Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[iv – ospek fakultas (i)]
.
.
.
Hari ini adalah hari OSPEK Fakultas pertama dalam hidupku. Ea.
Tentu saja yang pertama—ini kan, pertama kalinya aku menjadi mahasiswa.
Walau sudah diwanti-wanti sepihak oleh dosen kemahasiswaan jurusanku, tetap saja aku merasa berdosa jika datang tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia. Maksudku, mereka mengatur jadwal karena suatu alasan, loooh. Setidaknya hargailah usaha mereka dengan datang tepat waktu dan turut kepada perkataan mereka. Itu saja, kok. Mudah, bukan?
Setidaknya, itulah yang kujadikan sebagai prinsip. Hargai panitia, sederhana, 'kan?
Singkat cerita, aku datang ke kampus saat langit masih berwarna biru gelap—matahari masih dalam perjalanan menuju terbit. Ibuku mengantarku sampai gerbang depan kampus, lalu aku turun dan menghampiri seorang panitia berjas almamater yang memegang papan kayu bertuliskan "FMIPA".
Nah, itu pasti panitia OSPEK fakultasku.
"Permisi, Kak," ucapku sambil menundukkan badan sedikit. Isi otakku boleh apatis soal segala macam hal yang berkaitan dengan OSPEK, tetapi sopan santun harus tetap jalan, benar?
"MIPA, bukan?" balas kakak itu sambil menatapku. Yah, entah benar-benar menatapku atau hanya mengalihkan wajahnya ke arahku, sih. Masalahnya, idak ada penerangan di sekitar sana. Aku bahkan tidak bisa melihat wajah kakak itu dengan jelas. Ada untungnya juga, sih. Aku lebih khawatir kakak itu tidak berwajah masalahnya.
"Iya, Kak," anggukku walau sangsi sang kakak dapat melihatnya.
"Langsung ikuti barisan yang di sebelah sana aja, ya," ucap kakak itu sambil menunjuk sebuah kerumunan manusia berpakaian sama denganku; kemeja putih, celana dan rok abu-abu, sepatu hitam, serta topi SMA—tidak semuanya menggunakan atribut yang satu ini.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, segera kulangkahkan kaki menuju tempat yang dimaksud. Aku duduk di barisan perempuan, paling belakang karena aku baru saja tiba. Kulihat belum banyak orang ada di sini, mungkin hanya ada empat puluh atau lima puluh orang—total mahasiswa baru fakultas kami sekitar tujuh ratus orang, loh. Aku curiga teman-teman seangkatanku benar-benar melaksanakan perintah Bu Lola kemarin. Ketidakhadiran mereka saat ini saja sudah mengurangi seperdelapan mahasiswa baru fakultas!
Aku terus menunggu di tempat tadi sambil duduk dan sesekali memeriksa ponsel—sebenarnya tidak boleh, tetapi apa daya aku ingin melakukannya. Beberapa kali kakak panitia yang berjaga di depan merapikan barisan kami karena mahasiswa baru yang datang semakin banyak dan tempatnya semakin tidak muat. Akhirnya saat langit berangsur-angsur terang, kami digiring menuju tempat lain, lalu didudukkan sesuai kelompok OSPEK masing-masing.
Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Rin di barisanku.
"Loh, kamu udah dateng?" tanyaku sambil berbisik, khawatir ketahuan panitia yang memerintahkan kami untuk diam soalnya. "Nggak dateng siang kayak kata Bu Lola kemarin?"
"Iya, nggak enak soalnya kalo dateng siang," balasnya juga dengan suara pelan. Hoo... rupanya dia memikirkan hal yang sama denganku. Baguslah, setidaknya aku punya teman seperjuangan. "Ibunya emang bilang nggak apa-apa sih, tapi kasihan panitianya kalo kita dateng telat."
Aku setuju dengan pendapat ini.
"Betul, tuh," sahutku sambil menganggukkan kepala. "Ngomong-ngomong, Teto, Meiko sama Piko mana, ya? Telat kayaknya?"
Rin memasang tampang di-situ-kadang-saya-merasa-sedih lalu merespon, "Kayaknya sih, iya."
"Sengaja telat kayak yang dibilangin si ibu kemarin?" Aku menambahkan sambil berusaha menahan tawa. Sepertinya Teto, Meiko, dan Piko ini—utamanya Meiko—dari gelagatnya adalah tipikal manusia yang... hobi datang mepet. Contoh sederhananya, jika diminta datang pukul tujuh, mereka akan berangkat sepuluh menit sebelumnya tanpa memedulikan seberapa jauh tempat mereka berada kala itu.
Pada akhirnya kuketahui, sifat Meiko memang benar seperti dugaan awalku. Dasar manusia hobi datang mepet.
Rin membalas perkataanku dengan anggukan. "Ya udahlah, nanti juga ketemu di atas."
Aku mengiyakan ucapannya sekaligus mengakhiri obrolan kami pagi hari itu. Setengah cemas, aku masih mengharapkan tiga orang yang tadi kusebut tiba-tiba muncul tepat waktu. Sekali lagi aku tegaskan, walau Bu Lola sudah mewanti-wanti kami untuk datang menjelang jam tujuh alias waktu acara dimulai, tetap saja kita harus menghargai panitia sebagai penyelenggara acara tersebut. Bu Lola mungkin benar, tidak ada gunanya kita datang saat langit masih gelap jika acara memang dimulai satu jam setelah matahari terbit, tetapi ada orang yang berusaha datang lebih pagi untuk mengondisikan kami di bawah kegelapan itu, loh. Saat kami harus berkumpul pukul lima pagi, tentunya panitia harus datang lebih awal, bukan? Bahkan bukannya tidak mungkin jika di antara mereka ada yang sampai menginap di kampus demi menyambut kedatangan kami.
Yah, setidaknya jika kita memang tidak bisa menjadi orang yang menyukai kegiatan-kegiatan wajib di kampus semacam OSPEK yang tengah kujalani sekarang, jadilah orang yang dapat menghargai waktu dan tenaga orang lain. Utamanya, mereka yang menyediakan waktu dan tenaga untuk melayanimu.
Oke, pembahasan di dalam otakku jadi begini melantur. Pokoknya, asalkan kalian menangkap inti dari perkataanku barusan, aku akan batal merasa bodoh karena hobi membahas semua hal hingga ke akarnya. Begitu saja.
Baiklah, kita kembali ke cerita.
Sambil berngantuk-ngantuk ria, seorang panitia laki-laki datang menghampiriku. Dia menyodorkan selembar kertas lalu berkata, "Absen dulu, ya."
Oh, absen. Segera kuterima kertas itu lalu kucari nama lengkapku di daftarnya. "Paraf aja gak apa-apa, Kak?"
"Iya, gak apa-apa," balasnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya. "Udah dapat pita medik, belum?"
For your information, pita medik adalah pita penanda kesehatan yang harus dipakai mahasiswa baru selama kegiatan OSPEK berlangsung. Biasanya, warna pita dibedakan untuk membagi mahasiswa baru ke dalam tiga kelompok medik, yaitu tidak memiliki penyakit berat, memiliki penyakit yang cukup berat, serta memiliki penyakit berat. Warna pitanya, biasanya, biru untuk kelompok pertama, kuning untuk kelompok kedua, serta merah untuk kelompok ketiga. Nantinya pun posisi duduk juga akan diatur berdasarkan warna pita tersebut. Biru di depan, kuning di tengah, sedangkan merah di belakang.
"Belum, Kak," jawabku setelah selesai mengisi daftar presensi yang tadi diberikan si kakak panitia. "Tapi saya udah bawa sendiri."
"Oke kalo gitu." Kakak itu mengangguk sambil mengambil kembali daftar presensi yang tadi ia berikan padaku. "Udah sarapan belum?"
Aku mengangguk pelan. "Udah, Kak."
"Oke. Sekarang, tutup mata dan telinga kamu, ya."
Aku mengiyakan dan segera melakukan apa yang dipinta kakak tadi. Selesai berurusan denganku, dapat kurasakan kakak itu berjalan ke arah orang yang duduk di belakangku—aku tidak tahu dia siapa, pokoknya bukan dari jurusan yang sama denganku. Dia kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan padaku. Prosedur standar mungkin, ya.
"BUKA MATA DAN TELINGA KALIAN!"
Tersentak, aku segera melakukan apa yang diserukan barusan. Apa itu tadi? Ada ledakan? Ada bom? Atau ada granat?
"SEMUANYA BERDIRI!"
"BERDIRI!"
"YANG CEPAT, DONG!"
Cepat-cepat aku bangkit dari dudukku yang sudah nyaman—kalian pasti tahu betapa tidak nyamannya duduk di atas aspal—lalu memfokuskan diri ke arah orang yang berteriak di depan itu. Sepertinya itu panitia bagian Komisi Kedisiplinan atau Tata Tertib atau apalah nama sejenisnya yang berteriak barusan. Drama OSPEK akan dimulai tidak lama lagi, begitu pikirku saat mendengar kerusuhan mendadak yang diakibatkan kakak-kakak panitia tersebut.
"Saya adalah komandan ruangan hari ini!" seru kakak yang ada di depan itu sambil berjalan bolak-balik ke kanan dan kiri. Dalam hati, hal yang kuperhatikan justru kata "komandan ruangan" yang dilontarkannya barusan. Kami kan, berada di lapangan, mengapa dia mengklaim dirinya sendiri sebagai komandan ruangan alias danru? Seharusnya komandan lapangan—danlap, ya?
Oke, skip kerecehan tiada akhir ini.
"Semua mata ada pada saya!" Lagi, Danru berseru. "Semua fokus ada pada saya!"
Sebenarnya aku nyaris salah fokus lagi mendengar kalimat yang pertama. Itu loh, bagian "semua mata ada pada saya" yang menurutku tingkat ambiguitasnya tinggi. Bagaimana kalau ada mahasiswa baru yang agak lambat daya tangkapnya tiba-tiba menghampiri Danru lalu berkata, "Kak, saya nggak bisa ngelepas mata saya dari muka. Gimana caranya saya bisa ngasih mata saya ke Kakak? Tadi Kakak bilang, semua mata ada pada Kakak, 'kan?"
Agak salah sebenarnya membiarkanku berlama-lama mendengarkan kalimat ambigu semacam ini. Bisa-bisa otakku mulai memikirkan hal yang tidak-tidak seperti barusan.
Baiklah, kita kembali kepada Danru.
"Sekarang, angkat name tag kalian ke atas dalam hitungan sepu—BELUM ADA GERAKAN! Fokus pada perintah saya!"
Bagi kalian yang pernah merasakan apa yang kurasakan, kalian pasti tahu betapa menyebalkannya berada di dalam posisi serba salah seperti ini.
Aku menghela napas lelah nan sebal. Kenapa seneng banget bikin maba merasa bersalah, sih...
"SATU!"
Cepat-cepat kulepas name tag yang terkait pada kemeja seragamku. Ah! Sial! Penitinya tersangkut!
"LIMA!"
Kenapa udah nyampe lima lagi? batinku mulai frustasi sambil terus berusaha melepas peniti yang tersangkut. Ini bahaya, ini gawat kuadrat, ini ultra ngeselin demi apapun.
"SEPULUH!"
Syukurlah! Bertepatan sekali dengan penitiku yang berhasil kulepas. Segera kuangkat name tag yang memuat namaku itu, lalu membiarkan panitia lewat untuk memeriksanya.
"Sekarang, turunkan name tag kalian!" Danru kembali memberi perintah. Semua orang sibuk memasang kembali name tag tersebut pada kemeja masing-masing sampai Danru kembali berseru, "Belum ada instruksi beres-beres! Fokus pada kata-kata saya!"
Yah, salah lagi. Apalah daya mahasiswa baru di hadapan para kakak tingkat dan senior yang punya otoritas tinggi dan merasa derajatnya lebih tinggi karena sudah berada di kampus ini lebih lama.
Siklus itu terus berulang hingga tiga atribut selain name tag tersebut semua. Mulai dari label tas, papan nama, sampai buku MB alias MIPA Bersama, semuanya mengalami kejadian yang sama. Diteriaki dari satu sampai sepuluh, disuruh diletakkan kembali, dimarahi karena belum ada instruksi beres-beres, dan dianggap tidak memerhatikan Danru. Aku sih, sudah mulai terbiasa disalahkan oleh panitia—jangan memaknai frase ini dengan "Luka masokis", ya—sehingga teriakan-teriakan seperti itu tidak lagi membuat hatiku mencelos. Daripada mengkhawatirkan itu, aku lebih khawatir terhadap jantungku yang rasanya tidak kuat menerima teriakan-teriakan keras dari kakak-kakak panitia.
Aku ini orang berhati lembut, walau mungkin tidak akan ada yang percaya saat kusebut begitu, jadi aku tidak sanggup jika diteriaki seperti itu. Tentu saja aku berusaha menahan diri, sih. Aku bukan tipikal orang yang akan menyerah karena diteriaki, tahu? Aku akan menyerah saat pandanganku sudah berkunang-kunang. Begitu.
Selesai dengan pemeriksaan atribut—untung saja atributku benar semua, kalau tidak bisa-bisa aku kena semprot Danru dan kawan-kawannya lagi—kami lalu digiring ke Gedung Dekanat FMIPA Universitas Voca. Di gedung itulah, tepatnya di lapangan parkirnya, OSPEK fakultas kami akan dilaksanakan. Kalau aku tidak salah memperkirakan, kegiatan ini akan dimulai tepat pukul tujuh pagi lalu selesai pada pukul empat sore.
Sepertinya aku harus siap-siap mengantuk. Pasalnya, OSPEK zaman sekarang itu tidak lagi mengusung tema "lancarkan kekerasan pada mahasiswa baru" seperti yang dijadikan prinsip pada zaman dulu. OSPEK sekarang itu penuh faedah, isinya pematerian, pematerian, dan pematerian. Aku pribadi sih, memang tidak menyukai sistem kekerasan pada OSPEK zaman dahulu, tetapi bukan berarti aku seketika setuju dengan sistem OSPEK yang dipenuhi pematerian. Bukannya mengompakkan diri satu sama lain, yang ada kami justru tertidur di tengah acara. Siapa yang rugi kalau sudah begini? Panitia rugi waktu, dana, dan usaha karena sudah menyediakan semuanya untuk orang yang tidur, sementara peserta juga rugi karena tidak mendapat ilmu yang telah diberikan.
Yah, semua hal pasti memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing, benar?
"Selamat pagi, semuanyaaa!" Kedua MC berseru riang sambil memegang mikrofon masing-masing, membuka acara di pagi hari yang cerah—mungkin—ini. "Mana nih, semangatnya?"
Peserta OSPEK yang lain bersorak gembira, menunjukkan semangat mereka dalam mengikuti kegiatan ini. Berbanding terbalik denganku yang sibuk membatin dalam hati. Pada dasarnya memang aku tidak pernah merasa antusias mengikuti kegiatan yang tidak aku sukai.
"Kayaknya masih sepi, nih. Jangan kalah semangat dong, sama kita!" seru MC yang laki-laki. "Masih pagi masa lesu cobaa?"
"Iya, kita harus semangat menyambut hari baru!" MC perempuan menyahuti dengan sama riangnya. "Hari baru, semangat baru, OSPEK fakultas baru!"
Krik, krik.
"Garing, heh." Si MC laki-laki menyodok pelan lengan si MC perempuan dengan sikunya. "Nyari bercandaan yang oke dikit, dong."
"Garing, ya? Hehehe." Malu-malu, MC perempuan itu membalas. "Wah, saking asyiknya ngegaring, kita sampai lupa kenalan, nih!"
"Oh, bener juga!" MC laki-laki itu memutar badannya, menghadapkan diri ke arah kami, para mahasiswa baru. Dia melanjutkan, "Kenalin! Saya, Sukone Teiru, dan partner saya—"
"—Sukane Tei!" sahut si MC perempuan. "Kami yang akan memandu jalannya acara sampai selesai nanti sore."
"Ih, emang acaranya sampai sore?" MC laki-laki tadi, Teiru, menanggapi sambil mengerutkan dahi.
"Eh!" Tei menepuk dahinya seolah lupa akan sesuatu. "Lupa, acaranya kan sampai malam!"
"Nggak mauuu!" koor para mahasiswa baru. Di antara sahutan yang terdengar kompak itu, terdengan cekikikan kecil yang berasa dari beberapa kubu. Yah, semua juga bisa lihat dengan jelas kebohongan yang tersirat di balik kata-kata para MC.
"Eh, harus mau, dong!" Tei menengahi sambil melambai-lambaikan tangannya. "Kalian kan, mau jadi mahasiswa MIPA yang berguna bagi bangsa dan negara, jadi harus mau ikutan MB dari awal sampai akhir, okee?!"
"Nggaaak!" Lagi, para mahasiswa baru membalas dengan kompak.
"Ih, pada nggak mau jadi mahasiswa yang berguna bagi bangsa dan negara, Ru," keluh Tei pada teman senasib sepenanggungannya di panggung hari itu.
"Mereka belum tau kalo acaranya bakal rame banget sih, Tei," balas Teiru santai. "Dijamin deh, kalian nggak pada nyesel ikutan MB!"
"Bener banget, Teiru, di sini kita bakal ngadain acara yang seru banget, rame banget, dan bikin kalian ketagihan pastinya!" Tei menambahkan dengan wajah sumringah. "Kayaknya udah kelamaan deh, Ru, kita cuap-cuapnya. Gimana kalo kita langsung masuk ke acara pertama aja?"
"Ya, jadi acara pertama kita hari ini adalah—"
.
.
.
TBC
A/N.
Halooo! Kembali lagi bersama Rey di Bukan Sekadar Wacana! XDD
MAAF BANGET UPDATE-NYA TELAT TTATT Rey kemarin-kemarin... bukannya sibuk sih, cuma karena baru lepas dari kesibukan yang menggila, jadinya kebanyakan tidur dan... inilah, nggak selesai chapter ini, akhirnya gak bisa update sesuai waktu yang udah dijanjikan (pada diri sendiri). Sekali lagi, maaf :'(
Oya, ada yang nanya soal "bagian mana yang nyata" di chapter sebelumnya. Sejujur-jujurnya aku akan jawab, bahwa bagian yang benar-benar jadi dan terjadi dalam kehidupan Rey adalah... dosennya, alias Bu Lola. Serius, Bu Lola itu karakternya nyata, tapi Lola-nya nggak (?). Namanya bukan Lola maksudku.
Bahas soal chapter ini, kejadian yang secara umum terjadi di sini adalah kejadian nyata XD kejadian Luka ngobrol dengan Rin masalah mereka yang datang telat itu nyata—tapi dialognya sedikit di modifikasi, kejadian Danru ngamuk-ngamuk soal nggak ada instruksi beres-beres itu juga nyata (pasti banyak maba bernasib sama), dan soal kakak panitia yang absen itu juga nyata. Menulis kejadian nyata itu lebih gampang ya, soalnya kita gak perlu pusing mikirin dialognya mau kayak gimana. Wkwk.
Akhir kata, ditunggu komentarnya!
