Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[v – ospek fakultas (ii)]
.
.
.
Sengaja aku tidak menjelaskan lebih detil kepada kalian tentang rangkaian acara OSPEK hari ini karena... kalian tahu, OSPEK tanpa kekerasan—memang sudah dilarang—sama saja dengan memenuhi otak mahasiswa baru dengan segala macam pematerian yang... memang penting, tetapi belum terlalu kami butuhkan di semester pertama. Misalkan ya, pematerian mengenai riset. Mahasiswa semester satu kan, baru akan diajari dasar-dasar perkuliahan—dalam kasusku di jurusan Statistika, kami diperdalam lagi ilmu Matematika dan Metode Statistika dasar—dan belum akan diberikan tugas meneliti seperti "berapa banyak daun dalam satu pohon dengan menggunakan regresi linear sederhana". Itu... rasanya tidak mungkin.
Jadi, kami disuguhi pengetahuan umum mengenai mahasiswa dan FMIPA Universitas Voca sejak pagi. Pertama, kami diberikan pematerian mengenai peran mahasiswa dalam masyarakat dan sebagai pengubah dunia—bahasanya berat memang, aku merasakan betapa beratnya beban yang satu ini—lalu kami diberikan pula pematerian sekaligus motivasi untuk rajin menuangkan inovasi ke dalam tulisan—ada event khusus dimana kita dapat "menguangkan" ide-ide kita. Ada pula pematerian mengenai mahasiswa berprestasi, lalu tidak ketinggalan, pematerian mengenai organisasi-organisasi di FMIPA Unca—Universitas Voca—itu sendiri.
Kalau boleh jujur, selama pematerian, meski aku mencatat kata-kata pemateri secara umum, tidak ada yang rasanya menempel di otakku dengan kuat sampai membuatku berpikir "aku harus seperti ini!". Aku tidak tahu apa alasannya, jujur saja. Entah motivasi yang diberikan oleh pemateri kurang atau memang otakku yang bebal dan memutuskan untuk menolak semua materi itu.
Yah, setidaknya aku mengingat nama Ketua BEM FMIPA Unca. Itu juga sudah cukup bagus, 'kan?
Ada setitik materi dari jutaan kata yang kuterima hari ini 'nyangkut di otakku. Not bad, lah—menurut standarku sendiri.
Untungnya, kegiatan hari ini tidak sepenuhnya membuat kami mendengarkan kata-kata pemateri. Ada sesi perkenalan anggota kelompok dimana kami saling menyebutkan nama masing-masing lalu menyebutkan nama teman sebelum kami. Ada juga kegiatan kelompok yang membuat kami harus saling mengungkapkan apa yang telah kami dapatkan dari pematerian sebelumnya. Nantinya, dari ide-ide yang kami miliki, kami harus menuliskannya ke dalam sebuah mind map—omong-omong, aku paling benci mind map. Mind map itu nantinya dikumpulkan lalu kelompok terbaik akan mendapatkan hadiah kecil-kecilan dari panitia. Seperti itulah.
Omong-omong, kurang lebih inilah yang terjadi pada kami saat menyusun mind map tersebut.
Semua anggota kelompok yang lebih tepatnya terdiri dari dua puluh dua orang, berdiri melingkari sebuah kertas kosong. Dua buah spidol tergeletak begitu saja di atas kertas tersebut. Tidak ada yang duduk lalu berusaha menulis, semuanya sibuk berbicara sambil menunjuk-nunjuk spidol yang ada.
"Jadi mahasiswa itu perannya empat kan, salah satunya agent of change—agen perubahan, berarti mahasiswa itu bisa mengubah sesuatu yang awalnya gak nyata jadi nyata, 'kan?"
"Gak nyata jadi nyata itu apa misalnya? Harus konkret, jangan nulis kayak merealisasikan dunia dongeng gitu."
"Mahasiswa dapat membuat perubahan di masyarakat misalnya dengan membuat alat penyaring sampah, atau alat pembajak sawah dengan harga terjangkau."
"Traktor udah ada, ngapain bikin pembajak sawah lagi?"
"Bikin yang lebih efisien dan lebih murah, tadi kan, udah dibilangin."
"Tapi bukannya percuma? Buat apa bikin lagi yang udah ada? Belum tentu juga diterima masyarakat."
"Cukup soal traktor, gimana kalo mulai dari yang gampang dulu? Misalnya mengajar sukarela di daerah-daerah terpencil, gitu?"
"Apa korelasinya mengajar sukarela dengan agen perubahan?"
"Jelas ada dong, dengan mengajarkan rakyat, kita bisa mengubah pola pikir mereka yang masih kelewat sederhana, bisa bikin mereka maju dan mulai berpikir untuk memakmurkan desa, bisa bikin mereka lebih pintar juga."
"Tapi nggak semua orang bisa lihat itu, 'kan? Yang kayak gitu-gitu belum tentu mendunia."
"Loh, apa salahnya mulai dari yang kecil?"
"Yang namanya agen perubahan itu cenderung ke perubahan besar, deh. Ngajar ke desa mah, sehari-hari juga bisa."
"Loh? Yang penting kan, perubahannya?"
Intinya, pembicaraan ini tidak selesai-selesai. Semua orang sibuk menunjukkan diri sebagai yang paling intelek dan peduli terhadap isu global dalam pembuatan mind map ini. Padahal, aku yakin benar kakak-kakak panitia tidak butuh yang seperti itu. Untuk apa banyak bicara kalau sejak tadi dia hanya berdiri dengan semangat bicara menggebu-gebu kalau akhirnya tidak menuliskan apa yang ia katakan? Kami kan, diminta membuat mind map di sini, bukan adu argumen.
"Siapa yang mau nulis?" Seorang anak perempuan bertanya sambil menunjuk spidol yang sejak tadi belum tersentuh di tengah-tengah kertas.
"Yuk, mulai tulis. Waktunya tinggal lima menit lagi," sambut kakak panitia yang berperan sebagai fasilitator kelompok kami. Omong-omong, kakak inilah yang menghampiriku tadi pagi untuk menanyakan pita medik dan sarapan.
"Gak usah pake bukti nyata atau contoh yang rumit, deh. Tulis aja keempat peran itu, terus kita kasih penjelasan sedikit berdasarkan apa yang kita pahami." Seorang gadis menengahi perdebatan kelompok kami yang semakin panas dan tidak kunjung selesai.
Aku setuju dengan kata-kata ini.
"Kalo gitu kamu aja yang tulis," ujar seorang pemuda yang sejak tadi banyak bicara sambil menyerahkan spidol yang sejak tadi menganggur kepada gadis itu. Lucunya, gadis itu tidak banyak cap-cip-cup segera merebut spidol itu lalu menulis apa yang sepertinya sudah ia pikirkan sejak tadi. Gadis ini tadi memang cukup banyak bicara, tetapi dapat kulihat ia cukup berkomitmen.
Selesai menyusun mind map yang dapat dibilang kecil untuk ukuran kertas A1—sepertinya lebih besar dari A2, itu pun kalau aku tidak salah mendeteksi—kakak fasilitator tadi segera mengambil kertas tersebut lalu mengumpulkannya kepada MC.
Tepat setelahnya, tibalah waktu istirahat dan makan siang. Para kakak fasilitator—satu kelompok punya dua fasilitator, omong-omong—membimbing anggota kelompoknya ke sudut-sudut tertentu yang sepertinya telah mereka bagi sebelumnya untuk makan. Setiap kelompok membentuk sebuah lingkaran besar, lalu anggotanya makan makanan yang dibawa masing-masing. Aku juga begitu, tentu saja. Aku bersama Rin, Meiko, dan Teto—Piko sih, hilang entah ditelan lautan manusia sebelah mana. Beda gender memang membuat kami kerap kali dipisahkan area duduknya—duduk bersebelahan sambil menikmati bekal makan masing-masing. Aku sudah menyinggung soal peserta harus membawa bekal makanan sendiri, belum? Belum, ya?
Ya sudah, pokoknya sekarang kalian tahu kalau kami harus menyediakan kebutuhan perut kami sendiri. Kami yang paling mengenal diri kami sendiri, tentunya kami pula yang tahu porsi yang sesuai untuk dinikmati perut kami. Kalian juga begitu, 'kan?
Baiklah, mari kembali ke cerita.
"Kakak nggak makan?" tanya seorang anak perempuan kepada kakak fasilitator kami yang sejak tadi hanya ikut duduk dalam lingkaran sambil memerhatikan gerak-gerik kami dengan senyum.
"Nanti," jawabnya lembut. Kakak fasilitator kami yang ini entah mengapa memang kelihatan manis sekali—omong-omong, aku belum tahu namanya. Kakak fasilitator kami yang laki-laki pun belum aku ketahui namanya.
"Nggak apa-apa kita makan duluan?" Anak perempuan yang tadi bertanya kembali. Ia turunkan tempat bekalnya, seolah hendak berbagi makanan dengan si kakak. Mungkin anak itu tidak ingat kalau panitia juga punya jatah makan masing-masing? Kalau mereka tidak beli makanan pun, mereka pasti bawa barang satu atau dua porsi untuk diri sendiri.
"Nggak apa-apa," balas kakak fasilitator tadi sambil mengangguk pelan. "Sekarang emang giliran kalian yang makan, kok. Nanti Kakak makan kalau kalian udah selesai."
Aku memerhatikan kedua manusia itu mengobrol sambil setengah melamun. Bukannya ingin berprasangka buruk, tetapi gelagat anak perempuan itu terasa aneh bagiku. Okelah, aku juga kerap merasa tidak enak jika aku makan bersama orang yang tidak makan, dan aku juga sering memaksa mereka yang tidak makan untuk makan—kecuali kalau mereka sedang diet atau puasa. Akan tetapi, jika bersama orang yang tidak dikenal—dalam kasus ini, kakak fasilitator itu adalah orang yang belum kami kenal dengan baik—bukannya memaksa itu terdengar aneh, ya? Kurang sopan bahkan menurutku. Apa anak perempuan tadi tidak merasa seperti itu?
"Luk, Luk." Tanpa kusadari, rupanya sejak tadi tangan kiriku disodok pelan oleh siku seseorang.
"Ng?" Aku menoleh. Rin rupanya. "Kenapa?"
"Masih lapar, gak?"
Aku mengerjapkan mata. Antara iya dan tidak sih, tetapi aku bingung bagaimana cara menjawabnya agar tidak terdengar aneh. "Kenapa emang?"
"Ini mie yang aku bawa dari rumah masih nyisa, tapi aku udah kenyang banget. Udah gak nafsu banget, asli," balas Rin dengan suara pelan. Mungkin tidak ingin percakapan mau-mie-aku-nggak ini terdengar oleh yang lain.
"Eh? Beneran nggak mau lagi?" tanyaku heran. Masa iya dia mau melewatkan kesempatan emas seperti ini? Dia mau merelakan mie, loooh. Mie, menurut kamus hidupku, adalah makanan keramat yang pantang diberikan kepada orang lain karena satu porsi pun tidak cukup untuk memenuhi panggilan perutmu. Dan kini Rin hendak menyerahkan makanannya yang berharga itu kepadaku?
"Iya, Luk. Aku udah kenyang banget, udah overload," sahut Rin sambil menambahkan kosa kata berlebihan yang kemudian ia tertawakan. "Luka mau, nggak?"
Mau, nggak, mau, nggak, mau...
"Eh? Apa itu? Mie, ya?" Tiba-tiba Meiko yang duduk di sebelah kiri Rin menubruk tubuh gadis kecil pirang itu sambil memfokuskan pandangannya terhadap kotak bekal yang dipegang Rin.
"Iya, Meiko mau?" tanya Rin sambil menyodorkan kotak bekal itu terhadap si gadis surai coklat.
"Kamu nggak makan, Rin?" Meiko bertanya dengan wajah heran.
"Udah tadi," jawab Rin sekenanya. "Meiko mau, nggak?"
"Mauuu!" Tanpa ba-bi-bu dan keraguan barang satu persen pun, Meiko segera menyendokkan mie tersebut dengan sendok miliknya sendiri. Dilahapnya satu sendok besar mie dengan wajah berseri-seri seolah telah menemukan mata air di tengah padang pasir.
Ah...
"Aku juga mau!" sahutku sambil ikut menyendokkan mie tersebut dengan sendok milikku sendiri. Akan tetapi, gagal! Hanya sedikit bagian dari mie milik Rin yang memang tersisa sedikit berhasil kuciduk dengan tidak elitnya.
"Mau lagi ya, Rin?" Meiko meminta kepada Rin saat aku tengah asyik mengunyah suapan mie pertamaku.
"Ambil aja." Rin meletakkan kotak bekalnya tepat di hadapannya. "Aku udah kenyang soalnya."
Tidak lagi berkata-kata, Meiko kembali menyendokkan mie tersebut dengan sendoknya. Tidak mau ketinggalan, aku pun melakukan hal yang sama. Namun entah ada apa di antara aku dan sendokku hari ini, ia tampaknya sedang mengejekku yang baru beberapa hari lalu ini mengonsumsi makanan keriting itu. Sejak tadi aku selalu gagal menyendokkan mie dengan porsi besar—selalu kalah cepat dengan Meiko juga.
Alhasil, aku hanya berhasil makan satu sendok besar mie yang terbagi-bagi ke dalam empat sendok kecil mie.
Sedangkan Meiko dapat porsi besar yang sukses membuatnya kenyang.
Perang mie kami berakhir, dengan pihak Meiko sebagai pemenang besar. Ibarat kasarnya, aku ini pihak dalam perang yang berhasil membawa senjata pulang dengan utuh pun tidak.
Di situ kadang saya merasa sedih.
Selesai dengan acara makan siang kami yang luar biasa tidak jelas tetapi bermakna, khususnya, bagiku itu, para kakak fasilitator membimbing kembali kami untuk duduk menyimak materi. Kalau boleh jujur, otakku sudah tidak sanggup menerima materi. Bukannya mendengarkan, aku justru akan tertidur saat pematerian. Bonus lagi, aku baru saja makan siang. Aku ini mudah sekali tertidur kalau sudah mengonsumsi makan siang.
Untungnya, panitia cukup cerdik mengakali otakku yang cepat merasa lelah sesaat setelah makan siang ini.
"Makan siangnya enak gak, teman-temaaan?!" MC hari ini, Tei dan Teiru, masih setia menanyai kami dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang pastinya juga membosankan bagi mereka.
"Kuraaang!" sahut gerombolan mahasiswa di ujung kiri. Kalau aku tidak salah, mahasiswa yang biasanya heboh nan rusuh menanggapi hal-hal seperti itu adalah mahasiswa jurusan teknik. Oh ya, aku lupa bilang kalau di Universitas Voca, jurusan teknik masih bergabung di bawah Fakultas MIPA. Mungkin nanti kalau jurusan teknik itu sendiri sudah berkembang, dia akan memisahkan diri dengan sendirinya. Mungkin dia akan mengajukan permintaan pembentukan negara sendiri.
Haha. Abaikan.
"Kurang? Masa kurang, sih?" Tei melancarkan aksi sanggah-menyanggah sambil mengerutkan dahinya. "Salah sendiri bawanya dikit!"
Yah, dia ada benarnya juga, sih.
"Tei, kayaknya kita mesti lanjutin acara, nih," ujar Teiru, menengahi debat antara Tei dengan peserta songong yang meminta jatah konsumsi lebih.
Tentu saja konteks songongnya bercanda.
"Oh, bener, Ru!" Tei menepuk dahinya pelan sambil memperbaiki poninya yang agak berantakan. Mungkin lupa berdandan ulang karena dipepet waktu. Mungkin. "Ada yang tahu nggak, agenda selanjutnya apa?"
"Pulaaang!" koor seluruh mahasiswa baru—termasuk aku. Hoho.
"Idih, kalo pulang aja langsung pada semangat semua!" sembur Tei diikuti tawa dari berbagai penjuru. "Salah! Agenda berikutnya adalah... pemilihan koordinator angkatan! Kalian pasti sadar kan, kalau tadi ada teman-teman kalian yang 'diculik'?"
Jujur, nggak.
Tei menepuk tangannya. "Mereka yang telah diseleksi secara cepat oleh panitia kini akan menyampaikan visi dan misi mereka sebagai koor angkatan, lalu membiarkan kalian memilih salah satu di antara mereka, oke? Jadi... mari kita sambut—"
"CALON KOOR ANGKATAN FMIPA 2015!"
Loh? Orang itu bukannya—
.
.
.
TBC
A/N.
Halooo! Kembali lagi bersama Rey di Bukan Sekadar Wacana! XDD
MAAF LAGI ATAS KETERLAMBATAN UPDATE-NYAAAA TTATT
Chapter kali ini entah kenapa berasa absurd karena lagi-lagi, Luka berfantasi di dalam otaknya dengan kalimat yang nggak-nggak :') mana ada acara perang mie segala lagi, hampura atas segala ketidakjelasan yang saya tuangkan ke dalam fanfiksi ini... orz
Oh ya, untuk '3 manusia v mahluk hidup 3' yang kemarin review, mohon maaf banget, fanfiksi yang kamu sebut itu bukan karanganku :') mungkin bisa di-PM ke author bersangkutan aja. Makasih~
Akhir kata, ditunggu komentarnya!
