Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[vi – koordinator angkatan]
.
.
.
Kalau dibilang terkejut sih, iya. Sangat terkejut malahan.
Maksudku, pasti banyak di antara kalian yang tidak akan langsung percaya jika orang yang tampil di hadapan kalian bonus tujuh ratus orang lainnya, mengaku sebagai calon koordinator angkatan yang kerjaannya pasti super duper rumit, adalah orang yang kalian kenal sebagai teman satu jurusan.
Di depan sana, ada Hibiki Lui.
Ada seorang gadis yang sekelompok denganku—yang tadi cukup aktif dalam membahas mind map.
Dan ada satu oknum tak dikenal berjenis kelamin laki-laki.
"Itu si Lui kenapa bisa ada di sana?" Rin, yang kebetulan duduk di belakangku, membisikkan perkataan itu di telingaku. "Jadi ketua kelompok ya, dia?"
Aku mengangkat bahu. Mau tidak mau ada perasaan heran juga yang nyelip. "Gak tau, tuh."
"Yang jelas kalo disuruh milih, aku bakal milih anak dari jurusan kita, sih."
Kusetujui kata-katanya dengan anggukan pelan tanpa menatap lawan bicara. "Berarti kita fix bakalan milih Lui, 'kan?"
"Yap, tapi emangnya yang lain juga bakal milih si Lui?"
Aku diam mendengar pertanyaan Rin. Meiko, yang sejak tadi menyimak tanpa mengeluarkan suara, juga berniat ikut berpendapat dengan berpikir. Teto juga begitu, tentunya sambil memerhatikan tiga calon koordinator angkatan yang berdiri di depan khalayak dengan senyum mesem-mesem tanda demam panggung. Yah, setidaknya mereka tidak kelihatan memalukan walau demam panggungnya kentara sekali terlihat.
"Bisa kalian lihat, di sini ada tiga orang yang salah satunya nanti akan menjadi koordinator angkatan kalian!" Tei berseru sambil menunjuk ketiga orang itu satu demi satu. "Sekarang, mereka akan menyampaikan visi dan misi mereka untuk menjadi koordinator FMIPA Unca. Dengarkan, ya!"
Tei menyerahkan mikrofonnya kepada sang oknum berjenis kelamin laki-laki yang tidak kukenal sambil mengerjapkan mata—isyarat sepertinya. Oknum itu menerima dengan ragu, menatap Tei terlebih dahulu dengan tatapan kak-atuhlah-saya-entaran-aja-jangan-duluan yang jelas sekali tidak ditanggapi sesuai harapan.
Oknum yang tidak kukenal itu menghela napas, lalu mendekatkan mikrofon ke bibirnya. "Halo, semuanya."
Bukan cara menyapa yang jelek, batinku sambil mengubah posisi duduk. Bersila lama-lama memang kerap membuat kakiku... bukan pegal, sakit pokoknya. Serba tidak enak, begitu.
"Nama saya Yohio, dari MIPA 2015." Yah, tanpa perlu ia sebutkan angkatannya, aku—tidak hanya aku sih, seluruh mahasiswa baru FMIPA Unca hari itu tepatnya—sudah pasti tahu bahwa ia berasal dari angkatan 2015, angkatan yang sama dengan kami. Tidak mungkin kan, koordinator angkatan kami berasal dari angkatan atas atau—lebih parah—angkatan bawah? Untuk apa dinamakan koordinator angkatan kalau tidak mengepalai angkatan yang menjadi nama jabatannya, betul?
"Nggak perlu muluk-muluk, visi saya adalah menjadikan FMIPA Unca 2015 sebagai angkatan berprestasi dan berasas kekeluargaan. Visi itu akan dicapai melalui beberapa misi, pertama, memilih delegasi dari setiap jurusan untuk kepentingan-kepentingan angkatan. Kedua, menggiring FMIPA Unca 2015 untuk sukses dan rajin belajar. Ketiga, bla bla bla..."
Serius, aku ternganga. Bukannya aku terkesima dengan misinya yang super sulit untuk dilakukan atau bicaranya yang lancar tanpa teks ya, tetapi aku salut dengan otaknya yang sanggup memikirkan hal-hal serumit dan sememusingkan itu untuk ukuran mahasiswa baru hanya dalam waktu beberapa menit. Eh, entah menit entah jam sih, pokoknya waktu untuk memikirkan visi dan misi itu kan, hanya sebentar, dan dengan pemikiran yang super seperti penjabarannya barusan, jujur saja aku salut.
"Kalau kalian memilih saya, saya akan berusaha lebih baik lagi untuk menyatukan angkatan kita, juga membawa FMIPA Unca 2015 menjadi warga FMIPA Unca yang baik." Jeda sejenak, tampaknya pemuda dengan nama Yohio itu hampir selesai dengan pidatonya yang super panjang. Sepertinya saat aku sibuk mengoceh di dalam hati dan mengalihkan fokusku darinya, dia sudah menghabiskan berlembar-lembar HVS A4. Hebat sekali.
"Saya akan mengakhiri pidato saya sekarang," ujarnya sambil mengalihkan pandang. "Terima kasih bagi semua yang telah memerhatikan saya dari awal sampai akhir. Terima kasih juga untuk yang tidak memfokuskan diri sepenuhnya kepada kata-kata saya. Saya tetap menghargai kalian semua. Sekian dan sampai jumpa."
Ew, batinku. Entah mengapa respons itulah yang seketika terlintas di benak setelah Yohio mengakhiri pidatonya. Terdengar agak menjijikan, begitu. Mana aku merasa tersindir pula. Huh.
"Luk, kayaknya si Yohio-Yohio ini nggak recommended, deh," bisik Rin tepat di telingaku. "Kata-kata terakhirnya ngesok banget, soalnya."
Hoh, apa dia bisa membaca pikiranku?
"Sependapat," tukasku sambil mengangguk. "Nggak akan milih dia, kalo aku."
Rin mengangguk setuju. "Kita berdoa aja semoga si Lui pidatonya nggak malu-maluin."
Aku mengangguk kembali. Kita semua menginginkan sosok pemimpin yang berkharisma, pandai berbicara di depan publik, namun tidak mengumbar kata-kata sok seperti yang dilakukan manusia tadi, benar? Tidak ada orang yang mau dipimpin oleh orang sombong—kalau ada, yang jelas orang itu bukanlah Megurine Luka.
"Wih, mantep banget ya, pidato dari calon pertama kita!" Tei mengambil kembali mikrofonnya dari sang oknum pertama yang kini diketahui bernama Yohio itu. "Langsung aja kita melaju ke calon kedua!"
Bergiliran dengan Tei, kali ini Teiru yang mengorbankan mikrofon tercintanya untuk calon kedua. Diambilnya dengan segera benda panjang berujung bulat itu oleh gadis itu, lalu ia menyapa, "Selamat siang, semua."
Wih, singkat, padat, dan jelas. Mantap.
"Saya Yufu, dari MIPA 2015." Yah, perkenalan klise dengan membawa-bawa angkatan lagi. Tidak apa-apa deh, memang seperti itulah perkenalan standar yang dapat dilakukan oleh mahasiswa di depan khalayak. "Visi saya adalah menyatukan seluruh anggota FMIPA Unca 2015 demi terciptanya angkatan yang kompak. Saya yakin, melalui saya, FMIPA Unca 2015 akan menjadi angkatan yang kompak dan saling mendukung satu sama lain. Saya juga yakin, dengan ini—"
Aku menyimak pidato Yufu sambil mengubah posisi dudukku yang mulai terasa pegal lagi. Oke, gadis yang satu ini tidak terlalu banyak umbar janji seperti Yohio, si oknum calon pertama yang awalnya tak kuketahui asal-usulnya—namanya juga tidak sebelum dia mengenalkan diri tadi. Yufu ini cenderung lebih menekankan visinya sebagai koordinator angkatan kepada kekompakan dan kesatuan angkatan, tidak seperti Yohio yang juga mengejar prestasi. Overall, menurutku, Yufu ini tampil dengan super percaya diri dan tidak bertele-tele.
"Dia ngomongnya bagus, loh," bisikku kepada Rin, yang segera disambut oleh anggukan pelan gadis pirang berambut pendek itu.
"Saya akhiri pidato saya sampai di sini. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya," ujar Yufu sambil dengan tegas menyerahkan mikrofon untuk perkenalannya tadi kepada Teiru. Yufu mundur satu langkah, mengosongkan area tengah panggung untuk calon yang berikutnya.
"Calon kedua udah, nih!" Teiru mengangkat tangannya yang bebas. Dia melirik ke arah Lui, alias calon terakhir. "Sekarang calon terakhir kita! Silakan!"
Tei menyerahkan mikrofonnya kepada Lui, lalu sedikit mendorong tubuh pemuda itu agar maju ke bagian tengah panggung. Lui memperbaiki kacamatanya sebelum mendekatkan mikrofon dalam genggamannya ke mulut. Ia berdeham pelan, lalu berseru, "Selamat siang!"
Woah, mantap.
"Saya Lui, dari MIPA 2015!" Lui kembali berseru, kali ini dengan nada yang jauh lebih percaya diri daripada sebelumnya. "Saya nggak akan banyak bicara, karena di sini kita sederajat, sama-sama punya hak untuk bicara. Saya nggak akan ngasih tau jurusan saya karena kita di sini satu, satu MIPA."
Tepuk tangan riuh terdengar dari berbagai sisi—aku juga ikutan, sih. Habisnya, mau bagaimana lagi? Cara penyampaiannya Lui barusan itu greget sekali, loooh. Kata-katanya barusan sanggup membuat orang-orang yang belum mengenalnya berdecak kagum dan orang-orang yang sudah mengenalnya menyuarakan sorakan bangga bercampur geli yang terselubung.
Kebetulan, aku termasuk kelompok yang kedua.
"Saya gak mau banyak umbar janji, karena saya gak mau omongan saya nanti jadi bullshit." Woah, berani juga dia menyuarakan kata itu keras-keras, di hadapan banyak manusia pula. "Pokoknya, jika saya yang terpilih menjadi koordinator angkatan nantinya, saya akan berusaha menjadi pemimpin yang baik buat kalian. Saya gak mau jadi bos, saya gak mau ngatur kalian dari atas dan bertingkah gak peduli. Saya mau jadi pemimpin, yang ngebantu kalian dari tempat kalian berpijak. Sekian, selamat siang."
Dikembalikannya mikrofon itu kepada Tei, lalu Lui mundur kembali ke tempatnya berdiri semula. Tei tersenyum kecil lalu berseru, "Tepuk tangannya dulu dong, buat ketiga calon kita!"
Seolah sedang berada di dalam siaran langsung acara televisi, kami bertepuk tangan serempak. Tei bagaikan lampu bertuliskan "applause" yang menyala seperti yang hampir selalu ada di stasiun televisi. Ajaib sekali OSPEK ini, ya?
"Sekarang waktunya voting kilat! Semuanya menunduk dan pejamkan mata! Gak boleh ngintip ya, gak boleh ngintip!" Tei berseru sambil mengisyaratkan kami untuk menuruti perkataannya. Aku menurut. Segera saja kutundukkan kepala, tetapi tidak kututup mataku. Yah, buat apa juga? Saat menunduk, toh aku tidak melihat apapun selain paving block yang menjadi alas dudukku.
"Ingat!" Kini suara Teiru yang memasuki otakku. "Kalian cuma boleh memilih SATU dari tiga orang yang menjadi calon koordinator kalian. Gak boleh dua kali voting, ya! Eh, kalian bertiga balik badan!"
Aku berusaha menahan tawa. Nyaris saja hasil voting ketahuan lebih dulu bahkan sebelum semua calon mendapat giliran di-vote.
"Oke, langsung aja!" Suara Tei kembali mengudara. "Yang pilih Yohio, angkat tangan!"
Aku diam. Yah, aku kan, memang ingin memilih Lui sejak awal. Lagi pula, aku tidak merasa pas memilih si Yohio ini. Dia itu pidatonya tidak sesuai dengan ekspektasiku, loooh.
Ea. Anak statistika bicara ekspektasi.
Halah, padahal mulai belajar saja belum.
"Satu, dua, tiga ... wah! Yang milihnya ada seribu, Tei!"
"Wih, banyak banget, ya!"
Duh, kata-kata lebay nan klise.
Omong-omong, kenapa aku jadi sering mendumel begini, ya? Gawat, aku makin cerewet saja jadinya. Padahal aku ingin mempertahankan kekalemanku yang sempat menjadi julukanku saat SMP, loh.
Percaya tidak, aku pernah dijuluki kalem?
Sepertinya tidak, ya?
"Oke, kalian boleh turunkan tangan!" Teiru berdeham. "Yang pilih Yufu, silakan angkat tangan!"
Aku masih diam. Sudah kutegaskan tadi bahwa aku akan memilih Lui, 'kan? Kami cuma punya satu kali kesempatan vote, sih. Huh.
"Wah, yang milihnya ada seribu juga, Tei!"
"Ru, maba MIPA kan, cuma tujuh ratus."
"Tei, jangan di-publish gitu, dong."
HAHAHAHAHAHAHAHAHA.
Oke, cukup ketawa jahat dalam hatinya.
"Oke, sekarang turunkan tangan kalian." Jeda sejenak sebelum suara Tei kembali tertangkap oleh gendang telingaku. "Yang pilih Lui, angkat tangannya!"
Aku segera mengangkat tangan. Dalam hati berharap bahwa tanganku dihitung sepuluh, kalau perlu seratus sekalian, supaya Lui yang jadi koordinator angkatan kami.
Iya, tahu, itu mustahil. Tidak perlu menceramahiku panjang dikali lebar sama dengan luas juga aku sudah tahu kalau apa yang aku harapkan itu mustahil. Lagi pula, aku ini hanya bercanda. Kalian tidak perlu serius begitu menanggapi omonganku. Tenang saja, aku hanya akan melantur begini kepada kalian—tidak perlu lah, disebar kepada seluruh manusia di muka bumi.
Oke, aku mengejek dua MC tadi lebay, padahal aku sendiri juga lebay.
"Semua boleh turunkan tangannya!" Teiru kembali berseru. "Sekarang, silakan angkat kepala dan buka mata kalian. Kami akan langsung mengumumkan koordinator angkatan kalian saat ini juga!"
Voting kilat memang dinamai kilat karena beberapa alasan, dan salah satunya adalah hasilnya yang super cepat.
Walau jelas hasil dari voting ini tidak sepenuhnya tidak bias—toh, tidak ada nilai peluang dalam proses penghitungannya sama sekali—setidaknya ini adalah cara yang cukup cepat dan efektif untuk memilih ketua di saat-saat kritis. Dan saat kritis yang kumaksud di sini adalah kegiatan yang meminta kita menuliskan nama ketua dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Misalnya seperti kelompok pramuka—begini-begini aku pernah ikut perkemahan untuk pramuka—kelompok OSPEK, kelompok kerja di kelas, dan sebagainya.
Dan kebetulan, saat kritis yang kumaksud di sini adalah OSPEK.
Aku mengangkat kepala dan kembali memfokuskan pandangan ke panggung. Ketiga calon itu sudah membalikkan badannya lagi, kini ketiganya menghadap tujuh ratus orang yang akan mereka pimpin seumur hidup. Yah, koordinator angkatan itu bekerjanya seumur hidup, 'kan? Bukan sebatas hingga seluruh anggota angkatannya lulus dan bekerja lalu dia bersantai, benar?
"Kami sudah hitung kilat!" seru Tei, mengumpulkan kembali fokus seluruh mahasiswa baru kepadanya. "Dan sekarang... nama koordinator kalian selama ratusan tahun depan akan diumumkan oleh... Teiru!"
Ratusan? Oke, sip.
"Koordinator Angkatan FMIPA Unca 2015 adalah..." Teiru berdeham panjang, seolah-olah senang membuat jantung kami semua berlonjakan tidak jelas. Menyebalkan sekali, sih. "YOHIO!"
KENAPA?!
Sorakan bahagia terdengar dari berbagai area. Beberapa mahasiswi yang sekelompok denganku dan kuketahui sebagai anak kimia juga ikut menuai kebahagiaan. Seketika aku tahu bahwa pemuda yang barusan dinobatkan menjadi koordinator angkatan itu satu jurusan dengan mereka.
Cih, padahal pidatonya juga tidak bagus-bagus amat.
"Sayang ya, si Lui nggak kepilih," bisik Rin saat orang lain masih sibuk mengelu-elukan Yohio.
"Iya," anggukku kecewa. "Kalo gitu, entar kita pilih dia jadi koordinator angkatan jurusan aja, gak usah fakultas. Gimana?"
"Hmm... liat nanti, deh."
Yah, "lihat nanti" adalah jawaban yang tepat karena... siapa yang tahu, akan jadi seperti apa orang yang kita percayai saat ini?
.
.
.
TBC
A/N.
Halooo! Kembali lagi bersama Rey di Bukan Sekadar Wacana! XDD
MAAF LAGI ATAS NGARET UPDATE-NYAAAA TTATT LAMA BANGET LAGIII ASDFGHJKL
Nggak mau membela diri Rey mah, apalagi karena tau ini MC udah super duper ngaret. Duh, Rey minta maaf banget untuk semua yang nunggu (kalo ada) publish-nya fanfiksi ini. Bukannya nggak mau lanjutin ya, cuma emang sejak terakhir kali update BSW, Rey gagal nemu selah untuk ngetik lanjutannya. Alhasil bukannya ngerjain chapter ini, Rey malah update OS lain. Maafkan... orz
Terus, di sini humornya kurang berasa, ya? Lebih ke serius gitu gak, sih? Mungkin karena pemilihan ketua emang paling berat, ya... tapi semoga kalian tetep enjoy ya, bacanya! XD
Mungkin sekian dulu~ ditunggu banget loh, komentarnya! XD
