpa ada satupun lembar biodata yang masih kosong tanpa foto.
Ini...
Tanpa suara, aku menoleh ke kanan dan kiri. Apa benar-benar tidak ada kertas yang masih kosong? Sama sekali? Apa berarti pekerjaanku—dan yang lainnya—sudah selesai?
Kok, nggak asyik...
"Ini, permisi..." Kuputuskan untuk menghampiri manusia rempong berwujud gadis surai coklat yang masih menempeli beberapa lembar biodatanya dengan foto. "Udah selesai? Gak ada lagi?"
Gadis itu mengangkat kepalanya, lalu menatapku langsung dengan kedua matanya—ralat, ada kacamata yang menghalangi pandangan langsungnya. "Udah? Ya udah, ambil aja biodatanya. Mungkin abis karena yang lain udah pada ngambil kali. Hehe."
Aku mengerjapkan mata. Betapa santainya manusia ini.
"Oke, kalo gitu aku ambil biodatanya," senyumku sambil memasukkan biodata miliknya yang telah kutempeli foto ke dalam plastik biodataku. Kuambil selembar milikku lalu kuserahkan padanya. "Ini, biodataku."
"Oh, oke." Ia menerima kertas tersebut lalu membaca tulisan rapiku—ehem—yang tertera di atasnya. "Megurine Luka, ya? Dipanggilnya apa, nih?"
"Luka aja," balasku ringan. Kuperhatikan kembali biodatanya yang telah kuambil dan kutempeli foto—aku lupa membaca namanya, betapa bodohnya aku—lalu melafalkan namanya perlahan. "Sakine... Meiko?"
Ia mengangguk. "Dipanggil Meiko aja, jangan Sakine. Hehehe."
Menanggapi perkataannya, aku mengangguk. Selanjutnya, kuulurkan tanganku. Hendak bersalaman maksudnya. "Salam kenal ya, Meiko."
Meiko membalas uluran tanganku. "Salam kenal juga, Luka."
Selesai berurusan dengan Meiko dan biodatanya, segera kuambil posisi duduk di dekat tembok. Yah, niat awalnya supaya bisa bersandar, tentu saja. Begitu kulihat ada spot kosong di samping seorang gadis berambut toska, segera saja kuhampiri tempat itu.
"Di sini kosong, 'kan?" tanyaku ragu pada gadis itu sambil dalam hati berharap-harap cemas.
"Oh? Kosong," respon gadis toska itu sambil mengalihkan pandangannya dari selembar kertas merah jambu. Tampaknya dia sedang menulis biodata untuk dibagikan. Yah, mungkin dia memang belum sempat menyelesaikan sembilan puluh biodata untuk dibagikan kepada teman-teman satu angkatan. Aku juga tidak menyelesaikannya dalam waktu kurang dari setengah jam, kok.
"Lagi apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Tidak, aku tidak berniat membantunya menyelesaikan biodata—lagipula, lebih nyaman kalau biodata sendiri ditulis oleh diri sendiri—aku hanya ingin memecah keheningan yang tidak nyaman ini. Aku tidak terbiasa jadi manusia pendiam, terutama jika aku sudah akrab dengan seseorang. Seluruh omongan yang awalnya hanya terlintas di dalam otakku bisa dengan mudahnya keluar dari mulut jika aku sudah merasa nyaman berbincang dengan seseorang.
"Siapa? Aku?" Gadis toska itu—yang tadi sudah mengembalikan fokus kepada kertas—mengangkat kepalanya, menoleh ke arahku. Wajahnya tampak bingung sesaat. Wajah itu baru berubah setelah perkataannya kusambut dengan anggukan. "Oh, aku. Hehe. Lagi nulisin biodata, nih. Ada yang masih belum keisi."
Aku menganggukkan kepala tanpa suara. Kuperhatikan tangannya yang sedang menulis nama pada lembaran kertas tersebut.
Hatsune Miku.
Rasanya nama ini pernah kulihat di suatu—
.
"Luka." Aku mengulang namaku sebelum menatap orang yang duduk di sebelah kiriku. "Kalo kamu siapa?"
"Miku," jawabnya dengan senyum. "Hatsune, bukan Zatsune. Hehehe."
"Ooh." Aku menganggukkan kepala sembari membulatkan mulut. "Miku, ya. Aku Luka."
.
—OH!
"Miku? Kita udah pernah ketemu, ya?" tanyaku agak kaget. Pasalnya, aku tidak ingat pernah melihat wajah gadis ini pada pertemuan pertama angkatan kami untuk berbagi biodata tempo hari.
Gadis toska itu mengangkat kepalanya. Dengan dahi dikerutkan, ia menoleh ke arahku. "Kukira tadi Luka inget aku siapa, makanya aku gak nanya-nanya lagi."
... aku ini benar-benar payah.
"Kita ketemunya waktu... bagiin biodata yang pertama kali itu, ya?" tanyaku agak ragu. Khawatir salah, malu yang kutanggung jauh lebih besar nantinya. "Di sini juga, 'kan? Atau aku salah?"
"Bener, kok." Miku merespon sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Tampaknya ia juga heran dengan tingkat kepikunanku yang kelewat tinggi perihal wajah seseorang yang baru dikenal. "Emangnya Luka gak inget?"
Duh, maafkan ingatanku yang buruk masalah mengingat wajah, deh.
"Samar-samar ingetnya," jawabku sambil ber-hehe ria diiringi garukan tangan pada kepala. "Maaf ya, aku gak gampang inget wajah orang kalau baru kenalan. Harus ngobrol lama dulu baru bisa inget. Hehe."
"Oh..." Miku melantunkan tawa kecil. "Ya udah, kalo gitu kita ngobrol aja supaya kamu inget, ya."
Aku ikut tertawa. "Boleh juga usulnya."
"Tapi aku sambil nulis biodata, gak apa-apa, ya?"
Aku mengangguk pelan. "Santai aja, kok. Oh ya, Miku ngekos dimana?"
Pertanyaan standar, sih. Anehnya, setiap ditanya dimana tempat kos manusia yang bersangkutan, biasanya mereka akan langsung menjawab nama daerahnya. Aku ini semacam merasa seperti cenayang karena secara tidak langsung tahu bahwa mereka tidak pulang-pergi ke rumahnya—seperti aku. Di sisi lain, aku juga merasa tidak punya teman senasib seperjuangan yang sama-sama memperjuangkan rumah berjarak tujuh belas kilometer dari kampus.
Duh, malah jadi curcol.
"Aku nggak ngekos," tandas Miku tanpa menoleh.
Aku sudah siap-siap ingin berbahagia. Ini artinya aku punya teman senasib seperjuangan yang mengandalkan angkutan umum dan angkutan pribadi—saat ini aku belum mendapat izin mengendarai sendiri dari orang tuaku, jadi mau tidak mau aku harus menggunakan opsi pertama—untuk mencapai rumah, 'kan? Benar, 'kan?!
Baru saja aku akan merespon, "Kamu pu—"
"Aku tinggal di asrama."
... tinggal di asrama.
... di asrama.
... asrama.
ASRAMA.
Kokoro ini poteq, Mz.
"Oh," balasku dengan nada miris yang disembunyikan. Cukup aku, hatiku, dan Tuhan yang tahu kalau di situ aku merasa sedih. "Asrama, ya... asrama yang mana? Yang di dekat gedung UKM?"
Satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan perkataanku soal asrama dekat gedung UKM adalah... karena hanya itu gedung Asrama Voca yang kuketahui.
Serius.
"Bukan, yang di atas," jawab Miku, lagi-lagi tanpa menolehkan kepalanya. "Asrama 3."
"Oh, Asrama 3 Voca?" ulangku, berusaha memperjelas maksud dari perkataan Miku. "Kalau Asrama 3 Voca mah, yang di bawah, 'kan? Aku pernah ke sana soalnya."
"Bukan, bukan. Nama gedung asramaku mah, Asrama 3, gak pake Voca."
... hanya beda di keberadaan nama kampus pada namanya, lalu kenapa?
"Emangnya beda ya, Asrama 3 Voca sama Asrama 3 aja?" tanyaku lagi. Kukira, nomor setiap gedung itu berbeda—biasanya juga begitu, 'kan?—sehingga menyebut Asrama 3 Voca dan Asrama 3 sama saja menurutku. Dalam penafsiranku yang sok tahu, Asrama 3 Voca berarti gedung asrama ketiga yang berada di Universitas Voca. Begitu, 'kan?
"Beda, tapi gak tau bedanya dimana." Miku terkekeh mengakhiri jawabannya.
Lah?
Aku tergelak mendengar jawaban Miku. "Seriusan gak tau? Berarti kita harus keliling kampus lagi buat nyari tau."
Kami lalu tergelak bersama.
Dan... yah, itulah kisah pertemuan pertamaku dengan Meiko dan Miku. Yah, kami memang pernah sekadar berkata hai-hai sebelumnya, tetapi pertemuan yang disertai dengan obrolan panjang dan perkenalan diri baru kali ini kami lakukan. Tidak se-absurd pertemuanku dengan Rin, memang, karena kebetulan kami sedang berada di satu forum yang... yah, namanya forum, pasti mengharuskan adanya interaksi, bukan?
Asal kalian tahu, tingkat absurditas kami pada awal pertemuan ini belum menginjak level satu.
Yah, kami memang masih terlihat—ralat, terbaca—seperti mahasiswi normal, bukan?
.
.
.
TBC
A/N.
... entah kenapa chapter ini rasanya kurang sentuhan humor yang greget. (?)
Sebenernya agak susah menceritakan kisah Luka dengan Meiko juga Luka dengan Miku, soalnya saya agak lupa alur aslinya /heh/ jadi ini dibuat dengan cerita yang agak dikarang-karang sedikit.
Tapi tenang, Luka akan tetap lebay sampai akhir hayatnya, kok. /heh
Okee, mungkin segitu dulu aja cuap-cuap saya kali ini. Ditunggu review-nya! :'D
