Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).
Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.
Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi
[vii – ospek jurusan (i)]
.
.
.
Yowane Haku: Bangun, banguuun! Hari ini osjur coy, osjur.
HL: Yok, yok, semangat semuaaa.
Dua pesan itu adalah dua pesan yang menyambutku saat membuka grup angkatan di dini hari. Sambil menguap, aku meletakkan kembali ponselku ke atas meja sebelum beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap pergi untuk OSPEK Jurusan.
Ya ... Gusti, boleh gak, Luka lanjut bobo lagi?
Selesai dengan ritual membersihkan diri di kamar mandi, aku gegas berpakaian dan berjalan keluar dari kamar. Hari memang masih gelap, tapi masalah utamanya adalah, OSPEK Jurusanku memang dimulai saat matahari baru terbit. Berhubung rumahku memang jauh dan aku tidak mau jadi sasaran pelototan senior hanya karena aku datang terlambat, terpaksa aku korbankan jam tidurku di hari Sabtu yang indah ini.
"Mam, Luka makan di mobil aja," ujarku pada Mama sambil menggendong ranselku.
Mama yang sedang asyik main ponsel di meja makan segera menatapku heran. "Kenapa? Gara-gara udah kesiangan, ya? Kamu sih, bandel banget diomongin. Mama kan udah bilang, tidurnya jangan malem-malem supaya bisa bangun pagi. Mama juga udah bilang kamu tuh kalo dibangunin sekali, harusnya langsung bangun."
Aku menguap. "Iya, Ma ..."
Mama mendengus. Diangkatnya badannya dari kursi meja makan lalu bergegas beliau mengambil tas dan kunci mobil. "Mama duluan ke mobil, manasin dulu."
Aku menguap pelan seraya berjalan memasuki mobil. Masih mengantuk, tetapi apa daya, hari ini harus kujalani dengan ... tidak penuh semangat juga sih, pokoknya harus kujalani dengan pikiran positif. Kalau aku tidak berpikiran positif, bisa-bisa aku angkat kaki sebelum acara sempat dimulai. Eh, bahkan lebih parah, bisa-bisa aku tidak berangkat dengan alasan "malas Kak, nggak penting juga, 'kan?" yang pastinya akan membuatku jadi sasaran utama kemarahan senior.
Yah, begitulah.
"Masih ngantuk?" tanya Mama yang sudah lebih dulu duduk manis di balik kemudi mobil. Aku mengangguk pelan dan beliau melanjutkan, "Makanya, nurut tuh sama Bang Romo Irama, jangan begadang melulu."
Aku bergidik. "Ih, favorit Mama itu, mah."
"Enak aja, favorit Papa itu, mah."
"Curang ih, Papa kan, gak ada di sini, gak bisa ngebales jadinya."
Mama hanya terkekeh.
Akhirnya sepanjang jalan menuju kampus—yang memang lumayan jauh—aku tertidur, bukannya menemani Mama mengobrol atau apalah. Mau bagaimana lagi? Aku harus menyimpan energi untuk kegiatan OSPEK yang pastinya akan melelahkan nanti, dan mengobrol sepertinya bukanlah bentuk relaksasi yang tepat untuk saat ini.
Sesampainya di kampus, aku segera turun sambil membawa seluruh barang bawaan wajib OSPEK Jurusanku. Aku menyalami Mama, lalu bergegas masuk ke dalam gedung jurusanku yang hari itu mendadak bertransformasi menjadi gedung paling mencekam yang pernah ada. Aku menghampiri panitia yang sudah duduk di bagian depan gedung sambil memegang selembar kertas.
"Jam enam lima puluh," ucap panitia itu sambil melirik ponselnya.
Meski agak ragu dengan maksud panitia itu menyebut namanya, aku mengangguk saja. Kucari namaku dari deretan nama yang ada pada daftar presensi, dan saat menemukannya, aku buru-buru memeriksa kolom di sampingnya. Oh, rupanya selain kolom tanda tangan, ada pula kolom waktu tiba. Segera kuisi kolom tersebut sesuai dengan yang dikatakan panitia, kutandatangani, lalu aku masuk ke dalam gedung. Seorang panitia menunjukkan jalan ke lantai tiga. Aku mengikutinya, dan rupanya kami diarahkan menuju aula. Segera saja aku masuk.
Di dalam sudah ada ... mungkin sekitar sepuluh orang teman satu angkatanku yang sudah duduk manis sambil menikmati sarapan mereka. Aku duduk di barisan pertama, tepatnya di samping kiri cewek rambut cokelat yang kukenali sebagai ...
"Meiko?"
Meiko menoleh. "Eh, Luka!"
Aku terkekeh pelan sambil memosisikan diri untuk duduk dengan benar di sampingnya. "Rajin banget udah nyampe."
"Hehe, kalo dianter ya begini jadinya, Bu."
Bermaksud menyetujui perkataannya, aku mengangguk. "Oh iya, uah liat Rin sama Miku?"
"Kalo Rin sih di situ." Meiko menunjuk ke sebelah kanannya. Lebih tepatnya, ke orang kedua di sebelah kanannya. "Kalo Miku kayaknya sih belum nyampe. Dia kan tinggalnya di asrama, jadi deket."
"Hmm ... iya juga, sih."
Pukul tujuh lewat lima, akhirnya, seluruh teman satu angkatanku telah berkumpul di aula. Setelah semua duduk dengan tenang di kursi masing-masing, dua orang panitia cewek masuk dan mengambil alih situasi. Keduanya secara umum kelihatan mirip; sama-sama memakai almamater universitas, celana jeans ketat biru muda, serta sneakers putih. Duh, tantangan menghapal nama dan wajah dimulai dari sekarang.
"Selamat pagi semuanyaaa!" sapa kedua panitia cewek di depan kami itu dengan wajah bahagia. "Selamat datang di Statistika Universitas Voca!"
Kami kompak menjawab, "Pagiii!"
"Waaah, pagi-pagi udah semangat, ya! Bagus, bagus!" Salah satunya berseru. "Udah nggak sabar mau ikutan OSPEK, yaa?"
Sejujurnya sih, nggak sabar melalui OSPEK, bukan ikutan. Pada dasarnya aku memang malas tingkat tinggi kok, ikut-ikut kegiatan seperti ini. Kalau bukan karena kewajiban untuk mendapatkan segala macam kehormatan di fakultas dan jurusan—kalau mau ikut organisasi dan kepanitiaan ini-itu harus lulus OSPEK masalahnya—dan karena menghargai panitia yang sudah dengan sepenuh hati menyiapkan kegiatan berfaedah untuk kami, sepertinya aku tidak akan hadir.
Oh, satu lagi, karena aku menghargai dan ingin mengenal teman-temanku selama beberapa tahun ke depan juga, sih. Seorang Megurine Luka memang bukan orang yang benar-benar hobi bersosialisasi dan menjadikan sosialisasi sebagai top to do thing di dunia, tetapi sebagai makhluk sosial yang entah kenapa aku merasa sangat independen, aku merasa bahwa berkenalan dengan teman-temanku adalah suatu keharusan. Yah, hitung-hitung membuat sebuah ikatan yang kuat untuk dunia kerja nantinya—relasi loh, relasi—atau bisa juga untuk sekadar curhat ini-itu tanpa tujuan yang jelas. Pokoknya, akibat statusku sebagai makhluk sosial serta tuntutan zaman, aku wajib berkenalan dengan teman-teman satu angkatanku.
"Sebelum mulai acara nih, bagusnya kita kenalan dulu!" sambut yang satunya lagi. "Hai semuanya! Aku Pika dari Statistika 2014."
"Aku Miki dari Statistika 2014!" Yang satunya ikut berseru. "Udah kenal, 'kan? Nah, jadi, kalo habis ini kalian ketemu kita di luar kampus, wajib nyapa loh, yaa! Kalo sampai nggak, awas, loh!"
Kami semua tertawa garing, tawa garing yang kentara sekali menyiratkan ketakutan akan ancaman yang terdengar seperti candaan tetapi sesungguhnya serius itu.
"Semuanya udah sarapan, 'kaaan?" tanya Kak Pika dengan suara kencang—padahal dia sudah menggunakan mikrofon.
"Udaaah."
"Udah kenyang beluuum?"
"Beluuum," jawab kami kompak sambil tertawa-tawa geli.
"Yah, belum katanya," gumam Kak Pika kepada Kak Miki yang malah terkekeh-kekeh geli menanggapi teman sesama MC-nya itu. Dia kembali menatap kami dengan tatapan bahagia yang menyiratkan dendam lantaran kami mengaku belum kenyang, lalu berseru lagi, "Kalo gitu, tunggu sampe waktu makan siang, yaa!"
... yah, kukira kita akan diberi waktu makan sekarang.
"Yaaah ...," koor kami kompak untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya kalau hanya meninjau dari kekompakan bersuara, angkatanku ini akan jadi angkatan paling kompak, deh. Bayangkan saja, kami belum lama saling berkenalan, tetapi kami sudah kompak begini menjawab pertanyaan yang diajukan para kakak tingkat merangkap MC hari ini—berarti kami bisa jadi sangat kompak, bukan?
Itu teori asal, omong-omong, jangan langsung memakan omonganku yang seringkali melantur ini. Berbahaya bagi kesehatan otak kalian nantinya.
"Sekarang, kita langsung masuk ke pematerian, ya!" seru Kak Miki, menguasai kembali ruangan yang sempat ricuh akibat insiden kami-belum-kenyang tadi. Kak Miki mengambil selembar kertas di atas meja lebar yang menghiasi bagian depan aula, lalu kembali bersuara di balik mikrofon. "Pagi ini kalian bakal ada pematerian dengan salah satu dosen, ngebahas tentang ..." Kak Miki menatap Kak Pika. "Tentang apa, sih? Lupa aku."
Spontan satu aula tertawa geli, termasuk Kak Pika.
"Yah, jangan diketawain, dong," ucap Kak Miki dengan wajah hehe-hehe riang sekaligus malu, membuatnya cepat-cepat membalikkan badan karena—sepertinya—tidak mau raut wajah uniknya barusan diakses publik.
"Oke, oke." Masih sambil tertawa, Kak Pika kembali mengambil alih suasana aula yang mulai ricuh dengan tawa. "Jadi materi kalian pagi ini tentang menyusun karya ilmiah. Kesannya berat banget ya, buat maba? Tenang, kalian cuma bakal diajarin step-step umumnya, kok, lebih kayak cara menentukan ide, terus cara nyari data yang bener, terus—"
"Pik, jangan dibeberin semua, entar buat apa pematerian?" potong Kak Miki sambil memukul-mukul pundak Kak Pika pelan dengan tangan kirinya yang bebas alias tidak memegang mikrofon.
Kak Pika mengerjap. "Oh iya, lupa," balasnya sambil terkekeh yang langsung disambut oleh kekeh malu-malu para mahasiswa baru alias angkatanku yang mendadak disuguhi drama acakadul, dilakoni oleh Kak Miki dan Kak Pika. Langsung saja aku bisa menilai kedua orang itu sebagai duo hobi bercanda yang membuat suasana angkatan mereka ramai.
"Langsung aja, kita sambut pemateri kita yang kece dengan tepuk tangan meriaaah!" seru Kak Miki sambil menunjuk pintu aula. Spontan semua orang yang ada di aula—bukan hanya aku dan teman-teman seangkatanku, panitia alias kakak tingkatku yang duduk di bagian belakang aula juga ikut bertepuk tangan. Pemateri itu, sang dosen laki-laki, masuk dengan membawa sebuah tas diiringi senyam-senyum tidak jelas yang langsung membuatku dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah tipikal dosen friendly yang suka bercanda.
Aku akan melewatkan sesi pematerian karena aku sendiri malas menceritakannya kepada kalian. Yah, seperti biasa saja, pemaparan materi, sesi tanya-jawab, tidak ada yang benar-benar spesial selain materi yang didapatkan. Aku mencatat ringkasan materinya, tetapi kurasa kalian tidak perlu tahu apa yang kutulis di sini. Kalian cukup tahu bahwa aku sedang menjalani pematerian, selesai sampai di sana.
Selesai pematerian dengan dosen laki-laki tadi, kini tiba waktunya pematerian kedua dengan tiga orang dosen perempuan yang sepertinya sepantaran. Ketiganya menyampaikan materi mengenai etika, seperti cara berkata, cara bersikap, dan semacamnya. Selesai dengan pematerian etika yang entah mengapa lebih membuatku mengantuk daripada pematerian karya ilmiah, Kak Miki dan Kak Pika kembali hadir di hadapan kami.
"Gimana tadi pemateriannya? Seru, gaaak?" tanya Kak Pika dengan wajah berseri-seri sementara Kak Miki masih sibuk mengatur mikrofonnya yang sepertinya bermasalah. Mungkin kehabisan baterai atau ada tombol yang salah atau semacamnyalah.
"Seruuu," jawab teman-teman seangkatanku—mungkin—kecuali aku. Aku tidak bisa membohongi hatiku, pemateriannya memang ... yah, biasa saja, tetapi bermakna. Responsku atas pertanyaan basa-basi yang barusan dilontarkan hanyalah kekehan pelan yang sama sekali tidak terdengar.
"Ngantuk aku mah," bisik Meiko sambil menyandarkan badannya ke kursi.
"Sama, kok," balasku juga dengan suara yang pelan. Kami berdua lalu terkekeh bersama.
"Selanjutnya, silakan kalian buka makan siang kalian dan makan!" seru Kak Miki yang mikrofonnya telah berfungsi kembali dengan normal.
"Selamat makan!" sahut Kak Pika.
"Makasih, Kaaak," balas kami sambil membuka tas masing-masing dan mengeluarkan makan siang yang memang sudah kami bawa masing-masing.
"Sambil kalian makan, bakal dipanggil tujuh orang-tujuh orang buat wawancara, yaa. Dimulai dari yang ujung nomor pokoknya satu sampai tujuh! Udah hapal nomor pokok masing-masing, 'kaaan?" Kak Pika berbicara cepat tanpa memerhatikan bahwa kami sedang fokus ke makanan masing-masing. "Jangan lupa formulir wawancaranya dibawa juga!"
Untungnya, ketujuh orang yang dipanggil itu sadar dan buru-buru meninggalkan kursi mereka dan berjalan menuju pintu aula, keluar lewat sana. Aku yang berusaha tidak peduli meski diam-diam penasaran akan seperti apa wawancaranya nanti, akhirnya hanya diam sambil mengonsumsi makanan yang kubawa dari rumah. Yah, tidak spesial-spesial amat sih, hanya nasi bonus ayam goreng.
"Kamu NPM berapa, Luk?" tanya Meiko padaku sambil mengunyah rendang yang merupakan menu makan siangnya hari itu. "Kalo aku ... 78."
"Aku ..." Kubalikkan kertas formulir wawancara yang tadi aku taruh terbalik di bawah kotak makan siangku—maafkan aku, formulir. "62. Nggak terlalu jauh ya, selisih NPM kita."
NPM itu Nomor Pokok Mahasiswa, omong-omong.
"Tapi nggak akan dipanggil barengan juga, sih," gumam Meiko sambil menyuap mulutnya kembali dengan sesendok nasi.
Aku tertawa kecil. "Iya, sih. Kalo Rin sama Miku berapa, ya?"
"Rin ..." Meiko menoleh ke arah kanan. "Rin, kamu NPM berapa?"
... anak ini benar-benar tipe orang yang bertindak tanpa benar-benar berpikir panjang.
"Aku? 67," jawab Rin dengan wajah aku-salah-apa sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. "Kenapa emang?"
"Nggak, gak apa-apa, kepo aja," kekeh Meiko sambil mengangkat tangan kanannya dengan wajah hehe-hehe riang sebelum kembali menatapku. "67 katanya, kalo Miku aku gak tau."
Lagi, aku tertawa pelan. "Yah, nanti juga bakal ketahuan sendiri NPM-nya berapa."
Kami belum tahu saja bahwa NPM akan menjadi hal krusial yang harus kami hapalkan sepanjang OSPEK berlangsung. Maklum, saat ini kami masih maba-maba unyu nan polos yang hanya mengharapkan kebahagiaan ketika memasuki dunia perkuliahan.
Eh, entahlah dengan teman-temanku yang lain, tetapi setidaknya aku merasa seperti itu. Bolehlah ya, aku menggeneralisasi harapanku akan dunia perkuliahan ini terhadap teman-teman satu angkatanku? Tidak representatif sih, aku tahu, tetapi sesekali, untuk hal yang tidak penting seperti celotehanku saat ini, tidak apa, bukan?
"Untuk NPM 57 sampai 63, wawancara sekarang."
Glek. Cepat-cepat aku menutup kotak makanku, mengambil formulir wawancaraku, mengucapkan "aku keluar dulu" dengan pelan kepada Meiko, lalu berjalan menuju pintu aula bersama dengan enam orang lain yang juga dipanggil. Parahnya, tidak ada satupun dari enam orang ini yang aku kenal.
Di pintu aula, kami bertemu dengan seorang kakak tingkat merangkap panitia OSPEK.
"Langsung turun aja ke lantai satu, nanti ada yang ngarahin kalian ke ruang wawancaranya."
Kami mengangguk.
.
.
.
TBC
A/N.
AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA AKU BISA LANJUTIN CERITA BALA INI LAGIII X"""3 *tebar confetti*
Pertama, aku mau minta maaf kepada semua pembaca yang menunggu kelanjutan dari Bukan Sekadar Wacana ini. Sebenernya gini, aku tahu sibuk bukanlah alasan rasional untuk menghindari bikin lanjutan cerita—lagian selama ini aku masih sanggup bikin fanfiksi meski oneshot kan—jadi aku tidak akan menjadikan hal itu sebagai excuse meski memang itulah alasanku nggak lanjutin BSW. Selain itu juga ... yah, writer's block, aku bisa bikin oneshot, tapi gagal menemukan diri Luka di dalam diriku, jadi aja baru bisa dilanjutin sekarang. Maafkan aku. OTL
Kedua, aku mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian yang masih setia menunggu BSW update meski author-nya PHP dan hilang kabar gini, yeayyy! Semoga chapter baru ini memuaskan dan cukup mengobati luka hati(?) kalian yang di-PHP-kan selama sekian bulan. Semoga.
Ketiga alias terakhir, ditunggu kritik sarannya baik untuk BSW maupun untukku pribadi sebagai author-nya. Kritik dan saran buat serial Kuartet Receh juga boleh banget, kok!
Sampai jumpa di chapter berikutnya~!
